Rabu, Agustus 10, 2011

Benarkah Kita Punya Kembar Buaya?

Dekade awal 2000 lalu, terjadi kemacetan lalu lintas selama berhari-hari di kawasan Jembatan Sungai Tello, Jalan Perintis Kemerdekaan, di sekitar rumah panggung sederhana pasangan istri-suami Halimah dan Daeng Tunru yang berada di sudut pagar PLTU Tello. Tersiar kabar bahwa dua sejoli itu kedatangan anaknya yang sejak dua puluh tahun silam menghilang. Memang kabar yang menggembirakan sekaligus mengharukan. Tapi justru kerumunan itu terjadi karena warga ingin melihat rupa sang anak yang berwujud … buaya putih! 

Tak ayal, orang-orang yang melintas di ruas jalan raya itu berkumpul dan memarkir kendaraan mereka untuk menyaksikan bagaimana gerangan dan tampakan ‘buaya putih’ itu. Mungkin selama ini buaya jenis itu hanya terdengar dari judul film buatan 1988 silam, Ratu Buaya Putih, yang dibintangi Suzanna. Mereka pun akhirnya menyaksikan dengan mata kepala sendiri seekor buaya jinak berwarna putih dengan bercak kuning yang sangat lembut bak kulit manusia, sepanjang 2,5 meter dan lebar 70 sentimeter, yang memiliki jari lima layaknya jari manusia. Lain dari buaya biasa yang jamaknya cuma berjari empat. Hanya saja, jari sebelah kirinya agak kecil. 

Cacat itu sudah dibawa Santi, nama si buaya betina, sejak lahir, kata Halimah, ibunya. Cacat serupa dipunyai oleh Daeng Sattu, kakak kembar Santi yang meninggal dunia sejak masih berusia 4 tahun. Sepasang anak itu merupakan buah cinta Halimah dengan suaminya. 

Dua puluh tahunan silam, Halimah melahirkan bayi kembar. Namun betapa kagetnya pasangan itu ketika mengetahui salah satu anak mereka adalah seekor buaya. Beberapa hari usai persalinan, dengan upacara adat, buaya yang masih sebesar cecak (Hemidactylus frenatus) tersebut lantas dilepas ke pangkuan “ibunya” yang baru, Sungai Tallo—sungai yang dipercaya oleh sebagian warga sebagai kerajaan buaya. 

Kedatangannya yang menggemparkan itu sebenarnya sudah diisyaratkan Santi ke ibunya lewat mimpi. Menurut Halimah, ia bermimpi bertemu perempuan cantik yang diyakininya bahwa itulah rupa putrinya. Dalam mimpinya, Santi bahkan mengatakan kalau ia akan datang menemui orangtuanya. Bersegeralah Halimah memberitahu suaminya agar bersiap menyambut kedatangan putri mereka. 

Berpatokan pada mimpi itulah Halimah dan suami duduk menunggu di tepi Sungai Tallo yang berada tepat di belakang rumah mereka. Sesaji berupa kembang, telur, dan pisang disiapkan dan diletakkan di pinggir sungai. Tak lama kemudian, muncullah dua buaya kecil. Mencuatnya dua buaya kecil tersebut disusul dengan penampakan buaya putih—yang diyakini adalah Santi. Sayangnya kemunculannya hanya sekejap. Ia berenang kembali ke dasar sungai. Barulah sore harinya Santi muncul lagi. 

Halimah dan Daeng Tunru segera menurunkan perahu untuk menghampiri Santi. Layaknya tahu maksud suami istri itu, buaya putih itu menurut saja. Dengan dibantu lima pemuda setempat, Dg Tunru menangkap buaya itu dan dibawa ke darat. Di luar dugaan, buaya seberat 100-an kilogram itu berontak. Tapi beruntung usaha menangkap Santi berjalan mulus; tanpa mencelakai siapapun. 
*** 
Buaya bukanlah binatang yang asing bagi kehidupan masyarakat Bugis dan Makassar. Masihlah marak terdengar perihal kisah keluarga-keluarga yang mengaku memiliki keturunan/anak yang punya kembaran buaya (Crocodylidae), atau setidaknya biawak (Varanus). Meski tidak menjadi salah seorang yang ikut nimbrung di rumah Halimah-Dg Tunru lima tahun lalu itu, tapi cerita serupa pernah saya alami beberapa tahun sebelum cerita Halimah-Dg Tunru. 

Hj. Timang, tetangga samping rumah saya di kampung dulu dan juga masih sepupu-nenek saya, mengaku punya kembaran dan paman yang buaya. Saya pernah diajaknya ke sungai, yang biasanya saya tempati berenang dengan salah seorang cucunya, Sultan, untuk mengantar sesaji seperti nasi ketan merah, hitam, dan putih dilengkapi telur ayam kampung, serta sesisir pisang. 

Nasi ketan (sokko [Bugis], songkolo’ [Makassar]) ini disaji di daun—yang sepintas serupa dengan maple (daun yang tercitra di bendera Kanada)—layaknya hendak menyajikan makanan untuk orang dewasa dalam acara ma’baca doang (tradisi syukuran). Saya dan Sultan bahkan nimbrung di dapur sewaktu Hj. Timang masih menyiapkan sesajian itu. Tapi kami dilarang untuk mencolek sokko sebelum sesajian itu selesai disiapkan. Pamali, terangnya. “Nanti kalau ada sisanya baru kalian boleh ambil,” begitu kata perempuan beruban itu mewanti-wanti kami. 

Sesampai di sungai, rangkaian makanan diletakkan di bawah semak yang berada di bahu sungai. Di rerimbunan itu kami sering melihat biawak yang besarnya sekira sepertiga dari ukuran buaya dewasa dan tak jarang kami menimpuknya agar pergi dan tak menakuti kami yang berenang. Begitu Hj. Timang berangkat pulang, sesisir pisang itu bukan biawak yang memakannya. Justru kamilah yang menghabisinya. 

Namun pengalaman paling berbekas berkaitan dengan ‘kembaran buaya’ ini saya dapati ketika KKN di Arawa, sebuah desa di Sidenreng-Rappang yang berada di batu kilometer 170-an poros Makassar-Palopo, beberapa tahun lalu. Di bulan kedua KKN, pemilik rumah pamit pada kami. Tuan rumah hendak mengunjungi anak mereka di Sungguminasa, Gowa. 

Seperginya tuan rumah, pemuda setempat, Iwan bercerita kalau anak yang dikunjungi tuan rumah memiliki kembaran buaya. Ah lagi-lagi cerita itu, pikirku. Kera saja—yang memiliki tengkorak nyaris serupa dengan manusia dan simpanse yang dari segi IQ (intelligence quotient) tidak jauh beda dengan kita—masih juga disangsikan banyak kalangan. Apalagi buaya, dari tongkrongan saja yang murah senyum itu, bedanya sangat jelas. 

Selepas magrib, sekitar pukul 7 malam, saya mendapati lampu di lantai atas rumah panggung itu menyala. Tak ada yang mengaku ketika saya tanyakan siapa gerangan yang menyalakan lampu di rumah panggung itu. Sekilas saya teringat cerita Iwan tadi. Tapi segera saya buang jauh-jauh. Tapi rasa tercekam menghinggapi saya ketika saya terbangun tengah malam, sekitar pukul 2 dini hari. Terdengar langkah kaki begitu jelas di atas lantai papan, kemudian menggoyang lemari piring milik Ibu Haji, panggilan kami pada tuan rumah. 

“Wah, jangan-jangan benar kata Iwan,” kataku dalam hati. Ingin rasanya membangunkan Iwan yang tertidur lelap di ranjang sebelah. Tapi saya urungkan. Segera saya tutup rapat-rapat telinga saya dengan bantal, seraya menggumamkan Ayat Kursi dan beberapa doa yang saya anggap mampu menenangkan debaran jantung saya yang cepat karena mendengar lemari terus bergoyang. Digoyang tepatnya. 

Keesokan harinya, pengalaman ini saya ceritakan ke Ibu Iwan yang setiap hari datang ke posko kami untuk memasak. Perempuan berperawakan kecil mungil itu menganggukkan apa yang saya alami semalam. Menurut Ibu Iwan, yang menyalakan lampu dan menggoyang lemari itu adalah benar anak Ibu Haji yang berwujud buaya. Si buaya itu biasanya datang karena dua alasan: menjaga rumah atau meminta sesuatu ke orangtuanya. 

“Ia pernah datang karena ia mau juga dibelikan cincin seperti kembarnya (yang di Gowa),” ujarnya. 

Ibu Iwan kemudian menunjukkan foto yang bergambar dirinya menggendong buaya di album keluarga milik Ibu Haji. Bahkan saya sempat diperlihatkan ranjang kecil tempat Ibu Haji menidurkan si buaya dulu. Ibu Iwan sendiri merupakan ipar dari suami Ibu Haji. 

Buaya dan Naga di Daerah Lain
Beberapa daerah di Nusantara juga mengenal cerita dan tradisi yang berhubungan dengan ‘saudara kembar buaya’, seperti Jambi dan Bontang-Kalimantan Timur. Bontang bahkan mengenal prosesi adat yang bernama Menurunkan Ance. Upacara pemberian sesaji ini dimaksudkan agar saudara kembar itu tidak datang ke darat karena ditakutkan membuat keluarganya sakit-sakitan. 

Ance yang terbuat dari bambu kuning yang dirangkai dengan kayu dan rotan, berbentuk persegi empat, diisi dengan ayam panggang, telor ayam, sokko/ketan yang dimasak dan diwarnai merah, kuning, hitam, dan putih. Diisi sesisir pisang, beras kuning, dan lilin lebah madu. Setelah melalui proses satu hari satu malam, pada sore harinya dilakukan upacara pembuangan Ance, yakni satu dilabuh ke sungai bersama seekor ayam hidup, sementara yang lainnya digantung di atas rumah. 

Ketika masih duduk di sekolah dasar hingga sekolah lanjutan pertama, ritual serupa juga masih saya dapati beberapa kali dalam keluarga pihak ibu saya di Desa Baba, Enrekang, sekitar 210 kilometer dari Makassar. Ini dilakukan di acara tertentu semacam rangkaian sebuah pernikahan, gunting rambut bayi, dan lainnya. Entah alasan apa semua itu dilakukan. Yang pasti, sekitar 3 meter di belakang rumah nenek saya mengalir anak sungai Sa’dan (sa’dan = sungai—bahasa Enrekang); tempat saya mandi dan membuang hajat. Begitu pula bila hendak menuju kebun nenek saya, kami harus menyeberang sungai berarus deras itu dengan rakit. 

Dalam situs 
www.pempropjambi.go.id, di Desa Geragai Tungkal Ulu, disebut pula keluarga Muhammad Aini-Asma punya buaya betina bernama Nur Khasanah. Ia kembaran Masroni, anak lelaki mereka yang lahir pada 1991. 

Serupa tapi tak sama, di Pulau Komodo, berdasarkan kertas kerja Karl Brandt berjudul “Mengapa Kebudayaan Masyarakat Kampung Komodo Terancam”, yang saya unduh dari situs
http://www.acicis.murdoch.edu.au/hi/...opics/karl.doc, dipaparkannya sebuah cerita dari wakil kepala kampung Komodo tentang asal-asul manusia dan naga Komodo. 
Di Pulau Komodo puluhan abad yang silam, sekelompok manusia primitif tinggal di Marawangkan, dipimpin kepala adat bernama Umpu Najo. Persalinan pun masih primitif; Umpu Najo masih membelah perut perempuan yang jelang melahirkan. Sang ibu mati, anaknya yang hidup. Hal yang sama dilakukan Umpu Najo ketika menghadapi menantunya, Putri Epa, meski tradisi itu dihadapinya dengan penuh duka putra kepala adat itu, namun disaksikannya juga perut istrinya dibelah. Epa meninggal. Dari perut Epa lahir kembar: manusia dan Ora (naga). 

Tragedi yang menimpa rumah tangganya baru dapat dilupakan oleh ayah baru itu setelah menikahi seorang gadis di kampungnya. Setahun berlalu dan istri putra Umpu Najo menjadi hamil. Sementara anaknya, Ora yang merasa diabai oleh ayahnya menjadi frustrasi. Ia memilih tinggal di hutan, meski kembarannya masih di Marawangkan. Setiap kali Ora masuk kampung, ia mencuri ayam. 

Menjelang persalinan, Umpu Najo kedatangan tamu asing, Tamu ini tak lain pengembara dari Sumba yang kehabisan bekal di perjalanan. “Aku dan kawan-kawanku berasal dari Sumba, negeri di seberang selatan lautan pulau ini, dan kami kehabisan bekal. Kami melihat asap di puncak ini dan berpikir pasti ada perkampungan. Jadi kapal kami labuhkan segera. Tapi mengapa ada banyak orang yang menangis di rumah Umpu?” 

Umpu menjawab, “Karena perut menantu saya akan dibelah.” 
“Kami punya ibu yang bisa menolong menantu Umpu. Saya yakin dia selamat dan Anda tidak perlu melakukan acara pembelahan perut lagi.” 

“Jikalau kamu bisa mengubah tradisi kami, saya akan memberi sebagian pulau ini kepadamu,” kata Umpu pada tamunya. 

Sebagian penduduk kampung itu pergi ke Pantai Loh Wau dan kembali dengan dukun wanita dari Sumba. Dukun itu pun menolong menantu kepala desa. Tak dinyana, lagi-lagi ada dua kembar lain dari perut menantu Umpu; satu putri cantik, satunya lagi seekor naga Komodo yang diberi bernama Sabae. 

Pertolongan dukun Sumba itu mengubah tradisi Marawangkan, sehingga manusia pun bisa berkembang. Hingga saat ini, orang kampung Komodo percaya bahwa mereka kembar naga Komodo (Varanus komodoensis). “Kedua tangannya mempunyai lima jari dan ada satu jantan Komodo untuk setiap 3,4 betina. Pada zaman kuno, kalau orang kampung membelah wanitanya, perbandingan ini mungkin sama,” tulis Karl Brandt dalam makalahnya itu. 

Oleh orang-orang luar Indonesia, komodo memang kerap disebut dragon (naga)—meski sejatinya berdasarkan nama ilmiahnya, ia masuk dalam jenis Varanus (kadal). Apalagi selama ini binatang bersayap dengan kepala mirip buaya itu adanya cuma di dalam alam khayal. Di negara Asia, dragon memiliki banyak sebutan, seperti Lung (Cina), Ryu (Jepang), Bakonawa (Filipina), Yong/Yo/Kyo (Korea); di Eropa seperti Welsh disebut Y Ddraig Goch (yang juga terlihat di bendera negara ini), Lindworm (Jerman dan negara Skandinavia), atau Balaur (Rumania). Di benua Amerika seperti di kebudayaan Inca, naga pun punya nama Amaru, di negara eksportir pemain sepakbola Brazil disebut Boi-tata. 

Naga pun mendapat tempat yang berarti di kebudayaan manusia Kalimantan. Selain komunitas Tionghoa yang memang banyak di sana, suku Banjar dan Dayak juga menyimbolkannya dalam benda-benda budaya mereka, seperti perahu, hiasan, dan ragam bentuk lain. 

Marko Mahin, antropolog dari Universitas Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan, dalam opininya di Banjarmasin Post edisi 24 September 2005, menyebut, naga selalu dihubungkan dengan awan dan air, sehingga ia juga dianggap sebagai ruh air atau ilah air yang membasahi tanah. Ia dilihat sebagai pemberi hujan dan makhluk dermawan yang berkuasa atas air. Tradisi ini bersumber dari situasi masyarakat Cina kuno yang agraris dan sangat tergantung pada air. 

Dalam Hikayat Bandjar (Ras 1968), yang disebutnya dalam opini tersebut, Lambu Mangkurat dan Raden Suryanata pernah ‘berurusan’ dengan naga. Perahu layar mereka dililit dua ekor naga putih hingga tidak bisa bergerak. Konon, dua ekor naga putih itu adalah hamba dari Putri Junjung Buih, calon istri Raden Putra. Semua hewan air takluk kepada Putri Junjung Buih. 

Latar belakang cerita ini dapat dilacak ke kosmologi orang Kalimantan yang memercayai, di balik riak dan arus air sungai terdapat Alam Bawah Air yang dikuasai dewi bernama Jata. Di sana ada permukiman. Penghuninya sesekali menampakkan diri ke atas air dalam bentuk buaya. Bisa juga berbentuk Gajah Mina, yaitu makhluk mitologis seperti kuda nil namun memiliki belalai seperti gajah. Selain itu di Alam Bawah Air terdapat naga yang disebut Tambon. 

Putri Junjung Buih, nenek moyang Urang Banjar, adalah manifestasi dari Jata, sang penguasa Alam Bawah Air. Karena itu ia punya kuasa atas segala makhluk yang berada di dalam air, termasuk sepasang naga putih yang melilit perahu layar Lambu Mangkurat dan Raden Putra. 

Entah karena kekaguman atau ketakutan, tulis Markun, motif naga seringkali muncul dalam keseharian orang-orang yang berbudaya sungai. Mungkin demikian pula halnya dengan Bugis dan Makassar; masyarakat yang mengidentikkan diri dengan kembaran buaya lantaran di jazirah selatan Pulau Sulawesi mengalir Sungai Sa’dan, Walannae, dan Sungai Cerekang. Tiga sungai besar itu membentang, memanjang, meliuk, dan bercabang ke lembah-lembah yang ada di Sulawesi Selatan, yang kemudian melahirkan sejumlah kebudayaan masyarakat yang dilaluinya, seperti pertanian atau perikanan. 

Di negeri jiran Malaysia, kembar buaya pun sangat dikenal. Baru-baru ini di Malaysia terbit buku setebal 343 halaman berjudul “Ensiklopedia Perbidanan Melayu” ditulis oleh Annisa Barakbah, diterbitkan 2007 oleh Nona Roguy/Utusan Publications & Distributions. Buku ini membahas ‘manusia kembar’. Di bagian awalnya dipaparkan Sejarah Ilmu Perbidanan Kaum Hawa, terdapat sub bab dan sub sub bab yang menjelaskan tentang: Bayi kembar Ghaib, Bayi Kembar Buaya Putih, Bayi Kembar Ular, sampai Bayi Kembar Burung. Dalam pengantar singkat buku tersebut, disebutkan bahwa masyarakat Melayu mengamalkan praktis perbidanan yang sistematik, diwarisi turun-temurun, ratusan malah ribuan tahun lalu. 

Perlakuan masyarakat terhadap naga-komodo-buaya seperti yang sudah kita simak tadi memiliki inti yang sama; dari darah dan kandungan yang satu. Ini sebuah penyimbolan yang dapat diartikan bahwa alam-manusia tidak dapat dipisahkan. Dua unsur bumi itu saling mendukung. Bukankah antara saudara seharusnya saling memberi saling menerima? 

Sungai adalah urat nadi sebuah daerah. Demikian pula dengan Sulsel sebagai provinsi yang berkawasan pegunungan terluas di Indonesia. Sebuah anugerah sekaligus kenyataan yang harusnya mendorong kita untuk tidak sekadar melihat dari segi mitos semata. Sungai adalah anak kandung gunung. Karenanya, menjaga buaya, komodo, sampai naga sebagai penguasa kerajaan air, tidak lain sebuah tindakan pelestarian lingkungan hidup menyeluruh, dari hulu (gunung) sampai muara (sungai). 

Namun, fenomena kembar buaya yang berkembang di tengah masyarakat Sulsel ini mendapat tanggapan dingin dari kalangan agamawan. Dalam sebuah tulisannya kolomnya di Harian Fajar beberapa tahun lalu, H Muhammad Nur Abddurrahman menegaskan, dalam sains, semua jenis makhluk memiliki DNA (deoxyribo nucleic acid), yaitu zat asam yang mengandung zat deoxyribose, terdapat utamanya dalam inti sel. Dengan begitu, jelas, jawabannya bertentangan dengan ilmu genetika. 

Dalam praktik kedokteran sehari-hari, lanjutnya, pernahkah seorang ibu yang melahirkan di rumah sakit bersalin diinformasikan beranak buaya? Tidak pernah. Orang melahirkan di rumah sakit bersifat terbuka, bahkan ada berita acaranya. Sementara di rumah sendiri sifatnya tertutup. ”Ini berarti di tempat terbuka tidak mungkin atau tidak sempat untuk melakukan manipulasi, sedangkan di tempat tertutup, ada kesempatan bahkan terbuka luas untuk manipulasi,” paparnya dalam tulisan berjudul “Tahyul Klasik dan Tahyul Kontemporer”, yang diterbitkan tanggal 3 Mei 1992 itu. 

Kembar buaya di kalangan masyarakat kita selalu saja heboh, Bila ada kembar buaya yang muncul, media massa pun tak ketinggalan memberitakannya, orang-orang pun berdatangan ingin menyaksikan langsung. Kita boleh percaya, boleh tidak. Tapi yang jelas, istilah “buaya” sendiri lekat di lidah kita sehari-hari. Maknanya bisa sebagai bentuk penghormatan sekaligus siasat dalam mencela. Ambil contoh “buaya keroncong” yang merujuk kepada orang-orang yang piawai bermain musik keroncong. Begitu pula “buaya darat” yang dikhususkan orang bermata jelalatan. Bahasa Bugis pun tidak ketinggalan. Dalam kosakata bahasa Bugis dikenal kata “buaja” yang berarti ‘buaya’ dan ‘rakus’. Karenanya orang-orang yang dianggap rakus, baik rakus makan atau kemaruk dalam hal apa saja, bakal menerima julukan ‘la buaja’ (si rakus) atau ‘ma(ka)buaja’ (begitu rakus).



Catatan: Tulisan ini pernah disiarkan via www.panyingkul.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP