Rabu, Oktober 10, 2012

Di Rongi, Jagung Awet Sampai 18 Tahun!

Rongi hanyalah nama sebuah desa di Sulawesi Tenggara, sekitar 30 kilometer dari Kota Baubau. Namun membicarakan desa ini, orang akan selalu terkenang cerita-cerita tentang desa yang mencengangkan ini. Kebiasaan turun-temurun yang ada di desa ini bahkan bisa menjadi pelajaran penting bagi Indonesia yang bertanah paling subur di dunia, tapi tetap saja menjadi pengimpor beras.

Karena kemarau yang panjang, kelaparan hebat pernah melanda seluruh wilayah kesultanan Buton. Seluruh daerah di pulau penghasil aspal ini kelaparan kecuali Rongi. Warga dari desa lain berdatangan ke desa itu untuk menukar barang yang mereka bawa dengan makanan simpanan warga Rongi. Karena kisah yang terus dikenang itu pulalah pemerintah setempat pernah mengganti namanya menjadi Desa Sandang Pangan. Tapi Rongi tetap saja jadi nama yang lebih populer sampai sekarang.

Kemampuan warga Rongi bertahan itu ternyata karena masyarakatnya mengawetkan pasokan makanan, terutama jagung sebagai makanan pokok, dengan cara “mengasapi”. Pasokan makanan yang ada di dalam gudang yang berada di langit-langit rumah mereka setiap hari terkena asap dari dapur mereka yang terletak tepat di bawah gudang itu.

“Jadi rupanya, nenek moyang kita dulu itu sengaja menaruh dapur mereka agak di tengah rumah dengan tujuan mengasapi persediaan makanan mereka yang ada di atas,” kata salah seorang tokoh masyarakat setempat, Haruddin.

Memang dengan cara mengasapi persediaan makanan itu akan menghitami biji jagung yang ditaruh di lumbung itu. Tapi jangan ditanya soal daya tahan perbekalan. Ada biji jagung yang masih bisa dimasak dan dimakan dengan rasa tidak berubah meski telah ditaruh di gudang selama 18 tahun! “Biji jagung itu saya simpan ketika anak saya yang tertua belum lahir. Nah sekarang dia sudah tamat SMA,” seru seorang warga.

Selain menaruh jagung di lumbung yang ada di langit-langit rumah, warga desa itu juga menyimpan persediaan padi mereka di bawah kolong rumahnya. Padi yang masih dalam bentuk gabah, masih berkulit tahan terhadap kutu yang biasa menyerang beras. Ia juga tahan terhadap cuaca dan binatang pengganggu karena ditutup kain rapat-rapat.

Padi yang mereka kembangkan adalah padi pegunungan. Mereka tidak membawa pulang padi itu dalam karung seperti yang terlihat di persawahan Sulawesi Selatan. Warga Rongi membawa pulang padi panenan masih bersama batang-batangnya dan diikat dalam ukuran tertentu. Seikat padi itu biasanya kalau sudah dipisahkan dari batang dan kulitnya akan menjadi beras sekitar 3 kilogram.

Untuk memisahkan kulit gabah, warga pun masih mengandalkan alu dan lesung. “Lain rasanya kalau beras yang ditumbuk dengan beras penggilingan (padi). Beras dari penggilingan, kalau dipisah kulitnya, kulit-kulit arinya juga ikut terpisah. Padahal itu yang bikin beras itu enak dan bervitamin,” kata Sahuddin (53).

Padi sebenarnya belakangan baru dikenal, ditanam, dan kini menjadi makanan pokok warga Rongi. Dulu warga hanya mengenal jagung. Bahkan desa yang berada di ketinggian 300-an meter dari permukaan laut itu menjadi salah satu penghasil jagung di Pulau Buton. Tapi jagung hasil panen itu, mereka simpan untuk keperluan makan sehari-hari saja. Jadi penghasilan warga desa yang rerata pekebun itu didapat dari panenan tembakau, kacang tanah, atau kemiri yang juga banyak ditanam di ladang-ladang mereka.

Selain stok makanan berlimpah tadi, setiap rumah di Rongi juga memiliki banyak persediaan kayu bakar yang disimpan dan disusun di kolong rumah. Pengumpulan kayu bakar yang dilakukan oleh kaum ibu-ibu itu biasanya di musim kemarau untuk mengantisipasi persediaan kayu bakar bila musim hujan tiba.

Selain dalam hal persediaan makanan, warga desa yang berjumlah sekitar 1.600 jiwa itu pun mengatur diri mereka dalam menjaga persediaan air untuk desa itu. Sistem Kaombo (hutan larangan) yang dipegang teguh warga desa mengharuskan warga tidak menebang pohon yang berada di radius 300 meter di sekitar daerah aliran sungai (DAS).

Jarak larangan tebang di DAS sekitar ini sendiri lebih jauh bila dibanding dengan SK Menteri Kehutanan No353/Kpts-II/1986 tentang Penetapan Radius/Jarak Larangan Penebangan Pohon dari Mata Air Tepi Jurang, Waduk/Danau, Sungai dan Anak Sungai dalam Kawasan Hutan, Hutan Cadangan dan Hutan Lainnya. Dalam pasal 2 butir 2 surat keputusan itu, pemerintah melarang siapa pun menebang pohon yang berada di daerah kiri kanan sungai sekurang-kurangnya selebar 100 meter.

Manfaat sistem pengelolaan air itu dirasakan warga Rongi. Mereka tidak pernah kesulitan air bersih. Mata air yang berada di lereng gunung sekitar desa tak pernah kering meski musim kemarau melanda. Bahkan kini air itu bisa mengalir lancar hingga ke rumah-rumah yang ada di Rongi karena bantuan mesin pompa dari sebuah lembaga asing.
***
Untuk bisa ke Rongi, saya harus kejar-kejaran dengan bus yang akan berangkat ke sana. maklumlah, angkutan yang hendak ke sana masih jarang; sekali sehari, pada sekitar pukul 10.00 Wita. Saya sebenarnya sudah terlambat kalau berdasarkan jadwal berangkat angkutan tersebut. Untung bus itu berhenti di depan sebuah toko bahan bangunan untuk mengambil semen pesanan. Tapi karena angkutan jarang ke desa itu, bus kejaran saya itu sudah penuh. Kursi penuh dan lorong antar kursi pun sudah disesaki barang para penumpang. Akhirnya saya harus rela berdiri di dekat pintu belakang.

Awalnya saya santai saja. Saya pikir, nikmati saja perjalanannya, toh cuma 30-an kilometer. Kalau bus lari dengan kecepatan 70-an km per jam, paling cuma sekitar setengah jam sudah sampai. Tapi nyatanya, perjalanan tidak semulus yang saya bayangkan. Perbaikan jalan di beberapa titik, berkelok dan menanjak di lereng gunung-bukit, dan jalan berlubang di sini sana menjadikan gerakan oto ini sedikit lambat. Satu setengah jam kemudian saya baru tiba di Rongi.

Jalan menuju Rongi memang sedang diperbaiki. Beberapa lereng bukit-gunung bahkan dikikis dan diperluas; tampaknya untuk mengurangi risiko kecelakaan. Tapi khusus jalan yang membelah Desa Rongi menuju desa tetangganya, Gunung Sejuk, kondisinya sudah berlubang dan rusak. Menurut seorang warga, terakhir kali, jalan tersebut diaspal pada sekitar tahun 1971. Sebuah cerita menyedihkan dari sebuah desa yang letaknya justru di pulau penghasil aspal!

Di Rongi pun terdapat benteng yang mengelilingi permukiman pertama Rongi, yang dibangun di sekitaran zaman kesultanan Buton dulu, untuk melindungi warganya dari serbuan tentara Tobelo. Benteng itu seakan menjadi lambang dan penanda bahwa Rongi sejak dulu dikenal sebagai benteng pertahanan maupun salah satu benteng sandang pangan kesultanan Buton yang sudah melegenda.[]

Catatan: Tulisan ini tulisan 2006 lalu. Pernah tersiar di sebuah situs pekabaran warga. Saya rupanya tidak pernah menyimpannya di blog ini.

2 komentar:

  1. Metode mengawetkan makanan yang seperti itu,,masih sempat saya dapatkan ketika masih kecil. Rumah panggung yang punya Rakkeang..sekarang tidak lagi,,karena rumah warga, sudah berganti rumah batu,,,,tidak ada lagi pengasapan karena tembok akan kotor...teknologi orang dulu ternayata canggih ya..

    BalasHapus
  2. banyak metode nenek moyang dulu kini dipakai lagi sekarang, daus. entah kenapa :P

    BalasHapus

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP