Kamis, September 03, 2009

Ayam Gagak, Komoditas Baru Sidrap yang ‘Menggonggong’


Sidenreng Rappang atau Sidrap terkenal sebagai sentra peternakan unggas Sulawesi Selatan. Mulai dari ayam ras meliputi ayam petelur dan pedaging, ayam kampung, itik hingga ayam gagak. Jenis yang disebut paling belakang ini tampaknya jenis unggas yang dikembangkan di tahun-tahun terakhir. Jenis ayam apa gerangan itu?

Jelas ini bukan ayam hasil kawin silang ayam dengan burung gagak. Ayam gagak atau ketawa hanyalah jenis ayam kampung biasa yang bersuara unik. Khusus di Sidrap, ayam ini marak dibiakkan sekira sepuluh tahun silam.
Menurut salah seorang peternak ayam gagak, Tamrin, ia mulai mengembangbiakkan ayam jenis ini kira-kira tujuh tahun lalu. Kokokan ayam gagak piaraan pertamanya lain dari ayam biasa—seperti gonggongan anjing. Tak ada “kukuruyuuuuk!”. Yang terdengar justru “guuk! guuk!”.
Karena suara ganjil itu, seseorang pernah mau menukar ayam tersebut dengan sebuah sepeda motor. Tapi Tamrin tidak mau. “Saya pikir, saya harus menyimpannya karena masih harus saya biakkan,” terang Tamrin, ketika saya temui di kediamannya di Jalan La Nu’mang, Rappang.
Kini ayam gagaknya itu terus beranakpinak. Bahkan cucu dari ayam tersebut tetap berharga mahal. Baru-baru ini ada yang menawarnya tujuh juta rupiah. Tapi ia bergeming—tak mau menjualnya. Kata Tamrin, ia hanya mau melego kalau itu cicit ayam pertamanya. Dia berencana menjadikannya pejantan. “Saya baru mau jual kalau cucunya,” begitu kata Tamrin serius.
Keturunan pun sudah menyebar di Rappang dan sekitarnya. Tamrin kerap didatangi keluarga atau kenalannya mulai membeli atau meminta bibit keturunan ayam ‘menggonggongnya’. Tapi paling sering teman dan sahabatnya datang ke rumahnya membawa ayam betina untuk dikawinkan dengan pejantan-pejantannya. Mereka berharap mendapat anak ayam yang berbunyi serupa dengan punya Tamrin.
Tapi Tamrin rupanya tidak mau asal terima ayam betina dari luar. Ia jera karena trauma flu burung. Di satu hari di tahun 2008, ketika wabah flu burung meluas, ayam peliharaannya ikut sakit. Tapi, menurut dugaannya, itu disebabkan oleh seekor ayam betina dari temannya diikutkan masuk kandang buat dikawinkan. Ia pikir, si betina itu yang membawa virus. Soalnya, kejadian itu adalah peristiwa pertama sejak ia mulai pelihara ayam tujuh tahun silam. Apalagi memang ia sangat rajin memvaksin ayam-ayam peliharaannya.
Sejak itulah, Tamrin kini sudah harus pikir-pikir. “Saya karantina dulu di kandang luar rumah sambil saya beri vaksin. Nanti kalau dua atau tiga hari tidak apa-apa, baru saya gabung. Kalau masih kelihatan beringus, saya tidak masukkan dulu. Biasanya kalau beringus, cepat sekali terinfeksi,” papar lelaki yang berusia 33 tahun ini.
Untuk mencegah penyakit-penyakit ayam itu merebak lagi, ia hanya terima keturunan ayamnya. Menurut pengakuan Tamrin, dia tahu persis ke mana saja keturunan ayamnya menyebar. Karena ketika ia serahkan ayamnya, ia turutkan pula botol vaksinnya. Dalam jangka tiga bulan, kalau ada pemilik ayam mau ikutkan ayamnya masuk ke kandang, Tamrin tetap ikutkan.
Memelihara ayam gagak mesti teliti. Ayam baru rajin berkokok bila sehat. Karenanya perlu perawatan telaten. Perawatan mulai dari ketika hendak dikawinkan. Diberi vitamin, makanan tambahan seperti irisan kangkung dan kentang, dan vaksin perangsang pertumbuhan dan penambah daya tahan tubuh.
Ayam diberi makan pagi dan sore. Tapi kalau yang masih anak ayam yang baru menetas bisa sampai lima kali, yang diberikan setiap tiga jam, mulai pukul 07.00. Untuk mencegah anak ayam kedinginan, kandang dilapis karton dan diberi lampu untuk menjaga suhu kandang. Lampu lima watt ini harus menyala siang malam. Tapi jumlah watt ini bisa ditambah jika dirasa cuaca lebih dingin.
Makanan dan vaksin tidaklah cukup menangkal penyakit. Kandang pun harus tetap bersih. Tamrin harus membersihkan kandang setiap hari. Kandang itu kandang rancangan khusus. Lantainya mudah dibuka dan ditarik keluar. Karenanya dibuat seperti laiknya laci meja. Biar mudah membuka kotoran ayam peliharaan, Tamrin tinggal melapisnya dengan lembaran koran. Tinggal tarik laci, lipat koran, terus dibuang. “Ayam sehat, kita juga sehat,” tambah Tamrin.

Slow dan Dangdut
Makanan apa untuk menjaga suaranya? Tamrin rupanya memberi ramuan tradisional yang ia buat sendiri. Bahannya terdiri dari parutan kunyit dan jahe dicampur madu, telur, dan kencur. Kesemuanya dicampur, masak di wajan, sampai seperti baje’ (nasi ketan dicampur karamel gula merah). Ramuan itu lalu dibulatkan dijadikan butir obat dan diberi ke ayam rawatan setiap hari atau setiap malam.
Resep ini sebenarnya ramuan yang biasa Tamrin beri buat ayam bangkok. Katanya, formula ini cocok untuk mengeluarkan lendir di kerongkongan ayam peliharaan. Tamrin sudah lama mempraktikkan pengobatan ini. Sebelum membiakkan ayam gagak, dia pernah memelihara ayam bangkok. “Perawatannya sama seperti ayam bangkok!” katanya. Harga jual ayam gagaklah yang mendorongnya meninggalkan memelihara ayam bangkok. Harga ayam bangkok yang juga sering dijadikan ayam sabung sangat murah dibanding ayam gagak. Baru menetas saja, kalau memang berasal dari keturunan ayam gagak juara, orang bisa tawar sampai Rp100 ribu—setara harga rata-rata ayam bangkok
Selesai memberi makan dan obat-obatan kimia dan obat resep sendiri, ayam gagak kemudian ditenggerkan. Penenggeran ini bisa di sembarang tempat seperti pagar atau pasak rumah panggung. Pengawasannya cukup mudah. Apalagi ayam seperti ini rata-rata jinak.
Menurut lelaki yang sehari-hari berprofesi pedagang ini, itulah ‘rukun’ pemeliharaan ayam untuk melatihnya bunyi. Dari hasil latihan setiap hari itu, pemelihara bisa mendapatkan ayam yang bersuara kristal (jernih) atau cowong (parau). Cowong, menurut Tamrin, merupakan bahasa Jawa yang dipakai untuk menyebut salah satu tipe suara burug perkutut.
Ketika dirasa mantap, ayam pun bisa dibawa ke kontes ayam gagak. Tamrin yang kerap bertindak sebagai wasit Aspagin (Asosiasi Pencinta Ayam Gagak Indonesia) dalam kontes ayam gagak di Rappang, Parepare, dan Pinrang. Sejak terbentuk Aspagin 2008 lalu, suara yang dikonteskan terdiri dua kelas, yakni kelas slow yang ketukannya lambat dan kelas dangdut yang berketukan cepat. Kedua kelas ini pun masih terbagi. Ayam slow terbagi delapan penjurian. Kelas dangdut setidaknya lima atau enam kategori.
Yang pertama, power atau kekuataan bunyi. Makin besar bunyinya main bagus penilaian powernya. Yang kedua, angkatan atau awalan bunyi. Ketiga, step yang berarti ‘antara’ yakni interval angkatan pertama dan angkatan kedua. Kategori ini juga terbagi dua: lambat dan cepat. Yang keempat, penutup atau bunyi variasi. Ada kalanya, terang Tamrin, setelah berbunyi sampai empat kali, si ayam masih berbunyi tambahan. Kelima adalah irama artinya lagu-lagunya. “Andai penyanyi dangdut, maka sama kalau itu cengkoknya,” sergah Tamrin. Keenam, jenis suara, apakah kristal atau cowong. Yang ketujuh rutinitas atau kerajinan bunyi. Tapi bagi Aspagin, kalau yang rajin bunyi tidak selamanya punya nilai tinggi. Kendati hanya dua atau tiga kali berbunyi tapi bagus, nilainya tetap tinggi. Begitu juga sebaliknya, meski sering berbunyi tapi tidak elok, angka yang dikumpulkannya tetap rendah.

Permintaan
Penyebaran ayam gagak tidak melulu di kawasan Ajatappareng (Sidrap, Parepare, Pinrang). Namun juga permintaan atas ayam gagak juga datang dari Palu (Sulawesi Tengah) dan Kalimantan. Sayangnya, sejak pemerintah pasang kuda-kuda melawan flu burung, perdagangan antarpulau kini diawasi ketat. “Kalau beking kita tidak kuat di pelabuhan, pasti ayam kita ditahan,” ungkap Tamrin. Permintaan ayam gagak dari Rappang kini cukup besar. itu disebabkan ayam-ayam dari sanalah yang sering memenangkan kontes ayam gagak.
Ayam gagak mula dikembangkan di Baranti. Tapi, konon, sebenarnya kebiasaan ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang. Ayam seperti ini awalnya hanya dipelihara para bangsawan setempat.
Ayam yang dimiliki Tamrin sendiri, menurut pengakuannya, adalah manuk tompo (ayam yang muncul tiba-tiba atau kebetulan). Karena orangtua dari ayam itu adalah ayam kampung dan sangat biasa. namun santer beredar tentang asal muasal ayam beginian. Menurut cerita yang beredar, di masa lampau, menetas tujuh ekor ayam. Satu di antara ayam tersebut bunyinya bergetar. Ayam itu kemudian dipisahkan hingga kemudian kemudian dikawinkan, beranak pinak, sampai muncul ayam seperti ayamnya.
Demam ayam gagak di Sidrap dan sekitarnya makin mendapat tempat, bahkan di hati pemerintah. Perjudian makin berkurang. Orang-orang yang tergiur mendapat uang dalam sekejap ramai-ramai pindah ke pemeliharaan ayam gagak. Apalagi kalau bukan tertarik oleh harga jual ayam gagak yang bisa mencapai jutaan. Siapa tahu pelihara ayam dapat yang berbunyi menggonggong, tentu harganya juga ‘menggonggong’.[]

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP