Minggu, Maret 25, 2018

Jawaban yang Datang Delapan Tahun Kemudian

LANTARAN ikut sibuk mengurus hal lain, saya tidak mendengar langsung bagaimana jawaban Kees Buijs atas pertanyaan soal bagaimana ia memisahkan antara pekerjaannya sebagai pendeta dan ketertarikannya terhadap masyarakat Mamasa sebagai subjek penelitiannya, yang tertuang dalam buku Kuasa Berkat dari Belantara dan Langit: Struktur dan Transformasi Agama Orang Toraja di Mamasa, Sulawesi Barat (Ininnawa - KITLV Jakarta, 2009) yang diluncurkan dan dibincangkan pada acara Satu Dekade Komunitas Ininnawa pada April 2010 .
Kees Buijs melakukan pendampingan gereja-gereja di daerah Mamasa pada rentang akhir 1970-an hingga awal 1980-an, kawasan yang sedekade lebih lalu menjadi kabupaten sendiri di Sulawesi Barat. Dalam pengantarnya di Kuasa Berkat dari Belantara dan Langit, Buijs menulis, “Yang saya lakukan saat itu adalah mengumpulkan informasi dengan rekaman dan catatan-catatan.” Atas dorongan dosen Antropologi Universitas Utrecht, H. Van Dijk yang berkunjung ke sana pada 1990 (dengan membawa mahasiswa yang tertarik mengadakan penelitian di Mamasa), ia kemudian mengikuti beberapa pelatihan di Universitas Leiden, yang membuatnya terkesan pada kuliah Reimar Schefold tentang antropologi simbolis.
Sejak berkenalan dengan Kees Buijs sejak 2009, saya lalu membaca penjelasan tentang Mamasa, daerah belum pernah saya datangi itu, ketika catatan ini saya tulis. Karya-karya doktor antropologi ini menyediakan bagi kita pengetahuan dan keterangan awal bagaimana masyarakat Mamasa menjalani agamanya, serta memberi pemahaman soal daerah yang tidak dikenal banyak orang, yang bisa melahirkan stereotipe tentang masyarakat dan wilayah “terpencil” tertentu, seperti masyarakat Toraja, yang pernah diceritakan Kathleen Adams dalam bukunya Arts as a Politic: Re-crafting Identities, Tourism, and Power in Tana Toraja, Indonesia (University of Hawaii Press, 2006), “Orang-orang dekat tuan rumah saya menyarankan, saya harus tinggal di Jawa atau ke Bali. Toraja dulu dikenal tempat ilmu hitam dan tradisi pengayauan [penggal kepala] dipraktikkan,” tulis Kathleen (hl. 2). Buijs juga ceritakan detail soal ritual penggal kepala ini dalam bukunya.

DALAM buku pertama, Kuasa Berkat dari Belantara dan Langit, Kees Buijs menjelaskan secara umum tentang dua berkat yang selalu diharapkan oleh penganut aluk to yolo, harfiahnya agama lama atau agama tradisional yang (disebut-sebut sudah ada sebelum pengaruh Hindu-Buddha) dipraktikkan komunal maupun secara personal oleh masyarakat setempat. Dua kuasa berkat itu berasal dari langit dan belantara, konsep berpasangan dalam kosmologi orang Toraja Mamasa yang dibutuhkan untuk kehidupan.
Dengan mengutip Stรถhr (1979), Buijs menyebut konsep ini merupakan jejak kebudayaan tua Indonesia, yaitu polarisasi dan cara berpikir khas Austronesia, seperti perbedaan antara dunia atas dan dunia bawah, laki-laki dan perempuan, kiri dan kanan, hulu dan muara sungai. Kendati berbeda sifat, keduanya memiliki kesepadanan sekaligus sifat yang bertentangan (hl. 52).
Langit dalam kosmologi orang Toraja Mamasa merupakan asal dari dewa luluhur yang mengutus keturunannya, para bangsawan, untuk mendiami bumi. Kelak, bila tiba saatnya meninggal, mereka harus kembali ke langit dan membali dewata (menjadi dewa-dewa). Namun selama menjalani hidup di bumi, para ‘anak-anak’ dewa ini memerlukan penunjang hidup seperti makanan (dalam hal ini, semisal, padi) yang hanya tumbuh bila langit dan belantara memberi berkat. Kerjasama antara kuasa ‘atas’ (langit) dan ‘bawah’ (bumi) menghasilkan kesuburan di bumi.

USAI penerbitan buku pertamanya, Kees Buijs masih bolak-balik ke Mamasa. Bila ia berencana ke Indonesia, mungkin selalu ke Mamasa, lelaki berkebangsaan Belanda ini akan mengabari saya lewat surat elektronik, SMS, atau belakangan lewat Whatssap. Kami janjian bersua, satu dua kali di hotel tempatnya menginap di Makassar atau mampir sejenak di tempat saya di Kampung Buku demi satu dua keperluan, terutama terkait bukunya—juga membaca sejenak buku Ibu Kathleen Adams.
Pada 2016, kami lalu intens berkomunikasi lantaran rencana penerbitan buku keduanya yang kemudian diberi judul Agama Pribadi dan Magi di Mamasa, Sulawesi Barat: Mencari Kuasa Berkat dari Dunia Dewa-dewa (Ininnawa, Juli 2017). Kalau dalam buku pertama Buijs jelaskan agama orang Toraja Mamasa lebih umum, dalam buku kedua ini ia uraikan bagian-bagian agama dan kebudayaan tradisional orang Toraja yang makin ditinggalkan dan dilupakan. Kees mengarahkan penjelasannya pada penghayatan agama secara pribadi yang berpusat di dapur setiap rumah, terutama di dalam rumah tradisional.
Bahkan, yang tak kalah menarik, di dalam Agama Pribadi dan Magi, Kees menelisik dan mengurai bagaimana berkat dewa-dewa demi kehidupan juga diperoleh dari rangkaian kata magis dan batu istimewa nan bertuah—yang diperoleh dengan berbagai cara dan di waktu-waktu khusus, yang dipercaya ketika bumi dan langit sedang ‘bersatu’.
Hal yang menarik pula bahwa dalam buku ini Buijs kelahiran 1944 ini merinci bagaimana perubahan agama lama di Mamasa lantaran dua momentum, yakni masuknya Kristen di Mamasa tatkala Belanda memerintah daerah tersebut pada 1907 dan pada 2002 ketika Mamasa menjadi kabupaten sendiri, situasi yang memungkinkan masyarakat Muslim bertumbuh cepat (hl. 23).
Kuasa berkat dari langit dan belantara pada pertumbuhan padi, sebagai makanan utama ‘anak-anak’ dewata, berubah tatkala cara sebar benih langsung ke sawah yang dilakukan masyarakat Mamasa hingga tahun 1970 berganti ketika padi yang cepat tumbuh masuk ke daerah itu, jenis bibit yang membutuhkan persemaian (hl. 106). Bibit yang tersedia pada masa Revolusi Hijau (green revolution) itu memungkinkan panen tidak serentak lagi, yang membawa pengaruh pada toso’bok [pendeta padi] (hl. 107).

TIDAK cukup setahun, ketika masih proses persiapan cetak Agama Pribadi dan Magi, Kees Buijs mengirim lagi naskah lain. Kali ini berurut, yakni versi Indonesia dan Inggris naskah Tradisi Purba Rumah Toraja Mamasa: Banua sebagai Pusat Kuasa Berkat dan Ancient Traditions in Toraja Houses of Mamasa, West Sulawesi (Ininnawa, Mei 2018).
Usai memeriksa naskahnya sekaligus membaca Tradisi Purba Rumah Toraja Mamasa, saya kian paham bagaimana harusnya memandang masyarakat Toraja Mamasa. Banyak hal menarik di dalam buku ini, semisal saya jadi lebih mengerti bahwa saya tidak bisa lagi menyamakan masyarakat Toraja Mamasa di Sulawesi Barat dan Toraja Sa’dan yang ada di wilayah administrasi Sulawesi Selatan—yang dulunya saya pikir sama saja lantaran kesamaan asal-usul dan keyakinan agama.
Mengapa demikian? Kees Buijs dalam Tradisi Purba Rumah Toraja Mamasa menjelaskan bagaimana perbedaan makna tentang rumah tradisional banua di Toraja Mamasa dan tongkonan di Toraja Sa’dan, justru, dengan melihat bagian yang paling dalam satu rumah, yakni dapur. Ia melacaknya dengan memulainya menceritakan siapa sebenarnya masyarakat Toraja Mamasa. Dari situ, ia berpindah menceritakan dari mana asal sebenarnya bentuk atap rumah berbentuk sadel kuda itu? Apakah merujuk ke bentuk perahu atau tanduk kerbau?

DENGAN membaca ketiga bukunya itu, saya kemudian merasa beruntung bahwa jawaban langsung Kees Buijs, ketika ia ditodong pertanyaan tentang bagaimana memisahkan dua identitas dalam dirinya (pendeta dan antropolog) pada April 2010 lalu, bisa saya bayangkan dan pahami.
Setelah itu pula, kali ini, saya makin yakin: jawaban tidak selalu hadir begitu pertanyaan terlontar. Jawaban bisa datang lekas, tapi kadang teramat baik bila datang lebih lambat.[]


Kamis, Maret 22, 2018

Halaman Rumah


Buku ini melacak sejarah kecil (petite histoire) tentang tiga kampung (Paropo, Rama, dan Sukaria) di Makassar lewat “pintu masuk” ranah yang disebut sebagai halaman rumah—yang memungkinkan kita melacak perkembangan wajah Kota Makassar.

Halaman rumah merupakan orientasi arsitektural orang Indonesia. Ia sebentuk pengertian luas dalam alam pikir mutakhir Nusantara. Sebab itulah, selain melacak sejarah kecil halaman rumah warga kota Makassar, buku ini memulung beberapa perspektif yang nostalgis hingga praktis dari Flores, Makassar, Solo, Yogyakarta, dan tempat lainnya dengan beragam perspektif, mulai seni, hukum, pengorganisasian, budaya, dll. 

Buku ini lantas menguak bagaimana halaman bisa menjadi ruang ekspresi, berfungsi sebagai panggung, ruang produksi, lanskap, hingga ranah pertukaran gagasan.

Buku yang melibatkan dua puluhan peneliti, seniman, pengacara, dosen, ibu rumah tangga, pekerja sosial dan seni, serta mahasiswa ini hasil kerjasama Tanahindie - Stichting Doen - Arts Collaboratory - Penerbit Ininnawa.

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP