Kamis, Januari 14, 2010

Hoffman Ancam Hanks-Hopkins

Untuk aktor jajaran Hollywood, tidak diragukan Tom Hanks dan Sir Anthony Hopkins adalah dua orang di barisan terdepan. Tapi kini, barisan itu coba diterobos oleh seorang aktor yang bernama Phillip Seymour Hoffman. Kalau mengikuti artikulasi gerak dan mimik Hanks dalam Forrest Gump dan Hopkins dalam trilogi Silence of the Lamb-Hannibal-Red Dragon, coba simak Hoffman dalam Cold Blood dan yang teranyar, Doubt (2009). Gila!
Meski cuma sebatas nominator Oscar untuk perannya sebagai Pastor Flynn dalam Doubt, tapi simak interpretasi yang dibawakannya atas peran itu. Beradu akting dengan Meryl Streep sebagai Suster Aloysius Beauvier, saling lempar potongan dialog, dijamin akan membuat Anda terus meragu dan menebak siapa di antara mereka 'jahat' dan 'baik'.
Doubt adalah naskah adaptasi dari buku yang berjudul serupa, karangan John Patrick Shanley. Shanley sendiri pernah memenangkan Oscar ketika menjadi screenwriter 'Moonstruck'.
Cerita film ini berlatar 1964, di sekolah Saint Nicholas, Bronx NY. Pastor kharismatik, Flynn, mencoba membalik keadaan sekolah tersebut yang sejak dipimpin Suster Aloysius, suster bertangan besi yang menekankan kedisiplinan dalam mendidik, termasuk ketika sekolah itu menerima murid kulit hitam pertama, Donald Miller. Padahal, sekolah itu sendiri, menurut Aloysius, selama ini hanya melayani keturunan Italia dan Irlandia.
Belakangan ketika Suster James (Amy Adams) mengadu ke Suster Aloysius tentang Pastor Flynn yang terlalu memberi perhatian pada Donald. Sister Aloysius pun mencoba menyerang secara pribadi dengan tuduhan-tuduhan yang tak berbukti demi menyingkirkan Flynn dari sekolah tersebut. Tuduhan-tuduhan Aloysius mungkin saja tidak terbukti, tapi Meryl Streep menggiring kita untuk terus meragu terhadap Flynn yang dibawakan Hoffman begitu baik. 
Selamat menonton!

Senin, Januari 11, 2010

Lomba Resensi


Peserta
Terbuka untuk mahasiswa se-Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.


Ketentuan
I. Karya asli; bukan jiplakan.
II. Peserta meresensi buku yang ditentukan oleh panitia dan tim juri, yaitu:
4. Kuasa dan Usaha di Masyarakat Sulawesi Selatan (Ininnawa-KITLV Jakarta, Maret 2009)
III. Format Karya: Microsoft Word [rich text format], spasi 1.5, dan minimal 1000 (seribu) kata.
IV. Melampirkan fotokopi kartu pengenal/mahasiswa.
V. Peserta mengirim via email ke
saintjimpe@gmail.com atau lelakibugis@gmail.com atau m.aan.mansyur@gmail.com

atau mengirim/mengantar langsung ke:
Penerbit Ininnawa
Jalan Abdullah Daeng Sirua 192 E
Makassar 90234


Batas waktu
Karya peserta setidaknya dikirim tanggal 5 Februari 2010 (cap pos).


Pengumuman 
Pemenang akan diumumkan di acara peluncuran buku pada pukul. 09.00 Wita tanggal 12 Februari 2010, di Komunitas Ininnawa, Jl Perintis Kemerdekaan Km-9 90245.


Hadiah
Total hadiah senilai Rp5.000.000,-


Pelaksana
Penerbit Ininnawa
Toko Buku Graha Media

Jumat, Januari 08, 2010

Perjalanan Kedua: 8060


5 November 2009. Saya urungkan rencana saya berangkat pukul 13.00 dari Sengkang. Saya tak mau terburu-buru berangkat. Apalagi keberangkatan saya dengan motor ternyata memaksa saya berpikir harus lewat mana; apakah melalui jalan tanpa banyak kelok via Sidrap atau lewat Bulu Dua.
Untuk keduanya, saya putuskan memperpanjang sewa hotel sampai pukul 15.00. Saya harus istirahat baik-baik dulu seraya berpikir soal jalur perjalanan. Pelajaran yang saya peroleh dari perjalanan menuju ke sini benar-benar memberi saya wanti-wanti: jangan pernah mau berangkat ketika sedang capai. Soal jalur yang saya akan lewati, saya pilih Bulu Dua. Berarti harus lewat Soppeng. Saya mau mencobai jalur baru. InsyaAllah, bakal ada pengalaman baru pula.
Tapi sebelum memutuskan, saya berhitung baik-baik. Apakah uang di kantong cukup buat sewa perpanjangan 25 persen dari harga rente kamar. Empat lembar lima puluh ribuan akan berkurang selembar untuk memperpanjang istirahat saya di kamar hotel. Sambil menerawang mengira-ngira, rasanya bekal Rp150 ribu rasanya sudah cukup membeli makanan dan minuman. Kalau pun risiko seperti ban pecah dan sebagainya tak bisa dielak, ya setidaknya saya masih punya KTP untuk dititip di tukang tambal ban, kemudian mencari ATM ibukota kabupaten atau untuk menarik dari uang tabungan yang tidak seberapa.
Begitu pakaian dan barang sudah saya masukkan dalam tas, saya pun berangkat tidur. Weker Nokia yang selama ini setia membangunkan saya di waktu-waktu penting, saya minta membangunkan saya pada 14.15. Tidur dan bangun saya selalu disponsori Nokia.
Tak lama setelah terbangun oleh getaran dan bunyi berisik Nokia, saya minum air putih sebanyak mungkin. Cuci muka. Basahi rambut yang mulai panjang dan sering 'memberontak'. Kembalikan kunci kamar. Panasi motor. Dua hari si biru hanya standar samping di parkiran hotel.
Saya berangkat ke Soppeng. Sebenarnya indikator bahan bakar yang tinggal dua garis. Saya lambatkan motor mencari stasiun pompa bensin tapi tak dapat juga. Motor kembali saya lajukan. Rupanya simpang tiga Sengkang-Soppeng-Bone terdapat pompa bensin. Saya tidak melihatnya karena baru membalikkan kepala ketika simpangan itu sudah lewat seratusan meter. Saya jadi malas untuk balik. Saya pikir dan yakin, pompa bensin sudah dekat. Apalagi saya sudah percaya, kehematan si biru masih bisa saya andalkan hehehehe..
Saya kemudian tiba di Cabenge. Sambil melambatkan motor, saya cari lagi pompa bensin. Namun pompa bensin yang saya cari hanyalah pompa bensin kecil. Itu pun sering tidak terlihat karena berada di depan rumah warga dengan warna yang tidak menyolok.
Sambil mencari pompa bensin, begitu masuk di kota ini saya jadi teringat cerita Sudirman HN tentang anaknya, Rifki yang ia ajari cara menyebut Cabenge, kampung halamannya. Rifki yang besar di Australia mengeja Cabenge menjadi “Kabenje”. Ayahnya berkeras cara Rifki menyebut sangat keliru. Ca’-beng-nge, kata Kak Sudi. Jelas debat ini tak punya ujung. Yang pasti, Kak Sudi mengakhiri cerita ini dengan menepuk dahi.
Tiba di depan Pasar Cabenge, saya justru singgah di warung mi pangsit—bukan pompa bensin, tempat yang saya cari sejak Sengkang. Selesai makan, saya bersegera menuju Soppeng. Sekira dua kilometer lepas dari Pasar, saya akhirnya bertemu pompa bensin. Isi penuh dan tancap gas ke Soppeng.
Menjelang Kota Soppeng, saya bertemu simpang tiga, “Jalan ke Bulu Dua ke mana?” Si tukang ojek menunjukkan jalan yang saya punggungi. Saya berterima kasih, berbalik, dan tancap gas lagi.
Bulu Dua. Entah berapa kilometer yang harus saya tempuh untuk sampai di sana. Di hapeku menunjukkan pukul sudah pukul 16.00. Gas makin saya tancap lagi; saya harap-harap cemas semoga masih bisa saksikan pemandangan di Bulu Dua. Apalagi saya tak punya pedoman sedikit pun tentang jarak. Terakhir saya melihat Bulu Dua pun sekitar 10 tahun lalu. Yang teringat hanyalah sejuknya udara di atas sana. Kalau pun tiba di saat gelap, ya cukup udara bersih nan sejuknya saya nikmati. Tidak rugi. Apalagi kalau ingat udara di Makassar yang penuh debu dan berbau logam!
Jalan ke sana penuh kelok. Untuk ukuran Sulawesi Selatan, jalannya serupa bila menuju ke Enrekang atau Toraja—minus jurang-jurang yang dalam. Namun mata pengendara tetap harus ekstra awas. Pasalnya ruas jalan ke sana tidak rata. Banyak bagian jalan bergelombang dan aspalnya tak licin. Motor yang lewat pasti bergetar. Beberapa kali saya harus mengendara sambil berdiri karena tak melihat jalan yang bergelombang.
Tapi ada juga baiknya pakai motor. Mobil menjadi lambat lantaran harus berbagi jalan atau memberi giliran mobil, terutama bagi mobil yang lebih besar, untuk mendahulukan mereka bila masuk jalan menanjak. Pokoknya, kuda besi saya lebih lincah menyalip. Apalagi kalau sudah bergegas memburu pemandangan di Bulu Dua supaya tidak sampai tertelan gelap.
Sekisar duapuluhan kilometer menjelang Bulu Dua, setelah melewati jalan-jalan yang menanjak dan berkelok, saya menepikan motor. Tangan saya mulai kram karena getaran. Saya tepikan motor di lembah yang penuh petak sawah. Rokok saya sulut. Istirahat sejenak di sebongkah batu besar di pinggir sawah. Pemandangan di sini asyik juga.
Hijau membentang. Hiburan tersendiri di tengah kemarau yang tidak berujung. Tangan saya basahi; merabai sejuk air selokan pengairan yang ada di kaki saya.
Tiba-tiba telepon saya berbunyi! Rupanya Nurhady. Dia tanyakan saya sedang di mana. Saya jawab, sedang di Bulu Dua, masih dalam perjalanan ke Makassar. Dia bilang sedang di Makassar dan mau ketemu. Sejak di Sengkang, saya disibukkan dengan beberapa urusan, termasuk mengontak Ridho meminta tolong menguruskan fotokopi ijazah Shanty Roma yang mau mendaftar PNS.
Gas motor saya tancap lagi. Tinggal beberapa kilometer lagi sampai di Bulu Dua. Di perjalanan, saya saling salip dengan sebuah mobil berplat merah. Saya kadang diklaksonnya karena hendak lewat. Tapi saya bersikukuh tetap di tengah jalan. Siapa juga yang mau meminggir dengan jalanan bergelombang di pinggirnya?! Agak jahil juga saya dua-tiga kilometer. Saya paham betul bahwa dia butuh ruang besar untuk lewat di jalan yang tak begitu lebar ini. Sementara saya sudah kepalang melaju mengejar pemandangan yang masih terang di Bulu Dua. Mobil itu kemudian mendahului ketika saya sudah sampai di jalan yang rata. Kembali saya lewati mobil itu karena berhenti lantaran sopirnya hendak buang hajat.
Akhirnya saya di Bulu Dua. Dinding gunung kembar itu mencoklat. Mungkin rumput yang tak tersiram air hujan tiga bulan terakhir. Beberapa menit kemudian, mobil itu melintas. Saya dan si sopir saling lempar senyum. Ajaibnya, lelah rasanya berkurang.
Menghabiskan sebatang rokok, saya berangkat lagi. Sekira sejam lagi malam sudah tiba membawa selimutnya mengeloni daerah ini. Lepas dari Bulu Dua, tangan saya tidak capai lagi memutar gas. Justru kaki yang harus bekerja keras karena jalan sudah menurun dan tetap berkelok. Tinggal memastikan saja rem benar-benar prima.
Tapi dalam hati saya mengumpat, wah mulai turun. Berarti akan panas lagi. Bakal bertemu lagi keringnya Makassar, iklim yang membakar, dan udara yang cemar. Tapi yang paling mengesalkan adalah bakal bertemunya saya dengan jalanan dari Barru ke Makassar yang begitu mengesalkan. Begitu panjang, masih dilapisi beton, dan yang terpenting yakni penuh debu.
Terbayang jalan yang masih seratus sembilan puluhan kilometer, saya memilih istirahat di salah sebuah warung di sekitar perbatasan Barru-Pangkep. Kafeinlah yang bisa mengalahkan pegal badan yang saya bawa.
Segelas itu segera tandas ditemani kepulan rokok. Saya lirik hape, jam sudah menunjuk ke pukul 19.00. Wah saya harus berangkat. Tapi saya harus berhenti karena telepon dari Ammang, teman seangkatan di kampus dulu yang menanyakan kabar, lagi di mana, dan selamat ulang tahun. Saya katakan, itulah yang membuat saya harus pulang. Sudah janji dengan istri dan anak untuk ada di rumah di hari ulang tahun saya.
Ya, selama satu setengah jam mengendarai kuda besi itu, saya terus bertanya dalam hati, kapan saya sampai. Saya benar-benar lelah. Tapi rindu saya pada rumahlah yang mengalahkannya. Hanya beberapa meter sampai di tujuan, saya melirik speedometer. Angka di layar chrome-nya 8060.

Selasa, Januari 05, 2010

Sebuah Sumber Pribumi tentang Perang Mengkasar

Untuk pertama kalinya sebuah dokumen pribumi mengenai Perang Mengkasar (21 Oktober 1653 – 19 November 1667) yang ditulis oleh salah seorang pelakunya sendiri kini tersedia dalam bahasa Indonesia. Dokumen tersebut adalah Syair Perang Mengkasar yang ditulis oleh Enci’ Amin, jurutulis Sultan Hasanuddin, ‘ayam jantan dari timur’. Akibat konspirasi Cornelis Speelman dan Arung Palakka, Sultan Hasanuddin terpaksa meneken Perjanjian Bongaya (19-11-1667) yang mengakhiri hegemoni Kerajaan Goa kawasan Indonesia bagian timur.

Buku ini aslinya adalah disertasi Cyril Skinner di University of London yang kemudian diterbitkan oleh Martinus Nijhoff di S’Gravenhage (Den Haag) tahun 1963, berjudul Sja’ir Perang Mengkasar (
The Rhymed Chronicle of the Macassar War). Usaha Abdul Rahman Abu (penerjemah) dan Ininnawa & KITLV Jakarta (penerbit) untuk menghadirkan versi bahasa Indonesia buku ini, yang versi Inggrisnya sudah cukup lama terbit, patut dihargai sehingga buku ini sekarang dapat diakses lebih luas di Indonesia.

Skinner menemukan dua salinan naskah Syair Perang Mengkasar, keduanya berbahasa Melayu. Naskah pertama, SOAS ms. No. 40324 (naskah S) yang ditulis dalam format syair, merupakan bagian dari koleksi manuskrip Marsden yang diserahkan kepada King’s College, London, pada 1835, yang kemudian dipindahkan ke Perpustakaan School of Oriental and African Studies (SOAS) pada 1920-21. Naskah S merupakan hasil kerja dari dua orang penyalin, tebalnya 38 lembar folio (76 halaman), beraksara Jawi. Namun 13 bait pertama naskah ini sudah hilang. Naskah S disalin di Sumatra, yang mungkin diperoleh Marsden di Bengkulu antara 1771 dan 1779. Bahasa naskah S ini sangat kuat dipengaruhi oleh bahasa Minangkabau (hlm.58).

Naskah kedua (diberi kode L, ditulis tanpa ada pemisahan antar larik dan antar bait) adalah Cod.Or. Bibl. Lugd. 1626 koleksi Universiteitsbibliotheek Leiden, yang juga ditulis dalam aksara Jawi. Naskah L hanya 6 halaman (73 bait) dari keseluruhan Syair ini yang, berdasarkan alih aksara yang termuat dalam buku ini (hlm.75-142), berjumlah 534 bait. Naskah L diperoleh Universiteitsbibliotheek Leiden tahun 1848, bersama-sama dengan naskah lain yang pernah dimiliki oleh Francois Valentijn. Naskah L ini disalin oleh Cornelia Valentijn (istri Francois Valentijn) di Ambon sekitar 1710.

Skinner menyajikan alih aksara Syair Perang Mengkasar dengan memilih naskah S sebagai teks landasan dan memberikan konteks historis dan analisa kesastraan yang memungkinkan pembaca memahami isinya. Ia melakukan critical edition dan bagian yang hilang pada awal naskah S ‘ditambal’ dengan naskah L.

Menurut Skinner teks Syair Perang Mengkasar menjadi delapan bagian (hlm.67-9).

Bait 1-28: Pendahuluan. Bagian ini berisi puji-pijian (doxology), persembahan dan sanjungan untuk Sultan Goa, dan permohonan maaf pengarang.

Bait 29-91: Perang Dimulai. Bagian ini mengisahkan persiapan dan keberangkatan ekspedisi VOC ke Makassar, ikrar sumpah setia orang Makassar kepada Sultan mereka dan kebencian kepada VOC, dan pertukaran surat antara Sultan dengan VOC.

Bait 92-135: Ekspedisi VOC ke Buton. Bagian ini mengisahkan kekalahan pasukan Makassar yang dipimpin oleh Karaéng Bonto Marannu.

Bait 136-148: Ekspedisi VOC mengunjungi Maluku. Bagian ini menceritakan bergabungnya Sultan Ternate dengan ekspedisi VOC dan sanjungan kepada Sultan Goa.

Bait 149-206: Pemberontakan orang Bugis. Kisah dalam bagian ini meliputi kekalahan orang Bugis atas pasukan Sultan Tallo’ di Mampu dan Pattiro, kembalinya para pemenang perang itu ke Makassar, dan permohonan maaf pengarang atas kekurangannya.

Bait 207-423: Perang Mengkasar Pertama. Dalam bagian ini dikisahkan tibanya armada VOC di Makassar yang kemudian menyerang Bantaéng, utusan Speelman dihina, persiapan serangan oleh Makassar, aksi saling bombardir dalam pertempuran hari pertama, berlanjutnya pengeboman, permohonan pengarang agar dikenang, dipatahkannya upaya VOC untuk menguasai Batu-Batu, serangkan VOC ke Galésong, berkecamuknya pertempuran sengit di Batu-Batu menyusul pendaratan pasukan VOC di sana, jatuhnya korban di pihak Makassar, perundingan damai disertai kepanikan, sanjungan buat Sultan Goa dan Tallo’, dan disepakatinya perdamaian.

Bait 424-459): VOC di Ujung Pandang. Bagian ini mengisahkan mulai menetapnya orang-orang VOC di Ujung Pandang (Makassar) dan rasa muak penduduk setempat kepada mereka, pembelotan beberapa karaéng dari Makassar kepada VOC yang bergabung dengan musuh dalam penyerangan ke Sanraboné, dan pengiriman bala bantuan dari Makassar ke Sanraboné di bawah pimpinan Karaéng Jerannika.

Bait 460-513: Perang Mengkasar Kedua. Dalam bagian ini dikisahkan serangan VOC ke Sanraboné, dibakarnya Perwakilan Dagang Inggris dan dipukul mundurnya serangan VOC, pertempuran berlanjut, penyerbuan ke pusat pertahanan Makassar yang masih tersisa dan dihacurkannya benteng mereka, dan mundurnya pasukan Makassar ke Goa.

Bait 514-534: Penutup. Pengarang mengekplisitkan moral cerita (bait 514). Selanjutnya pada bagian ini diceritakan pula perjanjian damai terakhir (Perjanjian Bongaya) untuk mengakhiri perang ini, kesimpulan pengarang, dan pengarang mengungkapkan identitas dirinya dan memohon maaf untuk terakhir kalinya.

Skinner juga mencatat tanggal peristiwa-peristiwa penting yang disebutkan dalam Syair ini. Dengan demikian, sampai batas tertentu, Syair Perang Mengkasar bersesuaian dengan catatan sejarah VOC (dan sumber Barat pada umumnya) mengenai perang ini (Seperti telah dikaji oleh Leonard Y. Andaya 1981; terjemahan Indonesianya oleh Ininnawa 2004).

Namun demikian, historiografi tradisional, seperti Syair Perang Siak, Syair Perang Wangkang, Babad Blambangan, Surat Keterangan Syekh Jalaluddin karangan Fakih Saghir, dan Syair Perang Mengkasar—sekedar menyebut contoh—memiliki logika dan struktur sendiri, yang berbeda dengan logika dan struktur catatan sejarah karya orang Barat. Historiografi tradisional kita mengandung informasi mengenai masa lampau kerajaan

Berbeda dengan sumber-sumber Barat yang sering hanya memberikan urutan kronoligis peristiwa sejarah dan kadang cenderung statistis, sumber-sumber pribumi seperti historiografi tradisional sering merepresentasikan hubungan yang berkelindan antara pikiran dan perasaan (emosi) penulisnya. Sumber-sumber pribumi seperti ini adalah bagian integral dari budaya lokal Nusantara. Melaluinya kita tidak hanya dapat memahami berbagai ketegangan, konflik, dan keprihatinan pada pemimpin lokal itu tetapi juga cara mereka memandang dunia lokalnya dan orang asing.

Suryadi, Leiden Institute for Area Studies, Universiteit Leiden, Belanda

Sabtu, Januari 02, 2010

Tiga Bingkai dan Imla yang Terpatah-patah

Tiga bingkai di atas panggung putih. Dua dihadapkan ke depan, ke wilayah publik; yang satu diarahkan ke sisi kiri panggung, diredam ke sebuah wilayah psikologi karena tak diarahkan ke arah orang awam dalam setting panggung konvensional. Ketiganya dipakai Shinta Febriany sebagai alat di atas panggung lakon Stanza Diri yang Pecah (Stanza), di aula Fort Rotterdam 5-6 Desember 2009 lalu.
Bagian inilah yang, saya pikir, berhasil didayagunakan oleh Shinta. Ketiga aktor (Syahrini Fathi, Salmiah, dan Indra Bayu) bergerak di kisaran bingkai masing-masing. Dua bingkai yang pertama kemudian dipakai menampilkan adegan-adegan awal berupa kehidupan rumah tangga—salah satu perihal yang menjadi perhatian perempuan kelahiran 5 Februari 1979 ini dalam lembaran panduan pertunjukan.
Disebut dalam panduan pertunjukan bahwa dalam relasi rumah tangga dipercayai sebagai relasi yang sakral, karenanya tidak memungkinkan ada dusta di sana, padahal ‘pengalaman beberapa responden, meneguhkan saya bahwa kepalsuan pun tak urung terjadi dalam relasi suami dan istri’ [hal.6]. Begitu juga dalam hubungan lain seperti persahabatan, perkawanan, dan percintaan. Pemikiran itulah yang kemudian ditampakkan oleh para aktor yang masuk ke panggung mengenakan topeng dalam adegan pembukanya.

Di Sebuah Ruang Tamu
Bingkai merupakan benda yang dialami oleh semua orang. Bingkai-bingkai dari sebuah ruang tamu itu dipakai sebagai alat menampilkan citra diri yang positif. Tentu saja, ini kemudian menjadikan kosa benda dan bahasa panggung yang digunakan Shinta dalam pementasannya kali ini adalah simbol-simbol yang berhasil. Apalagi dikuatkan dengan gerakan-gerakan yang jelas menandakan adanya kehidupan keluarga di dalamnya, seperti foto anggota keluarga yang begitu ceria dan damai.
Mereka lalu berpencar. Gerak Indra dan Salmiah kerap berkisar di bingkai yang dihadapkan ke wilayah publik. Tergesa-gesa. Sementara Syahrini melampiaskan gerakan di sekitar bingkai yang dihadapkan di wilayah ‘dalam’ atau psikologis. Menekuk diri atau mengerang. Marah.
Namun di balik suksesnya mendayagunakan bingkai, terdapat teknik gerakan Indra yang penekanannya perlu lebih difokuskan. Ada kekaburan yang terjadi dalam olah gerak Indra yang tidak menegaskan adanya batas “dunia-dalam” bingkai dengan “dunia-sebelum” dan “dunia-sesudah” bingkai. Itu kemudian mengubah bingkainya sebagai sesuatu yang lain. Bingkai di dalam teater berdurasi sekitar satu jam ini diposisikan juga sebagai jendela, tempat memandang dan menengok hal-hal yang teratur dan terencana sebuah keluarga (atau seseorang). Kesedihan tak dibenarkan masuk ke dalamnya karena ia akan menjadi abadi. Proses memutasi diri menjadi ‘sewajar’ mungkin adalah hal yang mutlak harus berada di luar bingkai.
Perihal-perihal psikologis inilah yang Shinta munculkan dalam Stanza. Ia tidak menampilkan lagi fragmen-fragmen dari sesuatu yang ikonik tentang Makassar seperti tari Pakarena—yang pernah ia tampilkan dalam Kisah Tubuh (2006). Saya melihatnya bahwa ia sadar benar hubungan perkawanan, persahabatan, sampai perkawinan merupakan hal-hal yang teramat penting bagi masyarakat Sulawesi Selatan. Pengkhianatan bukanlah hal sepele bagi masyarakat tempat Shinta tumbuh dan berkarya.

Di Pekarangan
Kali ini, panggung teater Shinta Febriany terasa lebih ‘cair’ lantaran Stanza berlangsung di aula Fort Rotterdam. Gedung Societeit de Harmonie sedang dalam perbaikan. Jelas dari segi kapasitas bangunan eks gereja Belanda di kompleks benteng tua itu terbatas ketimbang gedung Societeit.
Hanya sekira enam puluhan penonton yang duduk bersila. Berdesakan di antara peralatan tata cahaya, tata suara, dan perangkat lainnya yang hanya berkisar setengah meter di belakang mereka. Panggung juga begitu—hanya berjarak semeter dari penonton. Pertunjukan terasa akrab. Mimik aktor terlihat jelas; dengan begitu lebih menegaskan karakter dan suasana yang hendak dihantarkan oleh aktor.
Pengalaman ini jelas berbeda bila berhadapan panggung konvensional seperti yang ada di Gedung Societeit. Di Societeit, gedung pertunjukan yang dianggap paling memadai di Makassar, mimik para aktor lebih sering samar dan, karenanya, kerap luput dari amatan penonton.
Begitu pula tata cahaya dan tata suara. Di sinilah letak kelebihan dari panggung yang ‘cair’. Segala kekurangan di panggung konvensional akan lebur dan tertutupi di dalam panggung jenis ini. Bahkan bila Shinta lebih ekstrem lagi, berniat membawanya ke luar panggung konvensional, lakon ini tetap memiliki nilai artikulasi yang sama baiknya tatkala di panggung tertutup. Perlakuan yang sama juga dapat dilakukan dengan potongan-potongan multimedia yang ikut dalam pusaran Stanza. Presentasinya bisa dilaksanakan sebelum atau sesudah pertunjukan. Sekali lagi, kalau pun itu hendak diusung ke pekarangan, luar panggung tertutup.
Dalam Stanza, multimedia dipancarkan ke dinding hingga tujuh kali. Bagian multimedia ini cukup mengganggu konsentrasi penonton, juga saya. Shinta sepintas ‘memaksa’ penonton memberitahu bahwa proses kerja teater itu tidak muncul begitu saja. Ia melalui proses kerja intelektual. Stanza lahir oleh andil suara-suara masyarakat yang ditemui. Stanza pun merekam curahan pikiran warga yang diwawancarai.

Imla yang Terpatah-patah
Penonton memang selalu menjadi hal pelik bagi teater di Makassar. Kenyataan ini kemudian memunculkan harapan akan adanya teater yang intens mendatangi ruang dan pekarangan lain. Dan Stanza memenuhi syarat untuk itu. Meski upaya mengeluarkan dari panggung tertutup atau mengabadikannya dalam bentuk semula tetap memerlukan kerja keras.
Stanza pun membutuhkan kelenturan gerak. Bukan imla atau dikte yang terpatah-patah. Karena bahasa cenderung memindahkan gerak, sebagaimana yang terjadi pada potongan gerakan sembahyang yang buyar dan bertele-tele. Bukan juga seseorang yang cenderung masokis dengan menubruk atau menjatuhkan diri ke panggung. Pertanyaan yang muncul setelah itu, benarkah marah dan ketidakberdayaan hanya dalam bentuk seperti itu?
Tanpa menghindar dari itu, aktor dalam Stanza akan sekadar menjelma jadi kumpulan pemandu di sebuah pesawat; geraknya mengikuti ejaan yang diperintahkan sebuah suara. Di teater seperti inilah diharapkan upaya-upaya penelitian dan keindahan gerak (tari) menjadi sejoli.[]

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP