Sabtu, Mei 28, 2016

Dua Sisi yang Bekerja dalam Satu Perihal

HIDETORA ICHIMONJI adalah raja, sedang Kyoami merupakan tokoh badut sekaligus pelayan setianya. Kedua sosok itu pasangan serasi. Ada saat Kyoami melayani sang raja, di waktu lain sang pelawak menginterupsi, bahkan menghardik, Ichimonji yang dinilainya gegabah mengambil keputusan.

“Melalui mereka, raja akan belajar tentang apa yang rakyat pikirkan,” kata Akiro Kurosawa tentang “Ran” (1985), yang disutradarainya dalam Akiro Kurosawa: Interviews (2008: 129). Pendeknya, hubungan mereka tampak padu. Raja sebagai kekuasaan formal, sedang si pelawak wujud suara rakyat. Itu sekaligus gambaran singkat dari bentuk ideal dalam kekuasaan sebuah negara. Hubungan mereka simbiosisme yang ulang-alik. Yang-teratur tak akan lengkap tanpa yang-terserak.

Dari situ kita belajar dan paham bahwa raja dan rakyat adalah oposisi biner. Keduanya unsur terpenting berjalannya negara. Dalam sistem itu, keduanya punya arti bila masing-masing beroposisi satu sama lain. Hal yang sama juga mengingatkan kita pada seruan Rukkelleng Mpoba kepada Patotoqé dalam hikayat I La Galigo, kala melaporkan bahwa bumi kosong melompong, “Engkau bukanlah déwata selama tak seorang pun di kolong langit, di permukaan Pérétiwi menyeru Sri Paduka kepada Batara.”

Konsep tersebut serupa falsafah Yin-Yang yang hidup di dataran Tiongkok ribuan tahun silam. Yin penanda daya pasif, Yang sebagai daya aktif. Dua hal saling membutuhkan itu mirip yang dilakukan Rukelleng Mpoba, sang budak, memberitahu tentang perihal rinci tentang suatu keadaan kepada Patotoqé. Sang Penentu Nasib kemudian mengirim manusia pertama untuk mengisi Pérétiwi agar ada yang “menyeru Sripaduka kepada Batara” sebagai bentuk respons terhadap kerja-kerja kecil Rukkelleng Mpoba.


PADA SETIAP dunia, juga dalam jagat seni, terdapat dua perihal yang bekerja. Dwitunggal tersebut terjalin kuat dalam sebuah karya. Keduanya saling mempertegas dan menghidupkan. Dua hal itu adalah kerja-kecil dan kerja-besar.

Perihal itulah yang mengemuka kala menyimak karya-karya ilustrasi dan kriya dalam pameran “Dua Sisi” lima mahasiswa Jurusan Seni Rupa Muhammadiyah Makassar yang digelar 26-28 Mei 2016. Dari mereka tampak ada upaya bekerja rinci. Mereka menyusun rangkaian kepingan yang kemudian mengutuhkan sebuah karya.

Karya kriya Nurasiah menunjukkannya dengan jelas. Piringan-piringan kecil dari kertas beraneka warna yang digulung menggunakan lidi kemudian membentuk parade warna atau bentuk. Ia kerjakan Menjalar, Kunci G, Sun Flower, Butterfly, Bunga Senja, Gelembung, Shadow Hijab, Tahta, Shadow Smoking, dan Mekar dengan menghabiskan kertas A0 sekisar 300 lembar. Kesemuanya dibingkai oleh perempuan kelahiran Gowa 10 September 1993 ini dalam bingkai berukuran rata-rata 80 cm x 80 cm.

Hamrianti dengan deretan karya ilustrasi memunculkan tanda dan benda budaya mutakhir (make up, kacamata hitam, tas, kunci mobil, minuman bermerek, jam tangan, kartu kredit, kamera, gincu, celana ketat). Hal tersebut menampak dalam karya Sense of Beauty, Wanita Glamour, The Trend Now, Skinny Jeans, Shopping, dan My World. Sang kreator dengan bahan kertas dupleks dan cat poster dan menempatkan karyanya dalam dimensi 60 cm x 40 cm itu sebagai representasi bagaimana kalangan muda menandai zamannya. Jarak antara seniman dan karyanya benar-benar intim karena itulah yang ditemuinya (nyaris) tiap hari. Bahkan ia menuliskan dalam catatannya, “remaja selalu up to date”!

Kerja-kerja kecil juga muncul pada karya ilustrasi Isningsih yang bernuansa poster. Mahasiswa kelahiran 30 Oktober 1992 ini mengerjakan sejumlah gambar di atas kertas dupleks menggunakan cat poster. Karyanya bernuansa seruan sekaligus pernyaan sikapnya terkait pendidikan, seks bebas, korupsi, perihal media sosial, obat-obatan terlarang, sampai isu begal. Ia akui bahwa ketika mengerjakan Mengejar Impian, Tak Mengenal Larangan, Jeratan Pimpinan, Smartphone Mengalihkan Duniaku, Penghancuran, dan Jam Malam, berupaya keras meneliti fenomena-fenomena itu melalui serangkaian wawancara.

Sedang Fitriani Masdar dalam kriya tanah liatnya mencoba menunjukkan kerja-kerjanya dengan mencampurnya dengan cat propan, dempul, serta lem. Perempuan kelahiran Tondok Tangnga 30 Mei 1993 ini menampilkan semangat dua sisi melalui nuansa dua warna yang mendominasi karya-karyanya seperti Guci, Logo Universitas Muhammadiyah Makassar, Tekstur, Lampu Hias, Dekoratif, Flower, Kaligrafi, Sepatu Tali, Sepatu Balet, Burung.

Dua sisi kita dapati dalam karya ilustrasi pensil warna Nasaruddin yang bertema “Hitam Putih Potret Kehidupan Fauna” terdiri dari karya Sabung Ayam, Tatapan Sinis, Penyayang, Berburu Lalat, Sosialisasi, dan Perkelahian Antar Semut. Karya Nasar, panggilan sehari-harinya, mencoba melihat dari dua sisi bahwa dalam Sabung Ayam, “Tanpa kita sadari penderitaan yang dialami ayam aduan tersebut”.


LAKSANA SEBUAH kekuatan, Yin-Yang bisa kita andaikan sebagai sebuah siklus. Yang sebagai cahaya, digambarkan berwarna putih, bergerak naik dan berpadu dengan Yin, kekuatan kegelapan, yang bergerak turun. Dua kekuatan berbeda bentuk itu saling melengkapi, membangun satu sama lain, serta terus hidup dan berputar.

Demikian pula yang terserak, belum terungkap, dan masih tersembunyi dapat tersusun dan mengemuka melalui serangkaian metode dan karya estetis yang Anda saksikan di pameran kali ini.[]

Selasa, Mei 24, 2016

Sejarah Sekolah Makassar


Sebuah organisasi pendidikan dan dakwah berdiri di Sulawesi Selatan, disebut-sebut berdiri tiga tahun sebelum Muhammadiyah cabang Makassar dibentuk pada tahun 1926. Organisasi ini merupakan perkumpulan lokal pertama di Sulawesi Selatan, sebuah hal yang menunjukkan bahwa betapa besar pengaruh perkembangan dunia pendidikan di Makassar dalam menggerakkan inisiatif warga kota untuk berserikat dan berpendapat.

Cerita ini merupakan secuil data yang dibeberkan dua ratusan lembar buku ini. Penulisnya, Sarkawi B Husain, melakukan studi ini yang kemudian menjelma sebagai sumber tertulis yang mengurai kehadiran pendidikan pertama di Kota Makassar yang diupayakan oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada akhir abad ke-19, serta perkembangannya hingga era Penjajahan Jepang pada awal dasawarsa 1940-an.

Pengkajian Sarkawi terhadap kehadiran dan aktivitas di gedung-gedung sekolah pertama itu memperlihatkan pengaruhnya yang demikian besar terhadap kehidupan masyarakat Makassar dan sekitarnya. Kemunculan sekolah-sekolah pertama itu, setidaknya, tampak dalam tiga hal: sosial keagamaan, perkembangan pertama dunia pers di Sulawesi Selatan dan sekitarnya, dan terjadinya mobilitas sosial yang ditandai dengan munculnya elite baru.

Telusuri jawaban-jawabannya dalam buku ini!

Sejarah Sekolah Makassar: Di Tengah Kolonialisme, Pertumbuhan Pers, dan Pembentukan Elite Baru (Periode 1876-1942) | Penulis: Sarkawi B Husain | Editor: Anwar Jimpe Rachman | ISBN: 978-602-71651-2-0



  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP