Kamis, Mei 23, 2013

Titik-titik yang Berjauhan di Wakatobi

Gugusan gunung karst di Maros dan Pangkep. [Foto: Anwar Jimpe Rachman]
PESAWAT Wings Air JT 1330 berangkat dari Makassar ke Kendari pukul 08.15 Wita. Langit cerah dan awan jarang sepanjang jalan menuju ibukota Sulawesi Tenggara [Sultra], terutama di atas Sulawesi Selatan. Deretan pegunungan batu gamping (karst) di Maros dan Pangkep tampak jelas seperti karang hijau.

Dua kawan yang saya temani dalam perjalanan ini, Kamaruddin Azis dan Mansyur Rahim. Kami tiba sejam kemudian di Bandar Udara Haluoleo, Kendari. Hanya 15 menit transit di sana, berlanjut ke Wakatobi.

Samar dari jendela pesawat berpenumpang 70-an orang ini tampak putih gugusan karang di pinggiran pulau yang bersebaran di perairan Laut Banda yang membiru gelap.

Pukul 09.40 Wings Air mendarat. Lagu “Gong” ciptaan Sigur Ros menyertai pendaratan saya ke kepulauan asing ini.

Dari balik jendela pesawat yang berhenti tampak deretan beberapa pejabat, anggota militer, dan polisi berbaris. Siapa gerangan tamu yang mereka siap sambut? Rupanya, di antara penumpang 70-an orang tadi, kata seorang pegawai bandara, ada deputi menteri.

“Begitu kalau bulan April sampai Juni, banyak tamu yang datang ke daerah untuk melobi,” kata Denun, panggilan akrab saya kepada Kamaruddin Azis.

Rabu, Mei 01, 2013

Romo Budhi, Tugas Sosial & Agama di Tengah Komunitas


Komunitas merupakan fondasi utama warga menanggulangi risiko bencana. Begitulah cara berpikir Romo St. Budhi Prayitno, Pr, Ketua Karitas Purwokerto, ketika memulai kerja-kerja pengurangan risiko bencana (PRB) di wilayah kepastoralannya.
Romo St. Budhi Prayitno, Pr [Foto: Armin Hari]
Bekerja di tengah komunitas bukan hal baru bagi lelaki berpanggilan akrab Romo Budhi ini. Tahun 1986, ia resmi menjadi pastor di Kalimantan Barat sekaligus melayani umat dari para transmigran Jawa. Selesai di Kalimantan, ia ke Jakarta mengurus para pelaut asing yang mendarat di kawasan Tanjung Priuk. Sepulang dari Belanda menyelesaikan karya pastoralnya, ia dikirim lagi. Kali ini ke Purwokerto.

Di Purwokerto (1993-1994), Romo Budhi bertugas membina satu daerah kecil. Pelan tapi pasti, daerah tempatannya lalu menjadi paroki. Namun, titik balik ketika lelaki kelahiran 23 Maret 1958 ini bekerja di kawasan Pangandaran tersapu tsunami pada 2006. "Dari situ saya mulai mengorganisasi tanggap darurat,” jelas Romo Budhi, di sela-sela kepesertaannya di AMCDRR V 2012.

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP