Senin, Juli 03, 2017

Berpuasa dan Naik Ontel Demi Assikalaibineng


KETIKA pertama kali dicetak dan diperkenalkan ke khalayak tahun 2008, Assikalaibineng: Kitab Persetubuhan Bugis (Ininnawa, 2008) menyita perhatian yang sangat besar. Media cetak dan elektronik di Makassar membahas topik ini dengan hangat. Pembeli menyerbu. Sampai-sampai Assikalaibineng naik cetak sampai tiga kali dalam sebulan. Harian Tribun Timur pun menyebut, jagat pustaka di Sulawesi Selatan dihebohkan atas terbitnya Assikalaibineng!

Telepon Redaksi Ininnawa berdering tidak henti karena pesanan. Bahkan staf redaksi Tribun Timur harus mengambil juga buku ke Ininnawa lantaran banyak pembaca mengira harian ini yang menerbitkan. Toko-toko buku diserbu. Beberapa toko buku Makassar, yang namanya baru saya dengar waktu itu, ikut memesan beberapa puluh eksemplar lantaran paparan pemberitaan. 

Wajar saja semua itu terjadi karena baru kali ini terkuak bahwa masyarakat Bugis dan Makassar rupanya memiliki pusaka tentang laku persetubuhan (suami-istri). Media menyebutnya ‘Kama Sutra Bugis’. Sebutan itu agaknya karena kemiripan isinya. 

Saya sendiri tidak setuju sebutan demikian. Ada hal berbeda di antara keduanya. Kamasutra ditulis satu orang (Vātsyāyana Mallanaga), sedang Assikalaibineng adalah ditulis-bersama, sebagaimana kecenderungan pengetahuan orang-orang Bugis yang mempraktikkan “pengetahuan warga” lewat lontara', yang mengajarkan tahap demi tahap seluruh laku di dalamnya (metode buku ‘how to’). Pendeknya, buku ini disusun dari sejumlah sumber yang saling melengkapi.

“Kayaknya bukunya harus kita pegang ketika di kamar,” seloroh Sirtjo Koolhof. Sirtjo adalah seorang peneliti bahasa Bugis yang ikut dalam proyek penerbitan I La Galigo paruh dasawarsa 1990.

Sejatinya, semua praktik Assikalaibineng yang terangkum dalam buku ini tidak berasal dari satu sumber pengetahuan. Apa yang kita baca bersama dalam kitab ini adalah pengetahuan yang diperoleh dari banyak lontara’ yang tersebar di banyak rumah tangga yang sempat dikumpulkan dalam satu proyek pernaskahan Badan Arsip Nasional Makassar. 


BANYAK pengakuan-pengakuan langsung pembaca yang disampaikan kepada saya tentang naskah ini. Kebanyakan tentang bagaimana ketika pengetahuan-pengetahuan dalam naskah seperti ini diturunkan kepada mereka kala mendekati hari pernikahan. Konon, mereka wajib berpuasa dalam jangka waktu tertentu untuk mendapatkan laku, doa, dan mantra Assikalaibinéng tersebut.

Yang menarik dari mereka juga adalah para pembeli. Mereka ke Kampung Buku dengan banyak jenis kendaraan. Dari mobil sampai naik sepeda ontel. Mobil biasalah ya. Tapi yang naik ontel itu luar biasa. Apalagi kalau di Makassar, itu sesuatu yang besar. 

Pengendaranya, sebut saja, namanya Si Bapak. Lelaki langsing dengan kisaran usia enam puluh tahun lebih itu datang ke Kampung Buku berboncengan dengan sang istri, dengan mengayuh sepeda ontelnya lima kilometer dari rumahnya di sekitaran Jalan Bung, Tamalanrea. Ia datang sore, dengan melintasi jalanan Makassar yang sangar (pengendara lain jarang memperhatikan orang yang berjalan kaki atau bersepeda). 

“Saya datang beli karena anak saya ambil buku saya. Terpaksa saya datang beli lagi,” kata Si Bapak. Istrinya hanya menunggu di luar pagar.

Sambil mengingat lagi riuhnya jalanan di Makassar, saya hanya bisa berdecak kagum dan tak lupa mendoakan Si Bapak dan istri selamat sampai kembali ke rumahnya.

Hal yang terjadi pada pengetahuan Assikalaibineng lantaran di dalamnya dibeberkan pengetahuan seks yang dipraktikkan masyarakat Bugis sejak lama, yang diabadikan dalam teks lontara’ dan tersebar di banyak pelosok Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, kini hadir dalam bentuk buku yang ada di hadapan Anda. Pengetahuan ini menjelma sebagai ‘senjata pamungkas’ kalangan tertentu terkait pengetahuan-pengetahuan spesifik. Bahkan Assikalaibinéng dulunya hanya beredar di kalangan istana. 

Inti dari sekian banyak teks itu mencakup konsep hubungan seks, pengetahuan alat reproduksi, tahap hubungan seks, teknik rangsangan, doa dan mantra seks, gaya persetubuhan, teknik sentuhan sensual pada perempuan, penentuan jenis kelamin anak, pengendalian kehamilan, waktu baik dan buruk dalam berhubungan, tata cara pembersihan tubuh, hingga pengobatan kelamin. Semua menjadi rangkaian laku mewujudkan hubungan seks yang indah dan anggun.


BAGI Ininnawa, sebuah penerbit kecil, bajakan atas terbitan perihal yang lumrah. Apalagi menurut beberapa mahasiswa pasca sarjana yang selama ini tahu kerja Ininnawa, membawa info bahwa buku kerja mesin penyalin itu sebenarnya tidak banyak. “Paling dua tiga eksemplar,” kata Icul, teman saya yang sempat kuliah di UGM.

Assikalaibinéng pun tidak luput dari praktik ini. Karena itulah Ininnawa dan Muhlis Hadrawi lantas sepakat hentikan pencetakan karena soal pembajakan. Namun sambil menunggu reda soal bajakan, selama empat lima tahun, Muhlis juga memberi tambahan beberapa hal berkait dengan topik Assikalaibinéng. 

Tapi payah di kami. Ininnawa dan Kampung Buku jadi sasaran para penagih pembaca. Permintaan mereka datang dalam banyak cara, offline maupun online. Ada yang bertanya dan datang langsung, telepon, apalagi email. Tempat mereka kadang membuat heran. Ada yang di Sulawesi Selatan, Papua, Sumatra, dan negeri jiran macam Singapura dan Malaysia (kalangan keturunan Bugis dan Makassar yang beranak pinak di sana). 


SINGKAT cerita, buku itu kini terbit lagi. Cetakan kelima, edisi revisi. Perubahan itu dikarenan penambahan isi dalam versi Assikalaibineng cetakan pertama hingga keempat. Buku ini juga berisi lontara kutika.

Lontara kutika adalah konsep astrologi masyarakat Bugis yang dianggap sebagai bentuk pengetahuan yang mengaitkan persepsi waktu, seksualitas, kualitas hidup, dan segi kehidupan lain manusia. Catatan masa lampau semacam ini menjadi astrologi lokal yang dipedomani dalam kegiatan masyarakat seperti membangun rumah, penentuan pesta perkawinan, merantau, berdagang, bertemu orang penting, sampai aktivitas pertanian dan kelautan.[]

Cek detail bukunya di Goodreads!

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP