Rabu, Mei 27, 2015

Dari "Pattado Jonga" menjadi "Pattingalloang"

BERAWAL DARI kesannya pada kanak-kanak selama sebuah proyek perjalanan berkuda melintas pulau tahun 2014 lalu, Nirwan Ahmad Arsuka kemudian berniat membangun perpustakaan yang berkeliling menyebarkan buku untuk anak-anak yang berada di tempat-tempat yang sulit dijangkau.

Nirwan Arsuka (baju putih) dalam obrolan soal Perahu Pustaka, pertengahan Mei 2015. (Foto: Iqbal Lubis)
Maka lahirlah: Kuda Pustaka. Bentuknya: dua kotak di pinggang seekor kuda yang berkeliling membawa buku bacaan untuk anak-anak di kawasan Gunung Slamet. Kini inisiatif itu memasuki rupa kedua: perpustakaan di atas perahu.

Inisiatif itu lalu dinamai Perahu Pustaka. Ia mengontak tiga temannya yang dianggap bisa terlibat di rencana ini: Ridwan Alimuddin, seorang peneliti kelautan dan bermukim di Mandar; Kamaruddin Azis (Daeng Nuntung), sarjana ilmu kelautan dan mantan Ketua ISLA (Ikatan Sarjana Kelautan Unhas), dan saya yang biasa sibuk di Penerbit Ininnawa, Makassar. Tapi dua orang pertama cukup sibuk. Hanya saya, kata Nirwan, yang sempat membalas pesan-pesannya yang dikirim.

Begitu Ridwan dan Daeng Nuntung leluasa, rencana pun dipancang. Percakapan lewat Whatsapp dan saling sapa via Twitter munculkan pertanyaan seperti “mau dilayarkan ke mana?”.

“Kita sepakat ketika itu memilih perahu yang bisa mengangkut buku banyak dan stabil di perairan. Satu lagi, harus murah karena ini tidak didanai oleh siapa-siapa,” ujar Nirwan, dalam obrolan pertengahan pekan ketiga Mei 2015.

Lalu bincangan itu membulatkan rencana memakai perahu ba’go, jenis kargo tradisional pelaut jazirah selatan Sulawesi. Berdasarkan penelusuran sejarah transportasi di Selat Sulawesi yang dilakukan Ridwan, model perahu ini biasa dipakai mengangkut beras sampai ke seberang pulau sekitar Selat Sulawesi.

Ridwan lantas menyerahkan dana titipan Nirwan kepada seorang pembuat perahu di Lapeo, Mandar, untuk mulai rencana ini. Lalu dibangunlah sebuah ba’go dengan dimensi 10 meter dan bagian tengah 2,5 meter.

Pembuatannya dikebut sebulanan saja. Harus jadi begitu matahari terakhir bulan Mei terbenam. Karena perahu yang dinamai “Pattingalloang”, nama pendek I Mangngadaccinna Daeng I Ba’le’ Sultan Mahmud Karaeng Pattingalloang, perdana menteri Kerajaan Gowa yang tersohor karena kegilaannya pada ilmu pengetahuan, mesti berlayar dan ingin memeriahkan MIWF, festival internasional penulis yang digelar lima tahun terakhir di Makassar.

Menurut Nirwan, perahu ba’go memang sudah terganti oleh yang model yang lebih modern. Tapi celah yang bisa diambil adalah upaya ini sebagai cara menghidupkan jenis perahu yang sudah lama tidak dipakai, termasuk tahap-tahap upacara selama pembangunan perahu. (Keterangan Nirwan ini mengingat saya pada upaya ‘rekayasa’ dalam sandeq race yang pernah disampaikan Horst Liebner dan Ridwan Alimuddin. Keduanya menyebut, gagasan pacu sandeq juga sebagai cara menggenjot evolusi/revolusi perahu nelayan Mandar itu supaya makin cepat. Para peserta, kata Horst, akan berpikir keras bagaimana agar mereka bisa menang dalam lomba itu dengan mengubah bagian tertentu perahu.)

“Dengan upaya ini sebenarnya kita bukan cuma sebar pustaka, tapi membangun kebudayaan maritim. Perahu ini membuka kemungkinan bagi penulis untuk ikut berlayar dalam waktu tertentu. Dengan begitu, teks-teks tentang laut akan ditulis dan diproduksi. Dengan begitu khasanah sastra kita bisa bertambah dengan sudut pandang orang laut. Ini investasi kultural,” tegas Nirwan.

Tak banyak teks-teks sastra yang berbau laut. Di khasanah sastra dunia, dua yang mengemuka dari itu adalah Moby Dick karya Herman Melville dan The Old Man and The Sea karya Ernest Hemingway. Di Indonesia sendiri, Nirwan menyebut masih sebatas pandangan “orang darat“ tentang “laut”. Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer, sebut Nirwan, menunjukkan perspektif itu. “Dari Asia, jangan-jangan memang sastra laut kurang?”

Ini bisa juga terbaca dari anggapan orang Indonesia bahwa sungai dan laut—sebagai elemen tak terpisahkan dari kebudayaan maritim yang didengungkan selama ini—masih  dipandang sebagai sumber bencana, seperti banjir dan tsunami.

Ibrahim, seorang kawan yang ikut menyimak obrolan malam itu, membenarkan pernyataan Nirwan. Ia menyebutkan bahwa selama ini ketika berbicara tentang perairan, yang muncul justru sudut pandang eksploitasi ekonomi. “Selama ini, hampir semua kasus di pesisir warga kalah. Itu mungkin karena tidak ada teks kehidupan tentang perairan. Padahal, konon, laut bagi suku Bajo juga menjadi ranah penting berkaitan reproduksi (hubungan suami-istri),” kata Ibrahim, yang sehari-harinya sebagai pengacara.

PERAHU PUSTAKA adalah rupa kedua setelah inisiatif pertama Kuda Pustaka. Cikal bakal Kuda Pustaka berawal dari perjalanan berkuda Nirwan dari Ujung Kulon (Banten) menuju Bali. Tapi lantaran alasan tertentu, ekspedisi ini hanya sampai 10 hari. Akan ia lanjutkan lagi di paruh akhir tahun 2015.

Dalam perjalanannya, Nirwan melihat ‘anak-anak’ merupakan hal mencolok dari beberapa soal yang mencuri perhatiannya. Anak-anaklah yang banyak menjawab pertanyaan-pertanyaannya selama perjalanan. Orang dewasa justru memasang tampang curiga. Mungkin, kata Nirwan, mereka baru melihat ada yang berkuda menempuh perjalanan jauh.

Ia lantas bertemu Ridwan Sururi, tukang ojek kuda di kawasan wisata daerah Gunung Slamet, Jawa Tengah. Ridwan inilah kemudian menggerakkan Kuda Pustaka hingga sekarang. Sejak Januari hingga awal Mei, Kuda Pustaka baru punya seekor. Tapi pertengahan Mei, Ridwan sudah berkeliling memakai dua kuda, satu bawa buku satunya sebagai tunggangan.

Ketika BBC dan Getty Image menurunkan laporan tentang Kuda Pustaka, respons media Indonesia baru bermunculan. Tanggapan publik juga bertambah.

Apakah ini sebentuk pandangan eksotisme dari media-media luar? “Saya kira iya. Itu tidak bisa kita hindari. Sebenarnya lebih bagus kalau dia kirim buku ketimbang dibicarakan begitu. Tapi itu setidaknya siapa tahu ada yang terinspirasi juga melihat itu. Dan ini juga bukanlah pertama kali di dunia. Ada beberapa praktik seperti buku yang dibawa keledai di satu negara di Amerika Latin.”

Inisiatif seperti ini faktornya bukan soal dana. Andai, kata Nirwan, ada dana banyak dan bisa membeli semacam pinisi, itu bukanlah jalan terbaik. Soalnya adalah biaya pemeliharaan yang tinggi. Tiap tahun harus masuk dok dan biaya sewa doknya tidak murah.

Yang terpenting juga inisiatif ini ada yang menjaga. Ridwan berikutnya, Ridwan Alimuddin, akan berlabuh di pesisir sekitar Mandar dan daerah lain di sepanjang Selat Makassar. Belakangan, dalam satu pertemuan saya dengan Ridwan, dia berencana membeli bendi keperluan serupa.

PERHATIAN NIRWAN beberapa tahun terakhir teralih ke kuda. Awalnya, sepengetahuan saya dalam dua tahun terakhir, lelaki kelahiran Barru (Sulawesi Selatan) ini menyigi ekspresi lukisan Mattado Jonga (Bugis: Berburu Rusa) yang terpajang di ruang-ruang tamu keluarga tertentu di Makassar dan daerah lain di Sulawesi Selatan. Lukisan kanvas itu memperlihatkan beberapa pemburu berkuda mengejar rusa dengan jerat di tangan.

Entah tahun berapa terakhir saya dapati lukisan semacam itu. Rusa pun kini hanya bisa kita temui di penangkaran. Tapi wajah-wajah lelaki pattado jonga (pemburu rusa) bersalin rupa menjadi lebih hidup dan nyata di depan mata saya.

Paras lukisan itu kini berubah menjadi Nirwan yang menggandeng teman-temannya mewujudkan harapan menyebarkan buku. Ia menjelma sebagai Ridwan Sururi yang menuntun kuda berpelana disarati kotak buku di kiri kanan pinggangnya. Juga, saya bayangkan, di satu siang menjelang sore, Ridwan Alimuddin duduk beristirahat di pantai yang diteduhi pohon rindang, tempat ia menambatkan perahu ”Pattingaloang” yang diayun ombak kiri-kanan, dan seekor sayyang patteke (kuda pembawa beban) beristirahat usai berkeliling menarik bendi yang dipenuhi lemari-lemari kecil berisi buku.[]

Senin, Mei 11, 2015

Siapa Media Kecil, Yang Mana Media Besar?

Maman Suherman (Foto: @lelakibugis)
Saya hanya kenal sosok plontos Maman Suherman lewat televisi tiga empat tahun silam. Lalu saya melihat dia langsung di sebuah sesi diskusi MWIF 2013. Maman ketika itu bicara tentang jurnalisme, dunia yang digelutinya sejak lama. Tapi lantaran datang terlambat dan terhalang banyak orang karena berdiri di belakang, saya tak bisa menyimak penuh apa saja yang dijelaskannya ketika itu. Maman dalam diskusi itu menjelasan bahwa dunia jurnalistik mutakhir tidak lagi berpegang hanya pada panduan 5 W (what, who, where, when, dan why) tambah 1 H (how).


Saya kemudian memintanya dalam satu kesempatan bertemu pada pekan kedua Mei 2015 untuk menjelaskan ulang apa yang dibeberkannya kala itu. Maman menyebut, rumus jurnalistik mutakhir perlu juga berpegang pada 5 R (read, research, reliable, reflecting, dan [w]rite). Satu, membaca (read) kita lakukan untuk menghindari terjadinya kebiasaan menyalin dan menempel (copy-paste), hal yang awam terjadi karena ‘godaan’ bahan-bahan tersedia sangat melimpah di dunia maya.

Saya kemudian teringat keluhan seorang kawan yang menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi di Makassar. Ia demikian prihatin dengan tugas menulis esai yang diberikannya pada mahasiswa dan kemudian, beberapa di antara mereka, menyelesaikan tugas kuliah itu dengan asal comot bahan dari berbagai situs. “Mereka anggap kita bodoh kayaknya dan mereka lupa bahwa tulisan-tulisan mereka itu bisa dilacak di Google,” kata Si Dosen.

Kedua, sumber-sumber informasi yang nyaris seragam dan demikian banyak menuntut para pegiat jurnalistik untuk melakukan riset (research). Bagaimana pun, keunggulan sebuah tulisan terletak pada isinya (content).

Maman lantas mencontohkan bagaimana dahsyatnya JK. Rowling yang menggunakan nama alias Robert Galbraith dalam menyusun dua karya terbarunya, The Cuckoo’s Calling (Dekut Burung Kukuk) dan The Silkworm (Ulat Sutra). Menurutnya, karya fiksi Rowling itu sangat rinci menggambarkan pelacakan Cormoran Strike, seorang detektif partikelir, kala mengungkap kasus pembunuhan. Maman yang sewaktu mahasiswa menuntut ilmu di Jurusan Kriminolog UI terkagum karena kadar keilmiahan dalam karya fiksi tersebut.

Ketiga, informasi yang disebar harus teruji kebenarannya (reliable). Lelaki yang berperan jadi notulen di seri komedi Indonesia Lawak Klub (ILK) ini mengambil contoh bagaimana adegan-adegan sinetron sekarang tak mencerminkan yang sebenarnya. Ia memberi misal bila seseorang yang matanya selesai dioperasi, penggambarannya masih menggunakan balutan yang melilit di kepala dan perlu berhari-hari. “Referensinya masih film zaman dulu (seperti adegan film Rhoma Irama “Cinta Segitiga”). Padahal sekarang buka perbannya bisa cuma sehari,” kata pria berkacamata bingkai tebal ini.

Keempat, bagaimana informasi yang kita sampaikan menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Ia sebutkan contoh ketika di zaman Orde Baru, jurnalis mengutip ucapan Soeharto dengan menuliskan ujaran khasnya “semangkin (semakin)” atau “gera’an (gerakan)” dalam kalimat kutipan langsung—sebagai cara menggambarkan kekhasan pengucapan seseorang. “Kalau bukan kalimat langsung, kita baru bisa menulis ‘semakin’ atau ‘gerakan’,” kata lelaki berkepala plontos ini. Terakhir, sambungnya, yang kelima adalah (w)rite atau menulis kebenaran.

Sebenarnya, menurut Maman, yang dia bicarakan ini merupakan respons terhadap revolusi di bidang telekomunikasi. Media-media di Indonesia kini mengalami konvergensi. Media cetak, sebagai contoh, dituntut mengikuti perkembangan teknologi yang pesat itu dengan ‘membelah diri’. Awalnya hanya surat kabar, kini, sepertinya, mereka mewajibkan diri pula melakukan diversifikasi usaha dengan membangun stasiun televisi dan situs pemberitaan. Kalau tidak, mereka bakal menemui nasib serupa dengan Chicago Tribune dan Los Angeles Times yang dinyatakan bangkrut pada 2008 karena merosotnya pembaca dan terjun bebasnya jumlah iklan (Kompas, 2008).

Seakan-akan, kecepatan adalah segala-galanya. Sementara pula, terang Maman, kode etik bentuk-bentuk penyebaran informasi itu masing-masing berbeda. Ia memberi gambaran, bagaimana bila wartawan cetak kemudian harus bertugas di televisi atau situs, yang masing-masingnya punya kode etik sendiri, menerapkan kode etik koran ke televisi atau situs? Disebutnya bahwa berita situs boleh mencantumkan “... sampai berita ini diturunkan, narasumber belum dapat dihubungi”. Sementara dalam pengalaman saya di sebuah media cetak, hal ini justru terlarang. Berita tak boleh terpublikasi tanpa konfirmasi.

Dalam keadaan seperti ini, Maman menyebut, dibutuhkan penyebaran informasi langsung dari warga. Mereka, dengan kekuatan subjetivitasnya, mengabarkan dengan jujur apa yang mereka alami sendiri, baik melalui media sosial maupun dari situs. Hal yang lazim kemudian kita dapati bersama berita-berita televisi justru muncul berawal dari tagar (tanda pagar, kaca kunci tertentu) media sosial.
Di tengah hiruk-pikuk berita dan kabar tentang hal-hal “besar” seperti dinamika dunia politik, fenomena “biasa” dan “kecil” yang ditulis sendiri oleh warga bukan semata sebagai bahan informasi yang kemudian diolah untuk media massa, melainkan pula menjadi asupan dan bahan penting bagi dunia ilmu pengetahuan.

Dalam pandangan Dias Pradadimara, dosen yang sehari-hari menjadi staf pengajar di Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Hasanuddin Unhas, dengan mengambil contoh Makassar Nol Kilometer (DotCom): Jurnalisme Plat Kuning (Tanahindie, 2014), ia sebutkan bahwa informasi-informasi dan penjelasan dari para warga memiliki kesan akademik.

Yang kita tahu, kata Dias, buku akademik berfokus pada hal-hal “penting” saja seperti politik dan isu besar lainnya. Ia menyebut, tulisan-tulisan dalam buku ini memiliki kesan sebagai semacam perayaan hidup warga Makassar. Di dalamnya beberapa tulisan menceritakan soal pasar dan warung—tempat yang selama ini menjadi titik yang berkaitan penting dengan hidup warga kota sehari-hari.

Dias menemukan pula di dalam buku ini semangat nostalgia, yang disebutnya sebagai “penyakit manusia modern” karena membanding-bandingkan keadaan yang sudah berubah. “Namun ada risikonya. Kita bisa menjadi tidak kritis. Bagaimana pun, nostalgia bergantung pada catatan dan kenangan. Tapi kita harus ‘memaafkannya’ karena membangkitkan kita pada masa lalu. Untuk memperoleh ini kita harus bertanya pada orang-orang.”

Bagi saya, pembacaan Dias Pradadimara tentang bagaimana daya jelajah tulisan-tulisan yang ada di dalam buku ini mencapai dunia akademik merupakan sesuatu yang diharapkan terjadi dan menjadi tujuan sejak pendirian awal situs http://makassarnolkm.com.

Sudah menjadi anggapan umum bahwa dunia akademik dan kehidupan warga biasa merupakan dua titik yang berjarak—bila tak ingin dikatakan terpisah. Masyarakat kampus asyik sendiri menekuni dunia teori dan hal ideal, sedang warga menggeluti realitas yang seringnya tidak banyak tercantum dalam buku-buku teks.

Hal ini diperparah pula anggapan umum bahwa dunia kampus kini cenderung hanya menjadi konsumen hasil dari reproduksi pengetahuan yang dihasilkan oleh dunia luar kampus; bukan produsen, sebagaimana yang ideal terjadi di perguruan tinggi. Justru, kelompok/komunitas yang mengasup kalangan akademisi dengan hasil-hasil penelitian dan laporan mereka. Titik inilah salah satu dari sekian sumber reportase, laporan, atau pelajaran yang dapat disebarkan ke orang banyak di luar mereka.

Berkaitan dengan itu, Maman beberkan bahwa memang demikianlah kenyataan yang sekarang berlaku di masa postmodernisme, paham yang menolak kebenaran tunggal. Dengan demikian, definisi dan dikotomi media kecil dan media besar perlu ditilik ulang.

Sebuah media, kendati dengan modal besar, bisa kita anggap 'media kecil’ kalau isi informasinya tidak mengandung kebenaran. Sebaliknya juga, media berskala kecil, dengan berita yang mengandung unsur kebenaran bisa kita sebut sebagai ‘media besar’. Karena, tegas Maman, “Isi (content) adalah segala-galanya!”[]


  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP