Minggu, Oktober 28, 2012

Sosiologi Desa, Buku Baru Ininnawa Oktober 2012

Revolusi sebagai perubahan sosial tidaklah selalu melibatkan konflik kelas, seperti ketika perubahan itu meniscayakan sebuah rezim ditumbangkan atau ketika kelompok borjuis ditumbangkan. Revolusi sebagai perubahan sosial dapat berlangsung senyap dan bukan selalu karena konflik kelas atau gerakan sosial.

Buku ini membahas jagad desa Indonesia berikut dinamikanya. Desa menjadi entitas yang eksis dalam paradoks independensi. Karena terkait kenyataan akademik bahwa desa selama ini lebih banyak ditulis dalam ontologinya sebagai statika.
Buku ini dengan sadar memilih fokus pada ontologi desa sebagai dinamika. Dinamika itu dilihat pada periode berlangsungnya berbagai revolusi senyap di Indonesia. Karena itu, buku ini menganggap bahwa pelajaran darinya bisa menjadi alasan untuk berharap bagi perkembangan desa di masa depan.[]

Senin, Oktober 22, 2012

Sumpah “Bibir Pecah” Arung Palakka di Buton

Gua tempat Arung Palakka bersembunyi. [foto: Anwar Jimpe Rachman]
Hingga akhir 1990-an, kata teman saya, dalam permainan kanak-kanak di Buton, terdapat istilah “sumpah pogoso” atau sumpah bibir pecah yang digunakan untuk menguji kebohongan teman sepermainan. Ternyata, sumpah itu berasal dari cerita pelarian Arung Palakka di Kesultanan Buton pada abad ke-17.

Kolera dan tipus mungkin sudah biasa kita dengar legenda dan kisah keganasannya bila sudah mewabah. Dalam cerita sejarah, pendiri kota Batavia, Jan Pieterzoon Coen, disebut-sebut mati pada September 1629 dikarenakan kolera. Sementara dalam cerita fiksi, wabah tipus dijadikan latar novel Frankenstein. Tapi pernahkah anda membayangkan kalau sariawan atau bibir pecah-pecah melanda di satu wilayah?

Mendengarnya sepintas memang terasa lucu. Untungnya juga malapetaka itu tidak pernah terjadi. Tapi seandainya saja Arung Palakka ketika lari ke Buton tidak bersembunyi di dalam gua, maka, bisa jadi, seluruh wilayah Kesultanan Buton ketika itu dilanda “pogoso” atau bibir pecah-pecah. Siapa yang tahu!

Ini lantaran sumpah yang diucapkan Sultan Buton ketika serombongan pasukan pencari buronan dari Kerajaan Gowa datang menghadap ke La Awu Sultan Malik Surullah karena mendengar kabar kalau Raja Bugis itu lari dan mencari suaka di wilayah kesultanan yang dipimpinnya.

“Saya tidak bohong. Tapi kalau benar Arung Palakka ada di atas tanah Buton, saya bersumpah seluruh rakyat Buton akan terkena pogoso? begitulah kira-kira rekaan sumpah yang diucapkan sultan yang memerintah Buton mulai 1654-1664 kepada rombongan pasukan itu.

Buton memang tidak termakan sumpah. Soalnya Arung Palakka yang bergelar “Petta Melampee Gemme’na” (Pangeran yang Berambut Panjang) itu bersembunyi di sebuah gua yang terletak di dinding tebing timur Benteng Wolio. Bukannya di 'atas' tanah Buton!

Hingga kini, gua persembunyian Arung Palakka itu bisa terlihat jelas. Jalanan setapak di bibir tebing curam di sekitarnya sudah disemen untuk memudahkan orang mencapai dan melihat gua yang ada dalam perlindungan benteng seluas 22,8 hektar dan disebut-sebut sebagai benteng terluas di dunia itu.

Di Buton, Arung Palakka dikenal dengan nama Latoondu. Bisa jadi ini adalah nama dari pelisanan yang dilakukan “lidah lokal” dari dua kata “La” (awalan untuk nama laki-laki di masyarakat Buton) dan “Tounru” (Sang Penakluk, salah satu gelar Arung Palakka). Karenanya, gua persembunyian bangsawan Bone itu dinamai Liana Latoondu.

Leonard Y Andaya dalam bukunya Warisan Arung Palakka menyebut, menurut sumber Belanda (Speelman) dan catatan harian Raja-raja Gowa dan Tallo, peristiwa ini terjadi sekitar akhir tahun 1660 dan awal 1661, tatkala Raja Bone-Soppeng itu melarikan diri ke Butung atau Buton, membawa keluarga, dan para pengikutnya.

Perlindungan yang diberikan Sultan Buton ternyata terus dikenang dan menjadi dendam tersendiri bagi Gowa. Pada 1666, Sultan Hasanuddin mengirim armada berkekuatan 20.000 personil untuk menghantam Buton karena alasan itu.

Jejak lainnya yang berkaitan dengan cerita pelarian Arung Palakka juga terlihat jelas dari Benteng Wolio yang mengelilingi Keraton Kesultanan Buton. Bila kita melepas pandang ke Teluk Baubau, terdapat pulau kecil yang diapit Pulau Buton dan Pulau Muna. Nama pulau itu adalah Pulau Makassar, yang letaknya hanya sekitar 10 menit menggunakan perahu bermesin dari Baubau.

Ada beberapa versi untuk menjelaskan perihal penamaan “Makassar” untuk pulau berbentuk lingkaran tersebut. Pertama, karena di sanalah tempat para hulubalang dan pendamping Arung Palakka diberi tempat bermukim oleh Sultan Buton karena enggan lagi kembali ke tanah Bugis.

Versi lainnya mengatakan, pulau seluas 104 kilometer persegi itu diberi nama serupa ibukota Sulawesi Selatan itu karena di sanalah para pasukan Sultan Hasanuddin diberi wilayah permukiman. Sepasukan prajurit itu enggan pulang ke Gowa lantaran gagal menemukan buronan nomor satu Gowa, Arung Palakka. Apalagi jika mereka gagal, berarti hukuman menanti dari raja.

Sementara klaim lain menyebut, pulau itu dulunya bernama Liwuto; yang dalam bahasa Buton juga berarti pulau. Pulau nelayan itu dulunya adalah tempat menawan 5.500 pasukan Bontomarannu yang ditangkap oleh pasukan Kompeni-Arung Palakka yang didatangkan dari Batavia ketika Gowa menyerang Buton pada 1666.

Sumpah “pogoso” sendiri, setidaknya hingga tahun 1990-an, masih dipakai oleh kanak-kanak setempat bilamana mereka hendak menguji bohong atau tidaknya kawan sepermainannya.[]

(Saya menyusun tulisan ini pada 2006-2007, buah tangan perjalanan ke Buton dan tersiar pertama kali di website Panyingkul).

Rabu, Oktober 10, 2012

Di Rongi, Jagung Awet Sampai 18 Tahun!

Rongi hanyalah nama sebuah desa di Sulawesi Tenggara, sekitar 30 kilometer dari Kota Baubau. Namun membicarakan desa ini, orang akan selalu terkenang cerita-cerita tentang desa yang mencengangkan ini. Kebiasaan turun-temurun yang ada di desa ini bahkan bisa menjadi pelajaran penting bagi Indonesia yang bertanah paling subur di dunia, tapi tetap saja menjadi pengimpor beras.

Karena kemarau yang panjang, kelaparan hebat pernah melanda seluruh wilayah kesultanan Buton. Seluruh daerah di pulau penghasil aspal ini kelaparan kecuali Rongi. Warga dari desa lain berdatangan ke desa itu untuk menukar barang yang mereka bawa dengan makanan simpanan warga Rongi. Karena kisah yang terus dikenang itu pulalah pemerintah setempat pernah mengganti namanya menjadi Desa Sandang Pangan. Tapi Rongi tetap saja jadi nama yang lebih populer sampai sekarang.

Kemampuan warga Rongi bertahan itu ternyata karena masyarakatnya mengawetkan pasokan makanan, terutama jagung sebagai makanan pokok, dengan cara “mengasapi”. Pasokan makanan yang ada di dalam gudang yang berada di langit-langit rumah mereka setiap hari terkena asap dari dapur mereka yang terletak tepat di bawah gudang itu.

“Jadi rupanya, nenek moyang kita dulu itu sengaja menaruh dapur mereka agak di tengah rumah dengan tujuan mengasapi persediaan makanan mereka yang ada di atas,” kata salah seorang tokoh masyarakat setempat, Haruddin.

Memang dengan cara mengasapi persediaan makanan itu akan menghitami biji jagung yang ditaruh di lumbung itu. Tapi jangan ditanya soal daya tahan perbekalan. Ada biji jagung yang masih bisa dimasak dan dimakan dengan rasa tidak berubah meski telah ditaruh di gudang selama 18 tahun! “Biji jagung itu saya simpan ketika anak saya yang tertua belum lahir. Nah sekarang dia sudah tamat SMA,” seru seorang warga.

Selain menaruh jagung di lumbung yang ada di langit-langit rumah, warga desa itu juga menyimpan persediaan padi mereka di bawah kolong rumahnya. Padi yang masih dalam bentuk gabah, masih berkulit tahan terhadap kutu yang biasa menyerang beras. Ia juga tahan terhadap cuaca dan binatang pengganggu karena ditutup kain rapat-rapat.

Padi yang mereka kembangkan adalah padi pegunungan. Mereka tidak membawa pulang padi itu dalam karung seperti yang terlihat di persawahan Sulawesi Selatan. Warga Rongi membawa pulang padi panenan masih bersama batang-batangnya dan diikat dalam ukuran tertentu. Seikat padi itu biasanya kalau sudah dipisahkan dari batang dan kulitnya akan menjadi beras sekitar 3 kilogram.

Untuk memisahkan kulit gabah, warga pun masih mengandalkan alu dan lesung. “Lain rasanya kalau beras yang ditumbuk dengan beras penggilingan (padi). Beras dari penggilingan, kalau dipisah kulitnya, kulit-kulit arinya juga ikut terpisah. Padahal itu yang bikin beras itu enak dan bervitamin,” kata Sahuddin (53).

Padi sebenarnya belakangan baru dikenal, ditanam, dan kini menjadi makanan pokok warga Rongi. Dulu warga hanya mengenal jagung. Bahkan desa yang berada di ketinggian 300-an meter dari permukaan laut itu menjadi salah satu penghasil jagung di Pulau Buton. Tapi jagung hasil panen itu, mereka simpan untuk keperluan makan sehari-hari saja. Jadi penghasilan warga desa yang rerata pekebun itu didapat dari panenan tembakau, kacang tanah, atau kemiri yang juga banyak ditanam di ladang-ladang mereka.

Selain stok makanan berlimpah tadi, setiap rumah di Rongi juga memiliki banyak persediaan kayu bakar yang disimpan dan disusun di kolong rumah. Pengumpulan kayu bakar yang dilakukan oleh kaum ibu-ibu itu biasanya di musim kemarau untuk mengantisipasi persediaan kayu bakar bila musim hujan tiba.

Selain dalam hal persediaan makanan, warga desa yang berjumlah sekitar 1.600 jiwa itu pun mengatur diri mereka dalam menjaga persediaan air untuk desa itu. Sistem Kaombo (hutan larangan) yang dipegang teguh warga desa mengharuskan warga tidak menebang pohon yang berada di radius 300 meter di sekitar daerah aliran sungai (DAS).

Jarak larangan tebang di DAS sekitar ini sendiri lebih jauh bila dibanding dengan SK Menteri Kehutanan No353/Kpts-II/1986 tentang Penetapan Radius/Jarak Larangan Penebangan Pohon dari Mata Air Tepi Jurang, Waduk/Danau, Sungai dan Anak Sungai dalam Kawasan Hutan, Hutan Cadangan dan Hutan Lainnya. Dalam pasal 2 butir 2 surat keputusan itu, pemerintah melarang siapa pun menebang pohon yang berada di daerah kiri kanan sungai sekurang-kurangnya selebar 100 meter.

Manfaat sistem pengelolaan air itu dirasakan warga Rongi. Mereka tidak pernah kesulitan air bersih. Mata air yang berada di lereng gunung sekitar desa tak pernah kering meski musim kemarau melanda. Bahkan kini air itu bisa mengalir lancar hingga ke rumah-rumah yang ada di Rongi karena bantuan mesin pompa dari sebuah lembaga asing.
***
Untuk bisa ke Rongi, saya harus kejar-kejaran dengan bus yang akan berangkat ke sana. maklumlah, angkutan yang hendak ke sana masih jarang; sekali sehari, pada sekitar pukul 10.00 Wita. Saya sebenarnya sudah terlambat kalau berdasarkan jadwal berangkat angkutan tersebut. Untung bus itu berhenti di depan sebuah toko bahan bangunan untuk mengambil semen pesanan. Tapi karena angkutan jarang ke desa itu, bus kejaran saya itu sudah penuh. Kursi penuh dan lorong antar kursi pun sudah disesaki barang para penumpang. Akhirnya saya harus rela berdiri di dekat pintu belakang.

Awalnya saya santai saja. Saya pikir, nikmati saja perjalanannya, toh cuma 30-an kilometer. Kalau bus lari dengan kecepatan 70-an km per jam, paling cuma sekitar setengah jam sudah sampai. Tapi nyatanya, perjalanan tidak semulus yang saya bayangkan. Perbaikan jalan di beberapa titik, berkelok dan menanjak di lereng gunung-bukit, dan jalan berlubang di sini sana menjadikan gerakan oto ini sedikit lambat. Satu setengah jam kemudian saya baru tiba di Rongi.

Jalan menuju Rongi memang sedang diperbaiki. Beberapa lereng bukit-gunung bahkan dikikis dan diperluas; tampaknya untuk mengurangi risiko kecelakaan. Tapi khusus jalan yang membelah Desa Rongi menuju desa tetangganya, Gunung Sejuk, kondisinya sudah berlubang dan rusak. Menurut seorang warga, terakhir kali, jalan tersebut diaspal pada sekitar tahun 1971. Sebuah cerita menyedihkan dari sebuah desa yang letaknya justru di pulau penghasil aspal!

Di Rongi pun terdapat benteng yang mengelilingi permukiman pertama Rongi, yang dibangun di sekitaran zaman kesultanan Buton dulu, untuk melindungi warganya dari serbuan tentara Tobelo. Benteng itu seakan menjadi lambang dan penanda bahwa Rongi sejak dulu dikenal sebagai benteng pertahanan maupun salah satu benteng sandang pangan kesultanan Buton yang sudah melegenda.[]

Catatan: Tulisan ini tulisan 2006 lalu. Pernah tersiar di sebuah situs pekabaran warga. Saya rupanya tidak pernah menyimpannya di blog ini.

Jumat, Oktober 05, 2012

Dengan Dua Sepatu Kiri, Enrique Mencari Ibunya

Sumber gambar: books.google,co.id

AMERIKA Serikat (AS) adalah tambatan mimpi-mimpi orang-orang dari Amerika Latin. Nyaris alasannya tunggal: kemiskinan yang langgeng. Mereka datang lantaran mengidamkan kehidupan yang lebih baik ketimbang nasib yang mereka jalani sepanjang hari di negara asalnya.

Kedatangan gelombang pertama, di tahun 1960-an dan 1970-an, ibu-ibu tunggal dari segelintir negara di Karibia—West Indies, Jamaika, Republik Dominika—pergi ke New York City, New England, dan Florida untuk bekerja sebagai pengasuh anak dan di panti-panti asuhan. Gelombang kedua, pada 1980-an, perempuan-perempuan Amerika Tengah berjibun menuju pinggiran Washington DC, Houston, dan Los Angeles, tempat pekerja domestik swasta yang menyebabkan jumlah mereka meningkat dua kali lipat.

Namun buku Enrique’s Journey (EJ) ini tidak akan membahas lebar mengenai soal itu. Sonia Nazario menulis EJ untuk memapar tragedi seputar gelombang lanjutan yang menyusul mereka yang berangkat pada gelombang kedua. Modus keberangkatan mereka justru digerakkan oleh cinta. Parahnya, gelombang lanjutan yang menuju ke Utara atau el Norte, Amerika Serikat, adalah anak-anak; yang sekadar ingin menjumpai orang-orang terkasih mereka.

PADA 29 Januari 1989, di pinggiran kota Tegucipalga, Honduras, Lourdes (24) mencium Belky, anak perempuannya yang berumur 7 tahun. Tapi Lourdes tak bisa berkata apa ke Enrique. Hanya nasihat “Jangan lupa ke gereja sore ini” yang bisa dia ucapkan pada anaknya yang berumur 5 tahun itu; sebuah petuah yang selalu ia katakan pada bocah pemalu itu. Ia pun keluar dari serambi. Tak pernah kembali.

Lourdes tak tahan lagi dengan kemiskinan yang membelit keluarganya. Mustahil, pikir Lourdes, hanya dengan menyucikan pakaian kotor orang lain di sungai atau menjajakan roti tortilla dan pisang raja dari pintu ke pintu, ia bisa menyekolahkan anaknya hingga tamat. Bahkan membelikan seragam sekolah untuk keduanya anaknya ia sudah tidak mampu. Hanya satu tempat yang menawarkan harapannya: AS. Di televisi, ia melihat kaki langit New York yang menakjubkan, gemerlap lampu Las Vegas, dan kastil ajaib Disneyland.

Sejak kepergian ibunya, Enrique berubah. Ia tumbuh dan dibesarkan oleh nenek dari pihak ayahnya. Namun Enrique, meski sangat mencintai neneknya, tapi selalu sadar bahwa perempuan tua itu bukanlah ibunya. Setiap telepon datang dari ibunya, kalimat yang paling sering keluar dari mulutnya hanya dua:  “Kapan Ibu pulang?” atau “Aku ingin bersama Ibu.”

Lourdes yang tak ingin mematikan harapan anak-anaknya, berjanji pulang pada Natal yang akan datang. Enrique mengingat janji itu. Begitu Natal tiba, Enrique menunggu di depan pintu. Tapi ibunya tak datang. Setiap tahun Lourdes berjanji, setiap tahun pula Enrique kecewa. Bahkan ketika bocah itu berumur 12 tahun, ia masih mengatakan bahwa dia akan pulang.

Suatu hari ia bertanya pada neneknya, bagaimana ibunya sampai ke AS. Bertahun-tahun kemudian, Enrique mengingat jawaban neneknya. “Mungkin,” kata Maria, neneknya,”dia naik kereta.”

Enrique yang putus asa, ingin menyusul. Ibunya memperingatkan bahwa jangan main-main soal itu. Terlalu berbahaya. Bersabarlah, ujar ibunya.

Kemarahan Enrique terlampias di tempat lain. Ia sering diskors di sekolah tersebab kelakuannya. Bahkan di umur 15 tahun, Enrique kecanduan menghirup lem. Saban malam neneknya mencium bau aseton dan mendengar gemeresak plastik. Bahkan ia kemudian jadi drogo atau pecandu narkoba.

Tapi tetap saja bukan itu yang ia cari. Setahun kemudian, di ultahnya yang ke-16, bersama seorang temannya ia berangkat naik kereta ke el Norte untuk mencari ibunya. Ditulisnya nomor telepon ibunya di secarik kertas. Untuk jaga-jaga, ia tulis pula deretan digit tersebut di lapisan dalam ikat pinggangnya. Mungkin karena ia tahu, perjalanannya itu adalah tualang yang penuh tantangan, keras, dan mematikan. Pada 2 Maret 2000, ia memeluk pacarnya, Maria Isabel dan Rosa Amalia, bibinya, lalu melangkah keluar.

ENRIQUE hanyalah salah seorang anak dari 48.000 anak yang melakukan perjalanan dari Honduras ke AS dengan menumpang di atas kereta api yang biasa mereka sebut Al Train de la Muerte atau Kereta Api Maut. Sepanjang perjalanan mereka dihantui oleh ancaman pemerasan, pemukulan, pemerkosaan, bahkan pembunuhan oleh para bandit. Beberapa dari imigran gelap itu melakukan perjalanan berhari-hari tanpa makan. Jika kereta berhenti, mereka akan akan merunduk di dekat rel dan meminum beberapa sesap air dari genangan yang telah tercemar dengan minyak mesin.

Duapuluh dua hari setelah keberangkatannya, Enrique kemudian terlihat di Las Anonas, Oaxaca, Meksiko. Pemuda penyuka breakdance dan sepakbola itu berjalan sempoyong menangis di pinggir rel kereta hanya dengan celana dalam. Tulang keringnya terluka parah, bibir atasnya robek, sisi kiri wajahnya bengkak, matanya merah penuh darah. Beruntung ia diselamatkan oleh warga setempat. Pada warga dusun itu ia mengaku bahwa ia menumpang kereta barang lewat Meksiko mencari ibunya yang sebelas tahun silam meninggalkannya.

Ia tak kapok. Tekad sudah ia bulatkan. Ia bersama ribuan anak lainnya melompat-lompat antara 7 sampai 30 kereta barang untuk melintasi Meksiko. Yang paling beruntung berhasil dalam sebulan. Lainnya, yang berhenti untuk bekerja sepanjang jalan, membutuhkan satu tahun atau lebih. Enrique juga mencoba menyusup masuk ke Negara Paman Sam sampai beberapa kali.

Pertama, ia menempuh kurang lebih seribu mil dari Honduras ke Guatemala lalu Meksiko. Tapi la migra atau petugas menangkapnya di atap kereta dan mengirimnya kembali ke Honduras dengan bus yang mereka namai El Bus de Lagrimas alias Bus Airmata. Armada bus itu berjalan delapan kali sehari, dan setiap tahun mengirim 100.000 imigran yang sedih.

Percobaan kedua, ketiga, dan keempat, Enrique baru menempuh perjalanan singkat dan tertangkap. Usaha yang kelima, ia tertangkap saat berjalan sepanjang rel di utara Mexico City setelah menempuh 838 mil dan hampir sepekan dalam perjalanan. Wajahnya bengkak disengat lebah.

Kali keenam ia nyaris berhasil usai menempuh 1.564 mil. Rio Grande sudah di depan matanya. Untuk pertama kalinya, AS sudah di depan matanya. Enrique tertangkap ketika sedang makan seorang diri sekitar rel dan la migra memergokinya. Ia kemudian dikirim ke pusat penahanan El Corralon, Mexico City. Sehari kemudian dikirim pulang. Percobaan ketujuhnya sendiri kemudian membawanya ke tangan orang-orang Los Anonas yang baik hati. Adapun percobaan kedelapannya, pemuda Enrique menyeberang air sungai Suchieate yang sedada, pembatas Meksiko dan Guatemala. Ia memakai topi NO FEAR; sebuah bualan besar karena ia sama sekali tak bisa berenang.

Meski sempat ditangkap dan dipenjara di Chiapas, ia kemudian berhasil melarikan diri dengan memanjat dinding bertumpu pada sebuah sepeda. Kenekatannya itu sepertinya dipicu keras oleh sebuah rumor yang beredar di kalangan imigran bahwa ada kereta yang lewat pada pukul 10 pagi. Pada hari itu, 24 Maret 2000, Enrique berada di antara anak-anak yang berlari di samping gerbong barang yang bergerak.

Kereta-kereta itu memang disebut Kereta Maut. Ada pula yang menyebutnya El Tren Peregrino, Kereta Penziarah. Tapi Enrique kagum pada keajaiban kereta itu karena kemampuannya untuk mengantarnya pada ibunya. Maka ia menamainya El Caballo de Hierro, Kuda Besi.

Pada 18 Mei, di Neuvo Ladero, dia terjaga dan mendapati sepatu kanannya dicuri seseorang. Sepatu sama pentingnya dengan makanan dan nomor telepon ibunya. Untuk perjalanan kali ini saja, ia telah memakai tujuh pasang sepatu. Dia telah membeli, meminjam, bertukar. Semuanya telah robek dan dicuri. Bahkan ia sempat tertangkap el migra karena tak tahan lari bertelanjang kaki di atas kerikil tajam sekitar rel kereta. Untung ia melihat sebuah sepatu karet terapung di tepi sungai. Sebuah sepatu untuk kaki kiri.

Sepatu itu kemudian ia pakai mengemis dan menawarkan jasa mencuci mobil. Uang itulah yang kelak dipakainya untuk menelepon ibunya. Ia tahu itu bisa berhasil karena seorang pastor membiarkan migran menelepon dari gereja bila migran punya kartu telepon. Dua sepatu itu pula yang jadi menguatkan hati Lourdes, ibunya, untuk mentransfer uang untuk penyedia jasa penyelundup imigran yang meminta lebih ketika si penyelundup telah bersama Enrique.

“Sepatu macam apa yang kamu pakai?” tanya Lourdes.

“Dua sepatu kiri,” kata Enrique. Mendengar itu, ketakutan Lourdes surut. Ini Enrique, katanya dalam hati.

RINTANGAN dalam perjalanan yang dilalui Enrique, sedikit banyak memiliki persamaan dengan segala yang dilalui para tenaga kerja Indonesia yang berjuang di Malaysia dan negara lain. Perlakuan di luar batas kewajaran bukanlah hal baru bagi mereka. Namun rintangan yang dihadapi para migran dari benua Latin itu tampaknya lebih parah. Mereka harus melewati negara seperti Meksiko sebagai ’negara-antara’ yang tidak bersahabat. Kedatangan mereka tentu membebani negara yang bersangkutan. Maka dikerahkanlah la migra—yang kerap menjadi kalangan pemeras baru bagi ribuan orang yang bergerak ke Utara itu. Belum lagi ketika menyeberang mereka menghadapi begitu banyak rintangan dan harus menyusur jalan tikus untuk masuk ke AS.

Bila pun lolos dari sergapan la migra, bandit-bandit sepanjang jalan menanti dan memalak, bahkan tak jarang membunuh dan memerkosa. Yang berbeda, tentu saja, tidak lain aparat negeri sendiri, yang harusnya melindungi mereka ketika pulang, justru jadi kalangan pemeras bagi TKI.

Selesai sampai di situ? Oh tidak. Orang-orang yang senasib Enrique akan menghadapi lagi cibiran dan perlakuan dari penduduk sendiri. Pintu-pintu rumah yang tertutup rapat adalah hal lazim. Sehingga naik kereta melalui Negara Bagian Chiapas telah mengajari Enrique bahwa setiap tangan yang diangkat ke atas mungkin melemparkan batu.

Tapi tidak selamanya perlakuan buruk harus mereka hadapi. Banyak penduduk yang menaruh iba—seperti di Kota Encinar, Fortin de las Flores, Cuichipa, dan Presidio yang terkenal karena kebaikan hatinya. ”Saya membayangkan saat saya mati, saya tidak bisa membawa apapun bersama saya. Jadi, mengapa saya tidak memberi?” kata seorang warga (hal.161).
Kalangan agamawan pun jatuh kasihan melihat perjuangan mereka mencapai destinasinya. Uskup Hipolito Reyes Larios hanyalah salah seorang dari mereka yang peduli pada migran. Satu bagian favoritnya dari Alkitab adalah Matius 25:35. Orang-orang, kata Alkitab, seharusnya menyambut dan menunjukkan kepedulian dan kemurahan hati terhadap orang asing.

SEPANJANG membaca buku setebal kurang lebih 400 halaman ini, saya seperti diteror oleh kejadian yang seperti benar-benar hadir; tumpah di depan saya. Ini adalah buku yang saya baca hanya sepekan! Sebuah rekor bagi diri saya sendiri selama membaca buku dengan ketebalan yang sama. Mungkin lantaran detail dari setiap kejadian-kejadian yang dialami Enrique. Ini ditunjang pula dengan deretan data yang kompleks dan lengkap, membahas masalah itu dari begitu banyak ragam pandangan, termasuk kajian psikologis, perihal bagaimana perkembangan mental anak-anak yang menyusul ini, seperti yang dialami Enrique dengan ibunya selama di AS. Sejumlah pertengkaran mengemuka di antara keduanya.

Dalam sebuah pengantarnya, Andreas Harsono mengutip Roy P Clark dalam pengantarnya di Jurnalisme Sastrawi, bahwa pada narasi, rukun berita 5W 1H dikembangkan lebih luas lagi: who menjadi karakter, what menjadi plot, where menjadi latar, when menjadi kronologi, why menjadi motif, dan how menjadi narasi. EJ menjadi contoh lengkap dan paling mutakhir terkait kutipan guru menulis Poynter Institute Florida itu.

Buku ini awalnya dalam bentuk tulisan bersambung di Los Angeles Times (LAT). Sonia dan seorang fotografer mengikuti perjalanan Enrique, melakukan napak tilas, mewawancarai ratusan narasumber; dari Honduras, Guatemala, Meksiko, hingga Carolina Utara (AS). Bahkan perempuan yang besar di Kansas dan Argentina itu tidak serta merta percaya dengan apa yang dipaparkan oleh si tokoh utama, Enrique tentang perjalanannya. Ia pun mengonfirmasinya dengan melakukan pengamatan terhadap apa saja yang Enrique telah ceritakan lalu mencocokkannya dengan apa yang terjadi di lapangan. Karenanya, tidaklah mengherankan bila masa penulisan EJ butuh lima tahun.

Sonia juga memberi bagian khusus untuk ‘Catatan’, semacam petunjuk bagaimana ia menulis kisah Enrique dan mewawancara narasumber di setiap babnya. Untuk penyebutan nama saja, Sonia mengatakan kalau hal tersebut merupakan keputusan yang ditimbang matang. Sebuah tinjauan Nona Yates, peneliti LAT, menunjukkan bahwa memublikasikan nama lengkap mereka akan membuat Enrique dengan mudah dikenali pihak berwenang.

Karenanya, buku ini sebuah referensi penting bagi penghayat dunia jurnalisme. EJ, buku pemenang feature Pulitzer tahun 2003 lalu, tentu juga memang menjadi jaminan bagi kita untuk menelusuri petualangan Enrique yang sampai pada ibunya dengan dua sepatu kirinya.

Tualang Enrique dalam perjalanan yang brutal itu rupanya hanya membawa satu hal yang selalu disimpannya erat-erat dan seakan hendak berbicara lirih pada kita semua, seperti yang ia katakan pada adik tirinya, Diana, ”Aku punya rahasia yang harus kuceritakan padamu: aku mencintaimu.”[]

Judul | Enrique’s Journey: Petualangan Seorang Anak di Atas Kereta Api Maut demi Bersatu Kembali dengan Ibunya (ISBN: 978-979-1227-05-6)
(Enrique’s Journey: The Story of a Boy’s Dangerous Oddyssey to Reunite with his Mother)
Penulis | Sonia Nazario
Penerbit | Bentang Pustaka, Agustus 2007
Hal | vi + 396 halaman; 20,5 cm

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP