Kamis, Juni 30, 2011

Pohon Asam di Bugis Zaman Dulu

Ma’diawa cempa. Ini kata kerja dalam Bahasa Bugis. Arti harfiahnya 'ke bawah pohon asam'. Saya dapatkan kosakata ini dari naskah cerita La Padoma Ennaja (La Padoma yang Malang).
Ma'diawa cempa adalah istilah Bugis untuk menyabung ayam, berjudi, atau menggoda perempuan. Mengapa pohon asam? 
Rupanya menurut mendiang Muhammad Salim, munsyi Bugis, di bawah pohon asamlah ketiga kegiatan tadi berlangsung di zaman Bugis dulu. Penjelasan Pak Salim ini dijelaskan ulang oleh kawan saya, Ardadi, suatu sore Rabu penghujung Juni 2011.
Pohon asam di masa lalu hanya tumbuh dan tegak di sekitar rumah kalangan bangsawan. Di masa lampau, asamlah yang mungkin menjadi salah satu bumbu dapur utama rumah-rumah orang Bugis--sebelum kemudian mangga berfungsi sama seperti sekarang. 
"Kalau menjelang panen asam, orang-orang, katanya, bahkan mempersiapkan acara khusus sebelum memanen," kata Ardadi mengutip penjelasan Pak Salim.
Gelaran acara itu lalu mengundang orang-orang berkumpul dan bergaul. Kaum laki-laki menyabung ayam sampai berjudi. Sedang perempuan datang di situ mengumpul dan mengupas buah asam sebagai bumbu utama dapur mereka. 


Tentang pohon asam di Makassar bisa Anda baca di sini!

Kamis, Juni 02, 2011

Segera Terbit! Makassar Nol Kilometer




MAKASSAR NOL KILOMETER
Editor: Anwar J. Rachman, M. Aan Mansyur, Nurhady Sirimorok
Penerbit: Ininnawa-Tanahindie
Juni 2011 (edisi revsi)
273 halaman
"Buku ini telah memberikan sumbangan yang amat penting, setidaknya sebagai 'pembuka pintu' bagi para akademisi dan pemerhati kehidupan perkotaan untuk menyelam lebih dalam, dan mengungkapkan realitas yang tersembunyi di balik berbagai gejala sosial yang unik dan khas di Kota Makassar." (Yahya, Dosen Antropologi Unhas)
"Kumpulan tulisan Makassar Nol Kilometer ini juga tampak ingin memulung dan dan menyelamatkan sejumlah hal yang berbau Makassar, yang kini mulai terserak diabaikan oleh arus perubahan jaman... juga mencoba memulung beberapa runtuhan Makassar dan, mungkin tanpa niat memberi tafsir, berhasil menyajikan sekian serpih impian orang-orang yang menghuni Makassar di persimpangan abad ke-20 dan ke-21... bukan hanya semangat menata tulisan yang memikat. Yang juga istimewa adalah gairah mengumpulkan informasi yang cukup lengkap dan rinci. Para penyumbang agaknya telah dibuat bekerja bukan saja sebagai dokumentator yang lumayan baik, tapi juga pengarang  yang cukup asyik mengolah gaya. Hasilnya adalah jejeran prosa yang mirip perahu mungil ramping yang lincah membawa pembacanya terbawa narasi kocak dan renyah. Dan yang memuat seikat informasi segar dan menarik. (Nirwan Ahmad Arsuka, penulis)

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP