Minggu, Juli 29, 2012

Cemburu pada Surabaya


Foto: Affang UKM Seni UMI

Saya berkesempatan ke Surabaya pada Februari 2012 lalu. Cuma tiga hari. Rutenya pun hanya dua: Bandara Juanda ke Jalan Cipto, Kampus B Airlangga ke Bandara Juanda. Tapi ada satu pesan Surabaya yang sampai pada saya: Makassar harus seperti kami!

Sepanjang jalan, tak sekali pun mata saya luput oleh rimbun pohon dan tanaman jenis lain tumbuh di badan pembatas jalan. Bahkan teramat cantik. Segalanya berbeda dengan Makassar. Yang tumbuh justru ruko (rumah toko) dan baliho!

Dua ‘tanaman’ ini sedang marak tumbuh di ibukota Sulawesi Selatan ini. Ruko sejak sepuluhan tahun terakhir tumbuh di pinggir-pinggir jalan. Begitu juga baliho. Menjelang pemilihan kepala daerah sampai suksesi organisasi-organisasi pun harus memamerkan kandidatnya ke warga kota. Apa yang bisa saya harapkan sebagai warga dengan baliho semacam itu? Sampai memaku pohon segala?

Foto: Affang UKM Seni UMI
Kata teman saya, Aditya Remy Adinegoro dalam obrolan kala ia mengantar saya ke bandara, Surabaya sudah punya, sedikitnya, lima belas taman kota. Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, menyulap bekas pompa bensin menjadi taman. Teman saya lainnya, Muhammad Cora bilang, dengar kabar memang ruang terbuka hijau (RTH) Kota Pahlawan ini sudah lebih 30 persen, porsi yang diharuskan peraturan pemerintah.

Selain itu, di kota ini juga ada wisata sungai Kali Jagir—yang termasuk dalam proyek Strenkali. Katanya lagi, kita bisa naik perahu di Kali Jagir sampai ke muara di pantai utara Surabaya, tempat tumbuh lebatnya hutan bakau yang juga jadi kawasan wisata. Saya amat senang mendengar kabar itu. Kesan saya tentang Surabaya selama ini sibuk dan panas berganti dengan hal-hal menyejukkan begitu.

Kata Remy, Walikota Surabaya itu arsitek, mantan kepala dinas pertamanan. Tapi hemat saya, pengelolaan kota tidaklah bergantung pada latar belakang si pemimpin. Ini soal visi membangun. Si pemimpin, yang berasal dari latar apapun, punya wewenang menggerakkan semua sumber daya untuk menguatkan wilayah yang jadi tanggungjawab si walikota. Unit kerja yang dibawahi sang walikota adalah sumber daya yang memungkinkan kota lebih baik, apalagi mereka ‘dipersenjatai’ dan diberi wewenang menggunakan dana APBD dan APBN yang tidak sedikit.

Sudah jamak studi banding para anggota legislatif melakukannya ke luar negeri. Kini saya bisa memberi saran: Anda, anggota DPRD, tak perlu jauh-jauh berangkat yang bakal habiskan uang APBD. Anda cukup ke Surabaya atau telepon langsung Bu Walikota menanyakan bagaimana kiatnya memelihara warganya dengan pantas, layaknya sebagai seorang ibu.

Apa berlebihan kalau saya cemburu pada Surabaya? Tentu tidak. Bagaimana pun, saya akan pulang ke Makassar, kota yang akan saya tempati hidup dan menghirup udaranya lagi. Gila aja kalau saya nggak cemburu! Anda sendiri bagaimana? []

Selasa, Juli 10, 2012

Ketika Aktor dan Penonton Menjadi Warga

Hal-hal apa saja yang menarik ketika menyaksikan pertunjukan seni di luar ruangan? Ini catatan saya saat menjadi bagian performance arts Ku-PartaiBaru yang difasilitasi oleh UKM Seni Universitas Muslim Indonesia (UMI), akhir Juni 2012.
Kota Batu
(foto: Anwar Jimpe Rachman)
BANYAK ORANG KAGET, termasuk saya, ketika menyusuri jalan menuju kawasan Metro Tanjung Bunga. Di sana rupanya sudah berdiri megah Rumah Sakit Siloam. Saya tidak pernah masuk ke kawasan ini sejak beberapa bulan. Tanjung Bunga, kawasan yang dikembangkan belakangan di Makassar, mengharuskan terjadinya penimbunan sekitar Pantai Losari hingga pesisir perbatasan Makassar-Gowa.

Di seberang jalan, berdepanan RS Siloam, tampak sejumlah orang berkumpul di tanah timbunan yang berada sekisar 200 meter lebih ke dalam. Di dekat mereka sudah berdiri bangunan bambu. Jalan masuk ke sana dijaga tukang parkir. Beberapa kerabat kerja pertunjukan sudah berada di balai beratap tukang parkir untuk memastikan tidak salah memungut bayaran parkir pada para pengunjung pertunjukan.

Semakin dekat kian jelas bahwa bangunan bambu itu rupanya rangkaian bambu berbentuk segitiga setinggi sepuluhan meter, berdiri di atas jembatan beton penghubung timbunan luar dan timbunan dalam. Bangunan bambu itu tampak berdiri anggun disinari matahari sore dan tak goyah diterpa angin laut. Sebatang bambu di ujung atas terikat melintang seimbang—sebagai neraca keadilan.

Timbangan keadilan. (foto: Anwar Jimpe Rachman)
Tanah timbunan, lokasi berlangsung performance art Ku-Partai Batu, merupakan kawasan pembangunan Center Point of Indonesia (CPI). Berdasarkan kabar yang beredar, mintakat ini rencananya akan dibangun Wisma Negara. Titik ini diambil karena Makassar menganggap titik ini adalah titik tengah Kepulauan Indonesia bila ditarik garis dari Sabang sampai Merauke (barat ke timur) dan Sangir Talaud ke Pulau Rote (utara ke selatan).

Sayangnya, penimbunan itu berakibat pada kawasan sekitar Makassar, seperti yang terjadi di Desa Bontosunggu, Galesong Utara, Kabupaten Takalar. Seorang warga menyebut abrasi melanda Bontosunggu ditengarai akibat perubahan pola arus karena semakin tingginya sedimentasi di sekitar muara Sungai Barombong atau Sungai Jeneberang (http://panyingkul.com/view.php?id=1178, diakses pada 8 Juli 2012, 22.56 Wita). Pementasan Ku-Partai Batu menjadi salah satu bentuk kritik atas pembangunan kawasan ini, dalam bentuk performance art.

Empat penguasa mengusung rumah masing-masing. (foto: Anwar Jimpe Rachman)
KU-PARTAI BATU merupakan konsep pertunjukan yang mengimajinasikan batu sebagai kekuasaan para pemimpin. Kepemimpinan ini penuh pencitraan semu yang terbangun dalam sistem kerajaan/dinasti batu. ‘Batu’ dalam judulnya menjadi kata yang merepresentasikan kezaliman yang teramat bebal.

Bangunan bambu segitiga yang berdiri anggun itu berasal dari mitologi I La Galigo. Dalam alam pikiran mitologi masyarakat Bugis dan Makassar, dunia terdiri dari tiga dunia: botting langi’ (dunia atas), ale kawa’ (dunia tengah), dan peretiwi (dunia bawah). Di rangkaian bambu itu bergantungan pula bebatuan yang diikat menggunakan tali rotan.

Latar kota, salah satu bagian penting dalam pementasan. (foto: Anwar Jimpe Rachman)
Terdapat lima aktor dalam alur gerak Ku-Partai Batu. Seorang membawa api di tangannya. Empat penguasa partai membopong rumah segitiga masing-masing. Mereka berjalan beriringan seolah berjuang untuk satu tujuan. Si pembawa api lalu menapaki bangunan tersebut hingga ke atas. Di sana ia meliukkan gerak gemulai. Sementara empat penguasa masing-masing bergerak menguasai wajan, lesung, nyiru, dan ulekan. Mereka menggaruk dan membisingkan benda-benda tadi—tentu dengan gerakan yang berbeda dan seperti saling berebut perhatian pengunjung. Setelah semua tandas dan dunia bawah berubah seperti meja makan, sang pemimpin turun ke dunia tengah. Sementara pula, keempat penguasa di bawah membuka kain, menumpuknya dengan semua rumah segitiga, lalu membakarnya.

“KAWASAN INI bakalan ditutup dan hanya diakses kalangan tertentu saja. Jadi mumpung masih berupa timbunan, ayo kita pakai,” ujar Ibrahim, salah seorang fasilitator performance itu.
Ujaran Bram, demikian panggilan akrab saya padanya, merupakan karakter sifat pertunjukan sebuah perfomance art. Ia memberi kita pengalaman baru dalam menyikapi ruang, terutama berkaitan dengan latar berlangsungnya seni jenis ini. Seni ini mengabarkan dan memberitahu kita tentang perkembangan terakhir kota (dalam hal ini Makassar). Ragam seni semacam yang disajikan anak-anak seni UMI itu mengajak kita melihat kondisi kekinian Makassar. Bukankah kekinian adalah akumulasi dari masa lalu?

Karenanya, ketika bagian membincangkan performance art ini di Kampung Buku dua hari setelah pertunjukan, saya dengan naif dan berani mengajukan istilah ‘seni keperistiwaan’ untuk mencakupi dua istilah ‘happening art’ dan ‘performance art’, yang tampaknya sempat membuat bingung beberapa peserta diskusi. “Jangan-jangan ini soal peristilahan saja,” kata salah seorang penanggap.

Saya mengerti kebingungan yang dimaksud. Karena, pada dasarnya, kedua seni ini agaknya berkarakter serupa, yakni: [1] memberi ruang yang sama antara pelakon dan penonton untuk berpartisipasi, baik segi interpretasi maupun komunikasi; [2] titik tumpu gagasan berorientasi fenomena/peristiwa kekinian (yang terjadi dalam rentang waktu yang tak berapa lama); dan [3] kerap penyajiannya berlangsung di luar ruangan.

Bagi saya, istilah itu bisa membingungkan. Padahal ranah bahasa kita masih sangat luas dan membutuhkan penggalian serta pemaknaan dari penggunanya. Mengapa tak kita berpikir bersama mencari padanan istilah demi mengayakan perbincangan terkait soal ini?



Latar kedirian dalam mengolah pengalaman kota dan kosmis.
(foto: Anwar Jimpe Rachman)
‘Seni keperistiwaan’ bagi saya istilah paling cocok untuk menyebut genre ini karena seluruh rangkaian dari gagasan sebuah pertunjukan sebagai sebuah ‘peristiwa’. Penggodokan dan penyebaran gagasan tetap menjadi bagian penting dalam pertunjukan. Para kerabat kerja dan aktor menjadi peramu gagasan (fasilitator). Bagaimana pun, keterlibatan semua kalangan adalah salah satu hal utama. Bahkan apa yang dilakukan, semisal, oleh tukang parkir demi kelancaran pertunjukan itu tetap masuk dalam hitungan ‘berpartisipasi’ dalam pertunjukan ini.

Demikian juga ketika pementasan berlangsung. Penonton dan fasilitator lebih menyatu. Mereka lalu menjadi warga biasa. Penonton disarankan lebih mengambil posisi sebagai pihak yang turut bergerak dan berpartisipasi. Mereka boleh ‘mengganggu’ pertunjukan dengan melintas di depan fasilitator untuk mengambil gambar—sesuatu yang tidak terjadi dalam pementasan konvensional (memakai panggung).

Latar kosmis menjadi bagian penting. (foto: Anwar Jimpe Rachman)
Kalangan penonton perlu mengabadikan peristiwa seni yang tidak akan terulang itu, berikut dengan situasi kota ketika pertunjukan berlangsung. Mereka dapat mengambil gambar dari mana saja. Penonton lebih berdaulat menentukan posisi di mana saja, tergantung selera menyaksikan pementasan dari arah mana. Seni keperistiwaan membebaskan penonton kok. Peristiwa yang berlangsung di ketiga jagat memang serba tersebar, yang menyebabkan fokus kita terpecah, meski sejatinya pertunjukan itu satu peristiwa yang saling berkait.

Perubahan peran yang saya jelaskan di atas tersebab terdapat tiga ranah dalam seni keperistiwaan itu, tempat kita mendudukkan diri, yakni latar kosmis (jagat raya), latar sekitar (jagat kota), dan latar manusia (jagat kedirian). Kedua dunia yang paling awal disebut adalah bagian terluar yang berbentuk dan terjadi tanpa campur tangan penonton karena tanpa peran dan rekayasa sutradara sebagaimana yang terjadi dalam pementasan konvensional. Namun kedua latar itu memberi kita gambaran kabar tentang lingkungan (kota), tempat hidup warga sehari-hari.
Suasana pementasan di lokasi pembangunan CPI, Makassar. (foto: Anwar Jimpe Rachman)
Keberhasilan seni jenis ini, menurut hemat saya, tidak ingin menyeret kita berlama-lama dalam melankoli tentang ekstensial kedirian saja (penonton). Lebih dari itu, peristiwa ini mengundang kita peduli pada latar dan tempat seni ini berlangsung, yang memungkinkan penonton berubah menjadi warga.[]

Rabu, Juli 04, 2012

Berkawan dengan Kelampauan

“Film ‘serius’ sering ditinggalkan penonton…”, begitu kalimat yang menggaung di kepala saya waktu berniat menonton “Lewat Djam Malam” (LDM). Begitu tiba tempat pembelian karcis, mata saya tertuju pada layar komputer si kasir. Ada duapuluhan kursi Studio 5 XXI Mal Panakkukang sudah terisi. Lumayanlah, pikir saya, tidak sampai menonton bertiga saja.

Kata ‘serius’ di dalam kalimat tadi bisa saja berarti ‘film drama’, ‘fakir adegan kelahi’, ‘minim adegan tembak-tembakan’, ‘kurang adegan percintaan’, ‘mesti mengerutkan kening’, atau ‘tanpa banyolan’.

Foto: Anwar J Rachman
Tapi saya yang lama menanggalkan status pelanggan XXI. Setelah empat tahun, LDM-lah yang menyeret saya menjejakkan kaki ke lantai berkarpet jaringan bioskop ini. Itu juga saya baru sadar ketika mau membayar karcis masuk seharga tiga puluh ribu rupiah. Masih terang-benderang di ingatan, terakhir saya menonton film masih membayar lima belas ribu rupiah. Saya lupa judul film terakhir yang saya tonton di bioskop. Bahkan perubahan tipologi “Bioskop 21” menjadi “XXI” pun belakangan saya tahu. Saya segan datang ke bioskop XXI sejak mengenal Amélie (2001) yang diikuti gelombang film-film Eropa, Tukri, atau Iran yang sudut pandangnya lebih ‘galak’ dan terasa realistik. Film yang banyak dipertontonkan XXI kebanyakan film buatan Hollywood—gambarnya tak liar dan sudut pandang yang sangat biasa.


Kami memutuskan tetap masuk kendati terlambat sepuluh menit dari jadwal pemutaran. Menunggu 120 menit lagi cukup menguras daya tahan kesabaran. Kami duduk di deretan kedua paling belakang. Seperti biasa deretan kursi itu adalah kursi idaman kawula penonton—baik buat berasyik-masyuk dengan pasangan maupun agar jarak pandang lebih leluasa ke layar.

Duduk di kursi B9, saya mendengar banyak tawa sebab tingkah pola para pelakonnya. Lima menit setelah menyandarkan punggung, rupanya masih ada dua orang yang lebih belakangan dari kami. Tapi tak lama berselang, dua laki dan perempuan, mungkin duduk di kursi deretan baris sebelah, menuju pintu ‘Exit’. Setelahnya, saya lebih fokus ke layar.

“Lewat Djam Malam” pertama kali saya tonton di layar TVRI. Film hitam putih di televisi hitam putih. Tempo itu saya duduk di kelas VI SD. Kurun waktu itu pula, stasiun televisi milik pemerintah ini selalu memutar film Indonesia di acara Film Akhir Pekan (yang kerap didahului dengan Laporan Khusus). Tapi seingatan saya, LDM diputar menjelang perayaan kemerdekaan memutar film bernuansa perjuangan revolusi. Maka menahan kantuklah saya untuk menonton LDM. Berkali-kali saya harus lari ke kamar mandi untuk membasuh wajah saya dengan air demi mengusir kantuk. Lumayan manjur. Tapi benak kanak-kanak saya kala itu sejujurnya hanya memburu adegan tembak-tembakan.

Bertahun-tahun kemudian ingatan saya tergerus. Tak ada satu pun adegan yang saya ingat dari LDM. Mungkin saya tertidur di awal-awal film ini. Tapi yang paling menyangkut di kepala saya adalah wajah muda Netty Herawati, pemeran Norma. Netty pada akhir dasawarsa 1980-an bukanlah bintang asing. Wajah ayu Netty kerap muncul di film-film Rhoma Irama seperti Penasaran (1976) dan Raja Dangdut (1978) dan beberapa film lain. Biasanya Netty berperan jadi ibu lengkap dengan kebaya.

Kini LDM mendatangi saya bertahun-tahun kemudian, tepatnya dua hari setelah saya merampungkan tulisan ini di pekan pertama Juli 2012. Kini yang tinggal di pikiran saya tidak hanya wajah segar Netty Herawati. Beberapa hal penting seperti bahasa yang dipakai dalam dialog para aktor. Sungguhlah elok mendengar cakap-cakap para pelakon di dalam gambar bergerak macam itu. Amatlah senang saya mendengar tuturan awal film-film kita, rupanya, bernuansa Melayu kental. Apalagi kala para penikmat pesta di rumah Norma berbalas pantun memakai lagu “Rasa Sayange”.

Betapa berharga pula LDM terkhusus bagi warga Bandung. Beberapa bagian adegan LDM berlatar kota ini. Suasana klasik Bandung akan membantu memori para warganya atau orang yang pernah mendatangi kota itu, yang kini berusia enam puluhan tahun, mengenang tempo-tempo itu.

Setelah Iskandar tertembak dan digotong naik ke rumah Norma oleh empat CPM, menampaklah tulisan “Kepada mereka jang telah memberikan sebesar-besar pengorbanan njawa mereka supaja kita jang hidup pada saat ini dapat menikmat segala kelezatan buah kemerdekaan… kepada mereka jang tidak menuntut apapun buat diri mereka sendiri”.

Lampu bioskop menyala. Rupanya usai sudah film ini. Yang tertinggal hanya lima orang. Saya bertiga, dan dua laki-perempuan di ujung barisan kursi kami. Kami tertawa. Rupanya kami tidak sadar penonton lain sudah meninggalkan film di masa kelampauan ini.

Beraneka tanggapan yang tersiar dalam tulisan-tulisan tentang film ini di banyak media pekabaran. Ada yang bicara teknis film atau kejanggalan adegan. Soal itu pastilah ada karena selalu ada cacat. Tapi sekali-sekala, kita butuhlah ‘mesin waktu’ semacam ini untuk menengok kota lama dan kata-kata lawas. Untuk ini, biarlah saya menjadi penonton sekaum dengan Iskandar, yang oleh Gafar disebut “siapa yang tidak bisa melawan kelampauan dia akan hancur.”

Mari kita berkawan dengan kelampauan.[]

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP