Selasa, Juni 26, 2012

Berpikir Emas di Gunung Perak


BANYAK ORANG DESA mengaku bahwa bertani merupakan kerja sambilan atau terpaksa karena tak ada pilihan lain. Tapi Pak Daming justru sebaliknya. Lelaki langsing dari Dusun Tassoso’ ini mengaku bekerja sampingan sebagai guru. Pekerjaan utamanya justru petani.

“Saya ingin orang-orang bangga menjadi petani. Petanilah juga yang menghidupi kita. Selama ini, banyak orang malu mereka petani. Saya ingin mengubah itu,” katanya, pada pertengahan Mei 2012 lalu.

Pak Daming dan keluarga. (Foto: Anwar Jimpe Rachman)

Pak Daming merupakan alumni lulusan Teknik Elektro IKIP Makassar (sekarang UNM) tahun 1990. Ia pengajar tidak tetap di SMP Satu Atap Tassoso’, Desa Gunung Perak, Kecamatan Sinjai Barat, Kabupaten Sinjai. Gunung Perak adalah nama pengindonesiaan nama Bugis desa itu, Bulu Salaka.

Tahun 1998-2001 ia menjadi pedagang sayur antar pulau. Setiap bulan Pak Daming berangkat ke Balikpapan (Kalimantan Timur) lewat pelabuhan feri di Mamuju, Sulawesi Barat (sekisar 800 kilometer barat daya Tassoso’). Keuntungan sejuta per bulan membuat Pak Daming mengurungkan niat jadi pegawai negeri sipil. Ia menganggap, pendapatan per bulannya melebihi gaji kakak kandungnya yang PNS berkisar Rp 250.000/bulan tahun-tahun itu.

Pak Daming mengajarkan pendidikan pengurangan risiko bencana (PRB) di semester ganjil untuk siswa kelas VII SMP Satap Tassoso’. Materi-materinya meliputi tanda-tanda terjadinya angin, jenis-jenis angin, tindakan saat dan setelah terjadinya angin, dan penghijauan.

Menurut lelaki kelahiran 1963 ini, Bulu Salaka dilanda angin kencang setiap tahun yang berasal dari puncak Gunung Bawakaraeng, berjarak sekira 5 jam perjalanan di selatan Bulu Salaka. Tassoso berada pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Dusun ini merupakan dusun teratas  desa yang disebut sebagai salah satu desa terdekat dari puncak Bawakaraeng. Selain Tassoso’, terdapat lima dusun lainnya yakni Lembanna, Lembasiali, Batu Leppa, Puncak, dan Bonto Manai.

Hembusan angin kencang melanda kawasan ini antara Desember - Maret setiap tahun. Kalangan pecinta alam pun mengakui salah satu tantangan terberat pendakian Gunung Bawakaraeng adalah anginnya. Para pemanjat gunung tidak bisa menapak berdiri begitu puncaknya kian dekat. Angin yang menerbangkan lembaran-lembaran atap seng rumah warga setempat merupakan hal yang terjadi setiap waktu. Sehingga warga menangkal fenomena saban tahun ini dengan menjempit atap rumah mereka menggunakan batang-batang bambu. Warga pun menopang rumah mereka menggunakan bebatang kayu dan bambu. Kalau tidak begitu, angin bisa membuat rumah ‘melompat’ semeter dari tempatnya semula berdiri.
Warga menunjang rumahnya dengan batang bambu dan menjepit atap rumahnya. (Foto: Anwar Jimpe Rachman)
“Tahun 2009, kandang itu,” terang Pak Daming seraya menunjuk kandang sapi di belakang rumahnya, ”pernah terbang sampai 25 meter. Ada dua sapi waktu itu. Untung talinya putus. Kalau tidak, sapinya pasti ikut terbang!” tambahnya.

Warga Bulu Salaka mengenal tiga musim: musim kemarau, hujan, dan musim angin. Pak Daming mengajarkan bagaimana mengenali gejala awal musim-musim tersebut kepada siswa—deretan pengetahuan yang ia warisi dari para orang tua Bulu Salaka, dan tentu juga dari ayahnya, Haji Tette’. 


Menurut kepercayaan orang tua di Tassoso’, tanda-tanda angin kencang dusun itu bisa diketahui dengan memerhatikan bagian utara daerah itu, yakni ke arah Gunung Latimojong. Jika puncak gunung yang berada di dataran tinggi Enrekang dan Tana Toraja itu terlihat tanpa halangan awan dan kabut, maka bisa diperkirakan angin akan bertiup kencang. Jarak Bawakaraeng dan Latimojong berkisar 500 kilometer.

Selain itu, kata Pak Daming, prediksi angin akan bertiup deras atau sebaliknya dapat kita baca lewat tumbuhan seperti nangka. Bila buahnya muncul di batang, bisa dipastikan angin akan kencang. Kalau nangka berbuah di dahan berarti tak perlu risau akan angin tahun ini. Perkiraan bakal ada kemarau panjang dapat pula dibaca lewat bambu. “Kalau rebungnya lebih tinggi dari dari induknya, berarti hujan akan panjang,” jelas Pak Daming.

Orang Tassoso memiliki empat nama untuk angin yang setiap tahun menyambangi dusun ini. Mereka menyebut Bara’ Tallumbangngia untuk angin yang berhembus tiga malam berturut-turut dan bara’ tujua [angin bertiup selama tujuh hari] yang berlangsung pada Desember; bara’ pinruatuju [angin bertiup selama 14 hari 14 malam], dan bara’ pinruasalapang [angin yang berhembus 18 hari tanpa henti]. Angin yang terakhir ini mulai terasa kemaraunya karena angin sudah tidak kencang.

BILA MEMASUKI DESA BULU SALAKA, Anda seakan berada di dalam bingkai lukisan-lukisan bergaya Mooi Indie, istilah perupa S Sudjojono untuk lukisan-lukisan pemandangan—yang  banyak ditemui di rumah makan atau ruang tamu. Gunung Bawakaraeng tampak kokoh memayungi sawah-sawah berundak yang menghampar di lereng dan lembahnya yang dingin.


Desa Tassoso’ berdiri tahun 1962, kala berlangsung pemukiman warga yang berumah terpisah-pisah karena menghuni kebun dan ladang mereka di kawasan sekitaran Bulu Salaka—nama yang diberikan pada sebuah bukit yang memancarkan sinar keperakan dari kejauhan. Semua penghuni ladang dan kebun harus pindah ke pinggir jalan untuk memudahkan kontrol tentara pengaman. Maklum, kurun waktu itu Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan Kahar Muzakkar sedang mengencarkan perlawanan terhadap TNI.

Konon ‘Tassoso’ memiliki makna ‘masuk berdua ke dalam sarung’, yang mungkin menandakan bahwa daerah ini daerah yang dingin. Namun tuturan tetua Bulu Salaka, kata Pak Daming, lema dari bahasa Konjo ini bisa juga berarti ‘kelak, tempat ini orang akan berduyung datang ke sini’. Mungkin makna itu memang semacam doa.

Arti kata itu sangat berkesan bagi Pak Daming. Bisa jadi bahkan seperti anugerah baginya. Konon pada tahun 1963, ketika Pak Daming masih bayi dan diupacarakan aqiqah, seorang pembesar Sulawesi Selatan datang dan naik ke rumahnya. Orang besar itu ingin bertemu Haji Tette’. Apa yang membawa tokoh itu masuk ke hutan bertemu seorang petani yang hidupnya biasa saja? Rupanya, setahun sebelumnya, tim Universitas Hasanuddin pernah melakukan penelitian pertanian yang menjadikan Haji Tette’ sebagai narasumber. Penelitian itu menyebutkan bahwa praktik pertanian sapa’-sapa’ untuk dataran tinggi, yang dalam konteks sekarang disebut terasering, dipraktikkan sejak lama oleh Haji Tette’. Ayah Pak Daming itu juga menanam tumbuhan dengan pola acak (zig-zag) yang berfungsi menjadi penahan angin sebagai pelindung tanaman ladangnya. Hasil penelitian tersebut lalu sampai ke telinga orang penting tersebut.

Tiga puluh enam tahun kemudian, tahun 1999, Pak Daming diundang ke Istana Negara bertemu Presiden BJ Habibie untuk menerima penghargaan Kalpataru dalam kategori penyelamat lingkungan. Pak Daming yang meniru cara ayahnya saat membuat penahan angin untuk kebun-kebunnya, dianggap oleh panitia seleksi Kalpataru sebagai satu bentuk perlindungan lingkungan hidup. Namun ia tidak menconteknya mentah-mentah. Pak Daming mengadopsi cara itu dengan: [1] mengganti cara ayahnya yang menanam kaju colo’ (yang menurut Pak Daming bernama alabisia), paradeng (jenis kayu keras tapi tumbuh pendek), ka’ne (pohon yang berduri banyak) sampai mematenkan pohon bambu “yang bila meninggi tetap rapat batang-batangnya”; dan [2] gerakan Pak Daming lebih terorganisir karena melibatkan kelompok taninya, Bontosunggu, yang berjumlah 25 orang.

“Orang dulu menganggap itu biasa-biasa saja waktu sarasehan para penerima Kalpataru. Ketika saya bilang bahwa ini cara yang dilakukan oleh dua generasi, barulah orang menganggapnya sebagai sesuatu yang istimewa,” kenang Pak Daming.

Pak Daming kini tinggal bersama istri dan empat orang anaknya. Anak sulungnya, Aris, sekarang berkuliah di Jurusan Pertanian UIT (Universitas Indonesia Timur) sambil bekerja di sebuah hotel di kawasan Panakkukang, Makassar. Ifa (17), Haerul Mubarak (2, 6 bulan), dan Syaiful Arbani (1) tinggal bersamanya di sebuah rumah panggung warisan ayahnya yang baru-baru ini ia pugar.

Dari kolong rumah itu pula kerap tercium bau tak sedap karena lelaki berkumis dan berjenggot ini membiakkan lactobassilus (bakteri pengurai) yang ia pakai untuk menyuburkan kol, bawang prei, kentang, dan kopi di kebunnya. Kata seorang teman saya, Agung, “Ia seperti ilmuwan. Suka coba-coba. Campur ini campur itu. Ia juga suka ‘melamun’.

Pak Daming seorang petani organik. Sejak lama ia memakai lactobassilus jenis IM64 (induk bakteri lactobassilus) untuk membuat pupuk berbahan baku rumput, yang ia banyak peroleh di sekitar kebun dan di sela-sela tanaman. Pak Daming tinggal menggalikan lubang kecil dan meremuk rumput ke dalamnya lalu menyemprotkan lactobassilus. Cara itu rupanya mumpuni. Terbukti tanaman di kebunnya lebih subur dan menghijau ketimbang tanaman yang ada di kebun sebelahnya. Ujung daun bawang prei tanaman tetangga kebunnya menguning seperti terpapar matahari. Kata Agung, kebun itu menyemprot ramuan kimia, hal biasa yang dilakukan petani setempat.

“Dengan cara itu, Pak Daming bisa menghemat biaya kurang lebih Rp 4 juta untuk satu hektar kalau membandingkan bila memakai pupuk kandang. Kalau sekarang, harga sekarung kotoran ayam Rp 9.700. Itu belum termasuk biaya angkut ke ladang karena berada daerahnya terjal,” rinci Agung.

Sebenarnya cara itu hasil ‘lamunan’ Pak Daming. Di benaknya pernah muncul pertanyaan, mengapa kotoran sapi bisa menjadi pupuk? Pasti ada sesuatu di perutnya! Setelah mencari bahan bacaan dan mencari tahu sana-sini, ia kemudian mendapat jawaban bahwa semua lactobassilus-lah yang berperan besar terjadinya proses tersebut.

JIKA ANDA berkesempatan ke Dusun Tassoso’, bertandanglah ke rumahnya. Ia akan menyuguhimu kopi panen dan olahannya sendiri. Kopi yang harum dan alami. Jangan lupa sampaikan salam saya. Katakan, saya merindukannya. Sungguh merindukannya.[]

Minggu, Juni 24, 2012

Membayangkan Merentang Benang dari Makassar ke Kota Lain

Mari membayangkan, bila kita merentang seutas benang rajutan, sambung-menyambung, dari Lapangan Karebosi hingga Kota Maros, maka kita membutuhkan 70 gulung benang (segulung 350 meter). Nah, mari juga membayangkan benang itu dirajut menjadi kain. Jika kain tersebut dibalutkan ke sebatang pohon, maka gambaran yang bisa kita dapatkan adalah sebatang pohon mangga arum manis di depan Kampung Buku, Jalan Abdullah Daeng Sirua 192 E, Makassar, yang dibalut selama dua hari, 23-24 Juni 2012.

Pohon mangga di depan Kampung Buku (foto: Anwar J Rachman)

Ragam warna itu adalah kain hasil rajutan Quiqui’—nama komunitas perajut di Kota Makassar. Para anggota Quiqui’ mengerjakan rajutan itu sejak dua bulan lalu. Aksi itu sebagai serangkaian Festival Rajutan Indonesia yang akan berlangsung di Bandung, 30 Juni - 1Juli 2012.

Quiqui’ dengan berani menyatakan bahwa itu adalah pola lain dari seni grafiti. ‘Grafiti benang’ namanya. Kalau disebut demikian, saya akan menjadi pendukung utama mereka. Saya membayangkan, benang itu akan melewati belokan, tanjakan, turunan, dan persimpangan yang ramai kendaraan ketika menuju Kota Maros. Dalam perjalanan perentang benang itu, mereka akan menyaksikan jalan rusak, pohon tumbang, dan baliho yang begitu marak dan dengan janji-janji mereka masing-masing.

Quiqui’ telah mengajak kita berpikir bersama terkait banyak hal yang terjadi di Makassar. Mereka telah menyatakan sesuatu yang luput kita pikirkan. Sebagai warga kota, anggota Quiqui’ juga memberi perhatian besar pada ranah kota dengan melakukan hal-hal sederhana.

Mari membayangkan kembali perjalanan benang tak putus itu menuju Maros. Benang rentangan itu akan melewati persimpangan Tol Reformasi dan Jalan Andi Pangeran Pettarani. Mari berhenti sejenak di ujung Kilometer 4 ini. Luruskan pandangan Anda ke selatan, ke arah Universitas Negeri Makassar. Apa yang terlintas di kepala kita?

Yang tampak bagi kita bisa jadi adalah ruas Jalan AP Pettarani, salah satu dari sekian jalan di Makassar yang paling sering direnovasi. Pemerintah melebarkan jalan ini satu dua tahun lalu. Belakang mediannya diperbaiki. Begitu selesai, entah kenapa, pembatas jalurnya diperbaiki lagi. Bahkan lebih parah; beberapa pohonnya malah ditebang!

Pohon yang tumbang di Jalan AP Pettarani. Foto direkam pada 11 Mei  2012. (foto: Anwar J Rachman)

Jalan AP Pettarani berada di sekisaran kawasan Kecamatan Panakkukang, daerah perdagangan barang dan jasa di Kota Daeng. Di sana berdiri megah ruang pamer agen mobil dan motor, swalayan, Kantor DPRD Makassar, juga sejumlah hotel. Setiap perhelatan berskala regional, nasional, dan internasional, jalan itu akan penuh dengan baliho dan spanduk. Jalan ini pun kerap diramaikan bendera-bendera partai. Belum lagi pariwara-pariwara produk yang juga dalam bentuk bentangan baliho. Kota terasa kian sesak bila jalan itu macet, utamanya di jam sibuk atau ketika hujan turun. Pikir-pikir, kok justru macet kalau hujan? Apa karena warga kota ini main hujan-hujan ya?

Pengelolaan jalan bagi saya sebagai cerminan bagaimana Pemerintah mengelola kota dan kabupaten di Sulawesi Selatan. Ini bukan skala Makassar saja. Di pusat kota kabupaten pun nyaris mengalami hal serupa. Bila Anda punya kesempatan jalan-jalan ke luar kota Makassar, Anda akan bertemu hal yang sama. Baliho dengan wajah tersenyum ramah mengenakan kemeja dan dasi akan menyambut laju kendaraan tumpangan Anda. Bentangan vinyl lain yang bergambar pria berpeci atau perempuan berkerudung seakan memberi takzim pada Anda sampai ke tujuan.

Suasana ini bukan gembung balon tanpa isi. Dalam berita-berita online maupun media cetak, baliho yang marak sudah sangat mengganggu. Di ruang maya twitter.com marak umpatan warga Makassar soal ini. Hal serupa terjadi di dalam media cetak. Teguran-teguran tentang ini sudah pernah dilayangkan. Kebanyakan baliho yang tampil ke umum itu tanpa stempel Dinas Pendapatan Daerah. Ini benar-benar ruang menunjukkan cengkeraman penguasa. Karena baliho-baliho yang tumbuh itu, ya gambarnya foto-foto siapa yang berkuasa masa sekarang.

Kembali, mari kita membayangkan benang itu harus sambung-menyambung, saling berkesinambungan. Begitu pula kiranya pembangunan. Perlu kajian matang dan memerhatikan segala segi kehidupan masyarakat. Baliho mutlak merampas ruang-ruang para pejalan kaki dan ruang-ruang lowong lainnya yang diperuntukkan bagi warga.


Sekarang apa yang tersisa? Mari coba merentang benang lagi dari Lapangan Karebosi dan ke kota lain. Apakah berbeda dengan yang kita saksikan?[]

Jumat, Juni 22, 2012

Menjabat Erat Tangan Kota


Foto: Anwar J Rachman

LIMA HARI di Jakarta, lima hari pula menjalani hari yang melelahkan. Hari pertama, begitu tiba, kami langsung berkumpul di Bakmi GM di Jalan Sunda. Begitu Bayu dkk tiba dari Semarang, kami langsung berkeliling Jakarta. Keliling ini hanya melintas di jalan utama agar memahami pembagian Jakarta secara administrasi.

Kami singgah di sebuah warung nasi uduk di kawasan Kebon Kacang. Kami pun mencicipi toko es krim Ragusa. Di dalam warung itu terpajang banyak foto awal Ragusa tahun 1930-an. Salah satu foto yang paling menarik adalah suasana malam tahun baru yang ramai di toko itu. Sejumlah pendatang berpakaian necis dalam foto tersebut. Beberapa di antaranya berpasang-pasangan.
Foto: Anwar J Rachman
Saya bersama Ipul Daeng Gassing, Darmadi, dan Ime (penggiat KPAJ Makassar) ke Jakarta untuk pelatihan tentang pengetahuan perkotaan. Makassar menjadi salah satu kota yang diajak Rujak Center Urban Studies (RCUS) bekerja sama melaksanakan kegiatan Urban Knowledge Dynamic (UKD). Program ini sudah berjalan sejak Maret 2012 dan berakhir pada Maret 2013 mendatang. Pelatihan empat hari ini berlangsung di Wisma PGI, Jalan Teuku Umar, Menteng-Jakarta.

Di hari pertama pelatihan, Marco Kusumawijaya mengenalkan kawasan tempat kami pelatihan. Menteng adalah Jakarta tahun 1920-an. Ketika itu, ada 15 kota di Indonesia mendapat otonomi daerah tahun 1903 pada masa pemerintahan Belanda. Masa itu terbentuk secara sadar komunitas urban di kalangan orang Eropa.

Marco, yang juga Direktur RCUS, menekankan perlunya inovasi dalam riset. Dan pengetahuan yang tergali dapat berguna memengaruhi kota menjadi lebih baik. Marco mencontohkan, kerap para pemangku kepentingan kota seperti arsitek, bagian tata kota dalam pemerintahan, sering menyederhanakan masalah dengan cara, misalnya, rasio besar dan luas jalan bukan ukuran tepat yang dipakai untuk menangani kemacetan.

Presentasi Kota
Makassar mendapat giliran pertama. Saya menjelaskan beberapa program yang sedang berjalan di Makassar seperti mengundang para blogger menulis pengalaman pertama mereka bersentuhan dengan komputer, komputer dan pasar sampai Darmadi, mengambil gambar di UIN Samata, satu dari dua kampus yang baru dibangun di Makassar.

Setelah Makassar, giliran Semarang yang memaparkan perkembangan keikutsertaannya. Semarang sendiri kota yang baru ikut. Mungkin baru sebulan lalu.  Mereka merencanakan membuat program pembuatan flatform wadah berkomunitas di kota itu. Menurut Bayu, gagasannya baru sebatas menjadi tempat berkumpul dan bertanggungjawab satu sama lainnya.

“Program kami rencananya tidak berpretensi menjadi godam pemecah kebuntuan. Hanya berupaya keluar dari zona nyaman; mengasah kepekaan menyadari krisis,” jelas Bayu.

Katheline, kawan saya yang berkiat di C2O Library membawa tiga kawan yang saya kenal kala ke Surabaya. Kath, begitu saya biasa memanggilnya, memaparkan metode “Ayo Rek!”, program yang mereka jalan: [1] memetakan pelaku komunitas dan individu; [2] tempat (ruang bersama); metode [1]  formulir ayorek bermelok! [2] cangkruk; narasi bersama dengan melakukan pengarsipan dokumen, pemetaan, pengarsipan foto, kumpul kisah, digitalisasi; dan melaksanakan kisah kampung yang meliputi asal-usul kampung, cara bertahan hidup, masakan/resep kampung, pengobatan kampung, dan progesi/keterampilan.

Selain itu, para pematerinya pemateri mumpuni. Ada Abdul Maliq Simone, seorang profesor sosiologi perkotaan. Dia pemateri utama. Alamat blognya villes-noires. Selama tiga hari ia menjelaskan penelitian sosiologisnya tentang Jakarta. Lelaki sepuh nan langsing yang selalu mengenakan topi hitam itu menjelaskan fenomena sosiologis yang selama ini ia dapati di ibukota Indonesia ini dengan bahasa encer, dan tentu saja lengkap dengan foto-fotonya.

Abdul maliq Simone (foto: Anwar J Rachman)
Ada pula nama Suryono Herlambang, dosen dan peneliti superblock. Dari paparan dia juga kami bisa tahu tinjauan kritis dimensi ekonomi dan politik proyek-proyek pembangunan perumahan dan properti yang ada di Jakarta, dan di Indonesia umumnya.

Suryono mengutip Teori Global City Regions (Soja, Friedman, Sassen) bahwa globalisasi seperti membuka kotak pandora, membuka penutup dan sekat, memberi kesempatan setiap kota dan wilayah untuk mengembangkan potensinya; peluang pasar terbuka dari tingkat pelayanan lokal/internal kota, regional, sampai skala global; dan keterbukaan yang ditawarkan bukan gratis, melainkan harus mampu mengikuti standar dan persyaratan yang berlaku global (global cities).

Ia juga mengutip konsep yang dikemukakan Abidin Kusno tentang konsep paradigma pembangunan perkotaan antara masa Orde Baru dengan Reformasi dan setelahnya. Pada konsep paradigma Orba disebut nationalist urbanism, ketika negara sebagai pusat, negara hadir di ruang kota, kota sebagai sarana transformasi modernisasi, metropolitanisme-hierarki kota inti >< kota pendukung, dominasi peran pemerintah pusat/negara.

Sedang konsep masa reformasi dikenal globalisasi. Desentralisasi; privatisasi—dominasi peran sektor privat dengan dukungan pemerintah kota; enterpreneurship; warga sebagai konsumen; kelas terpilih—displacement the poor/city without slums; kota-kota dunia, kompetitif, investasi global, superblok; pasar uang internasional, dan portfolio real state.

Di luar materi ruangan, kami berduabelas juga berkunjung ke beberapa tempat seperti Rawa Belong, kawasan sekitar Binus. Kawasan ini ramai dengan penjual bunga. Di sana malah ada pasar bunga, yang menurut Dendi, seorang pedagang, pusat distribusi bunga-bungaan yang datang dari seantero Asia. Di pasar ini, anggrek dari Thailand bersandingan dengan anggrek Kalimantan. Sebagaimana namanya, Rawa Belong adalah mintakat rawa yang dibolongkan dengan ditimbun lalu menjadi hunian.

Kami juga menyempatkan ke Central Park, sebuah superblok yang dikembangkan Agung Podomoro. Kawasan itu kawasan elite. Semua bangunannya berskala raksasa. Mal-mal dipadu dengan apartemen yang menjulang. Tentu pula mimpi-mimpi modernitas. Semua serba rapi. Kemakmuran semata, tanpa orang miskin.

Tempat Romo Sandyawan, di Bukit Duri (foto: Anwar J Rachman)
Kami juga ke Kampung Bukit Duri, tempat Romo Sandyawan dan anak-anak pinggir Ciliwung berkegiatan. Rohaniawan ini kelahiran Jeneponto. Menurut Romo Sandy, ia lahir di sana ketiga ayahnya bertugas sebagai kepala polisi di Jeneponto di masa penumpasan tentara DI/TII. 

Kedatangan kami disambut hangat. Romo Sandyawan dan Ivana membeberkan program dan kegiatan yang selama ini mereka laksanakan. Tak lupa, kejutan dari anak-anak yang memainkan musik tabuhan.

Perpustakaan di Bukit Duri (foto: Anwar J Rachman)
Pementasan dadakan anak-anak Bukit Duri (foto: Anwar J Rachman)
Pemandangan Sungai Ciliwung, bagian belakang rumah Bukit Duri (foto: Anwar J Rachman)

Di hari terakhir bertemu para penggiat komunitas Menteng, kumpulan penghuni kawasan elite. Mereka adalah generasi kedua dan ketiga penghuni kawasan tersebut.


Selain kegiatan itu, saya bertemu dengan sejumlah sahabat-sahabat baru seperti Jaelani, redaktur bahasa di Harian Seputar Indonesia. Bertemu Ayu Ambong, Iccang, dan seorang kawan lagi. Ketiganya jurnalis Koran Tempo yang pernah bertugas di Makassar lalu ditarik ke Jakarta. Kami berbagi cerita tentang ibukota. Pasti juga plus kesulitan hidup di sana. Ayu sendiri saya baru ketemu. Kami hanya mengobrol lewat twitter selama ini.

Belajar seperti ini, bagi saya, sebentuk proses saling mengingatkan. Semua tahap yang terjadi di dalam maupun luar kelas menjadi hal yang luar biasa. Saya bertemu banyak orang yang gigih pada bidang tertentu. Tentu pula, harapan-harapan menjadi orang-orang yang bertahan pada sesuatu yang mereka pelajari dan tekuni seperti memberi pesan bahwa kita harus bergerak mulai dari yang kecil. Dari kecil, menjadi sederhana, berubah bentuk menjadi menengah, lalu membesar. Ya membesar. Membesar namun tetap ada kerincian dan kesederhanaan di dalamnya.

Mereka telah mengajarkan, kita sesekali perlu mencintai sesuatu yang semula tak kita pahami tapi terjangkau. Terjangkau pandangan, juga jabat tangan.[]

Senin, Juni 11, 2012

Kita Hanya Butuh Dua Perantara?


Berapa jarak antara Anda dan saya sekarang?

Ini bukan hasil percobaan yang rinci. Tulisan ini hanya berdasarkan pengalaman dan ingatan tentang keterhubungan saya dengan tiga orang yang memiliki akun di situs http://twitter.com. Ketiganya saya pilih berdasarkan letak geografis mereka sekarang dan sifat hubungan saya selama ini.

Foto profil twitter @SupirPete2 (versi 11 Juni 2012)

Mari mengenal mereka satu-satu. Yang pertama akun @Supirpete2. Saya belakangan akrab dengan pemilik akun ini. Kami sama-sama di Makassar. Jarak tempat kerjanya hanya sekilometer dari rumah saya. Untuk bisa akrab dengan pemilik akun alterego ini, kami butuh dua akun perantara: @mkstdkksr dan @keykasjamsoe. Polanya: @SupirPete2 > @mksrtdkksr > @KeykaSjamsoe > @thejimpe.

Yang kedua @mkusumawijaya atau Marco Kusumawijaya. Dia arsitek, tinggal di Jakarta. Sejak 2002 saya kenal dia lewat tulisan-tulisannya tentang kota dan arsitektur. Baru sekisar sepuluh tahun kemudian saya bertemu di twitter dan bercakap banyak. Ini juga belakangan setelah ikut satu diskusi tentang perkotaan awal tahun 2012. Saya sampai sekarang masih kagum pada konsep arsitektur yang 'manusiawi' yang sering ia tulis.
Foto profil twitter @mkusumawijaya (versi 11 Juni 2012)
Saya bisa mengenal Marco karena dua orang juga: Yulia Tanyadji dan teman saya Ancu, pemilik akun @lelakibugis. Mungkin Yuli dan Ancu sudah saling follow duluan di twitter. Untuk keperluan pertemuan awal tahun yang saya sebut tadi, Yuli, nama akrabnya, meneruskan email Marco ke saya. Dan bertemulah saya dengan Marco tak lama setelahnya. Polanya: @mkusumawijaya > @ytanyadji > @lelakibugis > @thejimpe.


Foto profil twitter @haspahani (versi 11 Juni 2012)

Yang terakhir @haspahani alias Hasan Haspahani. Saya pun kenal dia di awal dasawarsa 2000-an. Dia sekarang di Batam. Tapi kami belum bertemu sampai sekarang. Kami hanya berteman via email dan sosial media, mulai yahoo messsenger, facebook, sampai twitter. Saya mengenal Hasan lewat dua perantara: seorang teman saya Dody (yang kini entah di mana) dan lewat rekan kerja saya di sebuah harian di Balikpapan (tempat saya bekerja awal 2000-an). Dari Dody saya mengenal Hasan karena Dody ingat bahwa Haspahani pernah juga bekerja di tempat saya bekerja kala itu. Polanya: @haspahani > kantor < dody > @thejimpe. Hasan merupakan salah seorang penyair yang mengemuka di Indonesia belakangan ini.

Tulisan ini juga dipicu oleh hasil penelitian seorang psikolog Stanley Milgram. Penghujung tahun 1960-an, Milgram mengadakan sebuah eksperimen untuk mencari jawaban atas sesuatu yang dikenal sebagai small-world problem. Pertanyaan mendasarnya bagaimana cara manusia saling berhubungan? Dari hasil percobaan ini Milgram mendapatkan konsep enam tingkat keterpisahan (six degrees of separation). Hasil penelitian ini bisa Anda baca dalam Tipping Point karya Malcolm Gladwell (Gramedia Pustaka Utama, Juli 2010, h. 41-46).

Apakah benar kita hanya membutuhkan dua perantara saja agar sampai berteman dan berjejaring? Mungkin iya, mungkin tidak. Toh ini hanya butuh mengingat-ingat teman Anda. Sekarang pun Anda bisa mencoba!


Catatan: Tulisan ini bagian pertama dari dua tulisan.

Jumat, Juni 01, 2012

Sekali Lagi, Huruf ‘q’ dalam Pelatinan Bahasa Bugis


Penggunaan huruf ‘q’ dalam transliterasi dan transkripsi teks-teks lontara’ Bahasa Bugis bertujuan memudahkan pencarian menggunakan mesin digital. Ini berhubungan kuat dengan zaman komputer. Dalam konvensi digital, lambang apostrof tidak dihitung sebagai huruf, berarti tidak menjadi bagian dari kata. Contoh tentang ini bisa dilihat pada nama Patoto'e dijadikan dua kata: Patoto dan e.

Keputusan menggunakan huruf ‘q’ mengutamakan alasan kepraktisan, utamanya di dunia akademis. Ketika transliterasi (alih aksara) dan transkripsi (penyalinan) menggunakan komputer, apostrof yang bisa disebut ‘koma atas’ [‘], tidak terhitung sebagai aksara. Dengan demikian, menyulitkan pencarian kata dalam beratus bahkan ribuan lembar naskah yang sudah dilatinkan.

Sebagai orang awam, yang sesekali harus berurusan naskah karena bergiat di penerbitan khusus kebudayaan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, inilah alasan yang paling masuk akal terkait pelatinan lontara’. Saya sering mendengar pengguna bahasa Bugis sehari-hari mengeluhkan penulisan kosa kata Bugis dengan mengakhirinya dengan huruf ‘q’. Begitu banyak, terutama teman-teman saya pengguna bahasa Bugis mutakhir, mengatakan ‘aneh dan kita membacanya terbata-bata’.

Selain itu, “Tanda apostrof dalam tulisan bahasa Bugis dengan huruf Latin juga dipakai sebagai tanda petik. Berarti bisa memunculkan ambiguitas dan keanehan. Seperti: 'malebbi'', atau ambiguitas 'Taro a' ménré' ri sao kuta pareppa'é': di mana kutipan berakhir?” tanggap Sirtjo lewat kolom komentar.

Tapi, menurut hemat saya, “Ini bisa diakali dengan menggunakan kutipan dua koma [“].” Meski tanggapan saya ini setahunan kemudian baru dijawab oleh Sirtjo sendiri. 

Sirtjo Koolhof menjawabnya langsung ketika berkesempatan ke Kampung Buku, 21 Mei lalu. Kampung Buku adalah perpustakaan rintisan Penerbit Ininnawa yang kini dipakai sebagai ruang bersama beragam individu dan komunitas. Sirtjo lalu membawakan I Lagaligo II (Lephas, 2000) untuk Kampung Buku. Pada kunjungan pekan sebelumnya lelaki jangkung ini tidak mendapati I Lagaligo II di perpustakaan ini.

Sirtjo, lelaki kelahiran Amsterdam 1957, menjawab tulisan sederhana saya di link ini dengan mengomentari tulisan yang saya rilis juga di weblog Penerbit Ininnawa. Komentar Sirtjo itu kemudian saya siar juga di sini agar bisa lebih meluas penyiaran tanggapan itu. Apalagi, Sirtjo mengaku lebih banyak menggunakan surat elektronik. “Saya pernah bikin akun Facebook tapi kemudian saya tidak pernah buka lagi,” katanya, tertawa.

Sirtjo Koolhof menyelesaikan studinya di Universitas Leiden, Jurusan Bahasa dan Budaya Oseania dan Asia Tenggara. Sempat menjadi Kepala Perpustakaan KITLV di Leiden, lalu menjabat kepala redaksi Indonesia, Radio Netherlands Worldwide, Hilversum. Kini, ia bebas bepergian karena tak bertugas di mana pun.[]

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP