Sabtu, Juli 09, 2016

Mendayung di Antara Dua Generasi

BARU sekali itu Kiran menolak tawaran saya. Beberapa kali, sambil menjemput Isobel, anak saya, bocah lima tahun ini biasanya menurut dan mau naik sadel motor saya lalu memboncengnya pulang. “Adek Bro”, begitu saya biasa memanggil anak ini, hari itu menggeleng tegas. Dua hari kemudian saya tahu sebabnya.

Adek Bro ketakutan rupanya. Dia ogah bergaul dengan orang dewasa. Jangankan menerima tawaran hantaran dari saya, guru-guru di TK tempatnya bersekolah pun enggan lagi dia salami. Begitu waktu pulang tiba, ia menunggu sebentar ibunya datang menjemput dan langsung memeluknya, tanpa mencium tangan guru-guru di TK. Beberapa pria dewasa yang biasa ditemani Adek Bro main di rumahnya, juga mulai gagal mengajaknya bermain.

Kata orangtua Kiran, perubahan sikap Kiran terjadi drastis setelah telinga Kiran dijewer guru les. Ibunya melihat langsung kejadian itu di ruang tamunya. Les dihentikan hari itu juga. “Padahal waktu Riran (kakak Kiran) baik-baik ji,” kata Yayu, ibu Kiran.

Kiran sejak pertengahan tahun 2015 jadi teman sekolah Isobel. Sebelum bersekolah di TK yang sama, mereka biasa main bersama di rumah Kiran, yang disulap menjadi kafe bernama Kedai Pojok Adhyaksa, tempat saya kerap menyeruput kopi. Makin sering lagi saya di situ menunggu waktu menjemput Isobel karena jarak rumah Kiran seratusan meter saja dari sekolah.

Berselang berapa hari saja setelah saya mendengar kabar Kiran, Isobel berencana berhenti sekolah. Ini sama sekali bukan soal solidaritas-para-bocah. Isobel memang sudah malas-malasan sejak tiga bulan sebelumnya. “Ada anak nakal di sekolah suka memukul,” katanya, “mau sekolah sama Mami saja. Home schooling!” Dia memang sering beberapa kali dengar istilah ini dalam obrolan kami.

Keputusan Isobel ingin berhenti sekolah didahului dengan membujuk ibunya selama seminggu.

“Mami mau dipanggil apa? Bunda atau Bu Guru atau apa?” 

“Panggil ‘Mami’ saja seperti biasa.”

“Wah, tidak enak didengar kalau (lagi) sekolah panggilnya Mami.”

“Panggil Cikgu Mami saja!”

“Kursinya di mana?” 

“Itu kursi dan meja makan. Kita singkirkan makanannya terus kita belajar di situ.” 

Isobel tertawa senang.

Tapi beberapa waktu saja rencana ini berjalan. Isobel akhirnya ke sekolah lagi. Kami membujuknya karena mengingatkan kalau masih ada “teman-temannya yang baik”, ditambah ia harus mengambil rapornya di semester pertengahan yang sudah sangat dekat. 

Isobel selalu menyebut dua nama murid laki-laki nakal di sekolah. Sebut saja Si Pe dan Si Ge. Dua anak ini punya tingkah berbeda tingkat. Si Pe yang paling sering mengganggu Isobel. Alasannya, “Dia cantik,” kata Si Pe di satu waktu—setelah ‘diinterogasi’ oleh seorang guru. Si Pe juga berstatus siswa TK dengan durasi di sekolah cukup panjang. Selesai belajar di TK, ia ganti baju, dan melanjutkan masa penitipannya di tempat penitipan anak yang gedungnya menyatu dengan TK. Sedang Si Ge lebih berlagak “jagoan sekolah”. Mungkin karena orangtua Si Ge berkantor di kompleks tempat TK Ceria berdiri, begitu kata cerita yang beredar. 

Sebenarnya sejak minggu pertama Isobel menemui kenyataan-kenyataan “luar-rumah” seperti itu. Tapi kelihatannya itu bisa ditoleransi oleh Isobel sebab eforia mendapat teman baru, meski tetap mengadukan ulah beberapa temannya. Ini berbeda perlakuan kami padanya di “dalam-rumah”, yang dengan usaha sangat keras, kami tidak melakukan atau menunjukkan hal-hal yang berkaitan dengan kekerasan.

Saya sebagai orangtuanya tentu cemas juga. Sampai di satu kesempatan menjemput, Isobel memaksa saya untuk bicara pada seorang teman sekolahnya. Bahkan Isobel memanggil temannya itu meski saya belum menyuruhnya. Saya lupa nama anak perempuan itu. Jelasnya, saya sempat berbincang sebentar. Ia tak sungkan pada saya. Gadis cilik itu bercerita bahwa orangtuanya bekerja. Ia dijemput sore, setelah menghabiskan waktu bermainnya di TPA di gedung yang sama dengan TK. Saya menasihatinya agar tidak kasar pada teman-temannya, termasuk Isobel. “Anak yang suka memukul akan main sendirian. Tidak ada yang mau berteman,” kata saya menasihati. 

***

Apakah masing-masing pengalaman dua anak yang kerap bermain bersama ini kebetulan belaka? Saya seyakin-yakinnya bilang: tidak. Teman saya, Ammang, pun mengkhawatirkan nasib pendidikan anak mereka. Ammang malah sudah “merumahkan” anaknya. Anak keduanya, Faris, pernah pulang sendiri dari sekolah. Menurut pekerja media ini, mungkin ketika itu Faris lupa bawa alat renang. Karena takut kena marah guru, dia pulang ke rumah sendirian. Untungnya, klinik tempat ibunya bekerja cukup dekat. Salah seorang petugas di sana mengenali bocah ini kala berjalan sendiri.

Kesamaan pengalaman saya dengan anak teman itu sepertinya menunjukkan pola pendidikan yang masih sama di sekitar kita. Ini justru berbeda dengan proyeksi saya sebagai orangtua bahwa pendidikan harus membebaskan peserta didiknya dari pola yang lama. Harapan kita tentang pendidikan anak mungkin banyak bertumpu pada ketakutan-ketakutan. Kenangan buruk seperti jagoan sekolah, “takut kena marah”, atau hukuman guru yang menanti, sebagaimana anak teman saya itu, kemudian teringat lagi. 

Wajar saja kalau Isobel selalu terbahak-bahak bila menceritakan bagaimana Si Pe “berak di celana”, meski itu ia dituturkan berkali-kali. Mungkin ia heran kalau anak seusianya bisa begitu—dengan membandingkan dirinya yang sejak usia tiga tahun sudah diajari keterampilan hidup seperti buang hajat dan bebersih sendiri. (Saya ada hari itu dan menyaksikan pakaian ibu gurunya basah karena, katanya, harus mandikan ulang Si Pe, yang kemudian bermain dengan baju singlet saja.) Bisa juga tawa Isobel itu semacam “ruang balas dendam”-nya atas perlakuan Si Pe selama di sekolah.

Belakangan pun Si Ge berubah. Itu juga setelah istri saya mengirim SMS ke guru agar menegur keras kelakuan dua anak laki-laki itu. Pesan elektronik itu sebenarnya balasan undangan pengambilan rapor Isobel dari sekolah. Dari rumah kami sepakat untuk bincangkan lebih serius bagaimana guru bersikap pada anak-anak. Sekalian menyampaikan apa yang kami pikirkan tentang pendidikan anak. 

Saya dan istri mengantar Isobel ke sekolah. Kami berencana bertemu wali kelasnya. Kami mengobrolkan banyak hal dengan gurunya. Di zaman kami bersekolah, guru dan pihak sekolah nyaris seperti dewa. Pola belajar-mengajar yang diterapkan di sekolah tidak terganggu gugat. Tapi sekolah sekarang beda masa. Kami ‘menitip’ Isobel di sana untuk belajar memanusiakan—bukan mengejar harapan-harapan orangtua kebanyakan atau sekadar menitipkannya. Kami usulkan kemudian bahwa Isobel pindah kelas agar peluang bertemu dengan dua anak usil itu bisa dikurangi. Dengan terpaksa, Isobel meninggalkan wali kelasnya yang, saya kira, ia sangat sukai. 

Dalam obrolan setengah jam itu, kami juga membicarakan pola pendidikan yang kami percayai bisa menumbuhkan anak lebih sehat dengan memberi porsi bermain jauh lebih banyak. Sehingga kewajiban-kewajiban “anak harus bisa membaca setamat TK” bukanlah sesuatu yang harus dikejar oleh orangtua. Kami percaya bahwa anak akan mempelajari sendiri apa yang mereka butuhkan. Isobel lalu membuktikannya dengan belajar dan bisa membaca sendiri ketika di rumah.
Isobel belajar membaca sendiri di rumah. (Foto: Anwar Jimpe Rachman)
Wali kelasnya setuju dengan apa yang kami yakini. Bahkan sistem yang kami obrolkan hari itu sebenarnya sejalan dengan pola yang berupaya diterapkan di sekolah itu. Sayangnya adalah, kata Wali Kelas, orangtua meminta anak mereka, misalnya, sudah bisa membaca sekeluar dari sekolah itu. Ia dan rekan pengajarnya jelas berusaha juga penuhi permintaan itu. Tidak mengherankan kalau ada sesi les yang diberikan oleh guru di sana untuk anak-anak. 

Apa daya, jalan lain yang kami angankan, kalah dari yang orang tua lainnya inginkan. 

Namun bukan berarti peluang bagi harapan kami benar-benar dinihilkan. Kami hanya berusaha bernegosiasi dengan cara apa pun terhadap sekolah. Salah satunya adalah soal musik pengiring senam mereka tiap Jumat. Protes kami tentang musik dangdut yang dipakai sebagai pengiring diteruskan Isobel langsung ke gurunya. Ia memang cukup asertif untuk itu. Syukurlah, minggu berikut, lagunya sudah berubah jadi lagu kanak-kanak.

Kami terima rapor Isobel. Tidak ada angka-angka. Cuma deretan penjelasan di bagian mana Isobel menonjol dan bagaimana gadis cilik ini selama bertaman kanak-kanak setengah tahun pertama. Salah satu bagian yang “luar biasa” adalah bagian kehadiran. Tercatat di situ kalau ia sering absen tanpa penjelasan.

Begitu semester berjalan, Isobel malas berangkat sekolah lagi. Catatan ketidakhadirannya bakal bertambah lagi. Dari informasi yang dibebernya, siklus kekerasan berulang lagi. Kejadian-kejadian yang sama terjadi lagi, tentang teman-temannya yang laki-laki suka memukul. Apa daya, cara bocah laki-laki “menggoda” anak perempuan masih seperti itu.

Tapi ada satu soal yang disebutnya baru, yakni soal bekal makanan. Kami coba mengajari bahwa sangu yang dibawanya juga untuk dibagi ke temannya. Kami dengar dari Isobel sendiri kalau siswa dibiasakan berbagi makanan dengan teman atau gurunya. Sistemnya seperti potluck. Tapi belakangan ini agak beda. “Ada temanku suka main bombe’-bombe’. Dia tidak suka berbagi. Dia cuma mau minta makanku,” kata Isobel.

Saya kemudian memaklumi soal ini, setelah Erlan, teman saya, memiliki pengalaman yang nyaris sama. Ia melihat bagaimana orang tua cenderung mengabaikan bekal makanan anak mereka. Akibatnya, bekal makanan anaknya yang disiapkan Didi, istrinya, jadi “rebutan” siswa lainnya di sekolah. 

“Kadang anak saya tidak sampai makan karena sudah dibagi semua ke teman-temannya. Katanya enak. Padahal, apa susahnya sediakan waktu sedikit buat siapkan sarapan dan bekal anakmu. Kalau mau lihat kemampuan ekonomi mereka, saya kira hanya anak saya yang diantar pakai motor; (yang) lainnya (diantar) mobil,” kata Erlan, seperti mencak-mencak. 

Jadi sampai hari ini dan berdasarkan cerita-cerita tadi, saya masih yakin, sumber kekerasan (termasuk mengesampingkan kebutuhan anak) yang saya dengar dan temui di sekolah Isobel sumbernya nyaris sama: keluarga. Bisa jadi karena orangtua memandang sekolah semata sebagai tempat menitip anak, bahkan sebagai “mesin produksi” kebanggaan mereka. Guru-guru yang memberi les, penyebab waktu bermain sang anak menjadi minim, lantaran ekspektasi keluarga yang berlebihan. Inginnya anak mereka jadi anak hebat. Mereka memandang anak sebagai “produk” kebanggaan dan simbol keberhasilan mereka menjadi orangtua. Anak itu, karenanya, harus menjadi bisa membaca, bisa Matematika, atau mampu bercasciscus dalam Bahasa Inggris. Siswa yang memukul teman karena kekecewaan tentang orangtua mereka yang menghabiskan waktu bekerja dan minim interaksi dengan sang anak.

Sementara pula, cara mengajar guru (sekolah maupun les privat) atau orang tua mendidik belum menemukan bentuk ideal. Mungkin ini karena cara mendidik masih sebatas warisan yang mereka peroleh guru masa sebelumnya, cara zaman Orde Baru, yakni “kekerasan dibangun selalu berdalih demi kebaikan”. Ini sebuah anutan berpikir rezim yang mengandalkan kekerasan untuk mengonstruksi kharisma dan melanggengkan kekuasaan. (Zulhair: 2016)

Orang tua, guru, atau siapa pun kita, tampaknya harus kembali belajar menghadapi generasi berikutnya, termasuk cara kita mendidik di sekolah dan di rumah. Perlu siasat bagiamana mendayung di antara dua generasi dan dua ranah, yakni sekolah dan rumah. Kalau tidak, kita bisa masuk jebakan klasik nan laten yang belakangan disebut sebagai juvenoia, istilah yang diperkenalkan sosiolog David Finkelhor, perihal sindrom pengultusan satu generasi lebih unggul ketimbang generasi sebelum dan sesudahnya.[]

Bacaan pelengkap: satu tahun kebingungan 


  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP