Senin, Oktober 17, 2011

Bersempit-sempit di Workshop, Berlowong-lowong di Ruang Publik

KOTA ini berkembang jadi kota metropolis. Begitu kesimpulan Ucup usai mengitari Makassar di malam pertama kedatangannya. “Sedikit lagi seperti Jakarta!” seru Ucup.

“Lima-sepuluh tahun terakhir Makassar banyak membangun ruko,” timpal saya, sekenanya.
 
Ucup—panggilan akrab Muhammad Yusuf, bersama Wibby dan Yunan baru datang dari Bali. Ketiganya adalah anggota Komunitas Taring Padi (TP) yang bermarkas di Yogyakarta. Komunitas asal Ucup dkk merupakan lembaga seni kerakyatan. TP berulang tahun ke-13. Ketiganya menyambangi beberapa kota untuk meluncurkan buku Seni Membongkar Tirani (Lumbung Press, 2011), sebagai rangkaian ulang tahun TP. Tim TP membagi diri: Ucup dan kawan-kawan ke Bali dan Makassar, Toni Volunteero ke Sumatra. Yunan bilang, sebenarnya mereka berencana ke Timor Leste dan NTT, tapi urung karena pertimbangan penghematan biaya.

“Di sini juga nyamuknya banyak, tidak seperti Bali,” kata Ucup lagi.
 
“Makassar ini dulu rawa-rawa. Pusat perekonomian juga di sini. Mal terbesar cuma sekilo dari sini,” jelas saya.
 
“Eh, di sana ada yang lucu lho, Yun!” seru Ucup ke Yunan. Yunan dan Wibby menoleh.
 
“Opo?” tanya Yunan, dalam bahasa Jawa.
 
“Ada patung boling di persimpangan sana,” Ucup tertawa.
“Lho! Kok bisa?”
 
Foto: Anwar J Rachman
Kami terpaksa bergantian menjelaskan ‘aib’ ini. Di bilangan Panakkukang, pernah dibangun sebuah arena boling. Sebagai penanda jalan masuk arena, pemerintah memberi izin membuat patung itu. Arena itu sudah tutup, patung bolingnya masih di situ.
Ucup menggeleng, mungkin tidak percaya, mendengar alasan pembangunannya. Gelengannya makin sering ketika perbincangan kami melebar sampai ke ruang publik yang lain, seperti Lapangan Karebosi yang punya mal di bawah tanah sampai Benteng Somba Opu yang kini punya water boom, sampai intervensi partai politik ke dunia seni.
Ucup dkk menginap di Kampung Buku, yang terletak di Jalan Abdullah Daeng Sirua 192 E, Kompleks CV Dewi, Kelurahan Pandang, Panakkukang, kawasan yang jadi pusat perekonomian Makassar. Berbeda dengan TP yang berbasis di Dusun Sembungan, Bantul, Yogyakarta. Kampung Buku, perpustakaan yang dikelola sekaligus menjadi markas Tanahindie. Saya merujukkannya kepada Regina, penghubung TP yang giat mengemail dan menelepon beberapa hari menjelang persiapan acara ini meminta tolong mencari tempat tidur buat Ucup dkk. Selain Tanahindie, Penerbit Ininnawa pun berkantor dan berkegiatan di situ. “Teman-teman biasa menginap di sini kalau kepalang malas pulang atau ada tamu yang datang dari jauh. Tapi tempatnya segini saja,” jelas saya ketika jamuan minum kopi di bilik Kampung Buku.
 
Foto: Armin Hari
Begitu turun dari mobil taksi dari bandara, sebagaimana yang saya bayangkan, saya bakal bertemu pria-pria berambut sampai punggung. Hanya Wibby yang pendek. Kedua tangan Wibby berajah. Saya malah mengira, ketika menjabat tangan Wibby, saya sedang menyalami Jerinx, drummer Superman Is Dead. Bisa jadi tidak mirip amat; tapi pernik seperti tato dan tindik di telinga Wibby mengingatkan saya pada penggebuk drum SID itu. Ucup, lelaki Lumajang, Jawa Timur, bermata bundar dengan tongkrongan yang mengingatkan saya pada seniman berkawakan, Sawung Jabo. Kulit Ucup coklat, kumis dipelihara, dan tindik peniti sebesar kelingking di telinga kirinya. Ucup dan Wibby alumni ISI Yogyakarta, kala masih berkampus di Gampingan. Sekolah Yunan lain—tamatan Fakultas Hukum di sebuah universitas di Yogyakarta. Yunan bermata sipit. Nama lengkapnya Yunanto. Saya sempat mencurigai nama Yunan hanya sebutan alias atau ‘olokan’ karena matanya yang sipit, merujuk asal-usul nenek moyang Indonesia dari Yunan, salah satu bagian dataran di China sana. Yunan membawa tas besar berisi buku Seni Membongkar Tirani dan beberapa cenderamata TP. “Kami bawa untuk tambah-tambah biaya perjalanan dan subsidi silang buat komunitas,” terang Yunan.

Malam itu, Ucup dkk berencana memajukan workshop cukil kayu, yang sedianya digelar tanggal 12 Oktober. Workshop akan berlangsung sebelum peluncuran dan diskusi buku Seni Membongkar Tirani (Lumbung Press, 2011). Mereka berencana berbagi keterampilan teknik sablon cukil kayu dengan sejumlah komunitas di Makassar pukul dua siang.
 
Foto: Armin Hari
Esoknya, serambi dan halaman Kampung Buku menjadi luas. Rak buku besar kami pindahkan, sekalian bersih-bersih, sejak pagi sampai siang.

PUKUL 14.00 Wita, para undangan berombongan berdatangan. Saya tak menyangka peserta sebanyak ini. Lima puluhan orang menyesaki Kampung Buku. Jumlah berdasarkan mereka yang mengisi daftar hadir, kendati banyak yang tidak mengisi absen—karena baru datang berombongan dengan motor atau mobil, yang harus rela mengambil tempat di gerbang atau duduk di luar saja. Sampai-sampai saya harus merelakan dua tunas bunga Lidah Mertua yang saya tanam di halaman depan. Kemungkinan besar patah. Begitu juga serai yang baru ditanam dua pekan lalu. Mungkin, pikir saya, inilah risiko yang harus ditanggung bila acara di halaman yang tak seberapa luas. Teringat hari-hari yang saya lewati menyiram tanaman itu. Aduh, bisa mati seketika terinjak orang yang bermata tidak awas. Tapi ini memang kejadian pertama. Kampung Buku sering ramai, setidaknya sebulan sekali. Tapi sejak Tanahindie menggelar layar gerobak bioskop Dewi Bulan pada awal tahun 2011, halaman itu terpelihara dan tanaman aman-aman saja karena kegiatan Dewi Bulan berpusat di jalan depan Kampung Buku.
 
Latihan penyablonan cukil kayu berlangsung di sekitaran rumpun bunga dan tanaman mulai pukul 14.00 sampai 17.40 Wita. Antusiasme dan banyaknya komunitas kampus atau luar mengikuti wokshop seperti melunasi semua perasaan dan pikiran saya tentang tanaman-tanaman tadi. Saya memperkirakan, peserta banyak dari kampus UNM, UIN, dan sekitarnya. 
Foto: Armin Hari
Foto: Darmadi
Foto: Armin Hari
Foto: Armin Hari
Sebelumnya Abba’, seorang perupa lulusan UNM, berjanji datang kendati bisa jadi telat.
“Saya tidak langsung ke Kampung Buku. Saya harus jemput teman-teman di Kasumba (komunitas seni di bilangan perbatasan Makassar-Gowa) dan UNM untuk mengantar karena mereka tidak tahu di mana Kampung Buku,” kata Abba, semalam Semalam workshop. Abba ini, bila tiba jadwal pemutaran film Gerobak Bioskop Dewi Bulan, sangat rajin membawa barang kerajian dan lukisannya buat dijual atau sekadar dipajang. 

 
Abba menepati janji. Dengan skuter tuanya, Abba menggiring rombongan dari UNM. Ada Rimba, yang dikenal sebagai seniman air brush, Ical dan kawan-kawan. Rimba adalah objek penelitian Abba saat menyelesaikan tugas akhirnya di jurusan Seni Rupa UNM. Abba, mahasiswa angkatan 2003 itu mengangkat karya air brush Rimba di kanvas. “Biasanya air brush itu di motor,” jelas Abba, dalam kesempatan lain. Kedai Buku Jenny juga menggelar lapak buku-bukunya. Titin dan teman-teman Infoshop Linonipi juga datang, meski terlambat. Mereka duduk di emperan luar Kampung Buku. Linonipi membawa zine, rekaman lagu dari komunitas punk. Wibby sempat membeli rekaman tersebut. Bram, kawan lama yang aktif di LBH, juga datang terlambat, sedang kawan-kawannya dari UKM Seni UMI hadir lebih dulu. Bram menyampaikan via sms kalau sedang hadir dalam sebuah persidangan. Hari itu, belum selesai workshop, Bram lagi-lagi tergesa-gesa. “Ada teman mahasiswa ditangkap polisi.”
 
Sayangnya, plat MDF (multipleks yang mengandung serbuk kayu) yang dibagikan Ucup cuma dua puluh lembar. Peserta workshop yang tidak kebagian tetap menunggui kawan dan peserta lain menyelesaikan cukilan. Seraya menunggu selesai cukilan peserta, Ucup, Wibby, dan Yunan meminta peserta lain yang membawa kaos bila ingin disablonkan materi cukilan yang sudah mereka siapkan dari Yogyakarta.
 
Pelatihan berjalan hingga pukul 17.40 Wita. Acara berlanjut dengan pemutaran film Indonesian Art, Activism, Rock n’ Roll dan Bercermin dalam Lumpur—dua film dokumenter tentang TP dan kegiatannya menyuarakan hak-hak warga yang tergenang semburan lumpur Lapindo.
Hanya beberapa saat usai pemutaran rampung, Wibby mengambil gitar, Yunan memegang jimbe, dan Ucup menunggu keduanya bersiap. Mereka hendak menyanyikan lagu-lagu yang dipakai TP sebagai materi pendukung dalam berkesenian. Untuk penampilan itu, Ucup dkk mendapat ‘hadiah’ ballo, tuak khas Makassar. Entah siapa yang bawa. Yang pasti, sejak baru tiba, Ucup bercerita mereka kenyang arak Bali saat peluncuran di Pulau Dewata.
 
Usai bernyanyi dan mendapat tepuk gemuruh dari peserta workshop, diskusi peluncuran buku Seni Membongkar Tirani pun digelar.

Ruang Publik dan Berjaringan 

Foto: Armin Hari
PELUNCURAN buku Seni Membongkar Tirani berlangsung setelah separuh peserta sudah pulang. Beberapa aktivis seni dari UNM tinggal, termasuk Abba cs, juga kawan-kawan yang bergiat di Infoshop Linonipi. Penekanan obrolan peluncuran tak lain dunia seni yang dikembangkan Taring Padi menjadi pijakan membicarakan perjalanan dunia berkesenian di Makassar. Dua pembicara dalam obrolan adalah Darmadi, alumni jurusan Komunikasi Unhas yang bergiat di Tanahindie dan Ucup sendiri.
 
Ucup membuka diskusi peluncuran. Ia mengatakan buku Seni Membongkar Tirani sebagai pintu masuk dialog bagaimana berjaringan selama 13 tahun. Ucup juga sempat bilang kalau ia bangga karena telah berbuat sesuatu, tentang isi kepala dan lama bekerja. Buku itu, kata Ucup, sempat tertunda pencetakannya selama tiga tahun karena biaya cetak dibutuhkan TP sangat besar.
 
Buku Seni Membongkar Tirani memang menyita perhatian: 338 halaman, 24.3 cm x 19.5 cm, kertas bulky 90 gram—tebal untuk ukuran buku biasa. Sampulnya berlapis kain, hardcover atau sampul tebal, jilidan dijahit, penuh gambar dengan warna berpiksel besar (yang dari koleksi TP dan jaringannya). Informasi tambahan dari Yunan bahwa sampul buku beroplah 1000 eksemplar itu dicetak manual. Ya dicetak sablon cukilan kayu. Sayang, harganya Rp250.000/eksemplar.
“Kami akui itu mahal. Harga itu kami diskusikan selama tiga hari di Taring Padi. Yang kami pertimbangkan, keterbacaan. Namun ada pula pertimbangan lain, yakni buku ini merupakan dokumentasi dari perjalanan Taring Padi selama 13 tahun,” terang Ucup.
 
Foto: Armin Hari
Buku Seni Membongkar Tirani berisi tiga belas tulisan dari banyak kalangan terkait karya-karya dan perjuangan TP selama ini. Tidak ada penulis dari internal TP. Semua ‘orang luar’ yang melihat TP dari dekat. Buku ini dilengkapi gambar-gambar kegiatan dan karya-karya TP. Ditambah keterangan di bagian kolofon bahwa ‘karya ini (maksudnya Seni Membongkar Tirani) menerapkan lisensi Creative Commons untuk keperluan nonkomersial’. Artinya? Lembaga Budaya Kerakyatan Taring Padi yang berdiri pada 1998 itu membolehkan penggandaan karya-karya dalam buku itu. Bahkan bila diperlukan, kata Ucup, ia siap mengirimkan file gambarnya bila memang diperlukan, seperti TP lakukan beberapa waktu lalu dengan InsistPress yang berencana menjadikan salah satu karya TP sebagai sampul buku.
 
Ucup memberi gambaran besar bahwa TP awal terbentuk hanya ‘main-main’. Ada orang berkebutuhan yang sama dan bervisi yang sama. Untuk membuat karya, mereka menempuh cara-cara komunal, dengan membayar iuran untuk membuat karya bersama. Karya-karya pertama TP adalah Rukun Agawe Sentosa, Bangun Nusantara Tanpa Darah, Semua Bersaudara, Senjata Tidak Menyelesaikan Masalah, dan Perang Hanya Mempersulit Keadaan, seri poster yang dibuat pada 1999 silam, merespons perpecahan anak bangsa lantaran kran demokrasi terbuka. Kerusuhan berbau SARA merebak. TP merebut ruang publik untuk menyampaikan pesan-pesan perdamaian yang mereka buatdalam bentuk poster maupun zine atau media pekabaran lain.

Tanpa mengecilkan upaya para seniman di Makassar selama ini, namun menyebar kesan bahwa para perupa di Makassar ‘jalan di tempat’. Menurut Darmadi, itu lantaran lebih banyak ‘mengabdi’ pada kekuasaan; dengan demikian cenderung berkarya berdasarkan pesanan. Wartawan Koran Tempo Makassar, Ichsan Amin, juga membeberkan pembacaan yang seragam.
 
 “Seniman Makassar tidak berorientasi ideologis. Mereka masih jalan sendiri-sendiri. Hadirnya Taring Padi membawa perbandingan yang baru. Ayo gabungkan banyak hal!” kata Ichsan, seperti memberi semangat kepada yang hadir.
 
Timpalan lalu datang dari Ical, seorang seniman dari kalangan UNM. “Ya, susah juga kalau tidak menjual karya, kita mau makan apa,” jelas Ical.
 
Ucup menegaskan: merebut ruang publik adalah kewajiban. “Untuk konteks Makassar, ruang-ruang semacam itu, saya perhatikan sekilas, masih sangat luas. Itu yang perlu teman-teman di Makassar rebut bersama. Jalan adalah ‘panggung’ teman-teman. Di situ bisa ‘memajang’ karya agar orang lain bisa mengenal karya teman-teman. Jadi kalau ditanya mana seniman di Makassar, pembacaan dilakukan lewat jalan tadi,” begitu Ucup, yang juga salah seorang kurator gambar Seni Membongkar Tirani, menyarankan.
 
Ucup katakan demikian sebab ia melihat begitu banyak tembok yang masih kosong. “Ruang publik semacam di sini (Tanahindie) bisa digalakkan untuk menyatukan visi teman-teman di Makassar. Terbitan-terbitan juga bisa menjadi tempat memajang karya teman-teman, mulai dari tulisan, karya lukis, dan ragam karya yang lain. Tidak perlu yang mewah. Fotokopi sudah cukup. Yang penting tersebar. Itu TP lakukan waktu menerbitkan Terompet Rakyat (media berkala TP). Semua jalan itu memungkinkan karya teman-teman bisa terbaca dan dinilai kawan yang lain,” tambah Ucup.
 
Dengan demikian, jaringan adalah hal yang niscaya. Menurut Ucup, memang payah bila seniman jalan sendiri. Pasti kalah. Ucup menceritakan, ketika ia bergabung dalam komunitas (baca: TP), ada kawan yang lain menguasai jaringan-jaringan. Dengan berkomunitas, cetus Ucup, seniman bisa lebih dinamis karena mengalami proses bertukar pikiran dengan seniman atau kalangan lain.
 
Proses penerbitan Seni Membongkar Tirani bisa menjadi contoh bagus untuk menjelaskan bagaimana bekerja berjejaring. Dalam sebuah perbincangan sehari sebelum peluncuran, Ucup mengatakan bahwa penyusunan buku yang memuat karya-karya TP selama 13 tahun bukan pekerjaan gampang. Pasalnya, salah satu kelemahan terbesar TP tak lain pengarsipan. Banyak karya dan foto-foto justru dimiliki oleh para sahabat TP yang bersebaran di dalam negeri maupun di luar negeri. Malah seniman-seniman TP tidak punya. “Waktu mau diterbitkan, kami harus menghubungi satu per satu teman-teman yang punya dokumentasi karya atau dokumentasi kegiatan TP. Syukurlah mereka kirim ke TP,” terang Ucup.
 
Peserta diskusi lainnya, Armin, membeberkan soal lain pula. Perkubuan di kalangan seniman sendiri memandekkan kesenian di Makassar. Armin memberi contoh, perseteruan yang terjadi tidak melahirkan karya. Lebih banyak menciptakan gosip. “Harusnya karya dibalas karya!” cetus Armin.
Foto: Darmadi

Menanggapi soal karya pesanan, Ucup mengatakan tidak ada salahnya seniman menerima pesanan. Tapi dengan catatan, itu tidak mendikte seniman yang bersangkutan. Seniman tetap harus bebas berkarya. Bagaimana pun, kata Ucup, musuh kita bersama adalah imprealisme. Ucup mencontohkan bagaimana TP tetap menerima pesanan, dengan catatan tidak menyalahi ‘koridor’.
 
Pernyataan Ucup tadi disambut Eka, relawan Linonipi tentang logo Ford Foundation (FF) di sampul belakang buku Seni Membongkar Tirani.
 
“FF yang membiayai penerbitan Seni Membongkar Tirani berkat teman kami, Heidi. Untuk soal ini, kami melakukan pembicaraan yang panjang dan rumit. Pikiran kami, ide penerbitan buku ini sudah ada sejak lima tahun lalu. Kalau tertunda, kapan bisa terbitnya. Sementara pula TP maunya terbit seperti rencana semula, dokumentasi karya-karya TP. TP mensyaratkan bila FF membiayai penerbitan Seni Membongkar Tirani, selama tidak ikut campur dalam proses penyusunan dan penerbitan,” papar Ucup. Heidi yang disebut Ucup itu tak lain Heidi Arbuckle, mantan istri Toni Volunteero. Heidi juga pernah meneliti TP kala menyusun tesis berjudul Taring Padi and the Politics of Radical Cultural Practice in Contemporary Indonesia.
 
Kembali ke soal bagaimana seniman bersiasat, Ucup menyarankan agar para seniman di Makassar tetap membuat karya. Bagaimana pun, karya adalah investasi. “Makassar itu potensial karena banyak isu lokal yang belum dimunculkan. Tugas kita adalah membuat isu kontekstual dengan wacana kesenian sekarang,” kata Ucup.

Catatan Kecil perihal Pengalaman Bersama 

HAL yang mengharukan usai acara itu adalah beberapa peserta yang masih tinggal ikut merapikan Kampung Buku. Mereka membersihkan dan menyapu sampah yang terserak. Setidaknya, kebersamaan mencuat saat itu. Ada sebuah ruang, meski kecil, tampaknya, mereka ingin jaga bersama. Semoga dari cara memandang seperti inilah dunia seni (dalam arti yang luas) di Makassar bisa dirawat bersama. Ruang memang kelihatannya harus diselenggarakan bersama—kendati oleh segelintir orang saja. Mereka, setidaknya, percaya bahwa semua harus dimulai dari tindakan kecil saja.
 
Saya jadi ingat cerita Ucup dan kawan-kawan ketika TP mendampingi masyakarat Porong yang terkena lumpur Lapindo. TP membuat malam amal dengan pameran karya, menjual cenderamata, hingga menggambar tato selama tiga malam. Dalam acara ini, TP berhasil mengumpulkan sekisar Rp30 juta. Pada malam amal seperti itu, begitu banyak kalangan yang datang menawarkan bantuan, termasuk tukang parkir. Para tukang parkir menawarkan diri untuk menyisihkan donasi buat TP Rp500/kendaraan!
 
Saya jadi takjub pada jaringan TP yang sudah sampai ke lapisan masyarakat yang tak pernah mendapat perhitungan. “Pengalaman bareng itu sulit didapat di tempat lain,” ujar Ucup.
 
Saya berani taruhan: Ucup benar!

Jumat, Oktober 14, 2011

Mempelajari Makassar dari Tiga Penjuru

foto: Anwar J Rachman
PADA AKHIR PEKAN awal Oktober 2011, saya mendatangi Daeng Serang Dakko, master gendang Sulawesi Selatan, di Benteng Somba Opu. Esok siangnya saya bersama Surahman Ahmad, yang akrab dipanggil Abba’, di studionya di kawasan Borong, Panakkukang. Malamnya saya ke kedai buku Jenny, di Kompleks Wesabbe, kawasan Tamalanrea.
 
Baik, saya mulai dari Daeng Serang Dakko. Saya mengenalnya lewat Calling Back the Spirit, buku terbitan Oxford University Press yang tersiar awal dekade 2000-an, karya etnomusikolog dari Amerika Serikat, Anderson Sutton. Daeng Serang memimpin Sanggar Alam, yang setiap Sabtu dan Minggu sore berlatih. Pada Sabtu itu, saya di sana bersama Sigit cs (kawan dari Jakarta yang meliput kegiatan kreatif di Makassar), serta Tika yang ikut latihan menari di sanggar yang terletak di depan rumah adat Toraja Kompleks Benteng Somba Opu itu.
 
Untuk buku Pak Andy, sapaan akrab Anderson Sutton, pula saya datang menemui Daeng Serang. Saya mau meminta izin mengambil gambar Daeng Serang demi melengkapi buku Calling, yang sudah diindonesiakan oleh Penerbit Ininnawa. Sampai tulisan ini saya susun, Calling dalam tahap penyuntingan. Kesepakatan akhir saya dengan Daeng Serang, pekan depannya ia meminta saya datang lagi, sekalian mengobrol panjang.

Daeng Serang merupakan salah seorang maestro kesenian Sulawesi Selatan yang disebut oleh Pak Andy dalam Calling. Beberapa nama dalam buku ini semisal Mak Coppong (maestro tari magis, Pakkarena), Bu Nani Sapada (pionir pemanggungan tari etnik-etnik di Sulawesi Selatan), dan Siradjuddin Daeng Battang (maestro keso’-keso’, rebab Makassar), sudah menghadap Sang Pencipta. Maklum penelitian itu Pak Andy lakukan pada paruh awal 1990-an.
 
Umur Daeng Serang, menurut pengakuannya, sudah 72 tahun. Tapi ia masih sigap dan cekatan. Daeng Serang memutar kaset dari sebuah tape recorder ber-sound system tunggal dalam latihan menari sore itu. Sesekali Daeng Serang menabuh gendangnya mengikuti irama yang mengalun dari kaset lalu menggebuk berimprovisasi dengan gendang besar yang konon ia sering pakai dalam acara resmi pemerintah itu.
 
Sembilan penari berlatih di sanggar Alam. Ada dari kalangan biasa. Banyak juga dari kalangan mahasiswa seperti teman saya, Tika, dan seorang mahasiswa Sastra Inggris UNM, Eva. “Sebenarnya ada UKM di kampus, tapi bagi saya tidak memadai. Makanya saya ke sini belajar,” ujar Eva, di sela latihan.
foto: Anwar J Rachman

Daeng Serang menutup pertemuan itu dengan menunjukkan tulisan di oblong hitam yang ia pakai: Seni Budaya dan Tradisi Tidak Bisa Dinilai Uang, Tetapi dengan “Kepuasan”. “Kita harus melakukan sesuatu dengan ikhlas, tanpa harus diimingi duit. Untuk kepuasan batin. Ya kalau sudah ahli, pasti uang yang mencarimu,” pesan Daeng Serang, ingin menegaskan pesan dari kaosnya.
 
Daeng Serang kerap mendapat undangan tampil, mulai dari acara keluarga kelahiran-perkawinan, festival kebudayaan, acara resmi pemerintah kota-provinsi-pusat, sampai undangan tampil dalam perayaan ulang tahun Raja Thailand. Ketika menjelang tsunami melanda Aceh, termasuk Negeri Gajah ini, Daeng Serang berada di Thailand.
 
Sehari menjelang tsunami, Daeng Serang dalam keadaan antara tidur dan terjaga, mendengar suara. Sang suara yang menyuruhnya pergi dari negeri itu. Daeng Serang seperti orang yang bermimpi berjalan. Ia ikut saja apa yang dikatakan suara itu. Daeng Serang mengajak beberapa kawan untuk pulang. Sesampai di Makassar, ia menyaksikan Aceh diterjang gelombang raksasa lalu menyapu kawasan lain, termasuk Thailand.
 
Kunjungan saya berikutnya ke Abba’. Dia mantan mahasiswa jurusan seni rupa di UNM, angkatan 2003. Lelaki ini berkulit coklat, bertubuh atletis. Matanya bulat, seperti ingin menelan dunia. Hari itu Abba’ terserang flu. Tapi senyum tak pernah lepas wajah lelaki dari Pajalele, Pinrang ini, sebagaimana hari-hari biasa.
 
Galeri Abba terletak di lantai dua sebuah kos-kosan, di sekitaran jembatan Borong. Di belakang rumah ini menghampar sawah. Pandangan tak berpenghalang sampai ke cerobong PLTU Tello yang mengeluarkan asap setiap hari.
 
Di dalam galeri, terpajang karya lukisan Abba’, yang sebagian besarnya bertema alam dan manusia Sulawesi Selatan. Beberapa juga jelas mengambil ikon Sulawesi Selatan, semacam pa’raga, rumah adat Bugis dan Makassar, tanduk kerbau (ikon Toraja), sampai sabung ayam.
Akhir-akhir ini Abba’ bergadang menyelesaikan kerajinan dari barang bekas. Salah satu dinas di Makassar mengundangnnya berpameran di Gorontalo. Jangan heran bila sempat ke sana, Anda akan temui begitu banyak barang bekas di bagian tengah galeri Abba Art Studio. Hari itu studio Abba penuh dengan tempurung buah maja. Abba mengubahnya menjadi asbakdengan mengukir dan mengecatnya.
 
Di sela kesibukannya, Abba menunjukkan pada saya iklan tempo dulu vespa, jenis skuter yang selalu Abba tunggangi bila bepergian. Di lantai satu kos-kosan tersebut, terparkir sebuah vespa hijau bernomor plat 7460 NA, yang sepintas terbaca “JAGONA”.
 
Tidak semua lukisan Abba’ ada di galeri. “Beberapa saya titip di kafe di perbatasan Makassar Gowa. Masih ada juga di Trans Studio. Belum saya ambil karena baru habis pameran dengan Zainal Beta,” terang Abba’. Zainal Beta dikenal publik Makassar sebagai pelukis tanah liat.
Abba’ kerap menitipkan lukisannya, sebagai cara ia mengenalkan karya ke khalayak. Kerap pula Abba pamerkan karena even kecil. Abba’ pernah menitipkan beberapa lukisannya untuk dipajang dalam rangkaian gerobak bioskop Dewi Bulan, program bulanan pemutaran film ala layar tancap besutan Tanahindie dan ruangrupa, di Kampung Buku, Kompleks CV Dewi Panakkukang.
 
Malam usai berkunjung ke Abba’ Art Studio, saya mengunjungi sebuah Kedai Buku Jenny. Kedai buku ini baru dirintis. Para perintisnya sekumpulan mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Hasanuddin. Mereka membuat dan merakit raknya dari bambu, mengerjakannya hingga larut malam. Sampai beberapa di antaranya tertidur lekas kendati jam baru menunjuk pukul 10.00 malam. Mereka menjual buku, menyablon kaos dan memasarkannya sendiri. Semuanya mereka lakukan di kedai itu. Mereka mengobrol dan bernyanyi.
 
Saya selalu merasa beruntung bila sempat datang ke orang-orang atau komunitas seperti ini. Selalu ada semangat yang kuat terpancar dari mereka. Saya belajar dari mereka, menyerap semangat itu. Dari percakapan dengan mereka, meski tersirat, bahwa mereka tanpa henti merajut mimpi yang mereka harapkan terjadi. Mereka tak pernah jauh dari diri mereka—berdaya pikir dan berdaya tahan untuk segala yang mereka impikan.

Catatan ini terlalu pendek bagi mereka. Ini pun hanya menampilkan generasi dari tiga waktu yang berbeda. Daeng Serang bekerja dan bergiat sejak lama untuk kesenian tradisional Sulawesi Selatan; Abba’ generasi yang belakangan belajar tentang dunia Sulawesi Selatan mengurainya dalam lukisan dan karya-karya mereka; sementara Kedai Buku Jenny dan komunitas yang sejenis mencoba bangkit dari hal-hal lebih kekinian di kalangan terkecil yang ada di Sulawesi Selatan.
 
Dan saya sadar, ternyata[!], saya baru berkunjung ke tiga arah di kota ini. Belumlah sampai keempat penjuru mata angin. Pasti masih banyak di luar sana yang bisa menjadi tempat belajar—mementingkan tindakan dari sekadar bicara.[]

Rabu, Oktober 05, 2011

Hal-hal yang 'Mungkin' dari Aparat

Mertua saya mendapat undangan membuat kartu tanda penduduk (KTP) elektronik pada 4 Oktober lalu. Rencananya, pembuatan KTP yang konon mirip kartu ATM dan mengambil sidik jari dan sidik mata itu akan dilaksanakan di kantor tiap kecamatan.

Undangan itu berdasarkan kartu keluarga (KK). KK sendiri menjadi sandaran bagi pemerintah dalam pendataan. Setidaknya, bisa jadi, dengan daftar nama keluarga dalam kartu tersebut bisa mengecilkan kemungkinan terjadinya pengambilan ganda KTP.

Namun sayangnya, undangan yang saya ambil di kantor lurah (yang kebetulan tepat bersampingan dengan rumah yang saya tinggali) masih berdasarkan KK lama mertua saya. Saya tahu benar kalau itu KK versi lama karena nama istri saya masih ada di KK tersebut. Pada 2009 lalu, KK itu yang saya pecah jadi dua, mengeluarkan nama istri saya dan saya memasukkannya ke daftar KK keluarga kami yang baru.

Ketika dua orang petugas kelurahan mencari undangan pembuatan KTP, saya menduga jangan-jangan undangan pembuatan KTP elektronik untuk keluarga kami bisa jadi tidak ada. KK mertua saya kan versi yang lama. Sekisar 15 menit kemudian, dugaan saya benar. Petugas kelurahan sudah mengecek tiga tumpukan undangan namun hasilnya tetap tidak ada.

Keesokan harinya saya mencoba melacaknya di kantor kecamatan. Saya khawatir bila tidak mengurusnya lekas-lekas malah lebih menyulitkan saya nantinya menjelang pembuatan KTP yang rencananya sepekan setelah undangan tersebut sampai ke setiap keluarga.

Sampai di kantor kecamatan, dua petugas saya hadapi di meja piket "Tamu Harap Lapor". Mereka tampak santai setengah jam menjelang pukul dua belas.
"Pak, saya tidak mendapat undangan pembuatan KTP elektronik. Bisa saya meminta surat keterangan?" tanya saya.
"Oh, mungkin sudah didrop (dibagi) ke RW," tanggap pria berbadan besar. Si kurus yang ada di sampingnya turut menjelaskan. Memberi jawaban yang serupa.
"Saya sudah ke kelurahan. Hanya mertua saya yang dapat. Itu pun berdasarkan versi KK lama. Padahal saya sudah pecah 2009 lalu."
"Tidak bisa diurus di sini, Pak. Mesti di Kantor Catatan Sipil."
"Lho, saya ambil KK-nya di sini, Pak." Suara saya mulai meninggi.
"Mungkin KK-nya Bapak belum terdaftar waktu program KTP elektronik," jawabnya.

Saya ngeri benar dengan jawaban si badan besar yang semuanya menggunakan kata 'mungkin'. Ngeri betul dengan banyak program pemerintah yang justru menyusahkan warga. Jawaban yang serba 'mungkin' hanya menyisakan pertanyaan. Lalu, sebaiknya warga seperti saya bertanya di mana agar bisa mendapatkan kepastian? Padahal, sejatinya, kelurahan dan kecamatanlah titik pelayanan terdekat yang mudah dijangkau warga.


Sepulang dari kantor sekisar pukul 12 itu, saya hanya berdoa, semoga teman dan sahabat saya yang PNS tidak melayani orang lain layaknya orang-orang yang memberi timpalan pertanyaan saya tadi. Mereka benar-benar menyelesaikan hal kecil sampai soal-soal besar. Yang terpenting, ya Tuhan, mereka tidak memberi jawaban yang 'mungkin-mungkin' saja.

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP