Jumat, Maret 30, 2012

Para Anarkis, Berdemo Anarkistis, Perihal Anarki

Tulisan pendek ini tentang kata bahasa Indonesia 
yang paling sering dipakai setiap ada demonstrasi.
Sumber gambar: www.tribunnews.com
Apa pengertian kata itu sebenarnya? Mari mencobanya menjadi tahu lewat Kamus Inggris Oxford, kitab bahasa Inggris yang dianggap paling ‘berwibawa’ dalam menemu-tentukan pengertian sebuah kata. 

Anarchy berasal bahasa Latin di abad ke-16 yang diserap bahasa Inggris yang terdiri dua akar kata: an—tanpa dan arkhos—pemimpin atau penguasa. Kamus ini menyebut, lema ‘anarchy’ adalah kata benda yang berarti ‘situasi di dalam satu negara, sebuah organisasi dll, yang tak berpemerintahan, tatanan atau kendali (a situation in a country, an organization etc. in which there’s no government, order or control). Dari kata-kepala ini muncul [1] kata benda ‘anarchist’ (anarkis) yang bermakna ‘seseorang yang percaya bahwa hukum dan pemerintahan sesuatu yang tidak perlu (a person who believes that laws and government are not necessary) dan [2] kata keterangan ‘anarchistic’ (anarkistis) yang berarti ‘menjurus/bersifat anarki’.

Sejatinya istilah anarkisme adalah istilah filsafat politik. Tapi dalam praktik mutakhir, sebutan ini dipakai dalam cakupan yang lebih luas. “Kekuatan yang menggerakkan keseluruhan hidup manusia, yang terus-menerus menciptakan keadaan-keadaan baru, berjuang dalam keadaan apapun untuk menolak segala sesuatu yang bisa menghambat perkembangan manusia” (Emma Goldman via Daniel Hutagalung dalam Anarkisme: Perjalanan Sebuah Gerakan Perlawanan [Sean M Sheehan, 2007]).

Kata mana yang paling cocok digunakan menulis berita? Tentu saja, ‘anarkistis’ kata yang paling layak. Menulis “demonstrasi yang anarki” atau “demonstrasi yang anarkis”, maka terang benderang pula kesalahan berbahasanya.

Maaf kalau saya terlalu cerewet. Kalau Anda yang membaca ini sedang bekerja di media, berarti kita sama. Saya sehari-hari menyunting bahasa di sebuah penerbit lokal di Makassar, pekerjaan yang meniscayakan penggunaan bahan baku bernama bahasa Indonesia. Tentu saya senang bila bahasa sehari-hari saya menjadi berkembang dan memutakhir. Tapi apalah bila rupanya kata-kata tertentu, terutama serapan bahasa asing, sering menjadi taksa arti jika mendarat ke wilayah orang awam. Masak hanya ulah segelintir orang yang bekerja di media massa menjadi biang keliru tuturnya orang Indonesia?

Sekarang, ada baiknya memang sesama pengguna bahasa harus selalu saling mengingatkan ke jalan yang benar. Atau memang kita berada di zaman “untukmu bahasamu, untukku bahasaku”?[]

Senin, Maret 26, 2012

Sumatera, 90 Kilometer per Jam

Sumatera seperti surga bagi saya. Meski jalannya berute jauh dan panjang, tapi kendaraan-kendaraan besar berseliweran yang mengangkut kelapa sawit dan karet bisa menghibur selama perjalanan.
Angkutan yang 'Beautivul'. (foto: Anwar Jimpe Rachman)

Dua hari pertama di Jambi, 12-13 Maret, saya langsung mendapat suguhan empat truk yang bermasalah dengan huruf ‘p’, ‘f’, dan ‘v’. Truk pertama menerakan kata ‘oftimis’. Tidak sampai setengah jam kemudian saya berpapasan dengan truk bertulisan ‘oproad’. Keesokan harinya, di depan Rocky Taft keluaran 1994 milik Mas Hambali yang saya tumpangi melaju bus antar kota dengan tulisan ‘beautivul’. Hanya sekisar 10 menit kemudian saya bertemu mobil truk Hino yang bertulisan ‘visabilillah’.

Maaf tak sempat membawa gambar, kecuali angkutan kota ‘beautivul’. Jalan di Jambi banyak kelok. Mobil-mobil besar itu laju.

Tapi, saya beruntung dalam perjalanan ke Sumatera kali ini. Tahun 2010 lalu saya sempat menyusur Aceh, Samosir, Nias, dan Padang. Sayangnya perjalanan kala itu, saya dan Dea, seorang teman fotografer, harus terburu-buru. Waktu terlalu sempit bagi kami untuk berleha-leha. Kami mesti merambah empat daerah itu dalam waktu 14 hari, tanpa tanpa bekal di mana titik perhentian atau orang yang bisa dihubungi.

Saya menyusuri ruas-ruas jalan di Jambi, Sumatera Selatan, dan Bengkulu dengan mobil pribadi Hambali, senior satu jaringan lembaga. Mas Hambali, begitu saya memanggilnya tanda takzim, adalah mantan direktur eksekutif sebuah lembaga swadaya di Jambi. Usianya 53 tahun. Tapi stamina jangan ditanya. Saya jamin: ia menyetir tanpa menenggak obat-obatan atau ramuan penguat. Ini memang, sepertinya, berkaitan dengan semangat hidup.

“Saya sering ditegur sama teman-teman ‘kenapa masih ke lapangan’. Padahal saya memang tidak kuat kerja di belakang meja,” keluhnya, tersenyum.

Hambali merasa dirinya tipikal orang lapangan. Ia mantan direktur Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI). Jabatan itu diembannya tak berapa lama usai keluar dari pegawai negeri sipil di Dinas Pendidikan di Sumatera Utara, lima belasan tahun silam. Kala di Depdikbud Sumut, ia menjadi staf administrasi salah seorang kepala bagian. Lantaran bosan di ruangan, Hambali meminta jadi tenaga teknis. Maka, lewat sebuah surat keputusan, ia menjadi guru biologi di sebuah SMA yang baru dirintis di Sumut. Tapi ia kerap mendapat cibiran rekan sendiri lantaran sering membawa siswanya belajar di luar kelas bila jam pelajaran Biologi. Tak tahan, Hambali melamar lowongan jabatan direktur PKBI di koran. Profesi guru pun ia tinggalkan begitu diterima di lembaga tersebut.

Saya, seumur-umur, baru kali ini mendapati seorang begitu kuat menyetir mobil nyaris tanpa jeda. Kendaraan roda besar itu begitu kokoh membawa kami melaju di atas delapan puluhan kilometer per jam.

Kami berangkat pukul 13.30 WIB dari Jambi menuju Bengkulu. Pada pukul 15.30 WIB, kami istirahat makan siang di sebuah rumah makan Padang. Di batu kilometer di kanan jalan tertera: Jambi 150 KM. Duh, masih 350-an km, begitu saya membatin.

Setiba di rumah makan, Mas Hambali menyapa riang dan akrab para pelayan. Rupanya rumah makan itu langganannya sejak 15 tahun lalu. Ia lebih dulu menandaskan makanan dibanding saya. Hambali makan secukupnya; tidak menambah nasi atau lauk. Apa yang ia masukkan ke piring, sebegitu juga yang dihabiskan.

Jarak Jambi-Bengkulu lebih kurang 500 kilometer sama dengan Makassar-Sorowako (600 km). Bedanya, ratusan kilometer ini dengan saya diantar seorang supir paruh baya yang tampak tak lelah sekali pun dan tanpa supir cadangan.

Untuk sampai ke Bengkulu, kami melewati Lintas Timur, jalan trans Sumatera yang paling baru dibanding Lintas Tengah dan Lintas Barat. Jalur lintas ini menembus rawa-rawa dan membuka isolasi Provinsi Jambi. “Dua puluhan tahun lalu, kalau ke Jambi, kita harus naik pesawat. Sekarang semua sudah tembus,” terang Hambali.

Di persimpangan Lintas Timur dan Tengah, kami singgah di pompa bensin. Tapi tempat pengisian bahan bakar persinggahan kami sama di Jambi, kendaraan antri lantaran pasokan BBM sempat tersendat. Kami segera meninggalkan antrian. Kalau ada apa-apa, kata Mas Hambali, kami masih ada stok 20 liter di jeriken bak belakang mobil--bahan bakar cadangan karena selalu bepergian jauh.

Antrian BBM di setiap pompa bensin selama perjalanan. (foto: Anwar Jimpe Rachman)

Kami masuk ke jalur Lintas Tengah. Kaki Mas Hambali menekan gas lebih dalam. Sembilan puluh kilometer per jam—bahkan lebih. Jalanan lurus dan datar. Kendaraan terlihat di kejauhan. Hati tidak was-was. Beda Lintas Timur yang jalannya berkelok di daerah datar. Lintas Tengah yang lebih senyap ini dibangun tahun sekisar 1940-an oleh Belanda. Pihak Korea Selatan mengaspalnya tahun 1980-an lalu sebagai investasi pendukung usaha-usaha perkebunan kelapa sawit di kawasan ini. Di jalur ini, mobil truk pengangkut sawit dan karet lebih banyak dari kendaraan pribadi atau angkutan kota.

Tak terasa, kami sudah masuk Kota Lubuk Linggau. Rupanya, sejak tadi kami sudah melintas di Sumatera Selatan, 130-an kilometer menuju Bengkulu. Sebenarnya, kami sudah masuk di lereng-lereng Bukit Barisan. Hari menjelang magrib. Kami membuka jendela, bersiap menerima udara sejuk pegunungan. “Di sini, jalannya seperti di Camba (Maros),” kata Mas Hambali, mengingatkan perjalanan kami akhir Februari lalu saat menuju Sinjai.
Penunjuk arah menjelang Lubuk Linggau. (foto: Anwar Jimpe Rachman)
Taman Nasional Kerinci Sebelas, dan masuk ke wilayah Bengkulu. Beberapa jam kemudian, 19.30 WIB, kami mampir ngopi di sebuah warung di tepi jurang jalan berkelok di kawasan Taman Nasional Kerinci Sebelas. Di warung ini, jarak Bengkulu tinggal 30-an kilometer. Lampu-lampu Bengkulu di kejauhan tampak jelas di bawah. Di sini kami hanya seisapan sebatang rokok saja lalu berangkat lagi.

Perjalanan ini benar-benar nyaman. Kaki saya leluasa berselonjor dan lurus. Saya bahkan belum mengantuk. Padahal, jarak yang setara di Sulawesi, saya biasa terkulai di kilometer dua puluhan—bahkan saya lebih cepat terpulas kalau di pete-pete. Mas Hambali juga belum menguap sekali pun.

“Saya memang sudah ubah joknya biar nyaman. Mobil ini mesinnya besar, bannya juga besar, jadi enak kalau perjalanan jauh. Kalau mobil kijang sebelum ini, saya juga cepat capek bawanya,” ungkap Hambali.

Pukul 20.15 kami masuk Bengkulu. Kami langsung cari penginapan. Jam sembilan malam kami sudah menyeruput kopi di kamar.

“Kok ndak kelihatan capek sih, Mas?” tanya saya.

“Ini masih biasa. Saya pernah bawa mobil itu dari Jambi ke Jogja. Itu 2400 kilometer. Tidur saya cuma empat jam!”


Alamak!

Kamis, Maret 08, 2012

Rambu Solo’, Jantung Kehidupan Toraja

Akhir Desember 2011 lalu, di Kelurahan Sereale, Kecamatan Tikala, Toraja Utara, seorang perantau yang sukses menggelar rambu solo’ dengan menyembelih ratusan ekor kerbau dan babi, dengan alasan agar masyarakat ‘kebagian daging’.

Dari peristiwa tersebut, ternyata status ekonomi bisa membuat seseorang menjadi terpandang meski menurut kepala adat tidak mampu menaikkan status sosial di masyarakat. Dalam tujuh tahun terakhir, rambu solo' kerap dijadikan ajang gengsi keluarga. Bahkan, beberapa rambu solo' diakomodasi oleh kepentingan kelompok tertentu, kekhidmatan pengantaran jenazah ke Puya pun perlahan memudar.

Dalam literatur-literatur tentang Toraja disebutkan bahwa upacara ini merupakan upacara mempersembahkan kurban bagi arwah leluhur. Dalam keyakinan aluk todolo, kepercayaan leluhur masyarakat Toraja, seseorang yang baru saja meninggal belum dianggap ‘benar-benar meninggal’ melainkan hanya sakit atau to makula’ (to = orang, makula’ = sakit). Sehingga, sang mendiang tetap disajikan makanan dan minumannya sebagaimana ketika masih hidup. Kematian semata perubahan dari hidup menjadi roh alam gaib. Selain makanan dan pakaian, pihak keluarga membekali sang arwah dengan segala perlengkapan upacara, hewan kurban, sampai harta benda.

Bagaimana dunia antropologi memandang fenomena ini? Berikut wawancara saya dengan antropolog Universitas Hasanuddin Makassar, Yahya MA, di kediamannya, Minggu, 5 Februari lalu.

Dalam perspektif antropologi, bagaimana mula terbentuk sistem kepercayaan Toraja yang ada sekarang?
Sistem kepercayaan masyarakat Toraja, seperti suku lain di Sulawesi Selatan, punya kepercayaan nenek moyang sendiri sebelum datangnya agama langit (Islam dan Kristen). Mereka melakukan pesta besar dalam siklus hidup, terutama kematian. Dalam kepercayaan ini diyakini bahwa roh-roh leluhur yang mengatur kehidupan. Keberuntungan dan kemalangan semua berasal dari restu roh-roh ini.

Islam lalu menyentuh dataran yang didiami oleh suku Bugis dan Makassar. Agama ini tidak melarang pesta. Tapi Islam menganjurkan untuk mengalihkan pesta dilakukan tidak pada kematian, tapi diubah menjadi pesta yang diperuntukkan pada tahapan mengawali hidup, yakni perkawinan.

Sementara Toraja, yang ada di pegunungan sebelah utara dan tidak tersentuh siar Islam, mempertahankan rambu soloperayaan dalam praktik kepercayaan aluk todolo yang menganggap puya, alam gaib/surga, itu punya tingkatan. Bila mengadakan upacara maka leluhur yang diupacarakan dapat mencapai puya lapis tertinggi, dengan syarat menggelar pesta besar-besaran—yang tentu meniscayakan biaya yang besar pula.

Wajar bila yang kita saksikan sekarang, suku-suku ini menggunakan segala sumber daya mereka di kedua pesta ini.

Berdasar catatan kami, etnis Toraja termasuk salah satu suku perantau terbesar di Nusantara, bisa dijelaskan apa yang melatarbelakangi kecenderungan ini?
Toraja, Bugis, dan Makassar berimigrasi karena faktor-faktor seperti perkawinan yang mengharuskan pindah ke daerah lain, atau bisa juga karena keadaan sosial. Orang-orang yang berpindah ke tempat lain, sebagaimana sering terjadi di Sulawesi Selatan, mengalami trauma-trauma sosial, semisal terdapat anggapan yang sering kita dengar “belum jadi orang” yang lebih sering berkonotasi kekayaan material seseorang atau satu keluarga. Karena itulah mereka harus pindah sebab ingin membuktikan bahwa mereka bisa sukses, mengumpulkan harta, dengan bekerja keras.

Orang-orang inilah yang kemudian setelah meraih sukses kembali ke kampung mengadakan pesta. Mereka mengeluarkan biaya begitu besar untuk menegosiasikan ulang letak posisi sosial mereka. Di dalamnya kelak mereka memproklamirkan diri bagaimana dia sekarang kepada sanak keluarga atau orang sekitarnya. Karenanya, rambu solo bisa kita sebut sebagai ‘jantung’ masyarakat Toraja, seperti Susan Bolyard Millar yang menyebut perkawinan merupakan jantung kehidupan masyarakat Bugis.

Mungkin orang luar menganggap bahwa praktik ini praktik yang sangat konsumtif. Tapi sebenarnya, efek baik yang dibawa adalah kehidupan ekonomi masyarakat Toraja dipompa oleh praktik ini. Orang-orang yang hendak mengadakan upacara lalu membeli tedong bonga (kerbau belang, jenis yang dihargai ratusan juta), babi, bambu, dan sumber daya yang dimiliki orang Toraja sendiri.

Perilaku ini ‘istimewa’ atau gejala seperti ini terjadi juga di masyarakat lain?
Persis! Masyarakat Kwakiutle, Mexico, ada konsep yang bernama ‘potlach’ yang berarti gemar pamer kekayaan. Oleh Ruth Benedict disebut masyarakat yang bertipe megalomania paranoid. Mereka masyarakat yang suka pamer dan cenderung curiga terhadap masyarakat lain. Tapi ini adalah tipe masyarakat yang percaya pada guna-guna. Dalam kadar tertentu, terutama dalam upacara kematian (Toraja) dan pesta perkawinan dalam Bugis dan Makassar, gejala ini dalam Bugis dan Toraja.

Kami mendengar informasi, upacara adat seperti rambu solo’ kini menjadi ajang adu gengsi antar klan di Tana Toraja dan menjadi sangat profan. Mengapa ini terjadi?
Nilai yang berlaku dalam rambu solo dan perkawinan bagi Bugis dan Makassar sama saja. Pesta ini menjadi ajang kontekstasi atau arena negosiasi strata sosial, tempat setiap individu atau keluarga mempertaruhkan harga diri. Di sini mereka mengetahui di lapisan sosial mana mereka berada. Tentu, dengan begitu, arena negosiasi ini sangat duniawi karena ditentukan oleh uang. Prestise keluarga benar-benar diuji di sini.

Rambu solo’ awalnya bagian dari praktik dalam aluk todolo, pada masa roh-roh leluhur dianggap sebagai jiwa-jiwa yang menggerakkan tatanan kehidupan dan alam. Maka digelarlah pesta sebagai bentuk pengurbanan orang-orang yang hidup kepada jiwa-jiwa yang dipercaya bisa mendatangkan petaka bagi kehidupan. Upacara dianggap sebagai bagian dari aluk todolo agar kehidupan berjalan wajar.

Makna rambu solo terus bergerak seiring dengan penyiaran nilai-nilai Nasrani di kalangan masyarakat Toraja. Kini konotasinya tidak lagi di bagian itu. Kini lebih pada arena sosial tadi.
Tapi itu sisi makronya. Di tingkat mikro, sisi kelam dari praktik-praktik seperti ini kita bisa rasakan dan lihat sendiri bagaimana keluarga kita harus berutang karena upacara-upacara. Kalangan masyarakat Bugis harus berutang karena menyelenggarakan pesta perkawinan. Begitu pula masyarakat Toraja, sering saya dengar keluarga teman-sanak kita melakukan hal yang sama untuk rambu solo’. 

Terakhir, bisakah dijelaskan bagaimana pewarisan budaya pada generasi muda Toraja sebaiknya dilakukan di tengah gempuran modernitas dewasa ini, karena kami melihat di setiap upacara adat hanya kaum tua saja yang ikut berperan?
Ini berhubungan erat dengan evolusi hukum dalam antropologi, mulai dari tahapan hukum keramat sebagai aturan dari nenek moyang. Hukum sekuler terjadi ketika hukum keramat kurang dipatuhi akibat besarnya jumlah penduduk. Pada tahap ini, diperlukan kekuasaan otoriter yang memunculkan raja.

Ketika manusia beragama dan penduduk makin banyak, maka kekuasaan raja tidak cukup. Karena itu, kekuasaan raja dipadu dengan sifat keramat yang menanamkan keyakinan kepada masyarakat bahwa raja adalah keturunan dewa (hukum keramat). Namun ketika berkembang masyarakat industri, dan masyarakat menjadi lebih individualis, hukum yang dibuat raja tidak lagi efektif. Olehnya itu, hukum kemudian dibuat oleh badan legislatif yang merupakan perwakilan dari masyarakat.

Semua masyarakat mengalami perubahan seperti ini, tak terkecuali Toraja. Tapi, saya pikir, di satu sisi, pewarisan budaya yang dimaksud terus berlangsung. Dalam perkawinan, anggota keluarga yang ‘reformis’, tidak lagi memegang adatnya dengan teguh, sadar akan konsekuensi sosial dari nilai yang mereka anut. Hal ini mengharuskan mereka, mau tidak mau, kembali dalam pola yang dipegang generasi sebelum mereka, kendati dengan beberapa modifikasi.


Contoh modifikasi yang saya maksud, kalau dulu orang ke pesta semata memakai pakaian hitam, kini ada yang hadir berpakaian hitam dengan gelang emas di tangan—sebagai tanda kepemilikan material. Ini semua demi menegaskan diri dalam ruang negosiasi strata sosial, yakni di dalam pesta.[]


#Disiarkan di Warisan Indonesia edisi cetak 15 Februari-15 Maret 2012.

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP