Sabtu, Desember 18, 2010

Borges dan Membaca

Membaca, sudah jelas, adalah aktivitas yang datang setelah menulis; ia lebih biasa-biasa saja, lebih tak kentara, lebih intelektual...
(Jorge Luis Borges, 27 Mei 1935)

Jumat, Desember 17, 2010

Kalimporo dan Pohon Asam

DUA HARI sejak pergi pulang Desa Kalimporo, saya bertanya-tanya dalam hati ketika melihat batang-batang pokok asam tumbuh di halaman rumah warga desa ini. Kok pohon asam? Kenapa bukan mangga, buah yang lazim ditanam manusia Sulawesi Selatan? Salah satu jawaban pertanyaan itu saya peroleh sebulanan kemudian dari Mappesangka Karaeng Sitaba (60).

Karaeng Sitaba, seorang guru SD. Dari segi umur, ia sudah pensiun. Tapi, lelaki berkumis ala Yusuf Kalla ini mengaku tetap bisa mengajar karena saat pendaftaran guru di sekian tahun silam, sekolah tempatnya mengajar, mendaftarkan tahun 1957 sebagai tahun kelahirannya—tujuh tahun lebih muda dari umur sebenarnya. Kalimporo sendiri adalah salah satu desa yang terletak di Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto, sekira tujuh puluhan kilometer dari Makassar.

Karaeng Sitaba masih terhitung sebagai cucu Raja Kalimporo. Ia jelaskan, ketika memerintah, sang kakek menanam pohon asam di sekitar istana. Sekarang kawasan istana itu bernama Borong Camba (hutan asam) terletak di mintakat kantor desa Kalimporo, yang masuk wilayah Dusun Tanatoa. Dusun ini sendiri, menurut Karaeng Sijaya, dulunya luas. Tapi kini terpecah menjadi Dusun Tanatoa dan Dusun Masago, tempat Karaeng Sitaba sekeluarga bermukim. Tempat memerintah sang kakek di kawasan yang sekarang masuk Masago. "Cuma dulu, kalau ada yang mau ketemu kakek saya, orang menunjukkannya ke rumahnya di Tanatoa," jelas Karaeng Sitaba.

Jawaban ini kemudian saya ceritakan pada teman saya, Asfriyanto. Tapi Anto, begitu panggilan saya padanya, melawan dugaan saya.

"Orang Belanda dulu, pakai pohon asam untuk menguatkan jalan yang dibikin, Kak," tanggap Anto.

Mungkin benar juga kata Anto. Asam jenis pohon berakar tunggal. Bisa jadi akar itu memadatkan dan mengeraskan tanah tempatnya tumbuh.

"Tapi biasanya kan di pinggir jalan kalau fungsi itu. Ini mereka tanam di halaman rumah," jelas saya.

“Oh...” Anto mengangguk, “mungkin betul juga, Kak,” lanjutnya.

RUMAH Daeng Sitaba seperti rumah bangsawan Makassar pada umumnya. Ada bangsal beratap yang berfungsi sebagai gerbang, dengan dudukan di kiri kanan menjadi tempat berbincang. Naik ke atas, ada serambi yang berundak dua. Timpa'laja bertingkat tiga yang terbuat dari kayu ulin. Sementara badan tangganya terbagi dua.

“Itu untuk tangga turun dan naikkah?” tanya saya, sambil menahan tawa.

“Hahaha.. bukan. Itu tanda saja. Begitu kalau rumah bangsawan,” tanggap Marzuki (36), anak Karaeng Sitaba.

Tapi jawaban Marzuki belum memuaskan saya. Pasti ada kegunaannya. Nanti saya cari sendiri jawabannya, pikir saya.

Tepat di belakang rumah Karaeng Sitaba terdapat situs. Menurut Marzuki, itu adalah tempat tomanurung. Situs itu ada dua; satunya lagi di belakang rumah pamannya yang berada di seberang jalan, hanya seratusan meter selatan rumahnya. Saya yakin, inilah situs yang disebut oleh Ian Caldwell dan Wayne A Bougas, dalam Fajar Sejarah Binamu dan Bangkala (draft terjemahan oleh Nurhady Sirimorok):

"Di antara Kampung Tanatoa dan Kalimporo terdapat gundukan tanah yang mencolok dan berteras-teras, yang menurut warga desa masih menjadi pusat ritus tumanurung setempat. Gundukan itu, bernama Karaeng Loe Burane (Penguasa Besar Pria, M.), terletak kira-kira tiga kilometer di timurlaut Allu, di sebelah barat jalan antara Borong Camba dan Tonra. Di sebelah barat gundukan ini terlihat dataran banjir kecil, yang ideal bagi pertanian sawah basah. Puncaknya ditutupi dengan dinding batu bundar dan pendek, di tengahnya terdapat sejumlah batu besar datar. Hingga dibersihkan pada akhir 1990-an, gundukan lainnya, yang bernama Karaeng Loe Baine (Penguasa Besar Wanita, M.), berada dalam jarak lima menit berjalan kaki di sebelah timur jalan raya. Gundukan ini hampir-hampir tidak dapat terlihat, tingginya hanya sekitar satu kaki, dan berdiameter kira-kira 10 meter. Dasarnya dikelilingi batu-batu kecil, dan sebuah menhir pendek berdiri tegak di dekat titik pusatnya."

Menurut Karaeng Sitaba, kawasan tempat rumahnya berdiri merupakan kawasan hutan terakhir yang dibuka di desa itu. "Pohonnya besar-besar. Begini, Pak," ujar Karaeng Sitaba, seraya menggerakkan tangannya seperti memeluk.

Dalam kesempatan itu juga, Marzuki menceritakan bagaimana kekuatan supranatural juga ada di sekitar kawasan itu. Di atas situs itu kerap muncul cahaya bulat terang. Begitu juga dengan rumah di selatan rumahnya, yang katanya, punya penjaga. Rumah itu tidak lain adalah rumah sepupunya. "Kalau orangnya pergi, itu pasti ada penunggunya. Saya pernah dengar, rumah di samping itu ada orang mandi. Padahal, waktu itu, rumah belum ada airnya. Karena masih dikerja waktu itu," papar Marzuki yang alumni IAIN Alauddin ini.

Sama halnya dengan sebilah pedang yang kata Marzuki pernah ditemukan di sekitaran situs belakang rumahnya. Pedang itu kemudian dipatah dua. Satunya dipegang pamannya, satunya entah di mana. Pedang itu, tambah lelaki yang berprofesi guru itu, selalu diikuti ular. "Kalau disimpan di tempat sembarang, pasti ada ular yang mengikutinya," imbuh Marzuki.

Perkenalan saya dengan Karaeng Sitaba sekeluarga diawali dengan Yusuf (31), adik Marzuki. Yusuf adalah salah seorang dari tiga kader desa yang menemani saya mendampingi Kalimporo dalam sebuah urusan. Yusuf, seperti ayah dan kakaknya, juga seorang guru.[]

Kamis, Desember 16, 2010

Dia Mencuri Garam Miliknya Sendiri

Daeng Siala, lelaki langsing empat puluh tahunan. Kulitnya coklat tua. Berkumis ala orang Makassar. Tebal dan melintang. Nyaris seperti dibiarkan tumbuh begitu saja. 
Daeng Siala memimpin Dusun Tanetea Utara, yang merupakan hasil pemekaran Dusun Tanetea, tak lama usai pilkades yang memunculkan Zulkarman Lewa sebagai Kades Kalimporo. Menurut seorang warga, Syamsiah, memang rata-rata pendukung Zulkarman ada di sana.
Tanetea Utara bersama 'saudara kembarnya' Tanetea Selatan berada di perbukitan utara Pallengu, kelurahan tempat kawasan penggaraman Pacce’langa berada. Letak kedua dusun berkisar lima kilometer dari simpangan Punagaya dan jalan poros Jeneponto Makassar. Kawasan ini masuk kategori miskin. Air yang jarang dan pertanian yang tadah hujan mengharuskan warganya keluar desa mencari nafkah di tempat lain seperti kawasan penggaraman Pallengu atau berangkat ke Makassar menjadi buruh bangunan atau tukang becak. Kini warga sudah mencoba menjadikan lahan-lahan itu selain sawah. Mereka merambah ke bukit untuk menanam sawi, jagung, dan kacang-kacangan--bahkan pohon jati.
Sang kepala dusun pernah menjadi salah satu dari mereka yang berangkat mencari kerja itu. Daeng Siala pernah bekerja sebagai penggarap lahan garam di sekitaran Pallengu, tiga atau empat tahun lalu. 
Lelaki ini menyimpulkan, hubungan antara pemilik lahan dan penggarap adalah hubungan yang jelas tidak menguntungkan. Para penggarap harus menjual garam mereka pada pemilik. Untuk kebutuhan sehari-hari, sebagian pemilik ringan tangan memberi pinjaman kepada penggarap, baik bentuk uang maupun beberapa liter beras. Sayangnya, pemilik lahan biasanya memaksa penggarap untuk mengambil beras ke mereka. Kalau harga beras Rp3.000 per liter, pemilik lahan menjualnya Rp5.000/liter. "Karena mereka kan juga beli di tempat lain," kata Daeng Siala.
Menurut Daeng Siala, beberapa pemilik penggaraman baik hati dengan meminjamkan uang kendati belum panen. Tapi ada juga pemilik lahan yang sangat jahat di mata penggarap. Mereka tidak mau memberi pinjaman sama sekali. Tak ada garam tak ada uang atau beras. Sampai-sampai, ia mengaku, pernah mencuri garam sendiri. Diam-diam ia menukar garam ke penjual kelontongan demi sebungkus rokok.[]

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP