Sabtu, Januari 25, 2014

Perjalanan 52 Tahun Daeng Mile

Tentang seorang maestro gendang Makassar, pegelut dunia perkusi Sulawesi Selatan selama 52 tahun.
Daeng Mile menabuh gendangnya. [Foto: Farid Wajdi]
LELAKI berkumis itu masuk ke kamar. Cahaya matahari sore yang cerah masuk melalui jendela tak berkaca di dinding barat ruang tamunya. Terdengar suaranya meminta bantuan kepada seorang cucu perempuannya untuk mengurusi satu dua hal. Tak berapa lama lelaki berkumis itu keluar mengenakan baju merah cerah berlengan panjang dengan kerah berhiasan benang emas, passapu (ikat kepala) coklat dan biru tua menutup rambut ikalnya, dan sarung sutra bercorak kotak-kotak mantap melekat di pinggangnya. Ia juga menggendong gendang andalan yang menemaninya sejak 1990 silam.
Abdul Muin Daeng Mile sudah berpakaian lengkap. Ia benar-benar sosok yang berbeda dibanding lima menit lalu. Badannya lebih tegap dan memancarkan kharisma. Daeng Mile nama akrab lelaki itu tampak siap menggebuk gendang dengan sebilah bakbalak (pemukul dari tanduk kerbau) di tangan kanannya. Daeng Mile berpakaian lengkap bukan lantaran ada hajatan pada pertengahan 2013 itu. Ia keluarkan gendangnya untuk pengambilan gambar sampul buku Calling Back theSpirit: Music, Dance, and Cultural Politics in Lowland South Sulawesi karya Anderson Sutton, yang diterbitkan Ininnawa tahun September 2013.

Senin, Januari 20, 2014

Menafsir Musik Tradisi

Etnomusikologi merupakan diskursus keilmuan yang relatif baru di Indonesia. Di satu sisi, disiplin ilmu yang berfokus pada fenomena musik, yang dipandang dari berbagai aspek sosial dan kebudayaan ini, kurang terdengar dibandingkan dengan disiplin ilmu sosial dan budaya lainnya yang tumbuh lebih awal.
Di sisi lain, buku-buku bacaan etnomusikologis juga dapat dikatakan sangat terbatas di Indonesia. Padahal, berbagai kajian tentang kebudayaan musik yang terdapat di Nusantara telah banyak dan jauh dilakukan sebelumnya oleh para etnomusikolog-peneliti asing (kalau boleh saya menyebut mereka sebagai para ”Indonesianist-ethnomusicologist”).

Minggu, Januari 12, 2014

Ulasan Buku Chambers: Makassar Urban Culture Identity


(oleh Didik Yandiawan, dikutip dari http://taxundergroundcommunity.com/)

“Geliat embrio budaya muda yang terlahir dari pergerakan yang dimotori idealisme dan cara pandang yang berbeda terhadap fashion dan musik dari para penggagasnya.”

Testimoni padat berisi tentang perjalanan sebuah pergerakan usaha bernama Chambers akhirnya terbit dalam sebuah buku. Terberkatilah Anwar Jimpe Rachman, sang penulis yang memiliki sejumlah portofolio jurnalistik menjanjikan. Ia berhasil merangkum perjalanan Chambers sebagai sebuah entitas bisnis dan pergerakan subkultur dari Makassar. Kerja keras dan militansi pendirinya untuk mendobrak pakem budaya yang populer beredar di kalangan anak muda Makassar di awal tahun 2000-an, adalah motor penggeraknya.

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP