Minggu, Januari 20, 2013

Memadu Selera Keluarga dengan Payung Teduh

Kita kedatangan kelompok musik yang istimewa, baik lirik maupun musik. Beri tepuk tangan gemuruh. Sambutlah: Payung Teduh!
Payung Teduh dan saya, setelah wawancara (foto: Ai Wajdi)
Begitu Payung Teduh masuk panggung, orang-orang yang awalnya duduk di pembatas Jalan Boulevard Panakkukang merapat ke seberang jalan, ke depan distro Chambers. Tak ada hujan pada malam penghujung Desember 2012 itu. Hanya ada band dari Depok yang beranggotakan empat pria berwajah yang masih asing, memainkan 11 lagu bertempo cenderung lambat, yang justru, menarik waktu menjadi lebih lekas.
Memang tak ada bekal saya menonton penampilan langsung Payung Teduh. Belum sekali pun juga saya mendengar lagu-lagu ciptaan mereka. Hanya kata ‘bagus’ yang sempat saya dengar sejak pertengahan tahun 2012 dari beberapa teman. Benar saja, ketika Payung Teduh membawakan lagu-lagu, penonton ikut bersenandung. Tanpa diminta, tanpa ‘paksaan’ dari Is, sang vokalis.
Dari sebelas lagu, hanya Nurlela yang berirama lebih cepat dari yang lain. Namun, lagu yang dicipta dan dipopulerkan Bing Slamet ini pula seperti ingin menegaskan terbuat dari apa saja bahan yang mereka sajikan malam itu. Nurlela merupakan lagu ciptaan Bing Slamet yang dibawakannya pertama kali dalam film “Bing Slamet Tukang Betjak” produksi tahun 1959.
Lagu Nurlela menjadi salah satu contoh paling akrab dari jenis lagu lima enam puluhan tahun lampau. Kurun waktu, yang menurut kritikus musik David Tarigan, ketika perkembangan musik Indonesia dipengaruhi irama-irama Latin; bukan rock n’ roll yang datang awal di Indonesia, “Justru musik Latin berpengaruh ke musik Indonesia karena ada kesamaan gen dengan musik Melayu,” begitu kira-kira kata David, dalam workshop kuratorial di galeri Ruangrupa, pada akhir 2009 lalu.
Bila membanding-bandingkan dengan musik Indonesia dalam dasawarsa yang sama, nuansa lagu-lagu gubahan Sore Band begitu terasa bila menyimak musik gubahan Payung Teduh. Para awak band yang baru saja mendapat predikat pendatang baru terbaik dalam ajang Indonesia Cutting Edge Music Award (ICEMA) 2012 ini pun tak mengingkarinya. Apalagi, produser Payung Teduh adalah Ramondo Gascaro. Mondo, panggilan akrab lelaki berkacamata lebar ini merupakan mantan kibordis Sore dan salah seorang dari trio penggubah musik latar film “Berbagi Suami” (2006), film dengan materi latar lagu yang bersuasana ‘gramafon’.
Menurut Mondo, sesaat usai penampilan Payung Teduh di Chambers malam itu, konsep musik band ini menekankan kesederhanaan, meski tetap dengan acuan artefak musik ‘tempo doeloe’. Berbeda dengan Sore yang cenderung melakukan eksplorasi dan bereksperimen menggunakan warisan lagu dan musik Indonesia yang tercipta lebih setengah abad silam. Wajar bila karakter musik Sore cenderung ‘urban’, sedang Payung Teduh menuntun kita menuju ke suasana yang lebih luas, yakni ‘di tempat mana pun’.
Sebuah hal wajar bila melihat alat-alat mereka di panggung: Is mengusung gitar akustik atau ukulele, Ivan dengan terompet, Cito memainkan drum dengan brush stick (stik berbentuk sapu) dan cajón (drum kotak), dan Comi membetot kontrabas. Dengan alat musik itu, kita sedang bertamasya irama-irama keroncong, pop, sampai jazz.
Soal lirik lagu, Payung Teduh bisalah diandalkan. Simak salah satunya: “Angin Pujaan Hujan: datang dari mimpi semalam/bulan bundar bermandikan sejuta cahaya/di langit yang merah/ranum seperti anggur/ … angin berhembus bercabang//
Dengan lirik sederhana namun tetap puitis seperti ini, Payung Teduh, bersama Efek Rumah Kaca, agaknya berhasil ‘menyelamatkan’ band-band dari Jabodetabek dan Bandung dari segi lirik, bila membandingkan karya lagu band-band dari Yogyakarta. Semaraknya musik Indonesia dengan lirik puitis dan sederhana memang belum bisa dienyahkan dari reputasi band asal Kota Gudeg ini, semisal Kla Project, Sheila on 7, Jikustik, Letto, sampai Melancholic Bitch.
Is dan ketiga kawannya sudah bulat menetapkan Bahasa Indonesia sebagai bahan baku lirik lagu-lagu ciptaan mereka. Menurut Comi, ia dan kawan-kawannya pernah mencoba membuat lagu dalam lirik bahasa Inggris, tapi itu kemudian mereka urungkan.
“Lebih nyaman aja kalau main di bahasa Indonesia. Lebih ‘cakep’ ya…,” tekan Comi, yang juga dosen Sastra Inggris di Binus.
“Ini menunjukkan kekuatan bahasa Indonesia. Cantik, rupawan, ayu, indah, menawan, jelita. Ini saja kita sudah banyak pilihan kata!” tambah Is, yang dalam wawancara itu merujuk kata ‘beauty’.
Dari mana lirik-lirik ini Payung Teduh dapatkan? Menurut pengakuan Mohammad Istiqamah Djamad, nama lengkap Is, referensinya menulis lirik berasal dari teater—pengalaman yang ia dapatkan selama di almamaternya, Universitas Indonesia, Depok. Lewat teater, katanya, ia dan rekannya belajar lebih menekankan bagaimana teks dan lagu membangun suasana.
Hal ini, bagi Cito sang drummer yang awalnya gandrung dan memainkan rock progresif semacam Dream Theater, yang mengatakan dengan setengah berkelakar, “Dulu mainnya musik yang harus ‘terdengar-sekeras-mungkin’. Sekarang, apa poinnya main musik yang tidak-kedengaran-mungkin’? Dulunya rapat-rapat, sekarang serenggang mungkin. Sekarang (saya) paham bahwa elemen-elemen ini ternyata dibutuhkan untuk membangun suasana, kayak naikin klimaks, sampai cooling down.”
Ada kisah menarik Cito bergabung dengan Payung Teduh. Suatu hari, Cito berseberangan peron dengan Is. Kala itu, kedua mahasiswa ini belum saling kenal. Keduanya kebetulan saja masing-masing memainkan gitar. Kalau salah satunya menggenjreng gitar, satunya lagi tidak mau kalah. Sebaliknya juga terjadi. Begitu seterusnya.
Mereka lalu bertemu lagi di Kampus UI Depok. Rupanya keduanya saling mengingatkenali kala kejadian di peron. Sampai kemudian, singkat cerita, Is yang sudah bermain musik dengan sahabatnya Comi—sang basis, mengajak Cito bergabung. Belakangan Cito dan Is ketahui bahwa mereka pun bertalian keluarga karena adik ibu Cito menikah dengan salah seorang sepupu Is. “Apes ‘kan kamu?” seru Is kepada Cito, seraya tertawa.
Mungkin dalam perjamuan dan pertemuan keluarga Cito dan Is, lagu-lagu Payung Teduh-lah yang menjadi pengiring pertemuan keluarga mereka. Bukan hanya lantaran kedua anggota trah mereka menjadi awak band itu. Kita tahu, salah satu perihal yang nyaris mustahil dipertemukan dalam keluarga adalah selera musik. Namun, salah satu pemusik Indonesia mutakhir yang bisa melakukannya, saya yakin, lagu-lagu dari Payung Teduh.
Mari beri tepuk tangan sekali lagi!

Catatan
1. Hanya beberapa lama setelah tulisan ini rampung, saya berselancar di dunia maya dan mendapati bahwa album Dunia Batas menjadi album 2012 versi Majalah Tempo.
2. Maaf, saya pasang foto narsis :D

Senin, Januari 14, 2013

Resensi Hidup di Atas Patahan

Beberapa tahun lalu, United Nations Internasional Strategy for Disaster Reduction (UNISDR) atau Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Strategi Internasional Pengurangan Risiko Bencana mengungkapkan Indonesia adalah negara paling rawan bencana alam (arc of fire) di dunia dari sisi letak geologi. 


Secara geologis, Indonesia juga merupakan pertemuan dari beberapa lempeng benua dan samudra yang menjadikan rawan bencana gempa bumi, tanah longsor, gunung meletus, dan tsunami. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Syamsul Maarif, menyampaikan 80 persen wilayah Indonesia rawan bencana seperti Bengkulu Utara, Sinjai, dan Maluku Tenggara. 

Penulis mengisahkan pengalaman pencegahan bencana khusus di tiga derah tersebut. Pembahasannya dibagi menjadi tiga bab. Pertama, mengisahkan kondisi pascagempa 7,9 skala richter yang melanda bengkulu pada 12 September 2007 (hal 14). Bengkulu merupakan salah satu wilayah yang paling rentan gempa di Indonesia. 

Diibaratkan, hidup di atas tanah Bengkulu seperti hidup di punggung banteng raksasa. Inilah kisah yang kemudian diangkat di dalam buku bagaimana seorang Sastro (30) yang berdarah Rejang, suku asli Bengkulu, berjuang mendampingi masyarakat untuk mempersiapkan diri dari kemungkinan bencana. Bersama rekannya, Sastro sudah tiga tahun aktif mendampingi Desa Pondok Kelapa dan Kecamatan Lais, Bengkulu Utara (hal 16). 

Sejak 2007, ketika Bengkulu memulihkan diri pascagempa, Sastro menjadi koordinator wilayah dan mendampingi bantuan yang diturunkan pemerintah pusat (hal 23). Dia dan kawan-kawan aktif memfasilitasi warga yang dibentuk dalam kelompokkelompok penerima bantuan untuk mempertanggungjawabkan sekaligus memastikan hibah itu benar-benar dipakai untuk pemulihan (hal 24). 

Bab kedua, membahas kisah tim Pengurangan Risiko Bencana (PRB) yang dulu dikenal sebagai program BSM-DRR (Building Social Movement-Disaster Risk Reduction) di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan (hal 45). Namun, dalam perjalanannya, perkembangan program PRB mengalami kebuntuan. Agung, salah seorang anggota tim, sempat berniat mengundurkan diri. 

Ada tantangan dahsyat dari pengambil kebijakan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sinjai (hal 54). Persoalan lainnya yang menghambat perkembangan program PRB di Kabupaten Sinjai ini berkaitan dengan benturan kepentingan politik. Pengaruh Makassar sebagai ibu kota provinsi sangat besar terhadap Sinjai, terutama menjelang pemilihan gubernur pada 2013 (hal 57). Kondisi politik inilah yang memengaruhi programprogram yang dicetuskan oleh tim PRB. 

Pada bab ketiga, dikisahkan masyarakat Kei di Maluku Tenggara yang berupaya menanggulangi gerusan ombak di pertemuan arus Laut Banda dan Laut Arafura, juga daratan yang terbentuk atau hilang karena gesekan lempengan benua (hal 80). 

Maluku Tenggara merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Maluku. Tiga pulau utamanya Pulau Kei Kecil (722,62 km2), Pulau Kei Besar (550,05 km2), dan Pulau Dullah (122,84 km2). Pada saat itu warga yang sebagian besar bekerja sebagai nelayan tidak menyadari gelombang pasang telah menggerus pulau-pulau yg ada di sekitar Maluku Tenggara. 

Namun, pada akhirnya hal itu telah disadari dan program penanggulangan risiko bencana dimulai dengan penanaman pohon bakau (hal 92). Buku ini menarik untuk dibaca karena bahasanya mengalir. Dia menceritakan pengalaman pencegahan bencana. Disajikan dengan cerita-cerita yang tidak hanya mengangkat kesuksesan program penanggulangan bencana, tetapi juga mengangkat konflik yang kemudian menimbulkan permasalahan. 

Diresensi Yuli Afriyandi, mahasiswa Pascasarjana UII, Yogyakarta

Judul : Hidup di Atas Patahan
Penulis : Anwar Jimpe Rachman
Edisi : Oktober, 2012
Penerbit : Insist Press
Tebal : 105 halaman

Minggu, Januari 13, 2013

Tasya dan Isobel di Sore Itu


Tasya melepaskan citra penyanyi ciliknya pada akhir 2012 dengan meluncurkan album perdana, Beranjak Dewasa. Ia menyusul Bondan Prakoso dan Sherina yang terlebih dulu memasuki dunia hiburan Indonesia. Bondan yang berjuluk “Si Lumba-Lumba” menjelma jadi pembetot bas sekaligus penyanyi dalam Bondan & Fade 2 Black, sementara Sherina menjadi penyanyi dan penulis lagu yang bersinar di panggung lagu pop Indonesia.
Isobel sering ikut karaokean dengan ibu dan tantenya. (foto: Anwar Jimpe Rachman)
Ketiga penyanyi ini masihlah anak-anak, setidaknya, di telinga dan dalam benak Isobel, anak saya. Ia mendengar suara-suara mereka lewat lagu, antara lain Si Lumba-Lumba (Bondan), Andai Aku Besar Nanti (Sherina), dan Libur Telah Tiba (Tasya). Isobel adalah nama anak saya yang lahir 6 Juni 2009 lalu, nama yang dicomot dari judul lagu ciptaan dan dinyanyikan oleh Bjork. Tasya yang paling bontot di antara dua penyanyi itu, berbeda tujuh belas tahun dengan Isobel. Bondan kelahiran 1984 dan Sherina lahir tahun 1990.
Pada Sabtu sore tadi, saya meladeni ‘gangguan’ Isobel di kamar kerja dengan memutarkan untuknya lagu-lagu Tasya. Lagu Paman Datang, Libur Telah Tiba, sampai Aku Anak Gembala. Begitu sampai pada Jangan Takut Akan Gelap, ia meminta saya menyanyi di bagian lagu yang  dilantunkan Duta So7: Jangan takut akan gelap/ karena gelap melindungi diri kita/ dari kelelahan…
Isobel paling sering menyanyikan lagu-lagu Tasya. Mungkin karena suara Tasya lebih ‘generik’ bagi tenggorokan dan pita suara gadis yang baru berumur 3,5 tahun itu. Bisa pula lantaran iramanya lebih riang dan ‘membumi’, ketimbang lagu Sherina yang cenderung bernuansa ‘opera’—yang agaknya membutuhkan teknik bernyanyi yang memerlukan kursus.
Deretan lagu itu lalu memicu pertanyaan saya: lagu anak-anak Indonesia apa saja sekarang ya? Saya tidak bertemu satu pun. Rupanya, lagu-lagu Tasya sepertinya gelombang lagu kanak-kanak terakhir yang beredar di pasar musik Indonesia—selain lagu Sherina, Agnes Monica, Bondan, dll. Mudah-mudahan saja saya keliru dengan kesimpulan ini.
Tapi kecenderungan yang tampak, semisal televisi, menguatkan dugaan saya. Malah sebaliknya terjadi, anggota Coboy Junior yang masih anak-anak malah bernyanyi keroyokan dan berdandan ala boyband Korea.
Mungkin saja, kelak ia tumbuh menjadi remaja, Isobel akan ‘kecewa’ mendapati kenyataan bahwa pelantun lagu-lagu yang ia akrabi sudah menjadi tante-tante dan om. Tapi jauh lebih mengkhawatirkan bila Isobel kelak tak punya lagi lagu buat anak-anaknya kelak.
Wah, kalau yang ini, jangan deh![]

Kamis, Januari 03, 2013

Mengubah dari Bawah; Cerita yang Diulang



Judul Buku   : Hidup di Atas Patahan
Penulis          : Anwar Jimpe Rachman
Penerbit        : Insist Press
Tebal Buku   : iv + 110 hlm


Buku ini dengan bahasa ringan menarasikan pengalaman dan perjuangan penanganan bencana di Bengkulu Utara, Sinjai, dan Tual (Maluku Tenggara). Buku ini menceritakan heroisme dan perjuangan inspiratif dari orang-orang dan beberapa lembaga akar rumput yang ‘bergerilya’ mencari solusi pencegahan bencana di daerah basis kegiatan mereka.

Tiga hal menarik bagi saya yang wajib dikabarkan dari buku ini adalah heroisme para penggiat basis ini, peran negara dan birokrasi rumit, dan inisiatif rakyat itu sendiri.

Pertama, saya ingin memberikan klaim bahwa aktivitas para penggiat dan pemerhati masalah akar rumput ini adalah sebuah bentuk heroisme yang langka. Nama-nama yang disebut dalam buku ini, bersama masyarakat dan staf pemerintahan, merancang formula bagi pencegahan bencana di lokasi masing-masing.

Lihat saja apa yang dilakukan Nurkholis Sastro dan Hambali di Bengkulu Utara, salah satu daerah yang paling rentan gempa dan tsunami di Indonesia. Sastro bersama Hambali (Mitra Aksi) berjuang memasukkan materi kebencanaan sebagai mata ajar muatan lokal di dalam kurikulum pendidikan di Bengkulu Utara.

Cerita dari Sinjai senada. Ada sosok Pak Daming, pembiak tanaman organil dan pengajar di SMP Satap Tassoso, yang menjadi ‘rekan’ lokal tim Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Payo-Payo. Persoalan birokrasi menjadi tantangan lain bagi usaha tim PRB Payo-Payo ini bersama dengan kepentingan politik yang sangat acak dan momentum Pilgub Sulsel.

Sedangkan di Maluku Tenggara, ada cerita perjuangan Fritz Elmas dan Uly dari Yayasan Nen Mas Il, bersama Pak Nor, Edo Rahail, dan Pieter Elmas. Kisah suksesnya: mereka berhasil menarik simpati lembaga legislatif, DPRD Maluku Tenggara hingga mampu terus mendesak pemerintah daerah untuk memperhitungkan aspek kearifan lokal dalam berbagai bidang kegiatan masyarakat maupun pemerintah. Meski tetap saja mereka mendapat tantangan dari paradigma proyek pemerintah dan seringnya tidak nyambung dengan kebijakan pemerintah pusat.

Semua itu menjelaskan bahwa ada sekelompok manusia yang berniat bekerja dan belajar bersama orang kecil dan membuat perubahan-perubahan sederhana namun bermakna. Kisahnya sangat kecil kemungkinan untuk dikabarkan jika mengharapkan media massa untuk melakukannya. Media cenderung mengangkat berita bencana ketika telah terjadi dan membawa korban–istilah buku ini “paradigma keperistiwaan”, bukan menyorot cerita sukses pencegahan dan pembangunan pola pikir baru berdasarkan kearifan masyarakat.

Kedua, peran negara dan birokrasinya yang sangat rumit menjadi kendala dan tantangan tersendiri bagi para hero dalam buku ini. Menyoroti ini, tiga hal penting yang bisa dicatat dalam buku ini, yakni kapasitas negara (pemerintah) yang tidak mengenal dan memahami wilayahnya, paradigma proyek pemerintah dalam menjalankan tugas, dan kesan lepas tangan dari masalah bencana pasca-proyek, dan tentu saja birokrasi berbelit.

Cerita di Sinjai dan Maluku Tenggara mungkin bisa mewakili catatan pertama. Tahun 1980-an, pemerintah mencanangkan program berlabel “Sejuta Pinus” di Kompang, Sinjai, daerah yang berkemiringan ekstrem. Bagi pemerintah, program ini bisa berarti sebagai upaya pemberdayaan lahan yang ditinggalkan warga akibat pemindahan paksa ke tepi jalan untuk kepentingan strategis pengawasan militer pada masa DI-TII. Selain itu, tentu saja getah pinus merupakan komoditas berharga bagi pengusaha karet nasional kroni Orde Baru masa itu. Namun demikian, dampaknya baru terasa sejalan 20 tahun program tersebut ketika daerah Kompang yang tingkat kemiringannya tinggi tersebut menjadi neraka akibat longsor pada tahun 2006 silam.

Membandingkan ide “Sejuta Pinus” pemerintah dan argumen orang kecil seperti Pak Asikin Pella, tampak tidak fair. Meski demikian, ada logika lain yang terbangun dalam ucapan Pak Asikin, bahwa sesungguhnya pohon pinus merupakan tumbuhan yang bisa merubah siklus air dikarenakan struktur akar tunggangnya yang menancap ke tanah. “Dengan begitu, tanah menyerap air, yang dengan demikian sewaktu-waktu air tertampung banyak sehingga menyebabkan retak/pecahnya tanah,” begitu dalih Pak Asikin (hl. 66).

Di Kepulauan Kei, Maluku Tenggara yang terbentuk dari pulau-pulau atol kini harus menghadapi ancaman kekurangan air bersih akibat pertumbuhan populasi dan permukiman berikut semakin dibukanya lahan hutan. Sementara itu, pemerintah meresponnya dengan mengirimkan bibit jati putih yang merupakan tanaman penyerap air yang banyak. Blunder pemerintah ini bisa saja menspekulasikan berbagai motif, namun tetap perlu pembuktian lebih. Hal terpenting yang bisa dipetik dari cerita ini bahwa pemerintah masih saja angkuh dan merasa lebih mengerti seluruh dunia daripada orang-orang kecil yang bergulat dengan praktik kearifan lokal berbasis pengalaman puluhan hingga ratusan tahun di kesehariannya.

Kedua cerita di atas juga sekaligus ingin menunjukkan paradigma dan pendekatan penyelesaian masalah pemerintah dalam kebencanaan yang (masih) berpola proyek. Ketimbang memberdayakan masyarakat lokal dan memberikan dukungan bagi rencananya, pemerintah memilih menjalankan sendiri programnya.

Lelucon lebih parah terjadi di Bengkulu Utara ketika pada tahun 2011, Pemerintah Bengkulu membangun gudang logistik yang kemudian ditolak oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Penolakan itu didasarkan pada lokasi bangunan yang hanya berjarak seratus meter dari bibir pantai, pembangunan yang melanggar UU Pokok Kehutanan No. 41 tahun 1991 tentang sempadan pantai. Pembangunan gudang logistik di tepi pantai daerah yang rentan gempa dan tsunami benar-benar lelucon pemerintah dan hanya menampakkan ketidakseriusan negara dalam pencegahan bencana.

Kedua catatan tersebut menjadi semakin rumit jika dihadapkan pada persoalan birokrasi. Persoalan mutasi sebagai wajah baru birokrasi di Indonesia akibat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) berimbas kepada pendekatan ‘dari-nol-lagi’ terhadap aparat pemangku kebijakan sebagaimana dikeluhkan oleh Fritz Elmas, Uly, dan Pak Nor di Maluku Tenggara. Pak Nor, aparat BPBD Maluku Tenggara, bahkan galau karena pengetahuan penangann dan pencegahan bencana akan ‘menguap’ begitu saja akibat mutasi.

Kegelisahan yang sama mungkin dirasakan juga oleh tim PRB Payo-Payo di Sinjai. Betapa tidak, berbagai kegiatan yang mereka lakukan haruslah mendapat izin atau paling tidak sepengetahuan para pengambil kebijakan Kabupaten Sinjai. Persoalannya adalah kesepahaman yang tidak pernah terjadi di antara mereka dikarenakan dua hal. Pertama, jarang hadirnya pihak pengambil kebijakan dalam setiap rangkaian kegiatan ataupun pertemuan PRB. Kedua, arogansi dan mentalitas feodal pihak pengambil kebijakan tersebut yang menolak mendapatkan wawasan dan ide segar dari generasi yang lebih muda. Buku ini mengutip kalimat ketus petinggi Pemda Sinjai bahwa “Dalam adat kita, seorang anak tidak pantas mengajari orangtuanya!”(hl. 54).

Meski demikian, harus diakui tetap saja ada orang-orang yang memiliki kepedulian di dalam lingkaran pemerintah dan birokrasinya yang serba berliku. Kita tentu tidak melupakan sosok Pak Nor, aparatur BPBD Maluku Tenggara, mantan staf Dinas Pekerjaan Umum, dan mantan Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan, yang sudah dibicarakan dari tadi. Di tanah yang sama, ada Pieter Elmas dan Edo Rahail yang mendukung penuh kegiatan dan usaha pencegahan dan penanganan bencana di Maluku Tenggara. Di Bengkulu Utara, ada Kardo Manurung, Kepala SMA 1 Lais, bersama guru-guru yang dinaunginya yang berjuang memasukkan unsur kebencanaan sebagai materi ajar muatan lokal di dalam kurikulum pendidikan sekolah di Bengkulu Utara. Kita tentu tidak melupakan kerja keras Pak Daming, Ibu Guru Anti, Pak Bahar, Kasim, dan yang lainnya di Sinjai.

Ketiga, hal terakhir yang ingin saya catat di sini adalah penegasan inisiatif dari bawah masih merupakan metode paling efektif dalam menggerakkan perubahan. Hal ini tentu saja berdasarkan pada gagasan sederhana: mereka yang bekerja lebih dekat dengan objek lebih memahami dan mengerti kebutuhan mereka untuk bertahan dan melanjutkan hidup. Dengan sendirinya, akan terbentuk kearifan-kearifan berikut nilai dan pranata untuk menjamin kelangsungan kehidupan tersebut dan melindunginya dari ancaman.

Namun, tentu saja ada keserakahan manusia lain yang senantiasa mengincar. Apalagi yang melatarinya kalau bukan motivasi ekonomi. Dengan restu kekuasaan, maka atas nama perubahan, kemajuan, dan modernisasi, kearifan berikut sistem nilai dan pranatanya tersebut menjadi target untuk dimusnahkan.

Perubahan sejatinya lahir dari gerakan dan inisiatif sederhana berbasis kebutuhan masyarakat. Bukankah masyarakat yang merasakannya lebih mengerti kebutuhan sendiri?[]

Penulis:  Saharuddin Idris

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP