Kamis, November 28, 2013

Dua Hari Setelah Buka Sasi Ikan Lompa

Bagaimana sebuah komunitas menghadapi hal-hal dari luar mereka?

SEBAB keasyikan mendengar lagu-lagu Maluku yang mereka nyanyikan sambil menari semalam suntuk, orang-orang di aula Tanjung Totu Resort, Haruku, Maluku, mengabaikan suara keras berbahasa setempat yang saling bersahut dari bawah bukit, dari arah pantai. Mereka mengira itu percakapan biasa dan sebentar saja akan hilang. Nyatanya belum berhenti juga. Suara-suara keras itu ternyata saling timpal para pengelola Tanjung Totu Resort dengan seseorang yang mereka larang melempar bom ikan di kawasan tanjung, di Selat Haruku.

Orang-orang yang menegur pengebom ikan itu adalah beberapa kerabat dan keluarga Eliza Keissya, nama kepala kewang (polisi adat) Haruku, Maluku. “Orangnya saya kenal baik. Itu dulu yang pernah kita kasih kambing agar tidak membom ikan lagi. Saya bilang ke dia, kami tidak mempermasalahkan kalau Anda pakai jaring. Tapi kalau pakai bom, itu merusak karang. Alasannya pakai bom ikan karena dia ada hajatan,” kata Si Penegur.

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP