Rabu, Agustus 24, 2011

Mudik!


Apa arti mudik?

Dari kebahasaan, mudik memuat arti 'asal' atau 'hulu'. Kata Itu, menurut saya, perandaian yang androgini. Berdaya jantan karena di dalamnya penuh usaha keras untuk sampai ke hulu lagi, setelah mengalir dan mengalami perjalanan jauh hingga bibir hilir atau tiba di lepas muara. Ia juga sangat feminin karena peradaban lahir dari inang bernama sungai. Sungai Gangga, misalnya, tidak memiliki dewa--melainkan dewi.

Tidak mengherankan, orang-orang rela antri di gerbang menuju peron, pintu kapal laut, dan pintu embarkasi lapangan udara, menuju sebuah arah bernama asal.

Namun dalam kehidupan pribadi saya, mudik sudah lama tidak saya lakukan. Mudik semata-mata bagi saya adalah pulang ke pangkuan orangtua kandung. Di pangkuan mereka kita kembalikan segala air mata; air (mata) kesedihan dan kegembiraan. Itulah, barangkali, mengapa nuansa 'sungai' ada di dalam arti kata 'mudik'.


Selamat mudik, sahabat semua...

Senin, Agustus 22, 2011

KAMUS BOBEL


Sebenarnya saya mau menulis cukup banyak. Banyak sekali. Hingga bingung memilahnya. Ini tentang seorang teman wanita yang baik hati dan selalu menggemaskan. Tiap saat ketika kami bertemu tentu yang paling nyaman adalah memeluknya dan menciumnya. Sesekali dia menolak juga dicium tapi kosodorkan saja kepalaku, biasanya dapat leher, pipi, kepala, dan yang paling asik ketika mendapat ketiak.
Isobel dengan ekspresi orang dewasa (foto: Piyo)

Siapa dia? Namanya Bobel. Usianya dua tahun. Rambutnya sebahu, sedikit kriting pada ujung-ujungnya, bila dalam keadaan basah maka itu panjangnya akan sampai punggung.

Rambut Bobel mengikuti rambut bapaknya Jimpe Rahman. Tapi bentuk badannya mengikuti ibunya Piyo. Bobel memanggil orang tuanya dengan sebutan Papi dan Mami.

Saya tak pernah punya niat untuk tahu nama aslinya. Tapi yang jelas nama Bobel itu dari Isobel – entah benar tulisannya demikian. Bobel punya nama panggilan untuk setiap temannya. Semua berbeda dari panggilan kebiasaan.

Ini hanya sebagian, ada Hepi yang disapanya dengan nama Appi' atau Barak berganti jadi Badak. Tika diganti jadi Tita, Weda berganti Toe, Aan berganti Nyenyen, Dedi berganti Onyi, dan saya Eko berganti Eto.

Suka sekali saat dia memanggil saya, sebab selalu mengulangnya dua hingga tiga kali. “Eto..Eto..,” katanya. Atau memanjangkannya, “Etooo...,” katanya bila sedang meninginkan sesuatu.

Hubungan persahabatanku dengan Bobel belum setahun. Kalau tidak salah itu terjadi pada awal tahun 2011. Cara kami berkenalan juga unik. Saya ke rumahnya di Kompleks BTN CV.Dewi untuk berbincang-bincang dengan papinya dan meminjam buku. Waktu itu dia sedang asik bermain. Tiba-tiba dia datang mendekat dan menunjuk beberapa benda. “Apa ini..apa ini,” katanya.

Saya tentu menjelaskannya. Tapi dia mengulangnya dengan benda lain, “apa ini. Apa ini,” lanjutnya.

Ternyata ini cara dia mengakrabkan diri dengan lawan bicara yang baru ditemuinya. Bukan salam atau cium tangan atau apa pun. Tapi dengan benda dan meminta seseorang menjelaskannya.

Bila sesi perkenalan dengan penjelasan sudah selesai. Dia akan mengajak ngobrol dengan bibir yang cerewet. Tak jelas apa yang dikatakannya. Tapi caranya bicara sangat meyakinkan. Pernahlah saya dan Maminya sedang duduk ngobrol santai. Tiba-tiba dia datang dan bercerita, mungkin seperti ini perkataannya, “kakhhafjadhd jdhfhdjjd dhfhjhd, ya...hdajhdf, hdhjaall,”

“Iya,” jawab Maminya.

Dan kau tahu apa yang dilakukannya. Dia berteriak dengan kencang, kecang sekali, hingga wajahnya memerah. Setelah itu dia diam. “Wah, ternyata minta izin berteriak,” kata Maminya seraya tertawa.

CERITA lainnya. Bobel punya kosakata sendiri. Entah dari mana dia mendapatkannya. Hanya satu kata yakni, cacao. Kata ini tak jelas diartikan sebagai apa. Apakah untuk mengacaukan sesuatu atau untuk ekspresi kemenangan.

Tapi yang jelas, bila Bobel merombak tumpukan buku di yang tersusun di rak buku teras rumah – rumah Bobel juga adalah sebuah perpustakaan komunitas, namanya Kampung Buku – dia akan berucap, Cacao.

Namun, pergeseran makna Cacao ini lama kelamaan bergerak sesuai kondisi. Misal ketika saya hendak pulang, biasanya saya pamit dengannya dengan kata, bye bye dan menambahkan cacao.

Atau ketika mengejek teman-teman bisa juga dengan kata cacao. Jadi intinya, cacao dan arti sebenarnya hanya Bobel yang tahu.
***

Pada Bobel, saya menghadiahinya dua ekor kelinci. Satu putih dan satunya lagi abu-abu. Lalu Papinya memberi nama si putih adalah Karni dan si abu-abu adalah Ilyas. Kami berdoa semoga si Karni dan Ilyas bisa hidup sampai ubanan.

Bobel begitu senang melihat dua ekor mahluk itu. Awalnya dia tak ingin menyentuhnya. Geli mungkin. Karena itu dia selalu menyodorkan kakinya bila ingin mendekati. Tapi beberapa hari kemudian Bobel berani juga menyentuhnya, menariknya seperti mencubit.

Bobel senang sekali teriak-teriak didekat kelinci itu. Atau menggoyang-goyang kandangnya. Oh ya, sebelumnya si Karni dan Ilyas tak punya kandang, hanya di tempatkan di dalam kardus. Tapi Om Ican menghadiahkan kandang yang cantik. Warnanya ungu terbuat dari besi.

Dengan kandang itu, si Karni dan Ilyas terlihat lebih segar. Udara dengan bebas memasuki kandang, tidak pengab seperti ketika masih dalam kardus. Bobel menyebut kelinci itu dengan keminci. Kadang-kadang juga memanggilnya Iyas (Ilyas).

Bila Papinya memotongkan wortel untuk si Karni dan ilyas, dia selalu ikut. Kadang-kadang potongan wortel itu disodorkan ke si kelinci, mengikuti gaya Papinya. Sekarang dengan kelinci itu, Bobel mulai bermain. Tapi masih tetap belum bersahabat.

Tadi itu, Sabtu 20 Agustus 2011, beberapa menit sebelum berbuka puasa Bobel mengeluarkan semua makanan kelinci dalam kandang. Mencabik-cabik sawi dan wortelnya. Lalu tanpa terlihat, karena saya, Papi dan Maminya berada di ruang makan, sementara kelinci dan dia ada di teras. “Hmmm, kenapa bisa begini,” kata Papinya ketika keluar. Makanan kelinci itu sudah berhamburan.

Pernah pada suatu kali, kelinci itu di pegang oleh Andrew – mahasiswa dari Amerika Serikat yang tinggal di Kampung Buku dalam rangka penelitian akan perkembangan bahasa Bugis – Bobel begitu marah. Dia tak ingin kelincinya di pegang Andrew. Tak jelas apa alasannya, tapi Bobel menangis untuk itu.

Saya juga menemukan adegan yang lucu dan sedih, terkait keberadaan kelinci itu. Pada Jumat, 19 Agustus 2011, saya menginap di Kampung Buku. Saya tidur di depan meja kerja Papinya Bobel. Dan kandang kelinci itu ada di dekat situ. Saya masih tertidur ketika mendengar Bobel menangis, sesenggukan. Saya juga dengar suara Maminya.

Saya membuka mata dengan pelan. Bobel dan Maminya sudah saling berhadap-hadapan. Tangan Maminya ada dua pudak Bobel. Ternyata pagi itu Bobel lagi dinasehati, bagaimana supaya tidak mengganggu kelinci. Bagaimana seharusnya menyayangi kelinci.

Menurut Maminya, kelinci jangan digoyang-goyang dan kandangnya jangan ditendang. “Tidak boleh. Dengar Mami, liat Mami. Tidak boleh,” katanya.

Bobel berlinang air mata. Sepertinya bocah itu tahu diri kalau sedang bersalah. Memang sih, Bobel memiliki kebiasaan yang bisa membuat kelinci itu stres. Seperti menggoyang kandang, atau mencolok matanya dengan jari. Tapi itu tadi, Bobel anak dua tahun dan baru belajar memiliki peliharaan.

Cara Mami dan Papinya mengajari Bobel cukup menarik bagi saya. Saya ingat pertama kali berkunjung ke tempat itu. Sebagai anak kecil, Bobel belum bisa mengeluarkan kata yang sesuai dengan lafas seharusnya. Tapi Papinya mengajak saya mengajarinya dengan tidak berusaha meniru cara pengucapan anak kecil – misalnya harus cadel juga mengatakan sesuatu. Menurut Papinya, anak-anak yang diajari dengan bahasa cadel akan lebih sulit bicara.

Maka untuk itu, ketika Bobel melakukan kesalahan, orang tuanya menasehati seperti anak-anak yang sudah paham dan mampu memilah mana yang baik dan tidak.

Saya pernah melihat Bobel jatuh dengan menggunakan sendal orang dewasa. Yang jauh lebih besar dari kakinya. Papinya sudah menasehati untuk tak pakai itu sendal, tapi Bobel tetap saja nekat. Lalu dia terjatuh. Tahu tidak, apa kalimat pertama yang diucapkan, “tidak apa-apa.”

Kalimat ini begitu fasih keluar dari mulutnya. Saya kira dia belum tahu apa arti sebenarnya kalimat itu. Ketika Bobel jatuh, baik kesakitan, sambil mengeluarkan air mata, atau menangis terseduh, dia tak akan lupa mengatakan kalimat itu. “Tidak apa-apa,” seraya mengusap bagian tubuhnya yang kesakitan.

Sekarang ada kalimat baru lagi. Yakni Mauka, tapi pengucapannya menjadi Mouka'. Semua perkataannya tiba-tiba ditambah kata ini. Maoka mandi, maoka jayan-jayan (jalan-jalan), atau hal yang tidak berhubungan. (Eko Rusdianto)

Rabu, Agustus 10, 2011

Benarkah Kita Punya Kembar Buaya?

Dekade awal 2000 lalu, terjadi kemacetan lalu lintas selama berhari-hari di kawasan Jembatan Sungai Tello, Jalan Perintis Kemerdekaan, di sekitar rumah panggung sederhana pasangan istri-suami Halimah dan Daeng Tunru yang berada di sudut pagar PLTU Tello. Tersiar kabar bahwa dua sejoli itu kedatangan anaknya yang sejak dua puluh tahun silam menghilang. Memang kabar yang menggembirakan sekaligus mengharukan. Tapi justru kerumunan itu terjadi karena warga ingin melihat rupa sang anak yang berwujud … buaya putih! 

Tak ayal, orang-orang yang melintas di ruas jalan raya itu berkumpul dan memarkir kendaraan mereka untuk menyaksikan bagaimana gerangan dan tampakan ‘buaya putih’ itu. Mungkin selama ini buaya jenis itu hanya terdengar dari judul film buatan 1988 silam, Ratu Buaya Putih, yang dibintangi Suzanna. Mereka pun akhirnya menyaksikan dengan mata kepala sendiri seekor buaya jinak berwarna putih dengan bercak kuning yang sangat lembut bak kulit manusia, sepanjang 2,5 meter dan lebar 70 sentimeter, yang memiliki jari lima layaknya jari manusia. Lain dari buaya biasa yang jamaknya cuma berjari empat. Hanya saja, jari sebelah kirinya agak kecil. 

Cacat itu sudah dibawa Santi, nama si buaya betina, sejak lahir, kata Halimah, ibunya. Cacat serupa dipunyai oleh Daeng Sattu, kakak kembar Santi yang meninggal dunia sejak masih berusia 4 tahun. Sepasang anak itu merupakan buah cinta Halimah dengan suaminya. 

Dua puluh tahunan silam, Halimah melahirkan bayi kembar. Namun betapa kagetnya pasangan itu ketika mengetahui salah satu anak mereka adalah seekor buaya. Beberapa hari usai persalinan, dengan upacara adat, buaya yang masih sebesar cecak (Hemidactylus frenatus) tersebut lantas dilepas ke pangkuan “ibunya” yang baru, Sungai Tallo—sungai yang dipercaya oleh sebagian warga sebagai kerajaan buaya. 

Kedatangannya yang menggemparkan itu sebenarnya sudah diisyaratkan Santi ke ibunya lewat mimpi. Menurut Halimah, ia bermimpi bertemu perempuan cantik yang diyakininya bahwa itulah rupa putrinya. Dalam mimpinya, Santi bahkan mengatakan kalau ia akan datang menemui orangtuanya. Bersegeralah Halimah memberitahu suaminya agar bersiap menyambut kedatangan putri mereka. 

Berpatokan pada mimpi itulah Halimah dan suami duduk menunggu di tepi Sungai Tallo yang berada tepat di belakang rumah mereka. Sesaji berupa kembang, telur, dan pisang disiapkan dan diletakkan di pinggir sungai. Tak lama kemudian, muncullah dua buaya kecil. Mencuatnya dua buaya kecil tersebut disusul dengan penampakan buaya putih—yang diyakini adalah Santi. Sayangnya kemunculannya hanya sekejap. Ia berenang kembali ke dasar sungai. Barulah sore harinya Santi muncul lagi. 

Halimah dan Daeng Tunru segera menurunkan perahu untuk menghampiri Santi. Layaknya tahu maksud suami istri itu, buaya putih itu menurut saja. Dengan dibantu lima pemuda setempat, Dg Tunru menangkap buaya itu dan dibawa ke darat. Di luar dugaan, buaya seberat 100-an kilogram itu berontak. Tapi beruntung usaha menangkap Santi berjalan mulus; tanpa mencelakai siapapun. 
*** 
Buaya bukanlah binatang yang asing bagi kehidupan masyarakat Bugis dan Makassar. Masihlah marak terdengar perihal kisah keluarga-keluarga yang mengaku memiliki keturunan/anak yang punya kembaran buaya (Crocodylidae), atau setidaknya biawak (Varanus). Meski tidak menjadi salah seorang yang ikut nimbrung di rumah Halimah-Dg Tunru lima tahun lalu itu, tapi cerita serupa pernah saya alami beberapa tahun sebelum cerita Halimah-Dg Tunru. 

Hj. Timang, tetangga samping rumah saya di kampung dulu dan juga masih sepupu-nenek saya, mengaku punya kembaran dan paman yang buaya. Saya pernah diajaknya ke sungai, yang biasanya saya tempati berenang dengan salah seorang cucunya, Sultan, untuk mengantar sesaji seperti nasi ketan merah, hitam, dan putih dilengkapi telur ayam kampung, serta sesisir pisang. 

Nasi ketan (sokko [Bugis], songkolo’ [Makassar]) ini disaji di daun—yang sepintas serupa dengan maple (daun yang tercitra di bendera Kanada)—layaknya hendak menyajikan makanan untuk orang dewasa dalam acara ma’baca doang (tradisi syukuran). Saya dan Sultan bahkan nimbrung di dapur sewaktu Hj. Timang masih menyiapkan sesajian itu. Tapi kami dilarang untuk mencolek sokko sebelum sesajian itu selesai disiapkan. Pamali, terangnya. “Nanti kalau ada sisanya baru kalian boleh ambil,” begitu kata perempuan beruban itu mewanti-wanti kami. 

Sesampai di sungai, rangkaian makanan diletakkan di bawah semak yang berada di bahu sungai. Di rerimbunan itu kami sering melihat biawak yang besarnya sekira sepertiga dari ukuran buaya dewasa dan tak jarang kami menimpuknya agar pergi dan tak menakuti kami yang berenang. Begitu Hj. Timang berangkat pulang, sesisir pisang itu bukan biawak yang memakannya. Justru kamilah yang menghabisinya. 

Namun pengalaman paling berbekas berkaitan dengan ‘kembaran buaya’ ini saya dapati ketika KKN di Arawa, sebuah desa di Sidenreng-Rappang yang berada di batu kilometer 170-an poros Makassar-Palopo, beberapa tahun lalu. Di bulan kedua KKN, pemilik rumah pamit pada kami. Tuan rumah hendak mengunjungi anak mereka di Sungguminasa, Gowa. 

Seperginya tuan rumah, pemuda setempat, Iwan bercerita kalau anak yang dikunjungi tuan rumah memiliki kembaran buaya. Ah lagi-lagi cerita itu, pikirku. Kera saja—yang memiliki tengkorak nyaris serupa dengan manusia dan simpanse yang dari segi IQ (intelligence quotient) tidak jauh beda dengan kita—masih juga disangsikan banyak kalangan. Apalagi buaya, dari tongkrongan saja yang murah senyum itu, bedanya sangat jelas. 

Selepas magrib, sekitar pukul 7 malam, saya mendapati lampu di lantai atas rumah panggung itu menyala. Tak ada yang mengaku ketika saya tanyakan siapa gerangan yang menyalakan lampu di rumah panggung itu. Sekilas saya teringat cerita Iwan tadi. Tapi segera saya buang jauh-jauh. Tapi rasa tercekam menghinggapi saya ketika saya terbangun tengah malam, sekitar pukul 2 dini hari. Terdengar langkah kaki begitu jelas di atas lantai papan, kemudian menggoyang lemari piring milik Ibu Haji, panggilan kami pada tuan rumah. 

“Wah, jangan-jangan benar kata Iwan,” kataku dalam hati. Ingin rasanya membangunkan Iwan yang tertidur lelap di ranjang sebelah. Tapi saya urungkan. Segera saya tutup rapat-rapat telinga saya dengan bantal, seraya menggumamkan Ayat Kursi dan beberapa doa yang saya anggap mampu menenangkan debaran jantung saya yang cepat karena mendengar lemari terus bergoyang. Digoyang tepatnya. 

Keesokan harinya, pengalaman ini saya ceritakan ke Ibu Iwan yang setiap hari datang ke posko kami untuk memasak. Perempuan berperawakan kecil mungil itu menganggukkan apa yang saya alami semalam. Menurut Ibu Iwan, yang menyalakan lampu dan menggoyang lemari itu adalah benar anak Ibu Haji yang berwujud buaya. Si buaya itu biasanya datang karena dua alasan: menjaga rumah atau meminta sesuatu ke orangtuanya. 

“Ia pernah datang karena ia mau juga dibelikan cincin seperti kembarnya (yang di Gowa),” ujarnya. 

Ibu Iwan kemudian menunjukkan foto yang bergambar dirinya menggendong buaya di album keluarga milik Ibu Haji. Bahkan saya sempat diperlihatkan ranjang kecil tempat Ibu Haji menidurkan si buaya dulu. Ibu Iwan sendiri merupakan ipar dari suami Ibu Haji. 

Buaya dan Naga di Daerah Lain
Beberapa daerah di Nusantara juga mengenal cerita dan tradisi yang berhubungan dengan ‘saudara kembar buaya’, seperti Jambi dan Bontang-Kalimantan Timur. Bontang bahkan mengenal prosesi adat yang bernama Menurunkan Ance. Upacara pemberian sesaji ini dimaksudkan agar saudara kembar itu tidak datang ke darat karena ditakutkan membuat keluarganya sakit-sakitan. 

Ance yang terbuat dari bambu kuning yang dirangkai dengan kayu dan rotan, berbentuk persegi empat, diisi dengan ayam panggang, telor ayam, sokko/ketan yang dimasak dan diwarnai merah, kuning, hitam, dan putih. Diisi sesisir pisang, beras kuning, dan lilin lebah madu. Setelah melalui proses satu hari satu malam, pada sore harinya dilakukan upacara pembuangan Ance, yakni satu dilabuh ke sungai bersama seekor ayam hidup, sementara yang lainnya digantung di atas rumah. 

Ketika masih duduk di sekolah dasar hingga sekolah lanjutan pertama, ritual serupa juga masih saya dapati beberapa kali dalam keluarga pihak ibu saya di Desa Baba, Enrekang, sekitar 210 kilometer dari Makassar. Ini dilakukan di acara tertentu semacam rangkaian sebuah pernikahan, gunting rambut bayi, dan lainnya. Entah alasan apa semua itu dilakukan. Yang pasti, sekitar 3 meter di belakang rumah nenek saya mengalir anak sungai Sa’dan (sa’dan = sungai—bahasa Enrekang); tempat saya mandi dan membuang hajat. Begitu pula bila hendak menuju kebun nenek saya, kami harus menyeberang sungai berarus deras itu dengan rakit. 

Dalam situs 
www.pempropjambi.go.id, di Desa Geragai Tungkal Ulu, disebut pula keluarga Muhammad Aini-Asma punya buaya betina bernama Nur Khasanah. Ia kembaran Masroni, anak lelaki mereka yang lahir pada 1991. 

Serupa tapi tak sama, di Pulau Komodo, berdasarkan kertas kerja Karl Brandt berjudul “Mengapa Kebudayaan Masyarakat Kampung Komodo Terancam”, yang saya unduh dari situs
http://www.acicis.murdoch.edu.au/hi/...opics/karl.doc, dipaparkannya sebuah cerita dari wakil kepala kampung Komodo tentang asal-asul manusia dan naga Komodo. 
Di Pulau Komodo puluhan abad yang silam, sekelompok manusia primitif tinggal di Marawangkan, dipimpin kepala adat bernama Umpu Najo. Persalinan pun masih primitif; Umpu Najo masih membelah perut perempuan yang jelang melahirkan. Sang ibu mati, anaknya yang hidup. Hal yang sama dilakukan Umpu Najo ketika menghadapi menantunya, Putri Epa, meski tradisi itu dihadapinya dengan penuh duka putra kepala adat itu, namun disaksikannya juga perut istrinya dibelah. Epa meninggal. Dari perut Epa lahir kembar: manusia dan Ora (naga). 

Tragedi yang menimpa rumah tangganya baru dapat dilupakan oleh ayah baru itu setelah menikahi seorang gadis di kampungnya. Setahun berlalu dan istri putra Umpu Najo menjadi hamil. Sementara anaknya, Ora yang merasa diabai oleh ayahnya menjadi frustrasi. Ia memilih tinggal di hutan, meski kembarannya masih di Marawangkan. Setiap kali Ora masuk kampung, ia mencuri ayam. 

Menjelang persalinan, Umpu Najo kedatangan tamu asing, Tamu ini tak lain pengembara dari Sumba yang kehabisan bekal di perjalanan. “Aku dan kawan-kawanku berasal dari Sumba, negeri di seberang selatan lautan pulau ini, dan kami kehabisan bekal. Kami melihat asap di puncak ini dan berpikir pasti ada perkampungan. Jadi kapal kami labuhkan segera. Tapi mengapa ada banyak orang yang menangis di rumah Umpu?” 

Umpu menjawab, “Karena perut menantu saya akan dibelah.” 
“Kami punya ibu yang bisa menolong menantu Umpu. Saya yakin dia selamat dan Anda tidak perlu melakukan acara pembelahan perut lagi.” 

“Jikalau kamu bisa mengubah tradisi kami, saya akan memberi sebagian pulau ini kepadamu,” kata Umpu pada tamunya. 

Sebagian penduduk kampung itu pergi ke Pantai Loh Wau dan kembali dengan dukun wanita dari Sumba. Dukun itu pun menolong menantu kepala desa. Tak dinyana, lagi-lagi ada dua kembar lain dari perut menantu Umpu; satu putri cantik, satunya lagi seekor naga Komodo yang diberi bernama Sabae. 

Pertolongan dukun Sumba itu mengubah tradisi Marawangkan, sehingga manusia pun bisa berkembang. Hingga saat ini, orang kampung Komodo percaya bahwa mereka kembar naga Komodo (Varanus komodoensis). “Kedua tangannya mempunyai lima jari dan ada satu jantan Komodo untuk setiap 3,4 betina. Pada zaman kuno, kalau orang kampung membelah wanitanya, perbandingan ini mungkin sama,” tulis Karl Brandt dalam makalahnya itu. 

Oleh orang-orang luar Indonesia, komodo memang kerap disebut dragon (naga)—meski sejatinya berdasarkan nama ilmiahnya, ia masuk dalam jenis Varanus (kadal). Apalagi selama ini binatang bersayap dengan kepala mirip buaya itu adanya cuma di dalam alam khayal. Di negara Asia, dragon memiliki banyak sebutan, seperti Lung (Cina), Ryu (Jepang), Bakonawa (Filipina), Yong/Yo/Kyo (Korea); di Eropa seperti Welsh disebut Y Ddraig Goch (yang juga terlihat di bendera negara ini), Lindworm (Jerman dan negara Skandinavia), atau Balaur (Rumania). Di benua Amerika seperti di kebudayaan Inca, naga pun punya nama Amaru, di negara eksportir pemain sepakbola Brazil disebut Boi-tata. 

Naga pun mendapat tempat yang berarti di kebudayaan manusia Kalimantan. Selain komunitas Tionghoa yang memang banyak di sana, suku Banjar dan Dayak juga menyimbolkannya dalam benda-benda budaya mereka, seperti perahu, hiasan, dan ragam bentuk lain. 

Marko Mahin, antropolog dari Universitas Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan, dalam opininya di Banjarmasin Post edisi 24 September 2005, menyebut, naga selalu dihubungkan dengan awan dan air, sehingga ia juga dianggap sebagai ruh air atau ilah air yang membasahi tanah. Ia dilihat sebagai pemberi hujan dan makhluk dermawan yang berkuasa atas air. Tradisi ini bersumber dari situasi masyarakat Cina kuno yang agraris dan sangat tergantung pada air. 

Dalam Hikayat Bandjar (Ras 1968), yang disebutnya dalam opini tersebut, Lambu Mangkurat dan Raden Suryanata pernah ‘berurusan’ dengan naga. Perahu layar mereka dililit dua ekor naga putih hingga tidak bisa bergerak. Konon, dua ekor naga putih itu adalah hamba dari Putri Junjung Buih, calon istri Raden Putra. Semua hewan air takluk kepada Putri Junjung Buih. 

Latar belakang cerita ini dapat dilacak ke kosmologi orang Kalimantan yang memercayai, di balik riak dan arus air sungai terdapat Alam Bawah Air yang dikuasai dewi bernama Jata. Di sana ada permukiman. Penghuninya sesekali menampakkan diri ke atas air dalam bentuk buaya. Bisa juga berbentuk Gajah Mina, yaitu makhluk mitologis seperti kuda nil namun memiliki belalai seperti gajah. Selain itu di Alam Bawah Air terdapat naga yang disebut Tambon. 

Putri Junjung Buih, nenek moyang Urang Banjar, adalah manifestasi dari Jata, sang penguasa Alam Bawah Air. Karena itu ia punya kuasa atas segala makhluk yang berada di dalam air, termasuk sepasang naga putih yang melilit perahu layar Lambu Mangkurat dan Raden Putra. 

Entah karena kekaguman atau ketakutan, tulis Markun, motif naga seringkali muncul dalam keseharian orang-orang yang berbudaya sungai. Mungkin demikian pula halnya dengan Bugis dan Makassar; masyarakat yang mengidentikkan diri dengan kembaran buaya lantaran di jazirah selatan Pulau Sulawesi mengalir Sungai Sa’dan, Walannae, dan Sungai Cerekang. Tiga sungai besar itu membentang, memanjang, meliuk, dan bercabang ke lembah-lembah yang ada di Sulawesi Selatan, yang kemudian melahirkan sejumlah kebudayaan masyarakat yang dilaluinya, seperti pertanian atau perikanan. 

Di negeri jiran Malaysia, kembar buaya pun sangat dikenal. Baru-baru ini di Malaysia terbit buku setebal 343 halaman berjudul “Ensiklopedia Perbidanan Melayu” ditulis oleh Annisa Barakbah, diterbitkan 2007 oleh Nona Roguy/Utusan Publications & Distributions. Buku ini membahas ‘manusia kembar’. Di bagian awalnya dipaparkan Sejarah Ilmu Perbidanan Kaum Hawa, terdapat sub bab dan sub sub bab yang menjelaskan tentang: Bayi kembar Ghaib, Bayi Kembar Buaya Putih, Bayi Kembar Ular, sampai Bayi Kembar Burung. Dalam pengantar singkat buku tersebut, disebutkan bahwa masyarakat Melayu mengamalkan praktis perbidanan yang sistematik, diwarisi turun-temurun, ratusan malah ribuan tahun lalu. 

Perlakuan masyarakat terhadap naga-komodo-buaya seperti yang sudah kita simak tadi memiliki inti yang sama; dari darah dan kandungan yang satu. Ini sebuah penyimbolan yang dapat diartikan bahwa alam-manusia tidak dapat dipisahkan. Dua unsur bumi itu saling mendukung. Bukankah antara saudara seharusnya saling memberi saling menerima? 

Sungai adalah urat nadi sebuah daerah. Demikian pula dengan Sulsel sebagai provinsi yang berkawasan pegunungan terluas di Indonesia. Sebuah anugerah sekaligus kenyataan yang harusnya mendorong kita untuk tidak sekadar melihat dari segi mitos semata. Sungai adalah anak kandung gunung. Karenanya, menjaga buaya, komodo, sampai naga sebagai penguasa kerajaan air, tidak lain sebuah tindakan pelestarian lingkungan hidup menyeluruh, dari hulu (gunung) sampai muara (sungai). 

Namun, fenomena kembar buaya yang berkembang di tengah masyarakat Sulsel ini mendapat tanggapan dingin dari kalangan agamawan. Dalam sebuah tulisannya kolomnya di Harian Fajar beberapa tahun lalu, H Muhammad Nur Abddurrahman menegaskan, dalam sains, semua jenis makhluk memiliki DNA (deoxyribo nucleic acid), yaitu zat asam yang mengandung zat deoxyribose, terdapat utamanya dalam inti sel. Dengan begitu, jelas, jawabannya bertentangan dengan ilmu genetika. 

Dalam praktik kedokteran sehari-hari, lanjutnya, pernahkah seorang ibu yang melahirkan di rumah sakit bersalin diinformasikan beranak buaya? Tidak pernah. Orang melahirkan di rumah sakit bersifat terbuka, bahkan ada berita acaranya. Sementara di rumah sendiri sifatnya tertutup. ”Ini berarti di tempat terbuka tidak mungkin atau tidak sempat untuk melakukan manipulasi, sedangkan di tempat tertutup, ada kesempatan bahkan terbuka luas untuk manipulasi,” paparnya dalam tulisan berjudul “Tahyul Klasik dan Tahyul Kontemporer”, yang diterbitkan tanggal 3 Mei 1992 itu. 

Kembar buaya di kalangan masyarakat kita selalu saja heboh, Bila ada kembar buaya yang muncul, media massa pun tak ketinggalan memberitakannya, orang-orang pun berdatangan ingin menyaksikan langsung. Kita boleh percaya, boleh tidak. Tapi yang jelas, istilah “buaya” sendiri lekat di lidah kita sehari-hari. Maknanya bisa sebagai bentuk penghormatan sekaligus siasat dalam mencela. Ambil contoh “buaya keroncong” yang merujuk kepada orang-orang yang piawai bermain musik keroncong. Begitu pula “buaya darat” yang dikhususkan orang bermata jelalatan. Bahasa Bugis pun tidak ketinggalan. Dalam kosakata bahasa Bugis dikenal kata “buaja” yang berarti ‘buaya’ dan ‘rakus’. Karenanya orang-orang yang dianggap rakus, baik rakus makan atau kemaruk dalam hal apa saja, bakal menerima julukan ‘la buaja’ (si rakus) atau ‘ma(ka)buaja’ (begitu rakus).



Catatan: Tulisan ini pernah disiarkan via www.panyingkul.com

Tulisan yang berhubungan: https://saintjimpe.blogspot.co.id/2016/12/buaya-muncul-di-panakkukang.html

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP