Jumat, Februari 17, 2017

C. Campbell Macknight aka Mappasabbi Daeng Makkita

C. Campbell Macknight berjarak sekisar empat puluh tahun.

Posturnya menjulang. Kalau saya bandingkan dengan segelintir Indonesianis yang pernah datang ke Kampung Buku bertamu atau sekadar singgah mencari bahan penelitian, mungkin Charles Campbell Macknight yang tertinggi. Saya yang cuma 170 senti, ujung rambut saya mentok di ujung bawah telinganya.

Saya menyapanya Pak Campbell. Nama itu sudah akrab duluan di benak saya sebelum bertemu langsung. Itu karena namanya sama dengan nama 'tembok' belakang bek Arsenal yang tinggi nan lebar, Sol Campbell.

Saya dan Pak Campbell habiskan siang hingga menuju magrib di perpustakaan Kampung Buku, Makassar, pertengahan Januari 2016. Kami obrolkan beberapa hal, dari perihal bahasa Bugis dan lontara’ sampai cerita tentang kedatangannya pertama kali ke Indonesia.

Pak Campbell datang pertama kali ke Indonesia pada 6 Maret 1966. Tiba di ibukota, ia disambut gelombang demonstrasi di sekitaran Bundaran HI. Ia lupa nama jalan tempatnya menginap—maklum lima puluh tahun lalu. Tapi di situ ia lebih aman. Seperti kita tahu dari rekaman sejarah, masa paruh akhir dekade 1960-an itu merupakan masa golak sekisaran pemerintahan Soekarno ke Soeharto.

Ia baru ke Makassar tahun 1969, tiga tahun sejak tiba pertama di Indonesia. Tahun itu, seseorang di Sinjai memberinya nama Bugis “Mappasabbi Daeng Makkita”, kurang lebih berarti ‘penyaksi yang memberi petunjuk‘.

Ia datangi kawasan Leang-Leang. Perbedaan empat dasawarsa jelas ada. Terbitan berkala Rima (volume 39, 2015) yang dibawanya bergambar foto pinggir jalanan yang belum beraspal di Leang-Leang masih dirimbuni pohon. Tanjung Bunga, kata dia, empat puluh tahun lalu itu tidak ada. Saya tertawa mendengar ia menyebut ‘Tanjung Bunga’.

Apakah itu semacam humor gelap (black comedy) yang diselipkan pria yang tampak bugar di usia tujuh puluhan ini? Tanjung Bunga adalah kawasan baru di Makassar yang dikembangkan PT Gowa Makassar Tourism Development Tbk. Awal pengembangannya menuai protes dari banyak kalangan ketika pertama kali dicanangkan pembangunannya pada 1995.

“Saya ingat ketika melakukan perjalanan di sejumlah kawasan terpencil pada 1972, sebagai seorang bule yang sedang meneliti, saya disambut dan dianggap sebagai 'Prancis'. Itu berarti Pelras pernah ke sana sebelumnya,” katanya dalam https://saintjimpe.blogspot.co.id/2015/03/christian-honore-louis-pelras-17.html.

Pak Campbell mulai saya akrabi ketika memulai proyek penerjemahan The Voyage to Marege’ tahun 2006 atau awal 2007. Saya dan Nurhady Sirimorok kemudian mengirim surat ke dia untuk meminta izin penerjemahan yang diiyakannya langsung. 

Sejak itu, nyaris satu dasawarsa hubungan kami seperti berpacaran jarak jauh. Sekali waktu, sekisar 2009 atau 2010, ia datang ke Kampung Buku. Ia memborong buku terutama buku yang ditulis oleh akademikus di Makassar, seperti Assikalaibineng: Kitab Persetubuhan Bugis (Muhlis Hadrawi). Saya sendiri tak sempat bertemu ketika itu karena sedang di luar kota. Hanya teman-teman saya menyambutnya di halaman Kampung Buku.

Sekisar setahun setelahnya, profesor ini datang. Saya menyambutnya dengan kopi Toraja dan madu dari kawasan Tompobulu, lereng Gunung Bulusaraung, Pangkep. Senang juga melihatnya menyesap beberapa sendok madu itu.

Setelahnya, ia layangkan permohonan maaf karena terus berusaha mengurus perizinan dan memeriksa hasil terjemahan yang masih bolong. Ia juga ungkapkan rasa bersalahnya karena kesibukannya di lapangan tak bisa ia redakan.

Pada akhir 2015 atau awal 2016, Pak Campbell memberitahu bahwa akan datang segera ke Makassar dan membawa berkas foto-foto buku Voyage to Marege’. “Saya sudah dapat izin,” katanya di email.

Bukan cuma dia yang gembira. Saya pun pasti bilang iya. Simpul sudah lepas. Tertundanya proses penerbitan Voyage to Marege’ yang menunggu sepuluhan tahun akhirnya bisa diteruskan.

Awalnya, sepuluhan tahun waktu berjalan saya lupakan sebentar. Tapi begitu memasuki awal tahun 2017, waktu yang saya janjikan untuk naik cetak, saya hitung ulang. Memang benar, buku ini butuh sepuluh tahun untuk diterbitkan.

Saya lantas ingat beberapa hal bahwa Macknight sempat mendapat email ‘lamaran’ dari penerbit lain perihal kemungkinan diterjemahkan karya ini. Dengan meneruskan email jawabannya ke saya, saya jadi tahu bahwa ia menolaknya dengan alasan naskah terjemahan Penerbit Ininnawa sudah di tangannya—meski kami belum berdaya terhalang izin foto.

Soal foto-foto buku, ingatan saya menjalar ke Pakkuru Sumange’: Musik, Tari, dan Politik Kebudayaan Sulawesi Selatan (Ininnawa, 2013) karya Anderson Sutton. Ketika mendekati pencetakan, berkas-berkas foto Pak Sutton entah di mana. Jarak antara penerbitan buku edisi Inggris dan Indonesia cukup jauh. Jadi Pak Sutton lupa tempat menyimpannya. Itu ditambah rumahnya yang 'berantakan'. Di saat bersamaan, Pak Sutton bersiap pindah tugas jadi dekan di Hawai’i University, universitas yang jaraknya jauh dari tempatnya semula di Wisconsin (5000-an mil). Akhirnya foto-foto buku asli terpaksa kami harus reproduksi saja dengan semaksimal mungkin.

Ketika di halaman Kampung Buku, Pak Campbell jelaskan kalau ia datang ke Makassar pada Januari 2016 untuk hadir di sebuah konferensi arkeologi. Ia mengaku sengaja datang seminggu lebih cepat. “Untuk bertemu dengan teman-teman saya,” jelasnya dibarengi senyum lebar, “dan membawa foto-foto The Voyage.”

Saya amati, selama beberapa jam Pak Campbell di perpustakaan Kampung Buku tak pernah tampak gelisah. Ia kelihatan nyaman duduk di kursi kayu dan tak pernah meninggalkan tempat. Seporsi pisang ijo dan kopi tanpa gula ia habiskan. 

Diceritakannya juga tentang putranya yang baru saja menikahi seorang perempuan Tunisia. “Saya ingin sekali cucu,” kata Campbell. Ia katakan itu seraya mengacungkan kepalan tangannya. Kami tertawa keras waktu itu.

Tapi saya yakin ia jujur tentang itu. Meski kali ini, saya melihat Pak Macknight tertawa atau tersenyum lebar seakan tanpa beban. Persis yang saya lihat dari semua fotonya.

Usai azan magrib, lelaki itu pulang dengan langkah tegap, serta tas punggungnya. Itu langsung mengingat saya pada harfiah nama Inggris dan Bugisnya, yang bergerak ke kiri dan ke kanan bagai keriangan lonceng di permukiman, sekaligus sebagai pengingat bagi kita untuk membaca temuan-temuannya yang memberi saksi tentang sejarah para pencari teripang dari Makassar dalam bukunya yang terkenal, The Voyage to Marege’.[] 

Kamis, Februari 16, 2017

The Voyage to Marege': Pencari Teripang dari Makassar di Australia Utara


THE VOYAGE TO MAREGE’ Pencari Teripang dari Makassar di Australia Utara | © C. C. Macknight 1976, diterjemahkan dari C. C Macknight, Voyage to Marege’: Maccassan trepangers in northern Australia (Melbourne University Press, 1976) | Penerjemah: Anwar Jimpe Rachman, Ihsan Natsir | 
Penyunting: Abdul Rahman Abu
 | Cetakan Pertama, Februari 2017 | ISBN: 978-602-71651-9-9 | xii, 301 hlm 15 x 21 cm

The Voyage to Marege’ menyediakan kita sebuah pintu baru terkait sejarah orang-orang Australia. Hampir seabad sebelum Kapten Cook melayari pantai timur laut Australia, pelaut dari Asia rutin mendatangi Marege’, sebutan mereka pada kawasan ini, dan bahkan merintis industri di sana. Para laki-laki dari Makassar itu menempuh pelayaran panjang dan berbahaya demi mengumpulkan dan mengawetkan teripang yang dihargai mahal oleh penduduk Tiongkok.

Kajian C. C. Macknight ini menjadi klasik, bertahan hingga 40 tahun, sejak diterbitkan pertama dalam bahasa Inggris 1976 silam hingga diindonesiakan dan terbit pada 2017. Penyigian panjang Macknight ini menjadi salah satu sumber utama studi terkait sejarah Nusantara, terutama industri dan dunia perdagangan maritim abad ke-17 di Indonesia.

Sudah jelas bahwa karya Macknight berkontribusi sangat besar bagi pembaca umum dan para pengkaji dunia maritim dan sejarah perdagangan. Dengan kejelian mata tinjauan dari ragam disiplin ilmu dan mengandalkan bahan melimpah--mulai dari dokumen yang kaya (bukti administratif sampai sketsa/lukis/ gambar), temuan arkeologis, catatan etnografis, dan wawancara dengan orang-orang sepuh, yang pada masa mudanya melakoni pelayaran tersebut--Macknight membentangkan pada kita sebuah cakrawala baru yang indah tentang cerita tentang pelayaran-pelayaran epik ini.

Dilengkapi gambar, sketsa, dan foto-foto bersejarah, narasi-narasi lengkap dan berwarna yang disusun, Macknight menjadikan The Voyage to Marege’ menjelma sebagai hadiah yang menggembirakan pembacanya.

Minggu, Februari 12, 2017

Gelombang Perlawanan di Tepian Matano: Resistensi Masyarakat Sorowako terhadap PT. Inco


Gelombang Perlawanan di Tepian Matano: Resistensi Masyarakat Sorowako terhadap PT. Inco | Penulis: Sawedi Muhammad | Penyunting: Anwar Jimpe Rachman, Muhaimin Zulhair | Pengolah Data: Arief Wicaksono | Cetakan I, Januari 2017 | ISBN: 978-602-71651-7-5

“Gelombang Perlawanan di Tepian Matano” adalah kajian sosiologis yang disusun oleh Sawedi Muhammad melalui pemaparan detail perihal konflik yang terjadi di lingkar tambang PT International Nickel Indonesia, yang telah bertransformasi menjadi PT Vale Indonesia.

Dengan menggunakan teori gerakan sosial baru dan konsep Accumulation by Dispossession, Sawedi memaparkan genealogi dan dinamika perlawanan masyarakat Sorowako terhadap perusahaan; perlawanan yang diklaimnya berdampak rendah terhadap perubahan sosial, tetapi berhasil mempertahankan relasi kuasa yang relatif berimbang antara masyarakat dan perusahaan.


Lebih jauh, bila hendak membandingkan perlawanan ala James Scott (Weapons of the Weak, Everyday Forms of Peasant Resistance, 1985) yang bersifat tertutup dan laten, perlawanan masyarakat Sorowako menunjukkan identitas kulturalnya secara terbuka dan masif. Buku ini juga berbeda dari kajian etnografis Kathryn Robinson (Stepchildren of Progress: The Political Economy of Development In an Indonesian Mining Town, 1986) yang menempatkan penduduk asli sebagai elemen yang “pasif”. Buku ini mengungkap bagaimana masyarakat di lingkar tambang berperan sebagai “subjek” secara sosial, politik, dan kultural yang berjuang untuk mendapatkan apa yang mereka cita-citakan.[]

Sabtu, Desember 10, 2016

Buaya Muncul di Panakkukang?

Sumber ilustrasi: http://news.nationalgeographic.com/2016/05/nile-crocodiles-florida-reptiles-science/

AWALNYA, saya tidak mau telan mentah-mentah kabar yang dibawa teman saya, Zainal Siko, awal November 2016 lalu, tentang penampakan seekor buaya di sungai sekitaran rumahnya di Jalan Sukaria. Di bagian timur permukiman bekas rawa-rawa itu mengalir Sungai Sinrejala, sungai yang sama melintas di belakang rumah saya.

Ketidakpercayaan saya karena tak lihat dengan mata kepala sendiri. Makassar pun pernah macet teramat parah sepuluhan tahun lalu gara-gara warga berdesakan di Jembatan Sungai Tello, Jalan Perintis Kemerdekaan, mau melihat penampakan buaya putih. Kerumunan bubar dengan masing-masing orang membawa cerita “katanya”. Mungkin juga lantaran ‘trauma’ masa kecil saya keseringan dibohongi penjual obat kalau “buayanya sudah mau keluar”, tapi sampai pertunjukan selesai tak ada seujung kuku pun yang menyembul dari peti.

“Hati-hati,” kata Enal, “awasi anak-anak. Apalagi kamar Isobel (anak saya) ada di belakang,” lanjutnya mewanti-wanti. Enal menggetarkan bahunya yang langsing. Ia bergidik.

Memang benar kata Enal. Beberapa anak-anak biasa main bersama di beberapa tempat yang tak pernah jauh dari sungai itu: kamar anak saya, di lahan berisi beberapa tanaman yang membatasi rumah saya dan sungai, atau di salah satu dari deretan rumah yang jaraknya tak lebih dari lima meter dari pinggir kali tersebut.

Jarak rumah saya di sekitar Kompleks Panakkukang Indah di selatan dan Enal di utara paling jauh satu setengah kilometer. Enal bilang bahwa, kata orang, buaya itu tampak naik ke bantaran sungai, tepat di bawah jembatan di sekitar simpang tiga jalan yang menghubungkan Jl. Prof Abdurahman Basalamah (dulu Jalan Racing Center) ke arah Jalan Pettarani.

Berita yang sama tiba lagi di telinga saya sebulan kemudian. Kali ini, di awal Desember 2016, kabar itu datang langsung dari mulut tetangga samping rumah saya. Seraya mengumpulkan kayu untuk masak air, perempuan yang biasa saya sapa “Mama Raihan” itu mengaku melihat penampakan buaya.

“Saya lihat tadi di sana,” katanya, seraya menunjuk ke seberang sungai. Di sana tampak semak merimbun, sebatang pohon nipah dewasa, dan bokong rumah tak berpintu yang membelakangi sungai.
Sungai Sinrejala yang mengalir di belakang Kantor Lurah Pandang. (Foto: Anwar Jimpe Rachman)
Ketika menghuni kawasan ini pertama kali tahun 2008, beberapa orang selalu menyebut bahwa itu bukan sungai, melainkan kanal. Kanal itu buatan manusia, sedang sungai dibentuk oleh alam. Saya selalu protes karena penanda seperti pandan dan nipah tumbuh subur di sekitarnya. Bahkan nama kelurahan tempat saya bermukim pun bernama Kelurahan Pandang (saya juga punya yakin bahwa ini penyebutan keliru ‘pandan’ di lidah orang Bugis dan Makassar). Kepercayaan saya bahwa ‘kanal itu sebenarnya sungai’ kian tebal setelah mendapati banyak cangkang kerang dan siput, tatkala menggali lahan kosong belakang rumah untuk menanam atau menimbun.

Enal belakangan menguatkan anggapan saya tentang ‘sungai, bukan kanal’. Menurut informasi yang dikumpulkannya dari beberapa orang-orang tua, sungai selebar 10-15 meter itu bernama Sinrejala. Dalam bahasa Makassar, sebutan itu bermakna “jala robek”. Enal mengatakan, “Orang-orang tua bilang, dulunya kalau orang menangkap ikan di sana, jala mereka sering dirobek buaya.” Konon, kawasan sekitar Jalan Sukamaju, Sukamulia, dan Jalan Sukaria dulunya bernama Binanga Toayya (sungai tua/purba).

Nama Sinrejala juga nama kelurahan. Penanda yang termasuk wilayah kelurahan ini termasuk separuh jembatan layang (flyover) di utara, Jalan Suka Damai di selatan, Jalan Karantina di barat, dan ujung timur pagar Universitas Bosowa. Di sinilah kemudian Sungai Sinrejala mengalir melewati jembatan, bergabung, lalu membesar menuju muara di Tallo.

Setelah mendengar kabar penampakan buaya yang dibawa Enal, saya tentu tetap waspada. Saya memasang indera lebih awas setiap melangkah ke tanah belakang rumah untuk membersihkan sampah daun yang berserakan. Cerita Enal juga dikuatkan dengan pengalaman saya. Beberapa kali melihat biawak menyingkir panik karena kehadiran saya (maksud saya, buaya dan biawak itu satu habitat dan miriplah). Satu waktu juga saya menyaksikan kadal berburu ayam di bagian seberang yang ditumbuhi semak dan beberapa pohon. Sekitar tiga tahunan sebelumnya istri saya juga bersaksi melihat telur kadal/biawak terlindung rimbunnya rumput di lahan belakang rumah yang beberapa bulan tak sempat disiangi. Sejak itu, rumput tak pernah saya biarkan lagi tumbuh di sana dan menggantinya tanaman jangka panjang.


CERITA tentang buaya di Makassar sudah beberapa kali saya dengar. Tapi cukup berbeda yang saya dengar langsung dari orang-orang dekat tadi. Cerita-cerita sebelumnya bercampur mitos.

Pertama, peristiwa pertengahan dekade 2000 di Jembatan Sungai Tallo yang menghubungkan Jalan Urip Sumoharjo dan Jalan Perintis Kemerdekaan, yang saya ceritakan tadi di awal tulisan. Kedua, saya dengar dari beberapa penghuni Pulau Lakkang, kawasan yang dikelilingi Sungai Pampang dan Sungai Tallo, sekisar empat tahun lalu. Di bagian timur pulau itu, ada kawasan karrasa’ (keramat). Konon, wujudnya gunung di bawah sungai, tempat bersemayam penguasa dunia air.

Cerita mitos semacam itu banyak muncul di masyarakat dengan lingkup hidup berdampingan dengan sungai. Penghidupan warga Lakkang umumnya berbasis perikanan. Hamparan tambak akan menyambut begitu turun dari perahu yang mengantar ke pulau yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Tallo ini. Warga juga membuat petak-petak berdinding jala untuk membiakkan udang di aliran Sungai Tallo.

Jamak juga kita dengar tentang cerita kembar buaya di daerah lain di Sulawesi Selatan, sebab wilayah ini punya banyak sungai. Kita kenal baik nama-nama sungai itu, di antaranya yang besar-besar adalah Sungai Sa’dan, Sungai Walennae, atau Sungai Cerekang. Namun berdasarkan tulisan saya (2011), mitos manusia kembar buaya menyimbolkan bahwa alam dan manusia tidak dapat dipisahkan layaknya saudara kembar. Keduanya merupakan unsur alam yang harus saling mendukung.

Tapi cerita berkaitan buaya tidak melulu terhubung ke dunia mitos. Ada juga yang masuk akal bagi saya, seperti kabar empat tahun lalu dari seorang warga Lakkang, Abdul Haris, menceritakan penampakan buaya, seperti yang diceritakan Enal. Kata dia, bila ada warga yang mengaku sempat melihat kemunculan buaya di sekitar pulau itu, mereka segera menuju rumah, memperbaiki jala atau alat tangkap lainnya. Dengan itu, mereka berangkat ke tempat ‘bertemu buaya’ itu. “Ada satu orang yang katanya pernah ke sana dan dapat ikan banyak,” ungkap lelaki yang sehari-harinya sebagai nelayan.


KEMBALI ke buaya yang muncul di sungai belakang rumah, saya sudah bilang sejak awal: saya gentar. Saya tidak bisa membayangkan berapa kali kecepatan debaran jantung saya bila sampai harus berhadapan dengan binatang yang menyandang gelar “satwa dengan gigitan terkuat di dunia” ini.

Namun di sisi lain, saya juga sebenarnya berpikir bahwa itu adalah berita gembira tentang kualitas lingkungan hidup sungai ini. Berbekal pelajaran semasa SMP tentang rantai makanan, saya hanya merasa bahwa kemunculan buaya, bisa jadi, berarti rantai makanan di sungai tersebut masih stabil (meski ada juga versi yang mengatakan itu adalah akibat intrusi air laut). Itu berarti buruannya masih tersedia di situ. Dengan rantai makanan yang utuh, sistem pengurai alami di sekitar kita jelas masih tersedia. Peluang pulihnya kualitas lingkungan hidup kota lebih besar.

Dengan kabar dari Enal dan tetangga saya, saya sih berharap tidak ada orang yang akan mencoba mengusik sungai itu, semisal membangun lebih mendekat ke sungai, atau warga akan membiarkan pohon dan tumbuhan sekitar sungai tetap hidup. Jadi, para penghuni sekitar sungai seperti ikan, buaya, sampai tikus biarlah tetap di situ (agar tidak mengerat di rumah-rumah).

Biarlah sungai itu menampung dan menyalurkan air sebanyak-banyaknya agar kota ini terbebas banjir. Tentu kita tahu, kota yang mengandalkan pembangunan fisik, akan menutup banyak bukaan tanah dan mengurangi daerah resapan air.

Ya, semoga juga tampakan Sungai Sinrejala tidak akan lagi membuat kita sedih. Di musim kemarau, sungai ini benar-benar bikin galau. Airnya hitam dan berbau. Aromanya bisa menembus sampai meja makan saya. Kadang pula saya mau menikmati sore yang berjalan sangat pelan di belakang rumah, tapi pemandangan romantis awan jingga yang memantul di permukaannya jadi rusak karena sampah dalam kantong plastik atau karung sering terlihat mengapung menuju ke utara, arah Sungai Tallo. Belum lagi kalau melintas juga enceng gondong yang tingginya separuh orang dewasa (kian besar ukuran enceng, berarti makin banyak kandungan limbah air tersebut), begitu siklus air pasang berlangsung.

Di musim hujan, ia seperti dewa penolong. Air limpasan dari berbagai tempat di Makassar, bisa dialirkannya ke utara dengan cepat. Bahkan rumah saya pernah kebanjiran empat tahun lalu justru bukan dari air yang merembes dari sungai, melainkan dari genangan di kompleks depan rumah saya.

Semoga, bila buaya-buaya di Sungai Sinrejala memang benar ada, biarlah mereka berkembang biak. Biarkan mereka merayap atau berenang menyebar populasinya ke sungai-sungai lain yang makin kurus di kota ini. Semoga dengan begitu, lingkungan hidup Makassar lebih stabil dan menyehat.

Tak maukah Anda menikmati hidup di kota dengan warna penuh hijau pepohonan dan air sungai yang lebih bening dari sekarang?[]

Minggu, November 06, 2016

Tumbuh di Barisan Belakang / Growing in the Back Row

------
Catatan: Tulisan ini adalah tulisan dalam katalog Jakarta Biennale 2015. Sengaja saya siar ulang di sini untuk membantu keterbacaannya yang lebih luas (dan pengarsipan, tentu saja). Ini bagian kecil dari proses yang saya alami sejak awal tahun lalu selama bekerja dengan teman-teman tim manajemen dan produksi Jakarta Biennale 2015. Potongan lain yang tidak sempat saya ceritakan, melainkan dalam beberapa foto yang saya pinjam dari tim dokumentasi JB 2015. Sumber tulisan ini dari http://bit.ly/2eJZdj0. Versi Inggrisnya tersedia di bagian bawah. Selamat membaca!
------
DALAM satu kesempatan pada pertengahan dasawarsa 1990-an, saya masuk ke sebuah pameran seni lukis di Makassar. Sambil melihat-lihat, muncul satu pertanyaan di kepala saya ketika itu, “Mungkinkah ada jalan masuk ke dunia seni rupa tanpa harus punya keterampilan menggambar, melukis, atau semacam itu?”

Pertanyaan itu tertimbun dalam benak saya selama sekitar dua dekade, dan baru muncul lagi pada September 2015, setelah dipicu satu pertanyaan lain dalam suatu sesi wawancara dengan sebuah media. Tanya-jawab itu sehubungan dengan tugas saya sebagai salah seorang dari enam kurator yang bekerja untuk Jakarta Biennale (JB) 2015.


Kuratorial JB 2015 menerapkan sistem yang berbeda dibanding yang sebelumnya. Selain saya dari Makassar, manajemen JB 2015 mengundang kurator dari tiga kota lainnya: Asep Topan (Jakarta), Benny Wicaksono (Surabaya), Irma Chantily (Jakarta), Putra Hidayatullah (Banda Aceh), dan Riksa Afiaty (Jakarta, Bandung).

Kami, tim yang kemudian disebut “kurator muda”, sejak Januari 2015 bekerja sambil belajar dalam program Curators Lab yang digawangi oleh Charles Esche, kurator Van Abbemuseum di Eindhoven, Belanda. Menurut proyeksi manajemen JB, cara ini bakal memudahkan transfer pengetahuan karena Charles, sebagai kurator, telah memiliki pengalaman terjun di sejumlah bienial yang berwibawa seperti São Paolo Biennale dan Istanbul Biennale. Pada praktiknya, memang Curators Lab menjadi model belajar yang langsung menceburkan kami sebagai kurator muda ke dalam lautan manajemen sebuah bienial.

Kata “muda” sebenarnya menjelaskan tentang betapa hijaunya kami dalam menyusuri rimba seni rupa Indonesia. Tapi sebagian orang—terutama teman-teman saya—menanggapinya dari segi “usia”. Sehingga, sudah jelas, kata itu kemudian menjadi “word of the year” bagi manusia yang sudah empat kali ganti KTP seperti saya.


Sepanjang proses kerja kami hingga menjelang pembukaan JB 2015, saya menggarisbawahi beberapa hal penting sehubungan dengan pengalaman saya dalam Curators Lab.

Pertama, seni tidak bisa berdiri sendirian—sebagaimana kata Charles, “Hanya seni tidaklah cukup.” Saya kian yakin bahwa dibutuhkan perspektif dari banyak disiplin pengetahuan lainnya dalam menanggapi atau memecahkan persoalan-persoalan manusia lewat dunia seni rupa.



Latar para anggota tim kurator sendiri sudah cukup mencerminkan keberagaman tersebut. Dari kami, hanya Benny yang seniman. Saya lebih banyak bekerja di dunia literatur, Asep sedang menempuh pascasarjana kekuratoran, Irma bekerja di sebuah lembaga budaya asing, Riksa menangani manajemen laboratorium seni bernama ArtLab di ruangrupa, Putra tipikal “anak sekolahan” yang pendiam dan rajin—ia baru mendapat beasiswa pascasarjana ke luar negeri—dan Charles, dari yang saya dengar, malah berlatar pendidikan politik.

Kedua, sistem manajemen. Saya menjadi anggota dari sebuah kelompok kerja berisi sedemikian banyak orang yang mempersiapkan acara berskala internasional yang melibatkan tujuh puluhan seniman dari dalam dan luar negeri—belum lagi pihak-pihak yang menyokong pendanaan acara ini. Estimasi kasar saya, demi JB 2015 yang digelar selama dua bulan, dibutuhkan waktu kurang-lebih setahun bagi para kurator untuk belajar “merapatkan shaf” di belakang imam Charles Esche. Tatkala masuk separuh akhir masa persiapan, oleh manajemen, saya diperkenalkan ke beberapa orang yang baru saya kenal tapi sebenarnya sudah lama bekerja untuk Jakarta Biennale 2015, semisal Shera Rindra M. Pringgodigdo di bagian komunikasi, Bagasworo Aryaningtyas alias Komeng yang bertanggungjawab soal lokasi proyek komunitas, dan Adi Setiawan alias Digel yang mengurus lokasi mural. Saya juga berkorespondensi dengan dua atau tiga orang lain yang rupanya merupakan awak redaksi situs jakartabiennale.net.

Memang, awalnya saya punya secuil gambaran tentang kerja kuratorial berdasarkan sekurang-kurangnya dua hal: (1) pengalaman singkat yang berkaitan dengan inisiatif penulisan dan beberapa peristiwa seni rupa mutakhir Makassar bersama kawan-kawan di sana dalam satu dekade terakhir; (2) perkiraan pola dan model kerja berdasarkan gambaran yang saya peroleh dari lokakarya kuratorial di ruangrupa, Jakarta, pada 2009 silam. Namun, Jakarta Biennale 2015 yang berskala kolosal mengharuskan saya berkonsentrasi penuh serta menghemat tenaga agar daya tahan tetap tinggi dan daya jelajah tetap luas. Mungkin yang paling mirip dengan tugas semacam ini adalah pekerjaan memilah dan menyunting naskah yang sudah sepuluh tahunan saya lakoni di lini penerbitan Komunitas Ininnawa dan Tanahindie.

Ketiga, saya jadi memiliki peluang mempersandingkan dinamika seni rupa di Makassar dengan di Banda Aceh, Jakarta, dan Surabaya. Dari sini, saya melihat bahwa perbandingan itu bisa dilakukan pada jaringan antarpelaku, dinamika wacana, dan geliat seni rupa yang dimungkinkan oleh ruang publikasi serta dukungan dari pihak lain. Jelasnya, tampak bahwa Curators Lab membuka peluang saling belajar antarkota (asal kurator) perihal melihat dan merespons persoalan-persoalan di masing-masing kota. Satu hal yang tak kalah penting juga bagi saya adalah soal keempat: merayakan kemenangan-kemenangan kecil warga. Mereka sejak lama dikalahkan melalui struktur politik dan sosial. Hanya seni dan sastra yang memberi peluang sangat besar untuk menyuarakan harapan mereka, dalam usaha mereka merebut kedaulatan hidup. Seni dan sastra bisa menjadi tenaga yang mendaur daya warga dalam setiap upaya keras mereka menjaga kehidupan lingkungan dan manusia yang ada di dalamnya.

Kami dapat merasakan hal di atas saat mendampingi Charles bertemu dengan segelintir warga dan segala ragam siasat mereka untuk menghadapi kenyataan hidup, tepatnya warga Kampung Pisang yang tinggal di permukiman padat di Kelurahan Maccini Sombala, Kecamatan Tamalate, Makassar bagian selatan. Kampung itu rentan akan penggusuran dari tahun ke tahun dan nasibnya bergantung pada dialog antara pemerintah kota dan warga. Wilayahnya, yang terbentuk dari buangan tanah urukan pembuatan danau di wilayah GMTDC (Gowa Makassar Tourism Development Corporation), kini makin menyempit. Warga lantas berbagi dan menata ulang permukiman, termasuk bersiasat membangun rumah dengan bahan baku campuran—baik baru maupun bekas. Bagi saya, kreativitas seperti itu patut dirayakan sebagai kemenangan kecil di tengah-tengah keterbatasan.
Bagaimanapun, percayalah, dari penjelasan yang saya tulis sampai di sini, mohon jangan membayangkan bahwa saya dan teman-teman kurator menjalani kewajiban yang kaku dan suntuk, atau berkutat dengan pertukaran gagasan di dalam ruangan melulu. Justru saya mampu menggambarkannya dengan terang lantaran kami melewatinya dengan banyak tertawa. Belajar bersama Charles mengasyikkan karena—bagi saya—bahasa tubuhnya lebih terasa seperti bahasa tubuh “teman lama”. (Atau karena kami tidak tahu apa-apa, Charles pun menjadi lebih mudah mengarahkan kami?)

Charles telah benar-benar mengajari bagaimana cara membuka diri terhadap banyak kemungkinan perspektif dan peluang bekerja. Dalam suatu percakapan kami bertiga, saya, Irma, dan Charles, dalam perjalanan pulang dari Kampung Pisang, saya sampai bertanya “Mengapa kamu kelihatan begitu santai (selama bersama kami dan ketika bertemu dengan yang lainnya)?” Ia hanya menjawab singkat “Why not?” lalu tertawa. Jawaban itu saya kira mencerminkan betapa kayanya pengalaman hidup lelaki kelahiran Skotlandia ini.

Begitu tugas terkait JB 2015 selesai pada triwulan pertama 2016, tentu waktunya pula bagi kami untuk kembali ke habitat kami masing-masing. Saya percaya, apa yang ditunjukkan Charles melalui caranya bekerja kepada kami yang “lucu-lucu” ini bagaikan garis horizon yang harus dikejar.
Setidaknya, kami dan Charles adalah pemandangan yang serasi. Serupa beberapa pohon yang tumbuh berderet. Mungkin kami barulah pohon tanpa buah yang berdaun rimbun semata. Sementara Charles adalah pohon berdedaunan hijau yang penuh kilauan buah yang kuning meranum di ujung tangkai. Begitu JB 2015 usai, buah-buah tersebut akan menjatuhkan diri ke tanah. Lalu tiba giliran kami belajar untuk menjulurkan akar sendiri ke segala penjuru, agar pohon kami dapat berbuah ranum di tengah iklim yang keras.

Dengan begitu, apa yang saya dan teman-teman di Makassar lakukan selama ini (semoga sampai di kemudian hari) membuat kami lebih baik dalam mengelola hal-hal yang kami hadapi kelak.[]



-------

Growing in the Back Row

In the mid 1990s, I went to a painting exhibition in Makassar, which prompted a question in my head: “Can we access the world of art without having the skill to draw, paint, and such?”

The question was pushed to the backburner for about two decades, and only reappeared in september 2015, after another question popped up in a media interview, which was part of my duty as one of the six curators working for the Jakarta Biennale (JB) 2015.

The JB 2015 curatorial team implements a different system from previous editions of the biennale. apart from myself, the JB 2015 management invited curators from three other cities: asep Topan (Jakarta), Benny Wicaksono (surabaya), Irma Chantily (Jakarta), Putra hidayatullah (Banda aceh) and riksa afiaty (Jakarta, Bandung).

We, the team is called ‘the young curators’, have been working since January 2015 while learning a thing or two in the Curators lab program led by Charles esche, the curator of the Van Abbemuseum in Eindhoven, the Netherlands. Based on the JB management’s projection, the system would ease the transfer of knowledge because Charles has the experience of working in respected biennales, such as the São Paolo Biennale and the Istanbul Biennale. In practice, the Curators lab is a learning method that pushes us young curators to jump into the ocean of managing a biennale.

The adjective ‘young’ serves as an indication of how green we are in the process of walking through the thick forest of Indonesian art. But some people, particularly my friends, see it as an issue of age. And thus, ‘young’ became the ‘word of the year’ for me who have renewed my ID card for four times.

Throughout our working process toward the opening of the JB 2015, I underline several important points related to my experience in the Curators lab.

First, art cannot stand on its own, as pointed out by Charles, how “art alone is not enough.” I have become more convinced that we need more perspectives from many other disciplines to respond to or to solve human problems through the world of art.

The background of the curators’ team is quite diverse. Of the team members, only Benny is an artist. I work mostly in the field of literature, asep is a post-graduate student on curatorship, Irma works at a foreign cultural center, riksa manages an art laboratory called artlab at ruangrupa, Putra is a typical quiet and diligent ‘student’—he just received a post-graduate scholarship from another country—and Charles, from what I heard, studied political science.

Second, the management system. I became a member of a working group that consists of so many people who prepare an international-scale event that involves about 70 artists from inside and outside the country, not to mention the sponsors funding this event. Based on my rough estimation, for a two-month event, it requires at least one year for the curators to learn to ‘straighten the rows’ behind the leader Charles esche. Halfway through the end of the preparation, I was introduced by the management to several other people who have actually worked for a long time for the Jakarta Biennale 2015. They include shera rindra M. Pringgodigdo from the communication department, Bagasworo Aryaningtyas or Komeng who is responsible for community project locations, and Adi Setiawan a.k.a. Digel who takes care of the locations of murals. I also correspond with two or three other people in charge with the editorial of the website www.jakartabiennale.net.

At first, I only had a little grasp of what curatorial work entails, based on two things: (1) a short stint related to writing initiatives and several art events in Makassar with my friends in the past decade; (2) working pattern and model estimation based on the curatorial workshop at ruangrupa, Jakarta, in 2009. The magnitude of the Jakarta Biennale 2015, however, forced me to fully concentrate and reserve my energy to maintain my endurance and exploration power. The closest thing to it that I have ever experienced is probably curating and editing manuscripts for the Ininnawa Community and Tanahindie publishers in the past ten years.

Third, I have the opportunity to compare the dynamics of the art scene in Makassar with those in Banda aceh, Jakarta and surabaya. The comparison is based on the practitioners’ network, discourse dynamics, and the growth of the art scene enabled by publication space and support from other parties. Clearly, Curators lab provides the opportunity for the curators to learn from each other’s city in order to observe and respond to the issues in their own place.

Last but not least, fourth: celebrating locals’ small victories. People have been defeated by the political and social structures for so long. Only art and literature give a huge opportunity to voice their hopes, in their attempts for sovereignty. art and literature can become the energy to boost people’s power to maintain the environment and the humans in it.

We recognize this situation when accompanying Charles to meet a number of locals and find out their strategies to face the reality of life. They are the residents of densely populated Kampung Pisang in Maccini sombala, Tamalate district, southern Makassar. The kampong is prone to eviction from time to time and its fate depends on the dialog between the city administration and the residents. The area, which is formed from the mound dumped from a lake construction in GMTDC (Gowa-Makassar Tourism Development Corporation), is getting narrower. People share and rearrange the settlement, including by building houses with a combination of new and used materials. For me, such creativity needs to be celebrated as a small victory amid the limitations.

Nevertheless, as you read my explanation so far, don’t imagine that my fellow curators and I carried out rigid and lengthy assignments, or stuck in a confined space while exchanging ideas. We actually laughed a lot. learning with Charles is so much fun for me because he has a gesture of an ‘old friend’. (Or maybe since we know next to nothing, it was easier for Charles to direct us?)

Charles really taught us to open up to so many possibilities, perspectives and opportunities. In a conversation with Charles and Irma, on the way back from Kampung Pisang, I asked him, “Why did you look so relaxed (with us and the others)?” to which he replied, “Why not?” and laughed. It showed just how rich the life experience of the scottish man is.

Once our task is completed in the first quarter of 2016, it would be time for each of us to go back to our habitat. I believe the way that Charles has shown us, ‘the fledglings’, is the horizon to pursue.

At least Charles and us were a sight to behold, like a row of neatly arranged trees. Maybe we are the shady trees that have yet to bear fruits, while Charles is a lush green tree with dangling, ripe produce. Once the JB 2015 is over, the fruits would fall on the ground. It would be our turn to learn to expand our roots into various directions, to enable our trees to produce fruits amid such harsh climate.

Therefore, whatever my friends and I in Makassar do so far (and hopefully in the years to come), it will make us grow to be better in managing what we will face later on.[]

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP