Sabtu, Maret 23, 2019

Mengisi Spasi

Ketika Nadiem Makarim mendirikan Gojek pada tahun 2010 lalu, guncangan hebat kedua melanda pengusaha angkutan di Indonesia. Di Makassar, angkutan kota yang lazim disebut pete-pete segera makin sepi penumpang. Bangku-bangku penumpang angkot berwarna biru ini sudah sepi sejak hantaman pertama datang dari jasa pembiayaan kendaraan, ketika warga diberi kemudahan akses memiliki kendaraan pribadi. Hingga Oktober 2018, jumlahnya mencapai 1.563.608 unit (celebesmedia.id). Dengan merata-ratakannya dengan jumlah penduduk Makassar 1.671.001 jiwa (rakyatku.com), berarti nyaris setiap jiwa penghuni Makassar memiliki kendaraan.

Bagaimana keadaan sebenarnya di dalam pete-pete? Adakah yang berubah setelah dihantam dua gelombang besar tersebut? Bila pun keadaan sudah bersalin rupa, bagaimana situasi yang sebenarnya? 
Foto: Aziziah Diah Aprilya

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang berupaya dijawab oleh Aziziah Diah Aprilya dalam karya yang ditampilkannya dalam pameran “Spasi”. Deretan pertanyaan sederhana tersebut juga yang menjadi tuntutan utama bagi Zizi, panggilan akrabnya ketika mengikuti residensi intens di Tanahindie dalam proyek penelitian dan penulisan “Anak Muda dan Kota” 2018 lalu. Karya-karya visual ini kemudian terbit dalam Kota Diperam dalam Lontang/City Soaked in Drinking Stall (Tanahindie Press, 2018), buku dwibahasa kumpulan tulisan hasil penelitian dan penulisan sekelompok anak muda terkait studi urban. 

Namun penting dicatat bahwa proyek penelitian itu sejatinya adalah bagian dan bentuk upaya Tanahindie membuka ruang bagi seniman-seniman muda untuk berdialog dengan khalayak yang lebih luas. Saya selalu yakin, pengalaman masa yang lebih dini akan mematangkan dan menguatkan fondasi sang seniman di hari-hari yang kelak.

Zizi juga telah berhasil mengisi spasi pameran fotografi yang demikian lebar di Makassar. Pameran ini pun melipur satu jeda cukup panjang inisiatif-inisiatif terkait fotografi. Pameran paling intens di Makassar, bahkan menjadi seperti agenda tahunan, adalah pameran yang digagas Galeri Foto Jurnalistik Antara. 

Spasi ini sudah diketuk—sambil merawat spasi lainnya yang kelak.[]

Catatan
1. Katalog pameran bisa diunduh via artefact.id
2. Buku Kota Diperam dalam Lontang/City Soaked in Drinking Stall bisa Anda peroleh di Kampung Buku (https://www.instagram.com/kampungbuku/).

Senin, Maret 11, 2019

Menggali Dua Keping Kata

Koin Belanda (Foto ilustrasi: Anwar Jimpe Rachman)
Ada satu rumah kayu yang berjarak seratusan meter di barat rumah masa kecil saya. Saya dan teman-teman main biasa cuma melintas dan memandangnya dari luar pagar. Penghuninya belum pernah kami lihat. Menurut tetangga-tetangga kami, agaknya semua yang tinggal di situ adalah orang-orang sepuh. Anak-anak mereka terbang mencari makan ke tempat lain. 

Rumah kayu tua itu roboh suatu ketika. Tiang dan seluruh rangkanya sudah dipindah entah ke mana. Yang tertinggal waktu itu cuma sehamparan tanah serta beberapa serpih atap daun rumbia yang lapuk, perca dinding bambu, pecahan berlumut satu tempayan, hamburan batu sebesar kepalan tangan sisa setapak khas di bawah rumah panggung Bugis, dan sampah-sampah dari yang pernah menghuni rumah. 

Saya bersama beberapa teman kanak-kanak saya menyerbu remah-remah rumah itu. Kami seperti tahu, ada saja yang tidak terbawa dalam satu keberangkatan. Kalau kawan saya pulang bawa sampah yang diubah jadi mainan. Tapi saya bawa dua artefak: buku lontara’ (dengan bekas rayap di pinggirannya) dan sekeping koin VOC bertitimangsa 1792. Saya bawa pulang keduanya. Sayangnya, karena kesadaran sejarah kanak-kanak yang masih rendah, nasib buku itu kini tak tahu di mana rimbanya dan mata uang logam tembaga milik Kompeni selebar jempol itu terakhir diambil abang saya.

Namun menemukan kedua benda itu, terutama koin karena melihat angka tahunnya, saya merasa menjadi anak istimewa dan ‘dipilih semesta’ lantaran memegang satu jejak dari masa yang teramat lampau. Saya tidak punya imajinasi tentang deretan angka tahun tersebut, selain lintasan panduan cerita dari guru berdasarkan pembahasan sejarah di bangku sekolah.

Dua puluhan tahun kemudian, perasaan yang menyelubungi saya kala menemukan koin itu terulang lagi. Itu waktu saya menerjemahkan Art as Politics: Re-crafting Identities, Tourism, and Power in Tana Toraja, Indonesia (Kathleen M. Adams, 2006). 

Dalam penerjemahan, ada semacam kegembiraan tak tepermanai bila kita berhasil menemukan kata Indonesia yang sepadan untuk istilah-istilah dalam naskah asing. Di lembar-lembar buku karya Kathleen ada dua kata yang sangat membekas. Pertama, tourates, istilah yang dipinjam profesor antropologi Loyola University Chicago ini dari Andrew Causey (2003); dan pastiche, satu kosa kata yang biasa dicicipi para pengonsumsi kajian posmodernisme. 

Istilah tourates sejak awal sudah muncul di halaman 10 buku Kathleen. Membolak-balik dan mengeklik halaman kamus daring hasilnya nihil. Saya menyerah. Saya lalu kembali ke penjelasan Kathleen yang menyertai istilah tersebut, yakni “orang lokal yang hidupnya bersentuhan atau berkelindan dengan pariwisata”. Namun persoalan belum rampung oleh pengertian itu. Terma itu bakal muncul berkali-kali dalam penjelasan di bagian-bagian berikutnya. Jelas akan menyendatkan.

Sambil meneruskan membaca penjelasan-penjelasan Kahtleen di bagian berikutnya, saya masih dihantui apa gerangan pengertian yang cocok untuk tourates itu. Sebentar-sebentar saya merasa ada kata yang melintas sebentar tapi segera hilang. Mungkin mirip dengan melihat kelebat sesuatu yang samar dengan ekor mata. Atau, lebih sastrawi, terasa bagai kalimat Amir Hamzah: bertukar tangkap dengan lepas. 

Saya pun jeda mengetik. Berpikir, mengerahkan konsentrasi, dan menggali ingatan tentang istilah dunia usaha. Nah, saya pun bertemu imbuhan /wira-/, seperti yang biasa kita baca dalam kata ‘wiraswasta’, istilah untuk usaha yang digerakkan oleh usaha dan upaya sendiri. Dengan kata tour dalam tourates yang dialihbahasakan menjadi ‘perjalanan’ atau ‘wisata’, dan tinggal menambahkan akhiran /-wan/, maka jadilah: wirawisatawan. 

Satu soal selesai. Tinggal: pastiche. Wah, istilah ini lagi. 

Sudah dua kali saya temukan pastiche dalam kerja penerjemahan. Pertama kali tahun 2011-2012, ketika saya mengerjakan alih bahasa Calling Back the Spirit: Musik, Dance, and Cultural Politics in Lowland South Sulawesi (2002) yang terbit menjadi Pakkurru Sumange’: Musik, Tari, dan Politik Kebudayaan Sulawesi Selatan (2013). Namun entah karena lemah pikir atau diburu waktu, ketika itu saya hanya pakai bergantian kata campuran dan pastiche itu sendiri.

Ferdinand de Saussure (1857-1913) bilang bahwa dalam bahasa, bunyi tak dapat dipisahkan dari pikiran ataupun pikiran dari bunyi. Sebab itulah saya mencari kata berbunyi mirip dengan rancang karena nuansa ‘susunan’ dan ‘seni’ dalam makna pastiche yakni karya seni visual, sastra, teater, atau musik yang mengimitasi gaya atau karakter karya seorang seniman atau lebih (a work of visual art, literature, theatre, or music that imitates the style or character of the work of one or more other artists). 

Saya buka aplikasi KBBI di telepon pintar. Segera muncul susunan daftar kata yang berhuruf awal sama. Saya melihat rancam ada di atas rancang. Saya cek maknanya, muncullah: rancam, ark., campuran bermacam-macam (bahan dsb). 

Eureka! Segera saya salin rancam, lalu tempel, dan ganti kata pastiche

Rancam (KBBI)
Pastiche (Indonesian Dictionary & Oxford)
campuran bermacam-macam (bahan dsb)
1. creation from a number of different sources; work created mainly using techniques or styles borrowed from other artists
2. a work of visual art, literature, theatre, or music that imitates the style or character of the work of one or more other artists

Mengapa saya ingin berpayah-payah mencari kata-kata seperti ini? Alasannya sederhana. Pertama, kata-kata yang berasal dari bahasa harian bisa melicinkan pemahaman saya tentang satu konsep penting dari seorang cendikiawan. Kedua, membuat istilah bahasa Indonesia kosa kata seperti itu akan memudahkan kerja penerjemah, terutama ketika membuat kalimat, apalagi sudah sampai harus memberi imbuhan pada kata-kata semacam itu. Ketiga, berdaulat dalam bahasa. Beberapa kali rasanya mendengar keluhan soal keterbatasan bahasa Indonesia dalam istilah-istilah akademik. Dengan mengganti dua kata saja, tiba-tiba terasa bahwa cakrawala bahasa Indonesia masih terbentang luas dan cukup biru gelap untuk diselami lebih dalam.

Begitu saya mencantumkan mengganti dua kata asing itu, rasa yang menyelubungi saya serasa baru saja menemukan hal istimewa, seperti menemukan koin tua. Namun yang terpenting, sebagai pembelajar yang biasa lekas bosan berada di ruangan, hanya satu cara yang bisa saya tempuh: belajar dan menemukannya sendiri.[]

Kamis, Januari 10, 2019

Jelaga Empat Puluh Tahun


LAGU “Sulawesi Pa’rasanganta” ciptaan B Mandjia sudah menjadi ungkapan dan kata ganti yang awam untuk merujuk wilayah di bagian selatan Pulau Sulawesi. Ia pun berubah sebagai identitas daerah lantaran liriknya berbahasa Makassar, dilantunkan dengan tempo andante, lantas menjelma layaknya lambaian tangan ibu yang memanggil pulang [kampung]:  

Sulawesi pa’rasangantabutta passolongan cerattaanjjari tanggungang malompo/ikkate tuma‘ buttaya/ punna tenaki sipainganaki massing massing ngu’ranginaammang sannang salewangang/ tamakulle amang borittacini’ sai bori bellaya/ bella mamo kemajuannate’ne mamo julu bangsana/ amang sannang pa’rasanganasambori sang pa’rasanganta/ baji maki ajjulu atina amang sannang salewangang Sulawesi pa’rasanganta

(Sulawesi kampung halaman kita/ tanah tumpah darah kita/ menjadi tanggung jawab besar/ bagi kita masyarakatnya/ Bila tak saling mengingatkan/ dan masing-masing sadar/ amannya tanah tumpah darah/ tidak akan aman kampung halaman kita/ Lihat kampung nun di sana/ sudah jauh kemajuannya/ Persatuannya yang kuat/ aman tenteram daerahnya/ Wahai teman sedaerah/ baiknya kita satukan hati/ Sehingga aman tenteram dan sejahtera Sulawesi kampung kita.

Judul lagu ini pula menjadi tema pameran karya perupa Sulawesi Selatan yang berlangsung 10-20 Januari 2019 di Bentara Budaya, Jakarta. Ekshibisi bersama kali ini merupakan pameran kedua perupa dari wilayah sama di galeri serupa dengan jarak lima belas tahun (2003). 

Namun antara waktu lima belas tahun dan tema pameran tak dimungkiri meletupkan pula beberapa hal. Rentangan masa ini bisa menjadi semacam beban bagi para perupa di pameran ini. Unsur ini menjelma sebagai satu patokan bagaimana hendak menyajikan karya-karya apa saja yang menjadi wajah perkembangan seni rupa di Sulawesi Selatan. Rentang masa tersebut, sadar atau tidak, berubah layaknya momok pertanyaan dalam benak perantau yang hendak pulang, ‘apakah mereka sudah layak pulang?’.

Pada sisi lain, tema ini juga sangat mungkin kita ibaratkan sebagai pedang bermata dua. Ia bukan hanya bisa ‘melukai’ tangan para perupa Sulawesi Selatan, tapi juga ‘mengiris’ tangan khalayak umum. Bila tak hati-hati memegangnya, keduanya bisa terluka. Luka yang bisa berawal dari perihal yang bernama tafsir. 


TAFSIR awal seniman yang mengemuka tentang tema ini bisa menggiring mereka mengumpulkan karya-karya yang menampakkan citra Sulawesi Selatan yang figuratif. Bagaimana pun ikatan gagasan mereka tertambat kuat pada jangkar kesan yang muncul kala mereka menyebut “Sulawesi Pa’rasanganta”, lagu yang melantunkan ajakan untuk menciptakan “kampung halaman yang aman dan tenteram”.

Warisan cara berpikir rezim pemerintahan mungkin bisa menjadi salah satu sebab yang berkaitan dengan ini. Lagu “Sulawesi Pa’rasanganta” acap kali muncul sebagai salah satu lagu daerah yang kerap dinyanyikan untuk sesi hiburan dalam berbagai acara formal (pemerintahan) sejak masa pemerintahan Soeharto. Bahkan menjadi bagian materi pengajaran kesenian di sekolah-sekolah. 

Sebagai lagu yang disajikan dalam suasana resmi Orde Baru, terbuka pula kemungkinan terjadinya pembentukan makna yang mengarahkan persepsi pada pemahaman seni dan budaya yang dianut oleh pemerintah zaman itu sebagai sesuatu yang menampak di permukaan.[1]Definisi seni dan kebudayaan bagi rezim pengusung kestabilan ini tak pernah jauh dari upaya memunculkan potongan-potongan yang disebut sebagai representasi kenyataan “kampung halaman” pada lapis pertama, persoalan yang didorong oleh wacana sentralistik. Bahkan Acciaioli, dengan cenderung ketus, menyatakan bahwa keragaman daerah dihargai, dihormati, dan disanjung namun hanya sebagai tontonan, bukan keyakinan; [sebagai] pertunjukan, bukan pelaksanaan [ritual].[2]Seni dan kebudayaan pun menjadi sesuatu yang menampak di brosur pariwisata—sebagaimana pula yang masih awam di situs daring (online) pemerintah provinsi dan kabupaten hingga sekarang.
Berdasarkan beberapa kali wawancara mendalam dengan sejumlah seniman, mereka pun mengakui bahwa respons awal mereka terhadap tema ini sebagaimana yang sudah diduga tadi. Beberapa karya yang sempat terkumpul pun menampakkan hal-hal yang berkaitan dengan representasi citra yang kemudian oleh James Clifford (1986) sebagai “kebenaran sepihak (partial truth)”. 

DEMIKIANLAH jelaga warisan cara berpikir Orde Baru yang hingga kini menggelayut dalam jagat seni rupa Sulawesi Selatan. Semua ini berawal empat puluhan tahun silam, tepatnya awal dasawarsa 1970, ketika pemerintah Indonesia secara aktif mempromosikan tujuan wisata di Indonesia, termasuk Tana Toraja, dan berhasil menarik kunjungan lebih banyak ke dataran tinggi di bagian utara Sulawesi Selatan. Nama Tana Toraja pun semerbak dalam kesadaran pariwisata tingkat nasional (dan internasional) pada 1984 tatkala Joop Ave, Dirjen Pariwisata Indonesia, mendeklarasikan Tana Toraja sebagai “tujuan wisata primadona Sulawesi Selatan” dan Makassar menjadi “Pintu gerbang ke Tana Toraja”. Kunjungan turis setelah momentum itu cenderung menanjak dibanding sebelum 1984 yang lebih fluktuatif.[3]

Keadaan itu jelas sebentuk harapan bagi perupa Sulawesi Selatan kala itu. Dunia seni rupa wilayah ini, yang tak memiliki kolektor partikelir, hanya mengandalkan pesanan dari kolektor kalangan pejabat pemerintahan, militer, dan kantor-kantor BUMN/swasta, ikut mendulang kesempatan dalam pertumbuhan pariwisata lewat peluang pengoleksian dari kalangan turis.[4] Namun tentu kenyataan tentang ‘lukisan pesanan’ menjadi sebuah kenyataan hidup yang tidak boleh dilupakan manakala orang ingin mengetahui lebih mendalam tentang segi-segi yang mempengaruhi perkembangan seni di suatu daerah.[5]Dengan demikian, lapisan konsumen-konsumen inilah yang menjadi salah satu penentu proses dan citra yang muncul di permukaan kanvas para seniman kawasan ini.

Jejak-jejak masa empat puluhan tahun itu masih bisa kita pindai, kendati dalam 29 karya dari 22 perupa di pameran ini tak mendominasi lagi. Dalam karya-karya dwimatra dan trimatra yang meliputi jenis karikatur, drawing, lukis, hingga instalasi menampakkan keadaan-keadaan yang hendak mereka tampik atau dalam perubahan-perubahan yang kini sedang berlangsung di dunia seni rupa Sulawesi Selatan. Di berbagai medium itulah deretan karya ini menunjukkan penegasan-penegasan dari sikap mereka bahwa seni rupa jalan hidup yang harus ditelusuri dengan keras kepala.

Ada yang membawa refleksi pergulatan dalam-diri sang seniman, juga respons mereka terhadap situasi mutakhir yang mereka hadapi di luar-diri, tempat mereka tumbuh dan berkarya. Achmad Fauzi membawa karya berjudul Angaru' di Sudut Benteng(2018), pemaknaan atas keteguhan dan keyakinan hati yang kokoh, spirit yang senantiasa hadir dalam jiwa manusia menghadapi setiap persoalan hidup. Demikian pula Ahmad Anzul membawa karya garapannya The Way (2018), yang merupakan seri Kampung Garam #149. Anzul menceritakan tentang jalan yang dipilihnya ketika sianre bale(Bugis: saling memangsa) terjadi. “Pada situasi tertentu, saya merasa dipaksa untuk menjadi kupu-kupu berbadan pisau silet, perahu kertas, atau memilih jalan yang sunyi.” 

AH Rimba mengantar karya potretnya Toraja Smiling(2017) yang melukiskan seorang pria Toraja tersenyum, simbolisme dari pernyataannya bagaimana kini Rimba menghadapi hidupnya setelah bergulat dengan banyak hal. Budi Haryawan dengan Hallelujah (My Name is Me. And I live on Roof Top Floor) [2018] menuturkan bagaimana pergulatan hidupnya sebagai anugerah yang patut disyukuri. Jenry Pasassan dengan karya instalasi Angel Sing(2018) menceritakan bagaimana manusia seharusnya bersikap lentur dan pada saat yang sama harus kokoh menghadapi perubahan dalam-diri dan perubahan luar-diri. Faisal Syarif menyajikan instalasi Glory of Love Series (2018), sekaligus seni terapi (art therapy) bagi Faisal dalam menyelami alam bawah sadarnya, yang dalam prosesnya kemudian masa lalu bermunculan dan beberapa kali menghasilkan gambar-gambar yang menurutnya seram. Namun kemunculan hal-hal yang mengendap itu kemudian tergantikan dengan perasaan yang sebaliknya. “Akar permasalahan diri, orang lain, dan sosial dimulai dari sesuatu yang harus kita temukan dalam diri kita,” katanya. 

Kalangan perupa muda seperti Muhammad Suyudi membawa lukisan My Greatest Indonesian of All(2017) penghormatan untuk ayahnya. Aryo Bayu menghadirkan karya simbolik yang menggambarkan memudarnya perahu pinisi dalam Sekarat(2018). Ini seperti mengajak kita membincangkan tentang keadaan yang perlu direnungkan bersama tentang pinisi, simbol dari kekayaan intelektual masyarakat Bulukumba, Sulawesi Selatan, yang kian bisa tergerus. Daniel dengan karya Mayat Berjalan (2017) membawa kabar tentang kampung halamannya di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. 

Awaluddin Tahir membawa Kehidupan Kanal (2018), lukisan yang memotret kehidupan permukiman di Kota Makassar yang hendak membicarakan soal sanitasi, sampah, dan kebersihan kanal. Firman Djamil membawa karya seri kepitingnya berjudul Penunggang Celeng (2011). Lukisan ini adalah penggambaran Firman tentang hasil pengamatannya terhadap keadaan dunia politik Indonesia pada tahun-tahun awal dasawarsa 2010, terutama berkaitan dengan kasus penggelapan pajak dengan tokoh Gayus Tambunan. Sementara pula, Thamrin M, karya berjudul Yang Tersisa (2018) melukiskan kegelisahannya perihal huruf lontarak, aksara suku Bugis dan Makassar yang dipandangnya mulai ditinggalkan dan mungkin akan terlupakan.

Sys Paindow dengan karya Pa’manuk Londong Come Out from Tongkonan (2018), terinspirasi Pabbite Jangangkarya Marthen Pattilima, pelukis legendaris Makassar, dengan mengangkatnya lagi dalam versi Toraja dengan fantasi ayam dalam ukiran Toraja di atas morif pa’barre allo(matahari terbit) keluar dari tongkonanlalu beradu.

Inno Angga dengan karya Labeled (2018)melukiskan dialektika antara kepercayaan dan tradisi telah menghasilkan beberapa konvensi yang kerap menimbulkan pergesekan di antara keduanya. Hal ini ditandai adanya pro dan kontra pada masing-masing cara pandang yang ingin menunjukkan eksistensi dengan berbagai argumen yang prinsipil. Dialog yang masih berjalan ini kerap kali harus bersintesis dalam sebuah kemasan yang disebut modernisasi. Produk yang dihasilkan pun ternyata belum sepenuhnya mewadahi identitas yang telah lama melekat pada masyarakat tradisi. Akhirnya kebenaran pun harus dicari melalui pembenaran-pembenaran ambigu yang tanpa harus mengorbankan salah satunya.

Dua perupa perempuan ikut berpameran membawa masing-masing satu karya. Lenny Ratnasari Weichert mempresentasikan karya instalasi berjudul Anaerobik (2017), membincangkan gagasan tentang pernapasan tanpa udara dalam ruangan fermentasi yang berhubungan dengan proses produksi energi dalam sel anaerobik (tanpa oksigen). Sedang Marledy Kadang membawa The Story of Halter Neck White (2018). Ia memilih spanram sebagai bahan eksplorasi. Konsep ini bermula ketika Ledy melihat tumpukan spanram yang menanti untuk tertutup kanvas. Seketika ia bersemangat mencoba mengeksplor bentuk yang bisa dihasilkan spanram tersebut. 

Mike Turusy membawa karya-karya khasnya yang terinspirasi tau-tau(patung pekuburan Toraja) dan penuh detail menuturkan ulang satu hikayat masyarakat Sulawesi Selatan dalam Kerbau Bulan [The Legend] (2014), Made in Tanaberu (2017), dan Pemahat [Mengukir Diri](2017). Demikian pula Faisal UA, perupa Makassar yang mengkhususkan karyanya ke karikatur. Faisal membawa The Glimmer Twins from Makassar(2018) menggabung khasanah alat-alat musik tradisional dengan sosok komikal Mick Jagger dan Keith Richards (The Rolling Stones). Zainal Beta dengan karya Nelayan dan Paraga(2018), dua karya lukisan tanah liatnya.

Sementara itu, kalangan seniman senior banyak memunculkan petuah-petuah seperti Abdul Aziz Ahmad, perupa drawingyang membawa karya Resofa Temangngingi(2018) mengingatkan pepatah Bugis “resopa temmangingi na malopo naletei pammase dewata(hanya dengan bekerja keras kita diberkahi rahmat Yang Maha Kuasa)”; Abdul Kahar Wahid, pelukis berusia 81 tahun, membawa tiga karyanya: Pencerahan (2018),Waspada Tsunami(2018), dan Jodoh Tak Perlu Dicari(2018); Benny Subiantoro, Bagan Tiga (2016) menceritakan kehidupan nelayan; dan Bachtiar Hafid karya Maccello(2016), melukiskan adegan mewarnai baju bodo, pakaian tradisional perempuan Sulawesi Selatan. 


BERKUTAT (lagi) di pekatnya jelaga yang berdiam empat puluh tahunan itulah yang hendak dihindari oleh pameran ini. Sebagai ruang pengabaran sepenggal perkembangan kancah seni rupa, karya-karya dalam “Sulawesi Pa’rasanganta”berusaha dengan sangat keras melompati apa yang berulang kali menampak pula di pameran-pameran (yang ini pun jarang) baik di Makassar maupun di wilayah Indonesia Timur lainnya. 

Karya 22 perupa ini sedang bersiasat melepaskan diri dari citra-citra yang ingin ditampakkan pada perkembangan masa-masa sebelumnya; rentang waktu ketika tancapan tafsir kekayaaan budaya hanya hadir pada lapisan pertama. Sebagai wahana proses yang membangun dunia seni rupa Sulawesi Selatan selanjutnya, mereka membawa gagasan, nilai, dan pernyataan dalam “Sulawesi Pa’rasanganta” tentang kenyataan baru, singkapan yang lain, lapis potongan-potongan kedua dan seterusnya, atau situasi mutakhir fisik dan lingkungan “kampung halaman“ (pa’rasangan) yang kini mereka hadapi—secara personal maupun komunal. 

Di dalam pameran ini, tampaknya kita bisa berpegang kuat bahwa gagasan dan sikap yang tersaji sekarang perihal bagaimana sebaiknya kehidupan seni rupa Sulawesi Selatan berikutnya, bahkan setelah mereka. Ini upaya membersihkan jelaga yang bermula empat puluh tahun lalu itu dan terus menggayuti alam berpikir manusia Indonesia.[]

(Tulisan ini adalah pengantar kuratorial untuk pameran "Sulawesi Pa'rasanganta", ekshibisi karya perupa Sulawesi Selatan di Bentara Budaya, Jakarta, 10-19 Januari 2019).


[1]R. Anderson Sutton, Pakkurru Sumange’: Musik, Tari, dan Politik Kebudayaan Sulawesi Selatan(penj. Anwar Jimpe Rachman), Makassar: Ininnawa, 2013, hl. 35.
[2]Acciaioli dalam Ibid, hl. 92 dan 102.
[3]Kathleen Adams, Art as Politics: Re-crafting Identities, Tourism, and Power in Tana Toraja, Indonesia, University of Hawai’i Press, Honolulu, 2006, hl. 14. Untuk data kunjungan wisatawan, lihat tabel halaman 17.
[4]Wawancara Ahmad Anzul (29 Desember 2018) dan Mike Turusy (31 Desember 2018).
[5]Sofyan Salam, “Menelusuri Perjalanan Seni Rupa Sulawesi Selatan”, Katalog Pameran Bentara 2003, t.h.

Rabu, Desember 12, 2018

Dua Halaman Rumah yang Menghadap ke Sungai

BEBERAPA rumah sudah kosong di Neiwan, satu dari delapan desa di Sanwan Township, sekisar seratus kilometer di selatan Kota Taipei, Taiwan. Bangunannya yang bertembok bata ekspos masih kokoh. Hanya kayu dan pintu kusam dan beberapa bagian termakan rayap sebagai penanda kalau sudah beberapa tahun tidak terurus. Sekisar lima belas rumah di desa ini melompong. Penghuninya pindah ke kota, seperti Kota Toufen dan kota lainnya di Taiwan. 

Hampir seluruh rumah di Neiwan berarsitektur gaya Jepang. Saya terang bisa kenali dari daun pintu dan daun jendela geser dengan rangka berkotak bujur sangkar. Menurut kawan saya, Lin Chen-wei, model bangunan seperti itu merupakan paparan kebudayaan Negeri Matahari Terbit terhadap Taiwan akibat penjajahan Jepang pada masa Perang Dunia Kedua (1937-1945). 

Saya dan Laurent bersama dua kawan lainnya, Jili Wun dan Shen Yu-lin, masuk desa itu pada satu sore menjelang senja. Neiwan, sesuai namanya yang konon bermakna ‘lingkaran dalam aliran sungai’, adalah desa yang berada di lembah perbukitan kawasan Sanwan, dengan pertanian subsisten, mulai dari padi basah sampai sayur-sayuran (sawi, lobak, dan kol). 

Tak banyak orang bisa kami temui, selain seorang bocah delapan tahun, yang belakangan saya tahu bernama Kai, dan perempuan sepuh yang bercaping sedang sibuk menjemur lobak putih untuk jadi bahan asinan—sejenis kimchi. Kai kemudian dengan gesit mengantar kami berkeliling permukiman desa. 

Kai adalah salah satu bocah dari sepuluhan anak-anak setempat yang pernah mengikuti satu program yang dibuat oleh Sanwan Cultural Collective (SCC), kolektif yang dibentuk Laurent, Jili, dan Shen. SCC menggelar lokakarya untuk anak-anak itu pada Agustus 2018. Mereka menggambar-melukis dan terlibat kegiatan lain. “Begitu cara kami membuat mereka lekat satu sama lain karena mereka tidak satu sekolah,” terang Laurent. 

Persoalan jarangnya anak-anak di Neiwan (angka kelahiran di Taiwan merupakan terendah ketiga di dunia,[1]mengakibatkan fasilitas sekolah hanya tersedia di kecamatan dan kota. Kai dan kawan-kawannya bersekolah di tempat yang berbeda; Kai di Toufen, berjarak 11 kilometer dari Sanwan, lantaran ayahnya bekerja di sana, dan teman sebayanya bersekolah di Sekolah Dasar Sanwan.

Kami lalu berkeliling. Kai memandu kami. Ia menunjukkan sejumlah karyanya dan teman-teman sebayanya berupa lukisan dan gambar berwarna di matra bulat seukuran dengan rambu lalu lintas. Mereka memasangnya di banyak tempat. 

Pada bagian depan desa (dengan berpatokan dari jalan raya), beberapa kursi diletakkan di bawah rindang pohon. Agaknya jadi tempat para orang sepuh dan dewasa beristirahat usai bekerja di sawah dan ladang. Anak-anak itu menempelkan rambu peringatan yang bergambar semut dan sarangnya bahwa orang-orang yang mau duduk mesti waspada gigitan serangga itu. 

Beberapa meter dari situ, mereka memasang dua rambu di sepanjang saluran pengairan pertanian utama yang membelah desa. Titik pertama adalah titik terdalam saluran. Mereka menggambarkan orang yang jatuh ke air. Titik kedua adalah tempat para perempuan di desa mencuci pakaian. Namun papan rambu yang mereka pasang adalah bukan gambar dan tulisan peringatan, melainkan pujian bahwa tempat itu sangat bagus. Ya, mereka benar. Tempat pencucian itu beratap rangka kayu dengan bagian tembok bawahnya menyentuh air.

Kami menuju satu persimpangan tiga, tempat mereka memasang satu rambu. Peringatan di bawah cermin cembung belokan jalan itu bergambar truk beserta seruan agar “truk berhati-hati pada kami (anak-anak)”. Berbagai alat berat lalu lalang di Neiwan sekitar tiga tahun terakhir.[2]Truk-truk mengangkut pasir dan kerikil dari sungai yang mengalir di Neiwan untuk bahan baku pembangunan jalan jalur cepat roda empat. Namun selama SCC menggelar lokakarya bersama anak-anak, kata Laurent, para supir truk terpaksa mengalihkan jalur mereka lantaran melihat keasyikan bocah-bocah setempat beraktivitas. 

Kehadiran alat-alat berat itu bukan cuma membahayakan anak-anak. Kunang-kunang pun pergi. Karena itu, mereka memasang pelang protes di samping kuil desa, kawasan di desa yang menjadi parkiran alat berat. Para bocah memasang dua pelang: yang satu memperingatkan supir truk untuk tidak membahayakan kunang-kunang, sedang lainnya, memperingatkan kunang-kunang menjauh dari alat-alat berat tersebut. Namun pelang yang ini tampak lebih seperti kunang-kunang mengepung truk ini.

Sampai di tempat ini, usai bercakap dengan Jili dan Shen, Kai tertunduk dan menggerutu. Rupanya, “Dia (Kia) merasa bingung mau mengantar kamu ke mana lagi,” kata Laurent, tertawa, menerjemahkan keluhan Kai. Kami semua tertawa. Saya segera merasa disambut begitu hangat.

Kami lanjutkan perjalanan. Beberapa peringatan lagi kami dapati di beberapa titik, antara lain di sekitar instalasi pembangkit listrik memperingatkan bahaya kebakaran/api, pengingat agar waspada akan jatuhan bata dari dinding pagar satu rumah tua, juga permintaan berhati-hati bila mengunjungi dan menjaga rumah tua (lainnya) yang berumur sejuta tahun. 

Pada jendela salah satu rumah kosong dan beratap genteng yang bocor serta ditumbuhi tanaman rambat itu terpasang gambar berwarna khas gambar anak-anak. Gambar beberapa boneka dan aksara Mandarin yang bertuliskan kira-kira berbunyi, berdasarkan terjemahan Laurent, panggilan akrab Lin Chen-wei, bahwa rumah tersebut sebaiknya jadi toko mainan saja (daripada tak terpakai). 

Banyak hal menarik yang saya peroleh dari perjalanan berkeliling permukiman ini. Dari gambar-gambar itu saya bisa merasakan solidaritas dan komunikasi yang mereka jalin ke orang-orang dewasa dan sesama mereka. Anak-anak itu menanggapi perubahan yang terjadi di desa mereka, fenomena yang muncul tiga tahun terakhir ditandai kehadiran alat-alat berat. Mereka pun berdialog dengan alam sekitar, tempat tumbuh mereka, dengan memperingatkan kunang-kunang untuk menjauh dari alat berat. Dengan polos pula mereka menyatakan pendapat dan konsep mereka tentang artefak dan warisan kebudayaan. 


MODEL kerja seperti ini sedang menjadi konsentrasi SCC, kelompok yang digawangi tiga orang: Laurent, Shen, dan Jili. Mereka menggunakan seni sebagai metode pendekatan mereka untuk melihat dan mengupas fenomena yang mereka temui dan alami sendiri di wilayah Sanwan. 

Penduduk Neiwan kini didominasi orang tua dan anak-anak. Para anak muda pergi ke kota. Dalam sesorean saya berjalan berkeliling desa, saya hanya dapati satu orang anak muda. Itu pun bukan orang asli setempat, yang juga menjadi salah seorang yang ikut membantu SCC ketika menggelar lokakarya bersama anak-anak dan orang tua yang kemudian menghasilkan gambar-gambar yang kami datangi.

SCC sedang membangun markas di rumah kerabat Jili yang kosong. Rumah itu terletak di seberang jalan kediaman Jili, perempuan semampai yang bertanggung jawab sebagai Direktur SCC. Di Sanwan, memakai rumah kerabat yang melompong adalah hal yang biasa. Begitu pula dengan rumah berlantai tiga itu. Dari pada kosong, rumah itu sedang diubah fungsinya menjadi perpustakaan, bioskop komunitas, dan, tentu saja, sekaligus sebagai kantor SCC. Tugas mengubah tempat itu jatuh ke pundak Shen. 

Saya sempat ikut membantu membersihkan halaman belakang rumah itu. Lokasinya ternyata tepat di bibir tebing bukit, tempat saya bisa menyaksikan lembah yang menghamparkan tanaman pertanian dan perkebunan, gema kicau burung, dan kelok sebatang Sungai Chung Kang yang membelah Sanwan. Wajar kalau Sanwan sering didatangi pelancong yang menikmati pemandangan lembah Sanwan atau ziarah ke Kuil Dewa Padi dan Gandum yang dibangun pada 1851 silam.
Kuil Dewa Padi dan Gandum, Sanwan. (Foto: Anwar Jimpe Rachman)
Namun karena halaman itu masih gundul, Laurent meminta saran, tanaman apa yang cocok ditumbuhkan di halaman itu. Saya bilang, bambu dan sirsak—dua tanaman yang juga tumbuh subur di halaman belakang Kampung Buku. Saya katakan itu sebab halaman SCC berada di ketinggian. Bambu adalah tanaman penahan tanah dan penyimpan air yang baik, sedang sirsak demi panen buah dan kepraktisan: tinggal lempar biji (dan banyak dijajakan di pasar-pasar malam Taipei). Ditambah lagi, berdasarkan amatan saya, tanaman pertanian yang dikembangkan petani Sanwan tak berbeda dengan yang dibudidayakan petani sekitar Makassar (terutama di Malino, Gowa), mulai dari kol, seledri, tomat, dan sayuran lain yang bisa tumbuh subur di udara sejuk. “Nantilah saya kirim fotonya,” kata saya.

Dari obrolan kami semalaman, baik di meja rumah makan setempat sampai di sebuah rumah orang Hakka di perbukitan sebelah Sanwan, rupanya SCC sedang merancang serangkaian inisiatif untuk merespons fenomena di sekitar mereka. Salah satunya berkaitan dengan pekerja migran dari Indonesia. 

Dalam catatan resmi Pemerintah Indonesia, sekisar 250 ribu orang.[3]Mereka bekerja di industri sampai rumah tangga. Selama 10 hari di Taiwan, saya banyak melihat para pekerja ini menjaga orang tua dan difabel. Menurut Laurent, fenomena ini sebenarnya kebijakan pemerintah Taiwan yang ramah terhadap orang tua. Namun, sayangnya kebijakan itu bukan tanpa celah. Justru yang menjaga orang-orang sepuh ini sering luput dari perhatian. Waktu-waktu pribadi mereka tersita lantaran harus menjaga nyaris 24 jam sehari. 

Bisa jadi Laurent benar. Kami bersua dengan tiga perempuan pekerja migran Indonesia yang sedang menikmati waktu senggang di Toko Indo A-Jun, toko milik Ling Ling, perempuan Tionghoa dari Kalimantan Barat, berusia 37 tahun yang pindah bersama keluarganya sejak usia tujuh tahun ke Taiwan. Ling Ling menjual makanan Indonesia di Kota Toufen, Taiwan, kota terdekat dari Sanwan. Di toko ini, mereka sedang menunggu masakan Indonesia yang mereka pesan.
Ling Ling, pemilik Toko Indo A-Jun, Kota Toufen. (Foto: Anwar Jimpe Rachman).
Ketiga pekerja perempuan itu berasal dari Cilacap, Kendal, dan Yogyakarta. Ketiga perempuan itu makan dan pulang terburu-buru. Mereka mengambil jeda sejenak dari menjaga anggota sepuh keluarga yang mempekerjakan mereka. Hari itu adalah hari Minggu dan rehat mereka memang sebentar karena terburu-buru pulang untuk kembali menjaga. 

Hal yang sama juga temui pada pagi menjelang siang Minggu itu. Laurent mengajak saya ke Taipei Main Station. Benar saja, para pekerja migran ini berkumpul di stasiun utama ini dengan duduk bersila membentuk lingkaran. Cukup mudah mengenali mereka, salah satunya, melalui pakaian mereka. Nyaris bisa dipastikan kalau mereka perempuan, biasanya mengenakan jilbab. Mereka berkumpul, membentuk lingkaran, dan duduk bersila. Laurent mengatakan, kebiasaan itu juga kemudian ditiru oleh orang Taiwan sekisar tiga atau empat tahun belakangan. Tentu, sambung Laurent, awalnya orang Taiwan heran melihat kebiasaan itu karena terbiasa berdiri saja atau duduk bukan di lantai. “Tapi pelan-pelan orang Taiwan mungkin berpikir, mengapa tidak duduk saja sama-sama.”

Kumpulan yang saya temui hari itu adalah sekelompok pekerja di bawah tiga puluh tahun. Mereka sibuk mematut mata mereka ke berlembar kisi-kisi ujian Bahasa Inggris. Salah seorangnya bernama Heru mengaku kalau mereka adalah mahasiswa Universitas Terbuka. Menjadi mahasiswa UT adalah jalan yang ditempuh demi mengisi waktu seraya menunggu kontrak kerja berikutnya. 

Heru adalah tenaga kerja yang berangkat gratis tanpa membayar dalam seleksi BP2TKI. Keadaan ini berkebalikan dengan kebanyakan TKI yang harus membayar 50-60 juta rupiah. Dari obrolan saya dengan Nur dan Lina, dua perempuan yang saya temui di Toko Indo A-Jun, mereka belajar bahasa Mandarin sekaligus diberangkatkan oleh perusahaan yang mereka sebut sebagai “PT”. Mereka hanya akan menerima setengah dari gaji yang berkisar 17 ribu Dollar Taiwan selama enam bulan (untuk pekerja industri) sampai sembilan bulan (pekerja rumah tangga) pertama masa kerja mereka.
Pekerja migran Indonesia berkumpul di Taipei Main Station, Minggu 2 Desember 2018. (Foto: Anwar Jimpe Rachman)
Pada hari Minggu, ketika mereka bersua dengan sesama pekerja migran di Taipei Main Station, mereka membawa serta orang yang mereka jaga. Mereka menuntun kursi roda para orang sepuh dan difabel. Bahkan ada yang memakaikan jilbab pada orang sepuh yang mereka jaga agar tidak kedinginan. 


JILI sendiri punya pengalaman terkait pekerja migran Indonesia. Penjaga mendiang neneknya adalah orang Indonesia. Ia mengakui, ikatan antara pekerja dan nenek serta keluarga yang mempekerjakan bukan lagi sekadar hubungan tuan-pekerja, tetapi terjalin pula ikatan emosional. Jili menyaksikan sendiri bagaimana sang pekerja begitu sedih ketika neneknya meninggal. Kini si pekerja mencari nafkah di usaha pamannya berkat bantuan keluarga Jili. 

Penjelasan Jili itu membuyarkan perkiraan awal saya bahwa konsentrasi orang migran Indonesia hanya di Kota Taipei. Saya bertemu dengan dua orang Indonesia di Sanwan, seratusan kilometer di selatan Taipei, yang sejauh ini, mereka adalah yang terbaru dan terlama. Yang terbaru tinggal di Taiwan adalah Siti Inayati, perempuan 38 tahun dari Lampung; dan terlama Shen Hao Hui, lelaki sepuh berusia tujuh puluhan tahun, berasal dari Tanjung Karang, Lampung.
Shen Hao Hui sedang sibuk di kedai mi daging sapinya di Sanwan. (Foto: Anwar Jimpe Rachman)
Siti Inayati, yang minta dipanggil ‘Atik’ saja, baru empat bulan dan belum tahu bahasa setempat. Mbak Atik bekerja menjaga seorang tua di rumah kerabat Jili yang bersampingan Kantor SCC. Kami berbincang sebentar ketika kami membersihkan halaman belakang SCC. Sedang Pak Shen Hao Hui, seorang pensiunan guru SMP di Sanwan, tinggal di sana sejak 1965. Pada masa pemerintahan Soekarno, ia pelajar SMP yang menerima beasiswa dan belajar ke Taiwan. Perubahan politik kemudian menahan nasibnya tak bisa kembali ke Indonesia pada masa itu. Kini masa purna baktinya diisi dengan membantu istri dan keluarganya mengelola usaha mi daging sapi di Sanwan. 

Nuansa pekerjaan rumah itu menampak juga di beberapa buku yang saya dapati di perpustakaan Kota Sanwan, seperti Orang Indonesia Belajar Bahasa Taiwanyang menekankan pengenalan kosa katanya pada jenis penyakit, yang bisa kita duga sebagai bekal dasar untuk bekerja di lingkup rumah tangga.
Buku pelajaran Indonesia-Bahasa Mandarin di Perpustakaan Sanwan. (Foto: Anwar Jimpe Rachman)
Pengalaman Jili dan waktu pendek bagi pekerja migran itu kemudian mendorong SCC merancang kegiatan yang rencananya segera berlangsung di Sanwan dan sekitarnya secara rutin bernama “Hari Cinta Kakak”. Mereka berpikir, dengan berkumpul sebagaimana lazimnya kebiasaan mereka kala di Indonesia—seperti menyantap hidangan dan menyesap minuman sambil menggelar arisan di halaman belakang SCC; nonton layar tancap di alun-alun depan Kuil, atau membaca buku-buku yang tersedia di perpustakaan SCC kelak—bisa mengobati suntuk dan lelahnya para pekerja migran. Mereka butuh pula menjadi diri sendiri selama rentang waktu jeda itu.


SUATU pagi, setelah sepekan sepulang saya dari Taiwan, saya tunaikan janji mengirimi Laurent empat foto tanaman yang tumbuh di halaman belakang Kampung Buku: sirsak, nenas, jeruk nipis, dan bambu. Halaman belakang Kampung Buku juga menghadap ke Sungai Sinrejala. 

Rupanya SCC sudah menemukan bibit sirsak. “Shen dapat dari internet. Ada orang yang jual,” kata Laurent, tertawa, seraya menambahkan sebenarnya gampang dapatkan bibitnya di kampung Shen di bagian tengah Taiwan. 

Kami saling mengirim tawa. Rasa senang merebak bahwa rencana mereka akan pelan-pelan terwujud. Mungkin juga karena kami sama-sama yakin: banyak yang bisa tumbuh dari halaman rumah, termasuk kemanusiaan.[]


Jumat, November 16, 2018

Bangku Belakang Si Beruang

Ada satu persamaan saya dengan Iwan Fals, terutama dalam lagu “Jendela Kelas Satu” (1983). Kami sama-sama duduk di bangku deretan belakang dengan jendela kelas yang tak ada kacanya. 

Kala SMA, saya selalu dicap sebagai anak nakal karena duduk di situ. Lebih parah lagi karena bangku itu ada di dalam kelas sosial, kelas yang selalu dianggap pilihan terakhir. Sempurnalah saya di mata mereka seperti kata Chairil Anwar, binatang jalang dari kumpulan terbuang.

Padahal kalau kelakuan, saya biasa saja. Pemberontakan saya masa itu lebih banyak pemberontakan yang senyap: tidak menenggak alkohol (untuk pergaulan), memakai sepatu biru (ketika wajib pakai sepatu hitam), dan baju putih polos tanpa lambang osis label lokasi sekolah. Bolos juga cuma ikut-ikutan. Bukan keputusan mandiri.

Saya sesadarnya memilih duduk di satu bangku paling belakang, terpencil, dan sendirian (untung kemudian saya dapat teman sebangku ketika kelas saya mendapat anak pindahan dari kota lain). Mungkin karena saya tipikal siswa yang tidak tahan mendengar ceramah guru. Saya sering gelisah. Pikiran saya selalu ada di luar kelas. Itu terbawa sampai kuliah; tidak punya daya tahan belajar cara formal, hal yang kemudian saya usahakan dan teman-teman di komunitas saya dengan mencari cara belajar yang lebih cocok.

Namun belajar bersama banyak orang, tidak pada satu orang (guru formal), membuat saya lebih bisa mengekspresikan diri dan dalam suasana yang lebih setara—ketimbang satu guru yang cenderung bisa ‘semena-mena’ apalagi di sekolah dulu. Mereka lebih berkuasa. Itu juga kayaknya yang mendorong saya mencari bangku SMA yang di belakang. 

Keadaan psikologis saya itu agaknya sama dengan kondisi yang dialami Baltazar, beruang kutub yang ditangkap di sekitar Kanada, yang kemudian menjadi koleksi kebun binatang di Valle Central, satu tempat di Amerika Latin. 

“Kadang aku malah berpikir jangan-jangan aku lebih bebas dalam kandangku ini dibanding orang-orang sekelilingku,” kata Baltazar dalam Kenang-kenangan Mengejutkan si Beruang Kutub, karya Claudio Orrego Vicuña, terbitan Marjin Kiri, November 2018.

Padahal sebelumnya, Baltazar amat benci kerangkeng itu. Namun selalu pula Baltazar coba redam pikiran-pikiran hendak-bebas dan menikmati hari-hari yang tanpa harapan bisa lepas dari penjara itu.

“Barangkali ada hikmahnya. Dengan cara itulah aku mengerti bahwa hanya dengan menjadi bebas kau bisa melayani mereka yang tersisih oleh ketidakadilan dari sesama mereka sendiri.”

Dalam novel tipis ini, lantaran kebebasan tubuh sudah tumpas di depan mata, maka waktu tampak tidak berarti. Demi sang masa, si beruang kemudian hanya menyebutnya dan menjadi kenangan bila teringat ‘hari-hari di hamparan salju kutub’. Yang jauh penuh makna adalah obrolan sang beruang, “Di sini aku masih menyimpan harapan agar dunia manusia tak sekeji yang terlihat. Apakah nyonya berbaju hitam itu, yang memberi makan burung-burung dan berbelas kasihan pada gadis cilik itu, cerminan dari Tuhan tanah ini?... Sejak hari itu, aku menyimpan harapan bahwa Tuhan manusia sama dengan Tuhan beruang.”

Sang beruang tidak tahu saja. Di Indonesia, tidak sesederhana itu adanya. Ada kaum yang merasa paling berhak atas ‘Tuhan manusia’. Rakusnya mereka mengklaim Tuhan untuk golongan sendiri sudah sampai tidak mau membagi tuhannya, bahkan terhadap seagama apalagi yang tidak. Bahkan mereka berani bunuh diri sebagai cara beragama. Namun si beruang pun tahu kalau golongan-golongan itu adalah orang-orang yang putus asa pada hidupnya. “Aku yakin tidak ada di antara kita yang pernah mendengar ada beruang bunuh diri. Buat apa, meninggalkan tantangan hidup keesokan harinya menjadi tak terselesaikan?”

Benar juga kata si beruang, kita perlu berpikir jangan-jangan yang tampak bebas itu justru yang terkungkung. Yang kelihatan banyak itu malah kaum yang tersiksa. Persis orang-orang yang duduk di bangku depan seperti tak punya waktu menoleh ke belakang karena harus patuh dan ‘tak bergerak seperti militer’ di depan guru. Sedang saya yang berada di belakang leluasa menertawai kakunya bahasa tubuh mereka para pebangku depan, lengkap dengan kecurangan-kecurangan mereka. 

Rasa-rasanya, saya dan Baltazar cuma beda bentuk badan.

Catatan: Terima kasih atas hadiah bukunya, Ronny Agustinus. Sehat dan bahagia selalu bersama Marjin Kiri!



  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP