Langsung ke konten utama

Postingan

Bulan Sepotong Semangka di Atas Benteng Baru

TIGA ATAU empat kali perkelahian kecil terjadi malam itu di Rockfort, Kompleks Ruko New Zamrud No. C1, Jalan Andi Pangerang Pettarani, Makassar. Semuanya bermula oleh dua orang yang bergoyang sampai berbenturan, kala musik masih menggedor-gedor gendang telinga. Kalau sudah begitu, lingkaran kerumunan buyar sebentar, beberapa orang melerai, tapi sesaat kemudian lebih banyak yang bertepuk tangan. Mereka memberi salut, tanda perdamaian di antara yang berselisih barusan.
“Mereka hanya butuh dipeluk,” kata Sendy, salah seorang pengelola Rockfort. Nada bicaranya menekankan kata ‘dipeluk’. “Kalau sudah pelukan, … selesai!” sambung Sendy dan tertawa. 
Sendy benar. Perkelahian-perkelahian itu berlangsung satu-dua menit saja. Sendy selalu turun tangan kalau ada ribut-ribut kecil seperti itu. Sendy, dengan badannya yang cenderung kecil dan mata sayu kecapaian, malam itu harus berkeliling mengecek kalau-kalau ada yang perlu ‘ditangani’. Obrolan saya dan Indhar, vokalis Frontxside, yang sedang mence…
Postingan terbaru

Dewata dalam Toyolo: Kuasa Tiga Dunia di Cerita Rakyat Toraja Mamasa

Dewata dalam Toyolo: Kuasa Tiga Dunia di Cerita Rakyat Toraja Mamasa | Kees Buijs | Januari 2020 | ISBN 978-623-92955-0-9 | 385 halaman | Makassar: Ininnawa

Karya Kees Buijs berjudul "Dewata dalam Toyolo: Kuasa Tiga Dunia di Cerita Rakyat Toraja Mamasa" ini merupakan seri keempat tentang kebudayaan masyarakat Toraja Mamasa, Sulawesi Barat. Kali ini Buijs mengumpulkan toyolo, cerita-cerita rakyat, yang kerap menjadi cerita pengantar tidur bagi anak-anak yang tumbuh di kawasan Mamasa dan sekitarnya.

Dua puluh cerita yang terkumpul dalam buku setebal 385 halaman ini menjadi bahan-bahan yang tak tepermanai bagi kita dalam mengayakan kajian-kajian dunia antropologi, sosiologi, kajian kebudayaan secara umum, pendidikan usia dini karena kekayaan gagasan dan imajinasi dalam cerita-cerita ini, sampai kajian dan karya sastra.

Tiga Guncangan dalam Sepuluh Tahun

TIGA KALI dalam sepuluh tahun terakhir ini, dunia digemparkan oleh penemuan jejak peradaban awal peradaban manusia di muka bumi yang ditemukan di tiga titik di Indonesia, tepatnya di Pulau Sulawesi dan Kalimantan, yang hanya diantarai oleh Selat Makassar.

City Soaked in Drinking Stall[1]

Kota Diperam dalam Lontang