Sabtu, September 29, 2018

Senja Kala Bissu

Ketika Puang Matoa Saidi meninggal dunia pada pertengahan tahun 2011 lalu, nasib para bissu, komunitas pendeta wadam sisa peradaban Bugis kuno, tampak mengalami guncangan. Meski kemudian Puang Upe disebut sebagai pengganti pemimpin komunitas bissu di Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, yang juga tak lama kemudian berpulang, bissu kian terang menuju ke kurun senjakala.
TIba Sebelum Berangkat (foto: Anwar Jimpe Rachman)
Setelah karya H.J. Fredericy, Sang Jenderal (1991), agaknya hanya novel Tiba Sebelum Berangkat karya Faisal Oddang (KPG, 2018) yang membahas kehidupan bissu. Kedua karya ini terpisah nyaris tiga puluh tahun. Sang Jenderal menceritakan tentang bissu sebagai bagian kehidupan kerajaan, masa ketika Fredericy bertugas sebagai ambtenaar yang bertugas di jazirah selatan Sulawesi pada paruh pertama abad ke-20; sedang dalam TSB, hayat bissu menjadi narasi utama.

TSB membentangkan kisah bissu yang lebih mutakhir. Narasinya bermula dari awal dekade 1950 sampai sekarang ketika Anda membacanya. Latar novel ini menceritakan konflik TNI – DI/TII pada pertengahan abad ke-20, yang merupakan salah satu latar utama di Sulawesi Selatan. Di dalam hikayat ini, kita bisa merasakan bagaimana masyarakat mengalami keterbelahan dalam kisruh ini.

Tokoh utama TSB, Mapata diletakkan dalam latar sebagai anggota komunitas bissu, toboto (pendamping) Puang Matoa Rusmi. Cerita novel ini seperti menegaskan sederet tantangan yang dihadapi bissu selama ini.

Sejak dulu, bissu mengalami gerusan, setidaknya, begitu terbit fajar abad ke-20 hingga sekarang. Ketika kerajaan memudar dan hilang tatkala sistem negara diperkenalkan, perlindungan dan penguatan bissu secara kharisma maupun segi ekonomi turut meredup. Itu ditambah semangat gerakan DI/TII yang ingin ‘memurnikan’ agama—bahkan terjadi hingga sekarang oleh kelompok-kelompok agama; hingga perubahan pandangan masyarakat terkait nilai tradisional yang berlangsung sampai sekarang. Belum lagi politik antar aktor di dalam komunitas.

Kisah Mapata dalam cerita 213 halaman ini berjalinan dengan pengkhianatan, air mata, penyiksaan, dendam, kematian, amarah dan cerita cinta yang muram. Mapata dikisahkan berada di ruang penyekapan oleh kelompok yang dipimpin oleh Ali Baba, “pria bergamis hitam, gemuk, jangkung, berkumis, berjanggut, dan cambangnya membentuk setengah lingkaran di wajah”-nya (hal. 5). Mapata menunggu anggota tubuhnya ditanggalkan satu per satu sebelum dijual oleh kelompok penyekap tersebut.

Lapis dan Keterbelahan
Mapata adalah tokoh yang dibungkam berlapis. Ia nyaris tanpa perlawanan. Mapata diculik, disekap, di lokasi tersembunyi, dan dengan lidah yang dipotong. Ia hanya bisa bercakap dengan menulis (hal. 14). Cara ia berbincang dengan para penahannya di sekujur novel hanya menggunakan kertas dan tulisan, kecuali (tentu saja) obrolan Mapata pada masa-masa sebelum disekap.

Metode Faisal Oddang ‘menyiksa’ Mapata rupanya banyak gunanya. Hasil pembacaan awal saya: lidah Mapata dipotong yang pada sebelum akhir cerita tampak seperti hanya sebagai siasat penulis untuk menyampaikan runutan latar novel dalam catatan akademis tentang sejarah Sulawesi Selatan dan bissu. Namun pada seperempat cerita akhirnya justru ‘potong lidah’ itu sangat masuk akal (biarlah pembaca memburunya atas apa yang saya maksud). 

Tokoh Mapata dalam cerita ini mengalami keterbelahan diri: antara jiwa perempuan dan identitas laki-laki. Namun kisah kanak-kanak Mapata agaknya meminta empati kita sebagai penyebab keterbelahan ini.

Antara Seno dan Tohari
Tatkala melintas kabar bahwa novel ini berlatar sejarah sengketa DI/TII – TNI, muncul pertanyaan saya sebelum membaca. Bagaimana Faisal Oddang mengolah materi sejarah menjadi latar yang ciamik? Harus saya akui, Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari masih menjadi novel ideal bagi saya untuk menjawab pertanyaan soal bagaimana latar sejarah diramu menjadi bahan menarik. Apakah bisa menyamai atau mendekati cara Ahmad Tohari?

Ketika menelusuri halaman per halaman TSB, hasil pindaian saya mengesankan bahwa formula Seno Gumira Ajidarma saat memasukkan kesaksian dan laporan jurnalistik tentang rentetan kejadian Insiden Dili, Timor Timur dalam cerita-cerita dalam Jazz, Parfum, dan Insiden bisa tercium dalam novel ini. 

Seno memasukkan reportase jurnalis yang harus tercampak di keranjang sampah meja penyuntingan media-media di zaman Orde Baru (lih. Ajidarma, 2005:140-162.), Faisal memasukkan karya-karya ilmiah tentang bissu atau yang berkisah sejarah Indonesia pertengahan abad ke-20. 

Sekurangnya ada lima buku yang Faisal sebut dalam teks TSB, yakni [a] Pemberontakan Kahar Muzakkar dari Tradisi ke DI/TII (buku) dan Tradition, Islam and Rebellion: South Sulawesi 1950-1965 (disertasi) karya Barbara Sillars Harvey; [b] Bissu: Pergulatan & Perannya di Masyarakat Bugis karya Halilintar Latief; [c] Peristiwa Sulawesi Selatan 1950 – Mayor Bardosono; [d] Kekerasan Budaya Pasca 1965 – Wijaya Herlambang; [e] Sejarah Masyarakat Tionghoa Makassar – Yerry Wirawan.

Fiksi dan Fakta
Mari bersetuju dengan Seno bentangan kemungkinan yang ditawarkan oleh sastra, “ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara”, yang tampak dalam beberapa yang sempat saya catat, antara lain tentang bisik-bisik tentang komunitas bissu soal bagaimana orientasi seks mereka dirinci oleh Faisal (hal. 93); tentang Pantai Losari Makassar yang direklamasi (hal. 149), persoalan yang disoroti banyak kalangan di Makassar; sampai percobaan memasukkan paham komunisme sebagai landasan gerak DI/TII (hal. 111-113).

Ketiga hal itu makin mengukuhkan bagaimana cerita (story) lebih leluasa merinci ketimbang tuturan sejarah (history). Saya baru saja mendengar cerita yang disebut sekilas di halaman 113. 

Novel ini mengisi ruang yang sudah lama kosong dalam karya sastra yang berlatar sejarah Sulawesi Selatan. Karya Faisal Oddang ini terbit setelah tujuh tahun rilisnya Perang Makassar 1669: Prahara Benteng Somba Opu karya SM Noor (Kompas, 2011), dan nyaris tiga puluh tahun. Keduanya pun cukup berjarak tahun dari Sang Penasihat (1990) dan Sang Jenderal (1991) karya Fredericy.

Tampaknya Faisal Oddang berhasil menyuguhkan sehidang cerita yang lama ditunggu tentang khasanah sejarah seperti ini. Ia mengingatkan kita pada Ahmad Tohari, tentu dengan cara yang berbeda.[]

Judul: Tiba Sebelum Berangkat
Penulis: Faisal Oddang
Tahun: April 2018
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Ukuran: vi + 216 halaman; 13,5 x 20 cm
ISBN: 978-602-424-351-7

*terbit di Harian Kompas, 29 September 2018

Rabu, September 26, 2018

Ziarah ke Danau Sidenreng

Sederhana saja cara saya melihat bagaimana Sidenreng Rappang (Sidrap) mutakhir. Cukup menyaksikan apa saja yang terjadi pada berlangsung 22-24 September 2018di suatu acara bernama Sidenreng Lake’s Fest. 
Bagian keramaian di Danau Sidenreng (foto: Anwar Jimpe Rachman)
Itu hanya nama baru—berbahasa Inggris. Warga Desa Mojong, perkampungan di pinggir utara Danau Sidenreng, tempat acara tahunan ini berlangsung, menyebutnya sebagai mappadendang, atraksi yang menampilkan sekelompok warga menumbuk lesung—berirama yang bersemangat, simbolisasi kesyukuran atas panen yang melimpah. Nama mappadendang untuk menyimpelkan serangkai acara yang biasanya berisi mattojang (berayun), maccera’ tappareng (selamatan dan melarung sesajian, harfiahnya ‘meneteskan darah hewan ke danau’), dan mabbala’ lopi (balap perahu dayung dan perahu bermesin).
Panitia mabbala' lopi mengawasi lomba (foto: Anwar Jimpe Rachman)
Banyak yang bilang, nama baru ini muncul karena kali ini disokong pemerintah kabupaten. Warga sekitarnyalah yang bahu-membahu untuk menggelarnya pada tahun-tahun sebelum 2018.

Sebelum dan sesudah disponsori pemerintah, jelas ada bedanya. Hadiah mabbala lopi: dulu televisi, sekarang sepeda motor. Sampai tahun sebelumnya, duga saya, hiasan umbul-umbul cuma yang polos berwarna; sekarang bendera-bendera penyemaraknya sudah bermerek—mulai motor sampai pupuk.

Sebenarnya, bagi saya, perjalanan ke Desa Mojong ini semacam ziarah. Saya dengar dari Bram, kawan di Tanahindie yang kebetulan sekampung, ada semangat dan upaya merawat sesuatu di Sidrap dalam waktu yang belum setahun. Gerakan yang juga melibatkan anak muda yang berkelindan dengan banyak hal, termasuk politik. Dalam kesan saya, gerakan orang muda itu sebagai ‘sesuatu yang terpaksa dilakukan’ karena beberapa hal genting, jelas bikin dada menghangat. Saya merasa ada harapan lagi.
Anak-anak mattojang (main ayunan) (foto: Anwar Jimpe Rachman)
Saya beberapa kali patah hati pada kampung sendiri. Saya meninggalkannya ketika harus berkuliah di Makassar. Keberangkatan saya ke Makassar pertengahan dasawarsa 1990 itu menyelamatkan saya dari masa suram di kolong rumah yang dipenuhi botol-botol miras dan hujan batu tawuran karena perang antar geng. Patah hati saya yang kedua datang beberapa tahun kemudian, begitu dengar kampung saya jadi pasar sabu-sabu. Ini patah hati saya yang terlama lantaran sudah berlangsung lebih satu dasawarsa.

Tapi namanya kampung, tak bisa saya mungkiri, lebih separuh diri saya terbuat dari bahan-bahan yang berasal dari sini. Saya yang lama tak pulang, jelas merindukan demikian banyak hal. Karenanya, semisal ditantang makan putu beras lengkap sambal tai boka-nya, saya dengan gagah berani menerimanya. Diseret seseorang untuk menuntaskan kangen pada kekasih, jelas siapa yang tak mau. Sebab itu saya menerima ajakan Bram.

Saya tumbuh dan besar di Rappang, ibu kota Sidrap di masa Belanda, yang berada dua puluhan kilometer di utara desa yang berada di Kecamatan Watang Sidenreng ini. Saya dengar pertama kali nama desa yang saya sambangi ini lewat lagu daerah “Kepala Mojong”, waktu mulai aktif ikut orkes kecapi di SMP pada penghujung dekade 1980. Kala itu pun saya belum tahu kalau itu nama satu kampung di Sidrap.

Dua malam satu hari berada di pinggir Danau Sidenreng, mengingatkan saya hikayat asal mula danau ini. Dalam cerita yang banyak beredar dalam teks, nama danau itu juga menjadi nama kerajaan. Kalangan yang “menemukannya” adalah orang-orang yang turun dari gunung lantaran ketidaksetujuan cara memerintah saudara mereka bernama La Maddaremmeng di wilayah Sangalla, yang kini termasuk daerah Toraja. Alkisah, orang-orang itu harus sidenreng/sirenreng atau ‘berpegangan tangan’ kala hendak mengambil air danau ini untuk minum.
Basri masih pakai TOA setiap tampil (foto: Anwar Jimpe Rachman)
PESTA ini dibuka 22 September malam di satu anjungan yang lebar, mungkin bisa muat empat atau lima lapangan futsal bila termasuk parkiran. Bintang-bintang terang di langit kemarau di atas danau yang selalu berair coklat ini (bisa juga Anda cek di Google Map). Angin lembab dan sejuk. Kerumunan tambah ramai. 

Festival dibuka pemukulan gong oleh Bupati. Luncuran kembang api menyusul. Ya, pembukaan acara yang kebanyakan. Tapi usai biduan bernama Tiara menyanyi, suara pemandu acara menyebut nama pemain kecapi Sabri dan kelompoknya, Empat Sekawan, bakal tampil. 

Segera lengkap ziarah saya! Sudah lama saya nantikan kesempatan menonton langsung bagaimana Sabri berceloteh seraya memetik kecapi.

Saya ke depan panggung. Sambil berdiri, saya sesekali terpingkal karena celetukan Sabri. Meski di panggung ada sound system modern lengkap, Sabri masih setia memakai pelantang TOA. 

Lawakan slapstick yang berbahasa daerah jelas hiburan yang nyata. Seketika pegal pinggang dan punggung duduk di sadel motor sepanjang 190-an kilometer dari Makassar ke pinggir danau ini, tumpas! Saya bahkan tahan berdiri menikmati pertunjukan Sabri dkk. Sesekali mengobrol dengan Hadi, kawan seangkatan di kampus yang kini staf Bappeda Sidrap, karena bertahun tak bersua. 

Setengah jam kemudian, badan menagih istirahat. Saya menepi cari dudukan. Eh, Sabri juga berhenti.

“Kita pamit, Syarifudding. Ini tidak seperti di kawinan atau aqiqah. Sudah tengah malam. Orang mungkin sudah pada mengantuk,” kata Sabri dalam bahasa Bugis.

Ternyata acara belum tutup. Bunyi organ tunggal membahana lagi. Suara biduan berkumandang lagi. 

Sabri mungkin kecewa. Saya kira, pertunjukan Sabri memang tidak cocok dimainkan di arena besar seperti ini. Penontonnya berjarak dan ‘jauh di bawah’. Basri butuh ruang intim, anugerah yang biasa didapatnya di hajatan warga, seperti aqiqah atau sunatan. Sabri perlu melihat wajah penonton yang terkekeh, tidak seperti di depan-pinggir panggung yang gelap itu. Kata seseorang keesokannya, setiap hajatan yang mengundang Empat Sekawan, penonton betah sampai dini hari bahkan hingga pagi. Belakangan saya tahu dari kerabat-kerabat panitia, waktu tampil Sabri sebenarnya tidak di tengah acara, melainkan di akhir. Pukul setengah dua belas, orang sudah bubar. 

Kami pulang. Kami melintasi alun-alun desa yang ada di depan gerbang lokasi pesta rakyat. Deretan lampu pasar malam masih terang. Para pedagang masih berjaga di jualannya. Sekelompok berisi (mungkin) lima orang masih menumbuk lesung yang sudah dua hari dua malam tanpa henti. 

Di atas mobil, seorang kawan menceritakan ruang utama rumah Uwak Ambo, pemimpin adat setempat, dipenuhi sesaji. Dia baru lihat persembahan sebanyak itu, katanya. Benar-benar penuh.

Kami istirahat. Pukul enam pagi harus ke sini lagi. Warga bersiap Maccera’ Tappareng

Uwak Ambo memimpin upacara maccera tappareng (foto: Anwar Jimpe Rachman)
MINGGU pagi yang cerah. Dua gendang berbalut kain putih ditabuh, diiringi instrumen bambu kattok-kattok. Uwak Ambo dan rombongan membawa beberapa rangkai sesaji (semuanya berisi beberapa sisir pisang, beberapa ikat daun sirih, beberapa buah pinang, beras ketan merah-putih-hitam-kuning [lambang api-air-tanah-angin], telur, benno [jagung kembang], kelapa muda, dan beberapa bungkusan putih—mungkin berisi uang) ke pinggir danau. 

Dua puluhan lebih perahu, beserta penumpangnya yang tak bisa lebih dari dua orang, menunggu ritual itu rampung. 

Uwak Ambo berkopiah hitam, baju lengan panjang hitam, dan sarung hitam. Kumis dan alisnya tebal. Ia tertunduk, berkomat-kamit. Ia tegakkan wajah lagi, mengambil tempurung kelapa berisi darah lalu diteteskan ke danau. Tetes-tetes merah segera bercampur ke air berlumpur danau. Ia sebarkan pula jagung kembang ke air—laku memberkati. Bungkusan putih lalu dilarung. 

Mesin perahu pun menyala. Sesaji lainnya siap dibawa ke bagian tengah danau. 

Tangan Uwak Ambo tiba-tiba melambai ke perahu-perahu yang nyalakan mesin dan sudah berangkat menuju tengah danau. Ada kabar bahwa Bupati mau ikut melarung. 

“Sudah di jalan masuk Mojong,” kata seorang panitia. 

Jalan yang dimaksud adalah ruas jalan beton sepanjang tujuh kilometer dari jalan poros Makassar-Luwu menuju Mojong, yang kabarnya baru juga selesai 2018. Lima belas menit kemudian Dollah Mando, sang bupati yang baru ditetapkan akhir Juli kemarin, sudah tampak. 

Pak Dollah buka sepatu dan gulung celana. Ia naik ke perahu lambat yang beratap—muat sampai delapan orang. Rombongan perahu meluncur kencang ke tengah. Muncul kabut air di belakang perahu-perahu itu. Saya yang berdiri di pinggir danau baru sadar kalau pemandangan itu berbeda dengan yang biasa saya lihat di perairan yang dalam. Kabut itu muncul karena baling-baling perahu tidak terbenam dalam. Danau Sidenreng memang danau dangkal. Hanya di musim hujan ia jadi dalam. Itu juga kalau ada air kiriman dari tetangganya, Danau Tempe. Permukaan anjungan beton yang berada empat meter di atas permukaan laut, kata Arlan—sepupu saya, tenggelam karena air kiriman danau di Wajo itu. Bahkan menyatu menjadi danau besar.[1]

Satu-dua jam setelah upacara melarung sesaji, Mabbala Lopi dimulai. Lomba dibuka dengan balap perahu dayung perempuan, kategori yang baru tahun ini diperlombakan. Setelah penyerahan hadiah, lomba mulai lagi sekisar pukul sepuluh. Pesertanya datang dari Sidrap dan kabupaten lain seperti Wajo, Soppeng, dan Bone. Banyak pesertanya. Wajar kalau lomba berakhir menjelang senja.
Umbul-umbul iklan di Sidenreng Lake's Fest (foto: Anwar Jimpe Rachman)
DESA Mojong terletak di pinggir utara Danau Sidenreng. Di sini terdapat pula Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Mojong—yang disebut belum lama dibangun. Hidung saya tak bertemu bau amis khas TPI. Ikan yang ada cuma bangkai ikan sapu-sapu yang tak seberapa, tergeletak begitu saja di sela-sela batu pinggir danau. Belakangan saya dapat ikan kecil sampai yang besar di perjamuan siang di anjungan.

Bila Anda melempar pandangan ke selatan, akan tampak Bulu Allakkuang yang dilatari gunung dan bukit yang menjajar ke timur. Bulu Allakkuang adalah gunung batu yang selama ini jadi sumber baku pembuatan kerajinan batu seperti batu ulek, batu nisan, sampai lesung. Gunung itu tampak memutih, tidak hijau sebagaimana gunung atau bukit kebanyakan. Itu karena pertambangan. Gunung yang diprediksi bakal hilang itu tak ayal menjadi topik bahasan di harian lokal Makassar beberapa waktu lalu. Mungkin hal ini pula yang perlu menjadi perhatian semua kalangan. 
Rumah-rumah mini di beberapa titik di Desa Mojong  (foto: Anwar Jimpe Rachman)
Di alun-alun Desa Mojong ada sebatang pohon tua. Di bawahnya terdapat beberapa makam, juga satu rumah kayu sebesar dua pos kamling. Serambinya membentang mengambil tiga perempat rumah itu. Sisanya satu bilik kecil. Model begini saya lihat juga di sebatang pohon besar yang tumbuh di pematang sawah di samping anjungan danau. Ukurannya saja yang lebih kecil, mungkin setengah meter bujur sangkar. Itu mengingatkan saya cerita dari banyak orang tentang Bulu Lowa di Amparita yang dipenuhi rumah seperti ini untuk dipakai menaruh persembahan.

Menurut warga, di waktu tertentu, rumah di alun-alun akan dipenuhi To Lotang dari Amparita yang ada di bagian selatan danau. Mereka datang potong hewan atau memboyong yang sudah jadi masakan. “Bisa sampai enam puluh mobil datang ke sini. Mereka memutar (lewat darat),” kata seorang lelaki sepuh setempat. 

Ingatan saya langsung terhubung ke ritual maccera tappareng tadi pagi. Saya menduga, itu salah satu jejak kebudayaan To Lotang, komunitas penganut kepercayaan animisme, yang berada di Amparita. Sesaji selengkap itu berbeda dengan ritual serupa yang saya saksikan langsung di beberapa tempat dengan persembahan yang lebih sederhana.


PESTA rakyat itu sudah selesai. Saya kembali ke Makasar dan suntuk dengan kerja-kerja sebagaimana biasanya. Namun, sesampai di meja kerja, ziarah itu terus mengetuk benak saya. Bisa menjadi sekadar pengingat kedatangan saya menjenguk sesuatu yang lama saya rindukan. Maka jadilah beberapa catatan saya melihat Sidrap dalam bentuk “dua hari”.

Pertama, pesta rakyat ini digelar tak lama setelah pergantian bupati Sidrap. Mungkin ini salah satu cara bupati yang terpilih dalam memindai deretan perihal yang menjadi tugasnya dalam lima tahun ini. 

Kedua, namun dalam pesta itu, salah satu iklan yang berkibar menyambut pengunjung adalah iklan pupuk. Sejak dulu, Sidrap menjadi salah satu wilayah lumbung padi Sulawesi Selatan, sekaligus menjadi tempat praktik masif penggunaan pestisida dan insektisida untuk ladang dan sawah. Yang pernah melintasi Sidrap menuju atau dari utara (Enrekang dan Toraja) atau timur laut (Wajo dan Luwu), pasti menyaksikan hamparan sawah di daerah ini yang hanya dibatasi gunung atau horizon. Semua orang perlu menahan diri untuk, setidaknya, mengurangi pemakaian zat-zat kimia untuk pertanian. Beri kesempatan tanah meremajakan diri. Kalau tidak, jangan heran kalau keluhan petani kisarannya kebanyakan pada makin banyak pupuk yang diperlukan untuk petak-petak sawah mereka. Tapi saya kira, Pak Dollah Mando adalah orang yang lebih paham karena latarnya sebagai petani dan penyuluh.
Bangkai ikan sapu-sapu di pinggir Danau Sidenreng (foto: Anwar Jimpe Rachman)
Di pinggiran danau itu juga tergeletak bangkai ikan sapu-sapu. Menurut seorang warga, ikan yang disebut nama setempat ikan tokek ini dua tahun terakhir muncul di danau ini. Bangkai itu adalah tangkapan sampingan nelayan. Warga setempat banyak yang enggan memakannya. Sisik dan kulitnya sangat tajam. Nelayan kesal karena jala mereka robek karena ikan ini. Jadi mereka mencampakkannya begitu saja.

“Ikan itu memakan ikan lain. Darahnya seperti darah manusia,” kata seorang nelayan, bergindik.

“Kata orang bahaya karena mengandung merkuri,” kata nelayan lain yang mengaku tahu itu dari tulisan. Ia juga ceritakan kalau ada peneliti sudah membawanya ke Makassar untuk disigi lebih lanjut.

Di atas Danau Sidenreng, orang-orang beradu cepat dalam lomba perahu. Namun di bawah permukaan air danau itu pula, nelayan bakal beradu cepat menangkap ikan dengan predator (ikan sapu-sapu). Perlu segera semua pihak membantu nelayan setempat agar mata pencaharian mereka tidak terganggu.

Ketiga, Bulu Allakkuang, gunung di bagian selatan danau itu sudah memutih, menelanjangkan batu-batunya. Orang-orang harus lekas berhenti mengikis gunung itu. Penambangan, di mana pun itu, hanya menguntungkan sesaat dan untuk segelintir orang saja. Bahayanya justru melanda semua orang. 
Bocah-bocah yang membaca dan menggambar di lapakan buku  (foto: Anwar Jimpe Rachman)
Keempat, di dalam festival ini pula hadir lapakan baca di ujung timur anjungan, lengkap dengan sekelompok bocah yang terus membaca dan belajar menggambar serta mewarnai. Saya harus hormat pada kawan seperti Juju dan Ilham yang mau berjaga di situ dan mendirikan rumah baca. Sayangnya, kita masih sibuk untuk menggempitakan pesta ini dengan suara musik yang nyaris tanpa jeda. Belum memberi kesempatan pada bagian ini untuk lebih diperkenalkan ke warga. Saya yakin, kalau pesta rakyat ini diadakan tahun mendatang, bagian-bagian seperti ini akan diberi tempat yang lebih leluasa.


SAYA pernah berkelakar, Sidrap lebih sejuk sekarang karena banyak kipas di sana. Itu cuma gempita saya menyambut pembangunan PLTB di Desa Mattirotasi, Watang Pulu. Bahagia rasanya bahwa pemerintah sudah mengupayakan sumber energi yang ramah lingkungan dan membuat contoh yang baik. Tersisa bagi kita untuk melanjutkan upaya dengan semangat yang serupa. 

Semoga patah hati saya sembuh. Sembuh lebih cepat!



[1]Keterangan ini bersesuai dengan hasil penelitian Anom. 1979, 1982 yang dikutip Ian Caldwell dan Malcolm Lillie “Laut Pedalaman Manuel Pinto: Menggunakan Teknik-teknik paleo-environmental bukti sejarah Sulawesi Selatan” dalam http://www.oxis.org/terjemahan/caldwell--lillie-2004.pdf, diakses pada 26 September 2018, 08:10 Wita.

Minggu, Maret 25, 2018

Jawaban yang Datang Delapan Tahun Kemudian

LANTARAN ikut sibuk mengurus hal lain, saya tidak mendengar langsung bagaimana jawaban Kees Buijs atas pertanyaan soal bagaimana ia memisahkan antara pekerjaannya sebagai pendeta dan ketertarikannya terhadap masyarakat Mamasa sebagai subjek penelitiannya, yang tertuang dalam buku Kuasa Berkat dari Belantara dan Langit: Struktur dan Transformasi Agama Orang Toraja di Mamasa, Sulawesi Barat (Ininnawa - KITLV Jakarta, 2009) yang diluncurkan dan dibincangkan pada acara Satu Dekade Komunitas Ininnawa pada April 2010 .
Kees Buijs melakukan pendampingan gereja-gereja di daerah Mamasa pada rentang akhir 1970-an hingga awal 1980-an, kawasan yang sedekade lebih lalu menjadi kabupaten sendiri di Sulawesi Barat. Dalam pengantarnya di Kuasa Berkat dari Belantara dan Langit, Buijs menulis, “Yang saya lakukan saat itu adalah mengumpulkan informasi dengan rekaman dan catatan-catatan.” Atas dorongan dosen Antropologi Universitas Utrecht, H. Van Dijk yang berkunjung ke sana pada 1990 (dengan membawa mahasiswa yang tertarik mengadakan penelitian di Mamasa), ia kemudian mengikuti beberapa pelatihan di Universitas Leiden, yang membuatnya terkesan pada kuliah Reimar Schefold tentang antropologi simbolis.
Sejak berkenalan dengan Kees Buijs sejak 2009, saya lalu membaca penjelasan tentang Mamasa, daerah belum pernah saya datangi itu, ketika catatan ini saya tulis. Karya-karya doktor antropologi ini menyediakan bagi kita pengetahuan dan keterangan awal bagaimana masyarakat Mamasa menjalani agamanya, serta memberi pemahaman soal daerah yang tidak dikenal banyak orang, yang bisa melahirkan stereotipe tentang masyarakat dan wilayah “terpencil” tertentu, seperti masyarakat Toraja, yang pernah diceritakan Kathleen Adams dalam bukunya Arts as a Politic: Re-crafting Identities, Tourism, and Power in Tana Toraja, Indonesia (University of Hawaii Press, 2006), “Orang-orang dekat tuan rumah saya menyarankan, saya harus tinggal di Jawa atau ke Bali. Toraja dulu dikenal tempat ilmu hitam dan tradisi pengayauan [penggal kepala] dipraktikkan,” tulis Kathleen (hl. 2). Buijs juga ceritakan detail soal ritual penggal kepala ini dalam bukunya.

DALAM buku pertama, Kuasa Berkat dari Belantara dan Langit, Kees Buijs menjelaskan secara umum tentang dua berkat yang selalu diharapkan oleh penganut aluk to yolo, harfiahnya agama lama atau agama tradisional yang (disebut-sebut sudah ada sebelum pengaruh Hindu-Buddha) dipraktikkan komunal maupun secara personal oleh masyarakat setempat. Dua kuasa berkat itu berasal dari langit dan belantara, konsep berpasangan dalam kosmologi orang Toraja Mamasa yang dibutuhkan untuk kehidupan.
Dengan mengutip Stรถhr (1979), Buijs menyebut konsep ini merupakan jejak kebudayaan tua Indonesia, yaitu polarisasi dan cara berpikir khas Austronesia, seperti perbedaan antara dunia atas dan dunia bawah, laki-laki dan perempuan, kiri dan kanan, hulu dan muara sungai. Kendati berbeda sifat, keduanya memiliki kesepadanan sekaligus sifat yang bertentangan (hl. 52).
Langit dalam kosmologi orang Toraja Mamasa merupakan asal dari dewa luluhur yang mengutus keturunannya, para bangsawan, untuk mendiami bumi. Kelak, bila tiba saatnya meninggal, mereka harus kembali ke langit dan membali dewata (menjadi dewa-dewa). Namun selama menjalani hidup di bumi, para ‘anak-anak’ dewa ini memerlukan penunjang hidup seperti makanan (dalam hal ini, semisal, padi) yang hanya tumbuh bila langit dan belantara memberi berkat. Kerjasama antara kuasa ‘atas’ (langit) dan ‘bawah’ (bumi) menghasilkan kesuburan di bumi.

USAI penerbitan buku pertamanya, Kees Buijs masih bolak-balik ke Mamasa. Bila ia berencana ke Indonesia, mungkin selalu ke Mamasa, lelaki berkebangsaan Belanda ini akan mengabari saya lewat surat elektronik, SMS, atau belakangan lewat Whatssap. Kami janjian bersua, satu dua kali di hotel tempatnya menginap di Makassar atau mampir sejenak di tempat saya di Kampung Buku demi satu dua keperluan, terutama terkait bukunya—juga membaca sejenak buku Ibu Kathleen Adams.
Pada 2016, kami lalu intens berkomunikasi lantaran rencana penerbitan buku keduanya yang kemudian diberi judul Agama Pribadi dan Magi di Mamasa, Sulawesi Barat: Mencari Kuasa Berkat dari Dunia Dewa-dewa (Ininnawa, Juli 2017). Kalau dalam buku pertama Buijs jelaskan agama orang Toraja Mamasa lebih umum, dalam buku kedua ini ia uraikan bagian-bagian agama dan kebudayaan tradisional orang Toraja yang makin ditinggalkan dan dilupakan. Kees mengarahkan penjelasannya pada penghayatan agama secara pribadi yang berpusat di dapur setiap rumah, terutama di dalam rumah tradisional.
Bahkan, yang tak kalah menarik, di dalam Agama Pribadi dan Magi, Kees menelisik dan mengurai bagaimana berkat dewa-dewa demi kehidupan juga diperoleh dari rangkaian kata magis dan batu istimewa nan bertuah—yang diperoleh dengan berbagai cara dan di waktu-waktu khusus, yang dipercaya ketika bumi dan langit sedang ‘bersatu’.
Hal yang menarik pula bahwa dalam buku ini Buijs kelahiran 1944 ini merinci bagaimana perubahan agama lama di Mamasa lantaran dua momentum, yakni masuknya Kristen di Mamasa tatkala Belanda memerintah daerah tersebut pada 1907 dan pada 2002 ketika Mamasa menjadi kabupaten sendiri, situasi yang memungkinkan masyarakat Muslim bertumbuh cepat (hl. 23).
Kuasa berkat dari langit dan belantara pada pertumbuhan padi, sebagai makanan utama ‘anak-anak’ dewata, berubah tatkala cara sebar benih langsung ke sawah yang dilakukan masyarakat Mamasa hingga tahun 1970 berganti ketika padi yang cepat tumbuh masuk ke daerah itu, jenis bibit yang membutuhkan persemaian (hl. 106). Bibit yang tersedia pada masa Revolusi Hijau (green revolution) itu memungkinkan panen tidak serentak lagi, yang membawa pengaruh pada toso’bok [pendeta padi] (hl. 107).

TIDAK cukup setahun, ketika masih proses persiapan cetak Agama Pribadi dan Magi, Kees Buijs mengirim lagi naskah lain. Kali ini berurut, yakni versi Indonesia dan Inggris naskah Tradisi Purba Rumah Toraja Mamasa: Banua sebagai Pusat Kuasa Berkat dan Ancient Traditions in Toraja Houses of Mamasa, West Sulawesi (Ininnawa, Mei 2018).
Usai memeriksa naskahnya sekaligus membaca Tradisi Purba Rumah Toraja Mamasa, saya kian paham bagaimana harusnya memandang masyarakat Toraja Mamasa. Banyak hal menarik di dalam buku ini, semisal saya jadi lebih mengerti bahwa saya tidak bisa lagi menyamakan masyarakat Toraja Mamasa di Sulawesi Barat dan Toraja Sa’dan yang ada di wilayah administrasi Sulawesi Selatan—yang dulunya saya pikir sama saja lantaran kesamaan asal-usul dan keyakinan agama.
Mengapa demikian? Kees Buijs dalam Tradisi Purba Rumah Toraja Mamasa menjelaskan bagaimana perbedaan makna tentang rumah tradisional banua di Toraja Mamasa dan tongkonan di Toraja Sa’dan, justru, dengan melihat bagian yang paling dalam satu rumah, yakni dapur. Ia melacaknya dengan memulainya menceritakan siapa sebenarnya masyarakat Toraja Mamasa. Dari situ, ia berpindah menceritakan dari mana asal sebenarnya bentuk atap rumah berbentuk sadel kuda itu? Apakah merujuk ke bentuk perahu atau tanduk kerbau?

DENGAN membaca ketiga bukunya itu, saya kemudian merasa beruntung bahwa jawaban langsung Kees Buijs, ketika ia ditodong pertanyaan tentang bagaimana memisahkan dua identitas dalam dirinya (pendeta dan antropolog) pada April 2010 lalu, bisa saya bayangkan dan pahami.
Setelah itu pula, kali ini, saya makin yakin: jawaban tidak selalu hadir begitu pertanyaan terlontar. Jawaban bisa datang lekas, tapi kadang teramat baik bila datang lebih lambat.[]


Kamis, Maret 22, 2018

Halaman Rumah


Buku ini melacak sejarah kecil (petite histoire) tentang tiga kampung (Paropo, Rama, dan Sukaria) di Makassar lewat “pintu masuk” ranah yang disebut sebagai halaman rumah—yang memungkinkan kita melacak perkembangan wajah Kota Makassar.

Halaman rumah merupakan orientasi arsitektural orang Indonesia. Ia sebentuk pengertian luas dalam alam pikir mutakhir Nusantara. Sebab itulah, selain melacak sejarah kecil halaman rumah warga kota Makassar, buku ini memulung beberapa perspektif yang nostalgis hingga praktis dari Flores, Makassar, Solo, Yogyakarta, dan tempat lainnya dengan beragam perspektif, mulai seni, hukum, pengorganisasian, budaya, dll. 

Buku ini lantas menguak bagaimana halaman bisa menjadi ruang ekspresi, berfungsi sebagai panggung, ruang produksi, lanskap, hingga ranah pertukaran gagasan.

Buku yang melibatkan dua puluhan peneliti, seniman, pengacara, dosen, ibu rumah tangga, pekerja sosial dan seni, serta mahasiswa ini hasil kerjasama Tanahindie - Stichting Doen - Arts Collaboratory - Penerbit Ininnawa.

Jumat, November 10, 2017

Makassar Biennale 2017: Medan Perluas Wacana Maritim


DENGAN menetapkan tema abadi “Maritim”, Makassar Biennale (MB) 2017 seperti membebaskan diri dari beban yang selama ini ditanggungnya—sebagai ajang seni yang digelar di kota yang menjadi artefak hidup dunia kemaritiman Nusantara.

Biennale menjadi peristiwa sekaligus situs penting penanda geliat perkembangan kebudayaan di satu wilayah. Tidak cuma itu, MB pun mengarahkan dirinya sebagai ruang pertukaran pengetahuan khalayak umum dengan modus seni. 

Membicarakan catatan sejarah kawasan ini, seperti masa keemasan Kerajaan Gowa-Tallo, salah satu kerajaan maritim terbesar yang berkembang mulai awal abad ke-16, kita bisa membayangkan betapa temuan benda penting sangat dapat kita katakan hubungan antara seni dan pengetahuan. 

Ketika Raja Tumapa’risi Kallonna memerintah masa abad itu, ia membuat jabatan non-teritorial pertama di kerajaan ini bernama sabarana (syahbandar) yang disandang oleh Daeng Pamatte. Kronik Gowa melekatkan penemu aksara lontara’ ke sosok ini, meski kemungkinan besar sudah ada seratusan tahun sebelumnya. Namun pada masanya pertama kali negara menggunakan aksara tersebut. Masa setelahnya, Tunipallangga (1548-1565), inovasi tombak dan perisai yang lebih ringan dan produksi bubuk mesiu serta pembuatan peluru untuk senapan pun berlangsung (Gibson, 197:2009). Masa setelahnya, hidup dua orang cerdik pandai berwatak kosmopolit, Karaeng Pattingalloang dan Amanna Gappa. 

Pattingalloang, figur di balik kejayaan Gowa-Tallo kala itu, seorang ahli diplomasi, dan konsolidator ulung yang tergila-gila pada ilmu pengetahuan—memesan barang langka antara lain bola dunia, peta dunia, hingga teropong bintang (Lombard dalam Arsuka, 2000). Sementara Amanna Gappa, seorang matoa Wajo di Kerajaan Gowa-Tallo, menjadi perumus undang-undang kelautan yang tersohor, Ade’ Allopi-Loping Ribicaranna Pa’balu’e atau Hukum Pelayaran dan Perdagangan Amanna Gappa (O. L. Tobing, 1961). 

Dari catatan sejarah tadi dapat dikatakan bahwa nilai-nilai kreativitas, sebagai tempias dari pertukaran pengetahuan antar-manusia berbeda latar dan asal, mendorong kemajuan dan kematangan peradaban di wilayah tertentu, melalui dunia maritim. 

Dengan demikian, seni yang bersenyawa dengan kemaritiman tidak bisa lagi dibatasi dengan sekadar merujuk pada bentuk visual tertentu. Yang juga sangat pokok adalah ‘nalar’-nya, perihal bagaimana isu kemaritiman ditempatkan sebagai bingkai dalam proses kreatif seniman agar tidak terjebak pada eksotisme bentuk visual. 

Melalui beberapa sesi seminar dan lokakarya, MB berharap, beragam kemungkinan dalam isu kemaritiman sebagai sebentuk ekosistem akan dieksplorasi dan dibincangkan.

Mengangkat kemaritiman sebagai tema besar kegiatan kiranya juga menjadi daya tawar tersendiri, di samping karena posisi Makassar sebagai kota pelabuhan yang tumbuh pada dua masa perdagangan utama di Nusantara, yakni perdagangan rempah-rempah dan kurun perdagangan dan industri teripang yang menjadikan bandar ini sebagai pusatnya. Hingga kini pun, Makassar sebagai bandar menjadi pintu penghubung yang strategis dalam konteks Indonesia mutakhir. 

Dengan keuntungan absolut inilah yang hendaknya menjadikan isu maritim sebagai ciri Makassar Biennale, terutama persentuhan dengan isu lain. Membicarakan maritim tak ubahnya membincangkan persoalan-persoalan hidup manusia yang saling berkaitan. Perhelatan ini memimpikan dirinya sebagai wadah besar yang ikut memberi saran (bahkan solusi) yang bertalian dengan hidup manusia yang lebih baik.

Pokok pikiran ini juga beririsan dengan salah satu visi dari kabinet Jokowi-JK yang hendak mengembalikan marwah Indonesia sebagai poros maritim dunia. Titik berangkatnya juga serupa, yakni kegelisahan atas sikap manusia Indonesia yang condong memunggungi lautan dan dipingit di pedalaman selama beratus tahun. Padahal, 160 juta penduduk Indonesia (60 persen) berdiam di kawasan pesisir. Perhelatan ini diharapkan dapat menjadi salah satu langkah penting untuk mewujudkan visi tersebut.

SAYA setuju dengan kurator MB 2017, Nirwan Arsuka, MB beruntung punya pembanding yang dekat dan bisa jadi rujukan (Jakarta Biennale dan Biennale Jogja). Tapi tantangan lain menunggu. “Makassar harus berjuang mendefinisikan dirinya, merumuskan karakternya agar tak menjadi sekadar pengekor dari biennale yang sudah ada, dan bisa menyumbangkan sesuatu yang memperkaya khasanah yang ada.” 

Namun, selama tiga pekan, MB berharap itu berlangsung lebih jauh. Dinamika dan cara pikir, berdialog, dan metode karya di dalam ajang ini tidak semata ingin menempatkan istilah ‘maritim’ menjadi sebatas ‘perairan laut’. Yang tak kalah penting bagaimana melihat, memikirkan, dan menggelutinya sebagai sebentuk ikatan dan ekosistem lingkungan hidup—dari hulu hingga hilir. Dari dalam akar hingga ujung atas pucuk daun. 

Hanya dengan begitu, seni menjadi cara pandang yang penting melihat persoalan di sekitar kita. Bisa menjelmakan bukti: seni sebagai jalan keluar.[]

*Diterbitkan di kolom Opini Tribun Timur, 8 November 2017.


  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP