Jumat, November 10, 2017

Makassar Biennale 2017: Medan Perluas Wacana Maritim


DENGAN menetapkan tema abadi “Maritim”, Makassar Biennale (MB) 2017 seperti membebaskan diri dari beban yang selama ini ditanggungnya—sebagai ajang seni yang digelar di kota yang menjadi artefak hidup dunia kemaritiman Nusantara.

Biennale menjadi peristiwa sekaligus situs penting penanda geliat perkembangan kebudayaan di satu wilayah. Tidak cuma itu, MB pun mengarahkan dirinya sebagai ruang pertukaran pengetahuan khalayak umum dengan modus seni. 

Membicarakan catatan sejarah kawasan ini, seperti masa keemasan Kerajaan Gowa-Tallo, salah satu kerajaan maritim terbesar yang berkembang mulai awal abad ke-16, kita bisa membayangkan betapa temuan benda penting sangat dapat kita katakan hubungan antara seni dan pengetahuan. 

Ketika Raja Tumapa’risi Kallonna memerintah masa abad itu, ia membuat jabatan non-teritorial pertama di kerajaan ini bernama sabarana (syahbandar) yang disandang oleh Daeng Pamatte. Kronik Gowa melekatkan penemu aksara lontara’ ke sosok ini, meski kemungkinan besar sudah ada seratusan tahun sebelumnya. Namun pada masanya pertama kali negara menggunakan aksara tersebut. Masa setelahnya, Tunipallangga (1548-1565), inovasi tombak dan perisai yang lebih ringan dan produksi bubuk mesiu serta pembuatan peluru untuk senapan pun berlangsung (Gibson, 197:2009). Masa setelahnya, hidup dua orang cerdik pandai berwatak kosmopolit, Karaeng Pattingalloang dan Amanna Gappa. 

Pattingalloang, figur di balik kejayaan Gowa-Tallo kala itu, seorang ahli diplomasi, dan konsolidator ulung yang tergila-gila pada ilmu pengetahuan—memesan barang langka antara lain bola dunia, peta dunia, hingga teropong bintang (Lombard dalam Arsuka, 2000). Sementara Amanna Gappa, seorang matoa Wajo di Kerajaan Gowa-Tallo, menjadi perumus undang-undang kelautan yang tersohor, Ade’ Allopi-Loping Ribicaranna Pa’balu’e atau Hukum Pelayaran dan Perdagangan Amanna Gappa (O. L. Tobing, 1961). 

Dari catatan sejarah tadi dapat dikatakan bahwa nilai-nilai kreativitas, sebagai tempias dari pertukaran pengetahuan antar-manusia berbeda latar dan asal, mendorong kemajuan dan kematangan peradaban di wilayah tertentu, melalui dunia maritim. 

Dengan demikian, seni yang bersenyawa dengan kemaritiman tidak bisa lagi dibatasi dengan sekadar merujuk pada bentuk visual tertentu. Yang juga sangat pokok adalah ‘nalar’-nya, perihal bagaimana isu kemaritiman ditempatkan sebagai bingkai dalam proses kreatif seniman agar tidak terjebak pada eksotisme bentuk visual. 

Melalui beberapa sesi seminar dan lokakarya, MB berharap, beragam kemungkinan dalam isu kemaritiman sebagai sebentuk ekosistem akan dieksplorasi dan dibincangkan.

Mengangkat kemaritiman sebagai tema besar kegiatan kiranya juga menjadi daya tawar tersendiri, di samping karena posisi Makassar sebagai kota pelabuhan yang tumbuh pada dua masa perdagangan utama di Nusantara, yakni perdagangan rempah-rempah dan kurun perdagangan dan industri teripang yang menjadikan bandar ini sebagai pusatnya. Hingga kini pun, Makassar sebagai bandar menjadi pintu penghubung yang strategis dalam konteks Indonesia mutakhir. 

Dengan keuntungan absolut inilah yang hendaknya menjadikan isu maritim sebagai ciri Makassar Biennale, terutama persentuhan dengan isu lain. Membicarakan maritim tak ubahnya membincangkan persoalan-persoalan hidup manusia yang saling berkaitan. Perhelatan ini memimpikan dirinya sebagai wadah besar yang ikut memberi saran (bahkan solusi) yang bertalian dengan hidup manusia yang lebih baik.

Pokok pikiran ini juga beririsan dengan salah satu visi dari kabinet Jokowi-JK yang hendak mengembalikan marwah Indonesia sebagai poros maritim dunia. Titik berangkatnya juga serupa, yakni kegelisahan atas sikap manusia Indonesia yang condong memunggungi lautan dan dipingit di pedalaman selama beratus tahun. Padahal, 160 juta penduduk Indonesia (60 persen) berdiam di kawasan pesisir. Perhelatan ini diharapkan dapat menjadi salah satu langkah penting untuk mewujudkan visi tersebut.

SAYA setuju dengan kurator MB 2017, Nirwan Arsuka, MB beruntung punya pembanding yang dekat dan bisa jadi rujukan (Jakarta Biennale dan Biennale Jogja). Tapi tantangan lain menunggu. “Makassar harus berjuang mendefinisikan dirinya, merumuskan karakternya agar tak menjadi sekadar pengekor dari biennale yang sudah ada, dan bisa menyumbangkan sesuatu yang memperkaya khasanah yang ada.” 

Namun, selama tiga pekan, MB berharap itu berlangsung lebih jauh. Dinamika dan cara pikir, berdialog, dan metode karya di dalam ajang ini tidak semata ingin menempatkan istilah ‘maritim’ menjadi sebatas ‘perairan laut’. Yang tak kalah penting bagaimana melihat, memikirkan, dan menggelutinya sebagai sebentuk ikatan dan ekosistem lingkungan hidup—dari hulu hingga hilir. Dari dalam akar hingga ujung atas pucuk daun. 

Hanya dengan begitu, seni menjadi cara pandang yang penting melihat persoalan di sekitar kita. Bisa menjelmakan bukti: seni sebagai jalan keluar.[]

*Diterbitkan di kolom Opini Tribun Timur, 8 November 2017.


Kamis, Oktober 05, 2017

Bagaimana Dapat Layanan Internet yang Bagus?

Kepada
Yth Telkom - Indihome
di Tempat

Sampai kini saya masih bingung, bagaimana mendapat pelayanan yang baik di Indonesia. Mengurus apa pun pasti bertele-tele, bahkan bisa tidak kelar-kelar. Saya baru saja alami ketika mengurus jaringan telepon dan internet Indihome berikut saluran-salurannya. Ceritanya begini.

Tanggal 7 September 2017, saya menelepon 147 untuk infokan kalau telepon dan internet di rumah saya sekaligus kantor saya mengalami gangguan. Telepon kresek dan internet nyala-padam. Beberapa saat setelah telepon saya tutup, layanan SMS 1147 mengabari kalau laporan saya sudah masuk dan terdaftar dengan nomor kupon IN20210898. Lumayan cantik nomornya.

Petugas datang, berbaju Telkom. Usai periksa, (mungkin) memperbaiki, dan menata kabel dan lainnya, ia sarankan ke saya untuk migrasi ke layanan prima jaringan optik dan kecepatan 10 Mbps. Kata si petugas, telepon kresek dan internet yang nyala-padam dikarenakan jaringan yang masuk ke rumah-kantor saya masih jaringan biasa (kabel tembaga). “Biarpun sudah diperbaiki, ini akan terjadi lagi karena jaringannya masih begitu,” kata Si Petugas.

Tidak ada biaya untuk migrasi ke kecepatan yang lebih besar itu, kata Si Petugas. Apalagi, tambahnya, semua layanan internet standar akan dipindahkan nanti ke kecepatan itu. 

Saya setuju. 

Bertindaklah Si Petugas dengan kawan-kawannya mengganti alat-alat yang menghubungkan modem, televisi, dan tetek bengeknya. Dia ganti yang baru. Remote modem tv putih diganti hitam mengilap. Si Petugas bilang, sambil membereskan peralatannya, tugasnya sudah selesai. Nanti akan ada petugas lain yang akan menyambungkan ke televisi.

Si Petugas pergi. SMS dari layanan 1147 datang lagi. “Pelanggan Yth, gangguan telepon 0411433775 dengan no tiket IN 20210898 telah diperbaiki. Mohon konfirmasi Y=Sdh baik, N=Blm baik, Balas sms ketik Y/N IN 20210898 (GRATIS) trm kasih.”

Jelas, karena jaringan ke televisi belum baik, saya balas, “N IN20210898”.

Jawaban datang hanya berselang tidak cukup semenit, “Mohon maaf no tiket anda tidak terdaftar atau sudah tutup.”

Saya beberapa waktu kemudian tidak memakai internet dan televisi. Mungkin sekisar semingguan. Saya coba minta bantuan ke seorang kawan yang bekerja di Indihome, esoknya datang petugas. Seorang lelaki lima puluhan tahun berbaju merah putih Telkom datang cukup pagi, sekitaran jam 9 atau 10. Tapi bukannya melayani, dia malah mengomel. Entah apa yang dibicarakan. 

Si tua pergi, datang petugas lain. Kali ini anak muda. Datang periksa, menelepon (mungkin rekannya), dan pergi. Janji untuk kembali. Nyatanya tidak. 

Singkat cerita, pada Senin 2 Oktober pukul 11, saya datang ke Kantor Telkom, di Jalan A.P. Pettarani. Saya dapat antrian A39 plus SMS dari Indihome yang menyambut kedatangan saya, “Pelanggan Yth, selamat datang di Plasa Telkom Pettarani. Nomor antrian Anda A39. Mohon tunggu untuk dilayani.”

Kronologi sama saya ulang kepada petugas costumer service berhijab yang menyambut saya. Ia tanya soal siapa nama petugas yang datang ke rumah saya. Saya jawab, itu tidak penting karena semua yang datang berseragam Telkom. Ia tersenyum kecut. Tapi kemudian ia sarankan untuk saya bayar tunggakan Agustus tagihan September. Oh iya, dia juga akui kalau saya pelanggan yang baik. Bayar tagihan cukup taat. Sesekalilah pasti terlambat, tapi tidak sampai seminggu baru bayar. Biasanya juga karena lupa karena ditelan kesibukan. Saya segera ke kasir, gesek ATM, dan lunas. Sebelum saya pulang, ia sebut kalau akan dilayani dalam 3 x 24 jam. 

Kalau begitu janjinya, baiklah. Saya berharap, semoga 3 x 24 jam itu ditepati. Saya berharap: Kamis, 5 Oktober 2017, pukul 11.11 Wita (jam tibanya SMS sambutan untuk saya saat di Plasa Telkom Pettarani Makassar) internet dan tayangan tv saya bisa nikmati lagi. 

Terima kasih!


Catatan:
Pada tanggal 5 Oktober 2017 sekisar pukul 17.00 Wita, Telkom mengirim petugasnya untuk mengembalikan ke jaringan tembaga. Jaringannya normal kembali.




Senin, Juli 03, 2017

Berpuasa dan Naik Ontel Demi Assikalaibineng


KETIKA pertama kali dicetak dan diperkenalkan ke khalayak tahun 2008, Assikalaibineng: Kitab Persetubuhan Bugis (Ininnawa, 2008) menyita perhatian yang sangat besar. Media cetak dan elektronik di Makassar membahas topik ini dengan hangat. Pembeli menyerbu. Sampai-sampai Assikalaibineng naik cetak sampai tiga kali dalam sebulan. Harian Tribun Timur pun menyebut, jagat pustaka di Sulawesi Selatan dihebohkan atas terbitnya Assikalaibineng!

Telepon Redaksi Ininnawa berdering tidak henti karena pesanan. Bahkan staf redaksi Tribun Timur harus mengambil juga buku ke Ininnawa lantaran banyak pembaca mengira harian ini yang menerbitkan. Toko-toko buku diserbu. Beberapa toko buku Makassar, yang namanya baru saya dengar waktu itu, ikut memesan beberapa puluh eksemplar lantaran paparan pemberitaan. 

Wajar saja semua itu terjadi karena baru kali ini terkuak bahwa masyarakat Bugis dan Makassar rupanya memiliki pusaka tentang laku persetubuhan (suami-istri). Media menyebutnya ‘Kama Sutra Bugis’. Sebutan itu agaknya karena kemiripan isinya. 

Saya sendiri tidak setuju sebutan demikian. Ada hal berbeda di antara keduanya. Kamasutra ditulis satu orang (Vātsyāyana Mallanaga), sedang Assikalaibineng adalah ditulis-bersama, sebagaimana kecenderungan pengetahuan orang-orang Bugis yang mempraktikkan “pengetahuan warga” lewat lontara', yang mengajarkan tahap demi tahap seluruh laku di dalamnya (metode buku ‘how to’). Pendeknya, buku ini disusun dari sejumlah sumber yang saling melengkapi.

“Kayaknya bukunya harus kita pegang ketika di kamar,” seloroh Sirtjo Koolhof. Sirtjo adalah seorang peneliti bahasa Bugis yang ikut dalam proyek penerbitan I La Galigo paruh dasawarsa 1990.

Sejatinya, semua praktik Assikalaibineng yang terangkum dalam buku ini tidak berasal dari satu sumber pengetahuan. Apa yang kita baca bersama dalam kitab ini adalah pengetahuan yang diperoleh dari banyak lontara’ yang tersebar di banyak rumah tangga yang sempat dikumpulkan dalam satu proyek pernaskahan Badan Arsip Nasional Makassar. 


BANYAK pengakuan-pengakuan langsung pembaca yang disampaikan kepada saya tentang naskah ini. Kebanyakan tentang bagaimana ketika pengetahuan-pengetahuan dalam naskah seperti ini diturunkan kepada mereka kala mendekati hari pernikahan. Konon, mereka wajib berpuasa dalam jangka waktu tertentu untuk mendapatkan laku, doa, dan mantra Assikalaibinéng tersebut.

Yang menarik dari mereka juga adalah para pembeli. Mereka ke Kampung Buku dengan banyak jenis kendaraan. Dari mobil sampai naik sepeda ontel. Mobil biasalah ya. Tapi yang naik ontel itu luar biasa. Apalagi kalau di Makassar, itu sesuatu yang besar. 

Pengendaranya, sebut saja, namanya Si Bapak. Lelaki langsing dengan kisaran usia enam puluh tahun lebih itu datang ke Kampung Buku berboncengan dengan sang istri, dengan mengayuh sepeda ontelnya lima kilometer dari rumahnya di sekitaran Jalan Bung, Tamalanrea. Ia datang sore, dengan melintasi jalanan Makassar yang sangar (pengendara lain jarang memperhatikan orang yang berjalan kaki atau bersepeda). 

“Saya datang beli karena anak saya ambil buku saya. Terpaksa saya datang beli lagi,” kata Si Bapak. Istrinya hanya menunggu di luar pagar.

Sambil mengingat lagi riuhnya jalanan di Makassar, saya hanya bisa berdecak kagum dan tak lupa mendoakan Si Bapak dan istri selamat sampai kembali ke rumahnya.

Hal yang terjadi pada pengetahuan Assikalaibineng lantaran di dalamnya dibeberkan pengetahuan seks yang dipraktikkan masyarakat Bugis sejak lama, yang diabadikan dalam teks lontara’ dan tersebar di banyak pelosok Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, kini hadir dalam bentuk buku yang ada di hadapan Anda. Pengetahuan ini menjelma sebagai ‘senjata pamungkas’ kalangan tertentu terkait pengetahuan-pengetahuan spesifik. Bahkan Assikalaibinéng dulunya hanya beredar di kalangan istana. 

Inti dari sekian banyak teks itu mencakup konsep hubungan seks, pengetahuan alat reproduksi, tahap hubungan seks, teknik rangsangan, doa dan mantra seks, gaya persetubuhan, teknik sentuhan sensual pada perempuan, penentuan jenis kelamin anak, pengendalian kehamilan, waktu baik dan buruk dalam berhubungan, tata cara pembersihan tubuh, hingga pengobatan kelamin. Semua menjadi rangkaian laku mewujudkan hubungan seks yang indah dan anggun.


BAGI Ininnawa, sebuah penerbit kecil, bajakan atas terbitan perihal yang lumrah. Apalagi menurut beberapa mahasiswa pasca sarjana yang selama ini tahu kerja Ininnawa, membawa info bahwa buku kerja mesin penyalin itu sebenarnya tidak banyak. “Paling dua tiga eksemplar,” kata Icul, teman saya yang sempat kuliah di UGM.

Assikalaibinéng pun tidak luput dari praktik ini. Karena itulah Ininnawa dan Muhlis Hadrawi lantas sepakat hentikan pencetakan karena soal pembajakan. Namun sambil menunggu reda soal bajakan, selama empat lima tahun, Muhlis juga memberi tambahan beberapa hal berkait dengan topik Assikalaibinéng. 

Tapi payah di kami. Ininnawa dan Kampung Buku jadi sasaran para penagih pembaca. Permintaan mereka datang dalam banyak cara, offline maupun online. Ada yang bertanya dan datang langsung, telepon, apalagi email. Tempat mereka kadang membuat heran. Ada yang di Sulawesi Selatan, Papua, Sumatra, dan negeri jiran macam Singapura dan Malaysia (kalangan keturunan Bugis dan Makassar yang beranak pinak di sana). 


SINGKAT cerita, buku itu kini terbit lagi. Cetakan kelima, edisi revisi. Perubahan itu dikarenan penambahan isi dalam versi Assikalaibineng cetakan pertama hingga keempat. Buku ini juga berisi lontara kutika.

Lontara kutika adalah konsep astrologi masyarakat Bugis yang dianggap sebagai bentuk pengetahuan yang mengaitkan persepsi waktu, seksualitas, kualitas hidup, dan segi kehidupan lain manusia. Catatan masa lampau semacam ini menjadi astrologi lokal yang dipedomani dalam kegiatan masyarakat seperti membangun rumah, penentuan pesta perkawinan, merantau, berdagang, bertemu orang penting, sampai aktivitas pertanian dan kelautan.[]

Cek detail bukunya di Goodreads!

Sabtu, Juni 10, 2017

Si Gadis Kota Menginap di Rumah Tetangga

Di antara teman masa kuliah, Yunike NS adalah salah seorangnya yang jarang bisa saya temui. Lainnya, saya gampang janjian. Waktu mereka tersedia lumayan lowong, terutama sore atau malam. Untuk Nunik, panggilan saya ke dia, wah ... bakal seperti mau minta tanda tangan artis.

Singkat cerita, saya bertemu Nunik pada malam ketiga takziyah mendiang ayahnya, Najamuddin Sultan, kepanjangan inisial yang selama ini ada di belakang namanya. Menjelang pulang, Nunik punya permintaan berat. “Pinjam Isobel semalam,” katanya.

Saya pikir, permintaan itu sepertinya akan menyempurnakan pertemuan Isobel dengan Illi, anak perempuan Nunik, yang pertama dan terakhir tahun 2010 lalu. Dua balita ketika itu bermain seperti biasa waktu itu. Tapi yang lucu bagi kami adalah kemiripan wajah mereka.
Pertemuan Isobel dan Illi tahun 2010.
Di jalan dan di rumah, saya semula tidak percaya. Bukankah Nunik sibuk? Tapi lewat pesan Whatssap yang beruntun, dia yakinkan lagi dengan pertanyaan ‘boleh ‘kan”. Saya tahu persis Nunik bagian ini. Ngototnya tak terperi.

Dalam pikiran saya, ada baiknya kesempatan ini dipakai. Isobel bakal mengalami satu pengalaman baru: menginap di rumah asing. Apalagi bersama si empunya rumah, Illy yang jadi teman bergaul sesama perempuan muda. Sayangnya, Piyo, istri saya, belum rela. Ia enggan melepas perawatan anak ke orang ‘baru’—meski ‘cuma’ semalam.

Rupanya dari percakapan kami, saya jadi tahu bahwa pengalaman Piyo menginap di ‘rumah orang’ memang nihil. Ia besar di Wawondula, permukiman sekitar Sorowako, kota kecil yang menjadi lokasi tambang nikel PT Inco (sekarang PT Vale). Tumbuh di permukiman berkarakter kota (dengan para penghuni yang dipertemukan kewajiban kerja seperti Wawondula dan sekitarnya) tampak kecil mungkinnya Piyo (untuk tidak mengatakan: nihil) untuk mencicipi pengalaman seperti kami.

Berbeda dengan saya dan Nunik, kami besar di kampung. Saya di Rappang, Nunik (rasanya) di Polmas. Menginap di “rumah orang lain” adalah satu hal yang sudah biasa. Nunik mengaku masa kecilnya sering bersama saudara sepupunya menginap. Saya kurang atau lebih juga begitu. Besar di kampung belum ada rasa khawatir tentang “rumah orang lain”. Iler saya pernah menjajal seprai dan bantal tetangga kiri kanan depan belakang. Begitu juga tetangga dan sepantaran masa kanak dan remaja pernah tidur di rumah saya.

Saya pun yakinkan Piyo kalau Nunik dan saya bukan kenal baru kemarin. Saya dan Nunik seangkatan kuliah. Kami satu ‘letting’ hampir empat puluhan orang saja. Sejak mahasiswa baru sampai ada tulisan ini kami masih sering bertemu (tentu tidak lengkap). Bahkan waktu di kampus, angkatan kami terlalu mencolok karena selalu berombongan (hal yang pernah ditanyakan beberapa junior angkatan tentang tabiat ini dan dari Piyo sendiri). Di masa-masa paceklik yang mengharuskan kami menginap di kampus (demi menanggung lapar berjamaah karena kiriman tersendat), Nunik bisa tiba-tiba jadi dewi penolong. Bermodal telepon koin, kami mengebel rumahnya untuk cari kemungkinan apa bisa membawa serantang nasi dan lauk dari rumahnya di BTN Hamzy ke Kampus Unhas. Dan modal keping seratus bergambar rumah gadang itu kami nyaris tidak pernah gagal membawa bekal dari sana. Yang tidak mungkin saya lupakan sepanjang hayat adalah pengalaman tahun ketiga mahasiswa ketika Nunik memaksa Kak Mus, kini suaminya, untuk mengurung saya agar istirahat seminggu usai mereka ‘seret’ ke dokter karena  dihajar tipes.

“Di kota, tetangga kita mungkin bukan rumah yang ada di samping. Tetangga kita adalah teman-teman dekat seperti Nunik,” kata saya.

Piyo yakin pada akhirnya.

Beda dengan Piyo yang pelan-pelan baru mantap, Isobel justru meloncat begitu ditawari “menginap di rumah Kakak Illi” sepulang takziyah. Segera ia siapkan semuanya (padahal belum pasti dibolehkan). Tas diisi mainan dan beberapa lembar pakaian. Respons seperti itu selalu Isobel muncul kalau mendapat tawaran pengalaman dan perjalanan baru, seperti kalau mengajaknya ke kampung.

Nunik datang menjemput Isobel dua hari kemudian. Begitu naik di mobil, Isobel mengolok ibunya, yang masih berat melepas penuh gadis delapan tahun itu menginap di “rumah orang lain”. Kiriman pesan beruntun dari Nunik yang kemudian makin membuat Piyo yakin bahwa segalanya berjalan baik-baik saja.

Isobel dan Illi tiba di Hamzy. Kedua gadis kecil ini membahas baiknya menginap di mana: Hamzy atau Sudiang. Mereka lalu putuskan di Sudiang. Mereka main perang bantal di sana, sebelum minta matikan lampu jam 11.00 malam untuk siap-siap bangun sahur. 
(Foto-foto: Yunike NS)
Isobel, kata Nunik, terbangun jam 3 untuk sahur (tahun ini ia mulai puasa penuh). Mungkin karena tempat baru. Keesokannya mereka menggambar di kamar, lalu berangkat ke taman bermain di mal.

Saya tidak tahu pasti apa guna acara ‘nginap’ begitu. Untuk anak yang tumbuh di kota kayak Isobel (dan mungkin juga bagi Illy), pengalaman ala kampung macam itu bisa jadi cara mempelajari suasana lain, belajar jadi tamu, bagaimana bertoleransi, bergaul dengan sepantar, atau mengalami tentang “teman-teman dekat adalah tetangga”.

Bagi Nunik, ia akui sedang belajar seperti bagaimana ia menaklukkan hati Illy yang sempat ngambek karena sang ibu berbagi perhatian pada anak lain. Saya menduga-duga, sedikit banyak, kesibukan Nunik berkantor mungkin mengurangi intensitasnya bersama Illi. Semoga tidak.

Bagi saya dan Piyo, saling percaya memang harus dipelajari dan diasah. Berkali-kali. Bahkan terus-menerus. Barangkali.[]

Senin, Juni 05, 2017

Geliat Ekonomi Kerakyatan di Paotere

Mengapa Makassar (Masih) Penting bagi Indonesia Mutakhir?

KETIKA Presiden Joko Widodo mencetuskan “... Memperkuat jati diri sebagai negara maritim” dalam sembilan program pokok pemerintahannya, Kota Makassar seperti mendapat angin segar lagi. Kota berwilayah 70 persen berupa laut (995 km2) seperti tinggal menunggu momentum formal ini. 

Dengan letak geografi sebagai penghubung Indonesia Barat dan Timur, industri perikanan Makassar sejak lama menjadi pemasok penting Nusantara. Kota ini pun menghidupkan dunia pelayaran nasional dan pelayaran rakyat sedang dan kecil sebagai titik utama bongkar muat barang dan manusia. Keduanya menyatu dalam satu poros hidup: Paotere.

Inilah daerah yang meliputi dua titik utama, Pelabuhan Rakyat Paotere dan Pusat Pendaratan Ikan (PPI) Paotere. Dua tempat berdampingan ini terletak di Jalan Barukang, Kecamatan Ujung Tanah, bagian utara Makassar, 6 kilometer di barat muara Sungai Tallo.

Pada awal dasawarsa 1990, Paotere memperkuat kapasitasnya. Wisata Bahari Makassar (2006) menyebut, sejak tahun 1982 kolam pelabuhan dilindungi pemecah gelombang sepanjang 400 meter; kolam 4,56 hektar berkedalaman antara 1-6 meter dengan dermaga sepanjang 820 meter. Kolam ini bisa menampung 200 perahu, dan terdapat 400-500 buah kapal dari 40 perusahaan pelayaran yang secara berkesinambungan menggunakan fasilitas ini.

Sampai kemudian di bandar ini berkumpul perahu-perahu tradisional seperti kapal kargo lambo dan pinisi atau perahu-perahu penumpang antar pulau seperti jolloro atau katinting (Lihat Tabel 1). 

Tabel 1 Jumlah kapal yang berlabuh di Pelabuhan Paotere 2007-2016.

Kapal dan perahu ini berperan utama dalam lalu lintas barang dan manusia dari dan menuju Makassar. Paotere seluas 10 ha ini menjadi terminal bagi masyarakat di kepulauan sekitar Makassar, seperti Pangkep, Maros, Takalar, dan pulau-pulau yang ada di Selat Makassar.

Menurut Kepala Pelindo 4 Unit Paotere, Amirullah, mereka biasanya bawa ikan, lalu pulang membawa barang kebutuhan masyarakat di pulau-pulau. “Ini bisa kita sebut ‘pelayaran semut’, lubang-lubang sekecil (baca: pelosok) bagaimana pun mereka masuki,” kata Amirullah. 

Selain kawasan sekitaran Makassar, kapal-kapal kayu yang berasal dari Paotere menuju ke daerah di Indonesia Timur seperti Samarinda dan Balikpapan (Kalimantan Timur), Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Palu, Toli-Toli, sampai Manokwari (Papua).

“Kapal-kapal dari pelabuhan rakyat seperti ini sejak lama seperti tol laut karena berlayar lurus-lurus, mereka tidak pernah mengambil rute menghindari kedangkalan. Berbeda dengan kapal modern yang harus memutar sebab mempertimbangkan kedalaman,” terang Amirullah, tersenyum.

Selain itu, aktivitas bongkar muat di Paotere menunjukkan bahwa ia juga menjadi pintu pemasok kepulauan sekitar dan wilayah Indonesia Timur, dengan membandingkan antara barang yang diturunkan (Bongkar) ke dan yang dinaikkan (Muat) dari Makassar (lihat Tabel 2).
Tabel 2 Jumlah Aktivitas Bongkar Muat di Pelabuhan Rakyat Paotere, Makassar, 2007-2016 (dalam Ton/M3/Ekor)

SELAIN pelabuhan, suplai ikan yang dipasok oleh Makassar ditopang lima pelelangan, yakni Pusat Pendaratan Ikan (PPI) Paotere, TPI Rajawali, TPI Barombong, Daya, dan Langgau. Sekurangnya 70 – 100 ton ikan berdatangan ke sana setiap hari, baik pasokan dari kabupaten maupun hasil tangkapan nelayan Makassar yang berjumlah 14.375 jiwa. 

Tonase itu kemungkinan besar segera bertambah lantaran Pemerintah RI merampungkan dan meresmikan Pelabuhan Untia pada 2016, bandar terbesar kedua di Indonesia yang mampu menampung 500 kapal per hari. 

Menurut Kadis Perikanan dan Pertanian Makassar, DR. Abdul Rahman Bando, sebagai pemasok ikan, Makassar menyediakan dua gudang pendingin di Paotere (kapasitas 100 ton) dan Untia (40 ton). 

PPI adalah satu dari sedikit titik di Makassar yang tidak pernah tidur. Aktivitas bongkar muat PPI mulai pagi sampai pagi berikutnya dan seterusnya. Perahu yang mendaratkan ikan tangkapan akan dijemput oleh banyak tangan. Dari perahu menuju punggawa, lalu ke pagandeng (pengayuh sepeda atau pengendara motor) yang menyebar dan berkeliling ke pelosok kota yang menjual ikan sampai ke kompleks perumahan dan disalurkan ke rumah-rumah makan sebesar 35-40 ton; atau dijemput mobil-mobil pengangkut dari daerah lain, atau sebagian lagi diboyong ke kawasan KIMA untuk dipilih oleh pengirim ke daerah lain di Indonesia (pertengahan Maret 2107, nelayan binaan Dinas Perikanan mengirim 20 ton ikan ke Jakarta) atau diekspor ke Singapura, Timur Tengah, atau Eropa. Kesibukan di sana baru cenderung surut begitu matahari meninggi.

Tabel 3
Perikanan Tangkap Makassar Tahun 2014 (Tidak Termasuk Perikanan Air Tawar)

NAMUN potensi perekonomian itu kelak sia-sia tanpa kebijakan pemerintah yang memadai. Kepala Pelindo 4 Unit Paotere, Amirullah, daya jelajah kapal-kapal kayu itu jelas memerlukan perlindungan. Ia melihat bahwa nilai strategis ‘pelayaran semut’ ini menjadi jembatan penghubung pulau satu dengan pulau lain. Untuk itulah dibutuhkan regulasi terkait perlindungan bagi pembuatan kapal kayu.

Sudah jamak bila ada kapal kayu karam, belum tentu segera terganti kapal kayu lain. Itu belum lagi bila mempertimbangkan soal bahan baku. 

“Dengan memberi aturan khusus yang berkaitan dengan pembuatan kapal kayu, juga pertimbangan kelangkaan bahan baku, maka pemerintah perlu berpikir regulasi soal ini,” terangnya.

Pekerjaan rumah lain bagi Paotere adalah lalu lintas. Tiga tahunan bertugas di Paotere, kata Amirullah, kapal kayu begitu banyak. Sayangnya, belum terorganisir baik. 

“Dalam 1 x 24 jam, kapal besi sudah melapor sebelum sandar. Tapi kapal kayu justru sudah sandar 1 x 24 jam, belum meminta PPKB (Permohonan Pelayanan Kapal dan Barang) juga,” katanya, terbahak.

Dari perikanan, nilai produksi perikanan kawasan Selat Makassar terancam turun. Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti menyebut nelayan Sulawesi Selatan dikenal sebagai ‘penjahat laut’ karena biasa menggunakan peledak kala menangkap ikan yang menyebabkan sekisar 80 persen terumbu karang di Sulsel rusak.

Abdul Rahman Bandu dalam penelitiannya di Kepulauan Spermonde menyebut, keterbatasan alat tangkap sebagai satu sebab. 

“Nilai modal seperti BBM dan kebutuhan selama melaut tidak bisa seimbang dengan nilai tangkapan (produksi). Wajar kalau mereka pakai bom. Itu ditambah untuk membeli alat tangkap lebih besar yang tersedia nyatanya mahal karena rata-rata barang impor. Karena itulah ada ketergantungan pada pemodal yang membuat mereka berutang tanpa henti,” ungkapnya.

Bagi Abdul Rahman, kebijakan pemerintah baiknya tidak berhitung untung rugi jangka pendek bagi masyarakat pesisir atau kepulauan. Mereka perlu dikuatkan dengan pembangunan fasilitas seperti gedung sekolah tanpa menghitung rasio murid, telekomunikasi, pengisian bahan bakar dan oksigen, fasilitas pengolah air bersih, dll.

Paotere dengan daya tampung, daya serap, dan daya jelajah distribusinya membuktikan bahwa titik ini amat penting bagi Indonesia mutakhir. Selayaknya, Nawa Cita Presiden Jokowi menjelma sebagai momentum formal yang berpihak dan melindungi geliat ekonomi kerakyatan kawasan Paotere dan sekitarnya.

Saatnya bangsa ini melihat peluang bukan dalam alur logika ekonomi. Menopang kehidupan nelayan menjadi langkah penguatan daya yang menggeliatkan dunia maritim Indonesia, hamparan yang mendominasi negeri kita. Bila pun memasukkannya dalam nalar ini, ia patut menjadi rangkaian sirkuit investasi, sebentuk pengembangan masa depan. Jalan leluasa menuju masa mendatang yang matang bagi Indonesia.[]

(Terbit di Esquire Indonesia, Mei 2017)

Jumat, Februari 17, 2017

C. Campbell Macknight aka Mappasabbi Daeng Makkita

C. Campbell Macknight berjarak sekisar empat puluh tahun.

Posturnya menjulang. Kalau saya bandingkan dengan segelintir Indonesianis yang pernah datang ke Kampung Buku bertamu atau sekadar singgah mencari bahan penelitian, mungkin Charles Campbell Macknight yang tertinggi. Saya yang cuma 170 senti, ujung rambut saya mentok di ujung bawah telinganya.

Saya menyapanya Pak Campbell. Nama itu sudah akrab duluan di benak saya sebelum bertemu langsung. Itu karena namanya sama dengan nama 'tembok' belakang bek Arsenal yang tinggi nan lebar, Sol Campbell.

Saya dan Pak Campbell habiskan siang hingga menuju magrib di perpustakaan Kampung Buku, Makassar, pertengahan Januari 2016. Kami obrolkan beberapa hal, dari perihal bahasa Bugis dan lontara’ sampai cerita tentang kedatangannya pertama kali ke Indonesia.

Pak Campbell datang pertama kali ke Indonesia pada 6 Maret 1966. Tiba di ibukota, ia disambut gelombang demonstrasi di sekitaran Bundaran HI. Ia lupa nama jalan tempatnya menginap—maklum lima puluh tahun lalu. Tapi di situ ia lebih aman. Seperti kita tahu dari rekaman sejarah, masa paruh akhir dekade 1960-an itu merupakan masa golak sekisaran pemerintahan Soekarno ke Soeharto.

Ia baru ke Makassar tahun 1969, tiga tahun sejak tiba pertama di Indonesia. Tahun itu, seseorang di Sinjai memberinya nama Bugis “Mappasabbi Daeng Makkita”, kurang lebih berarti ‘penyaksi yang memberi petunjuk‘.

Ia datangi kawasan Leang-Leang. Perbedaan empat dasawarsa jelas ada. Terbitan berkala Rima (volume 39, 2015) yang dibawanya bergambar foto pinggir jalanan yang belum beraspal di Leang-Leang masih dirimbuni pohon. Tanjung Bunga, kata dia, empat puluh tahun lalu itu tidak ada. Saya tertawa mendengar ia menyebut ‘Tanjung Bunga’.

Apakah itu semacam humor gelap (black comedy) yang diselipkan pria yang tampak bugar di usia tujuh puluhan ini? Tanjung Bunga adalah kawasan baru di Makassar yang dikembangkan PT Gowa Makassar Tourism Development Tbk. Awal pengembangannya menuai protes dari banyak kalangan ketika pertama kali dicanangkan pembangunannya pada 1995.

“Saya ingat ketika melakukan perjalanan di sejumlah kawasan terpencil pada 1972, sebagai seorang bule yang sedang meneliti, saya disambut dan dianggap sebagai 'Prancis'. Itu berarti Pelras pernah ke sana sebelumnya,” katanya dalam https://saintjimpe.blogspot.co.id/2015/03/christian-honore-louis-pelras-17.html.

Pak Campbell mulai saya akrabi ketika memulai proyek penerjemahan The Voyage to Marege’ tahun 2006 atau awal 2007. Saya dan Nurhady Sirimorok kemudian mengirim surat ke dia untuk meminta izin penerjemahan yang diiyakannya langsung. 

Sejak itu, nyaris satu dasawarsa hubungan kami seperti berpacaran jarak jauh. Sekali waktu, sekisar 2009 atau 2010, ia datang ke Kampung Buku. Ia memborong buku terutama buku yang ditulis oleh akademikus di Makassar, seperti Assikalaibineng: Kitab Persetubuhan Bugis (Muhlis Hadrawi). Saya sendiri tak sempat bertemu ketika itu karena sedang di luar kota. Hanya teman-teman saya menyambutnya di halaman Kampung Buku.

Sekisar setahun setelahnya, profesor ini datang. Saya menyambutnya dengan kopi Toraja dan madu dari kawasan Tompobulu, lereng Gunung Bulusaraung, Pangkep. Senang juga melihatnya menyesap beberapa sendok madu itu.

Setelahnya, ia layangkan permohonan maaf karena terus berusaha mengurus perizinan dan memeriksa hasil terjemahan yang masih bolong. Ia juga ungkapkan rasa bersalahnya karena kesibukannya di lapangan tak bisa ia redakan.

Pada akhir 2015 atau awal 2016, Pak Campbell memberitahu bahwa akan datang segera ke Makassar dan membawa berkas foto-foto buku Voyage to Marege’. “Saya sudah dapat izin,” katanya di email.

Bukan cuma dia yang gembira. Saya pun pasti bilang iya. Simpul sudah lepas. Tertundanya proses penerbitan Voyage to Marege’ yang menunggu sepuluhan tahun akhirnya bisa diteruskan.

Awalnya, sepuluhan tahun waktu berjalan saya lupakan sebentar. Tapi begitu memasuki awal tahun 2017, waktu yang saya janjikan untuk naik cetak, saya hitung ulang. Memang benar, buku ini butuh sepuluh tahun untuk diterbitkan.

Saya lantas ingat beberapa hal bahwa Macknight sempat mendapat email ‘lamaran’ dari penerbit lain perihal kemungkinan diterjemahkan karya ini. Dengan meneruskan email jawabannya ke saya, saya jadi tahu bahwa ia menolaknya dengan alasan naskah terjemahan Penerbit Ininnawa sudah di tangannya—meski kami belum berdaya terhalang izin foto.

Soal foto-foto buku, ingatan saya menjalar ke Pakkuru Sumange’: Musik, Tari, dan Politik Kebudayaan Sulawesi Selatan (Ininnawa, 2013) karya Anderson Sutton. Ketika mendekati pencetakan, berkas-berkas foto Pak Sutton entah di mana. Jarak antara penerbitan buku edisi Inggris dan Indonesia cukup jauh. Jadi Pak Sutton lupa tempat menyimpannya. Itu ditambah rumahnya yang 'berantakan'. Di saat bersamaan, Pak Sutton bersiap pindah tugas jadi dekan di Hawai’i University, universitas yang jaraknya jauh dari tempatnya semula di Wisconsin (5000-an mil). Akhirnya foto-foto buku asli terpaksa kami harus reproduksi saja dengan semaksimal mungkin.

Ketika di halaman Kampung Buku, Pak Campbell jelaskan kalau ia datang ke Makassar pada Januari 2016 untuk hadir di sebuah konferensi arkeologi. Ia mengaku sengaja datang seminggu lebih cepat. “Untuk bertemu dengan teman-teman saya,” jelasnya dibarengi senyum lebar, “dan membawa foto-foto The Voyage.”

Saya amati, selama beberapa jam Pak Campbell di perpustakaan Kampung Buku tak pernah tampak gelisah. Ia kelihatan nyaman duduk di kursi kayu dan tak pernah meninggalkan tempat. Seporsi pisang ijo dan kopi tanpa gula ia habiskan. 

Diceritakannya juga tentang putranya yang baru saja menikahi seorang perempuan Tunisia. “Saya ingin sekali cucu,” kata Campbell. Ia katakan itu seraya mengacungkan kepalan tangannya. Kami tertawa keras waktu itu.

Tapi saya yakin ia jujur tentang itu. Meski kali ini, saya melihat Pak Macknight tertawa atau tersenyum lebar seakan tanpa beban. Persis yang saya lihat dari semua fotonya.

Usai azan magrib, lelaki itu pulang dengan langkah tegap, serta tas punggungnya. Itu langsung mengingat saya pada harfiah nama Inggris dan Bugisnya, yang bergerak ke kiri dan ke kanan bagai keriangan lonceng di permukiman, sekaligus sebagai pengingat bagi kita untuk membaca temuan-temuannya yang memberi saksi tentang sejarah para pencari teripang dari Makassar dalam bukunya yang terkenal, The Voyage to Marege’.[] 

Kamis, Februari 16, 2017

The Voyage to Marege': Pencari Teripang dari Makassar di Australia Utara


THE VOYAGE TO MAREGE’ Pencari Teripang dari Makassar di Australia Utara | © C. C. Macknight 1976, diterjemahkan dari C. C Macknight, Voyage to Marege’: Maccassan trepangers in northern Australia (Melbourne University Press, 1976) | Penerjemah: Anwar Jimpe Rachman, Ihsan Natsir | 
Penyunting: Abdul Rahman Abu
 | Cetakan Pertama, Februari 2017 | ISBN: 978-602-71651-9-9 | xii, 301 hlm 15 x 21 cm

The Voyage to Marege’ menyediakan kita sebuah pintu baru terkait sejarah orang-orang Australia. Hampir seabad sebelum Kapten Cook melayari pantai timur laut Australia, pelaut dari Asia rutin mendatangi Marege’, sebutan mereka pada kawasan ini, dan bahkan merintis industri di sana. Para laki-laki dari Makassar itu menempuh pelayaran panjang dan berbahaya demi mengumpulkan dan mengawetkan teripang yang dihargai mahal oleh penduduk Tiongkok.

Kajian C. C. Macknight ini menjadi klasik, bertahan hingga 40 tahun, sejak diterbitkan pertama dalam bahasa Inggris 1976 silam hingga diindonesiakan dan terbit pada 2017. Penyigian panjang Macknight ini menjadi salah satu sumber utama studi terkait sejarah Nusantara, terutama industri dan dunia perdagangan maritim abad ke-17 di Indonesia.

Sudah jelas bahwa karya Macknight berkontribusi sangat besar bagi pembaca umum dan para pengkaji dunia maritim dan sejarah perdagangan. Dengan kejelian mata tinjauan dari ragam disiplin ilmu dan mengandalkan bahan melimpah--mulai dari dokumen yang kaya (bukti administratif sampai sketsa/lukis/ gambar), temuan arkeologis, catatan etnografis, dan wawancara dengan orang-orang sepuh, yang pada masa mudanya melakoni pelayaran tersebut--Macknight membentangkan pada kita sebuah cakrawala baru yang indah tentang cerita tentang pelayaran-pelayaran epik ini.

Dilengkapi gambar, sketsa, dan foto-foto bersejarah, narasi-narasi lengkap dan berwarna yang disusun, Macknight menjadikan The Voyage to Marege’ menjelma sebagai hadiah yang menggembirakan pembacanya.

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP