Jumat, Agustus 19, 2016

Bom Benang: Catatan Kuratorial


KEKERASAN yang dialami kalangan anak, remaja, perempuan, dan antar komunitas memicu meningkatnya aksi kejahatan dan angka korban kekerasan. Menurut data Komisi Anti Kekerasan Terhadap Perempuan,[1] angka kasus kekerasan terhadap perempuan yang ditangani oleh pengadilan agama semakin meningkat dari tercatat 14.020 (2014) menjadi 293.220 (2015). Ini belum termasuk kasus yang tidak dilaporkan lantaran banyak sebab, seperti keengganan akibat tekanan stigma yang berpeluang mengerdilkan mental korban.
Berdasarkan penelusuran data dan wawancara langsung korban dan pelaku kekerasan, dapat ditarik kesimpulan bahwa cara berkomunikasi dalam keluarga menjadi salah satu pemicu. Model komunikasi ‘satu arah’ menjadi salah satu hal yang menyebabkan persoalan ini.
Ini mengakibatkan kekerasan yang berdampak munculnya anggapan anggota keluarga bahwa rumah atau keluarga tidak menjadi tempat yang aman dan nyaman. Sejatinya, lingkungan keluarga menjadi fondasi dan tempat para anggotanya untuk mengekplorasi diri dan berekspresi secara sehat.

POSISI BERKOMUNIKASI itu juga menjadi titik yang disadari Komunitas Quiqui selama ini dalam berkarya. Empat kali dalam ajang Bom Benang, mereka menjadi seniman, kalangan yang ‘dilayani’, meski dengan sengaja mengajak warga (dalam skala kecil) untuk berperanserta dalam ajang ini. Kini, dalam Bom Benang 2016, mereka berubah peran. Quiqui menjadi penghubung antara karya dan warga. Mereka melepaskan diri dari atribut ‘seniman’.
Ini kemudian menjadi landasan utama Quiqui untuk ajang tahunan “Bom Benang” yang kini memasuki tahun kelima. Mereka menantang diri mengubah posisi seniman dan orang sekitar—yang biasa hanya sebagai penonton atau warga yang berpartisipasi. Mereka mengajak sekelompok warga menjadi kreator karya.
Tahun ini, Quiqui mengangkat tema “Benang Kandung” (Yarn-Womb) yang berlangsung pada Mei - September 2016. “Benang Kandung” sejatinya adalah judul yang memplesetkan istilah kekerabatan seperti “anak kandung”, sebagai cara menunjukkan bahwa orang-orang bisa saling terhubung dalam ikatan yang karib, menggunakan medium benang, sebagaimana layaknya hubungan antara ibu dan anak.
Quiqui memilih tema ini dari endapan pengalaman sekaligus konsentrasi mereka terkait isu kekerasan dan keluarga. Mereka mencari 5 (lima) lokasi dan memfasilitasi terbentuknya kelompok warga melalui rangkaian lokakarya hingga kelompok tersebut siap berpameran.
Pemilihan lokasi-lokasi ini tidak dilakukan acak. Didampingi tim dokumentasi dan tim peneliti/penulis, mereka mencari lokasi di perkampungan kota yang padat penghuni, yang dalam berdasarkan penelitian, lokasi yang dianggap rawan terhadap tindak kekerasan dalam keluarga.

DI TENGAH waktu yang pendek, mereka menemukan mitra kerja di lima komunitas, yakni (1) Jalan Sukaria 13 B, Kelurahan Tamamaung, Panakkukang; (2) Jalan Barukang III, Kelurahan Pattingaloang, Kecamatan Ujung Tanah; Lorong Mawar, Jalan Toa Daeng 3, Kecamatan Manggala; (4) Jalan Rajawali, Kawasan Mariso Baru; dan (5) Jalan Barukang IV, Kelurahan Pattingaloang, Ujung Tanah.
Kelima kawasan berpenghuni padat ini adalah bukti tentang narasi pengumbar kata ‘pembangunan’. Istilah ini menjadi rancu di Indonesia lantaran mengandung kata ‘bangun’ (to build, bukan to develop atau ‘tumbuh lebih matang’) atau ‘hard-infrastructure’, usaha dan upaya mengadakan sesuatu dari tidak ada.
Tampaknya, inilah salah satu sebab mengapa warga masih menjadi penonton pembangunan. Beginilah jalan pikir ala Orde Baru melihat negara (desa dan kota) ini dalam logika “pemulihan dari kefakiran”, dengan tanpa henti menggelontorkan program bantuan dan meng-ada-kan yang belum ada, perihal yang terjadi pula di Kota Makassar. Jalan berpikir semacam ini terus bertahan, bahkan setelah Orde Baru tumbang.
Memang, tak ada yang lebih berbahaya dari pada warisan cara berpikir. Hal ini kian menihilkan pembangunan ‘soft infrastructure’, tentang upaya membangun inisiatif, keberdayaan, dan kesadaran warga.
Tak ada cara lain: warga harus menolong diri mereka sendiri.[]

Sabtu, Juli 09, 2016

Mendayung di Antara Dua Generasi

BARU sekali itu Kiran menolak tawaran saya. Beberapa kali, sambil menjemput Isobel, anak saya, bocah lima tahun ini biasanya menurut dan mau naik sadel motor saya lalu memboncengnya pulang. “Adek Bro”, begitu saya biasa memanggil anak ini, hari itu menggeleng tegas. Dua hari kemudian saya tahu sebabnya.

Adek Bro ketakutan rupanya. Dia ogah bergaul dengan orang dewasa. Jangankan menerima tawaran hantaran dari saya, guru-guru di TK tempatnya bersekolah pun enggan lagi dia salami. Begitu waktu pulang tiba, ia menunggu sebentar ibunya datang menjemput dan langsung memeluknya, tanpa mencium tangan guru-guru di TK. Beberapa pria dewasa yang biasa ditemani Adek Bro main di rumahnya, juga mulai gagal mengajaknya bermain.

Kata orangtua Kiran, perubahan sikap Kiran terjadi drastis setelah telinga Kiran dijewer guru les. Ibunya melihat langsung kejadian itu di ruang tamunya. Les dihentikan hari itu juga. “Padahal waktu Riran (kakak Kiran) baik-baik ji,” kata Yayu, ibu Kiran.

Kiran sejak pertengahan tahun 2015 jadi teman sekolah Isobel. Sebelum bersekolah di TK yang sama, mereka biasa main bersama di rumah Kiran, yang disulap menjadi kafe bernama Kedai Pojok Adhyaksa, tempat saya kerap menyeruput kopi. Makin sering lagi saya di situ menunggu waktu menjemput Isobel karena jarak rumah Kiran seratusan meter saja dari sekolah.

Berselang berapa hari saja setelah saya mendengar kabar Kiran, Isobel berencana berhenti sekolah. Ini sama sekali bukan soal solidaritas-para-bocah. Isobel memang sudah malas-malasan sejak tiga bulan sebelumnya. “Ada anak nakal di sekolah suka memukul,” katanya, “mau sekolah sama Mami saja. Home schooling!” Dia memang sering beberapa kali dengar istilah ini dalam obrolan kami.

Keputusan Isobel ingin berhenti sekolah didahului dengan membujuk ibunya selama seminggu.

“Mami mau dipanggil apa? Bunda atau Bu Guru atau apa?” 

“Panggil ‘Mami’ saja seperti biasa.”

“Wah, tidak enak didengar kalau (lagi) sekolah panggilnya Mami.”

“Panggil Cikgu Mami saja!”

“Kursinya di mana?” 

“Itu kursi dan meja makan. Kita singkirkan makanannya terus kita belajar di situ.” 

Isobel tertawa senang.

Tapi beberapa waktu saja rencana ini berjalan. Isobel akhirnya ke sekolah lagi. Kami membujuknya karena mengingatkan kalau masih ada “teman-temannya yang baik”, ditambah ia harus mengambil rapornya di semester pertengahan yang sudah sangat dekat. 

Isobel selalu menyebut dua nama murid laki-laki nakal di sekolah. Sebut saja Si Pe dan Si Ge. Dua anak ini punya tingkah berbeda tingkat. Si Pe yang paling sering mengganggu Isobel. Alasannya, “Dia cantik,” kata Si Pe di satu waktu—setelah ‘diinterogasi’ oleh seorang guru. Si Pe juga berstatus siswa TK dengan durasi di sekolah cukup panjang. Selesai belajar di TK, ia ganti baju, dan melanjutkan masa penitipannya di tempat penitipan anak yang gedungnya menyatu dengan TK. Sedang Si Ge lebih berlagak “jagoan sekolah”. Mungkin karena orangtua Si Ge berkantor di kompleks tempat TK Ceria berdiri, begitu kata cerita yang beredar. 

Sebenarnya sejak minggu pertama Isobel menemui kenyataan-kenyataan “luar-rumah” seperti itu. Tapi kelihatannya itu bisa ditoleransi oleh Isobel sebab eforia mendapat teman baru, meski tetap mengadukan ulah beberapa temannya. Ini berbeda perlakuan kami padanya di “dalam-rumah”, yang dengan usaha sangat keras, kami tidak melakukan atau menunjukkan hal-hal yang berkaitan dengan kekerasan.

Saya sebagai orangtuanya tentu cemas juga. Sampai di satu kesempatan menjemput, Isobel memaksa saya untuk bicara pada seorang teman sekolahnya. Bahkan Isobel memanggil temannya itu meski saya belum menyuruhnya. Saya lupa nama anak perempuan itu. Jelasnya, saya sempat berbincang sebentar. Ia tak sungkan pada saya. Gadis cilik itu bercerita bahwa orangtuanya bekerja. Ia dijemput sore, setelah menghabiskan waktu bermainnya di TPA di gedung yang sama dengan TK. Saya menasihatinya agar tidak kasar pada teman-temannya, termasuk Isobel. “Anak yang suka memukul akan main sendirian. Tidak ada yang mau berteman,” kata saya menasihati. 

***

Apakah masing-masing pengalaman dua anak yang kerap bermain bersama ini kebetulan belaka? Saya seyakin-yakinnya bilang: tidak. Teman saya, Ammang, pun mengkhawatirkan nasib pendidikan anak mereka. Ammang malah sudah “merumahkan” anaknya. Anak keduanya, Faris, pernah pulang sendiri dari sekolah. Menurut pekerja media ini, mungkin ketika itu Faris lupa bawa alat renang. Karena takut kena marah guru, dia pulang ke rumah sendirian. Untungnya, klinik tempat ibunya bekerja cukup dekat. Salah seorang petugas di sana mengenali bocah ini kala berjalan sendiri.

Kesamaan pengalaman saya dengan anak teman itu sepertinya menunjukkan pola pendidikan yang masih sama di sekitar kita. Ini justru berbeda dengan proyeksi saya sebagai orangtua bahwa pendidikan harus membebaskan peserta didiknya dari pola yang lama. Harapan kita tentang pendidikan anak mungkin banyak bertumpu pada ketakutan-ketakutan. Kenangan buruk seperti jagoan sekolah, “takut kena marah”, atau hukuman guru yang menanti, sebagaimana anak teman saya itu, kemudian teringat lagi. 

Wajar saja kalau Isobel selalu terbahak-bahak bila menceritakan bagaimana Si Pe “berak di celana”, meski itu ia dituturkan berkali-kali. Mungkin ia heran kalau anak seusianya bisa begitu—dengan membandingkan dirinya yang sejak usia tiga tahun sudah diajari keterampilan hidup seperti buang hajat dan bebersih sendiri. (Saya ada hari itu dan menyaksikan pakaian ibu gurunya basah karena, katanya, harus mandikan ulang Si Pe, yang kemudian bermain dengan baju singlet saja.) Bisa juga tawa Isobel itu semacam “ruang balas dendam”-nya atas perlakuan Si Pe selama di sekolah.

Belakangan pun Si Ge berubah. Itu juga setelah istri saya mengirim SMS ke guru agar menegur keras kelakuan dua anak laki-laki itu. Pesan elektronik itu sebenarnya balasan undangan pengambilan rapor Isobel dari sekolah. Dari rumah kami sepakat untuk bincangkan lebih serius bagaimana guru bersikap pada anak-anak. Sekalian menyampaikan apa yang kami pikirkan tentang pendidikan anak. 

Saya dan istri mengantar Isobel ke sekolah. Kami berencana bertemu wali kelasnya. Kami mengobrolkan banyak hal dengan gurunya. Di zaman kami bersekolah, guru dan pihak sekolah nyaris seperti dewa. Pola belajar-mengajar yang diterapkan di sekolah tidak terganggu gugat. Tapi sekolah sekarang beda masa. Kami ‘menitip’ Isobel di sana untuk belajar memanusiakan—bukan mengejar harapan-harapan orangtua kebanyakan atau sekadar menitipkannya. Kami usulkan kemudian bahwa Isobel pindah kelas agar peluang bertemu dengan dua anak usil itu bisa dikurangi. Dengan terpaksa, Isobel meninggalkan wali kelasnya yang, saya kira, ia sangat sukai. 

Dalam obrolan setengah jam itu, kami juga membicarakan pola pendidikan yang kami percayai bisa menumbuhkan anak lebih sehat dengan memberi porsi bermain jauh lebih banyak. Sehingga kewajiban-kewajiban “anak harus bisa membaca setamat TK” bukanlah sesuatu yang harus dikejar oleh orangtua. Kami percaya bahwa anak akan mempelajari sendiri apa yang mereka butuhkan. Isobel lalu membuktikannya dengan belajar dan bisa membaca sendiri ketika di rumah.
Isobel belajar membaca sendiri di rumah. (Foto: Anwar Jimpe Rachman)
Wali kelasnya setuju dengan apa yang kami yakini. Bahkan sistem yang kami obrolkan hari itu sebenarnya sejalan dengan pola yang berupaya diterapkan di sekolah itu. Sayangnya adalah, kata Wali Kelas, orangtua meminta anak mereka, misalnya, sudah bisa membaca sekeluar dari sekolah itu. Ia dan rekan pengajarnya jelas berusaha juga penuhi permintaan itu. Tidak mengherankan kalau ada sesi les yang diberikan oleh guru di sana untuk anak-anak. 

Apa daya, jalan lain yang kami angankan, kalah dari yang orang tua lainnya inginkan. 

Namun bukan berarti peluang bagi harapan kami benar-benar dinihilkan. Kami hanya berusaha bernegosiasi dengan cara apa pun terhadap sekolah. Salah satunya adalah soal musik pengiring senam mereka tiap Jumat. Protes kami tentang musik dangdut yang dipakai sebagai pengiring diteruskan Isobel langsung ke gurunya. Ia memang cukup asertif untuk itu. Syukurlah, minggu berikut, lagunya sudah berubah jadi lagu kanak-kanak.

Kami terima rapor Isobel. Tidak ada angka-angka. Cuma deretan penjelasan di bagian mana Isobel menonjol dan bagaimana gadis cilik ini selama bertaman kanak-kanak setengah tahun pertama. Salah satu bagian yang “luar biasa” adalah bagian kehadiran. Tercatat di situ kalau ia sering absen tanpa penjelasan.

Begitu semester berjalan, Isobel malas berangkat sekolah lagi. Catatan ketidakhadirannya bakal bertambah lagi. Dari informasi yang dibebernya, siklus kekerasan berulang lagi. Kejadian-kejadian yang sama terjadi lagi, tentang teman-temannya yang laki-laki suka memukul. Apa daya, cara bocah laki-laki “menggoda” anak perempuan masih seperti itu.

Tapi ada satu soal yang disebutnya baru, yakni soal bekal makanan. Kami coba mengajari bahwa sangu yang dibawanya juga untuk dibagi ke temannya. Kami dengar dari Isobel sendiri kalau siswa dibiasakan berbagi makanan dengan teman atau gurunya. Sistemnya seperti potluck. Tapi belakangan ini agak beda. “Ada temanku suka main bombe’-bombe’. Dia tidak suka berbagi. Dia cuma mau minta makanku,” kata Isobel.

Saya kemudian memaklumi soal ini, setelah Erlan, teman saya, memiliki pengalaman yang nyaris sama. Ia melihat bagaimana orang tua cenderung mengabaikan bekal makanan anak mereka. Akibatnya, bekal makanan anaknya yang disiapkan Didi, istrinya, jadi “rebutan” siswa lainnya di sekolah. 

“Kadang anak saya tidak sampai makan karena sudah dibagi semua ke teman-temannya. Katanya enak. Padahal, apa susahnya sediakan waktu sedikit buat siapkan sarapan dan bekal anakmu. Kalau mau lihat kemampuan ekonomi mereka, saya kira hanya anak saya yang diantar pakai motor; (yang) lainnya (diantar) mobil,” kata Erlan, seperti mencak-mencak. 

Jadi sampai hari ini dan berdasarkan cerita-cerita tadi, saya masih yakin, sumber kekerasan (termasuk mengesampingkan kebutuhan anak) yang saya dengar dan temui di sekolah Isobel sumbernya nyaris sama: keluarga. Bisa jadi karena orangtua memandang sekolah semata sebagai tempat menitip anak, bahkan sebagai “mesin produksi” kebanggaan mereka. Guru-guru yang memberi les, penyebab waktu bermain sang anak menjadi minim, lantaran ekspektasi keluarga yang berlebihan. Inginnya anak mereka jadi anak hebat. Mereka memandang anak sebagai “produk” kebanggaan dan simbol keberhasilan mereka menjadi orangtua. Anak itu, karenanya, harus menjadi bisa membaca, bisa Matematika, atau mampu bercasciscus dalam Bahasa Inggris. Siswa yang memukul teman karena kekecewaan tentang orangtua mereka yang menghabiskan waktu bekerja dan minim interaksi dengan sang anak.

Sementara pula, cara mengajar guru (sekolah maupun les privat) atau orang tua mendidik belum menemukan bentuk ideal. Mungkin ini karena cara mendidik masih sebatas warisan yang mereka peroleh guru masa sebelumnya, cara zaman Orde Baru, yakni “kekerasan dibangun selalu berdalih demi kebaikan”. Ini sebuah anutan berpikir rezim yang mengandalkan kekerasan untuk mengonstruksi kharisma dan melanggengkan kekuasaan. (Zulhair: 2016)

Orang tua, guru, atau siapa pun kita, tampaknya harus kembali belajar menghadapi generasi berikutnya, termasuk cara kita mendidik di sekolah dan di rumah. Perlu siasat bagiamana mendayung di antara dua generasi dan dua ranah, yakni sekolah dan rumah. Kalau tidak, kita bisa masuk jebakan klasik nan laten yang belakangan disebut sebagai juvenoia, istilah yang diperkenalkan sosiolog David Finkelhor, perihal sindrom pengultusan satu generasi lebih unggul ketimbang generasi sebelum dan sesudahnya.[]

Bacaan pelengkap: satu tahun kebingungan 


Kamis, Juni 02, 2016

Setelah Listrik Mati di Pameran Sore Itu

AIR MATA Nurasiah sore itu jatuh. Menjelang pembukaan pamerannya, listrik Auditorium Al Amin Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar padam. Usahanya setahun terakhir terancam musnah.

Sabtu, Mei 28, 2016

Dua Sisi yang Bekerja dalam Satu Perihal

HIDETORA ICHIMONJI adalah raja, sedang Kyoami merupakan tokoh badut sekaligus pelayan setianya. Kedua sosok itu pasangan serasi. Ada saat Kyoami melayani sang raja, di waktu lain sang pelawak menginterupsi, bahkan menghardik, Ichimonji yang dinilainya gegabah mengambil keputusan.

“Melalui mereka, raja akan belajar tentang apa yang rakyat pikirkan,” kata Akiro Kurosawa tentang “Ran” (1985), yang disutradarainya dalam Akiro Kurosawa: Interviews (2008: 129). Pendeknya, hubungan mereka tampak padu. Raja sebagai kekuasaan formal, sedang si pelawak wujud suara rakyat. Itu sekaligus gambaran singkat dari bentuk ideal dalam kekuasaan sebuah negara. Hubungan mereka simbiosisme yang ulang-alik. Yang-teratur tak akan lengkap tanpa yang-terserak.

Dari situ kita belajar dan paham bahwa raja dan rakyat adalah oposisi biner. Keduanya unsur terpenting berjalannya negara. Dalam sistem itu, keduanya punya arti bila masing-masing beroposisi satu sama lain. Hal yang sama juga mengingatkan kita pada seruan Rukkelleng Mpoba kepada Patotoqé dalam hikayat I La Galigo, kala melaporkan bahwa bumi kosong melompong, “Engkau bukanlah déwata selama tak seorang pun di kolong langit, di permukaan Pérétiwi menyeru Sri Paduka kepada Batara.”

Konsep tersebut serupa falsafah Yin-Yang yang hidup di dataran Tiongkok ribuan tahun silam. Yin penanda daya pasif, Yang sebagai daya aktif. Dua hal saling membutuhkan itu mirip yang dilakukan Rukelleng Mpoba, sang budak, memberitahu tentang perihal rinci tentang suatu keadaan kepada Patotoqé. Sang Penentu Nasib kemudian mengirim manusia pertama untuk mengisi Pérétiwi agar ada yang “menyeru Sripaduka kepada Batara” sebagai bentuk respons terhadap kerja-kerja kecil Rukkelleng Mpoba.


PADA SETIAP dunia, juga dalam jagat seni, terdapat dua perihal yang bekerja. Dwitunggal tersebut terjalin kuat dalam sebuah karya. Keduanya saling mempertegas dan menghidupkan. Dua hal itu adalah kerja-kecil dan kerja-besar.

Perihal itulah yang mengemuka kala menyimak karya-karya ilustrasi dan kriya dalam pameran “Dua Sisi” lima mahasiswa Jurusan Seni Rupa Muhammadiyah Makassar yang digelar 26-28 Mei 2016. Dari mereka tampak ada upaya bekerja rinci. Mereka menyusun rangkaian kepingan yang kemudian mengutuhkan sebuah karya.

Karya kriya Nurasiah menunjukkannya dengan jelas. Piringan-piringan kecil dari kertas beraneka warna yang digulung menggunakan lidi kemudian membentuk parade warna atau bentuk. Ia kerjakan Menjalar, Kunci G, Sun Flower, Butterfly, Bunga Senja, Gelembung, Shadow Hijab, Tahta, Shadow Smoking, dan Mekar dengan menghabiskan kertas A0 sekisar 300 lembar. Kesemuanya dibingkai oleh perempuan kelahiran Gowa 10 September 1993 ini dalam bingkai berukuran rata-rata 80 cm x 80 cm.

Hamrianti dengan deretan karya ilustrasi memunculkan tanda dan benda budaya mutakhir (make up, kacamata hitam, tas, kunci mobil, minuman bermerek, jam tangan, kartu kredit, kamera, gincu, celana ketat). Hal tersebut menampak dalam karya Sense of Beauty, Wanita Glamour, The Trend Now, Skinny Jeans, Shopping, dan My World. Sang kreator dengan bahan kertas dupleks dan cat poster dan menempatkan karyanya dalam dimensi 60 cm x 40 cm itu sebagai representasi bagaimana kalangan muda menandai zamannya. Jarak antara seniman dan karyanya benar-benar intim karena itulah yang ditemuinya (nyaris) tiap hari. Bahkan ia menuliskan dalam catatannya, “remaja selalu up to date”!

Kerja-kerja kecil juga muncul pada karya ilustrasi Isningsih yang bernuansa poster. Mahasiswa kelahiran 30 Oktober 1992 ini mengerjakan sejumlah gambar di atas kertas dupleks menggunakan cat poster. Karyanya bernuansa seruan sekaligus pernyaan sikapnya terkait pendidikan, seks bebas, korupsi, perihal media sosial, obat-obatan terlarang, sampai isu begal. Ia akui bahwa ketika mengerjakan Mengejar Impian, Tak Mengenal Larangan, Jeratan Pimpinan, Smartphone Mengalihkan Duniaku, Penghancuran, dan Jam Malam, berupaya keras meneliti fenomena-fenomena itu melalui serangkaian wawancara.

Sedang Fitriani Masdar dalam kriya tanah liatnya mencoba menunjukkan kerja-kerjanya dengan mencampurnya dengan cat propan, dempul, serta lem. Perempuan kelahiran Tondok Tangnga 30 Mei 1993 ini menampilkan semangat dua sisi melalui nuansa dua warna yang mendominasi karya-karyanya seperti Guci, Logo Universitas Muhammadiyah Makassar, Tekstur, Lampu Hias, Dekoratif, Flower, Kaligrafi, Sepatu Tali, Sepatu Balet, Burung.

Dua sisi kita dapati dalam karya ilustrasi pensil warna Nasaruddin yang bertema “Hitam Putih Potret Kehidupan Fauna” terdiri dari karya Sabung Ayam, Tatapan Sinis, Penyayang, Berburu Lalat, Sosialisasi, dan Perkelahian Antar Semut. Karya Nasar, panggilan sehari-harinya, mencoba melihat dari dua sisi bahwa dalam Sabung Ayam, “Tanpa kita sadari penderitaan yang dialami ayam aduan tersebut”.


LAKSANA SEBUAH kekuatan, Yin-Yang bisa kita andaikan sebagai sebuah siklus. Yang sebagai cahaya, digambarkan berwarna putih, bergerak naik dan berpadu dengan Yin, kekuatan kegelapan, yang bergerak turun. Dua kekuatan berbeda bentuk itu saling melengkapi, membangun satu sama lain, serta terus hidup dan berputar.

Demikian pula yang terserak, belum terungkap, dan masih tersembunyi dapat tersusun dan mengemuka melalui serangkaian metode dan karya estetis yang Anda saksikan di pameran kali ini.[]

Selasa, Mei 24, 2016

Sejarah Sekolah Makassar


Sebuah organisasi pendidikan dan dakwah berdiri di Sulawesi Selatan, disebut-sebut berdiri tiga tahun sebelum Muhammadiyah cabang Makassar dibentuk pada tahun 1926. Organisasi ini merupakan perkumpulan lokal pertama di Sulawesi Selatan, sebuah hal yang menunjukkan bahwa betapa besar pengaruh perkembangan dunia pendidikan di Makassar dalam menggerakkan inisiatif warga kota untuk berserikat dan berpendapat.

Cerita ini merupakan secuil data yang dibeberkan dua ratusan lembar buku ini. Penulisnya, Sarkawi B Husain, melakukan studi ini yang kemudian menjelma sebagai sumber tertulis yang mengurai kehadiran pendidikan pertama di Kota Makassar yang diupayakan oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada akhir abad ke-19, serta perkembangannya hingga era Penjajahan Jepang pada awal dasawarsa 1940-an.

Pengkajian Sarkawi terhadap kehadiran dan aktivitas di gedung-gedung sekolah pertama itu memperlihatkan pengaruhnya yang demikian besar terhadap kehidupan masyarakat Makassar dan sekitarnya. Kemunculan sekolah-sekolah pertama itu, setidaknya, tampak dalam tiga hal: sosial keagamaan, perkembangan pertama dunia pers di Sulawesi Selatan dan sekitarnya, dan terjadinya mobilitas sosial yang ditandai dengan munculnya elite baru.

Telusuri jawaban-jawabannya dalam buku ini!

Sejarah Sekolah Makassar: Di Tengah Kolonialisme, Pertumbuhan Pers, dan Pembentukan Elite Baru (Periode 1876-1942) | Penulis: Sarkawi B Husain | Editor: Anwar Jimpe Rachman | ISBN: 978-602-71651-2-0



Rabu, Maret 30, 2016

Navigasi Bugis

Navigasi Bugis
Gene Ammarell
Penerbit Ininnawa, Maret 2016 
Edisi Revisi, 
ISBN: 978-602-71651-5-1 
327 hl + 4 peta navigasi sisipan

Kajian etnografi Gene Ammarell, antropolog Ohio University, mencatat pengetahuan dan praktik navigasi komunitas pelaut Bugis yang bermukim di sebuah pulau di Laut Flores, simpang jalan antara Sulawesi Selatan dan Sumbawa.

Tanda-tanda alam yang digunakan para nakhoda, mulai letak dan pola bintang, arah angin, makhluk-makhluk laut, lanskap pesisir hingga gerak permukaan laut dipaparkan Ammarell secara rinci lewat penelitian lapangannya yang panjang.

Lukisan historis tentang perubahan teknologi perahu yang membawa perubahan sosial, ekonomi, dan politik masyarakat tempatan juga terurai dalam buku ini.

Penerbit Ininnawa

Rabu, Agustus 05, 2015

Satu Tahun Kebingungan

Sebuah persoalan bermula pada suatu pagi di pertengahan tahun 2014. Perihal yang menguras pikiran ini justru terjadi ketika saya bangun pagi dengan gembira. Pagi itu, matahari bersinar lembut ke kulit dan udara paling segar dalam hidup saya sebulanan terakhir, menjelma awal hari yang membingungkan selama setahunan berikutnya.

Isobel di hari pertama sekolah. (Foto: Anwar Jimpe Rachman)

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP