Kamis, Januari 10, 2019

Jelaga Empat Puluh Tahun


LAGU “Sulawesi Pa’rasanganta” ciptaan B Mandjia sudah menjadi ungkapan dan kata ganti yang awam untuk merujuk wilayah di bagian selatan Pulau Sulawesi. Ia pun berubah sebagai identitas daerah lantaran liriknya berbahasa Makassar, dilantunkan dengan tempo andante, lantas menjelma layaknya lambaian tangan ibu yang memanggil pulang [kampung]:  

Sulawesi pa’rasangantabutta passolongan cerattaanjjari tanggungang malompo/ikkate tuma‘ buttaya/ punna tenaki sipainganaki massing massing ngu’ranginaammang sannang salewangang/ tamakulle amang borittacini’ sai bori bellaya/ bella mamo kemajuannate’ne mamo julu bangsana/ amang sannang pa’rasanganasambori sang pa’rasanganta/ baji maki ajjulu atina amang sannang salewangang Sulawesi pa’rasanganta

(Sulawesi kampung halaman kita/ tanah tumpah darah kita/ menjadi tanggung jawab besar/ bagi kita masyarakatnya/ Bila tak saling mengingatkan/ dan masing-masing sadar/ amannya tanah tumpah darah/ tidak akan aman kampung halaman kita/ Lihat kampung nun di sana/ sudah jauh kemajuannya/ Persatuannya yang kuat/ aman tenteram daerahnya/ Wahai teman sedaerah/ baiknya kita satukan hati/ Sehingga aman tenteram dan sejahtera Sulawesi kampung kita.

Judul lagu ini pula menjadi tema pameran karya perupa Sulawesi Selatan yang berlangsung 10-20 Januari 2019 di Bentara Budaya, Jakarta. Ekshibisi bersama kali ini merupakan pameran kedua perupa dari wilayah sama di galeri serupa dengan jarak lima belas tahun (2003). 

Namun antara waktu lima belas tahun dan tema pameran tak dimungkiri meletupkan pula beberapa hal. Rentangan masa ini bisa menjadi semacam beban bagi para perupa di pameran ini. Unsur ini menjelma sebagai satu patokan bagaimana hendak menyajikan karya-karya apa saja yang menjadi wajah perkembangan seni rupa di Sulawesi Selatan. Rentang masa tersebut, sadar atau tidak, berubah layaknya momok pertanyaan dalam benak perantau yang hendak pulang, ‘apakah mereka sudah layak pulang?’.

Pada sisi lain, tema ini juga sangat mungkin kita ibaratkan sebagai pedang bermata dua. Ia bukan hanya bisa ‘melukai’ tangan para perupa Sulawesi Selatan, tapi juga ‘mengiris’ tangan khalayak umum. Bila tak hati-hati memegangnya, keduanya bisa terluka. Luka yang bisa berawal dari perihal yang bernama tafsir. 


TAFSIR awal seniman yang mengemuka tentang tema ini bisa menggiring mereka mengumpulkan karya-karya yang menampakkan citra Sulawesi Selatan yang figuratif. Bagaimana pun ikatan gagasan mereka tertambat kuat pada jangkar kesan yang muncul kala mereka menyebut “Sulawesi Pa’rasanganta”, lagu yang melantunkan ajakan untuk menciptakan “kampung halaman yang aman dan tenteram”.

Warisan cara berpikir rezim pemerintahan mungkin bisa menjadi salah satu sebab yang berkaitan dengan ini. Lagu “Sulawesi Pa’rasanganta” acap kali muncul sebagai salah satu lagu daerah yang kerap dinyanyikan untuk sesi hiburan dalam berbagai acara formal (pemerintahan) sejak masa pemerintahan Soeharto. Bahkan menjadi bagian materi pengajaran kesenian di sekolah-sekolah. 

Sebagai lagu yang disajikan dalam suasana resmi Orde Baru, terbuka pula kemungkinan terjadinya pembentukan makna yang mengarahkan persepsi pada pemahaman seni dan budaya yang dianut oleh pemerintah zaman itu sebagai sesuatu yang menampak di permukaan.[1]Definisi seni dan kebudayaan bagi rezim pengusung kestabilan ini tak pernah jauh dari upaya memunculkan potongan-potongan yang disebut sebagai representasi kenyataan “kampung halaman” pada lapis pertama, persoalan yang didorong oleh wacana sentralistik. Bahkan Acciaioli, dengan cenderung ketus, menyatakan bahwa keragaman daerah dihargai, dihormati, dan disanjung namun hanya sebagai tontonan, bukan keyakinan; [sebagai] pertunjukan, bukan pelaksanaan [ritual].[2]Seni dan kebudayaan pun menjadi sesuatu yang menampak di brosur pariwisata—sebagaimana pula yang masih awam di situs daring (online) pemerintah provinsi dan kabupaten hingga sekarang.
Berdasarkan beberapa kali wawancara mendalam dengan sejumlah seniman, mereka pun mengakui bahwa respons awal mereka terhadap tema ini sebagaimana yang sudah diduga tadi. Beberapa karya yang sempat terkumpul pun menampakkan hal-hal yang berkaitan dengan representasi citra yang kemudian oleh James Clifford (1986) sebagai “kebenaran sepihak (partial truth)”. 

DEMIKIANLAH jelaga warisan cara berpikir Orde Baru yang hingga kini menggelayut dalam jagat seni rupa Sulawesi Selatan. Semua ini berawal empat puluhan tahun silam, tepatnya awal dasawarsa 1970, ketika pemerintah Indonesia secara aktif mempromosikan tujuan wisata di Indonesia, termasuk Tana Toraja, dan berhasil menarik kunjungan lebih banyak ke dataran tinggi di bagian utara Sulawesi Selatan. Nama Tana Toraja pun semerbak dalam kesadaran pariwisata tingkat nasional (dan internasional) pada 1984 tatkala Joop Ave, Dirjen Pariwisata Indonesia, mendeklarasikan Tana Toraja sebagai “tujuan wisata primadona Sulawesi Selatan” dan Makassar menjadi “Pintu gerbang ke Tana Toraja”. Kunjungan turis setelah momentum itu cenderung menanjak dibanding sebelum 1984 yang lebih fluktuatif.[3]

Keadaan itu jelas sebentuk harapan bagi perupa Sulawesi Selatan kala itu. Dunia seni rupa wilayah ini, yang tak memiliki kolektor partikelir, hanya mengandalkan pesanan dari kolektor kalangan pejabat pemerintahan, militer, dan kantor-kantor BUMN/swasta, ikut mendulang kesempatan dalam pertumbuhan pariwisata lewat peluang pengoleksian dari kalangan turis.[4] Namun tentu kenyataan tentang ‘lukisan pesanan’ menjadi sebuah kenyataan hidup yang tidak boleh dilupakan manakala orang ingin mengetahui lebih mendalam tentang segi-segi yang mempengaruhi perkembangan seni di suatu daerah.[5]Dengan demikian, lapisan konsumen-konsumen inilah yang menjadi salah satu penentu proses dan citra yang muncul di permukaan kanvas para seniman kawasan ini.

Jejak-jejak masa empat puluhan tahun itu masih bisa kita pindai, kendati dalam 29 karya dari 22 perupa di pameran ini tak mendominasi lagi. Dalam karya-karya dwimatra dan trimatra yang meliputi jenis karikatur, drawing, lukis, hingga instalasi menampakkan keadaan-keadaan yang hendak mereka tampik atau dalam perubahan-perubahan yang kini sedang berlangsung di dunia seni rupa Sulawesi Selatan. Di berbagai medium itulah deretan karya ini menunjukkan penegasan-penegasan dari sikap mereka bahwa seni rupa jalan hidup yang harus ditelusuri dengan keras kepala.

Ada yang membawa refleksi pergulatan dalam-diri sang seniman, juga respons mereka terhadap situasi mutakhir yang mereka hadapi di luar-diri, tempat mereka tumbuh dan berkarya. Achmad Fauzi membawa karya berjudul Angaru' di Sudut Benteng(2018), pemaknaan atas keteguhan dan keyakinan hati yang kokoh, spirit yang senantiasa hadir dalam jiwa manusia menghadapi setiap persoalan hidup. Demikian pula Ahmad Anzul membawa karya garapannya The Way (2018), yang merupakan seri Kampung Garam #149. Anzul menceritakan tentang jalan yang dipilihnya ketika sianre bale(Bugis: saling memangsa) terjadi. “Pada situasi tertentu, saya merasa dipaksa untuk menjadi kupu-kupu berbadan pisau silet, perahu kertas, atau memilih jalan yang sunyi.” 

AH Rimba mengantar karya potretnya Toraja Smiling(2017) yang melukiskan seorang pria Toraja tersenyum, simbolisme dari pernyataannya bagaimana kini Rimba menghadapi hidupnya setelah bergulat dengan banyak hal. Budi Haryawan dengan Hallelujah (My Name is Me. And I live on Roof Top Floor) [2018] menuturkan bagaimana pergulatan hidupnya sebagai anugerah yang patut disyukuri. Jenry Pasassan dengan karya instalasi Angel Sing(2018) menceritakan bagaimana manusia seharusnya bersikap lentur dan pada saat yang sama harus kokoh menghadapi perubahan dalam-diri dan perubahan luar-diri. Faisal Syarif menyajikan instalasi Glory of Love Series (2018), sekaligus seni terapi (art therapy) bagi Faisal dalam menyelami alam bawah sadarnya, yang dalam prosesnya kemudian masa lalu bermunculan dan beberapa kali menghasilkan gambar-gambar yang menurutnya seram. Namun kemunculan hal-hal yang mengendap itu kemudian tergantikan dengan perasaan yang sebaliknya. “Akar permasalahan diri, orang lain, dan sosial dimulai dari sesuatu yang harus kita temukan dalam diri kita,” katanya. 

Kalangan perupa muda seperti Muhammad Suyudi membawa lukisan My Greatest Indonesian of All(2017) penghormatan untuk ayahnya. Aryo Bayu menghadirkan karya simbolik yang menggambarkan memudarnya perahu pinisi dalam Sekarat(2018). Ini seperti mengajak kita membincangkan tentang keadaan yang perlu direnungkan bersama tentang pinisi, simbol dari kekayaan intelektual masyarakat Bulukumba, Sulawesi Selatan, yang kian bisa tergerus. Daniel dengan karya Mayat Berjalan (2017) membawa kabar tentang kampung halamannya di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. 

Awaluddin Tahir membawa Kehidupan Kanal (2018), lukisan yang memotret kehidupan permukiman di Kota Makassar yang hendak membicarakan soal sanitasi, sampah, dan kebersihan kanal. Firman Djamil membawa karya seri kepitingnya berjudul Penunggang Celeng (2011). Lukisan ini adalah penggambaran Firman tentang hasil pengamatannya terhadap keadaan dunia politik Indonesia pada tahun-tahun awal dasawarsa 2010, terutama berkaitan dengan kasus penggelapan pajak dengan tokoh Gayus Tambunan. Sementara pula, Thamrin M, karya berjudul Yang Tersisa (2018) melukiskan kegelisahannya perihal huruf lontarak, aksara suku Bugis dan Makassar yang dipandangnya mulai ditinggalkan dan mungkin akan terlupakan.

Sys Paindow dengan karya Pa’manuk Londong Come Out from Tongkonan (2018), terinspirasi Pabbite Jangangkarya Marthen Pattilima, pelukis legendaris Makassar, dengan mengangkatnya lagi dalam versi Toraja dengan fantasi ayam dalam ukiran Toraja di atas morif pa’barre allo(matahari terbit) keluar dari tongkonanlalu beradu.

Inno Angga dengan karya Labeled (2018)melukiskan dialektika antara kepercayaan dan tradisi telah menghasilkan beberapa konvensi yang kerap menimbulkan pergesekan di antara keduanya. Hal ini ditandai adanya pro dan kontra pada masing-masing cara pandang yang ingin menunjukkan eksistensi dengan berbagai argumen yang prinsipil. Dialog yang masih berjalan ini kerap kali harus bersintesis dalam sebuah kemasan yang disebut modernisasi. Produk yang dihasilkan pun ternyata belum sepenuhnya mewadahi identitas yang telah lama melekat pada masyarakat tradisi. Akhirnya kebenaran pun harus dicari melalui pembenaran-pembenaran ambigu yang tanpa harus mengorbankan salah satunya.

Dua perupa perempuan ikut berpameran membawa masing-masing satu karya. Lenny Ratnasari Weichert mempresentasikan karya instalasi berjudul Anaerobik (2017), membincangkan gagasan tentang pernapasan tanpa udara dalam ruangan fermentasi yang berhubungan dengan proses produksi energi dalam sel anaerobik (tanpa oksigen). Sedang Marledy Kadang membawa The Story of Halter Neck White (2018). Ia memilih spanram sebagai bahan eksplorasi. Konsep ini bermula ketika Ledy melihat tumpukan spanram yang menanti untuk tertutup kanvas. Seketika ia bersemangat mencoba mengeksplor bentuk yang bisa dihasilkan spanram tersebut. 

Mike Turusy membawa karya-karya khasnya yang terinspirasi tau-tau(patung pekuburan Toraja) dan penuh detail menuturkan ulang satu hikayat masyarakat Sulawesi Selatan dalam Kerbau Bulan [The Legend] (2014), Made in Tanaberu (2017), dan Pemahat [Mengukir Diri](2017). Demikian pula Faisal UA, perupa Makassar yang mengkhususkan karyanya ke karikatur. Faisal membawa The Glimmer Twins from Makassar(2018) menggabung khasanah alat-alat musik tradisional dengan sosok komikal Mick Jagger dan Keith Richards (The Rolling Stones). Zainal Beta dengan karya Nelayan dan Paraga(2018), dua karya lukisan tanah liatnya.

Sementara itu, kalangan seniman senior banyak memunculkan petuah-petuah seperti Abdul Aziz Ahmad, perupa drawingyang membawa karya Resofa Temangngingi(2018) mengingatkan pepatah Bugis “resopa temmangingi na malopo naletei pammase dewata(hanya dengan bekerja keras kita diberkahi rahmat Yang Maha Kuasa)”; Abdul Kahar Wahid, pelukis berusia 81 tahun, membawa tiga karyanya: Pencerahan (2018),Waspada Tsunami(2018), dan Jodoh Tak Perlu Dicari(2018); Benny Subiantoro, Bagan Tiga (2016) menceritakan kehidupan nelayan; dan Bachtiar Hafid karya Maccello(2016), melukiskan adegan mewarnai baju bodo, pakaian tradisional perempuan Sulawesi Selatan. 


BERKUTAT (lagi) di pekatnya jelaga yang berdiam empat puluh tahunan itulah yang hendak dihindari oleh pameran ini. Sebagai ruang pengabaran sepenggal perkembangan kancah seni rupa, karya-karya dalam “Sulawesi Pa’rasanganta”berusaha dengan sangat keras melompati apa yang berulang kali menampak pula di pameran-pameran (yang ini pun jarang) baik di Makassar maupun di wilayah Indonesia Timur lainnya. 

Karya 22 perupa ini sedang bersiasat melepaskan diri dari citra-citra yang ingin ditampakkan pada perkembangan masa-masa sebelumnya; rentang waktu ketika tancapan tafsir kekayaaan budaya hanya hadir pada lapisan pertama. Sebagai wahana proses yang membangun dunia seni rupa Sulawesi Selatan selanjutnya, mereka membawa gagasan, nilai, dan pernyataan dalam “Sulawesi Pa’rasanganta” tentang kenyataan baru, singkapan yang lain, lapis potongan-potongan kedua dan seterusnya, atau situasi mutakhir fisik dan lingkungan “kampung halaman“ (pa’rasangan) yang kini mereka hadapi—secara personal maupun komunal. 

Di dalam pameran ini, tampaknya kita bisa berpegang kuat bahwa gagasan dan sikap yang tersaji sekarang perihal bagaimana sebaiknya kehidupan seni rupa Sulawesi Selatan berikutnya, bahkan setelah mereka. Ini upaya membersihkan jelaga yang bermula empat puluh tahun lalu itu dan terus menggayuti alam berpikir manusia Indonesia.[]

(Tulisan ini adalah pengantar kuratorial untuk pameran "Sulawesi Pa'rasanganta", ekshibisi karya perupa Sulawesi Selatan di Bentara Budaya, Jakarta, 10-19 Januari 2019).


[1]R. Anderson Sutton, Pakkurru Sumange’: Musik, Tari, dan Politik Kebudayaan Sulawesi Selatan(penj. Anwar Jimpe Rachman), Makassar: Ininnawa, 2013, hl. 35.
[2]Acciaioli dalam Ibid, hl. 92 dan 102.
[3]Kathleen Adams, Art as Politics: Re-crafting Identities, Tourism, and Power in Tana Toraja, Indonesia, University of Hawai’i Press, Honolulu, 2006, hl. 14. Untuk data kunjungan wisatawan, lihat tabel halaman 17.
[4]Wawancara Ahmad Anzul (29 Desember 2018) dan Mike Turusy (31 Desember 2018).
[5]Sofyan Salam, “Menelusuri Perjalanan Seni Rupa Sulawesi Selatan”, Katalog Pameran Bentara 2003, t.h.

Rabu, Desember 12, 2018

Dua Halaman Rumah yang Menghadap ke Sungai

BEBERAPA rumah sudah kosong di Neiwan, satu dari delapan desa di Sanwan Township, sekisar seratus kilometer di selatan Kota Taipei, Taiwan. Bangunannya yang bertembok bata ekspos masih kokoh. Hanya kayu dan pintu kusam dan beberapa bagian termakan rayap sebagai penanda kalau sudah beberapa tahun tidak terurus. Sekisar lima belas rumah di desa ini melompong. Penghuninya pindah ke kota, seperti Kota Toufen dan kota lainnya di Taiwan. 

Hampir seluruh rumah di Neiwan berarsitektur gaya Jepang. Saya terang bisa kenali dari daun pintu dan daun jendela geser dengan rangka berkotak bujur sangkar. Menurut kawan saya, Lin Chen-wei, model bangunan seperti itu merupakan paparan kebudayaan Negeri Matahari Terbit terhadap Taiwan akibat penjajahan Jepang pada masa Perang Dunia Kedua (1937-1945). 

Saya dan Laurent bersama dua kawan lainnya, Jili Wun dan Shen Yu-lin, masuk desa itu pada satu sore menjelang senja. Neiwan, sesuai namanya yang konon bermakna ‘lingkaran dalam aliran sungai’, adalah desa yang berada di lembah perbukitan kawasan Sanwan, dengan pertanian subsisten, mulai dari padi basah sampai sayur-sayuran (sawi, lobak, dan kol). 

Tak banyak orang bisa kami temui, selain seorang bocah delapan tahun, yang belakangan saya tahu bernama Kai, dan perempuan sepuh yang bercaping sedang sibuk menjemur lobak putih untuk jadi bahan asinan—sejenis kimchi. Kai kemudian dengan gesit mengantar kami berkeliling permukiman desa. 

Kai adalah salah satu bocah dari sepuluhan anak-anak setempat yang pernah mengikuti satu program yang dibuat oleh Sanwan Cultural Collective (SCC), kolektif yang dibentuk Laurent, Jili, dan Shen. SCC menggelar lokakarya untuk anak-anak itu pada Agustus 2018. Mereka menggambar-melukis dan terlibat kegiatan lain. “Begitu cara kami membuat mereka lekat satu sama lain karena mereka tidak satu sekolah,” terang Laurent. 

Persoalan jarangnya anak-anak di Neiwan (angka kelahiran di Taiwan merupakan terendah ketiga di dunia,[1]mengakibatkan fasilitas sekolah hanya tersedia di kecamatan dan kota. Kai dan kawan-kawannya bersekolah di tempat yang berbeda; Kai di Toufen, berjarak 11 kilometer dari Sanwan, lantaran ayahnya bekerja di sana, dan teman sebayanya bersekolah di Sekolah Dasar Sanwan.

Kami lalu berkeliling. Kai memandu kami. Ia menunjukkan sejumlah karyanya dan teman-teman sebayanya berupa lukisan dan gambar berwarna di matra bulat seukuran dengan rambu lalu lintas. Mereka memasangnya di banyak tempat. 

Pada bagian depan desa (dengan berpatokan dari jalan raya), beberapa kursi diletakkan di bawah rindang pohon. Agaknya jadi tempat para orang sepuh dan dewasa beristirahat usai bekerja di sawah dan ladang. Anak-anak itu menempelkan rambu peringatan yang bergambar semut dan sarangnya bahwa orang-orang yang mau duduk mesti waspada gigitan serangga itu. 

Beberapa meter dari situ, mereka memasang dua rambu di sepanjang saluran pengairan pertanian utama yang membelah desa. Titik pertama adalah titik terdalam saluran. Mereka menggambarkan orang yang jatuh ke air. Titik kedua adalah tempat para perempuan di desa mencuci pakaian. Namun papan rambu yang mereka pasang adalah bukan gambar dan tulisan peringatan, melainkan pujian bahwa tempat itu sangat bagus. Ya, mereka benar. Tempat pencucian itu beratap rangka kayu dengan bagian tembok bawahnya menyentuh air.

Kami menuju satu persimpangan tiga, tempat mereka memasang satu rambu. Peringatan di bawah cermin cembung belokan jalan itu bergambar truk beserta seruan agar “truk berhati-hati pada kami (anak-anak)”. Berbagai alat berat lalu lalang di Neiwan sekitar tiga tahun terakhir.[2]Truk-truk mengangkut pasir dan kerikil dari sungai yang mengalir di Neiwan untuk bahan baku pembangunan jalan jalur cepat roda empat. Namun selama SCC menggelar lokakarya bersama anak-anak, kata Laurent, para supir truk terpaksa mengalihkan jalur mereka lantaran melihat keasyikan bocah-bocah setempat beraktivitas. 

Kehadiran alat-alat berat itu bukan cuma membahayakan anak-anak. Kunang-kunang pun pergi. Karena itu, mereka memasang pelang protes di samping kuil desa, kawasan di desa yang menjadi parkiran alat berat. Para bocah memasang dua pelang: yang satu memperingatkan supir truk untuk tidak membahayakan kunang-kunang, sedang lainnya, memperingatkan kunang-kunang menjauh dari alat-alat berat tersebut. Namun pelang yang ini tampak lebih seperti kunang-kunang mengepung truk ini.

Sampai di tempat ini, usai bercakap dengan Jili dan Shen, Kai tertunduk dan menggerutu. Rupanya, “Dia (Kia) merasa bingung mau mengantar kamu ke mana lagi,” kata Laurent, tertawa, menerjemahkan keluhan Kai. Kami semua tertawa. Saya segera merasa disambut begitu hangat.

Kami lanjutkan perjalanan. Beberapa peringatan lagi kami dapati di beberapa titik, antara lain di sekitar instalasi pembangkit listrik memperingatkan bahaya kebakaran/api, pengingat agar waspada akan jatuhan bata dari dinding pagar satu rumah tua, juga permintaan berhati-hati bila mengunjungi dan menjaga rumah tua (lainnya) yang berumur sejuta tahun. 

Pada jendela salah satu rumah kosong dan beratap genteng yang bocor serta ditumbuhi tanaman rambat itu terpasang gambar berwarna khas gambar anak-anak. Gambar beberapa boneka dan aksara Mandarin yang bertuliskan kira-kira berbunyi, berdasarkan terjemahan Laurent, panggilan akrab Lin Chen-wei, bahwa rumah tersebut sebaiknya jadi toko mainan saja (daripada tak terpakai). 

Banyak hal menarik yang saya peroleh dari perjalanan berkeliling permukiman ini. Dari gambar-gambar itu saya bisa merasakan solidaritas dan komunikasi yang mereka jalin ke orang-orang dewasa dan sesama mereka. Anak-anak itu menanggapi perubahan yang terjadi di desa mereka, fenomena yang muncul tiga tahun terakhir ditandai kehadiran alat-alat berat. Mereka pun berdialog dengan alam sekitar, tempat tumbuh mereka, dengan memperingatkan kunang-kunang untuk menjauh dari alat berat. Dengan polos pula mereka menyatakan pendapat dan konsep mereka tentang artefak dan warisan kebudayaan. 


MODEL kerja seperti ini sedang menjadi konsentrasi SCC, kelompok yang digawangi tiga orang: Laurent, Shen, dan Jili. Mereka menggunakan seni sebagai metode pendekatan mereka untuk melihat dan mengupas fenomena yang mereka temui dan alami sendiri di wilayah Sanwan. 

Penduduk Neiwan kini didominasi orang tua dan anak-anak. Para anak muda pergi ke kota. Dalam sesorean saya berjalan berkeliling desa, saya hanya dapati satu orang anak muda. Itu pun bukan orang asli setempat, yang juga menjadi salah seorang yang ikut membantu SCC ketika menggelar lokakarya bersama anak-anak dan orang tua yang kemudian menghasilkan gambar-gambar yang kami datangi.

SCC sedang membangun markas di rumah kerabat Jili yang kosong. Rumah itu terletak di seberang jalan kediaman Jili, perempuan semampai yang bertanggung jawab sebagai Direktur SCC. Di Sanwan, memakai rumah kerabat yang melompong adalah hal yang biasa. Begitu pula dengan rumah berlantai tiga itu. Dari pada kosong, rumah itu sedang diubah fungsinya menjadi perpustakaan, bioskop komunitas, dan, tentu saja, sekaligus sebagai kantor SCC. Tugas mengubah tempat itu jatuh ke pundak Shen. 

Saya sempat ikut membantu membersihkan halaman belakang rumah itu. Lokasinya ternyata tepat di bibir tebing bukit, tempat saya bisa menyaksikan lembah yang menghamparkan tanaman pertanian dan perkebunan, gema kicau burung, dan kelok sebatang Sungai Chung Kang yang membelah Sanwan. Wajar kalau Sanwan sering didatangi pelancong yang menikmati pemandangan lembah Sanwan atau ziarah ke Kuil Dewa Padi dan Gandum yang dibangun pada 1851 silam.
Kuil Dewa Padi dan Gandum, Sanwan. (Foto: Anwar Jimpe Rachman)
Namun karena halaman itu masih gundul, Laurent meminta saran, tanaman apa yang cocok ditumbuhkan di halaman itu. Saya bilang, bambu dan sirsak—dua tanaman yang juga tumbuh subur di halaman belakang Kampung Buku. Saya katakan itu sebab halaman SCC berada di ketinggian. Bambu adalah tanaman penahan tanah dan penyimpan air yang baik, sedang sirsak demi panen buah dan kepraktisan: tinggal lempar biji (dan banyak dijajakan di pasar-pasar malam Taipei). Ditambah lagi, berdasarkan amatan saya, tanaman pertanian yang dikembangkan petani Sanwan tak berbeda dengan yang dibudidayakan petani sekitar Makassar (terutama di Malino, Gowa), mulai dari kol, seledri, tomat, dan sayuran lain yang bisa tumbuh subur di udara sejuk. “Nantilah saya kirim fotonya,” kata saya.

Dari obrolan kami semalaman, baik di meja rumah makan setempat sampai di sebuah rumah orang Hakka di perbukitan sebelah Sanwan, rupanya SCC sedang merancang serangkaian inisiatif untuk merespons fenomena di sekitar mereka. Salah satunya berkaitan dengan pekerja migran dari Indonesia. 

Dalam catatan resmi Pemerintah Indonesia, sekisar 250 ribu orang.[3]Mereka bekerja di industri sampai rumah tangga. Selama 10 hari di Taiwan, saya banyak melihat para pekerja ini menjaga orang tua dan difabel. Menurut Laurent, fenomena ini sebenarnya kebijakan pemerintah Taiwan yang ramah terhadap orang tua. Namun, sayangnya kebijakan itu bukan tanpa celah. Justru yang menjaga orang-orang sepuh ini sering luput dari perhatian. Waktu-waktu pribadi mereka tersita lantaran harus menjaga nyaris 24 jam sehari. 

Bisa jadi Laurent benar. Kami bersua dengan tiga perempuan pekerja migran Indonesia yang sedang menikmati waktu senggang di Toko Indo A-Jun, toko milik Ling Ling, perempuan Tionghoa dari Kalimantan Barat, berusia 37 tahun yang pindah bersama keluarganya sejak usia tujuh tahun ke Taiwan. Ling Ling menjual makanan Indonesia di Kota Toufen, Taiwan, kota terdekat dari Sanwan. Di toko ini, mereka sedang menunggu masakan Indonesia yang mereka pesan.
Ling Ling, pemilik Toko Indo A-Jun, Kota Toufen. (Foto: Anwar Jimpe Rachman).
Ketiga pekerja perempuan itu berasal dari Cilacap, Kendal, dan Yogyakarta. Ketiga perempuan itu makan dan pulang terburu-buru. Mereka mengambil jeda sejenak dari menjaga anggota sepuh keluarga yang mempekerjakan mereka. Hari itu adalah hari Minggu dan rehat mereka memang sebentar karena terburu-buru pulang untuk kembali menjaga. 

Hal yang sama juga temui pada pagi menjelang siang Minggu itu. Laurent mengajak saya ke Taipei Main Station. Benar saja, para pekerja migran ini berkumpul di stasiun utama ini dengan duduk bersila membentuk lingkaran. Cukup mudah mengenali mereka, salah satunya, melalui pakaian mereka. Nyaris bisa dipastikan kalau mereka perempuan, biasanya mengenakan jilbab. Mereka berkumpul, membentuk lingkaran, dan duduk bersila. Laurent mengatakan, kebiasaan itu juga kemudian ditiru oleh orang Taiwan sekisar tiga atau empat tahun belakangan. Tentu, sambung Laurent, awalnya orang Taiwan heran melihat kebiasaan itu karena terbiasa berdiri saja atau duduk bukan di lantai. “Tapi pelan-pelan orang Taiwan mungkin berpikir, mengapa tidak duduk saja sama-sama.”

Kumpulan yang saya temui hari itu adalah sekelompok pekerja di bawah tiga puluh tahun. Mereka sibuk mematut mata mereka ke berlembar kisi-kisi ujian Bahasa Inggris. Salah seorangnya bernama Heru mengaku kalau mereka adalah mahasiswa Universitas Terbuka. Menjadi mahasiswa UT adalah jalan yang ditempuh demi mengisi waktu seraya menunggu kontrak kerja berikutnya. 

Heru adalah tenaga kerja yang berangkat gratis tanpa membayar dalam seleksi BP2TKI. Keadaan ini berkebalikan dengan kebanyakan TKI yang harus membayar 50-60 juta rupiah. Dari obrolan saya dengan Nur dan Lina, dua perempuan yang saya temui di Toko Indo A-Jun, mereka belajar bahasa Mandarin sekaligus diberangkatkan oleh perusahaan yang mereka sebut sebagai “PT”. Mereka hanya akan menerima setengah dari gaji yang berkisar 17 ribu Dollar Taiwan selama enam bulan (untuk pekerja industri) sampai sembilan bulan (pekerja rumah tangga) pertama masa kerja mereka.
Pekerja migran Indonesia berkumpul di Taipei Main Station, Minggu 2 Desember 2018. (Foto: Anwar Jimpe Rachman)
Pada hari Minggu, ketika mereka bersua dengan sesama pekerja migran di Taipei Main Station, mereka membawa serta orang yang mereka jaga. Mereka menuntun kursi roda para orang sepuh dan difabel. Bahkan ada yang memakaikan jilbab pada orang sepuh yang mereka jaga agar tidak kedinginan. 


JILI sendiri punya pengalaman terkait pekerja migran Indonesia. Penjaga mendiang neneknya adalah orang Indonesia. Ia mengakui, ikatan antara pekerja dan nenek serta keluarga yang mempekerjakan bukan lagi sekadar hubungan tuan-pekerja, tetapi terjalin pula ikatan emosional. Jili menyaksikan sendiri bagaimana sang pekerja begitu sedih ketika neneknya meninggal. Kini si pekerja mencari nafkah di usaha pamannya berkat bantuan keluarga Jili. 

Penjelasan Jili itu membuyarkan perkiraan awal saya bahwa konsentrasi orang migran Indonesia hanya di Kota Taipei. Saya bertemu dengan dua orang Indonesia di Sanwan, seratusan kilometer di selatan Taipei, yang sejauh ini, mereka adalah yang terbaru dan terlama. Yang terbaru tinggal di Taiwan adalah Siti Inayati, perempuan 38 tahun dari Lampung; dan terlama Shen Hao Hui, lelaki sepuh berusia tujuh puluhan tahun, berasal dari Tanjung Karang, Lampung.
Shen Hao Hui sedang sibuk di kedai mi daging sapinya di Sanwan. (Foto: Anwar Jimpe Rachman)
Siti Inayati, yang minta dipanggil ‘Atik’ saja, baru empat bulan dan belum tahu bahasa setempat. Mbak Atik bekerja menjaga seorang tua di rumah kerabat Jili yang bersampingan Kantor SCC. Kami berbincang sebentar ketika kami membersihkan halaman belakang SCC. Sedang Pak Shen Hao Hui, seorang pensiunan guru SMP di Sanwan, tinggal di sana sejak 1965. Pada masa pemerintahan Soekarno, ia pelajar SMP yang menerima beasiswa dan belajar ke Taiwan. Perubahan politik kemudian menahan nasibnya tak bisa kembali ke Indonesia pada masa itu. Kini masa purna baktinya diisi dengan membantu istri dan keluarganya mengelola usaha mi daging sapi di Sanwan. 

Nuansa pekerjaan rumah itu menampak juga di beberapa buku yang saya dapati di perpustakaan Kota Sanwan, seperti Orang Indonesia Belajar Bahasa Taiwanyang menekankan pengenalan kosa katanya pada jenis penyakit, yang bisa kita duga sebagai bekal dasar untuk bekerja di lingkup rumah tangga.
Buku pelajaran Indonesia-Bahasa Mandarin di Perpustakaan Sanwan. (Foto: Anwar Jimpe Rachman)
Pengalaman Jili dan waktu pendek bagi pekerja migran itu kemudian mendorong SCC merancang kegiatan yang rencananya segera berlangsung di Sanwan dan sekitarnya secara rutin bernama “Hari Cinta Kakak”. Mereka berpikir, dengan berkumpul sebagaimana lazimnya kebiasaan mereka kala di Indonesia—seperti menyantap hidangan dan menyesap minuman sambil menggelar arisan di halaman belakang SCC; nonton layar tancap di alun-alun depan Kuil, atau membaca buku-buku yang tersedia di perpustakaan SCC kelak—bisa mengobati suntuk dan lelahnya para pekerja migran. Mereka butuh pula menjadi diri sendiri selama rentang waktu jeda itu.


SUATU pagi, setelah sepekan sepulang saya dari Taiwan, saya tunaikan janji mengirimi Laurent empat foto tanaman yang tumbuh di halaman belakang Kampung Buku: sirsak, nenas, jeruk nipis, dan bambu. Halaman belakang Kampung Buku juga menghadap ke Sungai Sinrejala. 

Rupanya SCC sudah menemukan bibit sirsak. “Shen dapat dari internet. Ada orang yang jual,” kata Laurent, tertawa, seraya menambahkan sebenarnya gampang dapatkan bibitnya di kampung Shen di bagian tengah Taiwan. 

Kami saling mengirim tawa. Rasa senang merebak bahwa rencana mereka akan pelan-pelan terwujud. Mungkin juga karena kami sama-sama yakin: banyak yang bisa tumbuh dari halaman rumah, termasuk kemanusiaan.[]


Jumat, November 16, 2018

Bangku Belakang Si Beruang

Ada satu persamaan saya dengan Iwan Fals, terutama dalam lagu “Jendela Kelas Satu” (1983). Kami sama-sama duduk di bangku deretan belakang dengan jendela kelas yang tak ada kacanya. 

Kala SMA, saya selalu dicap sebagai anak nakal karena duduk di situ. Lebih parah lagi karena bangku itu ada di dalam kelas sosial, kelas yang selalu dianggap pilihan terakhir. Sempurnalah saya di mata mereka seperti kata Chairil Anwar, binatang jalang dari kumpulan terbuang.

Padahal kalau kelakuan, saya biasa saja. Pemberontakan saya masa itu lebih banyak pemberontakan yang senyap: tidak menenggak alkohol (untuk pergaulan), memakai sepatu biru (ketika wajib pakai sepatu hitam), dan baju putih polos tanpa lambang osis label lokasi sekolah. Bolos juga cuma ikut-ikutan. Bukan keputusan mandiri.

Saya sesadarnya memilih duduk di satu bangku paling belakang, terpencil, dan sendirian (untung kemudian saya dapat teman sebangku ketika kelas saya mendapat anak pindahan dari kota lain). Mungkin karena saya tipikal siswa yang tidak tahan mendengar ceramah guru. Saya sering gelisah. Pikiran saya selalu ada di luar kelas. Itu terbawa sampai kuliah; tidak punya daya tahan belajar cara formal, hal yang kemudian saya usahakan dan teman-teman di komunitas saya dengan mencari cara belajar yang lebih cocok.

Namun belajar bersama banyak orang, tidak pada satu orang (guru formal), membuat saya lebih bisa mengekspresikan diri dan dalam suasana yang lebih setara—ketimbang satu guru yang cenderung bisa ‘semena-mena’ apalagi di sekolah dulu. Mereka lebih berkuasa. Itu juga kayaknya yang mendorong saya mencari bangku SMA yang di belakang. 

Keadaan psikologis saya itu agaknya sama dengan kondisi yang dialami Baltazar, beruang kutub yang ditangkap di sekitar Kanada, yang kemudian menjadi koleksi kebun binatang di Valle Central, satu tempat di Amerika Latin. 

“Kadang aku malah berpikir jangan-jangan aku lebih bebas dalam kandangku ini dibanding orang-orang sekelilingku,” kata Baltazar dalam Kenang-kenangan Mengejutkan si Beruang Kutub, karya Claudio Orrego Vicuña, terbitan Marjin Kiri, November 2018.

Padahal sebelumnya, Baltazar amat benci kerangkeng itu. Namun selalu pula Baltazar coba redam pikiran-pikiran hendak-bebas dan menikmati hari-hari yang tanpa harapan bisa lepas dari penjara itu.

“Barangkali ada hikmahnya. Dengan cara itulah aku mengerti bahwa hanya dengan menjadi bebas kau bisa melayani mereka yang tersisih oleh ketidakadilan dari sesama mereka sendiri.”

Dalam novel tipis ini, lantaran kebebasan tubuh sudah tumpas di depan mata, maka waktu tampak tidak berarti. Demi sang masa, si beruang kemudian hanya menyebutnya dan menjadi kenangan bila teringat ‘hari-hari di hamparan salju kutub’. Yang jauh penuh makna adalah obrolan sang beruang, “Di sini aku masih menyimpan harapan agar dunia manusia tak sekeji yang terlihat. Apakah nyonya berbaju hitam itu, yang memberi makan burung-burung dan berbelas kasihan pada gadis cilik itu, cerminan dari Tuhan tanah ini?... Sejak hari itu, aku menyimpan harapan bahwa Tuhan manusia sama dengan Tuhan beruang.”

Sang beruang tidak tahu saja. Di Indonesia, tidak sesederhana itu adanya. Ada kaum yang merasa paling berhak atas ‘Tuhan manusia’. Rakusnya mereka mengklaim Tuhan untuk golongan sendiri sudah sampai tidak mau membagi tuhannya, bahkan terhadap seagama apalagi yang tidak. Bahkan mereka berani bunuh diri sebagai cara beragama. Namun si beruang pun tahu kalau golongan-golongan itu adalah orang-orang yang putus asa pada hidupnya. “Aku yakin tidak ada di antara kita yang pernah mendengar ada beruang bunuh diri. Buat apa, meninggalkan tantangan hidup keesokan harinya menjadi tak terselesaikan?”

Benar juga kata si beruang, kita perlu berpikir jangan-jangan yang tampak bebas itu justru yang terkungkung. Yang kelihatan banyak itu malah kaum yang tersiksa. Persis orang-orang yang duduk di bangku depan seperti tak punya waktu menoleh ke belakang karena harus patuh dan ‘tak bergerak seperti militer’ di depan guru. Sedang saya yang berada di belakang leluasa menertawai kakunya bahasa tubuh mereka para pebangku depan, lengkap dengan kecurangan-kecurangan mereka. 

Rasa-rasanya, saya dan Baltazar cuma beda bentuk badan.

Catatan: Terima kasih atas hadiah bukunya, Ronny Agustinus. Sehat dan bahagia selalu bersama Marjin Kiri!



Sabtu, September 29, 2018

Senja Kala Bissu

Ketika Puang Matoa Saidi meninggal dunia pada pertengahan tahun 2011 lalu, nasib para bissu, komunitas pendeta wadam sisa peradaban Bugis kuno, tampak mengalami guncangan. Meski kemudian Puang Upe disebut sebagai pengganti pemimpin komunitas bissu di Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, yang juga tak lama kemudian berpulang, bissu kian terang menuju ke kurun senjakala.
TIba Sebelum Berangkat (foto: Anwar Jimpe Rachman)
Setelah karya H.J. Fredericy, Sang Jenderal (1991), agaknya hanya novel Tiba Sebelum Berangkat karya Faisal Oddang (KPG, 2018) yang membahas kehidupan bissu. Kedua karya ini terpisah nyaris tiga puluh tahun. Sang Jenderal menceritakan tentang bissu sebagai bagian kehidupan kerajaan, masa ketika Fredericy bertugas sebagai ambtenaar yang bertugas di jazirah selatan Sulawesi pada paruh pertama abad ke-20; sedang dalam TSB, hayat bissu menjadi narasi utama.

TSB membentangkan kisah bissu yang lebih mutakhir. Narasinya bermula dari awal dekade 1950 sampai sekarang ketika Anda membacanya. Latar novel ini menceritakan konflik TNI – DI/TII pada pertengahan abad ke-20, yang merupakan salah satu latar utama di Sulawesi Selatan. Di dalam hikayat ini, kita bisa merasakan bagaimana masyarakat mengalami keterbelahan dalam kisruh ini.

Tokoh utama TSB, Mapata diletakkan dalam latar sebagai anggota komunitas bissu, toboto (pendamping) Puang Matoa Rusmi. Cerita novel ini seperti menegaskan sederet tantangan yang dihadapi bissu selama ini.

Sejak dulu, bissu mengalami gerusan, setidaknya, begitu terbit fajar abad ke-20 hingga sekarang. Ketika kerajaan memudar dan hilang tatkala sistem negara diperkenalkan, perlindungan dan penguatan bissu secara kharisma maupun segi ekonomi turut meredup. Itu ditambah semangat gerakan DI/TII yang ingin ‘memurnikan’ agama—bahkan terjadi hingga sekarang oleh kelompok-kelompok agama; hingga perubahan pandangan masyarakat terkait nilai tradisional yang berlangsung sampai sekarang. Belum lagi politik antar aktor di dalam komunitas.

Kisah Mapata dalam cerita 213 halaman ini berjalinan dengan pengkhianatan, air mata, penyiksaan, dendam, kematian, amarah dan cerita cinta yang muram. Mapata dikisahkan berada di ruang penyekapan oleh kelompok yang dipimpin oleh Ali Baba, “pria bergamis hitam, gemuk, jangkung, berkumis, berjanggut, dan cambangnya membentuk setengah lingkaran di wajah”-nya (hal. 5). Mapata menunggu anggota tubuhnya ditanggalkan satu per satu sebelum dijual oleh kelompok penyekap tersebut.

Lapis dan Keterbelahan
Mapata adalah tokoh yang dibungkam berlapis. Ia nyaris tanpa perlawanan. Mapata diculik, disekap, di lokasi tersembunyi, dan dengan lidah yang dipotong. Ia hanya bisa bercakap dengan menulis (hal. 14). Cara ia berbincang dengan para penahannya di sekujur novel hanya menggunakan kertas dan tulisan, kecuali (tentu saja) obrolan Mapata pada masa-masa sebelum disekap.

Metode Faisal Oddang ‘menyiksa’ Mapata rupanya banyak gunanya. Hasil pembacaan awal saya: lidah Mapata dipotong yang pada sebelum akhir cerita tampak seperti hanya sebagai siasat penulis untuk menyampaikan runutan latar novel dalam catatan akademis tentang sejarah Sulawesi Selatan dan bissu. Namun pada seperempat cerita akhirnya justru ‘potong lidah’ itu sangat masuk akal (biarlah pembaca memburunya atas apa yang saya maksud). 

Tokoh Mapata dalam cerita ini mengalami keterbelahan diri: antara jiwa perempuan dan identitas laki-laki. Namun kisah kanak-kanak Mapata agaknya meminta empati kita sebagai penyebab keterbelahan ini.

Antara Seno dan Tohari
Tatkala melintas kabar bahwa novel ini berlatar sejarah sengketa DI/TII – TNI, muncul pertanyaan saya sebelum membaca. Bagaimana Faisal Oddang mengolah materi sejarah menjadi latar yang ciamik? Harus saya akui, Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari masih menjadi novel ideal bagi saya untuk menjawab pertanyaan soal bagaimana latar sejarah diramu menjadi bahan menarik. Apakah bisa menyamai atau mendekati cara Ahmad Tohari?

Ketika menelusuri halaman per halaman TSB, hasil pindaian saya mengesankan bahwa formula Seno Gumira Ajidarma saat memasukkan kesaksian dan laporan jurnalistik tentang rentetan kejadian Insiden Dili, Timor Timur dalam cerita-cerita dalam Jazz, Parfum, dan Insiden bisa tercium dalam novel ini. 

Seno memasukkan reportase jurnalis yang harus tercampak di keranjang sampah meja penyuntingan media-media di zaman Orde Baru (lih. Ajidarma, 2005:140-162.), Faisal memasukkan karya-karya ilmiah tentang bissu atau yang berkisah sejarah Indonesia pertengahan abad ke-20. 

Sekurangnya ada lima buku yang Faisal sebut dalam teks TSB, yakni [a] Pemberontakan Kahar Muzakkar dari Tradisi ke DI/TII (buku) dan Tradition, Islam and Rebellion: South Sulawesi 1950-1965 (disertasi) karya Barbara Sillars Harvey; [b] Bissu: Pergulatan & Perannya di Masyarakat Bugis karya Halilintar Latief; [c] Peristiwa Sulawesi Selatan 1950 – Mayor Bardosono; [d] Kekerasan Budaya Pasca 1965 – Wijaya Herlambang; [e] Sejarah Masyarakat Tionghoa Makassar – Yerry Wirawan.

Fiksi dan Fakta
Mari bersetuju dengan Seno bentangan kemungkinan yang ditawarkan oleh sastra, “ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara”, yang tampak dalam beberapa yang sempat saya catat, antara lain tentang bisik-bisik tentang komunitas bissu soal bagaimana orientasi seks mereka dirinci oleh Faisal (hal. 93); tentang Pantai Losari Makassar yang direklamasi (hal. 149), persoalan yang disoroti banyak kalangan di Makassar; sampai percobaan memasukkan paham komunisme sebagai landasan gerak DI/TII (hal. 111-113).

Ketiga hal itu makin mengukuhkan bagaimana cerita (story) lebih leluasa merinci ketimbang tuturan sejarah (history). Saya baru saja mendengar cerita yang disebut sekilas di halaman 113. 

Novel ini mengisi ruang yang sudah lama kosong dalam karya sastra yang berlatar sejarah Sulawesi Selatan. Karya Faisal Oddang ini terbit setelah tujuh tahun rilisnya Perang Makassar 1669: Prahara Benteng Somba Opu karya SM Noor (Kompas, 2011), dan nyaris tiga puluh tahun. Keduanya pun cukup berjarak tahun dari Sang Penasihat (1990) dan Sang Jenderal (1991) karya Fredericy.

Tampaknya Faisal Oddang berhasil menyuguhkan sehidang cerita yang lama ditunggu tentang khasanah sejarah seperti ini. Ia mengingatkan kita pada Ahmad Tohari, tentu dengan cara yang berbeda.[]

Judul: Tiba Sebelum Berangkat
Penulis: Faisal Oddang
Tahun: April 2018
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Ukuran: vi + 216 halaman; 13,5 x 20 cm
ISBN: 978-602-424-351-7

*terbit di Harian Kompas, 29 September 2018

Rabu, September 26, 2018

Ziarah ke Danau Sidenreng

Sederhana saja cara saya melihat bagaimana Sidenreng Rappang (Sidrap) mutakhir. Cukup menyaksikan apa saja yang terjadi pada berlangsung 22-24 September 2018di suatu acara bernama Sidenreng Lake’s Fest. 
Bagian keramaian di Danau Sidenreng (foto: Anwar Jimpe Rachman)
Itu hanya nama baru—berbahasa Inggris. Warga Desa Mojong, perkampungan di pinggir utara Danau Sidenreng, tempat acara tahunan ini berlangsung, menyebutnya sebagai mappadendang, atraksi yang menampilkan sekelompok warga menumbuk lesung—berirama yang bersemangat, simbolisasi kesyukuran atas panen yang melimpah. Nama mappadendang untuk menyimpelkan serangkai acara yang biasanya berisi mattojang (berayun), maccera’ tappareng (selamatan dan melarung sesajian, harfiahnya ‘meneteskan darah hewan ke danau’), dan mabbala’ lopi (balap perahu dayung dan perahu bermesin).
Panitia mabbala' lopi mengawasi lomba (foto: Anwar Jimpe Rachman)
Banyak yang bilang, nama baru ini muncul karena kali ini disokong pemerintah kabupaten. Warga sekitarnyalah yang bahu-membahu untuk menggelarnya pada tahun-tahun sebelum 2018.

Sebelum dan sesudah disponsori pemerintah, jelas ada bedanya. Hadiah mabbala lopi: dulu televisi, sekarang sepeda motor. Sampai tahun sebelumnya, duga saya, hiasan umbul-umbul cuma yang polos berwarna; sekarang bendera-bendera penyemaraknya sudah bermerek—mulai motor sampai pupuk.

Sebenarnya, bagi saya, perjalanan ke Desa Mojong ini semacam ziarah. Saya dengar dari Bram, kawan di Tanahindie yang kebetulan sekampung, ada semangat dan upaya merawat sesuatu di Sidrap dalam waktu yang belum setahun. Gerakan yang juga melibatkan anak muda yang berkelindan dengan banyak hal, termasuk politik. Dalam kesan saya, gerakan orang muda itu sebagai ‘sesuatu yang terpaksa dilakukan’ karena beberapa hal genting, jelas bikin dada menghangat. Saya merasa ada harapan lagi.
Anak-anak mattojang (main ayunan) (foto: Anwar Jimpe Rachman)
Saya beberapa kali patah hati pada kampung sendiri. Saya meninggalkannya ketika harus berkuliah di Makassar. Keberangkatan saya ke Makassar pertengahan dasawarsa 1990 itu menyelamatkan saya dari masa suram di kolong rumah yang dipenuhi botol-botol miras dan hujan batu tawuran karena perang antar geng. Patah hati saya yang kedua datang beberapa tahun kemudian, begitu dengar kampung saya jadi pasar sabu-sabu. Ini patah hati saya yang terlama lantaran sudah berlangsung lebih satu dasawarsa.

Tapi namanya kampung, tak bisa saya mungkiri, lebih separuh diri saya terbuat dari bahan-bahan yang berasal dari sini. Saya yang lama tak pulang, jelas merindukan demikian banyak hal. Karenanya, semisal ditantang makan putu beras lengkap sambal tai boka-nya, saya dengan gagah berani menerimanya. Diseret seseorang untuk menuntaskan kangen pada kekasih, jelas siapa yang tak mau. Sebab itu saya menerima ajakan Bram.

Saya tumbuh dan besar di Rappang, ibu kota Sidrap di masa Belanda, yang berada dua puluhan kilometer di utara desa yang berada di Kecamatan Watang Sidenreng ini. Saya dengar pertama kali nama desa yang saya sambangi ini lewat lagu daerah “Kepala Mojong”, waktu mulai aktif ikut orkes kecapi di SMP pada penghujung dekade 1980. Kala itu pun saya belum tahu kalau itu nama satu kampung di Sidrap.

Dua malam satu hari berada di pinggir Danau Sidenreng, mengingatkan saya hikayat asal mula danau ini. Dalam cerita yang banyak beredar dalam teks, nama danau itu juga menjadi nama kerajaan. Kalangan yang “menemukannya” adalah orang-orang yang turun dari gunung lantaran ketidaksetujuan cara memerintah saudara mereka bernama La Maddaremmeng di wilayah Sangalla, yang kini termasuk daerah Toraja. Alkisah, orang-orang itu harus sidenreng/sirenreng atau ‘berpegangan tangan’ kala hendak mengambil air danau ini untuk minum.
Basri masih pakai TOA setiap tampil (foto: Anwar Jimpe Rachman)
PESTA ini dibuka 22 September malam di satu anjungan yang lebar, mungkin bisa muat empat atau lima lapangan futsal bila termasuk parkiran. Bintang-bintang terang di langit kemarau di atas danau yang selalu berair coklat ini (bisa juga Anda cek di Google Map). Angin lembab dan sejuk. Kerumunan tambah ramai. 

Festival dibuka pemukulan gong oleh Bupati. Luncuran kembang api menyusul. Ya, pembukaan acara yang kebanyakan. Tapi usai biduan bernama Tiara menyanyi, suara pemandu acara menyebut nama pemain kecapi Sabri dan kelompoknya, Empat Sekawan, bakal tampil. 

Segera lengkap ziarah saya! Sudah lama saya nantikan kesempatan menonton langsung bagaimana Sabri berceloteh seraya memetik kecapi.

Saya ke depan panggung. Sambil berdiri, saya sesekali terpingkal karena celetukan Sabri. Meski di panggung ada sound system modern lengkap, Sabri masih setia memakai pelantang TOA. 

Lawakan slapstick yang berbahasa daerah jelas hiburan yang nyata. Seketika pegal pinggang dan punggung duduk di sadel motor sepanjang 190-an kilometer dari Makassar ke pinggir danau ini, tumpas! Saya bahkan tahan berdiri menikmati pertunjukan Sabri dkk. Sesekali mengobrol dengan Hadi, kawan seangkatan di kampus yang kini staf Bappeda Sidrap, karena bertahun tak bersua. 

Setengah jam kemudian, badan menagih istirahat. Saya menepi cari dudukan. Eh, Sabri juga berhenti.

“Kita pamit, Syarifudding. Ini tidak seperti di kawinan atau aqiqah. Sudah tengah malam. Orang mungkin sudah pada mengantuk,” kata Sabri dalam bahasa Bugis.

Ternyata acara belum tutup. Bunyi organ tunggal membahana lagi. Suara biduan berkumandang lagi. 

Sabri mungkin kecewa. Saya kira, pertunjukan Sabri memang tidak cocok dimainkan di arena besar seperti ini. Penontonnya berjarak dan ‘jauh di bawah’. Basri butuh ruang intim, anugerah yang biasa didapatnya di hajatan warga, seperti aqiqah atau sunatan. Sabri perlu melihat wajah penonton yang terkekeh, tidak seperti di depan-pinggir panggung yang gelap itu. Kata seseorang keesokannya, setiap hajatan yang mengundang Empat Sekawan, penonton betah sampai dini hari bahkan hingga pagi. Belakangan saya tahu dari kerabat-kerabat panitia, waktu tampil Sabri sebenarnya tidak di tengah acara, melainkan di akhir. Pukul setengah dua belas, orang sudah bubar. 

Kami pulang. Kami melintasi alun-alun desa yang ada di depan gerbang lokasi pesta rakyat. Deretan lampu pasar malam masih terang. Para pedagang masih berjaga di jualannya. Sekelompok berisi (mungkin) lima orang masih menumbuk lesung yang sudah dua hari dua malam tanpa henti. 

Di atas mobil, seorang kawan menceritakan ruang utama rumah Uwak Ambo, pemimpin adat setempat, dipenuhi sesaji. Dia baru lihat persembahan sebanyak itu, katanya. Benar-benar penuh.

Kami istirahat. Pukul enam pagi harus ke sini lagi. Warga bersiap Maccera’ Tappareng

Uwak Ambo memimpin upacara maccera tappareng (foto: Anwar Jimpe Rachman)
MINGGU pagi yang cerah. Dua gendang berbalut kain putih ditabuh, diiringi instrumen bambu kattok-kattok. Uwak Ambo dan rombongan membawa beberapa rangkai sesaji (semuanya berisi beberapa sisir pisang, beberapa ikat daun sirih, beberapa buah pinang, beras ketan merah-putih-hitam-kuning [lambang api-air-tanah-angin], telur, benno [jagung kembang], kelapa muda, dan beberapa bungkusan putih—mungkin berisi uang) ke pinggir danau. 

Dua puluhan lebih perahu, beserta penumpangnya yang tak bisa lebih dari dua orang, menunggu ritual itu rampung. 

Uwak Ambo berkopiah hitam, baju lengan panjang hitam, dan sarung hitam. Kumis dan alisnya tebal. Ia tertunduk, berkomat-kamit. Ia tegakkan wajah lagi, mengambil tempurung kelapa berisi darah lalu diteteskan ke danau. Tetes-tetes merah segera bercampur ke air berlumpur danau. Ia sebarkan pula jagung kembang ke air—laku memberkati. Bungkusan putih lalu dilarung. 

Mesin perahu pun menyala. Sesaji lainnya siap dibawa ke bagian tengah danau. 

Tangan Uwak Ambo tiba-tiba melambai ke perahu-perahu yang nyalakan mesin dan sudah berangkat menuju tengah danau. Ada kabar bahwa Bupati mau ikut melarung. 

“Sudah di jalan masuk Mojong,” kata seorang panitia. 

Jalan yang dimaksud adalah ruas jalan beton sepanjang tujuh kilometer dari jalan poros Makassar-Luwu menuju Mojong, yang kabarnya baru juga selesai 2018. Lima belas menit kemudian Dollah Mando, sang bupati yang baru ditetapkan akhir Juli kemarin, sudah tampak. 

Pak Dollah buka sepatu dan gulung celana. Ia naik ke perahu lambat yang beratap—muat sampai delapan orang. Rombongan perahu meluncur kencang ke tengah. Muncul kabut air di belakang perahu-perahu itu. Saya yang berdiri di pinggir danau baru sadar kalau pemandangan itu berbeda dengan yang biasa saya lihat di perairan yang dalam. Kabut itu muncul karena baling-baling perahu tidak terbenam dalam. Danau Sidenreng memang danau dangkal. Hanya di musim hujan ia jadi dalam. Itu juga kalau ada air kiriman dari tetangganya, Danau Tempe. Permukaan anjungan beton yang berada empat meter di atas permukaan laut, kata Arlan—sepupu saya, tenggelam karena air kiriman danau di Wajo itu. Bahkan menyatu menjadi danau besar.[1]

Satu-dua jam setelah upacara melarung sesaji, Mabbala Lopi dimulai. Lomba dibuka dengan balap perahu dayung perempuan, kategori yang baru tahun ini diperlombakan. Setelah penyerahan hadiah, lomba mulai lagi sekisar pukul sepuluh. Pesertanya datang dari Sidrap dan kabupaten lain seperti Wajo, Soppeng, dan Bone. Banyak pesertanya. Wajar kalau lomba berakhir menjelang senja.
Umbul-umbul iklan di Sidenreng Lake's Fest (foto: Anwar Jimpe Rachman)
DESA Mojong terletak di pinggir utara Danau Sidenreng. Di sini terdapat pula Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Mojong—yang disebut belum lama dibangun. Hidung saya tak bertemu bau amis khas TPI. Ikan yang ada cuma bangkai ikan sapu-sapu yang tak seberapa, tergeletak begitu saja di sela-sela batu pinggir danau. Belakangan saya dapat ikan kecil sampai yang besar di perjamuan siang di anjungan.

Bila Anda melempar pandangan ke selatan, akan tampak Bulu Allakkuang yang dilatari gunung dan bukit yang menjajar ke timur. Bulu Allakkuang adalah gunung batu yang selama ini jadi sumber baku pembuatan kerajinan batu seperti batu ulek, batu nisan, sampai lesung. Gunung itu tampak memutih, tidak hijau sebagaimana gunung atau bukit kebanyakan. Itu karena pertambangan. Gunung yang diprediksi bakal hilang itu tak ayal menjadi topik bahasan di harian lokal Makassar beberapa waktu lalu. Mungkin hal ini pula yang perlu menjadi perhatian semua kalangan. 
Rumah-rumah mini di beberapa titik di Desa Mojong  (foto: Anwar Jimpe Rachman)
Di alun-alun Desa Mojong ada sebatang pohon tua. Di bawahnya terdapat beberapa makam, juga satu rumah kayu sebesar dua pos kamling. Serambinya membentang mengambil tiga perempat rumah itu. Sisanya satu bilik kecil. Model begini saya lihat juga di sebatang pohon besar yang tumbuh di pematang sawah di samping anjungan danau. Ukurannya saja yang lebih kecil, mungkin setengah meter bujur sangkar. Itu mengingatkan saya cerita dari banyak orang tentang Bulu Lowa di Amparita yang dipenuhi rumah seperti ini untuk dipakai menaruh persembahan.

Menurut warga, di waktu tertentu, rumah di alun-alun akan dipenuhi To Lotang dari Amparita yang ada di bagian selatan danau. Mereka datang potong hewan atau memboyong yang sudah jadi masakan. “Bisa sampai enam puluh mobil datang ke sini. Mereka memutar (lewat darat),” kata seorang lelaki sepuh setempat. 

Ingatan saya langsung terhubung ke ritual maccera tappareng tadi pagi. Saya menduga, itu salah satu jejak kebudayaan To Lotang, komunitas penganut kepercayaan animisme, yang berada di Amparita. Sesaji selengkap itu berbeda dengan ritual serupa yang saya saksikan langsung di beberapa tempat dengan persembahan yang lebih sederhana.


PESTA rakyat itu sudah selesai. Saya kembali ke Makasar dan suntuk dengan kerja-kerja sebagaimana biasanya. Namun, sesampai di meja kerja, ziarah itu terus mengetuk benak saya. Bisa menjadi sekadar pengingat kedatangan saya menjenguk sesuatu yang lama saya rindukan. Maka jadilah beberapa catatan saya melihat Sidrap dalam bentuk “dua hari”.

Pertama, pesta rakyat ini digelar tak lama setelah pergantian bupati Sidrap. Mungkin ini salah satu cara bupati yang terpilih dalam memindai deretan perihal yang menjadi tugasnya dalam lima tahun ini. 

Kedua, namun dalam pesta itu, salah satu iklan yang berkibar menyambut pengunjung adalah iklan pupuk. Sejak dulu, Sidrap menjadi salah satu wilayah lumbung padi Sulawesi Selatan, sekaligus menjadi tempat praktik masif penggunaan pestisida dan insektisida untuk ladang dan sawah. Yang pernah melintasi Sidrap menuju atau dari utara (Enrekang dan Toraja) atau timur laut (Wajo dan Luwu), pasti menyaksikan hamparan sawah di daerah ini yang hanya dibatasi gunung atau horizon. Semua orang perlu menahan diri untuk, setidaknya, mengurangi pemakaian zat-zat kimia untuk pertanian. Beri kesempatan tanah meremajakan diri. Kalau tidak, jangan heran kalau keluhan petani kisarannya kebanyakan pada makin banyak pupuk yang diperlukan untuk petak-petak sawah mereka. Tapi saya kira, Pak Dollah Mando adalah orang yang lebih paham karena latarnya sebagai petani dan penyuluh.
Bangkai ikan sapu-sapu di pinggir Danau Sidenreng (foto: Anwar Jimpe Rachman)
Di pinggiran danau itu juga tergeletak bangkai ikan sapu-sapu. Menurut seorang warga, ikan yang disebut nama setempat ikan tokek ini dua tahun terakhir muncul di danau ini. Bangkai itu adalah tangkapan sampingan nelayan. Warga setempat banyak yang enggan memakannya. Sisik dan kulitnya sangat tajam. Nelayan kesal karena jala mereka robek karena ikan ini. Jadi mereka mencampakkannya begitu saja.

“Ikan itu memakan ikan lain. Darahnya seperti darah manusia,” kata seorang nelayan, bergindik.

“Kata orang bahaya karena mengandung merkuri,” kata nelayan lain yang mengaku tahu itu dari tulisan. Ia juga ceritakan kalau ada peneliti sudah membawanya ke Makassar untuk disigi lebih lanjut.

Di atas Danau Sidenreng, orang-orang beradu cepat dalam lomba perahu. Namun di bawah permukaan air danau itu pula, nelayan bakal beradu cepat menangkap ikan dengan predator (ikan sapu-sapu). Perlu segera semua pihak membantu nelayan setempat agar mata pencaharian mereka tidak terganggu.

Ketiga, Bulu Allakkuang, gunung di bagian selatan danau itu sudah memutih, menelanjangkan batu-batunya. Orang-orang harus lekas berhenti mengikis gunung itu. Penambangan, di mana pun itu, hanya menguntungkan sesaat dan untuk segelintir orang saja. Bahayanya justru melanda semua orang. 
Bocah-bocah yang membaca dan menggambar di lapakan buku  (foto: Anwar Jimpe Rachman)
Keempat, di dalam festival ini pula hadir lapakan baca di ujung timur anjungan, lengkap dengan sekelompok bocah yang terus membaca dan belajar menggambar serta mewarnai. Saya harus hormat pada kawan seperti Juju dan Ilham yang mau berjaga di situ dan mendirikan rumah baca. Sayangnya, kita masih sibuk untuk menggempitakan pesta ini dengan suara musik yang nyaris tanpa jeda. Belum memberi kesempatan pada bagian ini untuk lebih diperkenalkan ke warga. Saya yakin, kalau pesta rakyat ini diadakan tahun mendatang, bagian-bagian seperti ini akan diberi tempat yang lebih leluasa.


SAYA pernah berkelakar, Sidrap lebih sejuk sekarang karena banyak kipas di sana. Itu cuma gempita saya menyambut pembangunan PLTB di Desa Mattirotasi, Watang Pulu. Bahagia rasanya bahwa pemerintah sudah mengupayakan sumber energi yang ramah lingkungan dan membuat contoh yang baik. Tersisa bagi kita untuk melanjutkan upaya dengan semangat yang serupa. 

Semoga patah hati saya sembuh. Sembuh lebih cepat!



[1]Keterangan ini bersesuai dengan hasil penelitian Anom. 1979, 1982 yang dikutip Ian Caldwell dan Malcolm Lillie “Laut Pedalaman Manuel Pinto: Menggunakan Teknik-teknik paleo-environmental bukti sejarah Sulawesi Selatan” dalam http://www.oxis.org/terjemahan/caldwell--lillie-2004.pdf, diakses pada 26 September 2018, 08:10 Wita.

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP