Minggu, November 06, 2016

Tumbuh di Barisan Belakang / Growing in the Back Row

------
Catatan: Tulisan ini adalah tulisan dalam katalog Jakarta Biennale 2015. Sengaja saya siar ulang di sini untuk membantu keterbacaannya yang lebih luas (dan pengarsipan, tentu saja). Ini bagian kecil dari proses yang saya alami sejak awal tahun lalu selama bekerja dengan teman-teman tim manajemen dan produksi Jakarta Biennale 2015. Potongan lain yang tidak sempat saya ceritakan, melainkan dalam beberapa foto yang saya pinjam dari tim dokumentasi JB 2015. Sumber tulisan ini dari http://bit.ly/2eJZdj0. Versi Inggrisnya tersedia di bagian bawah. Selamat membaca!
------
DALAM satu kesempatan pada pertengahan dasawarsa 1990-an, saya masuk ke sebuah pameran seni lukis di Makassar. Sambil melihat-lihat, muncul satu pertanyaan di kepala saya ketika itu, “Mungkinkah ada jalan masuk ke dunia seni rupa tanpa harus punya keterampilan menggambar, melukis, atau semacam itu?”

Pertanyaan itu tertimbun dalam benak saya selama sekitar dua dekade, dan baru muncul lagi pada September 2015, setelah dipicu satu pertanyaan lain dalam suatu sesi wawancara dengan sebuah media. Tanya-jawab itu sehubungan dengan tugas saya sebagai salah seorang dari enam kurator yang bekerja untuk Jakarta Biennale (JB) 2015.


Kuratorial JB 2015 menerapkan sistem yang berbeda dibanding yang sebelumnya. Selain saya dari Makassar, manajemen JB 2015 mengundang kurator dari tiga kota lainnya: Asep Topan (Jakarta), Benny Wicaksono (Surabaya), Irma Chantily (Jakarta), Putra Hidayatullah (Banda Aceh), dan Riksa Afiaty (Jakarta, Bandung).

Kami, tim yang kemudian disebut “kurator muda”, sejak Januari 2015 bekerja sambil belajar dalam program Curators Lab yang digawangi oleh Charles Esche, kurator Van Abbemuseum di Eindhoven, Belanda. Menurut proyeksi manajemen JB, cara ini bakal memudahkan transfer pengetahuan karena Charles, sebagai kurator, telah memiliki pengalaman terjun di sejumlah bienial yang berwibawa seperti São Paolo Biennale dan Istanbul Biennale. Pada praktiknya, memang Curators Lab menjadi model belajar yang langsung menceburkan kami sebagai kurator muda ke dalam lautan manajemen sebuah bienial.

Kata “muda” sebenarnya menjelaskan tentang betapa hijaunya kami dalam menyusuri rimba seni rupa Indonesia. Tapi sebagian orang—terutama teman-teman saya—menanggapinya dari segi “usia”. Sehingga, sudah jelas, kata itu kemudian menjadi “word of the year” bagi manusia yang sudah empat kali ganti KTP seperti saya.


Sepanjang proses kerja kami hingga menjelang pembukaan JB 2015, saya menggarisbawahi beberapa hal penting sehubungan dengan pengalaman saya dalam Curators Lab.

Pertama, seni tidak bisa berdiri sendirian—sebagaimana kata Charles, “Hanya seni tidaklah cukup.” Saya kian yakin bahwa dibutuhkan perspektif dari banyak disiplin pengetahuan lainnya dalam menanggapi atau memecahkan persoalan-persoalan manusia lewat dunia seni rupa.



Latar para anggota tim kurator sendiri sudah cukup mencerminkan keberagaman tersebut. Dari kami, hanya Benny yang seniman. Saya lebih banyak bekerja di dunia literatur, Asep sedang menempuh pascasarjana kekuratoran, Irma bekerja di sebuah lembaga budaya asing, Riksa menangani manajemen laboratorium seni bernama ArtLab di ruangrupa, Putra tipikal “anak sekolahan” yang pendiam dan rajin—ia baru mendapat beasiswa pascasarjana ke luar negeri—dan Charles, dari yang saya dengar, malah berlatar pendidikan politik.

Kedua, sistem manajemen. Saya menjadi anggota dari sebuah kelompok kerja berisi sedemikian banyak orang yang mempersiapkan acara berskala internasional yang melibatkan tujuh puluhan seniman dari dalam dan luar negeri—belum lagi pihak-pihak yang menyokong pendanaan acara ini. Estimasi kasar saya, demi JB 2015 yang digelar selama dua bulan, dibutuhkan waktu kurang-lebih setahun bagi para kurator untuk belajar “merapatkan shaf” di belakang imam Charles Esche. Tatkala masuk separuh akhir masa persiapan, oleh manajemen, saya diperkenalkan ke beberapa orang yang baru saya kenal tapi sebenarnya sudah lama bekerja untuk Jakarta Biennale 2015, semisal Shera Rindra M. Pringgodigdo di bagian komunikasi, Bagasworo Aryaningtyas alias Komeng yang bertanggungjawab soal lokasi proyek komunitas, dan Adi Setiawan alias Digel yang mengurus lokasi mural. Saya juga berkorespondensi dengan dua atau tiga orang lain yang rupanya merupakan awak redaksi situs jakartabiennale.net.

Memang, awalnya saya punya secuil gambaran tentang kerja kuratorial berdasarkan sekurang-kurangnya dua hal: (1) pengalaman singkat yang berkaitan dengan inisiatif penulisan dan beberapa peristiwa seni rupa mutakhir Makassar bersama kawan-kawan di sana dalam satu dekade terakhir; (2) perkiraan pola dan model kerja berdasarkan gambaran yang saya peroleh dari lokakarya kuratorial di ruangrupa, Jakarta, pada 2009 silam. Namun, Jakarta Biennale 2015 yang berskala kolosal mengharuskan saya berkonsentrasi penuh serta menghemat tenaga agar daya tahan tetap tinggi dan daya jelajah tetap luas. Mungkin yang paling mirip dengan tugas semacam ini adalah pekerjaan memilah dan menyunting naskah yang sudah sepuluh tahunan saya lakoni di lini penerbitan Komunitas Ininnawa dan Tanahindie.

Ketiga, saya jadi memiliki peluang mempersandingkan dinamika seni rupa di Makassar dengan di Banda Aceh, Jakarta, dan Surabaya. Dari sini, saya melihat bahwa perbandingan itu bisa dilakukan pada jaringan antarpelaku, dinamika wacana, dan geliat seni rupa yang dimungkinkan oleh ruang publikasi serta dukungan dari pihak lain. Jelasnya, tampak bahwa Curators Lab membuka peluang saling belajar antarkota (asal kurator) perihal melihat dan merespons persoalan-persoalan di masing-masing kota. Satu hal yang tak kalah penting juga bagi saya adalah soal keempat: merayakan kemenangan-kemenangan kecil warga. Mereka sejak lama dikalahkan melalui struktur politik dan sosial. Hanya seni dan sastra yang memberi peluang sangat besar untuk menyuarakan harapan mereka, dalam usaha mereka merebut kedaulatan hidup. Seni dan sastra bisa menjadi tenaga yang mendaur daya warga dalam setiap upaya keras mereka menjaga kehidupan lingkungan dan manusia yang ada di dalamnya.

Kami dapat merasakan hal di atas saat mendampingi Charles bertemu dengan segelintir warga dan segala ragam siasat mereka untuk menghadapi kenyataan hidup, tepatnya warga Kampung Pisang yang tinggal di permukiman padat di Kelurahan Maccini Sombala, Kecamatan Tamalate, Makassar bagian selatan. Kampung itu rentan akan penggusuran dari tahun ke tahun dan nasibnya bergantung pada dialog antara pemerintah kota dan warga. Wilayahnya, yang terbentuk dari buangan tanah urukan pembuatan danau di wilayah GMTDC (Gowa Makassar Tourism Development Corporation), kini makin menyempit. Warga lantas berbagi dan menata ulang permukiman, termasuk bersiasat membangun rumah dengan bahan baku campuran—baik baru maupun bekas. Bagi saya, kreativitas seperti itu patut dirayakan sebagai kemenangan kecil di tengah-tengah keterbatasan.
Bagaimanapun, percayalah, dari penjelasan yang saya tulis sampai di sini, mohon jangan membayangkan bahwa saya dan teman-teman kurator menjalani kewajiban yang kaku dan suntuk, atau berkutat dengan pertukaran gagasan di dalam ruangan melulu. Justru saya mampu menggambarkannya dengan terang lantaran kami melewatinya dengan banyak tertawa. Belajar bersama Charles mengasyikkan karena—bagi saya—bahasa tubuhnya lebih terasa seperti bahasa tubuh “teman lama”. (Atau karena kami tidak tahu apa-apa, Charles pun menjadi lebih mudah mengarahkan kami?)

Charles telah benar-benar mengajari bagaimana cara membuka diri terhadap banyak kemungkinan perspektif dan peluang bekerja. Dalam suatu percakapan kami bertiga, saya, Irma, dan Charles, dalam perjalanan pulang dari Kampung Pisang, saya sampai bertanya “Mengapa kamu kelihatan begitu santai (selama bersama kami dan ketika bertemu dengan yang lainnya)?” Ia hanya menjawab singkat “Why not?” lalu tertawa. Jawaban itu saya kira mencerminkan betapa kayanya pengalaman hidup lelaki kelahiran Skotlandia ini.

Begitu tugas terkait JB 2015 selesai pada triwulan pertama 2016, tentu waktunya pula bagi kami untuk kembali ke habitat kami masing-masing. Saya percaya, apa yang ditunjukkan Charles melalui caranya bekerja kepada kami yang “lucu-lucu” ini bagaikan garis horizon yang harus dikejar.
Setidaknya, kami dan Charles adalah pemandangan yang serasi. Serupa beberapa pohon yang tumbuh berderet. Mungkin kami barulah pohon tanpa buah yang berdaun rimbun semata. Sementara Charles adalah pohon berdedaunan hijau yang penuh kilauan buah yang kuning meranum di ujung tangkai. Begitu JB 2015 usai, buah-buah tersebut akan menjatuhkan diri ke tanah. Lalu tiba giliran kami belajar untuk menjulurkan akar sendiri ke segala penjuru, agar pohon kami dapat berbuah ranum di tengah iklim yang keras.

Dengan begitu, apa yang saya dan teman-teman di Makassar lakukan selama ini (semoga sampai di kemudian hari) membuat kami lebih baik dalam mengelola hal-hal yang kami hadapi kelak.[]



-------

Growing in the Back Row

In the mid 1990s, I went to a painting exhibition in Makassar, which prompted a question in my head: “Can we access the world of art without having the skill to draw, paint, and such?”

The question was pushed to the backburner for about two decades, and only reappeared in september 2015, after another question popped up in a media interview, which was part of my duty as one of the six curators working for the Jakarta Biennale (JB) 2015.

The JB 2015 curatorial team implements a different system from previous editions of the biennale. apart from myself, the JB 2015 management invited curators from three other cities: asep Topan (Jakarta), Benny Wicaksono (surabaya), Irma Chantily (Jakarta), Putra hidayatullah (Banda aceh) and riksa afiaty (Jakarta, Bandung).

We, the team is called ‘the young curators’, have been working since January 2015 while learning a thing or two in the Curators lab program led by Charles esche, the curator of the Van Abbemuseum in Eindhoven, the Netherlands. Based on the JB management’s projection, the system would ease the transfer of knowledge because Charles has the experience of working in respected biennales, such as the São Paolo Biennale and the Istanbul Biennale. In practice, the Curators lab is a learning method that pushes us young curators to jump into the ocean of managing a biennale.

The adjective ‘young’ serves as an indication of how green we are in the process of walking through the thick forest of Indonesian art. But some people, particularly my friends, see it as an issue of age. And thus, ‘young’ became the ‘word of the year’ for me who have renewed my ID card for four times.

Throughout our working process toward the opening of the JB 2015, I underline several important points related to my experience in the Curators lab.

First, art cannot stand on its own, as pointed out by Charles, how “art alone is not enough.” I have become more convinced that we need more perspectives from many other disciplines to respond to or to solve human problems through the world of art.

The background of the curators’ team is quite diverse. Of the team members, only Benny is an artist. I work mostly in the field of literature, asep is a post-graduate student on curatorship, Irma works at a foreign cultural center, riksa manages an art laboratory called artlab at ruangrupa, Putra is a typical quiet and diligent ‘student’—he just received a post-graduate scholarship from another country—and Charles, from what I heard, studied political science.

Second, the management system. I became a member of a working group that consists of so many people who prepare an international-scale event that involves about 70 artists from inside and outside the country, not to mention the sponsors funding this event. Based on my rough estimation, for a two-month event, it requires at least one year for the curators to learn to ‘straighten the rows’ behind the leader Charles esche. Halfway through the end of the preparation, I was introduced by the management to several other people who have actually worked for a long time for the Jakarta Biennale 2015. They include shera rindra M. Pringgodigdo from the communication department, Bagasworo Aryaningtyas or Komeng who is responsible for community project locations, and Adi Setiawan a.k.a. Digel who takes care of the locations of murals. I also correspond with two or three other people in charge with the editorial of the website www.jakartabiennale.net.

At first, I only had a little grasp of what curatorial work entails, based on two things: (1) a short stint related to writing initiatives and several art events in Makassar with my friends in the past decade; (2) working pattern and model estimation based on the curatorial workshop at ruangrupa, Jakarta, in 2009. The magnitude of the Jakarta Biennale 2015, however, forced me to fully concentrate and reserve my energy to maintain my endurance and exploration power. The closest thing to it that I have ever experienced is probably curating and editing manuscripts for the Ininnawa Community and Tanahindie publishers in the past ten years.

Third, I have the opportunity to compare the dynamics of the art scene in Makassar with those in Banda aceh, Jakarta and surabaya. The comparison is based on the practitioners’ network, discourse dynamics, and the growth of the art scene enabled by publication space and support from other parties. Clearly, Curators lab provides the opportunity for the curators to learn from each other’s city in order to observe and respond to the issues in their own place.

Last but not least, fourth: celebrating locals’ small victories. People have been defeated by the political and social structures for so long. Only art and literature give a huge opportunity to voice their hopes, in their attempts for sovereignty. art and literature can become the energy to boost people’s power to maintain the environment and the humans in it.

We recognize this situation when accompanying Charles to meet a number of locals and find out their strategies to face the reality of life. They are the residents of densely populated Kampung Pisang in Maccini sombala, Tamalate district, southern Makassar. The kampong is prone to eviction from time to time and its fate depends on the dialog between the city administration and the residents. The area, which is formed from the mound dumped from a lake construction in GMTDC (Gowa-Makassar Tourism Development Corporation), is getting narrower. People share and rearrange the settlement, including by building houses with a combination of new and used materials. For me, such creativity needs to be celebrated as a small victory amid the limitations.

Nevertheless, as you read my explanation so far, don’t imagine that my fellow curators and I carried out rigid and lengthy assignments, or stuck in a confined space while exchanging ideas. We actually laughed a lot. learning with Charles is so much fun for me because he has a gesture of an ‘old friend’. (Or maybe since we know next to nothing, it was easier for Charles to direct us?)

Charles really taught us to open up to so many possibilities, perspectives and opportunities. In a conversation with Charles and Irma, on the way back from Kampung Pisang, I asked him, “Why did you look so relaxed (with us and the others)?” to which he replied, “Why not?” and laughed. It showed just how rich the life experience of the scottish man is.

Once our task is completed in the first quarter of 2016, it would be time for each of us to go back to our habitat. I believe the way that Charles has shown us, ‘the fledglings’, is the horizon to pursue.

At least Charles and us were a sight to behold, like a row of neatly arranged trees. Maybe we are the shady trees that have yet to bear fruits, while Charles is a lush green tree with dangling, ripe produce. Once the JB 2015 is over, the fruits would fall on the ground. It would be our turn to learn to expand our roots into various directions, to enable our trees to produce fruits amid such harsh climate.

Therefore, whatever my friends and I in Makassar do so far (and hopefully in the years to come), it will make us grow to be better in managing what we will face later on.[]

Jumat, Oktober 14, 2016

Sosiologi Desa: Revolusi Senyap dan Tarian Kompleksitas

Sosiologi Desa: Revolusi Senyap dan Tarian Kompleksitas (cet. II) 
Darmawan Salman 
Penerbit Ininnawa - ISPEI 
Oktober 2016

Revolusi senyap yang terjadi di desa-desa di Indonesia merupakan perubahan cepat dan mendasar tanpa disertai hiruk pikuk gerakan sosial, gaung penumbangan rezim, dan romantisme pembongkaran sistem, dalam peristiwa yang berdarah-darah.

Perkembangan itu justru terjadi ketika padi pada desa persawahan dan dataran rendah serta kakao pada desa dataran tinggi dan pinggir hutan bermodernisasi dalam apa yang disebut revolusi hijau. Inilah yang terjadi ketika penangkapan ikan, budidaya tambak, dan rumput laut bermodernisasi dalam apa yang disebut revolusi biru. Revolusi ini juga berbasis inovasi: kebaruan dalam teknika dan kelembagaan yang lahir dari kekuatan pengetahuan, dalam pertemuan antara pengetahuan yang diadopsi dari luar dengan pengetahuan yang dipelajari sendiri dari pengalaman, secara kontestual pada spasial masing-masing. Revolusi ini terjadi di balik hiruk-pikuk proyek, gaung bantuan, dan romantisme intervensi. Ukuran peningkatan berlipat gandanya produksi pangan, hasil perkebunan, dan perikanan; bukan heroisme jatuhnya rezim, bukan romantisme tumbangnya kelas borjuis.

Inilah kesenyapan yang berlangsung di tengah perubahan yang sebenarnya substantif, cepat, serta menyentuh akar kemasyarakatan dan kebudayaan kehidupan kita.Desa adalah unit paling lokal, dalam rentang variasi yang paling luas, dan dalam kespesifikan yang paling beragam, yang lalu berinterkoneksi dalam jejaring satu-sama lain, membentuk jalinan rhizoma atas perubahan itu.

Apakah kita masih bisa berharap atas deretan perubahan tersebut? Pengalamannya di desa-desa Sulawesi dan sekitarnya serta bekal sejumlah literatur yang menjadi wilayah kajiannya selama ini, Darmawan Salman mencoba membedah kenyataan itu dan mengurai harapan-harapan apa yang bisa kita dapatkan dari revolusi senyap yang berlangsung di desa-desa.[]

Kamis, September 15, 2016

Ekspedisi Pelayaran Akademis II 2011

Ininnawa - KORPALA UNHAS

EKSPEDISI PELAYARAN AKADEMIS II 2011
Menapaktilasi Jalur Pencari Teripang Makassar – Australia
Penulis: Ostaf Al Mustafa
Editor: Anwar Jimpe Rachman
Penerbit: Ininnawa - KORPALA UNHAS
ISBN: 978-602-71651-6-8
xi + 242 hl

Enam anggota Korps Pencinta Alam (KORPALA) Universitas Hasanuddin, dengan mengendarai sandeq, perahu tradisional Mandar, menapaktilasi jalur yang pernah dilalui para nelayan dari Makassar menuju Australia Utara untuk mencari teripang. KORPALA UNHAS menyebutnya Pelayaran Ekspedisi Akademis II yang berlangsung 2011.

Pelayaran EPA II 2011 menapaktilasi rute pelayaran yang berlangsung sejak abad ke-15 hingga awal abad ke-20 ini ketika demam teripang merebak di Nusantara, fenomena yang mengubah Makassar sebagai pelabuhan utama teripang dalam kurun waktu itu, demi meladeni permintaan dari utara, Negeri Tiongkok. 

Sejak pencari teripang dari Pelabuhan Makassar menginjakkan kaki di pesisir Australia Utara, saat itu pula hubungan pelaut dari Makassar dengan masyarakat Aborigin berlangsung—mulai dari industri modern pertama Australia, hubungan kebudayaan, teknologi, seni, hingga kisah cinta di antara mereka. 

Penggodokan awal gagasan EPA II dari Makassar ke Darwin, Australia bagian utara, digelar oleh KORPALA-UNHAS tahun 2005. Rencana ini dimulai sembilan tahun setelah keberhasilan EPA I tahun 1996, pelayaran yang memberangkatkan dua sandeq ke Malaysia dan Brunei Darussalam, yang juga diceritakan dalam buku ini.

Jumat, Agustus 19, 2016

Bom Benang: Catatan Kuratorial


KEKERASAN yang dialami kalangan anak, remaja, perempuan, dan antar komunitas memicu meningkatnya aksi kejahatan dan angka korban kekerasan. Menurut data Komisi Anti Kekerasan Terhadap Perempuan,[1] angka kasus kekerasan terhadap perempuan yang ditangani oleh pengadilan agama semakin meningkat dari tercatat 14.020 (2014) menjadi 293.220 (2015). Ini belum termasuk kasus yang tidak dilaporkan lantaran banyak sebab, seperti keengganan akibat tekanan stigma yang berpeluang mengerdilkan mental korban.
Berdasarkan penelusuran data dan wawancara langsung korban dan pelaku kekerasan, dapat ditarik kesimpulan bahwa cara berkomunikasi dalam keluarga menjadi salah satu pemicu. Model komunikasi ‘satu arah’ menjadi salah satu hal yang menyebabkan persoalan ini.
Ini mengakibatkan kekerasan yang berdampak munculnya anggapan anggota keluarga bahwa rumah atau keluarga tidak menjadi tempat yang aman dan nyaman. Sejatinya, lingkungan keluarga menjadi fondasi dan tempat para anggotanya untuk mengekplorasi diri dan berekspresi secara sehat.

POSISI BERKOMUNIKASI itu juga menjadi titik yang disadari Komunitas Quiqui selama ini dalam berkarya. Empat kali dalam ajang Bom Benang, mereka menjadi seniman, kalangan yang ‘dilayani’, meski dengan sengaja mengajak warga (dalam skala kecil) untuk berperanserta dalam ajang ini. Kini, dalam Bom Benang 2016, mereka berubah peran. Quiqui menjadi penghubung antara karya dan warga. Mereka melepaskan diri dari atribut ‘seniman’.
Ini kemudian menjadi landasan utama Quiqui untuk ajang tahunan “Bom Benang” yang kini memasuki tahun kelima. Mereka menantang diri mengubah posisi seniman dan orang sekitar—yang biasa hanya sebagai penonton atau warga yang berpartisipasi. Mereka mengajak sekelompok warga menjadi kreator karya.
Tahun ini, Quiqui mengangkat tema “Benang Kandung” (Yarn-Womb) yang berlangsung pada Mei - September 2016. “Benang Kandung” sejatinya adalah judul yang memplesetkan istilah kekerabatan seperti “anak kandung”, sebagai cara menunjukkan bahwa orang-orang bisa saling terhubung dalam ikatan yang karib, menggunakan medium benang, sebagaimana layaknya hubungan antara ibu dan anak.
Quiqui memilih tema ini dari endapan pengalaman sekaligus konsentrasi mereka terkait isu kekerasan dan keluarga. Mereka mencari 5 (lima) lokasi dan memfasilitasi terbentuknya kelompok warga melalui rangkaian lokakarya hingga kelompok tersebut siap berpameran.
Pemilihan lokasi-lokasi ini tidak dilakukan acak. Didampingi tim dokumentasi dan tim peneliti/penulis, mereka mencari lokasi di perkampungan kota yang padat penghuni, yang dalam berdasarkan penelitian, lokasi yang dianggap rawan terhadap tindak kekerasan dalam keluarga.

DI TENGAH waktu yang pendek, mereka menemukan mitra kerja di lima komunitas, yakni (1) Jalan Sukaria 13 B, Kelurahan Tamamaung, Panakkukang; (2) Jalan Barukang III, Kelurahan Pattingaloang, Kecamatan Ujung Tanah; Lorong Mawar, Jalan Toa Daeng 3, Kecamatan Manggala; (4) Jalan Rajawali, Kawasan Mariso Baru; dan (5) Jalan Barukang IV, Kelurahan Pattingaloang, Ujung Tanah.
Kelima kawasan berpenghuni padat ini adalah bukti tentang narasi pengumbar kata ‘pembangunan’. Istilah ini menjadi rancu di Indonesia lantaran mengandung kata ‘bangun’ (to build, bukan to develop atau ‘tumbuh lebih matang’) atau ‘hard-infrastructure’, usaha dan upaya mengadakan sesuatu dari tidak ada.
Tampaknya, inilah salah satu sebab mengapa warga masih menjadi penonton pembangunan. Beginilah jalan pikir ala Orde Baru melihat negara (desa dan kota) ini dalam logika “pemulihan dari kefakiran”, dengan tanpa henti menggelontorkan program bantuan dan meng-ada-kan yang belum ada, perihal yang terjadi pula di Kota Makassar. Jalan berpikir semacam ini terus bertahan, bahkan setelah Orde Baru tumbang.
Memang, tak ada yang lebih berbahaya dari pada warisan cara berpikir. Hal ini kian menihilkan pembangunan ‘soft infrastructure’, tentang upaya membangun inisiatif, keberdayaan, dan kesadaran warga.
Tak ada cara lain: warga harus menolong diri mereka sendiri.[]

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP