Jumat, Agustus 31, 2012

Suara-suara yang Terbit di Ufuk Timur

Windah, Andi Fadly Arifuddin, Ningsih Millane, dan Nina Lim sepanggung di MIWF (foto: Armin Hari) 

RINI IRMAYASARI masih penasaran. Penulis cerita pendek berdarah Jawa-Papua ini bertanya-tanya, bagaimana penilaian tim kurator Makassar International Writers Festival (MIWF) sehingga ia mendapat undangan sebagai emerging writers fellowship awardees 2012 (beasiswa untuk penulis baru)?

“Saya setuju kalau dikatakan MIWF sebagai upaya memunculkan (memperkenalkan) penulis dari Indonesia Timur. Tapi saya juga masih bingung tentang kepenulisan Indonesia Timur di luar Makassar. Setahu saya, dibandingkan Papua, kehidupan bersastra dan menulis di daerah Indonesia Timur lainnya lebih ‘maju’,” jelas Rini, perempuan kelahiran 1983 silam.

Menurut Luna Vidya, salah seorang kurator MIWF 2012, penyebaran karya-karya sastra di kalangan penulis Papua lebih merebak semarak di dunia maya ketimbang media cetak. Menurut perkiraan Luna, suara-suara yang muncul dari karya sastra Papua kebanyakan membisikkan dan meneriakkan kemerdekaan Tanah Papua. Cukup riskan bagi penulisnya jika menyiarkannya lewat media cetak karena alasan keamanan.

Rini dalam kesempatan lain via surat elektronik membenarkan Luna. Penyiaran karya-karyanya sejak 2007-2012 berlangsung di tiga tempat: blog, grup Sastra Papua di Facebook, dan website. “Jangan kaget kalau saya terpaksa memakai beberapa nama pena yang berbeda. Ya demi satu dan lain hal saja mengingat ada beberapa cerpen dan puisi saya yang pernah membuat saya merasa ‘dibayangi’,” jelas perempuan yang hingga kini masih menyamarkan akun Facebook.

Salah satu jalur penyiaran Rini dan kawan-kawannya adalah www.yaswarau.com. Situs ini sendiri tak jelas lagi nasibnya kini. “Saya tak tahu apakah kembali kena banning (tangkalan) atau serangan virus. Padahal di situs ini hampir semua manuskrip cerpen saya unggah selama lebih dari 4 tahun,” papar Rini.

Emil Amir, salah seorang penulis emerging writer, pun menanyakan hal serupa yang ditekankan Rini. Beberapa kali ia membicarakan ini pada penulis yang hadir. Direktur MIWF, Lily Yulianti Farid mengatakan, peran yang diemban MIWF sebatas memperkenalkan karya, terutama penerima emerging writer fellowship awardees. Dengan mengikutkan festival, kemungkinan pembacaan karya mereka menjadi lebih luas, sehingga membuka kesempatan terjadinya dialog terkait karya bersangkutan. Untuk pelaksanaan 2012, MIWF meluaskan cakupan berskala Indonesia Timur. Tahun sebelumnya, tahun 2011, MIWF hanya mengundang penulis dari Makassar.

“Harus kita akui kenyataan, penerbitan karya-karya penulis di Indonesia Timur tidak seluas Jawa dan Sumatra yang ditopang media massa yang memberi tempat khusus. Di Makassar pun itu tidak terjadi,” ujar Lily.

Karenanya, MIWF mengundang emerging writer secara tertutup via surat elektronik. Aslan Abidin, Luna Vidya, M Aan Mansyur, dan Shinta Febriany—sebagai tim kurator MIWF—bekerja keras mencari penulis yang dianggap penting mendapat undangan. Sebagai contoh, untuk menemukan Emil Amir, tim MIWF mencari tahu ke Forum Lingkar Pena (FLP), komunitas tempat Emil kerap bergiat. Karya Emil, lelaki kelahiran Sinjai, 200 kilometer dari Makassar, sempat diterbitkan di sebuah harian terkemuka di Jakarta dan memenangkan beberapa lomba penulisan cerita pendek.

Sudah tentu, dari soal nama, MIWF menjadi ajang berskala besar tempat pertemuan sejumlah penulis. Mereka yang mengambil peran selama lima hari kegiatan, antara lain Ahmad Tohari, Ahmad Fuadi, Akmal N Basral, Bernice Chauly (Malaysia), Butet Manurung, Elizabeth Pisani (Inggris), Fauzan Mukrim, Jennifer Mackenzie (Australia), John H. McGlynn (USA), Kent MacCarter (USA), Khrisna Pabichara, Mochtar Pabottingi, Novi Dwi Djenar, Ng Yi Sheng (Singapura), Nurul Nisa, Omar Musa (Australia), Uthaya Sankar SB (Malaysia), Wendy Miller (Australia), Xu Xi (Hongkong). Selama kegiatan, mereka narasumber workshop, pembacaan karya, kupas buku, pemutaran film, dan beberapa kegiatan yang berlangsung 13 - 17 Juni 2012 lalu.
Luna Vidya membacakan sajak di MIWF. (foto: Armin Hari)
Namun, sejatinya, kata Farid Ibrahim, salah seorang penyokong Rumata’, ajang ini adalah sebentuk perayaan kecendikiawanan. Setiap tahun mengusung sosok-sosok penting dunia ilmu pengetahuan Sulawesi Selatan. MIWF tahun lalu merayakan warisan kerincian kerja intelektual seorang munsyi Bugis bernama Muhammad Salim yang meninggal tahun 2011. Tahun ini mengangkat pentingnya upaya mendiang Mattulada, yang disebut sebagai ‘penghulu adat Sulawesi Selatan’. Karya-karya penelitian Mattulada hingga kini menjadi kutipan sejumlah penelisikan dan penulisan kawasan selatan Pulau Sulawesi. Salah satu karyanya yang menggaung hingga kini berjudul Latoa, Suatu Lukisan Analitis terhadap Antropologi Politik Orang Bugis. Mochtar Pabottingi, peneliti senior bidang politik LIPI, diundang untuk mengupas pokok pikiran Mattulada di hari pertama festival.

MIWF adalah festival berskala internasional yang dilaksanakan rumah budaya Rumata’ Art Space, secara harfiah berarti ‘rumah kita’. Rumata’ berdiri atas prakarsa Riri Riza dan Lily Yulianti Farid. Riri yang sejak lama bergelut di dunia film merasa terpanggil menumbuhkan kehidupan kegiatan seni dan kebudayaan di Makassar, kota yang pernah membesarkannya. Bertemulah Riri dengan Lily, sastrawan dan mantan wartawan yang sekarang tengah menempuh studi di Australia.

Kekuatan media sosial tampak nyata di MIWF. Taman Benteng Fort Rotterdam penuh penonton. Malam-malam sepi benteng peninggalan Belanda di bibir pantai barat Makassar ini akhirnya pecah selama lima hari berturut-turut. Para penonton ini adalah sebagian besar datang karena penyiaran jadwal dan kegiatan MIWF lewat akun @mksrwriterfestival di jaringan sosial Twitter.

Inilah hal yang paling menggembirakan bagi pihak penyelenggara pihak Rumata’. Kalangan yang aktif di dunia ‘microblogging’ datang lalu menjadi penikmat baru sastra. Dan sastra yang dianggap sebagai hanya kalangan tertentu kini telah merebut penyimaknya sendiri, setidaknya untuk konteks Makassar. Mereka datang untuk menyimak langsung pembacaan dan pertunjukan karya sejumlah penulis undangan, dari ranah Indonesia bagian Timur, Indonesia, dan sejumlah penulis dari mancanegara.

Tak ada jalan lain bagi panitia selain memaksimalkan media sosial. Jangkauannya yang luas berhasil mengundang warga Makassar dan sekitarnya untuk turut andil merayakan MIWF. Mengandalkan peliputan media massa nasional seperti menggantang asap.

Peran media sosial pun, bersengaja atau tidak, telah melakukan perlawanan terhadap pendominasian wacana yang dikembangkan media-media ‘meanstream’ pusat (baca: Jakarta) dan sekitarnya. Makassar bercitra kota yang rusuh. Saban waktu tersiar berita demonstrasi (yang kerap disebut menjurus ‘anarkistis’). Dalam catatan pelaksana, hanya media lokal yang memberi ruang untuk ajang ini, mulai media cetak sampai beberapa radio di kota yang berjuluk Kota Daeng ini.

“Menyenangkan bagi penulis dan pendengar karena bisa saling menyapa satu sama lain. Mereka menjelaskan proses berkarya mereka dan berbagi dengan pendengar, sekaligus memiliki ruang untuk bertanya langsung serta membacakan cuplikan karya mereka,” kata Lily Yulianty.

Inilah satu-satunya cara melawan ‘pengucilan’ media terhadap kegiatan di luar dari pencitraan yang berlangsung itu. Bagaimana tidak, pengalaman seorang wartawan media online membuktikan sisi ini. Menurut sang wartawan, ia sempat mengirim foto-foto kegiatan ini. Tapi ia belum mendapat jawaban kenapa tak sampai ditayangkan.

“Di saat yang bersamaan, terjadi juga perkelahian di UNM (Universitas Negeri Makassar). Teman-teman wartawan, atas suruhan para redaktur di Jakarta, memilih meliput itu. Apa benar kota ini mau dicitrakan seperti itu?” tanya Lily.


Perlu waktu untuk menjawab pertanyaan Lily. Satu yang pasti, ragam suara dari ufuk timur Indonesia akan terus terbit. “Tunggu kami tahun depan!” pungkas Lily.[]



*Disiarkan http://makassarnolkm.com/ edisi 30 Agustus 2012.

Kamis, Agustus 23, 2012

Firman Djamil, Pendobrak di Jalan Setapak


(Tulisan ini merupakan tulisan pertama saya tentang Firman Djamil. Tulisan ini disiar oleh Panyingkul! pada 27 Juli 2007 silam.)
Pertunjukan Firman di perbatasan Mamasa-Toraja. (foto: koleksi pribadi Firman Djamil)
MOBIL kijang coklat kopi susu berplat merah DD XXX AI berhenti di sekitar pintu selatan Mal Panakkukang sekitar pukul 17.00 Wita sore itu. Tampaknya si mobil sedang menunggu seorang ibu berkerudung yang tergopoh membawa tas plastik penuh barang belanjaan. Begitu pintunya terbuka, si ibu langsung menyimpan tas yang kembung itu di kursi belakang. Sekitar 10 meter di belakang mobil, tangan Firman Djamil naik dan menunjuk. “Lihat itu. Kok pakai plat merah pergi belanja. Apa ndak malu?” katanya, seraya membetulkan topi. 

Lirih tapi tegas. Matanya menatap tanpa kedip ke mobil tersebut. Saya membalas ucapannya dengan senyum lalu menandaskan kopi yang tersisa, di salah sebuah meja ruang bebas merokok di Café Coral Mal Panakkukang. Sebelumnya, kami sepakat bertemu di sana. Banyak yang kami obrolkan. Begitu magrib lewat, kami pun pulang.

Protes terhadap kebiasaan aparat pelaksana administrasi daerah dan negara itu sering saya dengar meluncur dari bibir Firman Djamil, baik lewat obrolan maupun di forum resmi. Di sebuah seminar nasional kebudayaan yang digelar untuk peringatan ulang tahun Makassar akhir Juni 2007 lalu, ia berkeluh kesah perihal rencana pemerintah yang disebutnya tidak tahu memperlakukan Benteng Somba Opu. 


Alasan yang berhubungan dengan protes ini pernah Firman ungkapkan dalam sebuah kesempatan saya berkunjung ke studionya di Benteng Somba Opu beberapa waktu lalu. Di sekitar studionya yang berbentuk rumah panggung, staf salah satu dinas pernah datang. Mereka berencana untuk melapis permukaan tanah sekitar rumah panggung tersebut dengan pavin block. Jelas saja Firman protes. “Kok mau disemen. Apa tidak mikir kalau cara-cara begitu bisa bikin banjir,” katanya menggerutu, seraya mengulung lengan kanan kaos oblongnya. 

Hingga kini, studio di kawasan Lekoboddong Kompleks Benteng Somba Opu itu tetap dikelilingi pohon rimbun. Sungguh sebuah tempat istirahat yang nyaman. Sejuk dan damai. Nyaris hanya suara Wen, nama angsa peliharaannya, yang sesekali terdengar berseru bila ada tamu, atau peringatan adanya bahaya seperti kadal yang datang dari Sungai Jeneberang yang mengalir di belakang rumah tersebut. 

PROTES Firman seperti yang sudah tersebut tidak cuma dalam bentuk gerutu atau obrolan di warung kopi, tempatnya kerap mengepulkan asap rokok Dji Sam Soe, Pall Mall, dan Lucky Strike yang selalu dibelinya bersamaan. Ia tumpahkan kekecewaan dan pesan pengingat kepada khalayak — baik pemerintah, kaum bermodal, maupun masyarakat sendiri — ke dalam karya-karya seni rupanya; mulai dari sketsa, lukisan, karya instalasi, hingga dalam wujud seni pertunjukan (performance arts). 

Wajarlah bila menonton seni pertunjukan outdoor yang digagas Firman biasanya bertema tentang korupsi, nepotisme, kolusi, kerusakan lingkungan — yang kesemuanya adalah percabangan dari keserakahan manusia. Sebutlah Tujuh Manusia I Lagaligo yang dipentaskan di Kantor Gubernur Sulawesi Selatan pada 1998 lalu.

Sebelum pementasan, bibit-bibit pohon itu disemayamkan di Benteng Somba Opu, Fort Rotterdam, dan membawanya ke kompleks Kantor Gubernur Sulawesi Selatan, yang kala itu dipimpin Zainal Basri Palaguna. Di depan kantor yang berada di kawasan berbukit dan berpohon jarang itulah bibit-bibit itu ditanam. Tunas-tunas pohon tersebut kemudian merimbun dan dapat kita lihat setiap melintas di depan kantor orang nomor satu Sulsel tersebut. Pertunjukan itu, kata Firman, diharapkannya menjadi pengingat bagi para birokrat agar terus memerhatikan kelestarian lingkungan hidup dalam setiap agenda pembangunan. 

Seperti happening art dan performance art yang digagas sebelumnya, penonton bebas menentukan posisi mereka. Bahkan keterlibatan mereka dalam pertunjukan itu tidaklah dilarang. Bagi Afrizal Malna, cara ini diibaratkannya sebagai sebuah “jendela yang terlempar”; ketika bingkai pertunjukan semakin relatif, di saat penonton bebas menentukan posisinya di mana pun menonton. 

Tema senada juga disampaikan pula dalam karyanya bertajuk Suara dari Dalam (The Insider Voice Comes Up) yang ditampilkan Firman di Janggungbong Nature Art Park, Gongju, Korea Selatan, pada 16 Agustus 2004. Sebuah lingga yang dibuat dari pecahan batu gunung sekira 550 sentimeter. Di sekitar lingga, Firman kemudian memulai pertunjukannya dengan membenturkan sebilah pipa ke batu. Pipa yang menimbulkan bunyi dentang seperti lonceng kematian. Dentang itu kemudian ditingkahi seorang pria bulai gondrong yang meniup Didgeridoo (alat musik tiup penduduk asli bagian utara Australia). Firman beralih menyalakan chain saw (gergaji mesin). Gergaji itu diputar-putarnya. Bahkan adegan berbahaya pun dilakukan. Ia memasukkan gergaji mesin itu ke dalam baju kaos yang dikenakannya. Tentu saja kaos abu-abu itu lantas koyak. Setelahnya, masih dengan gergaji mesin di tangan, Firman lalu mengiris semangka yang digantung tak berdaya. Gergaji kemudian diputar-putar di udara. 
Prosesi itu merupakan presentasi yang dilakukan Firman kepada publik atas Suara dari Dalam yang dikerjakannya selama 3 bulan dan disokong oleh Pemerintah Korea Selatan. Sebuah prosesi yang disebutnya sebagai ‘ritual tumbuhan dan ritual mesin’. Ia hendak mengingatkan bahwa mesin yang agresif hanya akan merusak tumbuhan yang pasif. 

Tapi Suara dari Dalam berdiri di situ bukan sekadar monumen. Karya tersebut juga mengajak para pengunjung untuk berpartisipasi dalam pelestarian lingkungan hidup. Di sekitar lingga terdapat tulisan yang isinya mengajak pengunjung untuk melemparkan biji-biji tumbuhan ke tiang tersebut. Biji tanaman yang kelak tumbuh akan disemai menjadi bibit yang akan ditanam lagi di sekitar taman yang dikelola Gongju Communication Arts College. Hingga kini, Suara dari Dalam berdiri permanen di taman konservasi alam Negeri Ginseng itu. 

Karya permanen Firman yang lain berjudul Stone Grow, juga berdiri taman patung Mugla University Art Park, Turki. Karya yang diinspirasi oleh Batu MemmanaLeang-Leang diperuntukkan sebagai referensi penyadaran tentang perspektif dalam konteks mitologi dengan konsep modernitas dalam sebuah implementasi pada tatanan sebuah kota. “Karena dalam konsep kota, batu tumbuh hanya berbentuk beton. Pertanyaan kemudian, kenapa membangun kota; kenapa bukan desa?” gugatnya. 

(Pertanyaan itu mengingat saya seruan Iwan Fals dalam lagu Desa: …desa harus jadi kekuatan ekonomi/agar warganya tak hijrah ke kota/sepinya desa adalah modal utama/untuk bekerja dan mengembangkan diri/…/desa adalah kekuatan sejati/negara harus berpihak pada para petani/…/di lumbung kita menabung/datang paceklik kita tak bingung/masa panen masa berpesta/itulah harapan kita semua…) 

Karya ini melalui seleksi ketat di ajang penyelenggara Sculpture Competition at II International Workshop and Exhibition on Carian Stone yang kemudian memilih 10 perupa dari berbagai negara. Hasil seleksi tersebut kemudian dirangkai dengan workshop selama sebulan, yang kemudian melahirkan karya itu. 

Baginya, seni lingkungan yang digelutinya sebagai upaya mengajak manusia untuk menjaga keseimbangan ekosistem alam dengan menyerahkan kembali alam pada ‘masyarakat etniknya’, dengan mitos-mitos yang dimilikinya sebagai ahli waris penjaga norma-norma keseimbangan alam. “Seni adalah alternatif solusi moral, mencoba menafsirkan simbol-simbol mitologi lama menjadi mitos-mitos baru dalam proses kreatif seni saya,” tegasnya.

Karya Firman Djamil di Janggungbong Nature Art Park, Korea Selatan. (foto: Koleksi pribadi) 
PERTUNJUKAN yang saya saksikan lewat video rekaman itu mengilukan gigi saya, terutama tersebab adegan menggunakan gergaji mesin. Beberapa penonton juga yang tertangkap kamera dalam rekaman tersebut memegangi bibir mereka, mungkin sekali karena was-was. Sebenarnya, kata Firman, beberapa temannya juga sering menegur agar berhati-hati melakukan gerakan yang bisa saja membuatnya celaka. Tapi kata Firman, kalau pentas begitu sensitivitas tubuhnya malah meninggi.

“Mungkin karena adrenalin juga ikut naik. Makanya waktu saya di Jepang, saya heran sendiri waktu bisa menancapkan chain saw di tanah dengan gerakan kayang. Kalau kamu suruh saya kayang sekarang, saya sudah tidak bisa lagi,” ujar lelaki kelahiran Bukaka-Bone 5 Februari 1964 ini. 


Karena adegan-adegan itulah banyak teman dan sesama seniman menganggapnya kerasukan roh bila pentas. Padahal, kata Firman, ia sangat sadar. Sesadar-sadarnya. Bukan hanya adegan gergaji seperti tadi yang bisa membuat celaka. Menjunjung api yang menyala dalam dupa pun sebenarnya dirasanya begitu panas, seperti yang pernah dilakukan tatkala ia tampilkan The Shadow of Hand dalam IIA Festival di Byron Bay, Australia Juli 2005 lalu. Hanya saja, berkat sensor inderanya yang lebih sensitif, mendorong tubuhnya bisa membuat gerakan pertunjukan yang dapat menjadikannya aman dan nyaman. Ditambah lagi kelenturan tubuh Firman dalam menyajikan performance arts yang dimungkinkan oleh latar belakang yang pernah belajar tari ketika mahasiswa dulu. Hanya saja, untuk membuat pertunjukan seperti itu, ia sangat membutuhkan bunyi gendang, yang disebutnya, mampu memberi semangat lebih dalam setiap pertunjukan. 

PERKENALAN Firman dengan seni lingkungan ini dimulai di tahun 1990-an lalu. Ketika itu ia bertugas sebagai guru di Desa Tabang (yang masuk dalam wilayah administratif Toraja) dan Massanda (masuk wilayah Mamasa—Sulawesi Barat sekarang). Kala itu ia melihat dan merasakan langsung perubahan sosial kemasyarakatan di kedua desa yang sebagian besar warganya menanam kopi. Dua desa tersebut belum mengenal mesin pada rentang waktu itu. Segalanya masih tradisional. Untuk memasak nasi pun para perempuan setempat memulainya dengan menumbuk padi di lesung dan memisahkan antara kulit dan berasnya. Kalau pun ada yang langsung memasak beras, kata Firman, hanya pegawai karena mendapat jatah beras dari Bulog. 

Tapi sedikit demi sedikit, perubahan terjadi di kedua desa ketika harga kopi naik melangit. Pada petani yang menjual kopinya membawa pulang uang begitu banyak. Firman melihat sendiri beberapa petani membawa karung gemuk berisi lembaran uang yang terikat. “Tapi penduduk tidak tahu mau diapakan uang sebanyak itu,” ujarnya. 

Bau timbunan uang di desa tersebut akhirnya tercium hingga ke kota. Perlahan tapi pasti, para pedagang kemudian merambah menjajakan dagangan di desa yang mengharuskan orang berjalan kaki sehari untuk mencapainya. Singkat cerita, penghuni desa kemudian mulai mengenal televisi, yang mengharuskan mereka membeli generator karena desa belum mendapat aliran listrik PLN. Dari televisi penduduk mengenal sinetron dan iklan. Perempuan-perempuan desa pun mengenal kosmetik karena ingin seperti orang-orang yang ada dalam televisi. Kaum adam pun mulai malas, bahkan, meninggalkan lahan-lahan mereka karena lebih doyan menghabiskan waktu di depan televisi. 

Kenyataan inilah yang menggerakkan Firman untuk merancang sebuah performance art. Ia menghimpun sekitar 40 warga desa—yang terdiri dari guru, pegawai, anak, dan remaja setempat—untuk dilatih menari. Setelah dirasa latihan cukup, pertunjukan yang dijuduli Tedongna Tondok Toraya na Kondo Sapata di Paurungan pun digelar di tengah sawah. Dalam pertunjukannya, ia menampilkan ritual di tengah sawah becek yang belum digarap. Dipasangnya kelambu sebagai ‘rumah dewa’, tangkai padi, obor, dan merancang ritual untuk dewi padi. Firman dan para pemain pertunjukan menari dan bernyanyi tembang-tembang Toraja di lahan yang berlumpur itu. Para penduduk desa menonton pertunjukan dari sawah yang berundak-undak. Dan lahan yang mereka pakai dengan sendirinya terolah karena permainan dalam pertunjukan tersebut. "Kesertaan warga setempat itu sangat penting, membangkitkan kebanggaan mereka akan adat maupun budaya milik mereka sendiri," paparnya, yang dikutip Kompas edisi 11 Agustus 2003. 

JALAN yang ditempuh lelaki langsing berambut panjang ini tidak mendapat tempat di Indonesia. Setidaknya hal ini beberapa kali ia lontarkan dalam obrolan. Diperparah lagi dengan gairah seni di Makassar, tempatnya berkarya, sama sekali tak memberinya kesempatan besar untuk mengembangkan idenya. “Kesenian kita di Makassar sekarang lebih mengabdi pada partai dan politik,” cetus sulung dari 7 bersaudara ini. 

Hal ini wajar terjadi adanya. Hubungan antara pemerintah dan penggiat seni di Makassar, ungkap Firman, hanya dikuasai oleh kalangan tertentu saja. Bahkan pengalaman bersentuhan dengan segelintir orang tersebut pernah ia alami. Satu contoh ia sebut ketika meminta dukungan dari Pemkot Makassar untuk berangkat menghadiri undangan dari panitia sebuah even seni internasional. Dana yang telah cair, bahkan tandatangan pun siap ia bubuhkan, nyaris tak jadi diambil. Untungnya Firman saat itu berkeras dan melewati perdebatan yang panjang. “Soalnya semua bantuan terkait kesenian sepertinya ‘harus’ lewat dia,” ungkap Firman. Ia enggan menyebut nama orang yang dimaksud. 

Seni yang dipraktikkan Firman disebut-sebut sebagai bagian dari seni avant garde, yang oleh Robert Atkins—pengarang buku Artspeak—berasal dari istilah militer ‘Advance Guard’ yang berarti ‘garda depan’; dipakai untuk menggambarkan posisi para serdadu yang berada di garis depan. Sementara dalam seni, penamaan ini adalah istilah yang disematkan kritikus pada kelompok seniman yang menjunjung tinggi ketulenan (orisinalitas). Karenanya, tidak mengherankan bila kelompok pengecimpung dunia seni ini berhasil membuat kejutan bagi lingkungan di mana ia berkarya. Mereka terus berupaya menyajikan sesuatu yang baru, dan menghadirkan karyanya jauh dari pemikiran umum masyarakat sekitarnya. Bahkan bila dianalogikan kesenian adalah jalan raya, maka mereka tidak lain kelompok yang setia menyusur, bahkan membuat, jalan setapak. 

Untuk skala Indonesia, kehadiran seniman jalur ini tidak mendapat tempat di sisi penyelenggara pemerintahan. Lain dengan negara-negara di Eropa yang memang menyubsidi para pekerja seni garda depannya. Negara-negara tersebut member perhatian khusus kepada kelompok seniman itu sebagai usaha menjaga kemungkinan baru dalam berkesenian, yang tentu akan berefek ke antusiasme khalayak dalam menikmati karya seni di negara yang bersangkutan. “Lain dengan kita (Indonesia) yang justru sering mengebiri seniman-seniman kita sendiri,” ujar Firman. 

Kala tulisan ini saya susun, Firman bersibuk mengurus dan melayangkan proposal ke beberapa pihak, plus menawarkan sketsa dan lukisannya. Ia berencana menghadiri 33rd Summer Symposium in Lazarea 2007 dan Summer Symposium in Sovata 2007-Rumania September 2007, serta International Openair Art Expression-Hiki 2007, Tokyo Denki University Jepang, 4 September-14 Oktober 2007.


PRAKTIK-praktik berkesenian yang ditampilkan Firman tak jauh beda dengan kehidupan sehari-harinya. Segala yang mapan selalu coba didobrak. Imej tentang guru yang harus dengan pakaian rapi dan rambut pendek ditepisnya. Ia sempat setia dengan rambut sepunggung diikat, kaos oblong, dan sepatu kets atau boot. Ia melawan segala yang berbau penilaian yang berdasarkan tampakan luar belaka. “Tunjukkan aturannya kalau ada larangan bagi guru untuk berambut panjang,” katanya.

Bahkan membawakan pelajaran seni rupa bagi siswa-siswa sebuah sekolah menengah pertama di Makassar, disebutnya, hanya sekadar ‘meminjam kelas’. Karena pengadaan bahan untuk pelajaran seni rupa kalau tidak ada dari sekolah, ya sediakan sendiri. “Kalau misalnya kelas tidak bisa dipakai, saya ajak anak-anak itu ke bawah pohon mangga. Tempat saya kira tidak ada masalah untuk belajar,” terang dengan mata yang menatap tak berkedip. 

Di antara karya Firman di studio Somba Opu, saya dapati beberapa karya anak didiknya yang tersusun di bilik pribadinya. Karya itu dibuat di banyak matra seperti nyiru dan karton. Gambar-gambarnya sendiri terbuat dari kain perca, guntingan kertas ragam warna, sampai bulu ayam. 
Iri rasanya melihat mereka leluasa mengekspresikan apa pun yang terlintas dalam benak mereka yang kemudian menjadi karya. Sebuah kondisi yang saya tidak alami kala duduk di tingkat yang sama mereka sekarang. Selama sekolah menengah pertama, saya hanya diajari melukis dengan cat minyak. Tak jauh-jauh objeknya. Paling banter ‘pemandangan’; dua gunung yang berdampingan, sebatang jalan lengkap tiang kabel listrik, kiri ada rumah yang letaknya tak jauh dari sawah, sementara kanannya perahu dan laut. Parahnya lagi karena gambar itu nyaris seragam. Entah apa penyebab ini. Bisa jadi penyeragaman ide para pengajar yang tak memberi kesempatan anak didiknya untuk mengembangkan daya imajinasi mereka sendiri. 

Salah seorang alumni sekolah tersebut, Nur Wahida (20) mengungkapkan, ‘Pak Firman’ adalah sosok guru yang dirindukan. Cara belajar yang diterapkan membuat ia dan rekannya bisa belajar dengan santai. Tak jarang pula Firman hanya menjadi motivator bagi siswa-siswanya. “Ia selalu membebaskan siswa untuk menggambar apa saja yang mereka mau,” ungkap perempuan berjilbab yang kini belajar di Fakultas Pertanian Unhas. 

Firman juga tidak serta merta menegur siswa yang bersalah di depan kelas atau sesi pelajaran. Hal-hal yang perlu diperbaiki dilakukan dengan pendekatan langsung ke siswa bersangkutan. Mungkin, kata Indah—panggilan Nur Wahidah, sebuah cara yang diterapkan ‘Pak Firman’ menangani perkembangan mental anak di usia yang beranjak remaja dan dewasa. 

Dalam membimbing siswa, Firman pun sangat menghindari penerapan hukuman dan kekerasan. Ia akan langsung menegur siapapun yang berbuat demikian. Tak segan pula dilapornya ke Komnas HAM. “Ya Alhamdulillah sekarang di sana tidak ada lagi. Tapi saya tidak tahu apa ada kalau saya tidak lihat. Yang jelas, jangan di depan saya-lah,” katanya. 

Apa yang diajarkan dan dilakukan Firman ke anak didiknya adalah sebentuk ‘pemberontakan’ yang terus dilakukan alumni IKIP Ujungpandang ini hingga sekarang, baik kepada birokrat, kalangan bermodal, maupun untuk masyarakat sebagai tempat ia tumbuh dan berkembang. Firman tahu, menyusur jalan setapak, menghindari ramainya jalan raya berkesenian dan bermasyarakat, adalah laku yang memerlukan keteguhan hati. Juga kerelaan menyerahkan diri pada sepi.

Dari jalan setapak itu, Firman terus memendam obsesinya untuk, "Membangun museum yang akan mengabadikan karya-karyaku".[] 

Kamis, Agustus 16, 2012

Menafsir Lontara’ dalam Seni Lingkungan

ChengLong Spiral, salah satu karya Firman Djamil di ChengLong Wetlands International Environmental Art Project, 2011. (sumber foto: firmandjamil.blogspot.com)
AWAL DEKADE 1990-an, sejumlah peneliti suntuk dalam proyek konservasi naskah-naskah lontara’ di satu rumah adat di kawasan Benteng Somba Opu. Rumah itu kediaman Firman Djamil. Sejak itu pula Firman akrab dengan naskah tua peninggalan nenek moyang orang-orang Bugis dan Makassar.

“Saya melihat bahwa naskah kuno itu barang mati yang harus dihidupkan kembali melalui  tafsir, yang menginspirasi kita dalam bekerja estetis,” terang Firman.

Menanggapi yang dialaminya itu, pada 1996, Firman bekerja merancang sebuah pertunjukan, ‘teater instalasi’—begitu ia namai, berjudul Mencari Benua I La Galigo yang Hilang. Ia menyajikan pertunjukan melalui konstruksi bambu berbentuk piramida sekaligus simbol perahu Sawerigading. Presentasi ini berlangsung enam malam berturut-turut di depan Fort Rotterdam.

Berkesenian, bagi Firman, sebaiknya berlangsung dalam prinsip outdoor, terbuka, dari segala perspektif. Kerja estetis ini sangat efektif untuk membuka ruang alternatif yang bisa dibaca sebagai sebuah solusi dari persoalan yang kita hadapi.

“Beberapa lama setelah pertunjukan, teman-teman seniman mencandai saya setiap ketemu, ‘apakah kamu telah menemukan Benua I La Galigo?’. Candaan itu baru mereka sadari setelah Robert Wilson menggarap teater I La Galigo. Fungsi pekerja seni harusnya jadi transformator dalam menafsir ulang masa depan kebudayaan Sulawesi Selatan,” kata Firman.

Pembacaan dan pergelutan Firman Djamil lebih mendalam terhadap teks I La Galigo, utamanya episode Tumpa’na I We Lenrenge, makin mengokohkan akar kerja estetis seni lingkungannya. Tumpa’na I We Lenrenge adalah epiode yang menceritakan tumbangnya sebatang pohon raksasa di dunia I La Galigo bernama I We Lenrenge tumbang karena menjadi ‘tumbal’ dari keinginan Sawerigading—membuat kapal besar untuk menyeberang ke Negeri China agar bisa mempersunting kembarannya, I We Cudai. Bagi Firman, babakan cerita dalam naskah simbolisasi keserakahan manusia memperturutkan keinginannya sampai merusak lingkungan hidup.

Menurut Firman, seni lingkungan sebagai sebuah istilah besar dan luas. Namun inti kerja estetis para penggiatnya lewat pemahaman seni outdoor, kerja estetis yang dipresentasikan di ruang terbuka, tempat segala nilai berebut menawarkan diri. Oleh sebab itu, cara kerja ini tidak melihat sebuah ruang dengan segala apa yang ada di dalamnya semata-mata dipandang sebagai ‘objek’ eksploitasi, tetapi juga melihatnya sebagai ‘subjek’. “Tantangan seni lingkungan adalah bagaimana cara menggunakannya sekaligus mempertahankan sesuatu,” simpul Firman.

Firman mencontohkan bahwa hal serupa sebenarnya sudah dilakukan oleh suku-suku yang hidup di wilayah hutan. Mereka memiliki pandangan arif dalam melakukan berinteraksi dengan alam dan lingkungan. Hutan dianggap sebagai bagian dari kosmik yang harus dijaga. Oleh sebab itu, suku-suku tersebut menciptakan mitos-mitos agar hutan tetap terjaga, seperti ‘menebang pohon ada ular besar yang akan menelanmu bila masuk di sana’. Dan banyak sekali mitos yang dipelihara oleh suku tersebut untuk menjaga hutan mereka, lingkungan mereka, demi kelangsungan hidup bersama.

Firman menyarankan agar Indonesia melakukan hal yang sama dengan pemerintah Brazil, yakni melindungi suku semacam itu. Negara ini, lewat Brazil’s National Indian Foundation (FUNAI) menyiarkan foto-foto dari pesawat yang terbang rendah dan memperlihatkan para penghuni rindang pohon di dataran Amazon yang baru saja pulang berburu.

“Kita tidak perlu mengintervensi kehidupan mereka sebagaimana Badui atau Kajang (masyarakat adat di Bulukumba, Sulsel) yang sesungguhnya sudah eksis dengan gagasan dan konsep kehidupan mereka. Justru mereka harus diberi penghargaan karena tidak membebani orang lain, bahkan bisa survive. Beri mereka kebebasan mengekspresikan ruang kebudayaannya!” cetus Firman.

Hal yang sama, terang Firman, ketika media TV menyoroti kondisi bangunan sekolah-sekolah di pelosok, lanskap, atau materi bangunan sekolah bersangkutan, mulai dari dinding kayu, lantai tanah, sampai atap rumbia. “Itu sesungguhnya menyesuaikan dengan kondisi lingkungan setempat. Dan suasana itu lebih mendukung kehidupan mereka. Kok media mempersoalkan itu? Sekolah di pelosok tidak sama dengan sekolah di kota yang berfasilitas canggih dan terstandar. Kenapa mereka seragamkan situasi di kota dengan situasi di pedalaman sana. Apakah tidak berbahaya ketika arsitektur kota dibawa ke pedalaman? Apakah tidak membuat mereka syok? Apakah itu malah tidak menjadi beban?” papar lelaki yang menyelesaikan pendidikan magister di ISI pada 2011 lalu.

Firman menyebut kata ‘beban’ lantaran sekolah di pedalaman selalu menyesuaikan konteks masyarakat dan sumber daya alamnya. Karenanya, ia mengharapkan bahwa bila melihat persoalan lanskap dan persoalan arsitektural sekolah pedalaman, tidak perlu membikin ukuran dan parameter yang sama dengan yang ada di kota. “Aneh pandangan orang kota terhadap orang di desa!” cetus Firman.

FIRMAN DJAMIL merupakan satu dari sedikit nama pekerja seni lingkungan di Indonesia, selain nama semisal Dadang Christanto. Lelaki kelahiran Bukaka (Bone) 5 Februari 1964 ini kerap mendapat undangan membawakan karya instalasi lingkungannya ke negara seperti Taiwan, Belanda, Korea Selatan, Jepang, Australia, atau Turki.

Momentum Firman bekerja estetis di forum internasional dimulai alumni IKIP Makassar ini menghadiri sebuah forum di Tejakula Bali 1999 silam. Di sana Firman bertemu seniman Jepang, Harada Akatsuki. Akatsuki kemudian mengundang Firman berpartisipasi di forum seni lingkungan Yokohama pada 2000. Dari situlah terbuka jaringan seni lingkungan. Firman menyadari harus berjuang sendiri di tengah lingkungan perkembangan seni Sulawesi Selatan yang ‘tidur’.

“Gagasan kesenian saya adalah keterlibatan. Keterlibatan aspek dan lingkungan di wilayah ini juga saya bawa ketika di (Janggungbong Nature Art Park, Gongju) Korea Selatan. Alasan estetis yang saya ingin katakan waktu itu adalah bumi kita sebenarnya sudah berteriak. Teriakan bumi saya visualkan lewat medium bangunan batu. Olehnya saya beri judul Suara dari Dalam. Maksud saya, tidak mesti kita berteriak. Tapi kita bisa mengajak orang yang memakan buah untuk melontarkan biji buah-buahan ke batu itu dan biji-biji itu kelak bertunas lalu jadi pohon. Area itu adalah konservasi alam yang dikelola. Dan biji yang tumbuh akan dipindahkan ke tempat tanam,” terang Firman.

Bagi Firman yang juga pernah mendalami seni tari dan musik tradisional, seni lukis hanya salah satu periode kerja estetisnya. Itu pun, menurutnya, karena ia pernah berkuliah di Seni Rupa IKIP (sekarang UNM). Firman tidak lagi menggeluti seni lukis lantaran ia menganggap seni ini hanya berulang, tidak membangun paradigma lain secara estetis. Seni harusnya jadi solusi. Seni mesti menjadi peristiwa yang menawarkan solusi.

Karenanya, Firman Djamil hingga sekarang enggan menyebut dirinya seorang seniman. “Lebih nyaman sebagai ‘pekerja seni lingkungan’ saja.”

Tampaknya tanggapan ini Firman lantaran beberapa waktu lalu ia menulis tentang seniman harus menjadi ‘orang biasa’. Ini bertalian dengan seni lingkungan yang berkonsep ‘outdoor’ sebagai konsep praktik senirupa yang tidak memiliki ruang otonomi khusus. Outdoor—yang hingga sekarang belum mendapat padanan dalam bahasa Indonesia lantaran tidak sekadar sebagai ‘luar-ruang’—merupakan ruang yang bebas dan lepas serta mengelolanya butuh semangat kesetaraan (egaliter) dalam menafsir ruang.[]

NB: Disiar pula di http://makassarnolkm.com

Minggu, Agustus 05, 2012

Hikayat Perasan Jeruk Nipis di Kuah Coto

foto: Anwar Jimpe Rachman
Anda ingin tahu kapan saja masa jeruk nipis 
berlimpah dan berkurang di Makassar? Gampang!

Caranya bisa dengan hanya melihat bentuk potongan jerung nipis yang ada di meja warung yang Anda datangi. Bila bentuk potongannya besar-besar berarti stoknya sedang berlimpah. Tapi kalau Anda melihat potongan kecil-kecil, bahkan di beberapa kasus potongan sisa perasan jeruk nipis masih bercampur di mangkuk, sudah jelas pasokan jeruk jenis ini benar-benar sedang berkekurangan.

Jeruk nipis merupakan penyedap rasa organik yang ‘wajib’ ada di warung coto atau warung ikan bakar, dua menu kuliner yang banyak kita temukan di Makassar. Namun, tak banyak yang tahu bagaimana perjalanan jeruk nipis menggelinding sampai ke meja makan warung yang kita datangi selama ini.

Perdagangan jeruk nipis di Makassar berpusat di Pasar Terong. Di pasar yang terletak di Kecamatan Bontoala ini, sebagaimana diketahui, menjadi sentra distribusi semua komoditas yang dikonsumsi warga Kota Daeng dan sekitarnya. Tiga puluhan pedagang memasok jeruk nipis untuk Makassar setiap hari di pasar induk ini, termasuk memasok sekisar 4000 warung coto yang tersebar di Kota Daeng. Salah seorang di antaranya adalah Haji Nanna.

Haji Nanna berdagang jeruk nipis sejak gadis. Perempuan berdarah Jeneponto ini khusus mengirim suplai untuk melayani sejumlah penjual coto dan warung makan. Ia berdagang jeruk nipis sampai sekarang, di usianya empat puluhan tahun. Setiap hari, bila pasokan sedang normal, Haji Nanna memasok 400-500 kilogram per hari untuk warung pelanggannya. Tapi bila pasokan jeruk nipis berkurang, ibu dari empat anak ini menyalurkan jeruk nipis dengan cara mengira-ngira kebutuhan warung bersangkutan.

“Dia akan memperkirakan kebutuhan berdasarkan banyaknya pelanggan datang di setiap warung. Bukan atas dasar permintaan atau siapa yang punya uang cash (tunai). Dia membagi biar sedikit. Intinya, di Pasar Terong, pedagang memelihara pelanggan. Itu berdasarkan prinsip sitallassiki paranta rupa tau atau saling menghidupi sesama manusia,” terang Zainal.

Dua kawasan yang selama ini menyuplai jeruk nipis ke Makassar adalah Luwu (meliputi Mangkutana, Masamba, dan Malangke) dan Selayar (kawasan Bontomanai). Jeruk kedua daerah itu masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Jeruk Selayar disebut-sebut kualitas airnya terbaik karena airnya lebih banyak dari jeruk nipis Luwu. Juga, menurut Zainal Siko, air jeruk Selayar lebih kecut.

“Kekurangannya tidak bisa dikirim antar pulau atau diekspor. Karena buah jeruk Selayar kulitnya lebih tipis. Cepat menguning. Sehingga pelemparannya seputar Makassar,” ungkap Zainal Siko, pendamping SADAR, organisasi pedagang Pasar Terong.

Ini berbeda dengan karakter jeruk Luwu. Karena kulitnya lebih tebal, buahnya bisa bertahan lima hari hingga seminggu. Jadi memungkinkan untuk dikirim ke kota lain seperti Jakarta yang membutuhkan pasokan 40-45 ton/bulan, Surabaya 30 ton/bulan, Kalimantan 30-40 ton/bulan, Ambon 10-20 ton/bulan, sampai ujung timur Papua yang memerlukan 20 ton jeruk nipis saban bulan. Kerap pula jeruk nipis itu diekspor ke Singapura, Australia, Filipina, Malaysia Timur dan Barat, Hongkong, sampai Pakistan.

Kosongnya pasokan itu terjadi sebab dalam setiap bulan terdapat 15 hari pasokan jeruk kosong. Namun, berdasarkan Zainal, pasokan penyangga seperti Bone, Sidrap, dan Sengkang mengirim dalam jumlah kecil. Namun jika suplai tidak memadai, jeruk nipis yang dikirim dari Makassar ke kota lain dikemas ulang lalu dikirim kembali ke Kota Daeng.

“Sering terjadi jeruk dari Makassar yang sudah tiba di Jakarta, dikirim lagi ke Makassar karena tidak ada lagi di Terong. Maksud saya, bisa saja jeruk nipis yang dikirim ke Manado, terus Manado kirim ke Surabaya dan tiba di Jakarta, diminta kirim lagi ke Makassar. Tapi kalau sudah begini, harga bisa mencapai Rp12.000/kg di eceran,” jelas Enal, panggilan karib Zaenal.

Mengapa kekosongan itu terjadi? Menurut Enal, itu lantaran pola tanam petani di Sulawesi Selatan yang bergantung musim. Dengan demikian, waktu pemanenan pun bisa berlangsung di waktu yang bersamaan.

“Tapi kalau penjual bakso kasih ki’ cuka, berarti dia tidak bisa beli lagi jeruk karena mahal karena pasokan lagi kurang!” pungkas Enal, dengan mimik serius.[]

NB: Tulisan ini disiarkan http://makassarnolkm.com edisi 4 Agustus 2012.

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP