Sabtu, Mei 26, 2012

Komputer dan Pasar



Pasar Terong adalah pasar lokal penting di Kota Makassar. Di dalam pasar ini berjalinan hubungan antara pedagang dan warga yang datang, baik sebagai pembeli (karena berkepentingan pada tukar barang dan jasa) maupun sebagai manusia (yang mengutamakan hubungan antara makhluk sosial).

Terong pun menjadi pusat penyebaran komoditas dari berbagai tempat di Sulawesi Selatan dan Barat maupun daerah-daerah sekitarnya. Pasar yang bermula sekisar tahun 1956 ini sekarang menjadi titik distribusi seluruh kebutuhan pokok bagi 56 pasar lokal di Kota Daeng.
Hal ini mendorong beberapa komunitas seperti Komunitas Android Makassar, AcSI (Active Society Institute), SADAR (Persaudaraan Pedagang Pasar Terong), dan beberapa penggiat Kampung Buku bertemu di Kafe Mazzagena, kawasan Boulevard Panakkukang, pada pukul 20.00 Wita, Jumat (25/5) lalu. Dalam pertemuan penuh candaan itu, mereka bersepakat menjalankan program yang menjadi ujicoba. Program lantas dinamai “Komputer dan Pasar”.

Dalam skenario, satu unit komputer (personal computer, PC) akan ditempatkan di salah satu rumah warga. Komputer tersebut akan digunakan sebagai media pekabaran para pedagang Terong. Karenanya, bila memungkinkan, akan mengajak kalangan sponsor (terutama penyedia jasa layanan internet) untuk mengambil peran.

Namun ada beberapa hal yang perlu disiapkan sebelum mewujudkan rencana tadi. Pertama, unit komputernya sendiri. Berkat bantuan kicauan akun twitter @SupirPete2 tentang penelitian ini, seorang warga di Jalan Racing Center menyumbangkan beberapa potong piranti keras komputernya, termasuk motherboard tipe P5G41T-MLX. “Inilah yang perlu kita lengkapi untuk menjadikannya sebuah komputer yang siap pakai,” kata fasilitator pertemuan, DJ Budiharto.


Para Androider Makassar langsung mengulurkan tangan. Seorang anggotanya yang akrab dipanggil Jack menyebut bahwa ia punya casing (peti CPU) yang sudah tak dipakai. DJ sendiri sanggup menyumbangkan monitor lamanya. “Nanti kami juga coba obrolkan ini di grup Android,” kata Deputi Android Makassar, Elu.

Dalam pertemuan itu disepakati bahwa AcSI dan Kampung Buku akan memfasilitasi pelatihan menulis dan belajar membuat weblog bagi anggota keluarga pedagang yang ditunjuk. Enal, perwakilan SADAR, menyarankan bahwa yang paling mungkin dilatih adalah anak-anak pedagang yang sekolah di SMP atau SMA. Soal lain seperti pemeliharaan, para pedagang akan memelihara dan mengusahakan perbaikannya bersama. “Pedagang akan belajar juga mengorganisir diri dengan mandiri,” tambah Enal.

Ini sebagai proyek borongan. Kendati diawali oleh komunitas-komunitas tadi, sejatinya, semua pihak, perorangan maupun lingkup komunitas, partisipan dalam program ini terbuka luas. Semua pihak boleh mengambil peran sendiri sesuai kemampuan dan kesukarelaan masing-masing.

Program ini menjadi satu bagian dari proyek penelitian komputer yang berlangsung selama setahun, mulai Maret 2012 hingga Maret 2013—yang hasil akhirnya bakal berupa pameran dan penerbitan buku. Proyek penelitian ini akan menelisik perkembangan Kota Makassar dengan menggunakan kendaraan bernama ‘komputer’.


Upaya bersama ini tentu telah menegaskan apa yang dikatakan sastrawan peraih Nobel, Orhan Pamuk dalam karyanya, Istanbul, “Saya pikir, Tuhan tidak mengikat kami pada takdir kota ini semata-mata karena kami kaya.”[]

Kamis, Mei 24, 2012

Memindai Cara Berpolitik Orang Bugis dan Makassar

Identitas dalam Kekuasaan 
Hibriditas Kuasa, Uang, dan Makna 
dalam Pembentukan Elite Bugis & Makassar
(Imam Muhajidin Fahmid)
Ininnawa-ISPEI
Juni 2012
343 hl + vi 
Rp 82.000

Bugis dan Makassar sebagai sama-sama percaya bahwa asal-usul elite politik mereka bermula dari mitos Tomanurung (pemimpin yang turun dari langit). Keduanya menginginkan pola hubungan antara penguasa dan masyarakat bersifat kontraktual. Ini berarti bahwa kendati secara simbolik masyarakat memberi otoritas yang besar kepada si pemimpin, namun di waktu yang bersamaan, pemimpin harus taat dengan kesepakatan yang diberikan sang pemberi simbol, yakni Tomanurung.

Kontrak politik ini mulai berlangsung pada abad ke-13 di jazirah selatan Pulau Sulawesi, yang tentu menyadarkan kita bahwa ini merupakan sebuah pencapaian yang mendahului teori Thomas Hobbes, yang hidup pada abad XVI-XVII dan Montesquieu seabad setelahnya, tentang kontrak sosial.

Tapi di luar dari pandangan itu, pola perilaku mereka dalam berpolitik sangat berbeda. Bagaimana dua suku ini menyikapi siri (harga diri) dan pacce (rasa senasib) dalam dunia politik? Seperti apa cara menggunakannya dalam konteks masa kini?

Karya Imam Muhajidin Fahmid ini membedah sejarah pergerakan di Sulawesi Selatan, termasuk tarik-menarik antara Sulawesi Selatan dan Jawa dalam pusaran kekuasaan nasional. Imam menarik garis itu yang, rupanya, berhubungan awal terbentuknya elite-elite politik dengan membandingkan dua daerah yang merepresentasikan Bugis dan Makassar, Bone dan Gowa. Dan tentu juga menarasikan bagaimana tiga unsur—kuasa, uang, dan makna—diberdayagunakan untuk mencapai tujuan-tujuan sosial dan politik.

Contoh yang menarik dan perlu kita simak bersama adalah studi kasus klan Page di Desa Tabba'e, di Bone yang berhasil mendobrak sistem kebangsawanan yang awam berlaku di kawasan ini, tatkala memasuki dunia politik.

Selamat membaca. Selamat memasuki dan memindai dunia politik Sulawesi Selatan!

Selasa, Mei 22, 2012

Juni 2012, Bom Benang di Kampung Buku!

QUI’QUI’, komunitas perajut Makassar akan menggelar pengeboman benang (Yarn Bombing) pada 23-24 Juni 2012 nanti. Kegiatan yang rencananya menjadi pra-event Festival Rajutan Indonesia (FRI) 2012 akan berlangsung di Kampung Buku, Jalan Abdullah Daeng Sirua 192 E (Kompleks CV Dewi, samping Kantor Lurah Pandang).

Yarn Bombing merupakan salah satu bentuk seni grafiti, yang menampilkan warna-warni benang rajutan dan disaji-tampilkan di fasilitas umum atau benda-benda yang dapat dilihat terbuka oleh umum. Qui’Qui’ memilih ini sebagai bentuk baru yang akan diperkenalkan ke khalayak di Makassar. Mempresentasikan karya ini dalam bentuk menyelimuti rajutan-rajutan berwarna-warni sebatang pohon mangga besar yang berdiri tegak di depan Kampung Buku dengan karya para perajut yang berpartisipasi dalam acara ini. “Kami sudah mengundang secara terbuka siapa pun yang berminat ikut kegiatan ini,” kata koordinator kegiatan, Fitriani A Dalay.

Qui’Qui’ memilih Kampung Buku sebagai tempat kegiatan karena ‘ruang-bersama’ dalam bentuk perpustakaan itu merupakan tempat berkumpul mereka setiap pekan berbagi pengetahuan tentang dunia rajutan.

Kegiatan merajut mulai populer di Makassar sejak September 2011 lalu. Peminatnya bertambah dari hari ke hari hingga terbentuk sebuah komunitas perajut bernama Qui’Qui’. Komunitas ini berproses secara independen dan mandiri. Belajar dan berbagi pengalaman bersama di semua kalangan dan tidak terbatas usia dan jenis kelamin. Pada tahun 2012, komunitas ini kian berkembang dan menjadi perbincangan di sejumlah komunitas lain. Ini lalu membantu komunitas ini dalam mengampanyekan penggunaan barang buatan tangan (handmade) dan menekan tingginya predikat konsumtif yang melekat pada masyarakat Makassar.

Para Perajut berpiknik di Fort Rotterdam, Makassar.

Menariknya, Qui’Qui’ tak sekadar merajut dan merenda. Komunitas ini juga menunjukkan kepedulian terhadap isu-isu sosial seperti isu gender, pendidikan seks, dan kesehatan reproduksi, mengingat banyak dari anggota komunitas adalah perempuan. Salah seorang anggotanya, Sartika Nasmar menggiati isu ini beberapa tahun terakhir. Dalam acara Juni mendatang, para perajut akan merangkaikannya dengan menggelar konsultasi gratis terkait kesehatan reproduksi.

Dalam pra-event Festival Rajutan Indonesia 2012, Komunitas Perajut Makassar telah mempersiapkan beberapa acara sebagai rangkaian kegiatan. Acara-acara tersebut telah dirancang semenarik mungkin, untuk memperkenalkan kerajinan merajut secara lebih luas serta mengajak masyarakat untuk membudayakan kebiasaan memanfaatkan waktu luang untuk melakukan hal yang bermanfaat, kreatif, dan mandiri.

Menurut Sartika, hobi merajut dapat memberi banyak manfaat kepada siapa pun. Bagi beberapa orang, merajut dan merenda berfaedah bagi kesehatan, baik fisik maupun psikis. Merajut digunakan dalam terapi kesabaran dan konsentrasi serta melatih seseorang dalam mengatasi keseimbangan emosi. Dalam bidang kesehatan juga demikian. Merajut dapat membantu proses pemulihan penyakit kronis seperti kanker, trauma otak, dan anak penderita Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD), yaitu gangguan perilaku yang ditandai dengan gangguan konsentrasi, impulsif, dan hiperaktif. “Teman-teman di sini ingin mengenalkan merajut sebagai bentuk yoga atau terapi kesehatan bukan hanya dari segi fisik dan psikis saja, namun juga sosial dan ekonomi,” terang Sartika.

FRI merupakan event rajutan Indonesia terbesar yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Juni dan Juli. Kegiatan ini diadakan sejak tahun 2009 dan melibatkan para perajut dan pengrajin dari seluruh Indonesia. Selain melibatkan para perajut, kegiatan ini juga melibatkan banyak pihak mulai dari perusahaan-perusahaan penyedia bahan-bahan rajutan, penerbit buku keterampilan dan beberapa komunitas atau personal yang peduli terhadap kegiatan atau aktivitas kreativitas di Indonesia.

Tahun ini, Festival Rajutan Indonesia 2012 mengusung tema “Merajut Persahabatan”. Akan dipusatkan di Bandung yakni Balubur Town Square pada 30 Juni hingga 1 Juli 2012. Meski kegiatan berpusat di Bandung, namun FRI 2012 juga dimeriahkan di berbagai kota yang ada di Indonesia mulai dari Banda Aceh, Medan, Pekanbaru, Batam, Palembang, Lampung, Jabodetabek, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Blitar, Pontianak, Banjarmasin, Manado, dan Makassar.

Selain Yarn Bombing, Komunitas Perajut Makassar juga menyiapkan beberapa agenda lain yakni [1] Pelatihan Dasar Merajut dan Merenda. Panitia akan menyiapkan alat dan bahan untuk merajut dan merenda secara gratis. [2] Pelatihan Kerajinan Tangan dari Kain Flanel. Panitia bekerjasama dengan komunitas dan pengrajin kerajinan tangan membagi pengetahuan dan keterampilan membuat benda-benda unik dan menarik dari bahan kain flanel dan bahan pendukung lainnya. [3] Pemutaran Video Semi Dokumenter yang berjudul “Kenapa Merajut?”. [4] Workshop Pemeriksaan Payudara Mandiri. Kegiatan ini tidak berhubungan langsung dengan merajut. Panitia sengaja melaksanakan mengingat tingginya angka penderita kanker payudara di Indonesia. Ini salah satu bentuk kampanye agar perempuan dapat lebih waspada dalam memelihara dan memilih metode yang tepat untuk menjaga kesehatan mereka.

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP