Senin, Februari 08, 2010

Rumah Ketiga* [Kado dari seorang sahabat di Yogyakarta, Puthut EA]


untuk Komunitas Ininnawa
Makassar, begitu kata salah satu teman saya, adalah gambar yang buruk di dalam bingkai yang bagus. Perumpamaan yang menurut saya ada benarnya. Kalau seseorang hanya berada di Makassar saja, tanpa pernah melewatkan waktu keluar dari gambar itu menuju lanskap yang membingkainya, maka mungkin hanya akan ada hal ini: panas, berdebu, tatakota yang payah, drainase yang buruk, banjir jika musim penghujan, dan jangan lupa banyak sekali nyamuknya!
Tetapi ada yang lebih parah dari itu, sebab gambar berbingkai itu dimasukkan ke dalam kotak pembungkus kemudian diedarkan dan disiarkan. Dan inilah yang terjadi, Makassar yang tersiar adalah kota yang hanya ada: demonstrasi yang rusuh, perkelahian mahasiswa, sekte yang dianggap menyimpang, kriminalitas. Tidak percaya? Lihat saja bagaimana banyak televisi membungkus dan menyiarkan kabar tentang Makassar.
Mungkin lima atau enam tahun yang lalu, saya berada di kota itu untuk pertama kalinya. Belum terlalu lama. Beberapa saya ingat persis, beberapa tidak. Waktu itu bulan puasa dan saya datang bersama Hasta Indriyana. Saya tidak ingat persis, siapa yang datang menjemput kami di bandara. Tetapi kalau tidak salah ia adalah Ana, perempuan keturunan Bali yang tinggal di Makassar. Kami datang untuk ikut memberikan materi sebuah pelatihan menulis yang diadakan oleh Komunitas Ininnawa. Bersama kami berdua, pemberi materi pelatihan tersebut adalah Roem Topatimasang. Roem menyusul dua hari kemudian. Ia, sudah tentu saya kenal karena sejak tahun 2001, saya mulai aktif di Akademi Kebudayaan Yogyakarta (AKY), sebuah lembaga kebudayaan di bawah naungan lembaga Insist. Roem merupakan salah satu pendiri Insist.
Saya masuk ke dalam gambar yang buruk itu. Semakin lengkap rasanya sebab sebagaimana biasa, jika bepergian pagi hari, saya tidak pernah tidur. Jam tidur saya, sejak lewat dari 10 tahun lalu, dimulai antara pukul 5 pagi. Kelewat lelah karena tidak tidur, juga ketakutan naik pesawat terbang, membuat Makassar sekalipun di pagi hari, gambar yang semakin buruk.
Kami dibawa masuk ke jalan sempit, lalu diturunkan ke sebuah rumah kecil berlantai dua. Di tempat itulah, komunitas yang tidak begitu saya kenal, bermarkas. Rumah itu saya tandai sebagai Rumah Pertama.
Begitu memasuki rumah tersebut, mata saya langsung menatap rak buku yang berjejalan. Ada beberapa anak kecil yang sedang sibuk membaca buku. Kebanyakan dari mereka, saya kira, masih duduk di bangku sekolah dasar. Saya naik ke lantai dua untuk meletakkan tas, dan di lantai itu, rak buku semakin berjejalan. Di dalam gambar yang buruk, ada noktah berwarna cerah.
Saya hanya sempat bersalaman dan berkenalan dengan beberapa orang, salah satunya M Aan Mansyur. Saya hanya ingat, ketika bersalaman dengannya, ia berkata, “Kita pernah bertemu di Yogya.”
Saya tidak ingat. Di Yogya yang mana, di acara apa. Saya hanya tertawa. Tetapi saya teramat lelah. Saya hanya tahu yang saya butuhkan saat itu: secangkir kopi, merokok, dan saya berada di lantai dua, membaca sambil berbaring, lalu tertidur.

Mungkin, beberapa orang yang berada di sana, melihat keletihan saya. Mereka lalu mempersilakan saya untuk naik ke lantai dua, beristirahat. Tidak di dalam kamar. Di lantai kayu, di antara rak-rak buku. Di dalam hati, saya ingin sekali meminta: bisakah saya menikmati secangkir kopi? Saya pecandu kafein yang rada akut. Tetapi kalimat-kalimat itu tidak keluar dari mulut saya. Saat itu, bulan puasa. Tidak seorang pun dari sekian orang yang berada di rumah itu sedang minum atau merokok. Saya membatin, lengkap sudah penderitaan saya.
Penderitaan? Ya. Kira-kira gambarannya akan seperti ini. Saya di dalam beberapa hari ke depan, akan memandu sebuah pelatihan menulis. Jadwalnya, saya yakin akan sama dengan pelatihan-pelatihan yang lain, dimulai dari jam 9 lalu akan berakhir di sore hari atau malam hari. Saya yang tidak biasa tidur malam, jika beruntung akan tidur jam 5 dan jika tidak akan tertidur jam 7. Lalu jam 8 saya harus bangun lagi, dan jam 9 akan masuk ke forum pelatihan. Begitu seterusnya.
Waktu tidur yang kurang dari 3 jam, ditambah dengan tidak ada kopi dan tidak merokok, lalu harus memandu pelatihan... Hm… Memandu pelatihan memang kegiatan yang selalu menguras energi saya hanya karena persoalan jam biologis saya yang berbeda dengan kebanyakan orang. Lalu ditambah dengan harus berpuasa? Maaf, saat itu, saya juga berpuasa, tetapi tidak seperti tahun-tahun belakangan ini. Saat itu, di bulan Ramadan, jika saya ingin berpuasa maka saya berpuasa. Jik tidak, saya tidak melakukannya. Di Makassar, saat itu, saya tidak ingin melakukannya.
Saya berbaring dengan rasa letih dan pikiran-pikiran buruk. Ditambah, Hasta sesaat menjelang pesawat lepas landas, bilang kalau ia berpuasa. Saya merasa tidak punya teman.
Hari itu semakin bertambah buruk saja sebab ketika saya mulai mengantuk, segerombolan orang naik. Dari penampilan mereka, bisa saya pastikan bahwa mereka masih mahasiswa. Kebanyakan berdandan necis, lalu memilih buku, dan membaca di sekitar tempat saya tidur. Saya jadi merasa tidak enak, bagaimana saya bisa tidur nyenyak kalau di sekitar saya ada banyak orang yang sibuk membaca?
Dalam keadaan gawat seperti itu, sebuah pertolongan datang. Dua orang dari Insist yang kebetulan juga sedang di Makassar, datang menengok kami. Mereka berdua mengajak saya keluar. Saya lega. Saya tahu, kedua rekan saya itu juga sedang tidak berpuasa. Berarti ada kesempatan bagi saya untuk minum kopi dan merokok.
Sambil berbasa-basi, saya menawari Aan dan Hasta untuk ikut. Ketika mereka berdua mau, saya agak bingung. Itu artinya saya sedang mengajak dua orang yang sedang berpuasa untuk membatalkan puasa mereka. Saya tidak mau mengajak orang lain untuk berbuat dosa. Tetapi, rasa letih kadang-kadang membuat saya sangat cuek.
Di sebuah warung makan, kami berlima singgah. Saya kaget ketika Hasta dan Aan juga memesan makanan. Tetapi saya pura-pura menahan rasa terkejut itu, tidak baik menempelkan perasaan berdosa kepada orang yang sedang melakukannya.

Ketika keluar dari rumah makan, saya bertanya ke Hasta, kenapa ia ikut makan? Hasta menjawab sambil nyengir, “Aku menemani orang yang tidak berpuasa. Aku harus menghormatinya.”
Ketika saya bertanya kepada Aan, lebih tepatnya menyelidik, Aan memberi jawaban yang sangat meneduhkan, “Banyak yang berpuasa, tetapi beberapa orang tidak puasa.”
Jadi di pelatihan nanti, saya bisa tidak puasa, minum kopi dan merokok?
“Ah, boleh saja. Kenapa tidak?”
Detik itu pula, ingin rasanya saya memeluk Aan.
Saya lupa, apakah kemudian esok harinya, atau siang itu juga, kami berangkat ke tempat pelatihan. Saya keluar dari gambar buruk, dan mulai menyusuri jalan menuju bingkai yang bagus. Tidak salah kata teman saya, Makassar dikepung keindahan.
Tempat pelatihan itu di pinggir pantai, sekitar 3 jam dari Makassar. Benar kata Aan, beberapa orang tidak berpuasa. Mungkin ada sekitar 40an orang di tempat itu, baik peserta maupun panitia. Saya meminta izin kepada peserta pelatihan agar diperbolehkan minum kopi dan merokok. Mereka memperbolehkan.
Saya ingat persis, semakin hari, di pelatihan itu semakin banyak orang yang tidak berpuasa. Ketika saya tanya mengapa, sebagian orang memberi saya rasa berdosa, mengucapkan, “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.”
Mereka hanya bercanda. Saya bukan guru mereka, dan mereka bukan murid-murid saya. Saya sadar, mereka telah lebih dulu kencing berlari, sebelum saya memutuskan untuk kencing berdiri.
***
Kedatangan kali kedua, saya berada di Rumah Kedua. Rumah tersebut berkebalikan dengan Rumah Pertama. Rumah Kedua itu megah, besar dan kinclong. Terletak di tepi jalan raya. Saya agak kaget saat diajak ke sana. Semua tampak berjalan dengan cepat dan luarbiasa. Rak-rak buku semakin banyak, menempati ruang yang lapang. Masing-masing anak lembaga mendapatkan ruang yang besar. Beberapa orang mempunyai kamar yang luas. Internet pun bebas digunakan oleh siapa saja.
Di halaman rumah, berdiri sebuah warung kopi lengkap dengan rumah bambu yang antik. Ada pula panggung kecil. Di ruang terebut, kerap diselenggarakan acara dari mulai bedah buku, menonton film sampai pameran foto dan senirupa.
Di rumah itu, saya merasa ada yang tidak kompatibel dengan kekhasan anak Ininnawa. Semoga saya bisa jujur, bukan berarti saya berkeberatan setiap lembaga menjadi mapan. Sungguh tidak. Tetapi, saya merasa ada yang kurang sreg.
Hubungan saya dengan teman-teman di Ininnawa, sangat baik dan cukup intens. Beberapa kegiatan yang diselenggarakan komunitas itu, saya sempat terlibat. Kalau saya berpergian lewat Makassar, pasti saya membuat jadwal di mana saya bisa singgah ke sana, menginap barang beberapa hari, digigit nyamuk. Jika beberapa orang di antara mereka berada di Yogya, saya juga menemui mereka.
Bersama mereka, saya telah melakukan sesuatu sehingga pantas disebut kawan: dari belajar sampai memasak bersama, dari naik gunung sampai menonton film, dari berbagi kisah sampai berbagi penyakit.

Makassar, sebagai kota, bolehlah tidak menyenangkan. Tetapi bagi lidah, kota itu adalah surga. Ke Makassar, itu artinya bagi saya, sebuah perjalanan lidah. Saya pernah berada di sana selama 5 hari khusus hanya untuk mencoba makanan dari warung satu ke warung yang lain.
Sebuah kota, bukan hanya persoalan yang kasatmata. Tetapi juga persoalan yang tidak terlihat. Semakin mengenal dekat teman-teman di Ininnawa, saya semakin merasa bahwa saya berada di sebuah lingkungan yang menyenangkan. Semua orang di sana, suka membaca buku. Semua orang di sana, berpenampilan sederhana. Tampaknya, tidak ada yang begitu mempermasalahkan penampilan dan busana. Hampir semua orang bicara dengan terus-terang, tidak terlalu mengontrol perkataan mereka, dan humoris. Selalu menyenangkan jika berbicara dengan mereka. Hangat. Spontan. Penuh tawa. Dan sangat cerdas.
Soal nama, saya selalu bermasalah. Apalagi di sana ada begitu banyak nama Ancu’, dengan variannya: Azhu, Ancu, Ancu’. Sama seperti ketika saya di Yogya, yang kebetulan tempat kos saya pertama kali bersama dengan belasan orang dari Makassar. Ada begitu banyak nama Zakir dengan variannya: Syakir, Zakkir, Sakir, Zakir. Juga Tajudin. Nama Ancu’, Zakir dan Tajudin, tampaknya sama seperti nama Agus di Jawa. Soal bahasa dan cengkok, saya juga sering bermasalah. Sampai sekarang saya tidak pernah bisa meletakkan dengan tepat kapan harus menggunakan: mi, ji, dih…
Kalau Ininnawa itu coto, maka coto komplet: daging, ati plus jerohan. Semua orang tampaknya punya kesenangan yang berbeda-beda dan serius mendalami kesenangan itu. Aan, jelas sudah, dunia sastra dirambahnya. Lalu ada sederet fotografer andal di sana, mulai dari Armin hingga Amang. Ada para peneliti seperti Ady dan Ishak. Ada juga bekerja bersama masyarakat, atau biasa disebut organiser: ada Ary, Karno, Imran dll. Di sana ada juga Yazid dan Ochank yang menyuntuki dunia film. Sementara Jimpe, memilih mengembangkan lini penerbitan: Penerbit Ininnawa.
Seperti kebanyakan teman-teman saya di Yogya, kuliah di luar negeri merupakan impian dari kebanyakan anak-anak Ininnawa. Maka ada beberapa orang yang lulusan luar negeri dan menggondol gelar master. Ketika tulisan ini saya buat, Ana masih di Amerika, Rahmat masih di Belanda, dan Karno masih di China. Sedangkan Yazid juga sedang bersiap pergi ke Amerika.
Sejauh yang saya tahu, puluhan orang yang tergabung di Ininnawa, sebagian besar berasal dari Fakultas Sastra, terutama Sastra Inggris Universitas Hasanuddin. Dan sebagian dari mereka juga pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren. Di antara mereka bukan hanya fasih berbahasa Inggris, tetapi juga bahasa Arab, bahkan ada yang menguasai bahasa lain seperti Perancis.

Hampir semua orang Ininnawa, saya kenal baik. Beberapa, sangat baik. Manusia berubah. Ya. Mungkin. Lihatlah contohnya:
Aan, dari dulu sama saja. Hanya yang sering saya risaukan, penyakit jantungnya. Terakhir di Makassar, beberapa minggu lalu, kami sempat mau mendobrak kamarnya. Kata salah satu teman, ia tidak keluar kamar sejak kemarin. Ketika ditelepon lewat ponselnya, tidak diangkat. Dikirimi pesan pendek, juga nihil. Diketuk pintu kamarnya, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Beberapa jam kemudian, ia baru menjawab kalau tidak bisa bangun karena tubuhnya kram. Kami minta izin mendobrak pintunya, ia tidak memperbolehkan. Setelah keluar kamar, mukanya tampak pucat. Ia berkisah habis selesai dipasang ring. Tapi penyakitnya masih sering kambuh. Mendengar itu, saya hanya bisa berdoa.
Ady, dulu tidak merokok, rajin salat 5 waktu. Kini ia perokok berat. Salat 5 waktu? Entahlah. Ary, julukannya masih sama: Sang pambasmi. Bukan dalam arti yang menakutkan. Sederhana saja, kalau ada Ary, apapun yang terletak di meja makan, pasti habis disantapnya. Saya tidak bisa memberi definisi yang tepat jika melihat ia makan. Bahasa Jawa punya istilah yang tepat: ndemenakke. Artinya kurang-lebih: makan banyak dan sekaligus menyenangkan melihat ia makan.
Jimpe, pernah merokok, berhenti, lalu merokok lagi. Menurut Piyo, istri Jimpe, saat mereka pacaran, tanpa diminta Jimpe berjanji kalau mereka kelak menikah, Jimpe akan berhenti merokok. Saat mereka menikah, tanpa diminta Piyo, Jimpe berjanji akan berhenti merokok jika Piyo sudah hamil. Saat Piyo hamil, tanpa diminta, lagi-lagi Jimpe berjanji akan berhenti merokok jika anak mereka sudah lahir. Kini, anak mereka sudah lahir, dan Jimpe masih merokok. Saya tidak sempat mengorek informasi ke Piyo, janji apalagi yang diucapkan Jimpe kepadanya. Bagus juga kalau dibuat acara komedi situasi: Janji Jimpe Kepada Piyo.
Gusti? Ah dari dulu sama. Suka sekali bicara soal keris. Rahmat, salah satu dokter di komunitas itu, saya lebih percaya mengkonsultasikan persoalan kesehatan saya kepadanya. Dari kecil sampai sekarang, saya tidak suka dokter. Kalau dengan Rahmat, saya menganggap dia sahabat saya, hanya saja kebetulan ia seorang dokter.

Bercanda. Saling mencandai pun biasa saya lakukan dengan mereka. Imran berambut gondrong. Lebih dari sebahu. Kesehatan rambutnya seakan lebih penting dari kesehatan badannya. Ia bercerita, pernah akan diangkat menjadi direktur Rumah Kamu, sebuah lembaga yang di dalamnya ada teman-teman Ininnawa. Ary memperbolehkan dengan syarat rambut Imran harus dipotong. Imran memilih tidak memotong rambutnya, dan ia urung diangkat menjadi direktur. Ketika saya tanya mengapa ia tidak memotong rambutnya, dengan nada bercanda dan agak tidak nyambung, ia berkata: Rambut boleh panjang asal hatinya baik. Ketika hal itu sering diulangnya, saya segera memotong ucapannya: Rambut boleh baik asal hatinya gondrong.
Kalau semua orang saya ceritakan, saya butuh 10 halaman lagi. Bahkan bisa lebih.

Setiap lembaga berubah. Ya. Mungkin. Kali ketiga, saya datang ke Rumah Kedua itu, situasinya sudah berbeda. Warung kopi di depan, sudah jarang buka. Halaman rumah sering tergenang banjir. Beberapa kamar mandi tidak berfungsi. Rumah mulai berdebu. Saya mulai menyadari: tidak ada anak-anak kecil membaca buku di rumah itu.
Kali keempat dan seterusnya, saya masih singgah di Rumah Kedua. Rumah itu semakin tidak terurus. Hanya ada satu kamar mandi yang lumayan layak pakai. Buku-buku berdebu. Lantai kotor. Suasana rumah tidak menyenangkan, sintru menurut istilah Jawa.
Mungkin hal itu karena Penerbit Ininnawa, sudah lama pindah menyewa rumah lain. Payo Payo, lembaga yang bergiat di pendampingan masyarakat, juga sudah pindah ke tempat yang lebih jauh lagi. Rumah adalah cermin paling jernih untuk melihat apa yang sesungguhnya terjadi di sana. Saya hanya bisa menebak. Tetapi saya adalah penebak yang jitu.
Saya merasa menjadi orang yang terhormat, ketika suatu saat diminta untuk ikut urun saran mengenai persoalan di Ininnawa. Saya menjadi semakin tahu, terhormat dalam konteks ini, bisa juga berarti ikut merasakan permasalahan. Namun, saya sadar, dengan kebersamaan mereka, keruwetan persoalan itu bisa diurai. Mereka punya bekal, bukan hanya sekadar masa lalu yang cukup panjang, tetapi juga keberanian untuk saling bicara secara terbuka. Malam itu, sampai pagi saya duduk semeja dengan mereka. Pagi itu, saya seperti mengulang pagi beberapa tahun sebelumnya, saat pertama kali datang: tidur saya terganggu. 
Mendirikan sebuah lembaga, tentu bukan perkara gampang. Memajukan lembaga yang sudah terbentuk, lebih tidak gampang lagi. Mempertahankan keutuhan lembaga itu, semakin tidak gampang lagi.  
Ininnawa, konon menurut para pendirinya, punya arti: niat baik. Dan niat baik saja, tidak akan cukup. Mereka tahu soal itu. Dan mereka telah mengerjakannya.
Ada banyak masalah, tentu saja. Jangankan lembaga yang terdiri dari banyak kepala, satu orang dengan satu kepala saja menyimpan banyak masalah.
Lembaga merupakan alat perwujudan gagasan dan nilai-nilai, namun sekaligus perpanjangan eksistensi manusia. Di sanalah terletak persoalan yang rumit. Pada satu sisi, ia harus memanusiakan, membebaskan, dan di sisi yang lain, jika tidak jeli, maka akan terjadi pengaturan dan pembatasan.
Tetapi sesungguhnya tidak. Jika kita memahami bahwa sejatinya kebebasan bukan karena tidak adanya aturan dan batasan. Justru karena seseorang sedang dan telah bebas, maka ia berani membuat kesepakatan, aturan main dan melakukan negosiasi.
Saya ingat persis, satu hari, di kedatangan saya yang entah ke berapa. Ini jauh hari sebelum saya menjadi orang yang merasa terhormat itu. Di lantai dua Rumah Kedua, saya bicara dengan beberapa teman Ininnawa. Waktu itu sore hari, kami menyeruput kopi dan pisang goreng. Beberapa teman, bertanya, mereka merasa ada persoalan di Ininnawa, tetapi belum begitu tahu apa akar soalnya.
Saat itu, saya hanya bilang tiga hal. Pertama, hal yang sangat prinsip bagi saya. Sebuah lembaga dibuat agar setiap orang yang tergabung di dalamnya menjadi lebih baik. Jika sebuah lembaga kemudian hanya membuat kehidupan seseorang menjadi tidak baik, tidak bahagia, tidak menjadi ‘lebih manusia’ lagi, maka lembaga itu sudah tidak sah sebagai tempat bernaung yang baik. Kedua, para penggiat Ininnawa saat itu menjelang dan baru saja melewati usia krusial: 30 tahun. Berdasarkan pengalaman saya, ini usia yang rawan. Setiap orang sedang dan akan memasuki tahap penting secara sosial: berumah tangga, butuh sedikit ketenangan, dan mulai meletakkan dirinya di sebuah tempat yang harus dipilih dengan cepat. Fase yang secara psikologis melelahkan ini, punya potensi besar untuk menjadi alasan pembenar bagi setiap kesalahan yang terjadi. Ketiga, saya bicara soal keadilan. Sudah harus mulai dipikir, pendistribusian kerja, kesempatan dan akses kepada setiap orang yang berada di komunitas itu. Tentu saja sesuai dengan pilihan hidup masing-masing, tidak boleh ada yang dipaksa. Dalam hal itu, Komunitas Ininnawa sebetulnya tengah bertaruh besar yakni ikut menentukan pilihan hidup seseorang di usia yang tanggung, “Tua: belum, muda: tidak.”
Jika syarat sah seperti di atas telah dipenuhi, barulah kemudian dibuat aturan main. Jangan dibuat terbalik, keputusan atas hidup seseorang ditentukan dan diletakkan di dalam aturan main lembaga. Mandat sekaligus perjudian seseorang kepada nasibnya sendiri, harus diberikan secara penuh dan sadar. 
Saya membeberkan beberapa contoh pengalaman saya sendiri, baik bersama lembaga-lembaga yang pernah saya kawani, maupun pengalaman di AKY, yang saat itu sudah buyar. Saya hanya bisa memberi itu, sebab saya bukan termasuk di dalam golongan orang yang berhasil mempertahankan sebuah lembaga. Saya berbicara atas dasar pengalaman. Hanya itu saja. Kalau di Ininnawa, ada bonus persoalan selain tiga hal yang telah saya sebut: keresahan kesenimanan dan intelektual.
Sampai sekarang jika saya diminta saran, saya hanya akan mengatakan hal tersebut di atas. Saya tidak akan mengatakan yang lain. Persoalan seperti di atas hanya bisa dikatakan dengan rasa jujur dari dalam hati. Tidak bisa semata-mata mengatakan dengan atasnama manajerial, administrasi atau demi kepentingan bersama.
Televisi telah membungkus Makassar dengan kabar-kabar buruk. Formalitas adalah pembungkus yang harus dibedah di dalam sebuah lembaga. Pada banyak hal, lembaga adalah persoalan hati dan nyali.
***
Saya mendengar, Rumah Kedua itu hendak ditinggalkan. Entah kenapa, saya merasa senang. Mereka akan segera pindah rumah, walaupun belum tahu di mana. Saya berharap, di Rumah Ketiga kelak, buku-buku tidak lagi berdebu, dan ada kamar mandi yang layak untuk membersihkan diri. Tetapi yang lebih penting lagi, ada rasa nyaman antar-orang. Hati yang lapang akan membuat ruang menjadi lapang. Saya percaya hal itu.
Sudah tentu, Rumah Ketiga yang hendak mereka tempati, bukan dipilih karena rasa kangen terhadap Rumah Pertama dan rasa sebal terhadap Rumah Kedua. Rumah Ketiga ada karena mereka pernah menempati Rumah Pertama dan Rumah Kedua.
Beberapa minggu yang lalu ketika berada di Makassar, saya sempat ikut rapat untuk mendesain pembuatan buku 10 tahun Komunitas Ininnawa. Buku itu sebetulnya hanya alat saja. Sebuah alat untuk membantu mereka mengenang, merefleksikan dan menstrukturkan pengalaman, dan kemudian di saat berkumpul, semua sudah tertata dan siap untuk dibicarakan dengan lebih baik. Saat itu, saya berjanji akan datang di acara penting tersebut. Tetapi, agenda penting di dalam hidup saya, tidak memungkinkan saya datang pada saat acara digelar. Tepat di saat rangkaian itu kelak akan digelar, saya juga sedang menggelar acara di Jakarta. Saya berharap, sebagai kawan, mereka mengirim doa untuk kelancaran acara saya, dan saya berikan catatan ini untuk mereka.
Semoga berguna. Mohon maaf jika ada selip kata.

PS: Thut, sori saya pinjam tulisannya untuk disiar di blog ini.

Inspirasi dari Makassar


oleh Didit Putra Erlangga dan Nasrullah Nara
Kompas, Sabtu 6 Februari 2010

Ingar-bingar unjuk rasa mahasiswa di Makassar yang berujung rusuh sudah menjadi suguhan sehari-hari layar televisi. Begitu mendengar kata ”Makassar”, seketika ingatan kolektif khalayak tertuju pada situasi onar.
Di balik hiruk-pikuk mahasiswa di jalan raya, sekelompok mahasiswa dan sarjana lintas disiplin ilmu mencoba mengimbangi stigma itu dengan kegiatan intelektual. Menerjemahkan hasil penelitian bertema sosial-budaya dan kemudian menerbitkannya dalam bentuk buku merupakan keseharian anak-anak muda yang dikenal sebagai komunitas Ininnawa ini. Dalam bahasa setempat, ininnawa artinya harapan dan cita-cita.
Hasilnya, enam tahun terakhir, 20 judul buku mengenai kajian masyarakat Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat telah terbit. Masyarakat Bugis, Makassar, Toraja, dan Mandar yang mendiami jazirah selatan Pulau Sulawesi kini bisa mendapatkan literatur seputar kebudayaan mereka sendiri yang selama ini didominasi pihak asing. Tanpa perlu susah payah menerjemahkan, warga setempat bisa membacanya dan membeli buku dengan harga terjangkau.
Liana Siraji, mahasiswi FISIP Universitas Hasanuddin, misalnya, bisa membeli hasil terjemahan itu cukup dengan merogoh kocek rata-rata Rp 60.000 per buku. Dua-tiga kali lebih murah ketimbang buku aslinya.
Sebutlah, misalnya, Warisan Arung Palakka: Sejarah Sulawesi Selatan Abad Ke-17 karya Leonard Y Andaya (pengajar sebuah universitas di Hawaii, Amerika Serikat). Buku ini coba menyajikan sudut pandang alternatif atas perseteruan Arung Palakka dengan Sultan Hasanuddin.
Judul lain Kekuasaan Raja, Syeikh, dan Ambtenaar: Pengetahuan Simbolik dan Kekuasaan Tradisional Makassar 1300- 2000. Hasil penelitian Thomas Gibson, peneliti Universitas Rochester, Amerika, ini mengulik simbol-simbol budaya dan kekuasaan di Makassar.
Setahun terakhir, sebuah buku pembelajaran seksual bersumberkan kitab Lontara’ sempat membuat heboh khalayak karena kevulgarannya menyaingi buku Kamasutra. Hasil penelitian Mukhlis Hadrawi itu terpajang di toko-toko buku dengan judul Assikalaibineng: Kitab Persetubuhan Bugis.
”Kami ingin mendekatkan warga jazirah selatan Sulawesi dengan literatur budaya mereka sendiri, baik secara geografis maupun secara ekonomi,” kata Anwar Jimpe Rachman, Direktur Penerbit Ininnawa.
Nurhady Sirimorok, perintis komunitas Ininnawa, mengungkapkan, hasil penelitian pihak asing jarang kembali ke Sulawesi dengan sendirinya. Umumnya berakhir dalam bentuk jurnal ilmiah dengan bahasa akademik atau terbukukan di luar negeri. Padahal, di satu sisi, sebagian besar masyarakat di daerah ini belum tentu paham akar kebudayaan sendiri.
Menerjemahkan naskah asing barulah setengah dari mekanisme Ininnawa. Agar tidak bias makna, Jimpe dan rekan-rekannya harus getol memasukkan informasi terbaru dan mengonfirmasi langsung beberapa hal kepada penulisnya.
Umumnya, pemilik naskah asli tidak menuntut pembayaran royalti. Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) Leiden, Belanda, misalnya, malah turut menanggung biaya cetak untuk buku Kuasa dan Usaha di Masyarakat Sulawesi Selatan. Buku tersebut ditulis Roger Tol, Kees van Dijk, dan G Acciaioli.
Muhlis Hadrawi, salah satu penulis, melihat ketulusan pihak asing itu sebagai komitmen mengangkat penerbit lokal.

Hindari Subyektivitas
Dosen antropologi Universitas Hasanudin, Yahya Kadir, menilai literatur dari peneliti asing bisa menjadi pengimbang dari literatur peneliti lokal yang sulit menghindari subyektivitas. Sejumlah tulisan bahkan bisa menyadarkan bahwa beberapa ritual yang dianggap lumrah ternyata memiliki makna lebih dalam.
Contohnya, buku Perkawinan Bugis: Refleksi Status Sosial dan Budaya di Baliknya. Buku tersebut ternyata secara obyektif mampu mengungkap nilai di balik meriahnya pesta pernikahan suku Bugis sebagai ekspresi penguasaan sumber daya ekonomi. ”Kita bisa berkaca dari sudut pandang yang lebih netral,” ujarnya.
Komunitas Ininnawa, yang terintis 10 tahun silam, setidaknya telah ikut mewarnai peradaban di jazirah selatan Sulawesi. Euforia unjuk rasa dan gemuruh roda kapitalisme perlu diimbangi gerakan kultural.

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP