Rabu, November 07, 2012

Berburu Air di Kawasan Rawa-rawa

Cerita bagaimana warga di satu kampung di Makassar memenuhi kebutuhan air sehari-hari mereka.

Anak-anak di Kampung Pisang membantu orangtuanya
mengangkat air untuk kebutuhan sehari-hari. {foto: Anwar Jimpe Rachman]
KAMPUNG PISANG merupakan wilayah berawa yang terletak di Kelurahan Maccini Sombala. Bila saja teman saya, Cora, tidak mengantar, saya pasti akan kewalahan mencari kawasan ini. Kita harus melewati gang berliku nan sempit untuk masuk ke sana. Luas jalan berlapis blok semen hanya seukuran motor bergerobak bakso. Bila Anda masuk memakai motor dan berpapasan pengendara lain, salah satunya harus mengalah dan menepi untuk memberi jalan buat yang lain.

Kampung itu dihuni sepuluhan tahun lalu. Tempat itu, menurut Daeng Sampara, dihuni pada awal 2000, ketika tanah urukan pembuatan danau (tempat latihan dayung) di kawasan GMTDC ditempatkan di kawasan ini.

Penyaring buatan warga. [foto: Anwar Jimpe Rachman]
Sampara bersama keluarganya pindah dari Jeneponto ke Kampung Pisang pada tahun 2004, hanya beberapa bulan setelah membeli tanah kavlingan selebar 10 x 15 meter di daerah ini.
“Saya panjar Rp 5 juta, sisanya saya cicil. Saya hanya berbekal kuitansi pembelian,” ungkap lelaki kelahiran Binamu, Jeneponto, 1963 silam ini.

Sampara bertukang kayu. Pekerjaan sehari-hari inilah yang membuatnya bisa membangun rumah. Ia menunjukkan bagian-bagian rumahnya yang merupakan beberapa bagian berbeda dan berasal dari tempat yang tidak sama.

Salah satu bagian berawa Kampung Pisang. [foto: Anwar Jimpe Rachman]
“Saya satu-satunya orang yang pakai pagar besi di sini. Itu juga yang sampai sekarang bikin saya tidak lagi dapat bantuan,” ujar Sampara, tertawa. Bantuan yang Sampara maksudkan adalah bantuan pemerintah seperti BLT dan lainnya.

Pagar besi itu, kata Sampara, ia dapatkan dari hasil memperbaiki masjid di wilayah tetangga. Pagar itu, kata lelaki berambut ikal ini, ia beli dengan memotong gajinya sebagai tukang yang mengerjakan rumah ibadah tersebut.


Air di sumur salah seorang warga (atas), air dari sumur Daeng Sampara. [Anwar Jimpe Rachman]
HIDUP di kawasan berawa seperti Kampung Pisang mengharuskan warganya menggunakan air PDAM untuk minum dan makan. Sementara untuk mencuci, warga tetap menggunakan air yang berasal dari sumur yang mereka buat. Sebagaimana yang awam terjadi di daerah rawa-rawa, air sumur itu, menurut Sampara, cocoknya untuk mencuci saja.

Warga mendapat air dari rumah yang berada sekisar 100 meter di bagian utara Kampung Pisang. Mereka tidak gratis. Warga harus membayar—bergantung seberapa sering mereka mengambil air. Rerata, seperti rumah Sampara, ia membayar Rp 50.000 setiap bulan.

Terhitung ada lima sumur di Kampung Pisang, termasuk sumur Pak Sampara. Dari semua, hanya sumur Sampara yang airnya lebih jernih—kendati tetap berwarna kecoklatan. “Tapi itu sudah mendingan dari pada yang lain kayak kopi susu,” ujarnya.

Daeng Sampara mengajak saya berkeliling kampung dan melihat langsung sumur-sumur yang dimaksud. Ia ingin membuktikan apa yang barusan dikatakannya. Ia menunjukkan sumur-sumur berwarna kopi susu. Warga menggunakan kain dan batu untuk menyaring air timbahan mereka.
Bocah-bocah Kampung Pisang bermain di sekitar sumur mereka. [foto: Anwar Jimpe Rachman]
Menurut lelaki beranak empat ini, resep membuat sumurnya memang berbeda. Kala membuat sumur yang berada di bagian belakang rumahnya itu, ia menggali lebih lebar. Dan ketika cincin sumur dimasukkan, ia tidak menimbun cincin itu menggunakan tanah galian, melainkan menimbunnya dengan pasir dan kerikil. “Saya tidak pakai ijuk karena biasanya berbau airnya,” kata Sampara.

Dari mana pengetahuan itu ia peroleh? Sampara mengaku, itu merupakan warisan nenek moyangnya. Di Jeneponto, yang dikenal dengan kabupaten yang kering, masyarakat yang hidup di masa lampau memiliki metode khusus. Sebagai contoh, ketika mencari titik penggalian sumur yang tepat, masyarakat menggunakan cara sederhana. Hanya berbekal tempurung dan garam, mereka menaruh garam di beberapa titik dan menutupnya dengan batok kelapa. Keesokan harinya, mereka memeriksa batok dan garam itu. 

“Di titik mana garamnya sudah mencair, di situlah titik air terdekat. Jadi di situ juga yang digali,” ungkap Pak Sampara.[]

Senin, November 05, 2012

Laki-laki Lebih Rentan dalam Bencana?

Di sela kesibukannya dalam The Asian Ministerial Conference on Disaster Risk Reduction (AMCDRR) V yang digelar di Yogyakarta, 22-25 Oktober lalu, Dati Fatimah menyempatkan berbincang dengan saya tentang bukunya yang baru terbit, Menolak Pasrah: Gender, Keagenan, dan Kelompok Rentan dalam Bencana (Aksara, 2012).


Lewat buku itu, Dati ingin menunjukkan bahwa sebetulnya bencana itu bukan sesuatu yang alami, tapi terkonstruksi secara sosial. Bicara soal dampak bencana, kita harus bicara tentang aspek kerentanan. Itu yang menjadi penjelasan mengapa satu kelompok menjadi menerima dampak lebih, sedangkan yang lain tidak. “Kerentanan itu yang dieksplorasi di buku ini, menggunakan analisis gender sehingga bisa melihat dengan sisi gender yang ada, apa dampak bencananya, kondisi-kondisi yang membuat satu kelompok itu menjadi rentan dibandingkan yang lain,” jelas Dati. Sebagai contoh, karena konstruksi sosial, maka perempuan tidak mempunyai akses informasi dan pengambilan keputusan. Akhirnya, mereka berada pada kerentanan yang lebih tinggi.

Pengakuan terhadap kelompok rentan itu kerap disuarakan. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 menyinggung soal ini. Tapi, menurut pandangan Dati, anggapan pengakuan kerentanan itu membuat mereka yang rentan dianggap tidak punya kapasitas. “Menurut saya, ini bermasalah! Sebab, kemudian upaya-upaya PRB mengabaikan kapasitas mereka. Upaya-upaya yang kita lakukan, karena berangkat dari asumsi itu, jangan-jangan membunuh kapasitas yang mereka punyai,” kata Dati.

Dati mencontohkan, kalau terjadi gempa, skema pertama yang ada di komunitas adalah evakuasi korban dan dapur umum. Kenapa demikian? Sebab, kata Dati, ini berkaitan dengan kelangsungan hidup. “Nah, siapa di balik itu? Evakuasi berlangsung karena laki-laki yang melakukan. Dapur umum dianggap sebagai tugas perempuan, maka perempuanlah yang melakukan. Artinya apa? Laki-laki dan perempuan sama-sama berkontribusi. Kenapa kontribusi di level domestik sering tidak diakui, tidak dianggap penting, dan tidak istimewa?” tanya Dati.

Hal ini tampak dari ranah dapur umum. Sumber makanan pertama justru bukan dari pemerintah, melainkan dari jaringan informal seperti keluarga, saudara, dan orang tak dikenal. Pas gempa di Bantul, kata Dati, orang-orang datang dari Wonosobo dan sekitarnya memakai truk membawa pakaian, sayur, dan buah-buahan. Bahkan, sering nasi bungkus datang berlebihan. “Ya, namanya juga spontanitas. Tapi, itu menunjukkan tanggap bencana itu ada. Kami melihat, di dapur umum, perempuan melakukan proses mobilisasi sumber daya sesaat setelah bencana,” terang Dati.

Sejak berdiri pada 2007, Aksara mencoba mengombinasikan pendekatan pemberdayaan dengan riset dan pelatihan. Dati dan kawan-kawan berupaya menemukenali persoalan berbasis gender di masyarakat sehingga menjadi isu bagi banyak orang. Belakangan, perempuan kelahiran November 1975 ini berpikir, jangan-jangan konstruksi tentang gender ini tidak cukup hanya diselesaikan oleh perempuan—karena banyak laki-laki yang menjadi pengambil keputusan. Dengan kata lain, ia mencoba untuk  "menjawab persoalan gender dengan peta yang lebih besar".  Dugaan “laki-laki juga bermasalah dengan konstruksi yang ada selama ini” pun ia ajukan.

Dari bergiat di Aksara, Dati pun melihat bahwa kelompok rentan juga berkontribusi pada banyak hal. Kelompok lansia, misalnya, berperan sebagai penyampai kearifan lokal, sampai pendataan korban. Soal pendataan korban, para kader Posyandulah yang melakukannya. Dapur umum, dalam kebudayaan masyarakat Jawa, disebut rewang sambatan, dihidupkan oleh perempuan. Skema tradisi ini dipakai ketika terjadi bencana—ada yang membawa beras, kelapa, nangka, bumbu. Cara ini terjadi spontan.

Namun, ketika terjadi bencana, ketika respons formal datang—dari pemerintah, BNPB, atau militer, tugas memasak di dapur umum digantikan laki-laki. “Anda lihat, misalnya, di dapur umum ada peralatan panci besar. Menurut saya, itu bagian dari pengabaian. Ketika datang bantuan, yang memasak itu laki-laki. Lalu, para penyintas dianggap tidak punya kapasitas. Mereka duduk diam dan menunggu jam makan. Itu yang membuat mereka stres karena merasa tidak dibutuhkan. Pengabaian tidak dihargai itu justru menambah kerentanan!” tegas Dati.

Peran perempuan dalam tanggap bencana juga tampak jelas pada ranah ekonomi. Jika dihitung rinci, kontribusi mereka tidak kecil. Namun, itu luput dari perhatian khalayak karena perekonomian perempuan merupakan jenis perekonomian subsisten. Mereka bekerja di rumah untuk nafkah tambahan dengan berjualan kue, es, dan jenis panganan lainnya.

Dati mengungkapkan, dalam pengalaman di dalam komunitas, ketika bencana terjadi, ada masa mereka berhenti karena berfokus pada penyelamatan. Tapi, kata Dati, ia melihat bahwa justru aktivitas produktif informal cepat pulih karena menjadi bagian dari healing(penyembuhan). Ini terlihat sehari setelah gempa di Desa Pundong, Bantul, tatkala seorang perempuan mencari rumput.

“Dia bilang, rumah saya hancur. Kalau tidak pergi mencari rumput sekarang, saya bukan hanya kehilangan rumah, tapi kehilangan ternak juga. Artinya, ada semangat untuk bertahan hidup. Padahal kan beban domestik mereka berlipat saat bencana. Misalnya, sumber air lebih jauh karena sumur mereka rusak atau anak mereka yang rewel karena trauma,” terang Dati.

Membincangkan gender memutlakkan berbicara konsep maskulinitas dan feminitas. Konsep maskulin akan membuat laki-laki dikonstruksi harus kuat , tak boleh takut, dan mau mengambil risiko. Itu kemudian berkontribusi pada praktik-praktik berisiko, seperti mengorbankan diri sebagai tumbal. Karena itu, ketika erupsi Merapi pada 2010, Dati menelusuri nama-nama korban. Ia menemukan: lebih dari separuh jumlahnya adalah laki-laki.

Pada beberapa situasi, konstruksi gender yang ada bisa juga merugikan laki-laki. “Ini mirip dengan bencana peperangan karena mereka harus berada di garis depan,” tutupnya.[] 

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP