Jumat, Februari 17, 2017

C. Campbell Macknight aka Mappasabbi Daeng Makkita

C. Campbell Macknight berjarak sekisar empat puluh tahun.

Posturnya menjulang. Kalau saya bandingkan dengan segelintir Indonesianis yang pernah datang ke Kampung Buku bertamu atau sekadar singgah mencari bahan penelitian, mungkin Charles Campbell Macknight yang tertinggi. Saya yang cuma 170 senti, ujung rambut saya mentok di ujung bawah telinganya.

Saya menyapanya Pak Campbell. Nama itu sudah akrab duluan di benak saya sebelum bertemu langsung. Itu karena namanya sama dengan nama 'tembok' belakang bek Arsenal yang tinggi nan lebar, Sol Campbell.

Saya dan Pak Campbell habiskan siang hingga menuju magrib di perpustakaan Kampung Buku, Makassar, pertengahan Januari 2016. Kami obrolkan beberapa hal, dari perihal bahasa Bugis dan lontara’ sampai cerita tentang kedatangannya pertama kali ke Indonesia.

Pak Campbell datang pertama kali ke Indonesia pada 6 Maret 1966. Tiba di ibukota, ia disambut gelombang demonstrasi di sekitaran Bundaran HI. Ia lupa nama jalan tempatnya menginap—maklum lima puluh tahun lalu. Tapi di situ ia lebih aman. Seperti kita tahu dari rekaman sejarah, masa paruh akhir dekade 1960-an itu merupakan masa golak sekisaran pemerintahan Soekarno ke Soeharto.

Ia baru ke Makassar tahun 1969, tiga tahun sejak tiba pertama di Indonesia. Tahun itu, seseorang di Sinjai memberinya nama Bugis “Mappasabbi Daeng Makkita”, kurang lebih berarti ‘penyaksi yang memberi petunjuk‘.

Ia datangi kawasan Leang-Leang. Perbedaan empat dasawarsa jelas ada. Terbitan berkala Rima (volume 39, 2015) yang dibawanya bergambar foto pinggir jalanan yang belum beraspal di Leang-Leang masih dirimbuni pohon. Tanjung Bunga, kata dia, empat puluh tahun lalu itu tidak ada. Saya tertawa mendengar ia menyebut ‘Tanjung Bunga’.

Apakah itu semacam humor gelap (black comedy) yang diselipkan pria yang tampak bugar di usia tujuh puluhan ini? Tanjung Bunga adalah kawasan baru di Makassar yang dikembangkan PT Gowa Makassar Tourism Development Tbk. Awal pengembangannya menuai protes dari banyak kalangan ketika pertama kali dicanangkan pembangunannya pada 1995.

“Saya ingat ketika melakukan perjalanan di sejumlah kawasan terpencil pada 1972, sebagai seorang bule yang sedang meneliti, saya disambut dan dianggap sebagai 'Prancis'. Itu berarti Pelras pernah ke sana sebelumnya,” katanya dalam https://saintjimpe.blogspot.co.id/2015/03/christian-honore-louis-pelras-17.html.

Pak Campbell mulai saya akrabi ketika memulai proyek penerjemahan The Voyage to Marege’ tahun 2006 atau awal 2007. Saya dan Nurhady Sirimorok kemudian mengirim surat ke dia untuk meminta izin penerjemahan yang diiyakannya langsung. 

Sejak itu, nyaris satu dasawarsa hubungan kami seperti berpacaran jarak jauh. Sekali waktu, sekisar 2009 atau 2010, ia datang ke Kampung Buku. Ia memborong buku terutama buku yang ditulis oleh akademikus di Makassar, seperti Assikalaibineng: Kitab Persetubuhan Bugis (Muhlis Hadrawi). Saya sendiri tak sempat bertemu ketika itu karena sedang di luar kota. Hanya teman-teman saya menyambutnya di halaman Kampung Buku.

Sekisar setahun setelahnya, profesor ini datang. Saya menyambutnya dengan kopi Toraja dan madu dari kawasan Tompobulu, lereng Gunung Bulusaraung, Pangkep. Senang juga melihatnya menyesap beberapa sendok madu itu.

Setelahnya, ia layangkan permohonan maaf karena terus berusaha mengurus perizinan dan memeriksa hasil terjemahan yang masih bolong. Ia juga ungkapkan rasa bersalahnya karena kesibukannya di lapangan tak bisa ia redakan.

Pada akhir 2015 atau awal 2016, Pak Campbell memberitahu bahwa akan datang segera ke Makassar dan membawa berkas foto-foto buku Voyage to Marege’. “Saya sudah dapat izin,” katanya di email.

Bukan cuma dia yang gembira. Saya pun pasti bilang iya. Simpul sudah lepas. Tertundanya proses penerbitan Voyage to Marege’ yang menunggu sepuluhan tahun akhirnya bisa diteruskan.

Awalnya, sepuluhan tahun waktu berjalan saya lupakan sebentar. Tapi begitu memasuki awal tahun 2017, waktu yang saya janjikan untuk naik cetak, saya hitung ulang. Memang benar, buku ini butuh sepuluh tahun untuk diterbitkan.

Saya lantas ingat beberapa hal bahwa Macknight sempat mendapat email ‘lamaran’ dari penerbit lain perihal kemungkinan diterjemahkan karya ini. Dengan meneruskan email jawabannya ke saya, saya jadi tahu bahwa ia menolaknya dengan alasan naskah terjemahan Penerbit Ininnawa sudah di tangannya—meski kami belum berdaya terhalang izin foto.

Soal foto-foto buku, ingatan saya menjalar ke Pakkuru Sumange’: Musik, Tari, dan Politik Kebudayaan Sulawesi Selatan (Ininnawa, 2013) karya Anderson Sutton. Ketika mendekati pencetakan, berkas-berkas foto Pak Sutton entah di mana. Jarak antara penerbitan buku edisi Inggris dan Indonesia cukup jauh. Jadi Pak Sutton lupa tempat menyimpannya. Itu ditambah rumahnya yang 'berantakan'. Di saat bersamaan, Pak Sutton bersiap pindah tugas jadi dekan di Hawai’i University, universitas yang jaraknya jauh dari tempatnya semula di Wisconsin (5000-an mil). Akhirnya foto-foto buku asli terpaksa kami harus reproduksi saja dengan semaksimal mungkin.

Ketika di halaman Kampung Buku, Pak Campbell jelaskan kalau ia datang ke Makassar pada Januari 2016 untuk hadir di sebuah konferensi arkeologi. Ia mengaku sengaja datang seminggu lebih cepat. “Untuk bertemu dengan teman-teman saya,” jelasnya dibarengi senyum lebar, “dan membawa foto-foto The Voyage.”

Saya amati, selama beberapa jam Pak Campbell di perpustakaan Kampung Buku tak pernah tampak gelisah. Ia kelihatan nyaman duduk di kursi kayu dan tak pernah meninggalkan tempat. Seporsi pisang ijo dan kopi tanpa gula ia habiskan. 

Diceritakannya juga tentang putranya yang baru saja menikahi seorang perempuan Tunisia. “Saya ingin sekali cucu,” kata Campbell. Ia katakan itu seraya mengacungkan kepalan tangannya. Kami tertawa keras waktu itu.

Tapi saya yakin ia jujur tentang itu. Meski kali ini, saya melihat Pak Macknight tertawa atau tersenyum lebar seakan tanpa beban. Persis yang saya lihat dari semua fotonya.

Usai azan magrib, lelaki itu pulang dengan langkah tegap, serta tas punggungnya. Itu langsung mengingat saya pada harfiah nama Inggris dan Bugisnya, yang bergerak ke kiri dan ke kanan bagai keriangan lonceng di permukiman, sekaligus sebagai pengingat bagi kita untuk membaca temuan-temuannya yang memberi saksi tentang sejarah para pencari teripang dari Makassar dalam bukunya yang terkenal, The Voyage to Marege’.[] 

Kamis, Februari 16, 2017

The Voyage to Marege': Pencari Teripang dari Makassar di Australia Utara


THE VOYAGE TO MAREGE’ Pencari Teripang dari Makassar di Australia Utara | © C. C. Macknight 1976, diterjemahkan dari C. C Macknight, Voyage to Marege’: Maccassan trepangers in northern Australia (Melbourne University Press, 1976) | Penerjemah: Anwar Jimpe Rachman, Ihsan Natsir | 
Penyunting: Abdul Rahman Abu
 | Cetakan Pertama, Februari 2017 | ISBN: 978-602-71651-9-9 | xii, 301 hlm 15 x 21 cm

The Voyage to Marege’ menyediakan kita sebuah pintu baru terkait sejarah orang-orang Australia. Hampir seabad sebelum Kapten Cook melayari pantai timur laut Australia, pelaut dari Asia rutin mendatangi Marege’, sebutan mereka pada kawasan ini, dan bahkan merintis industri di sana. Para laki-laki dari Makassar itu menempuh pelayaran panjang dan berbahaya demi mengumpulkan dan mengawetkan teripang yang dihargai mahal oleh penduduk Tiongkok.

Kajian C. C. Macknight ini menjadi klasik, bertahan hingga 40 tahun, sejak diterbitkan pertama dalam bahasa Inggris 1976 silam hingga diindonesiakan dan terbit pada 2017. Penyigian panjang Macknight ini menjadi salah satu sumber utama studi terkait sejarah Nusantara, terutama industri dan dunia perdagangan maritim abad ke-17 di Indonesia.

Sudah jelas bahwa karya Macknight berkontribusi sangat besar bagi pembaca umum dan para pengkaji dunia maritim dan sejarah perdagangan. Dengan kejelian mata tinjauan dari ragam disiplin ilmu dan mengandalkan bahan melimpah--mulai dari dokumen yang kaya (bukti administratif sampai sketsa/lukis/ gambar), temuan arkeologis, catatan etnografis, dan wawancara dengan orang-orang sepuh, yang pada masa mudanya melakoni pelayaran tersebut--Macknight membentangkan pada kita sebuah cakrawala baru yang indah tentang cerita tentang pelayaran-pelayaran epik ini.

Dilengkapi gambar, sketsa, dan foto-foto bersejarah, narasi-narasi lengkap dan berwarna yang disusun, Macknight menjadikan The Voyage to Marege’ menjelma sebagai hadiah yang menggembirakan pembacanya.

Minggu, Februari 12, 2017

Gelombang Perlawanan di Tepian Matano: Resistensi Masyarakat Sorowako terhadap PT. Inco


Gelombang Perlawanan di Tepian Matano: Resistensi Masyarakat Sorowako terhadap PT. Inco | Penulis: Sawedi Muhammad | Penyunting: Anwar Jimpe Rachman, Muhaimin Zulhair | Pengolah Data: Arief Wicaksono | Cetakan I, Januari 2017 | ISBN: 978-602-71651-7-5

“Gelombang Perlawanan di Tepian Matano” adalah kajian sosiologis yang disusun oleh Sawedi Muhammad melalui pemaparan detail perihal konflik yang terjadi di lingkar tambang PT International Nickel Indonesia, yang telah bertransformasi menjadi PT Vale Indonesia.

Dengan menggunakan teori gerakan sosial baru dan konsep Accumulation by Dispossession, Sawedi memaparkan genealogi dan dinamika perlawanan masyarakat Sorowako terhadap perusahaan; perlawanan yang diklaimnya berdampak rendah terhadap perubahan sosial, tetapi berhasil mempertahankan relasi kuasa yang relatif berimbang antara masyarakat dan perusahaan.


Lebih jauh, bila hendak membandingkan perlawanan ala James Scott (Weapons of the Weak, Everyday Forms of Peasant Resistance, 1985) yang bersifat tertutup dan laten, perlawanan masyarakat Sorowako menunjukkan identitas kulturalnya secara terbuka dan masif. Buku ini juga berbeda dari kajian etnografis Kathryn Robinson (Stepchildren of Progress: The Political Economy of Development In an Indonesian Mining Town, 1986) yang menempatkan penduduk asli sebagai elemen yang “pasif”. Buku ini mengungkap bagaimana masyarakat di lingkar tambang berperan sebagai “subjek” secara sosial, politik, dan kultural yang berjuang untuk mendapatkan apa yang mereka cita-citakan.[]

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP