Jumat, April 26, 2013

Guru dan Buku



TAHUN 2013 saya bertemu lagi dengan Mochtar Pabottingi. Kali ini lewat buku berjudul Burung-Burung Cakrawala (Gramedia, 2013). Buku autobiografi itu ia tulis sendiri—hal yang memang dilakukan orang semampu, sepatut, dan sebentangan-cakrawala berpikir sekaliber lelaki dari Bulukumba ini.

Burung-Burung Cakrawala (BBC) terdiri dari delapan bab. Meski setebal 386 halaman, tapi saya menikmatinya sekisar tujuh hari saja. Itu pun saya melewatkan membacanya lantaran bersibuk di luar rumah hingga larut.

Jumat, April 19, 2013

Kaset Ini Aku Pinjam...


INI TENTANG REVOLUSI. Hanya lebih senyap. Terjadi di dunia musik. Pada 21 April 1997, dua mahasiswa Jerman, Justin Frankel dan Dmitry Boldyrev, mengunggah aplikasi buatan mereka bernama Winamp. Seketika juga, orang-orang berbondong-bondong menuju dunia maya dan mengunduhnya. Sampai tahun berikutnya, tepatnya pada Juli 1998, Winamp dalam aneka versi ‘dipanen’ hingga lebih tiga juta kali. Mesin pemutar file MP3 itu telah membuka ruang baru bagi penikmat musik untuk bisa memperoleh musik gratis—hal di kurun waktu itu cuma bisa dinikmati dari kaset pita dan cakram padat [CD, compact disc].

Angka penjualan kaset pita dan CD pun terjun bebas. Toko-toko kaset tutup. Beberapa label besar terpaksa berkongsi. Ada pula yang terancam bangkrut lalu diakuisisi. Pendengar ogah lagi membeli kaset pita dan CD lantaran mudahnya mereka berbagi file lagu. (Gejala yang sama juga menimpa rumah produksi film. Film-film layar lebar marak disebar di internet, kadang jauh sebelum masuk jadi daftar putar di bioskop. Tinggal buka tautan, langsung unggah. Celaka itu juga diperparah meluasnya CD dan DVD bajakan di emperan dan pasar.)

Foto: Anwar Jimpe Rachman
Namun praktik berbagi dan menggandakan lagu pun, sebenarnya, sudah terjadi selama zaman kaset pita. Itu karena dipasarkannya tape recorder dengan pemutar ganda. Satu dua toko kaset di Makassar juga menerima pesanan macam itu. Bagi yang berkawan dengan penyiar radio, bisa pula melakukan hal serupa. Tinggal beli kaset kosong, tulis daftar lagu, dan semingguan kemudian kaset kumpulan lagu andalan si pemesan siap diputar. Masa itu juga masa ketika fungsi kaset layaknya buku: saling pinjam saling tukar. Mungkin ketika itu kita pun bisa memelesetkan hits Iwan Fals “Kaset Ini Aku Pinjam”. 

Rabu, April 17, 2013

Rewind – Makassar Nol Kilometer

(Catatan ini merupakan catatan Joeni Hartanto, kawan dari Yogyakarta, yang kebetulan mampir ke Kampung Buku ketika acara #Rewind digelar. Ia singgah menengok Isobel sebelum melanjutkan tugasnya ke beberapa daerah lagi. Saya mencomotnya dari note Facebook lelaki yang akrab dipanggil Mas Tanto ini.
Tulisannya sangat ekspresif. Saya yakin, Mas Tanto tak mau membiarkan kesannya tertimbun jeda atau tidur. Ia menyelesaikannya sepulang dari Kampung Buku. Saya hanya mengedit beberapa tanda baca saja untuk tidak menghilangkan esensi pikiran dan inti impresinya atas acara tersebut.)


Satu hal yang saya rencanakan sebelum sampai Makassar, bertemu mengunjungi Bobel, Bidadari Kampung Buku, yang suka sekali memberi makan kambing dengan sayur! Seperti sudah diatur,tanpa sengaja, tempat menginap saya hanya sepelemparan batu dari Kampung Buku, Komunitas Ininnawa. Setelah siang sampai lepas maghrib berkutat dengan interview, sambil melepas kepenatan terlalu lama duduk, berjalan-jalan mungkin akan sangat menyenangkan meskipun tentu Anda tahu bagaimana kondisi lalu lintas di Makassar; sangat ramai dan jalanan berdebu saat tidak turun hujan.

Keluar hotel, belok kanan, terus saja sampai mentok, ada jembatan belok kanan lagi,..sudah sampai, dekat Kantor Kelurahan Pandang. Jika naik taxi, argo belum bergerak sudah sampai! petunjuk dari SMS kawan Ishak.

Berjalan di tepian jalan tanpa trotoar, sedikit mengerikan karena memang jalan beton baru dibangun dan tidak banyak menyisakan orang berjalan kaki dengan nyaman. Mendekati tujuan, terlihat banyak motor parkir, kalangan muda berdiri, terdengar juga celotehan orang bercerita dari pengeras suara. Terlintas dalam pikiran, mungkin rumah buku sedang ada acara. Kebetulan sekali!

REWIND! Sebuah acara yang diprakarsai oleh kawan-kawan Makasar 0 Kilometer sedang berlangsung di Kampung Buku. Berhenti, berdiri beberapa saat di antara kerumunan penonton, melihat dan mengamati sebelum menjumpai tuan rumah, keluarga Bobel, bidadari Kampung Buku. Judul acaranya provokatif. Memutar ulang? Apa yang diputar ulang? Inspiratif.
Saya mulai paham apa yang dimaksud REWIND, memutar kembali pita-pita kaset koleksi dari generasi "para tetua" didengarkan bersama sambil menceritakan koleksi pita kasetnya yang berupa lagu-lagu original dari zamannya pada generasi di bawahnya yang hanya mengenal cakram digital hasil rekaman digital abad 21. Ada yang membawa koleksi Kaset Beatles, Scorpion, Rick Springfield dan mungkin juga KoesPlus. Mereka bercerita bagaimana mendapatkannya, kenapa mengkoleksinya, latar belakang lagu dan kontek syairnya, dan saat didengarkan pita kaset, terdengar dan terasakan seolah lagu tersebut hidup lagi, dan bisa menyentuh gerak hati mereka atas lagu yang diputar. Saya rasakan itu. Mungkin demikian juga yang lainnya. Ada apa ini? Apakah "jiwa" pemusik dan musiknya terbawa oleh pita kaset? Sangat menarik! apakah lagu-lagu yang direkam secara digital dengan puluhan track di studio bisa menimbulkan efek imagi mendalam seperti itu? Mungkin!

Terkejut ketika saya menyeruak menyalami Jimpe, Hepi, temanten baru, istri Imran. Terkejut karena saya muncul tanpa diundang!

Aiiih Si Bobel muncul dari pintu dengan matanya yang bundar melebar berkaos pink, berbando pink, pun membawa boneka berwarna pink pula! Memangkunya, mencowel pipinya yang mbakpauw melepas kangen setelah terakhir bertemu beberapa bulan lalu di Pakem. Kemajuan Bobel sudah mulai bawa buku cerita ke mana-mana, ngoceh sambil buka-buka buku bercerita tentang gambar-gambar yang ada di bukunya. Anggota termuda Kampung Buku mulai cinta buku! Terus ya, Bel! Asiik, nanti kalau sudah bisa menulis, belajar nulis cerita!

Sederhana, dari sebuah ide simple tapi bukan sederhana diimplementasikan langsung dalam tindakan nyata dari Komunitas Makassar 0 Kilometer. Mereka berkumpul bersama untuk saling menambah wawasan, mengembangkan sebuah ide, mengumpulkan banyak orang untuk menciptakan momen kebersamaan, juga mempromosikan ide-ide kepada yang lain di kegiatan berikutnya. Buku-buku dipajang dijajakan untuk dijual, beralaskan karpet plastik; hasil rajutan dari kelompok QuiQui dipamerkan dan dijual untuk mengumpulkan dana kegiatan di bulan Juni 2013: BOM QUIQUI di Fort Rotterdam! Siapa mau ikut? Siapa mau menyumbang? Silakan langsung ke Kampung Buku!

Bidadari Kampung buku tampak mengekor mengikuti ayahnya membawa layar projector untuk memutar film dokumenter SOUND CITY. Pemutaran film inilah yang semakin membantu pemahaman saya tentang apa maksud REWIND! Kenapa memperkenalkan kembali pita kaset dengan perekaman manual? Apa yang sebenarnya tujuan dari kegiatan kawan-kawan Makassar 0 Kilometer? Semoga saya tidak salah menafsirkannya hehehe…

Film SOUND CITY adalah film dokumenter yang mengisahkan tentang studio rekaman bernama SOUND CITY di San Fernando Valley, yang terletak di tengah-tengah deretan gudang bobrok. Studio rekaman yang memiliki konsol rekaman custom yang pada awalnya memiliki reputasi sangat bagus untuk perekaman alat musik drum. 

Beberapa group rock ternama misalnya Fleetwood Mac, Neil Young, Rick Springfield, Tom Petty, Kyuss, Slipknot dan Nirvana merekam lagu-lagu terpopulernya di studio ini secara manual, sebuah versi "live" direkam secara manual di studio. Langsung apa adanya, suara berasal alat musik pemusik tanpa melalui proses "olah suara dan efek studio digital", murni keterampilan pemusik, demikian juga vocalnya. 

Penguasaan, kepiawaian mengeluarkan bunyi dari alat musiknya murni dari si pemusik, demikian pula vocal penyanyinya, dan memang dimainkan live. Tidak seperti studio rekaman digital beberapa tahun belakangan ini, yang serba digital, puluhan track digunakan, pengisian musik bisa satu per satu, efek suara bahkan kekeliruan pun bisa "diperbaiki" dengan sistem perekaman digital. Suara "pas-pas-an", penguasaan alat musik secukupnya pun bisa diolah menjadi wah di studio rekaman digital. Skill dan kapasitas "bermusik" bisa diperbaiki di perekaman digital, sangat berbeda ketika perekaman manual yang memerlukan skill dan kapasitas bermusik, soliditas yang mumpuni untuk bisa menghasilkan rekaman musik yang bagus! Digitalisasi perekaman memang memudahkan, dan bisa menghasilkan musik yang berkualitas meskipun pemusik dan penyanyinya pas-pasan, karena apa yang dihasilkan bisa dimanipulasi dan diolah kembali sampai mendapatkan kualitas yang baik, meski pemainnya relatif tidak berkualitas. 

Boy band, Girls band pun sekarang bisa menelorkan album yang "berkualitas" meskipun kenyataanya kemampuannya sangat minim, walau tidak live show mereka bisa terkenal karena hasil rekaman. Live show ketika sudah terkenal dan hasilnya kebanyakan sangat berbeda! Itulah sebenarnya kemampuan mereka! akhirnya lip-sync jalan keluarnya. Beda dengan group-group musik/penyanyi di era perekaman manual, kualitas dan kapasitas pemusiknya memang nyata tanpa rekayasa mereka sudah terkenal dulu di panggung, baru kemudian merekamnya secara manual "liveshow" di studio! Bukan rekayasa!

Musik adalah rasa, musik adalah jiwa dari pemusik atau pelantun lagu. Dengan liveshow "kejiwaan" pemusik/pelantun bisa terasakan oleh pendengar, dan tergerakan untuk merasai sebagaimana yang dirasakan oleh pemusik atau pelantun nyanyian. Ada jiwa, rasa yang terinteraksi diantara penonton dan pemain! Metode perekaman "liveshow" manual bisa mewadahinya! Sehingga meskipun kita mendengarkan hasil rekamnnya kita masih merasakan hingar bingar kejiwaaan musik yang kita dengarkan seolah kita menonton langsung. Apakah rekaman digitalisasi tidak bisa menghasilkan atmosfer seperti rekaman manual? Tentu bisa, tapi memang dibutuhkan seorang pemusik dan pelantun yang memang benar-benar mumpuni dan memiliki kualitas dan kemampuan yang tinggi, bukan karbitan atau instan. Salah satu yang saya ketahui, beberapa pemusik jazz masih melakukan perekaman "liveshow" manual karena memang Jazz penuh improvisasi, setiap performance selalu tidak sama improvisasi dan jiwanya.

Modernitas bukan suatu yang instan, tetap kemampuan dan kapasitas prima yang menjadi modal utama. Digital era memang memberikan kemudahan, tapi bukan karena kemudahan itu kita melupakan kualitas, hanya karena segala sesuatunya bisa direkayasa menjadi kelihatan "berkualitas". Jangan heran jika anda saat ini mendengarkan Ebiet, Koesplus, Godbless atau group musik "kuno" Indonesia lainnya masih tetap menghipnotis "jiwa" meskipun didengarkan dari MP3 player oleh generasi yang tidak pernah melihat aksi panggungnya. Sangat berbeda group-group musik instan yang menjadi terkenal karena CD digital recordingnya. Sesuatu yang "instan" biasanya tidak akan berumur panjang. Lagu dan musik yang tercipta seringkali tidak bisa membawakan jiwa pemusik atau pelantunnya. Apalagi jika hanya direkam di ratusan track digital yang disatukan/mixdown! Tidak berjiwa!

Terima kasih Bobel, rasa kangen terpuaskan. Pun Om Tanto bisa menikmati REWIND di Kampung Buku.

Panakukang-Makassar, 13 April 2013

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP