Kamis, April 26, 2012

Kata-kata di Kota

Foto: Anwar J Rachman

Bila ke kota yang baru saya kunjungi, hal yang paling menyenangkan adalah memeriksa teks-teks di sekitaran kota bersangkutan. Hal itu juga saya lakukan ketika berkesempatan ke Tual, kotamadya di Maluku Tenggara. Di sana mendapati angkutan kotanya yang bertuliskan "Futu Fesse", sejenis kuliner dari beras produk kebudayaan masyarakat Bugis. Keturunan Bugis memang banyak di kota yang berada di Pulau Dullah ini.


Foto: Anwar J Rachman
Saya menduga, "Buaz" adalah nama kelompok pemuda. Gambar ini saya ambil ketika Langgur lengang karena mayoritas warganya merayakan Hari Paskah. Langgur adalah ibukota Maluku Tenggara yang terletak di Pulau Kei Kecil.




Plang ini bagi saya unik karena "jual kambing untuk korban". Biasanya sih "jual kambing untuk kurban". Gambar ini saya ambil di kawasan 'kota baru' Tual, sekisar sekilometer dari 'kota lama' Tual.

Minggu, April 08, 2012

Puang Upe’, Bissu Penjaga Rakkaeang Kuning

Puang Upe pada awal 2012. [foto: Sapriady Putra]
SI PRIA langsing menghunus pelan Alameng dari sarungnya yang berlapis kuningan dan berbalut kain putih. Segera tampak sebilah pedang berlapis serbuk putih yang tipis. Lelaki berdada rata yang tampak doyong itu segera mencium  pedang tersebut seraya memejamkan mata kemudian memasukkannya lagi ke sarungannya.

Lelaki itu bernama Puang Upe’. Umurnya sekisar 50 tahun. Ketika mendiang Puang Matoa Saidi memimpin komunitas Bissu Dewatae, Puang Upe menjadi Puang Lolo—bahasa Bugis yang berarti ‘pemimpin muda’—sebutan untuk jabatan wakil Puang Matoa. Ia mengemban tugas ini sejak 2001 silam, bersamaan saat Puang Saidi dilantik menjadi Puang Matoa.

“Tadi yang putih itu adalah bedak, untuk mencegah karat, Nak,” jelas Puang Upe’ dalam bahasa Bugis yang cepat, di kediamannya pada akhir Februari 2012. ‘Nak’ merupakan panggilan yang sering meluncur dari bibir Puang Upe’ ketika bercakap dengan siapa saja.

Alameng, pedang pusaka pemimpin komunitas Bissu Dewatae, kini tersimpan di rumah panggung sederhana Puang Upe’ di Bonto Mate’ne, Kecamatan Segeri, Pangkajene Kepulauan, sekisar 60 kilometer utara Makassar. Kendati Puang Upe’ kini sebagai pemegang Alameng, namun, kenyataannya, ia belum resmi menyandang gelar ‘Puang Matoa’ karena belum melalui upacara pelantikan.

Selain Alameng, di rumah Puang Upe’ juga memegang tanda kebesaran dan perlengkapan upacara bissu lainnya: [1] Paccoda’, sebatang kayu bersegi delapan yang terbungkus kain kuning cerah yang dibawa oleh Puang Lolo; [2] Tolousu dan Arumpigi berupa kayu berongga atau bambu berujung kepala ayam berisi butiran dan mengeluarkan bunyi bila diguncang yang dibalut kain merah—keduanya dibawa oleh anak bissu—mengingatkan pada hewan peliharaan sang pencipta jagat I La Galigo, Patoto’e (Sang Penentu Nasib), dan [3] Lellu Patara, pemayung dari kain cinde segi empat yang setiap sudutnya berbatang penunjang.

PERGANTIAN kepemimpinan bissu Segeri terjadi bila sang pemimpin meninggal. Ketika Puang Saidi meninggal 28 Juni 2011 lalu, terjadi pro dan kontra tentang pergantian kepemimpinan ini. Menurut antropolog Universitas Negeri Makassar, Halilintar Lathief, penyigi yang telah 30 tahunan meneliti bissu, pergantian itu dilakukan di depan jasad Puang Matoa sebelum dikuburkan. Entah mengapa hal itu lalu diurungkan.

“Ada kabar kalau ada juga yang mau jadi matoa. Saya bilang silakan saja. Tapi kalau ada apa-apa dan sampai mempermalukan komunitas bissu, biar dia tanggung,” tegas Puang Upe’. Mimiknya begitu serius.

Bissu adalah komunitas pendeta wadam dalam kebudayaan Bugis pra-Islam. Kalangan ini dipercaya sebagai penjaga pusaka (arajang) kerajaan. Berbagai literatur tentang masyarakat Bugis menyebut bahwa bissu merupakan salah satu dari lima jenis kelamin yang hidup dalam kebudayaan Bugis, selain orowane (laki-laki), makkunrai (perempuan), calabai (laki-laki cenderung feminin), calalai (perempuan cenderung maskulin).

Bissu merupakan penghubung dunia manusia dengan dunia Dewata. Para pendeta ini memiliki bahasa sendiri. Dalam sebuah wawancara dengan seorang peneliti pada 2010, ahli bahasa Bugis, almarhum Muhammad Salim menyebut bahasa yang dipakai kala bissu memimpin upacara suci bernama bahasa Bugis Galigo.

“Selain (bahasa) Bugis pasaran dan bahasa resmi, ada juga bahasa Galigo. Bahasa ini sepertinya bahasa masa pra-Islam karena belum ada penanda waktu dalam bahasa Bugis jenis Galigo,” papar Pak Salim. Konon, Pak Salim juga yang mengajari Puang Saidi membaca lontara’ berbahasa Galigo tak lama setelah menjadi Puang Matoa. Kedua tokoh ini pula sempat ikut dalam pementasan I La Galigo ke beberapa negara yang dibesut Robert Wilson dan kawan-kawan.

Pada masa gencarnya gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di bawah pimpinan Abdul Kahar Muzakkar yang mengusung anti feodalisme dan pemurnian praktik Islam, peran para bissu memudar seiring tradisi yang mereka jaga dianggap di luar dari syariat Islam dan diperparah menyurutnya pengaruh istana kerajaan, yang sebelumnya jadi tempat mereka menegakkan kharisma sebagai penjaga arajang (pusaka kerajaan). Sejak itu pula, menurut Susan Bolyard Millar dalam Perkawinan Bugis [Ininnawa, 2009], bissu beralih menyewakan perlengkapan busana tradisional kalangan bangsawan (menggunakan ornamen emas-sepuhan sebagai tiruan ornamen pusaka asli yang terbuat dari emas murni).

PUANG UPE’ mulai menjalani hidup sebagai bissu pada usia 14 tahun. Lelaki tamatan sekolah dasar ini mengenal dunia bissu lantaran bertetangga dengan kepala bissu masa itu, Puang Matoa Bissu La Seke’. Dari Puang La Seke’-lah ia mendapat bimbingan dan pelajaran segala macam ritual pengobatan ala bissu yang masih dilakoninya hingga sekarang.

Puang Upe’ mengungkapkan, ia sering melayani pengobatan ala sanro (dukun) untuk pria yang bermasalah dengan kehidupan seks. Puang Upe’ lalu menunjukkan sebuah botol air mineral transparan yang berisi cairan yang sewarna air seni. Baunya bau alkohol. Air peraman padi itu disebutnya bisa menormalkan kehidupan seks pasiennya. “Cukup tiga hari minum ini, bisa lagi tojo (berdiri),” tegas Puang Upe’ membelalakkan mata, seraya menegakkan jari telunjuknya.

Dalam sebuah kesempatan pula di awal Maret ini, Puang Upe’ sedang bersiap menggelar ritual mangota dan mappanre lise’. Ia mempersiapkan upacara ini atas undangan seorang warga setempat yang akan melakukan upacara pengobatan untuk salah seorang anggota keluarganya yang memiliki kandungan rapuh. “Mereka mau mengupacarakan karena sudah tiga empat kali keguguran,” jelas Puang Upe’.

Menurut pemuda setempat, Nasrul, 30 tahun, yang selama ini berguru pada Puang Upe’, dalam mangota dan mappanre lise’, bissu menyiapkan sarung dan benno berre’ (sanggrai beras) untuk upacara tersebut. Sarung akan dibentuk jadi wadah untuk sanggrai beras lalu diletakkan di atas perut si perempuan. Konon, bila terjadi komunikasi antara bissu dan roh yang diajak berbicara, wadah sarung dan sanggrai akan bergerak tak berhenti.

Puang Upe’ pun sesekali diminta menjadi ‘pawang hujan’. Namun untuk tugas ini ia tidak turun langsung. Puang Upe’ hanya mengajarkan pada si pelaksana pesta beberapa laku dan bacaan-bacaan. Tentu saja, kata Puang Upe’, ada yang gagal karena sangat bergantung pada orang yang diajari apa percaya atau tidak.

Dalam kehidupan sehari-hari, Puang Upe’ menjadi pelindung bagi para calabai. Bahkan, berdasarkan pengakuan Puang Upe’, seluruh waria di Kecamatan Segeri mencantumkan ‘bissu’ untuk keterangan ‘pekerjaan’ mereka. “Saya pernah dihubungi Haji Susan (Ketua Waria Pangkep) kalau banyak waria dari Segeri menulis di kartu anggotanya. Dia tanya, bagaimana dengan ini. Saya bilang tidak apa-apa. Yang penting mereka tidak berbuat macam-macam,” cerita Puang Upe.

Lelaki asli Segeri ini mengaku, kerap mendengar perbincangan kalangan waria bila sedang membincangkan lelaki yang mereka sukai. Salah seorang anak kerabatnya yang disebutnya sebagai ‘cucu’ bahkan ada yang pernah menjadi waria. Namun cucunya itu kemudian menikah tak lama setelah pulang dari Makkah berhaji. Sayangnya, cucunya itu bercerai beberapa waktu kemudian dan tak punya anak. Tapi, berdasarkan pengakuan Puang Upe’, sebagai bissu, hasratnya terhadap sesama jenis memang tidak ada. “Ya tidak bisa sama sekali. Memang lain kalau bissu, Nak,” terangnya. Suaranya terdengar merendah.

Wibawa Puang Upe’ seperti tameng bagi kaum wadam. Dalam sebuah porseni waria di Bulukumba beberapa waktu lalu, kalangan agamawan menggelar demonstrasi terhadap kegiatan kalangan ini. Apalagi Bulukumba dikenal sebagai kabupaten yang menerapkan peraturan daerah berorientasi syariat Islam. Puang Upe’ maju menghadapi para demonstran itu. Untungnya, kericuhan antara kedua kubu kemudian bisa ditangani pihak keamanan.

RUMAH PUANG UPE’ tipikal rumah panggung Bugis lazimnya. Letaknya di pinggir hamparan sawah hijau di Bonto Mate’ne, Segeri, lima ratusan meter di timur bola arajang, rumah kebesaran komunitas bissu. Ukurannya sekisar enam kali lima meter—lebih kecil dari rumah dua saudaranya, Puang Duri dan Puang Mame’, yang ada di depannya. Menuju rumah Puang Upe’ pun harus lewat rumah Puang Duri yang berpagar tembok tinggi. Di sana ia tinggal sendiri di rumah yang tampak miring itu. Segala keperluan makan dan minumnya disediakan oleh kedua saudaranya.

Rumah panggung seperti yang didiami Puang Upe’ menjadi cerminan dari tiga dunia dalam cerita I La Galigo: rakkeang atau loteng menjadi Boting Langi (Dunia Atas), watang pola atau bagian tengah menjadi Alekawa (Dunia Tengah), dan awa bola atau kolong menjadi Buriliung (Dunia Bawah).

Puang Upe’ memelihara bebek dan ayam di bawah rumahnya empat tahun lalu. Bebek dan telurnya ia sering hadiahkan untuk para kerabatnya. “Saya kasih saja. Kalau uang bisa habis,” ujarnya, enteng. Di dalam bagian tengah rumah, Puang Upe’ menerima tamu-tamunya. Di bagian tengah itulah terdapat beberapa benda yang dipakai dalam upacara bissu. Benda-benda itu diletakkan di sekitaran ranjangnya. Di sebelah timur ranjangnya terdapat tangga bambu menuju rakkeang. Lubang segi empat menuju ‘dunia atas’ itu dilapis kain berwarna kuning emas, sewarna dengan hiasan benda-benda ritual bissu.

Apa gerangan di atas sana? Puang Upe’ hanya menggelengkan kepala. Ia hanya menuturkan cerita perihal kedatangan seorang istri pengusaha yang berhajat menyembelih kerbau sekaligus ‘naik’ ke rakkeang, bila kapal yang sedang dibangun suaminya rampung dikerjakan. Kejadian itu berlangsung beberapa waktu silam. Setelah kapal tersebut benar-benar selesai dan siap berlayar, ia segera meminta Puang Upe’ untuk melaksanakan upacara syukuran.

Dari rumah Puang Upe’, sekisar lima ratus meter ke arah barat, pintu bola arajang tertutup rapat siang menjelang sore di akhir Februari 2012 itu. Belum ada kegiatan di rumah panggung tersebut. Tersiar kabar di awal Maret ini Puang Upe’ akan menggelar upacara tolak bala di bola arajang yang digelar hanya sekali setahun. Mungkin menolak bala agar praktik-praktik kebudayaan yang Puang Upe’ dan sepuluhan bissu lainnya terus jaga agar tetap berjalan. []

#Disiarkan di majalah Warisan Indonesia edisi 15 Maret-15April 2012

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP