Rabu, Mei 01, 2013

Romo Budhi, Tugas Sosial & Agama di Tengah Komunitas


Komunitas merupakan fondasi utama warga menanggulangi risiko bencana. Begitulah cara berpikir Romo St. Budhi Prayitno, Pr, Ketua Karitas Purwokerto, ketika memulai kerja-kerja pengurangan risiko bencana (PRB) di wilayah kepastoralannya.
Romo St. Budhi Prayitno, Pr [Foto: Armin Hari]
Bekerja di tengah komunitas bukan hal baru bagi lelaki berpanggilan akrab Romo Budhi ini. Tahun 1986, ia resmi menjadi pastor di Kalimantan Barat sekaligus melayani umat dari para transmigran Jawa. Selesai di Kalimantan, ia ke Jakarta mengurus para pelaut asing yang mendarat di kawasan Tanjung Priuk. Sepulang dari Belanda menyelesaikan karya pastoralnya, ia dikirim lagi. Kali ini ke Purwokerto.

Di Purwokerto (1993-1994), Romo Budhi bertugas membina satu daerah kecil. Pelan tapi pasti, daerah tempatannya lalu menjadi paroki. Namun, titik balik ketika lelaki kelahiran 23 Maret 1958 ini bekerja di kawasan Pangandaran tersapu tsunami pada 2006. "Dari situ saya mulai mengorganisasi tanggap darurat,” jelas Romo Budhi, di sela-sela kepesertaannya di AMCDRR V 2012.

Meski mengaku tahun 2006 belum punya data memadai, Romo Budhi dipercaya mengelola program penanganan kebencanaan. Uskup tempat bernaungnya mendirikan Caritas Purwokerto dan meminta Romo Budhi untuk memegang kendali. Selama itu pula lelaki berkumis ini mendapat kesempatan belajar dari Karina dan jaringannya, mulai dari manajemen komunitas sampai manajemen keuangan.

Sekisar setahun kemudian ia bergerak tanpa bekal pengetahuan PRB yang mendalam. Sementara pula, wilayah kepastorannya mendapat banyak bencana. Romo Budhi dan rekan-rekannya turut menyalurkan bantuan. Pada 2008, ia dan tim mendapat bimbingan Karina Sarikel Yogyakarta dan LSM lain terkait PRB. 

“Kami mengadakan kajian organisasi untuk tahu sampai di mana pengetahuan kami. Ternyata, kami belum tahu apa-apa!” kata Romo Budhi, tertawa. Cara pandang Romo Budhi dan tim kerja berubah ketika mendapat pelatihan yang memberi metode pengurangan risiko bencana yang dimanajemeni masyarakat. Seusai pelatihan, Romo Budhi dan tim memfokuskan kegiatan-kegiatannya pada titik ini.

“Komunitas yang menjadi aset investasi penanggulangan risiko bencana. Kami hanya fasilitator. Segala-galanya berfokus pada komunitas. Karena komunitas inilah modal untuk keberlanjutan. Hingga mereka sendiri melakukan kajian, membuat rekomendasi untuk kontijensi, rekomendasi untuk pembangunan yang terhubung DRR,” terang lelaki berperawakan kecil ini.

Bagaimana cara dan bentuknya? Romo Budhi menjelaskan, menempatkan diri semata sebagai pendamping, ia bersama tim mengajak warga menganalisis ancaman, kerentanan, dan kapasitas warga sendiri, sampai diajak menganalisis risiko bencana, dan membuat rekomendasi, hingga kemudian membentuk kelompok atau organisasi masyarakat. "Kalau sudah ada di kelurahan ya tidak perlu. Tapi, kalau memang tidak, kita bentuk. Dengan begitu, ada kelompok yang sungguh-sungguh bertanggung jawab pada rekomendasi yang telah mereka buat sendiri,” terang Romo Budhi.

Wilayah Caritas Purwokerto meliputi Kabupaten Brebes, Purworejo, Banjarnegara, Batang, Purwokerto, Cilacap, dan Pekalongan, yang terkena tanah longsor, tsunami, banjir, penyakit di perkotaan. Dalam perkiraan Romo Budhi, pendampingan ini berlangsung pada dua belas lokasi dengan rata-rata dihuni 250 kepala keluarga. Tantangan merupakan bagian dari kerja. Demikian pula dengan apa yang selama ini digeluti Romo Budhi. Tantangan itu datang dari jarak wilayah dampingan sampai tantangan dari masyarakat sendiri, termasuk anggapan berlangsungnya kristenisasi. Untungnya, Romo Budhi dan rekan-rekan mengenal baik tokoh-tokoh setempat dan tokoh agama melalui pendekatan yang ia lakukan sebelumnya.

Romo Budhi dan tim mengajak beberapa orang, termasuk seorang pejabat kepala urusan agama di satu desa untuk ikut pelatihan pendampingan. Karena itu, Romo Budhi mengaku, hubungannya selama ini terjalin baik dengan beberapa kalangan seperti Nahdlatul Ulama (NU), guru-guru Muhammadiyah, dan pihak pesantren. “Kami sampaikan bahwa kita tidak membawa barang langsung. Kalau pun tidak bisa masuk, kita serahkan ke majelis taklim setempat. Kami datang tidak berbicara agama. Kami bicara soal manusia. Prinsipnya itu!” begitu Romo Budhi, menekankan.

Namun, catatan penting untuk digarisbawahi, kata Romo Budhi, ia bersama tim bukan belanja di kota lalu datang membawa bantuan. “Kami tidak datang membawa mi instan atau susu kemasan. Anak-anak setempat akan terbiasa. Kalau kita sudah pergi, terus mereka mau dan sudah tidak ada, bagaimana? Itu namanya bencana kedua!”

Tugas sosial dan keagamaan merupakan dasar gerak Romo Budhi. Ia melakukan berdasarkan keputusan Gereja sekisar tahun 1965 bahwa keprihatinan masyarakat sekitar menjadi keprihatinan kalangan Gereja juga. Masyarakat akan kehilangan jati dirinya bila bencana terjadi. Makanya, semisal, soal pendidikan dan pembinaan iman umat dianggap sama pentingnya dengan membela hak-hak masyarakat. Tidak ada yang menjadi prioritas.

Keberhasilan kerja-kerja Caritas Purwokerto tidak terlepas dari peran lima sukarelawan dan dua puluh tujuh "sahabat", orang tempatan yang mendapat pendidikan kebencanaan. “Bagaimana menguatkan mereka supaya bisa merancang sampai mengevaluasi, yang bisa mengubah paradigma dan menjadi seseorang yang bisa bertanggung jawab. Sehingga ketika kita keluar dan melupakan kita, ya kita malah senang. Tapi, kalau masih tanya kita, berarti kita gagal,” jelas Romo Budhi, enteng.

Kegagalan pendampingan bisa terjadi bila masyarakat hanya bisa menganalisis dan mengerjakan, sementara kebijakan masih dipegang organisasi, bukan masyarakat. Untuk bisa sampai di titik ini, Romo Budhi mengungkapkan, komunitas dampingan harus mengubah paradigma bahwa dasar pembuatan proposal hanya menjadi dasar kerjasama—bukan untuk "mencari" uang—karena proposal menjadi "alat/sarana" untuk mengatasi masalah.

“Kita datang bertemu orang lokal dan mengajari assessment, menyusun laporan situasi, dan apa yang dibutuhkan masyarakat. Di mana bisa didapat? Kalau di tempat itu bisa didapat, ya kita serahkan duit saja. Laporan kita ajarin. Jadi kita datang bukan dengan paket yang banyak. Mereka yang menyiapkan paket. Memandang mereka sebagai ‘korban’ bencana perlu kita ubah. Mereka adalah orang-orang yang berjuang mendapatkan hak hidup hak makan. Kalau mereka berjuang, kita akan menjadi saudara dan kawan dia!” jelas Romo Budhi.

Untuk mengokohkan komunitas itu pula, maka Romo Budhi menyarankan agar pemerintah desa mengakui keberadaan kelompok masyarakat ini. Dengan begitu, pemerintah desa bisa menyediakan anggaran pengurangan risiko bencana.[]

Jumat, April 26, 2013

Guru dan Buku



TAHUN 2013 saya bertemu lagi dengan Mochtar Pabottingi. Kali ini lewat buku berjudul Burung-Burung Cakrawala (Gramedia, 2013). Buku autobiografi itu ia tulis sendiri—hal yang memang dilakukan orang semampu, sepatut, dan sebentangan-cakrawala berpikir sekaliber lelaki dari Bulukumba ini.

Burung-Burung Cakrawala (BBC) terdiri dari delapan bab. Meski setebal 386 halaman, tapi saya menikmatinya sekisar tujuh hari saja. Itu pun saya melewatkan membacanya lantaran bersibuk di luar rumah hingga larut.

Setiap babnya bercerita tahapan kehidupan Mochtar Pabottingi. Pak Mochtar membuka cerita bagian pertama tentang masa kecilnya di sebuah rumah panggung di Desa Barebba, nama kampung di Kabupaten Bulukumba, yang terletak di pinggang pegunungan kawasan Lompobattang. 

Pada bab kedua, Pak Mochtar bercerita perihal kepindahan keluarganya ke Makassar pada tahun-tahun akhir dasawarsa 1950. Sayup tertangkap dalam bagian ini narasi tentang kepindahan banyak orang ke Makassar dikarenakan dera perang antara TNI dan DI/TII. Sengketa ini pula menjadi salah satu episentrum pendorong gelombang migrasi orang-orang Sulawesi Selatan ke Makassar maupun ke daerah lain.

Dalam bab ini kita bisa meresapi romantisme keadaan Makassar kala belum menjadi kota semacet sekarang. Lebih dari itu, di sepanjang bab ini berikut dalam End Note [Catatan Akhir] saya mendapat banyak informasi bagaimana golak dan didih dunia intelektual di Makassar di kurun waktu 1970-an dan gemanya yang menyentuh kita hingga sekarang.

Bab-bab setelahnya menghikayatkan bagaimana ia menjelma sebagai seekor burung membentangkan sayapnya menuju ufuk-ufuk yang sering dibayangkan oleh Mochtar muda tatkala duduk menghabiskan senja di Pantai Losari tahun 1960-an.

Cakrawala pertama adalah Yogyakarta. Pak Mochtar menjejaki Yogya berkat beasiswa dari sebuah perusahaan multinasional. Di sana ia melanjutkan jurusan Sastra Inggris di UGM, yang sebelumnya ia sempat tempuh di Unhas, Makassar. Di sini ia berkarib seraya berguru pada sejumlah nama ‘awam’ di jagat kecendikiawanan Indonesia, seperti Umar Kayam, Kuntowijoyo, WS Rendra, dll. Bab ini pun dijuduli “Yogyakarta: Merapat ke Orbit Bintang-Bintang”.

Jakarta lalu menjadi cakrawala kedua yang dijelajahi Pak Mochtar. Ia bertemu lagi Rendra karena kerap tampil berteater di TIM (Taman Ismail Marzuki). Pak Mochtar sering mengunjungi Rendra dan Mas Kunto kala di Yogya, sebagaimana juga ia sowan ke rumah Taufik Ismail dan Sapardi Djoko Damono saat bermukim di Jakarta. “Murni karena daya magnit dari keempat sastrawan papan atas ini.” [hal. 147]

Kurun waktu bab ini pada dasawarsa 1970, masa Pak Mochtar meniti karir. Kala itu pula intelektualitas di Yogyakarta dan Jakarta berkembang pesat ditopang fondasi penerbitan yang kokoh. Pak Mochtar paling sering mengunjungi Horison dan Prisma. “Jika Horison menjadi barometer kesusastraan, Prisma menjadi barometer perkembangan ilmu-ilmu sosial di Indonesia.” [hal. 153] Masa itu memang zaman ketika Jakarta menjadi pusat kehidupan penulis, seniman, dan intelektual Indonesia. Selain Horison dan Prisma, terbit pula Kompas, Tempo, Budaja Djaja, menjadi semacam komunitas media yang melahirkan kalangan-kalangan tadi.

Pak Mochtar juga menuturkan pengembaraannya ke cakrawala Amerika Serikat di bab selanjutnya, negeri yang dijajalnya karena harus melanjutkan studi. Agaknya selama di Amerikalah salah satu bagian hidup Pak Mochtar ditempa. Justru di negara nun jauh ini ia mendapati perbandingan Islam yang diyakininya dengan Islam versi rekannya sesama penuntut ilmu dari negara lain. Islam bagi Pak Mochtar adalah Islam agama damai dan tidak memaksakan keyakinan pada orang lain, sebagaimana yang dinarasikannya tentang satu hari bulan puasa di Amerika. 

BUKU INI pun lahir dari dorongan seorang guru. Guru itu bernama Drs. Wirono, dosen jurusan Sastra Inggris UGM, tempat Pak Mochtar menuntut ilmu empat puluh tahun silam. Pak Wirono rupanya juga membaca narasi Pak Mochtar “Dari Rumah, Karakter, Dari Buku, Cakrawala” dalam Bukuku Kakiku (PT Gramedia Pustaka Utama, 2004). Pak Mochtar menulis dalam Tulis Terima Kasih bahwa Pak Wirono menyuratinya lewat pos yang berisi permintaan agar mantan mahasiswanya itu mengembangkan narasi itu dan menerbitkannya dalam buku tersendiri. [hal.373]

Justru penjelasan ini menjadi salah satu kalimat di buku ini yang mengharukan bagi saya. Betapa Pak Wirono tetap menjadi seorang guru bagi Pak Mochtar. Saya lantas pikir, di bagian seperti inilah yang kita butuhkan dari seorang guru: mengajak kita menggali bongkahan intan dalam diri kita.

Ingatan saya lalu tertaut pada seorang dosen kala saya mahasiswa dulu. Ia terkenal ‘galak’. Namun saya tak bisa melupakannya. Bukan karena tempramennya yang tak tertebak, melainkan cara dia mengajar. Ia membantu saya menggali apa saja yang masih terpendam dalam diri. Dalam setiap ujian, ia sangat sering memberi kita ‘soal-soal terbuka’—pertanyaan yang mengajak kita menganalisa dan menggeledah seluruh hasil bacaan dan nalar kita. Soal ujian seperti itu saya butuhkan. Masa sekolah dulu [mungkin sampai sekarang] jamak kita temui soal-soal pilihan ganda—pertanyaan yang menyediakan jawaban yang ‘benar’. 

SAYA SENGAJA menggunakan panggilan “Pak Mochtar” untuk menyebut Mochtar Pabottingi sejak awal tulisan ini. Saya menganggapnya guru. Mohon jangan bayangkan Pak Mochtar akan berdiri di depan kelas. Kami hanya bertemu tiga kali saja sebelum saya bersua buku ini.

Pertemuan kali pertama saya dengan Pak Mochtar lewat narasi “Dari Rumah, Karakter, Dari Buku, Cakrawala” pada tahun 2005. Baru dua tahun kemudian saya bertatap muka langsung. Pak Mochtar yang selama ini menjadi bintang bersinar di bentang langit sana karena keluasan pengetahuannya, sekarang ia menjabat tangan saya langsung. Ia hadir di Komunitas Ininnawa kala itu atas undangan teman untuk berdiskusi tentang politik. Terasa benar wibawa dan kharisma Pak Mochtar di situ. Ketegasan sikap ia utarakan kala saya ingin menyerahkan naskah kumpulan sajak Aslan Abidin untuk ia baca dan komentari. Antologi itu rencananya segera diterbitkan Ininnawa. Namun, dengan alasan tertentu, Pak Mochtar menolak. Sungguh saya memaklumi alasan yang disampaikan Pak Mochtar malam itu.

Pertemuan kedua saya di acara MIWF. Pak Mochtar masih tegap. Rambutnya yang berombak kian banyak memutih. Saya harus duduk dipanel dengan Pak Mochtar membincangkan warisan kerja-kerja kecendikiawanan Mattulada—sebuah hadiah besar bagi saya karena bisa duduk bersanding dengan seorang analis politik terkemuka Tanah Air.

Sebagaimana pertemuan awal, saya mendapati lagi penjelasan lisan Pak Mochtar yang persis bagaimana bila ia menuangkannya dalam tulisan. Ujarannya tersusun rapi dengan bahasa Indonesia yang begitu prima. Amat jarang saya mendapati orang seperti itu, lisan dan tulisan bagai saudara kembar.

Tatap muka itu, maupun kemudian lewat buku yang ditulis sang guru ini, menyadarkan saya akan kebodohan dan kepandiran sendiri. Lisan dan tulisan sepadu itu bukan semata karena kecendikiawanan, melainkan juga perihal penghormatan untuk ‘guru-guru’ sebelumnya.

“… Selalu kuusahakan untuk merujuk dan mengutip secara jujur dan teliti hingga ke ejaan, tanda baca, dan empasis… Aku menghormati teks dan penulisnya sekaligus. Begitu tiap penulis unik dan nyata…” [hal. 303-304]

Ya, pertemuan ini memang lewat buku. Tapi Pak Mochtar, kali ini, lebih menyata. Dia ada di depan saya.[]

Jumat, April 19, 2013

Kaset Ini Aku Pinjam...


INI TENTANG REVOLUSI. Hanya lebih senyap. Terjadi di dunia musik. Pada 21 April 1997, dua mahasiswa Jerman, Justin Frankel dan Dmitry Boldyrev, mengunggah aplikasi buatan mereka bernama Winamp. Seketika juga, orang-orang berbondong-bondong menuju dunia maya dan mengunduhnya. Sampai tahun berikutnya, tepatnya pada Juli 1998, Winamp dalam aneka versi ‘dipanen’ hingga lebih tiga juta kali. Mesin pemutar file MP3 itu telah membuka ruang baru bagi penikmat musik untuk bisa memperoleh musik gratis—hal di kurun waktu itu cuma bisa dinikmati dari kaset pita dan cakram padat [CD, compact disc].

Angka penjualan kaset pita dan CD pun terjun bebas. Toko-toko kaset tutup. Beberapa label besar terpaksa berkongsi. Ada pula yang terancam bangkrut lalu diakuisisi. Pendengar ogah lagi membeli kaset pita dan CD lantaran mudahnya mereka berbagi file lagu. (Gejala yang sama juga menimpa rumah produksi film. Film-film layar lebar marak disebar di internet, kadang jauh sebelum masuk jadi daftar putar di bioskop. Tinggal buka tautan, langsung unggah. Celaka itu juga diperparah meluasnya CD dan DVD bajakan di emperan dan pasar.)

Foto: Anwar Jimpe Rachman
Namun praktik berbagi dan menggandakan lagu pun, sebenarnya, sudah terjadi selama zaman kaset pita. Itu karena dipasarkannya tape recorder dengan pemutar ganda. Satu dua toko kaset di Makassar juga menerima pesanan macam itu. Bagi yang berkawan dengan penyiar radio, bisa pula melakukan hal serupa. Tinggal beli kaset kosong, tulis daftar lagu, dan semingguan kemudian kaset kumpulan lagu andalan si pemesan siap diputar. Masa itu juga masa ketika fungsi kaset layaknya buku: saling pinjam saling tukar. Mungkin ketika itu kita pun bisa memelesetkan hits Iwan Fals “Kaset Ini Aku Pinjam”. 

Pada Sabtu pekan ketiga April tahun 2007, tepat sepuluh tahun setelah dua mantan mahasiswa Universitas Utah itu menggunggah aplikasi Winamp ke internet, entah kebetulan atau disengaja, para penyokong musik merayakan hari yang dinamai Record Store Day. Setelah itu, sampai tahun 2013, momen itu terus dirayakan.

BISA JADI, duo Frankel dan Boldyrev tak menyangka upayanya satu dekade lalu berbuah pengaruh seperti ini, bahkan terhadap hubungan sosial. Teman saya, Ade Cakra, karena berkawan dengan pemilik toko kaset, yang memungkinkannya bisa mengutang kaset bila sedang bokek. Kaset pita juga menjadi penaut hubungan individu sekaligus bernilai investasi bagi si pemilik.

“Zaman saya mahasiswa, banyak teman yang jual atau gadaikan kasetnya kalau kiriman lagi telat. Saya juga begitu. Sering juga saya jadi penadah [kaset teman yang digadai dan dijual],” kata Ade, yang menjadi mahasiswa pertengahan 1990-an.

Pengakuan ini Ade lontarkan dalam acara Rewind!, inisiatif Makassar Nol Km DotCom, di Kampung Buku, perpustakaan komunitas di Jalan Abdullah Daeng Sirua 192 E Makassar. Makassar Nol Kilometer DotCom merupakan ruang bersama berbentuk situs berbasis jurnalisme warga. Rewind! tak lain hajatan dengan dukungan sejumlah komunitas di Makassar, digelar sebagai bentuk perayaan Record Store Day.

Makassar Nol Km mengundang terbuka orang-orang membawa lalu memutar kaset-kaset kesayangan masing-masing. Bergiliran pula sejumlah di antaranya membeberkan kenangan yang melatari lagu yang diputar. Yang tampak jelas hari itu bahwa hanya kenangan yang tak bisa diringkas oleh aplikasi MP3. Acara itu menjadi semarak lantaran beberapa komunitas juga ikut menggelar lapak buku, CD musik, sampai pakaian bekas.

Tapi bukan cuma kenangan pribadi yang dipantik dalam Rewind!. Ia mengungkap pula memori tentang Makassar. Dari sekian deretan kaset yang dipamerkan dalam acara itu, salah satu yang mencolok adalah album pop Makassar berjudul Jera’nu Mami milik duet Iwan Tompo dan Arwinny Puspita. Album ini berisi 12 lagu berlirik bahasa Makassar dirilis tahun 1985 oleh Libel Record, perusahaan rekaman besar di Makassar.

Libel Record tumbuh dan berkembang di Kota Daeng. Label ini belakangan begitu terkenal di Sulawesi Selatan, kendati beberapa perusahaan serupa malah mendahului pendiriannya. Libel berdiri pada akhir 1970-an, berdasarkan etnomusikolog Anderson Sutton dalam Calling Back the Spirit: Music, Dance, and Cultural Politics in Lowland Sulawesi Selatan [Ininnawa, segera terbit], tumbuh di masa perluasan usaha perusahaan rekaman dari Pulau Jawa. Tersebut ada tiga label dari Jawa mencoba peruntungan pasar di Sulsel, yaitu Suara Mas, OK Record, dan Special Record. Ketiganya membuka cabang di Ujung Pandang pada 1974 dan 1975. Setahun setelahnya, label lokal, Irama Baru, mulai merekam setahun kemudian lalu Libel, juga setahun berikutnya.

Libel menjadi ikon kemunculan dan pertumbuhan usaha sejenis. Ketika melihat tampakan album Jera’nu Mami, terbayang bahwa kaset itu digarap dengan serius. Sampul dikerjakan menggunakan warna latar biru dan tulisan bertinta kuning mengilap emas. Dua materi lagu ciptaan mendiang Pance Pondaag, salah seorang penulis lagu dan penyanyi yang merajai musik Indonesia selama dasawarsa 1980-an. Bahkan hingga kini, lagu-lagunya masih setia mengalun dan kerap menyapa penumpang-penumpang bus antar kota—setidaknya di Sulawesi Selatan.

Nama yang tidak asing pula bagi saya dalam album Jera’nu Mami adalah Will Ferial. Nama ini mungkin sekarang tidaklah tenar di telinga khalayak pendengar di Makassar. Ia dikenal luas dengan nama-udara “Opa” yang saban hari menyiar di Radio Telstar. Ia mendesain sampul album tersebut. Selain itu, Will Ferial menciptakan lagu Minasa Risarenta dalam album tersebut. Tak mengherankan karena ia memang berlatar musikus. Will Ferial pernah berduet Rosmala Dewi di salah satu album produksi Irama Baru Record tahun 1976. Sebelumnya pula, pria yang tampak segar di usianya yang ke-70 ini pernah menjadi drummer di satu kelompok musik milik sebuah bank di Makassar. Kala itu Will segrup dengan Muchsin Alatas—sebelum suami Titik Sandhora ini hijrah dan meniti karir di Jakarta.


Selain Will Ferial, ada pula Arwinny Puspita dan Iwan Tompo. Arwinny adalah salah seorang biduanita top Makassar era 1980-an. Ia pernah memenangkan Lomba Bintang Radio. Sebelum album itu, Arwinny menelurkan album Kenyataan produksi Libel Company tahun 1982. Penggarapan album ini diasuh pula mendiang Pance F Pondaag. Sepuluh lagu dalam album tersebut diciptakan oleh Pance.

Nama terakhir: Iwan Tompo. Ia legenda hidup musik pop Makassar. Ia masih produktif, kendati lelaki berkumis yang akrab dipanggil Daeng Liwang ini sempat terbaring sakit tahun 2012 lalu. 

Sejarah awal dunia rekaman di Makassar, berdasarkan Anderson dalam Calling Back the Spirit, tidak bisa dilepaskan dari dua kota, yakni Surabaya dan Solo. Adalah Hoo Eng Djie, seorang peranakan Tionghoa, yang menautkan sejarah musik Kota Daeng dengan Surabaya. Seperti diamini oleh banyak pengamat dan peneliti, bahwa Hoo Eng Djie-lah musikus pertama Sulawesi Selatan yang masuk dapur rekaman komersial. Ia penyanyi lokal kondang di Makassar mulai 1930-an sampai 1950-an. 


Pada 1938, 1939, dan 1940 ia diundang oleh Studio Hoo Soeng Hoo (Canary Records) di Surabaya untuk merekam beberapa Celebes Volksliederen (lagu rakyat Sulawesi). Hasilnya adalah seri rekaman 78rpm (sekitar 20.000 cakram rekaman), yang selain lagu-lagu yang ciptakan itu ia nyanyikan sendiri dengan iringan kelompok ‘Sinar Sedjati’ dan ‘Wari-Waria’, juga dengan iringan beberapa kelompok musik dari Sulawesi Selatan, menyanyikan lagu Mandar dan Bugis.

Ada pula nama Djajadi Djamain, seorang pemimpin musik sekaligus anggota militer. Selama awal 1960-an Djajadi bersama kelompoknya merekam lagu Anging Mammiri dan Muri-Muria di Studio Lokananta di Surakarta [Solo]. Sejak itu pula orang-orang di luar Sulawesi mengenal lagu daerah ini.

WINAMP MENJELMA antagonis sekaligus protagonis yang terlupakan. Ia telah membuka jalan mudah dan cuma-cuma dalam berbagi file lagu. Tapi juga aplikasi ini berhasil memicu kemunculan dan penyebaran teknologi LCD yang memungkinkan kita meninggalkan teknologi tape recorder. Ironisnya, kini: Winamp seperti hanya berhak menghuni komputer-komputer tua, sedang kaset pita mengisi peti dan gudang kita.

Memang, agaknya, penting memutar ulang masa-masa itu. Mari dan jangan bosan menekan satu tombol di tape kita: Rewind![]

[Terima kasih kepada albertovalentino67 untuk foto sampul Kenyataan]

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP