Perkawinan Bugis, Buku Ininnawa Terbit Desember 2009

>> Jumat, November 27, 2009

Buku ini merupakan satu-satunya penelitian serius, mendalam, dan menyeluruh tentang pesta pernikahan Bugis. Menggeledah beragam makna di balik pesta megah, ritus-ritus yang mengiringi ritual panjang pernikahan, serta segala perilaku dan bentuk negosiasi antar-aktor dalam prosesi tersebut. Tak lupa, menelisik aspek-aspek sosial-politik yang tersurat di baliknya.
Di sini kita tidak hanya mendapatkan abstraksi yang berlangsung di dalam pernikahan Bugis. Tapi juga dibentangkan lukisan rinci tentang ruang, adegan hingga percakapan. Buku ini mendedah tata ruang aula pesta, ritual, hingga teks undangan pernikahan Bugis yang penuh dengan simbol-simbol politis yang berjalin di alam pikiran orang Bugis.
Penulisnya, Susan B. Millar, berhasil mengangkat ke permukaan makna-makna yang melekat dalam pernik pernikahan yang sering dilewatkan begitu saja. Dia mengamati posisi duduk, cara menempatkan nama dalam teks undangan, orang-orang yang diundang melakukan ritus tertentu dalam serangkaian ritus panjang pernikahan.
Dia mengangkat detail-detail di ruang belakang, ruang domestik yang secara tradisional menjadi daerah kekuasaan perempuan, dan membawanya ke ruang depan, ruang publik yang biasanya menjadi wilayah kaum pria. Bisa jadi ini terjadi karena sensitivitasnya, dan keistimewaan yang dimilikinya untuk mengakses ruang belakang, sebagai perempuan.

*
Terima kasih untuk rekan-rekan di Persatuan Fotografer Makassar untuk sumbangsih foto yang menjadi sampul buku ini.

Read more...

Buku tentang Toraja

>> Minggu, November 15, 2009


Judul: Kuasa Berkat dari Belantara dan Langit: Struktur Transformasi Agama Orang
Toraja di Mamasa, Sulawesi Barat
(Power of Blessing from the Wilderness and from Heaven: Structure and
Transformations in the religion of the Toraja in the Mamasa area of South Sulawesi)
Penulis: Kees Buijs
Penerjemah: Ronald Arulangi
Editor: Anwar J Rachman
Penerbit: Penebit Ininnawa dan KITLV-Jakarta
Cetakan: Pertama, November 2009
Halaman: 337 + vi
Harga: Rp59.000,-

Para perempuan lari dari kampungnya malam itu, masuk hutan seraya berteriak dan memanggalkan pakaian. Dalam keadaan kerasukan roh-roh hutan belantara, mereka naik pohon beringin, barana’, dan menari di atas dahannya hingga dinihari. Ritual perempuan itu menjadi salah satu ritual sangat menarik yang diberi perhatian dalam buku ini.
Orang Toraja hidup di kawasan pegunungan di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Akar-akar agama tua mereka, aluk toyolo, berasal dari masa sebelum agama Hindu dan Agama Buddha masuk di Indonesia sekitar 1500 tahun lalu. Aluk Toyolo memiliki ciri-ciri yang berhubungan dengan perbedaan antara unsur-unsur perempuan dan laki-laki. Dalam buku ini, beberapa ritual tua diurai rinci, seperti ritual berburu kepala, ritual naik pohon barana’, dan ritual kesuburan. Begitu pula dengan ritual lain yang terkait kelahiran, pernikahan, dan kematian diberi perhatian, terutama dimana mereka memperlihatkan perubahan-perubahan terkait fokus yang terdapat dalam agama. Dulu dewa-dewa langit bersama dengan para dewa di bumi diharapkan memberkati pelaksana ritual-ritual, sekarang unsur dewa-dewa di bumi hampir tidak ada lagi. Transformasi ke arah langit bersama latar belakangnya diberi banyak perhatian dalam buku ini.
Kees Buijs (1944) pernah bekerja di Sulawesi dalam bidang pembinaan warga Gereja Toraja Mamasa. Di samping melaksanakan tugas di gereja, dia juga mengumpulkan banyak data antropologi agar kebudayaan Toraja Mamasa dapat disimpan dan dianalisa. Sebagai hasil studi antropologi tesisnya dipertahankan di Universitas Leiden, Belanda, pada tahun 2004 dengan Judul Power of Blessing from the Wilderness and from Heaven.[]

Read more...

Perjalanan Satu: 7548

>> Jumat, November 06, 2009

2 November 2009. Saya berangkat dari Makassar pukul 03.35 Wita. Speedometer menderetkan angka 7548. Saya susur Jalan Abdullah Daeng Sirua. Sampai di simpang empat SMAN 5 Makassar, saya berbelok kiri melewati Taman Makam Pahlawan Panaikang. Dan meluncur sepanjang jalan besar itu.

Jalan lengang. Saya resah. Segala doa dan harapan saya rapalkan dalam hati meminta perlindungan Tuhan. Saya berangkat tanpa tidur malam. Sebulan terakhir saya memang sangat susah tidur. Saya hanya mengisi perut dengan mi instan rasa cakalang.

Motor saya lajukan. Rerata 70-80 km/jam. Mumpung sepi. Saya enggan memutar gas lebih kencang lagi. Saya tahu diri karena belum tidur sama sekali. Saya pancang rencana cepat sampai di Barru. Di sanalah nanti (paling) cari masjid kemudian tidur satu dua jam. Saya tahu, rumah Tuhan itulah satu-satunya rumah yang pasti terbuka dalam setiap perjalanan.

Sepanjang jalan, saya harus hati-hati. Mata saya tidak pernah bisa awas. Lampu mobil yang saya papasi sangat mengganggu mata saya. Mata saya sangat reaktif kalau cahaya. Lampu kendaraan yang berlawanan arah ditambah sopir yang tak tahu diri, selalu memakai lampu jauh. Saya mengatasi mereka dengan membalas lampu jauh juga. Lampu jauh lampu dekat bergantian. Kedip-kedap. Kalau tidak mempan, baru mengacungkan jari tengah ke mereka, plus umpatan yang tentu saja tidak bisa mereka dengar.

Soal mata saya, teman saya Mubarak, pernah gemetaran saya bonceng dari Barru awal tahun ini. Kenapa saya selalu ambil terlalu pinggir kalau papasan dengan mobil, tanyanya. Saya bilang, pendar lampu mobil terlalu besar di mata saya. Saya meminggir karena tidak mau ambil risiko. Apalagi saya menanggung dua nyawa.

Tapi baru tiba di Pangkep, sekira 10 kilometer menjelang kota, azan subuh dari masjid-masjid terdengar. Saya singgah di masjid berpekarangan luas. Tapi bukan untuk salat. Hanya istirahat. Tarik nafas dan menghabiskan rokok sebatang. Begitu salat subuh selesai, saya cabut lagi.

Sekisar sejam kemudian, saya melewati Kota Barru. Tapi badan tak bisa bohong. Tangan mulai kesemutan. Punggung pegal karena ransel berat berisi pakaian dan laptop. Mata juga makin redup. Badan sudah menagih tidur. Saya putuskan kembali mencari masjid. Biar bisa rebahan. Akhirnya dapat. Mungkin sekira sepuluh kilometer setelah Kota Barru. Pagarnya menganga, tapi pintu hijaunya tertutup. Untung tangga lebar masjid dua tingkat itu letaknya di bagian timur. Jadi kalau rebah, saya bisa di bawahnya saja, terlindung dari matahari.

Saya tidak peduli lagi lantainya bersih atau kotor. Saya letakkan langsung ransel dan menjadikannya bantal. Saya pun langsung tidur.

Pukul 08.30, saya terbangun. Bukan alarm telepon seluler. Tapi suara pukulan di balok-balok kayu. Rupanya dua orang pekerja sudah ada di sekitar toilet masjid itu sedang memperbaiki beberapa bagian masjid. Saya hanya cuci muka. Langsung cabut lagi.

Bagian-bagian pendek dan selintas dalam hidup saya seperti inilah yang saya rindui. Lepas dari jeratan janjian pertemuan, pergaulan, dan keharusan pekerjaan di penerbit. Jauh dari teman-teman. Kadang pula rasanya saya bertemu peristiwa-peristiwa yang tanpa gaung, degub jantung, atau perangah, seperti hidangan yang tersaji kali kedua. Kita sudah tahu rasanya. Dalam perjalanan penuh kesendirian begini, saya selalu tawar-menawar dengan hati kecil saya. Atau melawan diri sendiri. Saya mengukur semampu apa saya. Sekuat apa badan saya. Selogis apa saya. Sebagaimana beraninya saya. Bahkan saya dapat menakar, seberapa besar manjanya diri saya.

Saya berencana singgah minum kopi di Parepare. Tapi karena badan gerah menagih mandi, saya tancap gas saja. Sidrap tinggal 28 kilometer. Balap lagi biar cepat sampai. Tapi sampai di perbatasan Parepare-Sidrap, tenggorokan saya kok rasanya kering. Menelan ludah saja agak repot. Oh, rupanya sejak berangkat saya belum minum air putih. Akhirnya saya putuskan singgah di sebuah warung di Lainungan. Minum air penambah ion tambah mi rebus biar lebih kuat lagi.

Setengah jam di situ, saya berangkat lagi pukul 10.30 Wita. Lima belas menit kemudian saya sudah di Sidrap.

Rencana sehari di Sidrap, rupanya tidak cukup. Data yang mesti saya ambil, kata seorang pegawai di satu dinas, semua ada di komputer. Sementara listrik lebih sering mati di sini. Lima jam sekali padam. Sehari bisa sampai tiga kali. Gila!

Dua hari kemudian, saya menuju ke Wajo. Dari Rappang ke Sengkang (ibukota kabupaten), sekisar 50 kilometer. Itu informasi dari kakak saya yang sehari sebelumnya berangkat ke sana mengantar telur.

Sebelum berangkat, saya coba hubungi Anchu yang rencananya mau juga ke Sengkang. Sahabat saya ini bekerja di JICA. Hendak ke kota itu untuk mengevaluasi beberapa sekolah satu atap (SATAP). Sayang nomor SIMPATI-nya tidak aktif. Sementara nomor MENTARI-nya saya tidak simpan.

Pukul 21.00, saya menuju ke sana. Perjalanan sendirian naik motor ke Sengkang baru kali ini saya jalani. Saya pernah ke Sengkang, tapi sebentar saja. Itu pun naik mobil. Jadi hidup dan tujuan ketika itu benar-benar saya serahkan ke pengemudi. Lain hal dengan membawa motor sendiri. Perlu kesabaran dan kekuatan menempuhnya. Bonusnya tentu lebih menikmati perjalanan. Merasai jalan yang bolong, ruas aspal yang baru ditambal dan tidak rata, sinar bulan penuh yang merata ke petak-petak sawah nan luas di sisi sepanjang jalan, atau bertemu lagi dengan para pengendara yang doyan pakai lampu jauh. Ya, tentu umpatan tidak alpa saya luncurkan dari mulut yang dibekap sapu tangan dan tidak lupa mengacungkan jari tengah buat mereka--meski kadang saya was-was jangan sampai pengendaranya petugas yang lekas naik darah lalu berbalik mengejar..hehehehe..

Saya memang lebih memilih berangkat jauh sendirian begini ketimbang berombongan. Pernah satu waktu saya berangkat ke Parepare dengan dua kawan lainnya, tapi saya sama sekali tidak bisa nikmati, terutama pemandangan sepanjang jalan. Saya lebih fokus mengejar kedua teman itu karena mereka selalu kencang tancap gas. Kadang juga karena jengkel, saya kebut duluan dari mereka karena soal yang begini-begini.

Sepanjang jalan menuju Sengkang saya menghitung jarak. Benar 50 kilometer? Ternyata Sengkang lebih dari itu. Pukul 22.15 saya tiba di Tanrutedong. Di sana saya singgah beli minum sekaligus melepas haus. Kata si penjual, Sengkang masih 35 kilometer. Jarak Pangkajene (ibukota Sidrap)? Duapuluh lima kilometer, katanya. Kalau ditambah jarak Rappang-Pangkajene 10 km berarti Rappang-Sengkang ada 70 km dong. Angka tigapuluh kilometer rasanya masih sangat jauh. Punggung sudah mulai pegal. Motor kadang sedikit oleng karena ransel di belakang saya sering membebani motor lebih ke kanan.

Di jalanan, menjelang simpang tiga ke Palopo dan Sengkang, saya sempat kebut-kebutan dengan dua mobil. Keduanya di belakang saya. Pas makin dekat, lampu jauh dan lampu dekat dipancar bergantian. Mereka juga mengklakson meminta jalan. Padahal saya sudah agak di pinggir. Untung mata saya masih awas. Pas sampai di simpang tiga itu, saya melihat plang menunjuk arah. Ciiit! Mobil mendahului. Nyaris saja saya berbelok ke utara, menuju Palopo. Padahal untuk ke Sengkang saya cukup terus ke timur. Batu kilometer di kitaran simpang tiga menunjukkan “SENGKANG 22 KM”.

Menyusur jalan ke Sengkang, saya lebih pelankan motor karena ruas jalan lebih sempit. Mati lampu pula sepanjang jalan. Keputusan saya ini tepat. Beberapa kali kelokan yang saya lalui, anak-anak muda nongkrong di pinggir jalan. Untung setiap belokan saya pakai lampu jauh. Kalau tidak, saya bisa jadi menabrak orang-orang di pinggir jalan itu.

Sesampai di Sengkang, saya sempat kesasar ke sekitar Kantor Bupati. Padahal tujuan saya mencari penginapan. Saya pun singgah di sebuah bengkel bertanya di mana penginapan terdekat. Kata mereka, saya harus masuk kota. Susur jalan ini, pas lampu merah pertama, belok ke kiri cari Jl. Veteran.

Tengok kiri tengok kanan, saya dapat penginapan akhirnya, Pondok Eka di Jalan Maluku.
Di hotel ini saya saling tawar pengelolanya. Masalahnya, tidak ada lagi kamar kosong kecuali kamar yang mahal. Sambil itu pula, saya mengambil hape saya mencoba hubungi Anchu lagi. Masih tidak aktif. Kuputuskan untuk masuk aplikasi Opera dan log in di Facebook. Masuk wall Anchu dan meninggalkan pesan, “Anchu, hapemu tidak aktif. Di manako?” Dari meja resepsionis,
Meski saya pada akhirnya mengambil kamar yang berharga premium, resepsionisnya tidak bisa memberi toleransi soal jam check-out. Harus pukul 12.00 katanya. Tapi mungkin capai menghadapi kecerewetan saya, akhirnya dia memanggil manajernya. Si manajer justru dengan senyum memberi keleluasaan sampai pukul 13.00. Memang benar, selalu orang yang di bawah memberi kesulitan. Sama halnya kalau menghadapi orang-orang di kantor dinas.

Transaksi pun mulai. Saya merogoh dompet untuk membayar. Tiba-tiba ada telepon masuk. Nomor MENTARI.
“Halo?”
“Di manaki, Kak Jim?”
“Saya di Pondok Eka.”
“Lho! Saya juga di Pondok Eka. Di bagian mana?”
“Saya di resepsionis. Kamu?”
“Di warnet. Tungguma’ di situ..” Klik!
“Ambil yang mana, Pak?” pengelola hotel kembali bertanya.
“Tunggu, temanku ternyata sudah ada di sini.”
Anchu sudah muncul. Dia mengambil kunci dan menuju kamar.

Keesokan harinya, Anchu berangkat lagi ke Barru. Saya mengambil data yang saya perlukan di Dinas Pendidikan Wajo. Salah seorang stafnya, Rachim, siap mengirim data ke Makassar via pos. Dua hari lagi, katanya. Saya bersegera ke Kantor Departemen Agama. Karena mati lampu, staf di sana tidak bisa memberikan datanya di hari itu. Kata mereka, saya harus kembali besok. Rupanya pemadaman listrik di sini sama juga di Sidrap.

Akhirnya rencana untuk lanjut ke Soppeng saya batalkan. Perkiraan data bisa diambil hanya sehari dibuyarkan krisis listrik dan pengolahan data pemerintah kabupaten. Saya putuskan kemudian kembali ke Makassar 5 November sore. Untuk kedua kali, saya berulang tahun dalam perjalanan. Sama ketika 2007, saya mereka-reka suasana subuh di Balikpapan ketika saya dilahirkan, di atas mobil dengan bak terbuka dan bermandi debu dalam perjalanan pulang ke Rongi, Sulawesi Tenggara. Sekarang, saya menunggui subuh menjelang dini hari tadi demi berdoa agar hari-hari mendatang tetap membaik, baik bagi saya, istri, dan anakku, Jasmine—yang tengah malam sebelumnya saya tuliskan sajak wasiat.

Sengkang, 5 November 2009

Read more...

Resep untuk Jasmine

jasmine, ada sebuah kaleng sisa cat di bawah pohon mangga di pekarangan. pantatnya telah ayah lubangi. sudah kuisi pasir sisa ketika membangun tembok penahan cucuran air dari atap kantor kelurahan. sudah pula ayah isi potongan sisa sayur. nanti tambahkan tumpukan remah tanah dari truk yang selalu membuang sisa timbunan di samping rumah. tambah pula nasi basi, sisa cucian piring ibu.

tutup sepuluh hari saja. tengok dan siram ia setiap pagi. kemudian aduk rata. tunggu sampai dua hari kemudian. begitu matahari terbit di hari kesepuluh, tumpahkan tanah itu untuk taman kecil yang ayah buat untukmu di bekas cucuran air hujan dari atap kantor kelurahan.

5 November 2009

Read more...

Bulu Tangkis ala Tanah Mandar

>> Sabtu, Oktober 24, 2009

Bulu tangkis masih menjadi olahraga yang mahal bagi sebagian orang. Raketnya sudah ratusan ribu bahkan ada yang jutaan rupiah. Soal suttlecock lebih-lebih. Kadang cuma untuk satu-dua poin, habis smash kiri pukul kanan, mesti ganti bulu lagi.
Tapi di Kabupaten Polewali Mamasa, Sulawesi Barat, masyarakat setempat punya cara termurah menikmati permainan yang konon asalnya dari Tanah Inggris itu.
Menurut Kepala Desa Lembang-Lembang, Polman, Arifuddin, pernah satu waktu, masyarakat setempat tergila-gila pada bulu tangkis. Tapi lantaran kendala teknis seperti membetulkan senar raket harus jauh di kota. Lagi pula alat tangkis itu terbilang mahal bagi masyarakatnya, maka dibuatlah pemukul sederhana.
Bahannya terbuat dari kayu berlapis gabus. Bicara kekencangan hasil pukulan, memang kalah dari bat yang bersenar. Namun kegembiraan yang dihasilkan jelas tak ada duanya.
Seluruh halaman lapang yang ada di desa yang letaknya sekira delapan kilometer dari Limbung itu tak ada yang kosong. Kalau tidak jadi tempat menjemur kemiri, pasti jadi lapangan bulu tangkis. Sore dan malam lapangan diramaikan anak-anak hingga dewasa bermain tepuk bulu.
Pertengahan Agustus lalu saya berkesempatan ke sana. Awalnya, saya melihat seorang anak membawa sebuah bat putih. Saya pikir, barang yang biasa saja. Bat kayu berlapis gabus rupanya. Belakangan setelah mengunjungi beberapa rumah untuk sebuah penelitian, saya melihat para pemuda bermain tepuk bulu dengan pemukul serupa yang saya lihat dipegang oleh seorang anak.

Beberapa hari kemudian saya diajak oleh kadesnya untuk menonton pertandingan bulu tangkis di dusun tetangga. “Pertandingan antardesa untuk tujuhbelasan,” katanya. Saya segera ikut tanpa pikir panjang.
Setiba di sana, tampak warga setempat berkerumun di sebuah arena, yang menurut temanku, seperti tempat sabung ayam. Karung plastik setinggi kurang lebih tiga meter menutupi arena pertandingan. Kami ‘dihalau’ Pak Kades untuk segera masuk. Pertandingan tidak lama dimulai. Di pintu gerbang, kami dipersilakan masuk. Sementara penonton lain harus membayar. Kata seseorang di gerbang, harus bayar Rp2.000 per orang dewasa.
Begitu lewat pintu penjaga, wah, rupanya penonton sudah penuh sekeliling lapangan tanah liat yang setiap garisnya terbuat dari bambu. Menurut Kades juga, hanya empat pasangan yang main malam itu. Mereka adalah pasangan-pasangan terkuat dan terkenal seantero kabupaten untuk bulu tangkis kelas ini. Keempatnya memperebutkan tempat pertama, kedua, dan ketiga. Usai pertandingan, tiga pasangan itu kemudian menerima piala layaknya pemain bulu tangkis beraket senar.
Tak berhenti saya memikirkan pertandingan yang baru saya saksikan itu. Betapa masyarakat selalu mempunyai cara menghadapi keterbatasan dan kekurangan, seperti masyarakat di Desa Lembang-Lembang itu.[]

Read more...

Titik Lain: Kampung Buku

>> Sabtu, Oktober 17, 2009

Akhirnya pekerjaan kecil ini rampung sementara. Silakan kunjungi Kampung Buku
Doakan tetap berjalan :-)

Read more...

Ayam Gagak, Komoditas Baru Sidrap yang ‘Menggonggong’

>> Kamis, September 03, 2009


Sidenreng Rappang atau Sidrap terkenal sebagai sentra peternakan unggas Sulawesi Selatan. Mulai dari ayam ras meliputi ayam petelur dan pedaging, ayam kampung, itik hingga ayam gagak. Jenis yang disebut paling belakang ini tampaknya jenis unggas yang dikembangkan di tahun-tahun terakhir. Jenis ayam apa gerangan itu?

Jelas ini bukan ayam hasil kawin silang ayam dengan burung gagak. Ayam gagak atau ketawa hanyalah jenis ayam kampung biasa yang bersuara unik. Khusus di Sidrap, ayam ini marak dibiakkan sekira sepuluh tahun silam.
Menurut salah seorang peternak ayam gagak, Tamrin, ia mulai mengembangbiakkan ayam jenis ini kira-kira tujuh tahun lalu. Kokokan ayam gagak piaraan pertamanya lain dari ayam biasa—seperti gonggongan anjing. Tak ada “kukuruyuuuuk!”. Yang terdengar justru “guuk! guuk!”.
Karena suara ganjil itu, seseorang pernah mau menukar ayam tersebut dengan sebuah sepeda motor. Tapi Tamrin tidak mau. “Saya pikir, saya harus menyimpannya karena masih harus saya biakkan,” terang Tamrin, ketika saya temui di kediamannya di Jalan La Nu’mang, Rappang.
Kini ayam gagaknya itu terus beranakpinak. Bahkan cucu dari ayam tersebut tetap berharga mahal. Baru-baru ini ada yang menawarnya tujuh juta rupiah. Tapi ia bergeming—tak mau menjualnya. Kata Tamrin, ia hanya mau melego kalau itu cicit ayam pertamanya. Dia berencana menjadikannya pejantan. “Saya baru mau jual kalau cucunya,” begitu kata Tamrin serius.
Keturunan pun sudah menyebar di Rappang dan sekitarnya. Tamrin kerap didatangi keluarga atau kenalannya mulai membeli atau meminta bibit keturunan ayam ‘menggonggongnya’. Tapi paling sering teman dan sahabatnya datang ke rumahnya membawa ayam betina untuk dikawinkan dengan pejantan-pejantannya. Mereka berharap mendapat anak ayam yang berbunyi serupa dengan punya Tamrin.
Tapi Tamrin rupanya tidak mau asal terima ayam betina dari luar. Ia jera karena trauma flu burung. Di satu hari di tahun 2008, ketika wabah flu burung meluas, ayam peliharaannya ikut sakit. Tapi, menurut dugaannya, itu disebabkan oleh seekor ayam betina dari temannya diikutkan masuk kandang buat dikawinkan. Ia pikir, si betina itu yang membawa virus. Soalnya, kejadian itu adalah peristiwa pertama sejak ia mulai pelihara ayam tujuh tahun silam. Apalagi memang ia sangat rajin memvaksin ayam-ayam peliharaannya.
Sejak itulah, Tamrin kini sudah harus pikir-pikir. “Saya karantina dulu di kandang luar rumah sambil saya beri vaksin. Nanti kalau dua atau tiga hari tidak apa-apa, baru saya gabung. Kalau masih kelihatan beringus, saya tidak masukkan dulu. Biasanya kalau beringus, cepat sekali terinfeksi,” papar lelaki yang berusia 33 tahun ini.
Untuk mencegah penyakit-penyakit ayam itu merebak lagi, ia hanya terima keturunan ayamnya. Menurut pengakuan Tamrin, dia tahu persis ke mana saja keturunan ayamnya menyebar. Karena ketika ia serahkan ayamnya, ia turutkan pula botol vaksinnya. Dalam jangka tiga bulan, kalau ada pemilik ayam mau ikutkan ayamnya masuk ke kandang, Tamrin tetap ikutkan.
Memelihara ayam gagak mesti teliti. Ayam baru rajin berkokok bila sehat. Karenanya perlu perawatan telaten. Perawatan mulai dari ketika hendak dikawinkan. Diberi vitamin, makanan tambahan seperti irisan kangkung dan kentang, dan vaksin perangsang pertumbuhan dan penambah daya tahan tubuh.
Ayam diberi makan pagi dan sore. Tapi kalau yang masih anak ayam yang baru menetas bisa sampai lima kali, yang diberikan setiap tiga jam, mulai pukul 07.00. Untuk mencegah anak ayam kedinginan, kandang dilapis karton dan diberi lampu untuk menjaga suhu kandang. Lampu lima watt ini harus menyala siang malam. Tapi jumlah watt ini bisa ditambah jika dirasa cuaca lebih dingin.
Makanan dan vaksin tidaklah cukup menangkal penyakit. Kandang pun harus tetap bersih. Tamrin harus membersihkan kandang setiap hari. Kandang itu kandang rancangan khusus. Lantainya mudah dibuka dan ditarik keluar. Karenanya dibuat seperti laiknya laci meja. Biar mudah membuka kotoran ayam peliharaan, Tamrin tinggal melapisnya dengan lembaran koran. Tinggal tarik laci, lipat koran, terus dibuang. “Ayam sehat, kita juga sehat,” tambah Tamrin.

Slow dan Dangdut
Makanan apa untuk menjaga suaranya? Tamrin rupanya memberi ramuan tradisional yang ia buat sendiri. Bahannya terdiri dari parutan kunyit dan jahe dicampur madu, telur, dan kencur. Kesemuanya dicampur, masak di wajan, sampai seperti baje’ (nasi ketan dicampur karamel gula merah). Ramuan itu lalu dibulatkan dijadikan butir obat dan diberi ke ayam rawatan setiap hari atau setiap malam.
Resep ini sebenarnya ramuan yang biasa Tamrin beri buat ayam bangkok. Katanya, formula ini cocok untuk mengeluarkan lendir di kerongkongan ayam peliharaan. Tamrin sudah lama mempraktikkan pengobatan ini. Sebelum membiakkan ayam gagak, dia pernah memelihara ayam bangkok. “Perawatannya sama seperti ayam bangkok!” katanya. Harga jual ayam gagaklah yang mendorongnya meninggalkan memelihara ayam bangkok. Harga ayam bangkok yang juga sering dijadikan ayam sabung sangat murah dibanding ayam gagak. Baru menetas saja, kalau memang berasal dari keturunan ayam gagak juara, orang bisa tawar sampai Rp100 ribu—setara harga rata-rata ayam bangkok
Selesai memberi makan dan obat-obatan kimia dan obat resep sendiri, ayam gagak kemudian ditenggerkan. Penenggeran ini bisa di sembarang tempat seperti pagar atau pasak rumah panggung. Pengawasannya cukup mudah. Apalagi ayam seperti ini rata-rata jinak.
Menurut lelaki yang sehari-hari berprofesi pedagang ini, itulah ‘rukun’ pemeliharaan ayam untuk melatihnya bunyi. Dari hasil latihan setiap hari itu, pemelihara bisa mendapatkan ayam yang bersuara kristal (jernih) atau cowong (parau). Cowong, menurut Tamrin, merupakan bahasa Jawa yang dipakai untuk menyebut salah satu tipe suara burug perkutut.
Ketika dirasa mantap, ayam pun bisa dibawa ke kontes ayam gagak. Tamrin yang kerap bertindak sebagai wasit Aspagin (Asosiasi Pencinta Ayam Gagak Indonesia) dalam kontes ayam gagak di Rappang, Parepare, dan Pinrang. Sejak terbentuk Aspagin 2008 lalu, suara yang dikonteskan terdiri dua kelas, yakni kelas slow yang ketukannya lambat dan kelas dangdut yang berketukan cepat. Kedua kelas ini pun masih terbagi. Ayam slow terbagi delapan penjurian. Kelas dangdut setidaknya lima atau enam kategori.
Yang pertama, power atau kekuataan bunyi. Makin besar bunyinya main bagus penilaian powernya. Yang kedua, angkatan atau awalan bunyi. Ketiga, step yang berarti ‘antara’ yakni interval angkatan pertama dan angkatan kedua. Kategori ini juga terbagi dua: lambat dan cepat. Yang keempat, penutup atau bunyi variasi. Ada kalanya, terang Tamrin, setelah berbunyi sampai empat kali, si ayam masih berbunyi tambahan. Kelima adalah irama artinya lagu-lagunya. “Andai penyanyi dangdut, maka sama kalau itu cengkoknya,” sergah Tamrin. Keenam, jenis suara, apakah kristal atau cowong. Yang ketujuh rutinitas atau kerajinan bunyi. Tapi bagi Aspagin, kalau yang rajin bunyi tidak selamanya punya nilai tinggi. Kendati hanya dua atau tiga kali berbunyi tapi bagus, nilainya tetap tinggi. Begitu juga sebaliknya, meski sering berbunyi tapi tidak elok, angka yang dikumpulkannya tetap rendah.

Permintaan
Penyebaran ayam gagak tidak melulu di kawasan Ajatappareng (Sidrap, Parepare, Pinrang). Namun juga permintaan atas ayam gagak juga datang dari Palu (Sulawesi Tengah) dan Kalimantan. Sayangnya, sejak pemerintah pasang kuda-kuda melawan flu burung, perdagangan antarpulau kini diawasi ketat. “Kalau beking kita tidak kuat di pelabuhan, pasti ayam kita ditahan,” ungkap Tamrin. Permintaan ayam gagak dari Rappang kini cukup besar. itu disebabkan ayam-ayam dari sanalah yang sering memenangkan kontes ayam gagak.
Ayam gagak mula dikembangkan di Baranti. Tapi, konon, sebenarnya kebiasaan ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang. Ayam seperti ini awalnya hanya dipelihara para bangsawan setempat.
Ayam yang dimiliki Tamrin sendiri, menurut pengakuannya, adalah manuk tompo (ayam yang muncul tiba-tiba atau kebetulan). Karena orangtua dari ayam itu adalah ayam kampung dan sangat biasa. namun santer beredar tentang asal muasal ayam beginian. Menurut cerita yang beredar, di masa lampau, menetas tujuh ekor ayam. Satu di antara ayam tersebut bunyinya bergetar. Ayam itu kemudian dipisahkan hingga kemudian kemudian dikawinkan, beranak pinak, sampai muncul ayam seperti ayamnya.
Demam ayam gagak di Sidrap dan sekitarnya makin mendapat tempat, bahkan di hati pemerintah. Perjudian makin berkurang. Orang-orang yang tergiur mendapat uang dalam sekejap ramai-ramai pindah ke pemeliharaan ayam gagak. Apalagi kalau bukan tertarik oleh harga jual ayam gagak yang bisa mencapai jutaan. Siapa tahu pelihara ayam dapat yang berbunyi menggonggong, tentu harganya juga ‘menggonggong’.[]

Read more...

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP