Rabu, Januari 18, 2012

Zynga Poker, Raksasa Bermata 38 Juta Pasang

Sumber gambar:  http://private696.blogspot.com 

Pada Maret 2011, di kota judi dunia, Las Vegas, pengembang game online Poker, Zynga menyelenggarakan PokerCon, turnamen poker live di Palms Casino. Itulah kali pertama Zynga mengadakan ajang tatap muka para penggemar Zynga Poker. Andrew Feldman, penulis dunia poker sekaligus editor ESPN.com, menyambut ajang ini dengan tulisan berjudul PokerCon makes debut this weekend, seraya menyebut Zynga Poker, “raksasa yang lama tidur itu kini terbangun”. Dan sebelum Maret 2011 itu, saya pernah merasakan cengkeraman jari-jari si raksasa ketika ia masih terpulas.

Tula, adik sepupu saya yang bermukim di Balikpapan, selama 2009 pernah tiga kali meminta saya membelikan chip, keping maya pengganti nilai uang dalam Poker sebenarnya. Dana pembelian itu ia kirim lewat rekening bank saya. Chip ini merupakan komoditas yang diperdagangkan dalam permainan ini. Virus demam Poker rupanya menyeberang Selat Sulawesi sampai ke Kalimantan Timur. Kala itu, harga mencapai Rp 600.000 per satu juta chip. Menurut Tula, ia menjual chip itu lagi ke pemain yang ada di kota-kota di Kalimantan Timur. Tula menjual setiap satu juta chip seharga Rp750.000-800.000.

Sepupu saya ini hanya salah seorang dari 38 juta pemain Zynga Poker sejagat. Tula tampaknya juga salah seorang dari 7,6 juta pemain yang berpartisipasi setiap hari dalam game dunia maya ini. Tiga tahun sejak peluncurannya, Zynga Poker menjadi situs poker terbesar dunia. Untuk versi mobile, permainan ini tersedia dalam 18 bahasa. Sedang versi internet biasa, Poker hanya tersedia dalam enam bahasa, yakni Inggris, Indonesia, Spanyol, Portugis, Turki, dan Prancis. Poker hanya salah satu dari game hits Zynga. Game Zynga hits lain yang bisa kita masukkan dalam hitungan adalah Mafia Wars. Poker, permainan multi pemain ini juga bisa dimainkan di Android, iPhone, MySpace, Tagged, dan Google+. Pada 18 Januari 2012, saya mencoba mengetik “poker, zynga” di kolom pencarian Google. Dalam waktu 0, 17 detik, situs pencari ini melacak ada 33.900.000 entri tentang permainan ini.

Dengan data seperti ini, saya tidak heran kalau kurun waktu dua tahunan lalu anak muda di kompleks yang saya tempati sehari-hari membuka percakapan dengan “Minta chipmu dulue!” atau “Berapa ‘M’ kau dapat tadi malam?”. Kode ‘M’ yang mereka maksud adalah kependekan ‘million’ (juta) chip. Kata ini bisa menjadi ukuran bahwa betapa banyak seorang pemain poker dapatkan dalam semalam. Bermain semalam masih menjadi tanda tanya bagi saya. Apakah kuat seorang bermain sampai memenangkan satu juta chip atau lebih. Dugaan saya, paling bisa dengan ‘memancing’.

Memancing di sini maksudnya memasang perangkap di satu unit komputer dan memecahkan sandi (password) akun alamat surat elektronik. Alamat dan sandi surel merupakan modal utama untuk masuk dalam akun jejaring sosial Facebook, situs penyedia layanan game online Poker. Wajarlah terjadi pembajakan akun FB. Bahkan seorang teman saya pernah kemasukan pembajak. Ulah sang pembajak tak terkendali. Berkata-kata tak pantas meluncur dari kolom status akunnya. 

Demam Poker merebak di Sulawesi Selatan. Virus ini menyebar nyaris bersamaan dengan perkembangan warung kopi yang memancarkan sinyal wifi gratis untuk para pelanggannya. Para pecandu Poker cukup memesan satu cangkir kopi susu seharga Rp8.000, mereka bisa terhubung dengan jaringan internet. Pelanggan yang memesan makan dan atau minum selalu diberi username dan password untuk masuk jaringan wifi warkop langganan mereka. 

Saya mencoba menampik permintaan Tula ketika pertama kali ia meminta tolong saya untuk membelikan chip. Saya benci permainan ini. Tapi alasan ini saya simpan saja.

“Coba titip di temanmu yang lain di Makassar,” elak saya.

“Tidak ada, Kak. Tidak ada yang bisa dipercaya. Uangnya orang soalnya,” tanggap Tula.

Saya menyerah dan mengiyakan. Saya menyuruhnya mengirim ke nomor rekening saya.
Tula menelepon ke saya sejam kemudian. Menurutnya, transfer berhasil. Sudah bisa dicek. Dia memberi saya waktu dua hari mencari ‘2M’ atau dua juta chip.

Saya berhasil mendapatkan chip yang Tula butuhkan. Lokasinya tak jauh dari rumah saya. Rumah kedua samping rumah saya terdapat warnet. Di sana banyak pemuda kompleks yang menghabiskan malam-malam mereka bermain Poker di bilik-bilik. Mereka amat gaduh. Meski berseberangan bilik, mereka sewaktu-waktu mengonfirmasi pengiriman ke akun Facebook temannya di bilik yang lain. Di sana pula sering dua pemuda bernama Awal dan Asrul. 

Awal, seorang pemuda bertubuh subur, masih berkuliah di STMIK Handayani Makassar ketika Poker meledak. Malah kabar terakhir beredar di perumahan, motor bebek hitam baru yang selalu ditumpangi ke mana-mana adalah uang hasil berjualan chip. Sedang saya mendapatkan chip untuk Tula dari Asrul. Asrul bertubuh kurus. Saya sering berpapasan dengan Asrul di siang atau sore dengan mata bengkak--tanda pemuda berambut ikal itu baru bangun. Asrul berhasil mendapatkan saya sebanyak dua juta chip kurang lebih tiga hari kemudian. Ia segera mengirim kurir, seorang pemuda tanggung yang konon baru saja menghentikan sekolahnya karena sering begadang lantaran kecanduan Poker. Padanya saya menyerahkan dana Rp1,2 juta. Si anak tidak lupa meminta alamat email Tula. 

Di tempat lain, 300 kilometer dari Makassar, tepatnya Toraja, Poker seperti mainan baru selain sabung ayam yang memang jadi permainan rakyat yang selalu ada di daerah dataran tinggi di bagian utara Sulawesi Selatan ini. Malah ada warnet memasang spanduk, seperti “Warnet A: Browsing, Chatting, Poker”. Beberapa cerita beredar bahwa Poker seperti demam yang membuat kecanduan. Menurut seorang kawan saya, malah ada lelaki yang karena kecanduan Poker, meminta istrinya membawakan bekal di rantang untuk makan siang dan makan malam!

Entah benar atau sebaliknya, cerita lucu ini menjadi tanda bahwa Poker berhasil mengubah pola hidup masyarakat di banyak tempat. Soalnya, rata-rata pemain Poker hidup bagai kelelawar yang mencari makan di malam hari. Mereka tidur pagi hingga pukul tiga sore lantaran harus bergadang. Memainkan Poker lebih ‘afdol’ dengan arus internet deras mengingat bandwidth yang dibutuhkan sangat besar. Bandwidth besar amat diperlukan untuk tampilan grafis yang dinamis. Apalagi, ketika sudah ikut bermain di sebuah meja, seorang pemain hanya punya waktu 30 detik. Dengan arus bandwidth yang lambat, maka pemain dengan sendirinya menjadi stand up (tidak ikut main meski masih ada di dalam ruangan virtual tempat meja berada), layaknya seorang yang berdiri di ruangan Poker menyaksikan para pemain yang duduk suntuk menunggu kartu nasib lain terbuka.

“Bisa jadi juga, salah satu pemicu hepatitis yang diderita almarhum kawan saya tahun lalu adalah Poker. Karena Poker dia tidak tidur,” ungkap Barak tentang Ms, teman sejurusannya di Kelautan Unhas.

Untuk melakukan pengiriman (transfer) chip, kedua pemain hendaknya melakukan add buddy (sejenis permintaan pertemanan). Add buddy bisa memudahkan seseorang mencari di meja mana pemain yang menunggu kiriman chip sedang berada, yang dalam Poker dipakai untuk transfer jarak jauh dan mencari meja kosong. Transfer paling sering dilakukan pada pukul 23.00 dan setelahnya waktu Indonesia untuk menghindari banned (hukuman pengosongan chip). Karena perbedaan waktu di Eropa dan Amerika, pukul 24.00 di Indonesia berarti baru siang di negara-negara Eropa yang berarti meja virtual Poker masih banyak kosong.

Modus pengiriman pertama dengan cara all in stand up (mempertaruhkan seluruh chip si pengirim). Dalam meja poker, ini terhitung sebagai cara ‘lari’ pemain ketika taruhan dinaikkan oleh pemain lain. Muslihat ini leluasa menjadi cara transfer sampai tahun 2009, ketika Zynga belum menemukan celah ini. Setelah Zynga mendeteksi lalu memasukkan proses ini sebagai bentuk transfer ilegal, para pecandu Poker menemukan cara lain, yakni dengan bermain biasa dengan dua akun yang masing-masing memainkan raise (tambah taruhan) dan fold (tidak ikut). Kedua akun bermain taruhan besar sebagai cara mempercepat pengiriman. Belum lepas tahun 2009, cara ini pun terdeteksi radar Zynga. Tapi begitulah pelanggar, mereka selalu selangkah lebih di depan ketimbang peraturan karena selalu mencari siasat jitu untuk lolos. Pada 2010, para pedagang dan pembeli chip memainkan Poker lebih ‘normal’ lagi. Mereka bermain biasa dengan taruhan yang sedikit. Namun proses ini butuh waktu yang sangat lama. Entah bagaimana cara Zynga kemudian bisa menangkap kalau cara ini pun adalah cara di luar aturan. Cara terakhir yang jamak dipakai para pemain pada tahun 2011 adalah seorang pemain membuka dan bermain Zynga Poker memakai tiga akun atau lebih dalam satu meja. Tinggal membuka aplikasi tab Google Chrome, Internet Explorer, Mozilla, atau Opera dalam satu komputer. Tapi ini juga, menurut kabar terakhir, sudah ketahuan oleh Zynga.

Akibat penangkalan Zynga terhadap banyaknya akal para pemain, chip-chip yang pernah diperdagangkan dari Makassar dan sekitarnya sampai menyeberang pulau seperti Kalimantan, kini entah berada di mana sekarang dan di tangan siapa gerangan. 

Hanya satu yang pasti, ada satu rentang waktu di Makassar, ketika raksasa bernama Zynga Poker mencengkeram dan mempengaruhi hidup orang banyak. Saya membayangkannya sebagai makhluk megah bermata banyak seperti Argus Panopthes, buto bermata seratus dalam mitologi Yunani. Tapi yang ini lebih dahsyat: makhluk gigantik bermata 38 juta pasang.[]

Sabtu, Januari 07, 2012

Perempuan Magma Samosir

Di Samosir, ubun-ubun Sumatera Utara, perempuan-perempuan Batak membantu perekonomian keluarga dengan menenun ulos. Sengaja maupun tidak, mereka tetap berkarya kendati posisi perempuan dalam masyarakat Batak masih di pinggir perhatian; di tengah masyarakat yang beretos maskulin. Berikut tulisan saya tentang seorang perempuan Samosir 2010 lalu.

Kosti Sinurat dan alat tenunnya. (foto: Idealita Ismanto)
TAK PERNAH terlintas di benak Kostina Sinurat (46) kalau anaknya, Sandro Sitanggang (27), tidak mau melanjutkan sekolahnya. Padahal tujuh saudara Sandro justru sebaliknya. “Saya sampai sekarang tidak mengerti mengapa,” ujar Kosti.

Suara perempuan bertubuh besar nan sehat ini tanpa ragu; mantap dan bulat seperti bunyi baliga—sebatang alat tenun yang ia pakai merapatkan tiap helai benang ulos setiap hari. Matanya menatap tajam; sebagaimana intensnya Kosti menenun kain khas suku Batak itu, di Rabu sore pekan ketiga Mei.

Sandro adalah anak sulung pasangan Kosti Sinurat dan Sintong Sitanggang. Sandro kini tinggal di Jakarta, mencari nafkah sebagai sopir angkutan kota. “Tapi kita sudah coba mendorong dia tetap sekolah. Kalau anaknya memang yang tidak mau, ya mau apa lagi,” begitu Kosti mengujar pasrah. Ia berhenti menggerakkan baliga sebentar dan melanjutkan kerjanya.

Adik-adik Sandro berpendidikan beres. Elis (25) lulusan Ekonomi Manajemen Univesitas Katolik Santo Thomas Medan kini mengurus administrasi Radio Samosir Green; Verawaty alumni D1 Medikom Medan sekarang kerja di PNPM Samosir; Esra yang lahir 30 Oktober 1988 masih kuliah kebidanan; Domuraja (20) lulus PMDK di Bandung; Hendra Priyantoni (18) di kelas II SMA, mengulang kelas karena menganggur setahun lantaran kakinya patah dalam sebuah kecelakaan Agustus 2009; Apriyoni yang lahir pada 27 April 1996 sekarang kelas III; sedang si bungsu, Elisabeth yang berusia 12 tahun duduk di SMP Kelas I, “Dapat ranking dia,” ujar Kosti bangga.

Kosti tak lain salah seorang penenun di komunitas kecil yang bermukim di Huta Lumban Nabolak, Buhit Pardugul. Huta (kampung) ini berada di pinggir Danau Toba, termasuk wilayah Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir. Kampung yang terletak sekisar 10 kilometer dari Pangururan, ibukota Samosir, dihuni oleh enam marga, yakni Sinurat, Sitanggang, Malau, Nainggolan, Naibaho, dan Sihotang.

Tampaknya tradisi terjaga di huta ini. Di sana masih terawat rumah adat kuno, rumah ganjang (panjang) dan rumah bolon (rumah besar), lengkap dengan foto pastor berwarna sepia di samping kanan pintu utamanya. Konon, sosok yang ada dalam foto itu adalah pastor pertama yang mengabdi di Huta Lumban Nabolak. Ada pula tempat tidur kayu yang sudah berumur 200-an tahun.
Gambar-gambar berwarna sepia di salah satu rumah pusaka
(foto: Idealita Ismanto) 
“Itu pusaka orang dulu. Pusaka yang menurun ke kita. Hanya atapnya yang diganti seng. Dapurnya sudah di belakang. Semua, dari dinding sampai tiangnya masih asli. Dulu di situ tinggal enam keluarga. Makanya, dapur mereka dulu di tengah,” jelas Kosti di keesokan paginya, sambil menunjuk rumah besar yang tepat berada di samping rumahnya, “tanpa dinding!” sergah Kosti—seperti tahu pertanyaan susulan penjelasannya tadi.

Kosti melakoni kerja menjalin ulos setiap hari, mulai pagi hingga menjelang senja. Para tukang tenun Buhit Pardugul mengerjakan ulos bermotif Karo. Ulos motif Karo memang tidak ditenun di kampungnya; melainkan dikerjakan oleh perempuan-perempuan Samosir. Jarak Karo dari Samosir membutuhkan perjalanan ‘pergi pagi pulang malam’. Entah sebab apa hal ini berlangsung sejak lama.

“Ya, kalau lan..car,” kata Kosti, sambil menatap ke atas, “satu lembar itu bisa selesai tiga atau empat hari,” lanjut Kosti. Dia lalu mengambil selembar kain berwarna merah marun campur coklat dari kantong plastik menunjukkan contoh hasil kerajinan tangannya. Beban Kosti menyelesaikan sehelai seperti itu menjadi ringan berkat bantuan dua anak perempuannya yang terakhir. Elisabeth menggulung benang—bahan baku tenunan yang dibeli di Karo; sementara Apriyoni membantu mangani (menjajar benang ke dalam alat tenun).

Matahari mulai redup di balik gunung seberang Danau Toba. Awan mulai menjingga. Kosti berhenti menenun. Penahan punggung, tundalan, ia lepaskan. Pagabe (penjepit kain) dan giun (pemisah helaian benang) ia dekatkan ke pemapan (penahan benang). Sementara turak (tempat benang pengisi) Kosti masukkan ke kaleng bekas bundar bekas tempat camilan bercampur dengan gulungan-gulungan benang. Perempuan berambut lurus itu segera duduk menyeruput segelas teh dan kue gabin, berbaur dengan para kerabatnya. “Yang paling sering sakit kalau habis menenun itu paha dan bahu,” kata Kosti seraya meregangkan badan.

Perangkat tenun ulos. (foto: Idealita Ismanto)
Kosti lalu memalingkan wajahnya ke Derita Sitanggang (31), yang duduk di sampingnya. Keduanya berbicara bahasa Batak—sepertinya menanyakan sesuatu. Derita yang punya panggilan akrab Nai Dimpos ini sejak tadi menemani Kosti menenun, sambil bermain dengan bayinya yang berumur setahun di atas matras hijau terang. Rumah Nai Dimpos hanya diantarai tiga rumah dari rumah Kosti. Beberapa kerabat Kosti, kebanyakan bocah, berkumpul di halaman rumah Kosti bermain. Sesekali terdengar suara babi dari kandang yang berjarak hanya tiga atau empat meter dari tempat Kosti menenun.

Menurut Kosti, hasil tenunannya dijemput langsung para toké (pedagang kain ulos) di Lumban Nabolak. Para pedagang inilah juga yang biasanya membawakan mereka bahan baku tenunan dari Karo.

“Dulu, waktu kami (saya) belum berkeluarga, kamilah yang bawa dan pasarkan sendiri ulos kami ke Karo. Karena sekarang repot mengurus anak, ya mereka (toké) mulai datang lagi ke sini,” jelas Nai Dimpos.

Harga ulos seperti hasil kerajinan tangan Kosti tadi seharga Rp300ribu per helai. Setiap helainya, Kosti mendapat keuntungan bersih Rp120 ribu. Kosti peroleh laba itu dari hitungan sebagai berikut: biaya kerja Rp120.000 (Rp30.000 × 4 hari kerja) + Rp60.000 (modal bahan) = Rp180.000,-.

Harga Rp300 ribu per helai bisa menjadi dua kali lipat bahkan lebih bila pedagang ulos sudah menjualnya di pasar. Harga ini sekisar tiga kali lipat lebih mahal dibandingkan dengan ulos hasil rajutan mesin. Harga itu, menurut pedagang-pedagang di onan, pasar pekanan di Parurungan, tenunan manusia jauh lebih rapi dan lebih rapat dibanding buatan mesin. Sebutan onan berasal dari bahasa Batak Toba, on (di sana) dan an (di sini), yang merujuk banyaknya barang yang tersedia/dijual di pasar setiap pekan ini.

Awalnya ulos hanya digunakan masyarakat Batak dalam acara ritual siklus hidup, seperti kelahiran, acara adat perkawinan dan kematian. Namun belakangan ini pemakaian ulos dalam masyarakat Batak semakin meningkat. Mulai dari acara kelahiran, pembaptisan, naik sidi, memasuki rumah baru, acara adat perkawinan dan kematian. Pihak dari keluarga perempuan (istri) akan membawa ulos, sedangkan dari pihak laki-laki (suami) memberikan tumpak (uang).
Ulos yang terkumpul, jika banyak, sebagian akan dijual ke pedagang ulos.  Banyak tidaknya ulos tergantung besarnya undangan, misalnya pada saat acara adat perkawinan. Ulos yang terkumpul bisa dijual untuk menutupi biaya pesta perkawinan.

“Mereka (para pedagang ulos) akan datang dan menunggu pesta selesai. Begitu pesta selesai atau keesokan harinya, mereka akan datang menawar kain-kain ulos itu,” tutur aktivis KSPPM Parapat, Delima Silalahi, mengenang pengalaman pesta pernikahannya tahun 2002 lalu.

Menurut Kosti, sebagaimana halnya yang terjadi pada komoditas lain, harga ulos pun bisa naik turun. Di waktu-waktu tertentu seperti Ramadan (orang Karo banyak yang muslim) dan menjelang masuk sekolah, harga ulos sering turun.

“Karena para pembeli kan lebih mendahulukan membeli sembako untuk puasa, pas menjelang tahun baru, atau beli seragam atau buku tulis anak yang mau masuk sekolah,” terang Kosti.
Keterampilan menenun ulos diturunkan pula Kosti ke anak-anak perempuannya sedari mereka kecil. Mulai dari Elis, anak perempuan tertuanya, sampai ke Elisabeth yang bungsu. Si bungsu sejak duduk di bangku SD belajar menggulung benang. Pewarisan pengetahuan itu berjalan alami.

“Biasanya kan gitu anak-anak... kalau lihat kita kerja, dia juga minta diajari karena lihat saya sama kakaknya menggulung benang,” cerita Kosti.

“Sejak SD mereka menggulung, sambil belajar mangani. Sudah tamat menggulung baru belajar mangani. Di kelas III SMP sampai SMA mereka belajar menenun. Usia SMA mereka bisa kerja satu sarung seminggu. Kalau kami dua atau tiga per minggu,” sambung Kosti.

Kerja ulos itu membantu Kosti dan Sintong, suaminya, mengelola rumah tangga yang mereka bangun sejak 1982 silam. Hasil penjualan lembar-lembar ulos Kosti-lah yang membantu Sintong yang bergiat di sawah. Tentu dengan syarat, “Bila kita tidak terganggu panen atau musim tanam,” ujar Kosti.

Malam pun mulai merayap. Lampu di ruang keluarga Kosti sudah menyala. Orangtua dan anak-anak yang berkumpul di halaman sudah pulang. Hanya dua ekor anjing peliharaan Kosti yang berjaga di halaman. Kosti membungkus alat tenunnya dengan sarung lalu naik ke rumahnya.
Berdoa dan bekerja. (foto: Idealita Ismanto)
KOSTI SEKELUARGA bermukim di daerah berbukit. Cuara secerah bagaimana pun udara tetap sejuk dan matahari tak sampai terik menusuk. Itu karena letak Samosir 1000 meter di atas permukaan laut. Itu ditambah lagi oleh rimbun pokok kemiri, pohon mangga, kopi dengan buah merah dan hijau bercampur di tangkai-tangkainya, dan pokok randu yang tumbuh di kisaran rumahnya. Buah randu yang mencoklat di pekan ketiga Mei itu mulai pecah dan menebarkan kabu-kabunya ke segala arah, pertanda musim kemarau telah tiba.

Selain memberi pasokan oksigen yang memadai, pepohonan itu juga menambah penghasilan buat keluarga Kosti, selain kemiri di kebunnya yang satu rante, 400 meter persegi. Kosti menjual kemiri bulat dengan harga Rp35.000/kaleng (10 liter). Para penadah datang sendiri ke Lumban Nabolak untuk membeli biji-biji kemiri panenan Kosti.

Selain dari pekarangan, Kosti sekeluarga mendapatkan buah-buahan dari kebun. Di sana tumbuh pisang, alpukat, mangga, dan jagung.

“Kalau (alpukat) lagi berbuah, kita bawa pulang bikin jus di rumah. Kalau sedang ada uang, kita tambah susu,” kata Kosti tertawa, seraya menyeka keringat di keningnya. Mungkin ia membayangkan lezatnya jus itu di tengah cuaca cerah, sehabis mengeringkan gabah di sekitar penggilingan saudaranya.

Namun karena pohon-pohon itu berbuah musiman, pasar tiap Rabu menjadi alternatif keluarga ini mendapat pasokan buah-buahan.

Di pasar itu pula Kosti rutin membeli daging. “Kalau nggak ada uang kita untuk beli sekilo, ya beli setengah kilo, kalau nggak setengah kilo ya sepuluh ribu,” katanya enteng. Ia mengaku, resep ini sejak dulu ia terapkan di rumahnya, kendati belakangan anjuran yang sama disampaikan oleh petugas puskesmas setempat.

Kondisi alam dan pola asupan yang diterapkan Kosti membuat seluruh anggota keluarga hidup sehat. “Anak-anak saya sangat jarang sakit. Kalau pun sakit ya pilek biasa aja. Itu pun kita tidak bawa ke puskesmas. Kita telepon saja bidannya, bidannya yang datang ke rumah periksa dan dikasih obat. Nggak pernah disuntik,” jelas Kosti.

Riwayat sakit terparah justru ada pada Sintong. Kondisi hati (lever) suami Kosti itu akut di tahun 1997 sampai harus dibawa ke rumah sakit di Medan. Di sana mendapat perawatan selama dua minggu, mengharuskan Kosti yang kala itu mengandung Elisabeth 4,5 bulan ikut ke Medan. Sepulang rumah sakit, Kosti merawat sang suami dengan pengobatan alternatif di sekitar Belawan. “Saya nggak ingat obat apa, tapi yang jelas akar-akaran dimasak,” kata Kosti, seraya memainkan gelang mambang kuningnya.

Karena penyakit hati itu, Sintong tidak boleh mengecap makanan bergaram selama setahun penuh. Santapan sehari-harinya hanya ikan tawar yang dibakar dan sayur rebusan kacang panjang.

“Makanya dia tidak merokok lagi. Dulu dia peminum. Sekarang udah kena dia, berubahlah dia. Nggak judi lagi, nggak mabuk lagi,” kata Kosti dengan suara yang merendah. Sintong kini mengganti rokok dengan sirih—kebiasaan awam di Lumban Nabolak.

Untungnya ketika itu, Kosti dan Sintong punya tabungan yang cukup. Tanggungan mereka belumlah sebanyak sekarang, ketika anak-anaknya masih kecil-kecil. “Sampai-sampai tabungan waktu itu ada 50-an juta. Barulah pas sekolah kuliah begini sudah susah,” ungkap Kosti. Matanya tak berkedip. Ia melanjutkan meratakan hamparan gabah dengan tangan.

Seperti magma yang menumpuk lalu membentuk Pulau Samosir, serta memberi kehidupan seratus tiga puluh ribu jiwa, begitu pula Kosti dengan sekuat daya—kendati bergerak dalam senyap—menghidupi orang-orang terdekatnya.[]

Rabu, Desember 28, 2011

Nyamuk-nyamuk di Punggung Sulawesi

Budi daya kelapa sawit menjadi salah satu penyebab menurunnya populasi orang utan akibat penebangan dan terbakarnya hutan di Kalimantan. Hal serupa terjadi di garis lintang yang sama, di timur pulau raksasa Kalimantan, di punggung Sulawesi, di kawasan Mamuju Tengah, tepatnya di Kecamatan Tobadak, 180-an kilometer utara Mamuju. Hilangnya hutan demi lahan kelapa sawit menciptakan mintakat (zona) malaria. Bagaimana penduduk setempat menangkal demam ini?

LETAK Kecamatan Tobadak berkisar 180 kilometer di utara Mamuju. Wilayah kecamatan ini penuh batang-batang kelapa sawit. Lebih cepat sampai di sana bila berangkat dari Palu ketimbang dari Makassar. Karena, kata orang, jalanan dari Palu lebih mulus dibanding dari Makassar. Pelebaran jalan trans Sulawesi dari Makassar sampai di Mamuju belum selesai. Setidaknya begitulah yang saya alami ketika berangkat ke sana pada pertengahan tahun 2011. 
Salah satu bagian poros Trans Sulawesi, sekitar Topoyo. (foto: Anwar J Rachman)
Sejak pemekaran Mamuju-Majene-Polewali Mamasa menjadi Sulawesi Barat, pemerintah provinsi baru menggalakkan pembangunan fisik, termasuk jalan. Sebelumnya masih jalan kecil dan tak mulus. Bahkan jalan menuju Tobadak hanya separuh beraspal. Begitu kendaraan masuk di hamparan belantara sawit di Tobadak, Anda akan temui jalan berbatu berkerikil. Menutup kaca mobil cara paling aman agar bebas dari kepulan debu sepanjang jalan.

Tobadak merupakan kawasan hutan di timur Topoyo, sebuah kecamatan di poros trans Sulawesi yang santer disebut calon ibukota Mamuju Tengah. Para transmigran membuka Tobadak sekitar tahun 1993 silam. Awal pembukaan, Tobadak berpenghuni 121 kepala keluarga. Nyaris seluruhnya berasal dari Bakaru, Polmas. Semua beragam Kristen dan awalnya bermukim di daerah pegunungan. Hanya Haji Rustam yang beragama Islam dan orang pantai.

Menurut H Rustam, ia datang sendiri saat mengantar 121 KK ke kawasan Tobadak sekarang. 
H Rustam tidak bersama istrinya karena sang istri baru melahirkan anaknya yang bungsu. Dua minggu setelahnya baru ia berangkat mengambil istrinya di Polmas. 

Waktu datang pertama H Rustam tidur memakai kelambu. Ketika itu ia belum tahu obat apa yang ampuh untuk malaria. Ganasnya malaria ia gambarkan dengan, “Sapi dan kuda mati dimakan nyamuk. Na bungkus nyamuk. Kuda dulu pembagian di sini! Mungkin mati capek karena tidak berhenti lari kalau malam!”

Penangkal malaria warga desa ini adalah empedu ular sanca. H Rustam mengungkapkan, ia mendapatkan pengetahuan ini dari kalangan pengusaha Tionghoa. “Itu mi aslinya obat China!” serunya.

Namun H Rustam tidak mau merekomendasikan empedu sanca ke banyak orang. Ia hanya memberi obat tradisional itu bila mereka datang meminta. “Saya takut kalau ada risikonya. Tapi Alhamdulillah, tetangga sebelah (menunjuk depan rumahnya) sembuhnya makan begitu. Banyak uangnya dia pakai berobat, sampai rontok rambutnya, tapi tidak sembuh-sembuh. Ke sini pi minta baru saya kasih,” kata istrinya.

H Rustam mendapatkan empedu ular sanca kala membersihkan lahan pembagian para transmigran awal membuka hutan. Beberapa lama pun ia bersama istri menekuni usaha jual beli kulit ular. Siang malam keduanya menguliti ular sanca di masa pertama mereka menekuni usaha itu. Sambil jual beli kulit, H Rustam sempat mengumpulkan empedu ular pesanan pembeli di Makassar. Beberapa tahun lalu, kata lelaki berkumis itu, harga empedu sanca mencapai Rp7 juta per kilogram. Tapi, kata H Rustam, sekilogram itu, setidaknya, membutuhkan 130 ekor sanca. “Saya tidak pernah menumpuk (empedu ular) karena pengusaha Tionghoa selalu datang ambil. Paling banyak setengah kilo.”

Beberapa kalangan juga sudah menggunakan obat alami ini. Seorang pejabat polisi setempat, kata istrinya, sesekali meneleponnya meminta persediaan empedu sanca. “Kalau sudah dimakan, semua makanan enak dilihat,” kata H Rustam, meyakinkan. 

H Rustam lalu menelan mentah-mentah empedu sanca yang sudah ia keringkan. Istrinya menyimpan empedu itu di lemari dekat ruang tamunya. Beberapa saat kemudian, H Rustam menunjukkan dadanya yang sudah berkeringat—kendati cuaca hari itu tidak terik. “Pokoknya  dikasih sehat ki!”

Sebenarnya, menurut H Rustam, khasiat empedu sanca sebesar ukuran kelingking itu belum seberapa dibanding empedu ular sendok. Bisa menyembuhkan banyak penyakit. Namun ular yang bisa disebut kobra itu lebih banyak ia dapatkan di Kalimantan. Bila empedu sanca tidak ada, banyak obat alami bisa dipakai jadi obat, seperti cacing tanah yang menyembuhkan sesak napas sampai daun maja direbus sembilan lembar (asal berjumlah ganjil) untuk mengobati kencing manis. “Waktu Aji (Haji, suaminya) ke Mekkah, tidak naik haji ji. Pergi ji ma’dukung (mengobati orang),” ujar istrinya.

H RUSTAM merupakan salah seorang tokoh masyarakat Tobadak. Bisa jadi karena ia adalah orang yang mengantar para transmigran yang kini bermukim di kecamatan itu. Ditambah lagi lelaki berusia 55 tahun ini kerap menjadi tempat tetangganya mencari obat alternatif semacam penangkal malaria.

Kawan baik saya, Ridwan Alimuddin, seorang penulis yang tinggal di Polewali, mengenal nama itu. H Rustam terkenal sekali, kata Ridwan. Seorang kawan lain, Kemal, membenarkan. Kemal, mahasiwa Kelautan Unhas asal Mamuju, melihat H Rustam kala ricuh pilkada gubernur Sulbar. Kala itu massa nyaris bentrok karena para pendukung kandidat masing-masing bertahan. Tiba-tiba, tutur Kemal, naiklah H Rustam menghardik satu kubu pendukung agar pulang. Pendukung, yang sebagian besar bersenjata tajam, seperti mendengar perintah seorang pemimpin. Mereka menurut lalu membubarkan diri. 
“Mungkin ada ilmu pa’gerra’-nya itu Haji Rustam!" duga Kemal. Pa’gerra’ semacam kharisma yang membuat orang jadi menurut.

Sebelum bermukim di Tobadak, H Rustam melanglang buana ke banyak tempat, terutama Malaysia—tujuan lazim para lelaki Sulawesi. Ia pernah setahun di hutan Sabah, ikut seorang cukong kayu gelondongan Tionghoa-Melayu. Rustam nyaris tewas di sana karena kecerobohan sendiri. Ia masuk mobil tangki pengangkut solar. Tangki itu sudah kering. Rustam yang kecapekan bekerja mengecat tangki, tak bisa melawan kantuk. Ia masuk tangki untuk tidur karena takut beruang dan ular sendok. Kawasan tempatnya bekerja masihlah hutan lebat. Sehari semalam Rustam mendekam di tangki. Untung terdengar bunyi air yang ada di samping tangki. “Saya dengar ada orang cuci kaki dari lubang di bawah tangki. Saya langsung ketuk-ketuk tangki teriak minta tolong. Ternyata ada orang Dayak yang cuci kaki dengar dan mengeluarkan saya. Hampir betul ka mati!” seru Rustam dengan mata membelalak.

Sebelum masuk hutan Sabah, Rustam juga pernah bersama Basri Masse di Malaysia. Basri Masse adalah seorang migran Indonesia asal Parepare, terpidana mati karena tuduhan mengedarkan obat-obatan terlarang. Berita Basri sempat mewarnai media cetak Indonesia pada awal 1980-an lalu karena hukuman ini. Basri Masse ditangkap di Labuan. Namun Rustam lolos karena dengan cepat menyamar sebagai nelayan dengan mengambil sarung nelayan setempat. “Saya langsung pegang tali perahu jadi dikira nelayan di situ,” kenang Rustam. Rustam segera pulang ke Indonesia pada hari eksekusi Basri.

Menurut Rustam, tertangkapnya Basri lantaran seorang intel selalu mengikuti mereka selama di sana selama setahun ‘sampai rambut si intel gondrong’. “Obat-obatan itu diperoleh dari warga keturunan Tionghoa di Malaysia,” ungkap Rustam.

NASIB WILAYAH lain tak jauh beda dengan Tobadak. Kasma, istri Kepala Desa Tumbu, Al Habsi, juga pernah menderita malaria 2003 silam. Kasma mengira hanya sakit kepala biasa. Tapi sakit kepala yang ia derita rupanya tanpa jeda. Keesokan harinya ia langsung berangkat ke Puskesmas Topoyo untuk memeriksakan diri."Waktu itu, sakit kepala tidak ada jeda, muntah-muntah, panas, menggigil," terang Kasma.

Obat paling lazim adalah daun dan akar pepaya, dengan merebus dan meminum airnya. Menurut seorang pengusaha sebuah rumah makan di Topoyo, ketika tiba pertama kali di Topoyo, suaminya menderita malaria. Hanya air perasan daun pepaya yang membuatnya sembuh.

Warga Tumbu bernama Tahir (70), malaria muncul justru di musim pancaroba. Selain pepaya, ia dan keluarga memakai bilajang kurita untuk menghindari momok malaria. "Cukup iris dan potong kecil-kecil (bilajang kurita) dan masukkan ke air panas. Nanti kalau sudah potongannya tenggelam, airnya sudah dingin, nah itu boleh diminum," ungkapnya. Harfiah bilajang kurita adalah 'tali gurita', tanaman rambat seperti tangan gurita.

Selain pepaya dan bilajang kurita, Pak Tahir juga memberi resep daung pai-pai. Bisa jadi sambiloto nama Indonesia-nya. Helai daunnya seperti kemangi. Pahit benar. Rasanya tertinggal di batas mulut dan tenggorokan.

Hanya Desa Lara yang punya obat lain selain pepaya. Orang setempat menyebutnya Buah Nase'. Buah itu sepintas serupa dengan jagung. Namun ukurannya sebesar lengan orang dewasa. Pohonnya, menurut Pak La Tani, mirip dengan pohon pandan. Biasanya, kata La Tani, tumbuhnya hanya di hutan. Itu pun biasa dibawa keluar hutan oleh para pencari rotan.

"Banyak yang beli biasa. Mereka (para pencari rotan) cuma titip sama saya," ujar La Tani, pria tuna netra, migran dari Sidrap. Buah Nase' dipakai sebagai obat luka dalam. Cara menyajikannya, buah dicuci dan diremukkan, lalu dimasak hingga mendidih. []

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP