Jumat, Januari 08, 2010

Perjalanan Kedua: 8060


5 November 2009. Saya urungkan rencana saya berangkat pukul 13.00 dari Sengkang. Saya tak mau terburu-buru berangkat. Apalagi keberangkatan saya dengan motor ternyata memaksa saya berpikir harus lewat mana; apakah melalui jalan tanpa banyak kelok via Sidrap atau lewat Bulu Dua.
Untuk keduanya, saya putuskan memperpanjang sewa hotel sampai pukul 15.00. Saya harus istirahat baik-baik dulu seraya berpikir soal jalur perjalanan. Pelajaran yang saya peroleh dari perjalanan menuju ke sini benar-benar memberi saya wanti-wanti: jangan pernah mau berangkat ketika sedang capai. Soal jalur yang saya akan lewati, saya pilih Bulu Dua. Berarti harus lewat Soppeng. Saya mau mencobai jalur baru. InsyaAllah, bakal ada pengalaman baru pula.
Tapi sebelum memutuskan, saya berhitung baik-baik. Apakah uang di kantong cukup buat sewa perpanjangan 25 persen dari harga rente kamar. Empat lembar lima puluh ribuan akan berkurang selembar untuk memperpanjang istirahat saya di kamar hotel. Sambil menerawang mengira-ngira, rasanya bekal Rp150 ribu rasanya sudah cukup membeli makanan dan minuman. Kalau pun risiko seperti ban pecah dan sebagainya tak bisa dielak, ya setidaknya saya masih punya KTP untuk dititip di tukang tambal ban, kemudian mencari ATM ibukota kabupaten atau untuk menarik dari uang tabungan yang tidak seberapa.
Begitu pakaian dan barang sudah saya masukkan dalam tas, saya pun berangkat tidur. Weker Nokia yang selama ini setia membangunkan saya di waktu-waktu penting, saya minta membangunkan saya pada 14.15. Tidur dan bangun saya selalu disponsori Nokia.
Tak lama setelah terbangun oleh getaran dan bunyi berisik Nokia, saya minum air putih sebanyak mungkin. Cuci muka. Basahi rambut yang mulai panjang dan sering 'memberontak'. Kembalikan kunci kamar. Panasi motor. Dua hari si biru hanya standar samping di parkiran hotel.
Saya berangkat ke Soppeng. Sebenarnya indikator bahan bakar yang tinggal dua garis. Saya lambatkan motor mencari stasiun pompa bensin tapi tak dapat juga. Motor kembali saya lajukan. Rupanya simpang tiga Sengkang-Soppeng-Bone terdapat pompa bensin. Saya tidak melihatnya karena baru membalikkan kepala ketika simpangan itu sudah lewat seratusan meter. Saya jadi malas untuk balik. Saya pikir dan yakin, pompa bensin sudah dekat. Apalagi saya sudah percaya, kehematan si biru masih bisa saya andalkan hehehehe..
Saya kemudian tiba di Cabenge. Sambil melambatkan motor, saya cari lagi pompa bensin. Namun pompa bensin yang saya cari hanyalah pompa bensin kecil. Itu pun sering tidak terlihat karena berada di depan rumah warga dengan warna yang tidak menyolok.
Sambil mencari pompa bensin, begitu masuk di kota ini saya jadi teringat cerita Sudirman HN tentang anaknya, Rifki yang ia ajari cara menyebut Cabenge, kampung halamannya. Rifki yang besar di Australia mengeja Cabenge menjadi “Kabenje”. Ayahnya berkeras cara Rifki menyebut sangat keliru. Ca’-beng-nge, kata Kak Sudi. Jelas debat ini tak punya ujung. Yang pasti, Kak Sudi mengakhiri cerita ini dengan menepuk dahi.
Tiba di depan Pasar Cabenge, saya justru singgah di warung mi pangsit—bukan pompa bensin, tempat yang saya cari sejak Sengkang. Selesai makan, saya bersegera menuju Soppeng. Sekira dua kilometer lepas dari Pasar, saya akhirnya bertemu pompa bensin. Isi penuh dan tancap gas ke Soppeng.
Menjelang Kota Soppeng, saya bertemu simpang tiga, “Jalan ke Bulu Dua ke mana?” Si tukang ojek menunjukkan jalan yang saya punggungi. Saya berterima kasih, berbalik, dan tancap gas lagi.
Bulu Dua. Entah berapa kilometer yang harus saya tempuh untuk sampai di sana. Di hapeku menunjukkan pukul sudah pukul 16.00. Gas makin saya tancap lagi; saya harap-harap cemas semoga masih bisa saksikan pemandangan di Bulu Dua. Apalagi saya tak punya pedoman sedikit pun tentang jarak. Terakhir saya melihat Bulu Dua pun sekitar 10 tahun lalu. Yang teringat hanyalah sejuknya udara di atas sana. Kalau pun tiba di saat gelap, ya cukup udara bersih nan sejuknya saya nikmati. Tidak rugi. Apalagi kalau ingat udara di Makassar yang penuh debu dan berbau logam!
Jalan ke sana penuh kelok. Untuk ukuran Sulawesi Selatan, jalannya serupa bila menuju ke Enrekang atau Toraja—minus jurang-jurang yang dalam. Namun mata pengendara tetap harus ekstra awas. Pasalnya ruas jalan ke sana tidak rata. Banyak bagian jalan bergelombang dan aspalnya tak licin. Motor yang lewat pasti bergetar. Beberapa kali saya harus mengendara sambil berdiri karena tak melihat jalan yang bergelombang.
Tapi ada juga baiknya pakai motor. Mobil menjadi lambat lantaran harus berbagi jalan atau memberi giliran mobil, terutama bagi mobil yang lebih besar, untuk mendahulukan mereka bila masuk jalan menanjak. Pokoknya, kuda besi saya lebih lincah menyalip. Apalagi kalau sudah bergegas memburu pemandangan di Bulu Dua supaya tidak sampai tertelan gelap.
Sekisar duapuluhan kilometer menjelang Bulu Dua, setelah melewati jalan-jalan yang menanjak dan berkelok, saya menepikan motor. Tangan saya mulai kram karena getaran. Saya tepikan motor di lembah yang penuh petak sawah. Rokok saya sulut. Istirahat sejenak di sebongkah batu besar di pinggir sawah. Pemandangan di sini asyik juga.
Hijau membentang. Hiburan tersendiri di tengah kemarau yang tidak berujung. Tangan saya basahi; merabai sejuk air selokan pengairan yang ada di kaki saya.
Tiba-tiba telepon saya berbunyi! Rupanya Nurhady. Dia tanyakan saya sedang di mana. Saya jawab, sedang di Bulu Dua, masih dalam perjalanan ke Makassar. Dia bilang sedang di Makassar dan mau ketemu. Sejak di Sengkang, saya disibukkan dengan beberapa urusan, termasuk mengontak Ridho meminta tolong menguruskan fotokopi ijazah Shanty Roma yang mau mendaftar PNS.
Gas motor saya tancap lagi. Tinggal beberapa kilometer lagi sampai di Bulu Dua. Di perjalanan, saya saling salip dengan sebuah mobil berplat merah. Saya kadang diklaksonnya karena hendak lewat. Tapi saya bersikukuh tetap di tengah jalan. Siapa juga yang mau meminggir dengan jalanan bergelombang di pinggirnya?! Agak jahil juga saya dua-tiga kilometer. Saya paham betul bahwa dia butuh ruang besar untuk lewat di jalan yang tak begitu lebar ini. Sementara saya sudah kepalang melaju mengejar pemandangan yang masih terang di Bulu Dua. Mobil itu kemudian mendahului ketika saya sudah sampai di jalan yang rata. Kembali saya lewati mobil itu karena berhenti lantaran sopirnya hendak buang hajat.
Akhirnya saya di Bulu Dua. Dinding gunung kembar itu mencoklat. Mungkin rumput yang tak tersiram air hujan tiga bulan terakhir. Beberapa menit kemudian, mobil itu melintas. Saya dan si sopir saling lempar senyum. Ajaibnya, lelah rasanya berkurang.
Menghabiskan sebatang rokok, saya berangkat lagi. Sekira sejam lagi malam sudah tiba membawa selimutnya mengeloni daerah ini. Lepas dari Bulu Dua, tangan saya tidak capai lagi memutar gas. Justru kaki yang harus bekerja keras karena jalan sudah menurun dan tetap berkelok. Tinggal memastikan saja rem benar-benar prima.
Tapi dalam hati saya mengumpat, wah mulai turun. Berarti akan panas lagi. Bakal bertemu lagi keringnya Makassar, iklim yang membakar, dan udara yang cemar. Tapi yang paling mengesalkan adalah bakal bertemunya saya dengan jalanan dari Barru ke Makassar yang begitu mengesalkan. Begitu panjang, masih dilapisi beton, dan yang terpenting yakni penuh debu.
Terbayang jalan yang masih seratus sembilan puluhan kilometer, saya memilih istirahat di salah sebuah warung di sekitar perbatasan Barru-Pangkep. Kafeinlah yang bisa mengalahkan pegal badan yang saya bawa.
Segelas itu segera tandas ditemani kepulan rokok. Saya lirik hape, jam sudah menunjuk ke pukul 19.00. Wah saya harus berangkat. Tapi saya harus berhenti karena telepon dari Ammang, teman seangkatan di kampus dulu yang menanyakan kabar, lagi di mana, dan selamat ulang tahun. Saya katakan, itulah yang membuat saya harus pulang. Sudah janji dengan istri dan anak untuk ada di rumah di hari ulang tahun saya.
Ya, selama satu setengah jam mengendarai kuda besi itu, saya terus bertanya dalam hati, kapan saya sampai. Saya benar-benar lelah. Tapi rindu saya pada rumahlah yang mengalahkannya. Hanya beberapa meter sampai di tujuan, saya melirik speedometer. Angka di layar chrome-nya 8060.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP