Jumat, Desember 17, 2010

Kalimporo dan Pohon Asam

DUA HARI sejak pergi pulang Desa Kalimporo, saya bertanya-tanya dalam hati ketika melihat batang-batang pokok asam tumbuh di halaman rumah warga desa ini. Kok pohon asam? Kenapa bukan mangga, buah yang lazim ditanam manusia Sulawesi Selatan? Salah satu jawaban pertanyaan itu saya peroleh sebulanan kemudian dari Mappesangka Karaeng Sitaba (60).

Karaeng Sitaba, seorang guru SD. Dari segi umur, ia sudah pensiun. Tapi, lelaki berkumis ala Yusuf Kalla ini mengaku tetap bisa mengajar karena saat pendaftaran guru di sekian tahun silam, sekolah tempatnya mengajar, mendaftarkan tahun 1957 sebagai tahun kelahirannya—tujuh tahun lebih muda dari umur sebenarnya. Kalimporo sendiri adalah salah satu desa yang terletak di Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto, sekira tujuh puluhan kilometer dari Makassar.

Karaeng Sitaba masih terhitung sebagai cucu Raja Kalimporo. Ia jelaskan, ketika memerintah, sang kakek menanam pohon asam di sekitar istana. Sekarang kawasan istana itu bernama Borong Camba (hutan asam) terletak di mintakat kantor desa Kalimporo, yang masuk wilayah Dusun Tanatoa. Dusun ini sendiri, menurut Karaeng Sijaya, dulunya luas. Tapi kini terpecah menjadi Dusun Tanatoa dan Dusun Masago, tempat Karaeng Sitaba sekeluarga bermukim. Tempat memerintah sang kakek di kawasan yang sekarang masuk Masago. "Cuma dulu, kalau ada yang mau ketemu kakek saya, orang menunjukkannya ke rumahnya di Tanatoa," jelas Karaeng Sitaba.

Jawaban ini kemudian saya ceritakan pada teman saya, Asfriyanto. Tapi Anto, begitu panggilan saya padanya, melawan dugaan saya.

"Orang Belanda dulu, pakai pohon asam untuk menguatkan jalan yang dibikin, Kak," tanggap Anto.

Mungkin benar juga kata Anto. Asam jenis pohon berakar tunggal. Bisa jadi akar itu memadatkan dan mengeraskan tanah tempatnya tumbuh.

"Tapi biasanya kan di pinggir jalan kalau fungsi itu. Ini mereka tanam di halaman rumah," jelas saya.

“Oh...” Anto mengangguk, “mungkin betul juga, Kak,” lanjutnya.

RUMAH Daeng Sitaba seperti rumah bangsawan Makassar pada umumnya. Ada bangsal beratap yang berfungsi sebagai gerbang, dengan dudukan di kiri kanan menjadi tempat berbincang. Naik ke atas, ada serambi yang berundak dua. Timpa'laja bertingkat tiga yang terbuat dari kayu ulin. Sementara badan tangganya terbagi dua.

“Itu untuk tangga turun dan naikkah?” tanya saya, sambil menahan tawa.

“Hahaha.. bukan. Itu tanda saja. Begitu kalau rumah bangsawan,” tanggap Marzuki (36), anak Karaeng Sitaba.

Tapi jawaban Marzuki belum memuaskan saya. Pasti ada kegunaannya. Nanti saya cari sendiri jawabannya, pikir saya.

Tepat di belakang rumah Karaeng Sitaba terdapat situs. Menurut Marzuki, itu adalah tempat tomanurung. Situs itu ada dua; satunya lagi di belakang rumah pamannya yang berada di seberang jalan, hanya seratusan meter selatan rumahnya. Saya yakin, inilah situs yang disebut oleh Ian Caldwell dan Wayne A Bougas, dalam Fajar Sejarah Binamu dan Bangkala (draft terjemahan oleh Nurhady Sirimorok):

"Di antara Kampung Tanatoa dan Kalimporo terdapat gundukan tanah yang mencolok dan berteras-teras, yang menurut warga desa masih menjadi pusat ritus tumanurung setempat. Gundukan itu, bernama Karaeng Loe Burane (Penguasa Besar Pria, M.), terletak kira-kira tiga kilometer di timurlaut Allu, di sebelah barat jalan antara Borong Camba dan Tonra. Di sebelah barat gundukan ini terlihat dataran banjir kecil, yang ideal bagi pertanian sawah basah. Puncaknya ditutupi dengan dinding batu bundar dan pendek, di tengahnya terdapat sejumlah batu besar datar. Hingga dibersihkan pada akhir 1990-an, gundukan lainnya, yang bernama Karaeng Loe Baine (Penguasa Besar Wanita, M.), berada dalam jarak lima menit berjalan kaki di sebelah timur jalan raya. Gundukan ini hampir-hampir tidak dapat terlihat, tingginya hanya sekitar satu kaki, dan berdiameter kira-kira 10 meter. Dasarnya dikelilingi batu-batu kecil, dan sebuah menhir pendek berdiri tegak di dekat titik pusatnya."

Menurut Karaeng Sitaba, kawasan tempat rumahnya berdiri merupakan kawasan hutan terakhir yang dibuka di desa itu. "Pohonnya besar-besar. Begini, Pak," ujar Karaeng Sitaba, seraya menggerakkan tangannya seperti memeluk.

Dalam kesempatan itu juga, Marzuki menceritakan bagaimana kekuatan supranatural juga ada di sekitar kawasan itu. Di atas situs itu kerap muncul cahaya bulat terang. Begitu juga dengan rumah di selatan rumahnya, yang katanya, punya penjaga. Rumah itu tidak lain adalah rumah sepupunya. "Kalau orangnya pergi, itu pasti ada penunggunya. Saya pernah dengar, rumah di samping itu ada orang mandi. Padahal, waktu itu, rumah belum ada airnya. Karena masih dikerja waktu itu," papar Marzuki yang alumni IAIN Alauddin ini.

Sama halnya dengan sebilah pedang yang kata Marzuki pernah ditemukan di sekitaran situs belakang rumahnya. Pedang itu kemudian dipatah dua. Satunya dipegang pamannya, satunya entah di mana. Pedang itu, tambah lelaki yang berprofesi guru itu, selalu diikuti ular. "Kalau disimpan di tempat sembarang, pasti ada ular yang mengikutinya," imbuh Marzuki.

Perkenalan saya dengan Karaeng Sitaba sekeluarga diawali dengan Yusuf (31), adik Marzuki. Yusuf adalah salah seorang dari tiga kader desa yang menemani saya mendampingi Kalimporo dalam sebuah urusan. Yusuf, seperti ayah dan kakaknya, juga seorang guru.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP