Kamis, Desember 16, 2010

Dia Mencuri Garam Miliknya Sendiri

Daeng Siala, lelaki langsing empat puluh tahunan. Kulitnya coklat tua. Berkumis ala orang Makassar. Tebal dan melintang. Nyaris seperti dibiarkan tumbuh begitu saja. 
Daeng Siala memimpin Dusun Tanetea Utara, yang merupakan hasil pemekaran Dusun Tanetea, tak lama usai pilkades yang memunculkan Zulkarman Lewa sebagai Kades Kalimporo. Menurut seorang warga, Syamsiah, memang rata-rata pendukung Zulkarman ada di sana.
Tanetea Utara bersama 'saudara kembarnya' Tanetea Selatan berada di perbukitan utara Pallengu, kelurahan tempat kawasan penggaraman Pacce’langa berada. Letak kedua dusun berkisar lima kilometer dari simpangan Punagaya dan jalan poros Jeneponto Makassar. Kawasan ini masuk kategori miskin. Air yang jarang dan pertanian yang tadah hujan mengharuskan warganya keluar desa mencari nafkah di tempat lain seperti kawasan penggaraman Pallengu atau berangkat ke Makassar menjadi buruh bangunan atau tukang becak. Kini warga sudah mencoba menjadikan lahan-lahan itu selain sawah. Mereka merambah ke bukit untuk menanam sawi, jagung, dan kacang-kacangan--bahkan pohon jati.
Sang kepala dusun pernah menjadi salah satu dari mereka yang berangkat mencari kerja itu. Daeng Siala pernah bekerja sebagai penggarap lahan garam di sekitaran Pallengu, tiga atau empat tahun lalu. 
Lelaki ini menyimpulkan, hubungan antara pemilik lahan dan penggarap adalah hubungan yang jelas tidak menguntungkan. Para penggarap harus menjual garam mereka pada pemilik. Untuk kebutuhan sehari-hari, sebagian pemilik ringan tangan memberi pinjaman kepada penggarap, baik bentuk uang maupun beberapa liter beras. Sayangnya, pemilik lahan biasanya memaksa penggarap untuk mengambil beras ke mereka. Kalau harga beras Rp3.000 per liter, pemilik lahan menjualnya Rp5.000/liter. "Karena mereka kan juga beli di tempat lain," kata Daeng Siala.
Menurut Daeng Siala, beberapa pemilik penggaraman baik hati dengan meminjamkan uang kendati belum panen. Tapi ada juga pemilik lahan yang sangat jahat di mata penggarap. Mereka tidak mau memberi pinjaman sama sekali. Tak ada garam tak ada uang atau beras. Sampai-sampai, ia mengaku, pernah mencuri garam sendiri. Diam-diam ia menukar garam ke penjual kelontongan demi sebungkus rokok.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP