Jumat, November 18, 2011

Ketika Gagasan Berebut Tempat

Sejumlah komunitas kreatif di Makassar melukis bersama di Taman Segitiga KPJ, Jalan Sultan Hasanuddin, Makassar, 11 November lalu. Acara berlangsung mulai pukul 13.30 Wita hingga 17.30 Wita. Mereka menanggapi sesaknya ruang publik karena baliho memenuhi kota yang mereka tinggali.


Baliho menjadi hal lazim dalam kehidupan warga Makassar. Baik kalangan pemerintah Sulawesi Selatan maupun pengusaha menggunakan media ini sebagai bentuk kampanye. Sayangnya, bentangan vinyl di begitu banyak titik, nyatanya, mubazir. Bahkan perkembangan itu ramai tapi bisu—ramai dalam jumlah, namun bisu dalam dampak. Bisu karena pesan yang ditonjolkan tidak lengkap dan membuat audiens tidak percaya bahwa mereka akan merasakan manfaat yang dijanjikan dan tidak membuat mereka terinspirasi untuk bertindak. Pesan apa yang bisa kita tangkap dari baliho Sulsel Go Green yang berisi foto pejabat dengan seragam dinasnya? (Abdullah Sanusi, Baliho Saja Tidak Cukup)


Oleh pemerhati tatakota seperti Marco Kusumawijaya (2004), fungsi urban management yang rasional layak dikedepankan dalam urban good government, ketimbang kelihaian berpolitik. Pernyataan Marco merujuk pada pernyataan Soekarno kala melantik Ali Sadikin 28 April 1966 silam. Soekarno mengatakan bahwa seorang walikota (baca: pejabat) jangan cuma mengerti bestuurvoering (pelaksanaan pemerintahan), melainkan orang yang tahu “membuat kotanya itu bersih daripada sampah”.


Komunitas-komunitas kreatif Makassar yang turut dalam kegiatan ini antara lain UKM Seni UMI, Kedai Buku Jenny, Hijau Himahi Unhas, Rumah Ide Makassar, RenWarin Management, Abba Art Studio, Kasumba, sejumlah mahasiswa Seni Rupa UNM, Indonesia Sketcher Makassar, dan Tanahindie. Beberapa seniman tampak hadir seperti Rimba, Zaenal Beta, dan Firman Djamil.


Gerakan ini dalam bentuk mengambil beberapa baliho yang sudah kadaluarsa di beberapa titik di Makassar. Baliho yang terkumpul selanjutnya menjadi kanvas melukis bersama di Taman Segitiga KPJ.


Namun pengambilan baliho itu tidak akan dilakukan semena-mena. Komunitas yang ikut dalam gerakan ini tetap mengedepankan negosiasi dengan pihak yang terkait. Tujuannya, agar dialog yang terbangun menyebarkan penyadaran kepada pihak lain terkait pentingnya partisipasi. Pendeknya, kalangan pemberi izin pun berpartisipasi tatkala mereka memberi izin dan menyerahkan baliho yang mereka tanggungjawabi.


Upaya ini memiliki maksud membangun negosiasi antara warga biasa dan sekelompok orang yang memiliki wewenang pada titik-titik pemasangan baliho. Ini penting lantaran ruang outdoor selama ini terbengkalai, tanpa pengelolaan yang baik, sehingga tampak karut-marut dan terbengkalai. Sementara bagi warga, cara ini penting agar diberi ruang yang lebih luas membangun ruang gerak kebudayaan dan kehidupan sehari-hari. Bagaimana pun aparat pemerintah juga berasal dari kalangan warga yang mengharapkan terciptanya ruang serupa.


Kegiatan ini tidak berhenti di situ saja. Keesokan malamnya, beberapa perwakilan peserta melukis bersama ikut dalam evaluasi kegiatan yang dibingkai dalam bentuk happening art (seni peristiwa). Perupa Firman Djamil menjadi penanggap obrolan santai evaluasi tersebut. Evaluasi memilih Firman Djamil karena perupa ini salah seorang seniman yang menggeluti happening art.


Dalam obrolan awal, Ridho, relawan Kedai Buku Jenny, mengakui kalau memang Makassar sudah benar-benar tercemar. “Satu-satunya hiburan bagi saya kalau sedang jalan di kota adalah ibu hamil,” kata Ridho.


Peserta lain, Bram, yang sehari-hari sebagai pengacara, menyatakan hal senada. Namun ia menekankan bahwa kegiatan melukis bersama dari ekspresi psikologis mungkin sudah tercapai. Namun kegiatan ini masih perlu menggali lebih dalam untuk menjawab pertanyaan, terutama, apakah warga juga terganggu baliho di banyak tempat di Makassar?


Firman mengatakan, baliho-baliho itu memang baru sebatas virus. Belum menjadi sampah. Baru mengganggu! Dan di sinilah fungsi happening art sebagai cara berpikir outdoor (luar ruangan). Cara outdoor berarti melawan cara indoor (dalam ruangan), sistem yang dipakai oleh kalangan penguasa karena sistem kerja penguasa serba terkoordinasi atau berbentuk rezim.


“Dengan begitu, seni outdoor juga berebutan tempat untuk dipahami. Itu adalah ruang konfrontasi, tempat gagasan saling berkompetisi mempengaruhi pikiran. Ruang outdoor adalah ruang yang ditawarkan ke banyak orang. Di sana kita mencari solusi dalam kerangka yang berbeda, yakni informal. Ia membangun komunikasi. Selain itu tidak monoculture,” ujar Firman. Monoculture, secara singkat, bisa berarti peruntukkan sesuatu untuk satu tujuan saja.


Firman, yang baru saja menyelesaikan magister Penciptaan dan Kajian Seni ISI Yogyakarta, mencontohkan yang dilakukan mahasiswa HI Unhas datang terlambat ke kegiatan itu karena terjebak macet. “Mereka menggunting baliho sebagai respons terhadap keadaan waktu itu juga.”


Menurut Ridho, salah seorang peserta yang berangkat bersama mahasiswa HI, potongan-potongan baliho didaur ulang karena datang terlambat. Mereka mendapati spanduk sudah rampung dilukis. Mereka mengambil sisa baliho lalu mengguntingnya berbentuk manusia dan bermacam bentuk lain. Bentuk-bentuk itu kemudian mereka lukisi.


Hanya saja, Firman menyayangkan, beberapa orang yang di taman hanya menonton. Ada juga yang tidak melakukan apa-apa lantaran karena tidak mendapat baliho. Ada juga yang datang hanya untuk melukis.


Sementara Anchu, yang aktif di Tanahindie melihat hal lain. Justru yang menarik bagi Anchu adalah jejak-jejak kaki di sekitaran acara melukis bersama.


Jejak-jejak kaki itu terbuat dari guntingan baliho, yang dibuat oleh para anggota UKM Seni Universitas Muslim Indonesia. Jejak itu disebar dari pintu Taman Segitiga sampai di lokasi melukis bersama. Ukuran jejak itu berbeda karena UKM Seni UMI mengambilnya dari para partisipan. Setiap lembar satu pengunjung.


Pertanyaan autokritik kegiatan ini muncul dari Dhany, yang bergiat di UKM Seni Universitas Muslim Indonesia. Dalam acara ngopi di Kampung Buku itu, Dhany mempertanyakan tidakkah juga kita membuat cemar ketika mengambil baliho atau spanduk itu?


“Tidak sama sekali. Kita mengambil baliho karena membuatnya menjadi sesuatu yang lain,” pungkas Firman.[]

Catatan: untuk dokumentasi kegiatan, sila cek di: http://quitequote.tumblr.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP