Kamis, Maret 08, 2012

Rambu Solo’, Jantung Kehidupan Toraja

Akhir Desember 2011 lalu, di Kelurahan Sereale, Kecamatan Tikala, Toraja Utara, seorang perantau yang sukses menggelar rambu solo’ dengan menyembelih ratusan ekor kerbau dan babi, dengan alasan agar masyarakat ‘kebagian daging’.

Dari peristiwa tersebut, ternyata status ekonomi bisa membuat seseorang menjadi terpandang meski menurut kepala adat tidak mampu menaikkan status sosial di masyarakat. Dalam tujuh tahun terakhir, rambu solo' kerap dijadikan ajang gengsi keluarga. Bahkan, beberapa rambu solo' diakomodasi oleh kepentingan kelompok tertentu, kekhidmatan pengantaran jenazah ke Puya pun perlahan memudar.

Dalam literatur-literatur tentang Toraja disebutkan bahwa upacara ini merupakan upacara mempersembahkan kurban bagi arwah leluhur. Dalam keyakinan aluk todolo, kepercayaan leluhur masyarakat Toraja, seseorang yang baru saja meninggal belum dianggap ‘benar-benar meninggal’ melainkan hanya sakit atau to makula’ (to = orang, makula’ = sakit). Sehingga, sang mendiang tetap disajikan makanan dan minumannya sebagaimana ketika masih hidup. Kematian semata perubahan dari hidup menjadi roh alam gaib. Selain makanan dan pakaian, pihak keluarga membekali sang arwah dengan segala perlengkapan upacara, hewan kurban, sampai harta benda.

Bagaimana dunia antropologi memandang fenomena ini? Berikut wawancara saya dengan antropolog Universitas Hasanuddin Makassar, Yahya MA, di kediamannya, Minggu, 5 Februari lalu.

Dalam perspektif antropologi, bagaimana mula terbentuk sistem kepercayaan Toraja yang ada sekarang?
Sistem kepercayaan masyarakat Toraja, seperti suku lain di Sulawesi Selatan, punya kepercayaan nenek moyang sendiri sebelum datangnya agama langit (Islam dan Kristen). Mereka melakukan pesta besar dalam siklus hidup, terutama kematian. Dalam kepercayaan ini diyakini bahwa roh-roh leluhur yang mengatur kehidupan. Keberuntungan dan kemalangan semua berasal dari restu roh-roh ini.

Islam lalu menyentuh dataran yang didiami oleh suku Bugis dan Makassar. Agama ini tidak melarang pesta. Tapi Islam menganjurkan untuk mengalihkan pesta dilakukan tidak pada kematian, tapi diubah menjadi pesta yang diperuntukkan pada tahapan mengawali hidup, yakni perkawinan.

Sementara Toraja, yang ada di pegunungan sebelah utara dan tidak tersentuh siar Islam, mempertahankan rambu soloperayaan dalam praktik kepercayaan aluk todolo yang menganggap puya, alam gaib/surga, itu punya tingkatan. Bila mengadakan upacara maka leluhur yang diupacarakan dapat mencapai puya lapis tertinggi, dengan syarat menggelar pesta besar-besaran—yang tentu meniscayakan biaya yang besar pula.

Wajar bila yang kita saksikan sekarang, suku-suku ini menggunakan segala sumber daya mereka di kedua pesta ini.

Berdasar catatan kami, etnis Toraja termasuk salah satu suku perantau terbesar di Nusantara, bisa dijelaskan apa yang melatarbelakangi kecenderungan ini?
Toraja, Bugis, dan Makassar berimigrasi karena faktor-faktor seperti perkawinan yang mengharuskan pindah ke daerah lain, atau bisa juga karena keadaan sosial. Orang-orang yang berpindah ke tempat lain, sebagaimana sering terjadi di Sulawesi Selatan, mengalami trauma-trauma sosial, semisal terdapat anggapan yang sering kita dengar “belum jadi orang” yang lebih sering berkonotasi kekayaan material seseorang atau satu keluarga. Karena itulah mereka harus pindah sebab ingin membuktikan bahwa mereka bisa sukses, mengumpulkan harta, dengan bekerja keras.

Orang-orang inilah yang kemudian setelah meraih sukses kembali ke kampung mengadakan pesta. Mereka mengeluarkan biaya begitu besar untuk menegosiasikan ulang letak posisi sosial mereka. Di dalamnya kelak mereka memproklamirkan diri bagaimana dia sekarang kepada sanak keluarga atau orang sekitarnya. Karenanya, rambu solo bisa kita sebut sebagai ‘jantung’ masyarakat Toraja, seperti Susan Bolyard Millar yang menyebut perkawinan merupakan jantung kehidupan masyarakat Bugis.

Mungkin orang luar menganggap bahwa praktik ini praktik yang sangat konsumtif. Tapi sebenarnya, efek baik yang dibawa adalah kehidupan ekonomi masyarakat Toraja dipompa oleh praktik ini. Orang-orang yang hendak mengadakan upacara lalu membeli tedong bonga (kerbau belang, jenis yang dihargai ratusan juta), babi, bambu, dan sumber daya yang dimiliki orang Toraja sendiri.

Perilaku ini ‘istimewa’ atau gejala seperti ini terjadi juga di masyarakat lain?
Persis! Masyarakat Kwakiutle, Mexico, ada konsep yang bernama ‘potlach’ yang berarti gemar pamer kekayaan. Oleh Ruth Benedict disebut masyarakat yang bertipe megalomania paranoid. Mereka masyarakat yang suka pamer dan cenderung curiga terhadap masyarakat lain. Tapi ini adalah tipe masyarakat yang percaya pada guna-guna. Dalam kadar tertentu, terutama dalam upacara kematian (Toraja) dan pesta perkawinan dalam Bugis dan Makassar, gejala ini dalam Bugis dan Toraja.

Kami mendengar informasi, upacara adat seperti rambu solo’ kini menjadi ajang adu gengsi antar klan di Tana Toraja dan menjadi sangat profan. Mengapa ini terjadi?
Nilai yang berlaku dalam rambu solo dan perkawinan bagi Bugis dan Makassar sama saja. Pesta ini menjadi ajang kontekstasi atau arena negosiasi strata sosial, tempat setiap individu atau keluarga mempertaruhkan harga diri. Di sini mereka mengetahui di lapisan sosial mana mereka berada. Tentu, dengan begitu, arena negosiasi ini sangat duniawi karena ditentukan oleh uang. Prestise keluarga benar-benar diuji di sini.

Rambu solo’ awalnya bagian dari praktik dalam aluk todolo, pada masa roh-roh leluhur dianggap sebagai jiwa-jiwa yang menggerakkan tatanan kehidupan dan alam. Maka digelarlah pesta sebagai bentuk pengurbanan orang-orang yang hidup kepada jiwa-jiwa yang dipercaya bisa mendatangkan petaka bagi kehidupan. Upacara dianggap sebagai bagian dari aluk todolo agar kehidupan berjalan wajar.

Makna rambu solo terus bergerak seiring dengan penyiaran nilai-nilai Nasrani di kalangan masyarakat Toraja. Kini konotasinya tidak lagi di bagian itu. Kini lebih pada arena sosial tadi.
Tapi itu sisi makronya. Di tingkat mikro, sisi kelam dari praktik-praktik seperti ini kita bisa rasakan dan lihat sendiri bagaimana keluarga kita harus berutang karena upacara-upacara. Kalangan masyarakat Bugis harus berutang karena menyelenggarakan pesta perkawinan. Begitu pula masyarakat Toraja, sering saya dengar keluarga teman-sanak kita melakukan hal yang sama untuk rambu solo’. 

Terakhir, bisakah dijelaskan bagaimana pewarisan budaya pada generasi muda Toraja sebaiknya dilakukan di tengah gempuran modernitas dewasa ini, karena kami melihat di setiap upacara adat hanya kaum tua saja yang ikut berperan?
Ini berhubungan erat dengan evolusi hukum dalam antropologi, mulai dari tahapan hukum keramat sebagai aturan dari nenek moyang. Hukum sekuler terjadi ketika hukum keramat kurang dipatuhi akibat besarnya jumlah penduduk. Pada tahap ini, diperlukan kekuasaan otoriter yang memunculkan raja.

Ketika manusia beragama dan penduduk makin banyak, maka kekuasaan raja tidak cukup. Karena itu, kekuasaan raja dipadu dengan sifat keramat yang menanamkan keyakinan kepada masyarakat bahwa raja adalah keturunan dewa (hukum keramat). Namun ketika berkembang masyarakat industri, dan masyarakat menjadi lebih individualis, hukum yang dibuat raja tidak lagi efektif. Olehnya itu, hukum kemudian dibuat oleh badan legislatif yang merupakan perwakilan dari masyarakat.

Semua masyarakat mengalami perubahan seperti ini, tak terkecuali Toraja. Tapi, saya pikir, di satu sisi, pewarisan budaya yang dimaksud terus berlangsung. Dalam perkawinan, anggota keluarga yang ‘reformis’, tidak lagi memegang adatnya dengan teguh, sadar akan konsekuensi sosial dari nilai yang mereka anut. Hal ini mengharuskan mereka, mau tidak mau, kembali dalam pola yang dipegang generasi sebelum mereka, kendati dengan beberapa modifikasi.


Contoh modifikasi yang saya maksud, kalau dulu orang ke pesta semata memakai pakaian hitam, kini ada yang hadir berpakaian hitam dengan gelang emas di tangan—sebagai tanda kepemilikan material. Ini semua demi menegaskan diri dalam ruang negosiasi strata sosial, yakni di dalam pesta.[]


#Disiarkan di Warisan Indonesia edisi cetak 15 Februari-15 Maret 2012.

5 komentar:

  1. Rambu Solo' itu bukan pesta tetapi itu merupakan upacara pemakaman. okey,,, jadi tolong diralat bahasanya ya,,,,!!!

    BalasHapus
  2. Maaf ada yang perlu saya komentari sedikit,,,
    di Toraja tidak ada yg namanya pesta kematian, yang ada adalah upacara kematian. dan berapa banyak hewan yg disembelih itu bukan untuk memamerkan kekayaannya. tetapi pada dasarnya dia ingin menduduki kasta yang mereka anut. jdi, kata pesta tolong diubah menjadi upacara,,, trimsss

    BalasHapus
  3. novrianto, terima kasih atas masukannya. sudah diralat :)

    BalasHapus

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP