Selasa, Juni 26, 2012

Berpikir Emas di Gunung Perak


BANYAK ORANG DESA mengaku bahwa bertani merupakan kerja sambilan atau terpaksa karena tak ada pilihan lain. Tapi Pak Daming justru sebaliknya. Lelaki langsing dari Dusun Tassoso’ ini mengaku bekerja sampingan sebagai guru. Pekerjaan utamanya justru petani.

“Saya ingin orang-orang bangga menjadi petani. Petanilah juga yang menghidupi kita. Selama ini, banyak orang malu mereka petani. Saya ingin mengubah itu,” katanya, pada pertengahan Mei 2012 lalu.

Pak Daming dan keluarga. (Foto: Anwar Jimpe Rachman)

Pak Daming merupakan alumni lulusan Teknik Elektro IKIP Makassar (sekarang UNM) tahun 1990. Ia pengajar tidak tetap di SMP Satu Atap Tassoso’, Desa Gunung Perak, Kecamatan Sinjai Barat, Kabupaten Sinjai. Gunung Perak adalah nama pengindonesiaan nama Bugis desa itu, Bulu Salaka.

Tahun 1998-2001 ia menjadi pedagang sayur antar pulau. Setiap bulan Pak Daming berangkat ke Balikpapan (Kalimantan Timur) lewat pelabuhan feri di Mamuju, Sulawesi Barat (sekisar 800 kilometer barat daya Tassoso’). Keuntungan sejuta per bulan membuat Pak Daming mengurungkan niat jadi pegawai negeri sipil. Ia menganggap, pendapatan per bulannya melebihi gaji kakak kandungnya yang PNS berkisar Rp 250.000/bulan tahun-tahun itu.

Pak Daming mengajarkan pendidikan pengurangan risiko bencana (PRB) di semester ganjil untuk siswa kelas VII SMP Satap Tassoso’. Materi-materinya meliputi tanda-tanda terjadinya angin, jenis-jenis angin, tindakan saat dan setelah terjadinya angin, dan penghijauan.

Menurut lelaki kelahiran 1963 ini, Bulu Salaka dilanda angin kencang setiap tahun yang berasal dari puncak Gunung Bawakaraeng, berjarak sekira 5 jam perjalanan di selatan Bulu Salaka. Tassoso berada pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Dusun ini merupakan dusun teratas  desa yang disebut sebagai salah satu desa terdekat dari puncak Bawakaraeng. Selain Tassoso’, terdapat lima dusun lainnya yakni Lembanna, Lembasiali, Batu Leppa, Puncak, dan Bonto Manai.

Hembusan angin kencang melanda kawasan ini antara Desember - Maret setiap tahun. Kalangan pecinta alam pun mengakui salah satu tantangan terberat pendakian Gunung Bawakaraeng adalah anginnya. Para pemanjat gunung tidak bisa menapak berdiri begitu puncaknya kian dekat. Angin yang menerbangkan lembaran-lembaran atap seng rumah warga setempat merupakan hal yang terjadi setiap waktu. Sehingga warga menangkal fenomena saban tahun ini dengan menjempit atap rumah mereka menggunakan batang-batang bambu. Warga pun menopang rumah mereka menggunakan bebatang kayu dan bambu. Kalau tidak begitu, angin bisa membuat rumah ‘melompat’ semeter dari tempatnya semula berdiri.
Warga menunjang rumahnya dengan batang bambu dan menjepit atap rumahnya. (Foto: Anwar Jimpe Rachman)
“Tahun 2009, kandang itu,” terang Pak Daming seraya menunjuk kandang sapi di belakang rumahnya, ”pernah terbang sampai 25 meter. Ada dua sapi waktu itu. Untung talinya putus. Kalau tidak, sapinya pasti ikut terbang!” tambahnya.

Warga Bulu Salaka mengenal tiga musim: musim kemarau, hujan, dan musim angin. Pak Daming mengajarkan bagaimana mengenali gejala awal musim-musim tersebut kepada siswa—deretan pengetahuan yang ia warisi dari para orang tua Bulu Salaka, dan tentu juga dari ayahnya, Haji Tette’. 


Menurut kepercayaan orang tua di Tassoso’, tanda-tanda angin kencang dusun itu bisa diketahui dengan memerhatikan bagian utara daerah itu, yakni ke arah Gunung Latimojong. Jika puncak gunung yang berada di dataran tinggi Enrekang dan Tana Toraja itu terlihat tanpa halangan awan dan kabut, maka bisa diperkirakan angin akan bertiup kencang. Jarak Bawakaraeng dan Latimojong berkisar 500 kilometer.

Selain itu, kata Pak Daming, prediksi angin akan bertiup deras atau sebaliknya dapat kita baca lewat tumbuhan seperti nangka. Bila buahnya muncul di batang, bisa dipastikan angin akan kencang. Kalau nangka berbuah di dahan berarti tak perlu risau akan angin tahun ini. Perkiraan bakal ada kemarau panjang dapat pula dibaca lewat bambu. “Kalau rebungnya lebih tinggi dari dari induknya, berarti hujan akan panjang,” jelas Pak Daming.

Orang Tassoso memiliki empat nama untuk angin yang setiap tahun menyambangi dusun ini. Mereka menyebut Bara’ Tallumbangngia untuk angin yang berhembus tiga malam berturut-turut dan bara’ tujua [angin bertiup selama tujuh hari] yang berlangsung pada Desember; bara’ pinruatuju [angin bertiup selama 14 hari 14 malam], dan bara’ pinruasalapang [angin yang berhembus 18 hari tanpa henti]. Angin yang terakhir ini mulai terasa kemaraunya karena angin sudah tidak kencang.

BILA MEMASUKI DESA BULU SALAKA, Anda seakan berada di dalam bingkai lukisan-lukisan bergaya Mooi Indie, istilah perupa S Sudjojono untuk lukisan-lukisan pemandangan—yang  banyak ditemui di rumah makan atau ruang tamu. Gunung Bawakaraeng tampak kokoh memayungi sawah-sawah berundak yang menghampar di lereng dan lembahnya yang dingin.


Desa Tassoso’ berdiri tahun 1962, kala berlangsung pemukiman warga yang berumah terpisah-pisah karena menghuni kebun dan ladang mereka di kawasan sekitaran Bulu Salaka—nama yang diberikan pada sebuah bukit yang memancarkan sinar keperakan dari kejauhan. Semua penghuni ladang dan kebun harus pindah ke pinggir jalan untuk memudahkan kontrol tentara pengaman. Maklum, kurun waktu itu Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan Kahar Muzakkar sedang mengencarkan perlawanan terhadap TNI.

Konon ‘Tassoso’ memiliki makna ‘masuk berdua ke dalam sarung’, yang mungkin menandakan bahwa daerah ini daerah yang dingin. Namun tuturan tetua Bulu Salaka, kata Pak Daming, lema dari bahasa Konjo ini bisa juga berarti ‘kelak, tempat ini orang akan berduyung datang ke sini’. Mungkin makna itu memang semacam doa.

Arti kata itu sangat berkesan bagi Pak Daming. Bisa jadi bahkan seperti anugerah baginya. Konon pada tahun 1963, ketika Pak Daming masih bayi dan diupacarakan aqiqah, seorang pembesar Sulawesi Selatan datang dan naik ke rumahnya. Orang besar itu ingin bertemu Haji Tette’. Apa yang membawa tokoh itu masuk ke hutan bertemu seorang petani yang hidupnya biasa saja? Rupanya, setahun sebelumnya, tim Universitas Hasanuddin pernah melakukan penelitian pertanian yang menjadikan Haji Tette’ sebagai narasumber. Penelitian itu menyebutkan bahwa praktik pertanian sapa’-sapa’ untuk dataran tinggi, yang dalam konteks sekarang disebut terasering, dipraktikkan sejak lama oleh Haji Tette’. Ayah Pak Daming itu juga menanam tumbuhan dengan pola acak (zig-zag) yang berfungsi menjadi penahan angin sebagai pelindung tanaman ladangnya. Hasil penelitian tersebut lalu sampai ke telinga orang penting tersebut.

Tiga puluh enam tahun kemudian, tahun 1999, Pak Daming diundang ke Istana Negara bertemu Presiden BJ Habibie untuk menerima penghargaan Kalpataru dalam kategori penyelamat lingkungan. Pak Daming yang meniru cara ayahnya saat membuat penahan angin untuk kebun-kebunnya, dianggap oleh panitia seleksi Kalpataru sebagai satu bentuk perlindungan lingkungan hidup. Namun ia tidak menconteknya mentah-mentah. Pak Daming mengadopsi cara itu dengan: [1] mengganti cara ayahnya yang menanam kaju colo’ (yang menurut Pak Daming bernama alabisia), paradeng (jenis kayu keras tapi tumbuh pendek), ka’ne (pohon yang berduri banyak) sampai mematenkan pohon bambu “yang bila meninggi tetap rapat batang-batangnya”; dan [2] gerakan Pak Daming lebih terorganisir karena melibatkan kelompok taninya, Bontosunggu, yang berjumlah 25 orang.

“Orang dulu menganggap itu biasa-biasa saja waktu sarasehan para penerima Kalpataru. Ketika saya bilang bahwa ini cara yang dilakukan oleh dua generasi, barulah orang menganggapnya sebagai sesuatu yang istimewa,” kenang Pak Daming.

Pak Daming kini tinggal bersama istri dan empat orang anaknya. Anak sulungnya, Aris, sekarang berkuliah di Jurusan Pertanian UIT (Universitas Indonesia Timur) sambil bekerja di sebuah hotel di kawasan Panakkukang, Makassar. Ifa (17), Haerul Mubarak (2, 6 bulan), dan Syaiful Arbani (1) tinggal bersamanya di sebuah rumah panggung warisan ayahnya yang baru-baru ini ia pugar.

Dari kolong rumah itu pula kerap tercium bau tak sedap karena lelaki berkumis dan berjenggot ini membiakkan lactobassilus (bakteri pengurai) yang ia pakai untuk menyuburkan kol, bawang prei, kentang, dan kopi di kebunnya. Kata seorang teman saya, Agung, “Ia seperti ilmuwan. Suka coba-coba. Campur ini campur itu. Ia juga suka ‘melamun’.

Pak Daming seorang petani organik. Sejak lama ia memakai lactobassilus jenis IM64 (induk bakteri lactobassilus) untuk membuat pupuk berbahan baku rumput, yang ia banyak peroleh di sekitar kebun dan di sela-sela tanaman. Pak Daming tinggal menggalikan lubang kecil dan meremuk rumput ke dalamnya lalu menyemprotkan lactobassilus. Cara itu rupanya mumpuni. Terbukti tanaman di kebunnya lebih subur dan menghijau ketimbang tanaman yang ada di kebun sebelahnya. Ujung daun bawang prei tanaman tetangga kebunnya menguning seperti terpapar matahari. Kata Agung, kebun itu menyemprot ramuan kimia, hal biasa yang dilakukan petani setempat.

“Dengan cara itu, Pak Daming bisa menghemat biaya kurang lebih Rp 4 juta untuk satu hektar kalau membandingkan bila memakai pupuk kandang. Kalau sekarang, harga sekarung kotoran ayam Rp 9.700. Itu belum termasuk biaya angkut ke ladang karena berada daerahnya terjal,” rinci Agung.

Sebenarnya cara itu hasil ‘lamunan’ Pak Daming. Di benaknya pernah muncul pertanyaan, mengapa kotoran sapi bisa menjadi pupuk? Pasti ada sesuatu di perutnya! Setelah mencari bahan bacaan dan mencari tahu sana-sini, ia kemudian mendapat jawaban bahwa semua lactobassilus-lah yang berperan besar terjadinya proses tersebut.

JIKA ANDA berkesempatan ke Dusun Tassoso’, bertandanglah ke rumahnya. Ia akan menyuguhimu kopi panen dan olahannya sendiri. Kopi yang harum dan alami. Jangan lupa sampaikan salam saya. Katakan, saya merindukannya. Sungguh merindukannya.[]

27 komentar:

  1. Semangat mengindonesiakan indonesia...
    semangat Indonesia!!
    salam anak negeri

    Blogwalking & Mengundang juga blogger Indonesia hadir di
    Lounge Event Tempat Makan Favorit Blogger+ Indonesia

    Salam Spirit Blogger Indonesia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Artikel yang sangat bermanfaat Hidup Petani

      Hapus
  2. Terima kasih undangannya, Adang. Salam dari seorang blogger di makassar! :)

    BalasHapus
  3. Selamat... Emang pantas menang :)

    BalasHapus
  4. Balasan
    1. alfin, terima kasih banyak! salam kenal dari saya :)

      Hapus
  5. pantesan menang tulisannya keren gini :)
    Selamat ya bang

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha! makasih banyak, bayu. senang kamu berkunjung ke sini. jangan sungkan mampir! :)

      Hapus
  6. Selamat yaaaaaaa...Salam dr Semarang..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bunsal, maaf baru sempat membalas komentar Anda dan beberapa komentar sebelumnya. saya offline beberapa hari. senang bisa berbagi dengan teman-teman yang datang ke blog ini, termasuk Anda. salam hormat dari saya, Jimpe

      Hapus
  7. HAdir untuk mengucapkan selamat atas kemenangannya sebagai runner up di Paling Indonesia...

    salam sahabat:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ririe, terima kasih banyak salamnya. insyaAllah begitu juga denganmu. ini soal kesempatan saja. kelak kamu juga segera. amin!
      salam,

      jimpe

      Hapus
  8. selamat atas juaranya , keep spirit blogger indonesia :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rifki, tetap semangat dan selalu keren! :D

      Hapus
  9. selamat kak. pantasan menang,tulisannya sangat menginspirasi banget. mohon bimbingannya ya kak,soalnya newbie dalam dunia blog.http://matarik-allo.blogspot.com/2012/06/bantimurungku-sayang-bantimurungku.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. halah! kita sama juga kok. masih baru. jarang posting. siap menuju ke tkp! :P

      Hapus
  10. Selamat ya kawan, semuanya menginspirasi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih, sobat! niatnya ingin berbagi. tidak lebih :) salam kenal dari saya di makassar :)

      Hapus
  11. Selamat, tulisan yang sangat apik dan detil. Semoga berkah untuk pak Daming, selalu dalam ridha Allah SWT sehig dapat konsisten.
    Salam kenal dari Makassar juga pak :)
    (Oya tempo hari saya ikut acara ta' di Rotterdam, yang bersama Maya, Emil, pak John, dan bu Luna Vidya itu)

    BalasHapus
    Balasan
    1. amin. beliau begitu rendah hati, mugniar. berkah selalu untuk Pak Daming sekeluarga dan orang-orang di Bulu Salaka :)

      Kapan waktu deh kita ketemu ya :)

      Hapus
  12. congrats :) waah benar-benar paling Indonesia

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal, Mushdigah! terima kasih tak terhingga pokoknya! dibaca pun sudah senang hehehe...
      di sekitar kita, orang-orang yang kita kenal kan melakukan hal-hal yang sangat dan paling Indonesia. tinggal dikabarkan saja.
      salam takzim selalu.

      Hapus
  13. Selamat telah menjadi juara 2.
    Salam kenal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. cyber katrox (lucu juga namanya :D ), terima kasih banyak yak! jangan kapok ke sini :)

      Hapus
  14. Semat yah Juara 2, bagus banget tulisannya

    BalasHapus

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP