Kamis, Agustus 16, 2012

Menafsir Lontara’ dalam Seni Lingkungan

ChengLong Spiral, salah satu karya Firman Djamil di ChengLong Wetlands International Environmental Art Project, 2011. (sumber foto: firmandjamil.blogspot.com)
AWAL DEKADE 1990-an, sejumlah peneliti suntuk dalam proyek konservasi naskah-naskah lontara’ di satu rumah adat di kawasan Benteng Somba Opu. Rumah itu kediaman Firman Djamil. Sejak itu pula Firman akrab dengan naskah tua peninggalan nenek moyang orang-orang Bugis dan Makassar.

“Saya melihat bahwa naskah kuno itu barang mati yang harus dihidupkan kembali melalui  tafsir, yang menginspirasi kita dalam bekerja estetis,” terang Firman.

Menanggapi yang dialaminya itu, pada 1996, Firman bekerja merancang sebuah pertunjukan, ‘teater instalasi’—begitu ia namai, berjudul Mencari Benua I La Galigo yang Hilang. Ia menyajikan pertunjukan melalui konstruksi bambu berbentuk piramida sekaligus simbol perahu Sawerigading. Presentasi ini berlangsung enam malam berturut-turut di depan Fort Rotterdam.

Berkesenian, bagi Firman, sebaiknya berlangsung dalam prinsip outdoor, terbuka, dari segala perspektif. Kerja estetis ini sangat efektif untuk membuka ruang alternatif yang bisa dibaca sebagai sebuah solusi dari persoalan yang kita hadapi.

“Beberapa lama setelah pertunjukan, teman-teman seniman mencandai saya setiap ketemu, ‘apakah kamu telah menemukan Benua I La Galigo?’. Candaan itu baru mereka sadari setelah Robert Wilson menggarap teater I La Galigo. Fungsi pekerja seni harusnya jadi transformator dalam menafsir ulang masa depan kebudayaan Sulawesi Selatan,” kata Firman.

Pembacaan dan pergelutan Firman Djamil lebih mendalam terhadap teks I La Galigo, utamanya episode Tumpa’na I We Lenrenge, makin mengokohkan akar kerja estetis seni lingkungannya. Tumpa’na I We Lenrenge adalah epiode yang menceritakan tumbangnya sebatang pohon raksasa di dunia I La Galigo bernama I We Lenrenge tumbang karena menjadi ‘tumbal’ dari keinginan Sawerigading—membuat kapal besar untuk menyeberang ke Negeri China agar bisa mempersunting kembarannya, I We Cudai. Bagi Firman, babakan cerita dalam naskah simbolisasi keserakahan manusia memperturutkan keinginannya sampai merusak lingkungan hidup.

Menurut Firman, seni lingkungan sebagai sebuah istilah besar dan luas. Namun inti kerja estetis para penggiatnya lewat pemahaman seni outdoor, kerja estetis yang dipresentasikan di ruang terbuka, tempat segala nilai berebut menawarkan diri. Oleh sebab itu, cara kerja ini tidak melihat sebuah ruang dengan segala apa yang ada di dalamnya semata-mata dipandang sebagai ‘objek’ eksploitasi, tetapi juga melihatnya sebagai ‘subjek’. “Tantangan seni lingkungan adalah bagaimana cara menggunakannya sekaligus mempertahankan sesuatu,” simpul Firman.

Firman mencontohkan bahwa hal serupa sebenarnya sudah dilakukan oleh suku-suku yang hidup di wilayah hutan. Mereka memiliki pandangan arif dalam melakukan berinteraksi dengan alam dan lingkungan. Hutan dianggap sebagai bagian dari kosmik yang harus dijaga. Oleh sebab itu, suku-suku tersebut menciptakan mitos-mitos agar hutan tetap terjaga, seperti ‘menebang pohon ada ular besar yang akan menelanmu bila masuk di sana’. Dan banyak sekali mitos yang dipelihara oleh suku tersebut untuk menjaga hutan mereka, lingkungan mereka, demi kelangsungan hidup bersama.

Firman menyarankan agar Indonesia melakukan hal yang sama dengan pemerintah Brazil, yakni melindungi suku semacam itu. Negara ini, lewat Brazil’s National Indian Foundation (FUNAI) menyiarkan foto-foto dari pesawat yang terbang rendah dan memperlihatkan para penghuni rindang pohon di dataran Amazon yang baru saja pulang berburu.

“Kita tidak perlu mengintervensi kehidupan mereka sebagaimana Badui atau Kajang (masyarakat adat di Bulukumba, Sulsel) yang sesungguhnya sudah eksis dengan gagasan dan konsep kehidupan mereka. Justru mereka harus diberi penghargaan karena tidak membebani orang lain, bahkan bisa survive. Beri mereka kebebasan mengekspresikan ruang kebudayaannya!” cetus Firman.

Hal yang sama, terang Firman, ketika media TV menyoroti kondisi bangunan sekolah-sekolah di pelosok, lanskap, atau materi bangunan sekolah bersangkutan, mulai dari dinding kayu, lantai tanah, sampai atap rumbia. “Itu sesungguhnya menyesuaikan dengan kondisi lingkungan setempat. Dan suasana itu lebih mendukung kehidupan mereka. Kok media mempersoalkan itu? Sekolah di pelosok tidak sama dengan sekolah di kota yang berfasilitas canggih dan terstandar. Kenapa mereka seragamkan situasi di kota dengan situasi di pedalaman sana. Apakah tidak berbahaya ketika arsitektur kota dibawa ke pedalaman? Apakah tidak membuat mereka syok? Apakah itu malah tidak menjadi beban?” papar lelaki yang menyelesaikan pendidikan magister di ISI pada 2011 lalu.

Firman menyebut kata ‘beban’ lantaran sekolah di pedalaman selalu menyesuaikan konteks masyarakat dan sumber daya alamnya. Karenanya, ia mengharapkan bahwa bila melihat persoalan lanskap dan persoalan arsitektural sekolah pedalaman, tidak perlu membikin ukuran dan parameter yang sama dengan yang ada di kota. “Aneh pandangan orang kota terhadap orang di desa!” cetus Firman.

FIRMAN DJAMIL merupakan satu dari sedikit nama pekerja seni lingkungan di Indonesia, selain nama semisal Dadang Christanto. Lelaki kelahiran Bukaka (Bone) 5 Februari 1964 ini kerap mendapat undangan membawakan karya instalasi lingkungannya ke negara seperti Taiwan, Belanda, Korea Selatan, Jepang, Australia, atau Turki.

Momentum Firman bekerja estetis di forum internasional dimulai alumni IKIP Makassar ini menghadiri sebuah forum di Tejakula Bali 1999 silam. Di sana Firman bertemu seniman Jepang, Harada Akatsuki. Akatsuki kemudian mengundang Firman berpartisipasi di forum seni lingkungan Yokohama pada 2000. Dari situlah terbuka jaringan seni lingkungan. Firman menyadari harus berjuang sendiri di tengah lingkungan perkembangan seni Sulawesi Selatan yang ‘tidur’.

“Gagasan kesenian saya adalah keterlibatan. Keterlibatan aspek dan lingkungan di wilayah ini juga saya bawa ketika di (Janggungbong Nature Art Park, Gongju) Korea Selatan. Alasan estetis yang saya ingin katakan waktu itu adalah bumi kita sebenarnya sudah berteriak. Teriakan bumi saya visualkan lewat medium bangunan batu. Olehnya saya beri judul Suara dari Dalam. Maksud saya, tidak mesti kita berteriak. Tapi kita bisa mengajak orang yang memakan buah untuk melontarkan biji buah-buahan ke batu itu dan biji-biji itu kelak bertunas lalu jadi pohon. Area itu adalah konservasi alam yang dikelola. Dan biji yang tumbuh akan dipindahkan ke tempat tanam,” terang Firman.

Bagi Firman yang juga pernah mendalami seni tari dan musik tradisional, seni lukis hanya salah satu periode kerja estetisnya. Itu pun, menurutnya, karena ia pernah berkuliah di Seni Rupa IKIP (sekarang UNM). Firman tidak lagi menggeluti seni lukis lantaran ia menganggap seni ini hanya berulang, tidak membangun paradigma lain secara estetis. Seni harusnya jadi solusi. Seni mesti menjadi peristiwa yang menawarkan solusi.

Karenanya, Firman Djamil hingga sekarang enggan menyebut dirinya seorang seniman. “Lebih nyaman sebagai ‘pekerja seni lingkungan’ saja.”

Tampaknya tanggapan ini Firman lantaran beberapa waktu lalu ia menulis tentang seniman harus menjadi ‘orang biasa’. Ini bertalian dengan seni lingkungan yang berkonsep ‘outdoor’ sebagai konsep praktik senirupa yang tidak memiliki ruang otonomi khusus. Outdoor—yang hingga sekarang belum mendapat padanan dalam bahasa Indonesia lantaran tidak sekadar sebagai ‘luar-ruang’—merupakan ruang yang bebas dan lepas serta mengelolanya butuh semangat kesetaraan (egaliter) dalam menafsir ruang.[]

NB: Disiar pula di http://makassarnolkm.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP