Jumat, September 14, 2012

Bertemu Dua Sejoli yang Melegenda

Opa atau Will Ferial (kanan) dan Darmawaty Ferial (tengah) bersama penggemarnya. [foto: MksNolKm]
Cerita pertemuan saya dengan Will Ferial dan Darmawaty Ferial, dua sosok yang selama ini menjadi bagian penting media penyiaran di Makassar sejak dasawarsa 1980-an.

Pukul 10.30 Wita, 6 Desember 2011. Hari itu merupakan hari penting bagi saya karena akan bertemu seorang yang penting bagi Makassar. Will Ferial namanya. Ia penyiar. Nama udaranya Opa. Senin sampai Sabtu membawakan acara "Bekas tapi Mulus" di frekuensi 102, 7 FM Radio Telstar, acara yang disebut-sebut selalu menempati daftar teratas dalam survei AC Nielsen. Telstar sendiri merupakan salah satu radio swasta tertua di Makassar, yang berdiri 1970 silam.

Atas jasa baik Benny, kawan yang pernah bekerja di radio itu, saya akhirnya bertemu langsung Opa. Benny-lah yang repot menghubungi Telstar agar Opa bisa menyempatkan diri untuk bertemu saya. Dalam tulisan ini, saya akan menyebutnya Opa karena saya mengenal lelaki kelahiran 1943 ini dengan alias itu.

Kantor Radio Telstar berada di antara bangunan yang berderet di Jalan Ali Malaka Nomor 26 Makassar. Telstar, barangkali, singkatan dari Terminal Suara Lestari. Saya menduga, Opa sudah menunggu kami. Ia berbincang dengan rekan-rekannya ketika saya dan Benny masuk. Tak berapa lama Opa keluar menyambut saya yang duduk di kursi panjang di ruang tamu Telstar. "Hanya yang jelas (terbaca) di sini 'Penerbit Ininnawa'. Tapi kalau sudah atas nama artistik, kita tidak bisa lagi memprotesnya," komentar Opa, dengan kartu di tangan kanannya. Matanya mengintip dari balik kacamata baca. Benny dan saya tertawa menyambung ujaran Opa itu.

Benny dan Opa dekat. Benny mengaku sedang menimba ilmu pada Opa. Menurut Benny, Opa itu penyiar yang matang persiapan. Ia menyiapkan sendiri semua daftar lagu yang akan diputar selama acara yang diasuhnya. “Selalu ada tas kecil yang dia bawa. Di situ semua kaset-kaset lagu yang akan ia putar,” ungkap Benny, yang sekarang bekerja di i-radio Makassar.

Benny dan Opa membahas film hari itu. Benny menyebut akan ada lagi film laga di bioskop. Opa ogah. Malas kalau hanya nonton film berkelahi, begitu kata Opa berseloroh. Saya lalu menyela bahwa akan ada film Sang Penari, hasil adaptasi dari Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.

"Tapi saya malas nonton. Saya tidak mau kalau gambaran di kepala saya buyar karena visual," tanggap Opa.

Lukisan kalimat Ahmad Tohari sangat membekas di benak Opa. Penggambaran semisal “anak-anak yang mengguyur batang ketela dengan air kencing tanah agar ubi kayu mudah tercerabut” disebut Opa sebagai sesuatu yang berbeda dari novel lain.

OPA SEPERTI PROFESOR, begitu kesan yang saya tangkap kala pertama bertemu. Kacamata baca dan rambut yang tersisa di bagian belakang dan samping, di atas telinga. Umur Opa sudah 69 tahun. Badan tegap. Bahkan langkahnya masih sigap ketika keluar ruangan. Ia menyetir sendiri dari rumah ke kantor pergi pulang. Juga suara yang tak mengesankan usianya; masih renyah dan bulat. Mungkin begitu untungnya jadi penyiar dan menggelutinya sampai sekarang. Orang-orang yang mampu terus menerus bekerja kendati kepayahan di beberapa bagian, terutama kecepatan gerak.

Opa, sebenarnya, hanyalah target sampingan saya. Orang yang saya ingin temui sejak awal justru istrinya, Darmawaty Ferial, penyiar senior TVRI Ujungpandang. Pembawa acara setia "Cerdas Cermat". Sekali waktu pernah ketemu kala saya ikut acara itu. Sayangnya, meski tim kami menang, saya tak bisa ikut lagi karena sudah kelas enam.

Keberuntungan saya datang lewat dua teman saya, Benny dan Iccang, saya kemudian bertemu Opa. Dari Opa, ingin meminta izin ‘mendekati’ istrinya. Darmawaty sesosok perempuan yang menghiasi mata bocah saya dua puluhan tahun silam. Rambut panjang yang lebih sering dikepang tunggal, serasi dengan wajah teduhnya. Kala itu, saya berjanji akan berkunjung ke rumah Opa untuk bertemu dengan istrinya. Saya ingin tahu bagaimana kehidupan penyiar itu sekarang.

Televisi, mungkin benar kata Benny yang mengutip ujaran seorang pengusaha radio, memang menjadikan penyiarnya sebagai ‘bintang di atas sana’ yang tak tergapai oleh penontonnya. Beda dengan penyiar radio yang bisa didatangi oleh penggemarnya. Bahkan mereka bisa bercakap-cakap bebas, sebagaimana yang berlangsung di ruang tamu Radio Telstar akhir 2011 itu.

Namun alasan kesibukan membuat saya urung bertemu Opa dan berkunjung ke rumahnya. Tapi sembilan bulan kemudian, Darmawaty ‘mendatangi’ saya. Keberuntungan besar itu terjadi dalam sebuah acara diskusi di sebuah hotel. Darmawaty datang menjemput Opa yang hadir dalam pertemuan itu. Saya langsung menyambar kesempatan ini. Saya menghampiri Darmawaty dan memperkenalkan diri. Darmawaty datang mengenakan jilbab. Rambut yang dulu menjadi salah satu ciri khasnya sudah tertutup. Ia tetap cantik seperti dulu.

PERNIKAHAN dua sejoli ini berlangsung ketika musik dan industri hiburan berkembang pesat di Makassar selama dasawarsa 1960-1970. Zaman ini merupakan masa orkes melayu dan orkes keroncong dominan di Makassar. Kedua genre ini mengiringi lagu-lagu Indonesia dan lagu langgam Makassar.

Menurut Opa, ada dua jenis orkes yang kerap mengiringi genre langgam Makassar, yaitu orkes keroncong atau orkes toriolo. Profesor etnomusikolog Anderson R Sutton menyebut, orkes ini ensambel khas Sulawesi Selatan yang menggabungkan biola, rebana, gong kecil, dan instrumen lain. G Hamonic dan C. Salmon menyebut bahwa kelompok musik ini berkaitan erat dengan Hoo Eng Djie.

“Masih jarang musik brass karena terlalu mahal sebab banyak sekali alatnya karena ada akordion sampai terompet yang biasa juga orang sebut big band. Pas muncul The Temptations [?], baru anak-anak muda termasuk Makassar mulai ada band karena settingnya sederhana: gitar ritem, gitar melodi, drum, dan bas. Inilah yang membuat subur orang main band di Makassar karena terjangkau alat-alatnya,” papar Opa.

Band-band tumbuh di Makassar atas sokongan militer sebagaimana Angkatan Laut punya Gita Bahari kurun waktu itu. Perusahaan-perusahaan pun demikian. Opa menyebut, perusahaan minyak kelapa Belanda yang dinasionalisasi (bekas pipanya untuk penyaluran ke kapal bisa dilihat di Pelabuhan Paotere), sampai PLN dan BNI pun memiliki kelompok musik. Opa sendiri ikut sebagai penggebuk drum dalam band yang disokong BNI itu. Dalam kelompok musik itu ia bersama Muchsin Alatas.

“Dengan masuk band juga kita jadi pegawai. Tapi karena saya tidak tahan kerja di belakang meja, saya keluar. Saya bilang, nanti panggil saya kalau mau main band. Mungkin juga Muchsin tidak tahan juga jadi dia ke Jakarta,” ujar Opa.

Selain band tadi, terdapat juga Pantja Nada, band yang dibentuk oleh perusahaan PT Pantja Niaga yang dipimpin oleh Enteng Tanamal. Perusahaan ini punya kantor cabang di beberapa kota, termasuk Makassar.

Mengenang perkembangan masa itu, Opa tiba-tiba menarik nafas.

“Kalau marak tempat hiburan dan dampaknya tidak bagus, ada andil saya di situ. Saya terima dosanya. Saya menggagas orang berdansa di restoran.”

Bekas restoran itu terletak di Jalan Sumba. Opa terinspirasi sepulang dari Jakarta. Ia melihat di Hotel Indonesia ada dansa di restoran. Di Makassar sendiri ketika itu dansa hanya ada di night club, itu pun dikhususkan bagi anggota klab malam tersebut. Di tempat ini pula, Opa dan kawan-kawan bandnya menghibur pasukan Solichin GP sepulang dari penumpasan pemberontakan Kahar Muzakkar.

Bagaimana dengan bayaran dari bermain band? Opa menyebut, kelompok musiknya mendapat penghasilan memadai ketika bermain di Wisma Ria, sebuah night club, yang kini menjadi Hotel Pantai Gapura. Pengunjung bisa datang berdansa “membawa pasangan atau disediakan di sana”.


Opa mengaku bisa membaca partitur. Namun belajar membaca not balok itu ketika Makassar mulai didatangi penari telanjang dari negara seperti Filipina, Thailand, dan Taiwan. Para penari itu membawa naskah partitur untuk dipelajari para pemusik pengiring. 

“Aransemen itu sangat berhubungan dengan tarian; mereka buka apa kalau musik masuk ke bagian mana,” terang Opa, tersenyum.[]

6 komentar:

  1. waaaa sering dengar suaranya, tapi baru lihat gambarnya :D

    BalasHapus
  2. Kalau Darmawaty Ferial, ingatji. rambutnya rapiii sekali, di kepang trus dibentuk konde di belakang ehehehe

    BalasHapus
  3. situs yang banyak bermanfaat bagi para komunitasnya, tetap berkarya dan sukses!

    BalasHapus

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP