Senin, Januari 14, 2013

Resensi Hidup di Atas Patahan

Beberapa tahun lalu, United Nations Internasional Strategy for Disaster Reduction (UNISDR) atau Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Strategi Internasional Pengurangan Risiko Bencana mengungkapkan Indonesia adalah negara paling rawan bencana alam (arc of fire) di dunia dari sisi letak geologi. 


Secara geologis, Indonesia juga merupakan pertemuan dari beberapa lempeng benua dan samudra yang menjadikan rawan bencana gempa bumi, tanah longsor, gunung meletus, dan tsunami. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Syamsul Maarif, menyampaikan 80 persen wilayah Indonesia rawan bencana seperti Bengkulu Utara, Sinjai, dan Maluku Tenggara. 

Penulis mengisahkan pengalaman pencegahan bencana khusus di tiga derah tersebut. Pembahasannya dibagi menjadi tiga bab. Pertama, mengisahkan kondisi pascagempa 7,9 skala richter yang melanda bengkulu pada 12 September 2007 (hal 14). Bengkulu merupakan salah satu wilayah yang paling rentan gempa di Indonesia. 

Diibaratkan, hidup di atas tanah Bengkulu seperti hidup di punggung banteng raksasa. Inilah kisah yang kemudian diangkat di dalam buku bagaimana seorang Sastro (30) yang berdarah Rejang, suku asli Bengkulu, berjuang mendampingi masyarakat untuk mempersiapkan diri dari kemungkinan bencana. Bersama rekannya, Sastro sudah tiga tahun aktif mendampingi Desa Pondok Kelapa dan Kecamatan Lais, Bengkulu Utara (hal 16). 

Sejak 2007, ketika Bengkulu memulihkan diri pascagempa, Sastro menjadi koordinator wilayah dan mendampingi bantuan yang diturunkan pemerintah pusat (hal 23). Dia dan kawan-kawan aktif memfasilitasi warga yang dibentuk dalam kelompokkelompok penerima bantuan untuk mempertanggungjawabkan sekaligus memastikan hibah itu benar-benar dipakai untuk pemulihan (hal 24). 

Bab kedua, membahas kisah tim Pengurangan Risiko Bencana (PRB) yang dulu dikenal sebagai program BSM-DRR (Building Social Movement-Disaster Risk Reduction) di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan (hal 45). Namun, dalam perjalanannya, perkembangan program PRB mengalami kebuntuan. Agung, salah seorang anggota tim, sempat berniat mengundurkan diri. 

Ada tantangan dahsyat dari pengambil kebijakan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sinjai (hal 54). Persoalan lainnya yang menghambat perkembangan program PRB di Kabupaten Sinjai ini berkaitan dengan benturan kepentingan politik. Pengaruh Makassar sebagai ibu kota provinsi sangat besar terhadap Sinjai, terutama menjelang pemilihan gubernur pada 2013 (hal 57). Kondisi politik inilah yang memengaruhi programprogram yang dicetuskan oleh tim PRB. 

Pada bab ketiga, dikisahkan masyarakat Kei di Maluku Tenggara yang berupaya menanggulangi gerusan ombak di pertemuan arus Laut Banda dan Laut Arafura, juga daratan yang terbentuk atau hilang karena gesekan lempengan benua (hal 80). 

Maluku Tenggara merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Maluku. Tiga pulau utamanya Pulau Kei Kecil (722,62 km2), Pulau Kei Besar (550,05 km2), dan Pulau Dullah (122,84 km2). Pada saat itu warga yang sebagian besar bekerja sebagai nelayan tidak menyadari gelombang pasang telah menggerus pulau-pulau yg ada di sekitar Maluku Tenggara. 

Namun, pada akhirnya hal itu telah disadari dan program penanggulangan risiko bencana dimulai dengan penanaman pohon bakau (hal 92). Buku ini menarik untuk dibaca karena bahasanya mengalir. Dia menceritakan pengalaman pencegahan bencana. Disajikan dengan cerita-cerita yang tidak hanya mengangkat kesuksesan program penanggulangan bencana, tetapi juga mengangkat konflik yang kemudian menimbulkan permasalahan. 

Diresensi Yuli Afriyandi, mahasiswa Pascasarjana UII, Yogyakarta

Judul : Hidup di Atas Patahan
Penulis : Anwar Jimpe Rachman
Edisi : Oktober, 2012
Penerbit : Insist Press
Tebal : 105 halaman

4 komentar:

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP