Jumat, April 19, 2013

Kaset Ini Aku Pinjam...


INI TENTANG REVOLUSI. Hanya lebih senyap. Terjadi di dunia musik. Pada 21 April 1997, dua mahasiswa Jerman, Justin Frankel dan Dmitry Boldyrev, mengunggah aplikasi buatan mereka bernama Winamp. Seketika juga, orang-orang berbondong-bondong menuju dunia maya dan mengunduhnya. Sampai tahun berikutnya, tepatnya pada Juli 1998, Winamp dalam aneka versi ‘dipanen’ hingga lebih tiga juta kali. Mesin pemutar file MP3 itu telah membuka ruang baru bagi penikmat musik untuk bisa memperoleh musik gratis—hal di kurun waktu itu cuma bisa dinikmati dari kaset pita dan cakram padat [CD, compact disc].

Angka penjualan kaset pita dan CD pun terjun bebas. Toko-toko kaset tutup. Beberapa label besar terpaksa berkongsi. Ada pula yang terancam bangkrut lalu diakuisisi. Pendengar ogah lagi membeli kaset pita dan CD lantaran mudahnya mereka berbagi file lagu. (Gejala yang sama juga menimpa rumah produksi film. Film-film layar lebar marak disebar di internet, kadang jauh sebelum masuk jadi daftar putar di bioskop. Tinggal buka tautan, langsung unggah. Celaka itu juga diperparah meluasnya CD dan DVD bajakan di emperan dan pasar.)

Foto: Anwar Jimpe Rachman
Namun praktik berbagi dan menggandakan lagu pun, sebenarnya, sudah terjadi selama zaman kaset pita. Itu karena dipasarkannya tape recorder dengan pemutar ganda. Satu dua toko kaset di Makassar juga menerima pesanan macam itu. Bagi yang berkawan dengan penyiar radio, bisa pula melakukan hal serupa. Tinggal beli kaset kosong, tulis daftar lagu, dan semingguan kemudian kaset kumpulan lagu andalan si pemesan siap diputar. Masa itu juga masa ketika fungsi kaset layaknya buku: saling pinjam saling tukar. Mungkin ketika itu kita pun bisa memelesetkan hits Iwan Fals “Kaset Ini Aku Pinjam”. 


Pada Sabtu pekan ketiga April tahun 2007, tepat sepuluh tahun setelah dua mantan mahasiswa Universitas Utah itu menggunggah aplikasi Winamp ke internet, entah kebetulan atau disengaja, para penyokong musik merayakan hari yang dinamai Record Store Day. Setelah itu, sampai tahun 2013, momen itu terus dirayakan.

BISA JADI, duo Frankel dan Boldyrev tak menyangka upayanya satu dekade lalu berbuah pengaruh seperti ini, bahkan terhadap hubungan sosial. Teman saya, Ade Cakra, karena berkawan dengan pemilik toko kaset, yang memungkinkannya bisa mengutang kaset bila sedang bokek. Kaset pita juga menjadi penaut hubungan individu sekaligus bernilai investasi bagi si pemilik.

“Zaman saya mahasiswa, banyak teman yang jual atau gadaikan kasetnya kalau kiriman lagi telat. Saya juga begitu. Sering juga saya jadi penadah [kaset teman yang digadai dan dijual],” kata Ade, yang menjadi mahasiswa pertengahan 1990-an.

Pengakuan ini Ade lontarkan dalam acara Rewind!, inisiatif Makassar Nol Km DotCom, di Kampung Buku, perpustakaan komunitas di Jalan Abdullah Daeng Sirua 192 E Makassar. Makassar Nol Kilometer DotCom merupakan ruang bersama berbentuk situs berbasis jurnalisme warga. Rewind! tak lain hajatan dengan dukungan sejumlah komunitas di Makassar, digelar sebagai bentuk perayaan Record Store Day.

Makassar Nol Km mengundang terbuka orang-orang membawa lalu memutar kaset-kaset kesayangan masing-masing. Bergiliran pula sejumlah di antaranya membeberkan kenangan yang melatari lagu yang diputar. Yang tampak jelas hari itu bahwa hanya kenangan yang tak bisa diringkas oleh aplikasi MP3. Acara itu menjadi semarak lantaran beberapa komunitas juga ikut menggelar lapak buku, CD musik, sampai pakaian bekas.

Tapi bukan cuma kenangan pribadi yang dipantik dalam Rewind!. Ia mengungkap pula memori tentang Makassar. Dari sekian deretan kaset yang dipamerkan dalam acara itu, salah satu yang mencolok adalah album pop Makassar berjudul Jera’nu Mami milik duet Iwan Tompo dan Arwinny Puspita. Album ini berisi 12 lagu berlirik bahasa Makassar dirilis tahun 1985 oleh Libel Record, perusahaan rekaman besar di Makassar.

Libel Record tumbuh dan berkembang di Kota Daeng. Label ini belakangan begitu terkenal di Sulawesi Selatan, kendati beberapa perusahaan serupa malah mendahului pendiriannya. Libel berdiri pada akhir 1970-an, berdasarkan etnomusikolog Anderson Sutton dalam Calling Back the Spirit: Music, Dance, and Cultural Politics in Lowland Sulawesi Selatan [Ininnawa, segera terbit], tumbuh di masa perluasan usaha perusahaan rekaman dari Pulau Jawa. Tersebut ada tiga label dari Jawa mencoba peruntungan pasar di Sulsel, yaitu Suara Mas, OK Record, dan Special Record. Ketiganya membuka cabang di Ujung Pandang pada 1974 dan 1975. Setahun setelahnya, label lokal, Irama Baru, mulai merekam setahun kemudian lalu Libel, juga setahun berikutnya.

Libel menjadi ikon kemunculan dan pertumbuhan usaha sejenis. Ketika melihat tampakan album Jera’nu Mami, terbayang bahwa kaset itu digarap dengan serius. Sampul dikerjakan menggunakan warna latar biru dan tulisan bertinta kuning mengilap emas. Dua materi lagu ciptaan mendiang Pance Pondaag, salah seorang penulis lagu dan penyanyi yang merajai musik Indonesia selama dasawarsa 1980-an. Bahkan hingga kini, lagu-lagunya masih setia mengalun dan kerap menyapa penumpang-penumpang bus antar kota—setidaknya di Sulawesi Selatan.

Nama yang tidak asing pula bagi saya dalam album Jera’nu Mami adalah Will Ferial. Nama ini mungkin sekarang tidaklah tenar di telinga khalayak pendengar di Makassar. Ia dikenal luas dengan nama-udara “Opa” yang saban hari menyiar di Radio Telstar. Ia mendesain sampul album tersebut. Selain itu, Will Ferial menciptakan lagu Minasa Risarenta dalam album tersebut. Tak mengherankan karena ia memang berlatar musikus. Will Ferial pernah berduet Rosmala Dewi di salah satu album produksi Irama Baru Record tahun 1976. Sebelumnya pula, pria yang tampak segar di usianya yang ke-70 ini pernah menjadi drummer di satu kelompok musik milik sebuah bank di Makassar. Kala itu Will segrup dengan Muchsin Alatas—sebelum suami Titik Sandhora ini hijrah dan meniti karir di Jakarta.


Selain Will Ferial, ada pula Arwinny Puspita dan Iwan Tompo. Arwinny adalah salah seorang biduanita top Makassar era 1980-an. Ia pernah memenangkan Lomba Bintang Radio. Sebelum album itu, Arwinny menelurkan album Kenyataan produksi Libel Company tahun 1982. Penggarapan album ini diasuh pula mendiang Pance F Pondaag. Sepuluh lagu dalam album tersebut diciptakan oleh Pance.

Nama terakhir: Iwan Tompo. Ia legenda hidup musik pop Makassar. Ia masih produktif, kendati lelaki berkumis yang akrab dipanggil Daeng Liwang ini sempat terbaring sakit tahun 2012 lalu. 

Sejarah awal dunia rekaman di Makassar, berdasarkan Anderson dalam Calling Back the Spirit, tidak bisa dilepaskan dari dua kota, yakni Surabaya dan Solo. Adalah Hoo Eng Djie, seorang peranakan Tionghoa, yang menautkan sejarah musik Kota Daeng dengan Surabaya. Seperti diamini oleh banyak pengamat dan peneliti, bahwa Hoo Eng Djie-lah musikus pertama Sulawesi Selatan yang masuk dapur rekaman komersial. Ia penyanyi lokal kondang di Makassar mulai 1930-an sampai 1950-an. 


Pada 1938, 1939, dan 1940 ia diundang oleh Studio Hoo Soeng Hoo (Canary Records) di Surabaya untuk merekam beberapa Celebes Volksliederen (lagu rakyat Sulawesi). Hasilnya adalah seri rekaman 78rpm (sekitar 20.000 cakram rekaman), yang selain lagu-lagu yang ciptakan itu ia nyanyikan sendiri dengan iringan kelompok ‘Sinar Sedjati’ dan ‘Wari-Waria’, juga dengan iringan beberapa kelompok musik dari Sulawesi Selatan, menyanyikan lagu Mandar dan Bugis.

Ada pula nama Djajadi Djamain, seorang pemimpin musik sekaligus anggota militer. Selama awal 1960-an Djajadi bersama kelompoknya merekam lagu Anging Mammiri dan Muri-Muria di Studio Lokananta di Surakarta [Solo]. Sejak itu pula orang-orang di luar Sulawesi mengenal lagu daerah ini.

WINAMP MENJELMA antagonis sekaligus protagonis yang terlupakan. Ia telah membuka jalan mudah dan cuma-cuma dalam berbagi file lagu. Tapi juga aplikasi ini berhasil memicu kemunculan dan penyebaran teknologi LCD yang memungkinkan kita meninggalkan teknologi tape recorder. Ironisnya, kini: Winamp seperti hanya berhak menghuni komputer-komputer tua, sedang kaset pita mengisi peti dan gudang kita.

Memang, agaknya, penting memutar ulang masa-masa itu. Mari dan jangan bosan menekan satu tombol di tape kita: Rewind![]

[Terima kasih kepada albertovalentino67 untuk foto sampul Kenyataan]

4 komentar:

  1. Wah, kegiatan yang luar biasa. Seminggu sekali, saya masih memutar tembang kesayangan di tape recorder.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya jadi mikir-mikir juga untuk cari tape lagi. sensasinya memang beda tawwa :D

      Hapus
    2. sambil menunggu acara "Album Minggu Ini" di TVRI, sy selalu menyiapkan radio serta kaset, yang selalu ditimpa berbagai lagu. Begitu muncul Tommy J Pisa dan Johny Iskandar, langsung sy rekan tombol REC. ketika Rhoma menyanyi, sy matikan tombol REC, tapi tiba-tiba terdengar suara berat ayah saya, "Tekan lagi REC. Ini lagu kesukaanku."

      Hapus

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP