Rabu, Desember 25, 2013

Dua Buku Petualangan Terpuji Tahun 2013

Geography of Bliss

Banyak buku tebal tentang perjalanan ke banyak negara. Tapi karya Eric Weiner ini agaknya bukan semacam itu. Ia menawarkan sudut pandang menarik, yaitu sudut pandang penggerutu. Silakan baca. Jangan lupa pertanyaan selera humor saya karena menyukai buku ini.
Tuan Weiner seorang jurnalis yang menulis 10 bab. Setiap bab membahas negara. Ia warga negara Amerika Serikat, yang berangkat ke Belanda membuktikan bahwa indeks kebahagiaan itu goyah oleh gerutuhan khasnya yang unik. Sepenuhnya memang ia meracau ala pelancong yang terkena gegar budaya (shock culture), omelan sebagaimana sering kita dengar dari mulut para turis luar negeri atau para penerima beasiswa luar negeri yang meneliti di Indonesia.
Tapi dari jalinan dan benturan antara hal-hal ideal dalam pikirannya dengan kenyataan di perjalanan memicu pertanyaan dan memunculkan pernyataan—sebagian besar sangat menghibur. Bahkan saya kadang membayangkan, dia sebenarnya seorang komedian. Bisa jadi dia sangat meyakini, apa yang dikatakan Henry Miller, “Tujuan tidak pernah menjadi tujuan seseorang, tapi tujuannya adalah suatu cara baru melihat hal-hal”.


Perjalanan pertama Weiner ke Belanda. Ia menemui Ruut Veenhoven, profesor peneliti kebahagiaan, sambil menebak apa gerangan yang membuat negeri itu dianggap sebagai negara yang membahagiakan. Riset Veenhoven menyebut bahwa orang yang toleran cenderung bahagia.
Di Belanda, Weiner mendapati bahwa toleransi itu berkaitan dengan tiga kata kunci: narkoba, prostitusi, dan bersepeda, tiga aktivitas legal di Negeri Kincir Angin. Ketiganya pula dapat menyebabkan kebahagiaan, dengan syarat dilakukan tindakan pencegahan tertentu. Memakai helm sebisanya ketika bersepeda, misalnya. (hal. 44)
Tapi ia gugurkan ‘bersepeda’ karena cuaca dingin yang menyelimuti negeri tersebut saban waktu. Prostitusi juga ia coret. Meski bisa membahagiakan sebagian orang dan dilakukan tanpa tergantung cuaca, “Tetapi bagaimana dengan istri saya?” tanyanya. (hal. 45) Narkoba? Itu sesuatu yang disediakan di kedai kopi. Namun berdasarkan penelitian 1995, pengguna narkoba cenderung mengurangi kebahagiaan dari waktu ke waktu. (hal. 49). Jadi apa dong?
Weiner datang lagi ke Veenhoven. “Anda pasti mempunyai keyakinan yang mantap pada kapasitas manusia untuk kebahagiaan?” tanyanya.
“Tidak, tidak juga,” jawab Veenhoven, “ya, tapi tidak penting bagi saya apakah orang bahagia atau tidak, selama sebagian orang bahagia daripada orang lain. Saya masih dapat mengolah angka,” sambungnya. (hal. 50)
Veenhoven, demikian kemudian Weiner menyadari, bukan seorang pemain dalam permainan kebahagiaan; dia adalah seorang wasit, yang menjaga skor. Tidak penting baginya siapa yang memenangi pertandingan. Kebahagiaan atau kemurungan, semuanya sama. Selama salah satu pihak menang. Di dunia Veenhoven, kebahagiaan direduksi menjadi statistik saja, data dibagi, dipotong-potong, diceraikan, di komputer dan direduksi menjadi lembar data. ”Dan saya tidak dapat berpikir lagi apa saja yang kurang bahagia daripada sebuah lembar data,” kata Weiner. (hal. 51)
Weiner lalu ke Swiss, negara dengan tipikal masyarakat yang benci mengobrolkan uang. “Mereka hanya menggosokkan jemarinya bersama untuk mengisyaratkan mereka sedang berbicara tentang uang,” kata Weiner, yang merasa hal itu ganjil lantaran ekonomi Swiss berdasarkan pada jasa perbankan. Tapi orang Swiss tahu bahwa, uang lebih dari segalanya, memicu rasa iri—musuh besar kebahagiaan. “Sikap kami, tidak menyorotkan lampu sorot terlalu terang pada diri Anda sendiri agar tidak kepanasan,” kata seorang warga. (hal. 60)
Rupanya, resep bahagia orang Swiss terletak pada hubungan yang sangat dalam dengan alam. (hal. 64) Weiner teringat, tersebut pada 1984 seorang psikolog bernama Roger Ulrich mempelajari pasien yang sedang dalam masa penyembuhan di rumah sakit di Pennsylvania. Beberapa pasien ditempatkan di kamar yang menghadap pepohonan kecil pantai di musim gugur. Beberapa pasien lainnya ditempatkan di kamar yang menghadap dinding bata. “Pasien dengan pemandangan jendela alam menginap di rumah sakit lebih singkat pasca operasi, mempunya lebih sedikit komentar negatif dalam catatan perawat… selanjutnya, pasien yang ditempatkan di ruangan yang menghadap dinding bata memerlukan lebih banyak suntikan penghilang rasa sakit.” (hal. 66)
Cara bercerita dan sudut pandang Eric Weiner seperti itulah menghiasi buku tebal ini dan membuatnya terus segar untuk disimak.
*** 
Ring of Fire

Membaca buku ini awalnya hanya untuk pembekalan menjelang berangkat untuk penyusunan Ekspedisi Cengkeh (Ininnawa-Layar Nusa, 2013). Tapi ia menambat hati saya dengan narasi yang menarik dari dua bersaudara, Lawrence Blair & Lorne Blair. Keduanya ke Indonesia untuk mendokumentasikan wilayah Cincin Api Pasifik—berbeda dengan Eric Weiner, yang sepanjang perjalanan menggerutu—mereka terasa ‘memasrahkan diri’ dengan arus perjalanan dan manusia yang ditemuinya.
Dengan jelas kemudian mereka mengalimatkan ‘kepasrahan’ itu, seperti “… Terisolasi untuk waktu lama di antara suku-suku yang belum banyak diketahui, satu-satunya pertahanan kami adalah sebentuk terapi perjumpaan, kepasrahan sepenuhnya terhadap cara tuan rumah kami menjadi dan melihat… Menjadi dua orang dari pihak minoritas yang sangat mencolok dalam masyarakat yang sering kali sebanding tingkat keekspresifan dan antagonistiknya.” (hal. 59).
Ada sepuluh bab juga di buku itu. Setelah dua bagian menggambarkan perjalanan dan pandangan mereka tentang Indonesia, tualang mereka yang berbekal 6.000 meter stok film dan sisa 2.000 poundsterling pemberian Ringo Starr pun dimulai dari Celebes, pulau “yang sedemikian kompleks bagi para navigator Eropa zaman dahulu sehingga mereka menganggapnya sebagai sekumpulan pulau terpisah” dan “wilayah suku pelaut beringas yang merupakan penghambat tangguh bagi para saudagar rempah-rempah Eropa zaman dahulu”. (hal. 67).
Mereka tiba di Makassar pada awal dasawarsa 1970, kota yang Lorne bersaudara sebut menyumbangkan khasanah bahasa Inggris “di bidang racun dan minyak-minyakan”. (hal. 71). Lorne mengutip Samuel Pepys, penulis abad ke-17, yang menyaksikan efek mengerikan Racun Makassar sewaktu dicobakan pada seekor anjing tak berdaya di sebuah klub pria terhormat di London. Minyak Makassar (hasil destilasi yang amat beracun dari kelapa) merupakan kosmetik rambut laris bagi pria-pria zaman Victoria, dan barangkali ‘ramuan pria necis’ paling berminyak yang pernah trendi (hal. 72), Mereka ceritakan pula pengalaman mereka diteriaki “Belanda oleh penduduk kota itu di halaman yang sama.
Mereka bercerita tentang suku Toraja yang berdiam di pegunungan pulau ini. Di sana menyaksikan upacara ritual pemakaman bangsawan besar setempat dan berkunjung ke Bulukumba sebagai titik berangkat menuju belahan dunia kecil di Indonesia Timur yang mengundang orang-orang Eropa menitih buih mencari cengkeh dan pala.
Dalam buku ini, Blair bersaudara banyak membahas orang Bugis dikarenakan durasi perjalanan mereka banyak bersama dengan 16 pria Bugis di atas pinisi bernama Sinar Surya. Mereka tampaknya terpikat dengan perjalanan Alfred Wallace 120 tahun sebelumnya menggunakan perahu yang sama ketika menjelajahi kawasan Indonesia Timur untuk melihat langsung Burung Cenderawasih Kuning-Besar.
Ketika Sinar Surya merapat di pelabuhan di Kepulauan Aru, perjalanan Blair bersaudara berlanjut ke Papua untuk mencari burung buruan ekspedisi mereka. “Burung ini hanyalah umpan menggoda yang lantas menjerat kami ke dalam 10 tahun petualangan melalui negeri mimpi kala terjaga”. (hal. 3) Cerita terkait orang Bugis, pinisi, dan persentuhannya dirangkainya hingga memasuki Bab Enam.
Pada empat bab selanjutnya, ia membeberkan cerita perjalanannya memfilmkan Suku Asmat, Pulau Komodo, Pulau Sumba, petualangan di Pulau Kalimantan, dan Pulau Bali—yang ia mukimi sejak kurang lebih 35 tahun lalu.
Dalam waktu satu dasawarsa itulah Blair bersaudara berhasil memfilmkan dan menulis buku dengan judul yang sama. Lawrence Blair adalah penulis, presenter, dan co-producer (bersama mendiang adiknya, Lorne, yang wafat pada 1995) mendapatkan penghargaan internasional Emmy Award untuk film Ring of Fire pada 1989 untuk National Educational Film. Karyanya ini disiarkan di 63 stasiun. Buku berjudul sama menjadi bestseller di Inggris.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP