Minggu, Agustus 24, 2014

Percakapan yang Melampaui Musik

Terbuat dari apa alam pikiran seorang Gede Robi Supriyanto, “humas” kelompok musik Navicula—kelompok musik asal Bali yang dibaptis sebagai green grunge gentlemen lantaran lirik-lirik mereka sarat tema lingkungan hidup?

Dua kali saya bertemu Gede Robi Supriyanto. Yang pertama hanya bersalaman dan saling lempar senyum—sebagaimana biasanya orang Indonesia saat pertemuan awal—akhir tahun 2013. Namun jumpa kedua dengan Robi, nama panggilannya, di awal Juni 2014, sangat berbeda. Kami bertukar cerita dalam dua kali kesempatan. 
Lelaki berusia 35 tahun ini akrab dengan suasana Makassar. Sejak kecil ia mengaku kadang pergi pulang Palu-Makassar, ketika ayahnya bertugas di ibukota Sulawesi Tengah itu. “Kalau tinggal barang satu dua minggu logat saya bisa kembali lagi,” katanya tertawa.
Robi menggerai rambut lurusnya yang panjang. Malam itu ia tampil solo sebelum band Dialog Dini Hari menutup malam acara midnight sale di Chambers, Makassar. Obrolan kami seputar kegiatannya yang 'jauh' dari musik.

Apa kegiatanmu dekat ini?
Saya akan ke ke Kamboja untuk sebuah konferensi tahunan yang diadakan GIN (Global Initiatives Network, sebuah lembaga yang bertitik perhatian pada anak muda). Saya ke sana sebagai representatif dari lembaga itu.

Itu lembaga apa?
Skalanya internasional. Idenya dari teman saya di international school di Bali. Dia pengen sesuatu yang … saya sama dia ‘kan bikin projek. Waktu itu saya mau ajukan kurikulum pertanian organik, walaupun hanya sebagai ekstra kurikuler, termasuk sekolah lokal. Tapi sekolah lokal (milik pemerintah di Bali, Pen.) responsnya masih memandang sebelah mata. Justru sekolah internasional sangat membuka tangan. Dan sekolah-sekolah seperti green school itu jadi kurikulum utama.

Beda tanggapannya kenapa ya?
Saya pikir sebenarnya agrikultur itu penting. Itu berhubungan dengan kedaulatan pangan, apalagi di Indonesia. Agrikultur dan maritim, seharusnya dua hal penting ini menjadi hal agenda utama dalam setiap pengembangan pembangunan. Kalau ini jadi agenda utama, berarti ini harus menarik minat sejak usia dini. Dari dulu nenek moyang kita kan petani dan pelaut. Apalagi kekayaan alam ini. Hubungan antar pulau. Teknologi-teknologi nenek moyang kita udah jago di irigasi, jago bikin kapal-kapal yang terkenal di seluruh dunia. Kepulauan lagi. Negara tropis lagi yang memang sangat agrikultur.

Heran juga kenapa MP3I, manajemen pertumbuhan ekonomi Indonesia, agenda pertanian di Bali tidak masuk menjadi agenda utama. Di satu sisi, kita mengeluarkan jargon-jargon “Lestarikan Budaya”. Kalau di Bali, kampung saya, “Lestarikan Budaya Bali”. Saya pikir agak bullshit kalau kita tidak menempatkan agrikultur sebagai agenda utama. Karena ya kalau mau pelestarian budaya, dimulai dari fondasi. Apa itu budaya? Ya agrikultur!

Bagaimana dengan skala Indonesia? Kedaulatan pangan dan teknologi maritim?
Indonesia sebenarnya sudah punya teknologi ini. Bibit varietas tanaman sudah lengkap. Tapi tahun 1970-an, waktu Green Revolution (Revolusi Hijau) ada jargon swasembada pangan. Tapi ini seperti perjanjian antara pemerintah kita dengan perusahaan seperti Monshanto yang memasukkan bibit yang mereka desain agar menciptakan ketergantungan dan harus dibeli terus, karena bibit-bibitnya tidak bisa diperbanyak. Generasi pertama tak sebagus kualitasnya dengan generasi kedua. Dan bibit seperti ini compatible dengan hanya pupuk tertentu. Tujuannya menjadikan petani yang harusnya jadi produsen harus menciptakan malah jadi konsumen. Dengan kebijakan seperti ini berarti petani dijadikan konsumen dong! Dan ini saya kira tidak sehat. Petani harusnya menciptakan dan menghasilkan. Kalau ini kuat, negara kuat. Bahkan Gandhi sendiri pernah bilang, jangan kamu bicara soal politik pada orang yang perutnya kosong. Betapa pentingnya kedaulatan pangan terhadap stabilitas dan ketahanan suatu negara. Apalagi teknologinya sebenarnya kita sudah punya.

Sudah tradisi malah…
Betul! Sayangnya kalau ini dibuat petani menjadi konsumen, dia itu posisinya menjadi lemah karena sangat tergantung. Apalagi tanahnya kalau sudah junkie gitu kan.. pupuk kimia ini kan akan menjadikan lahan kritis. Kayak junkie-lah, kalau tidak make obat (maka) tidak berfungsi. Ketergantungan begini, berapa pun harga dikasih mereka beli.
Dan sampai pada satu titik, harga yang mahal tidak lagi jadi rasionya profit. Sementara di sisi lain, pemerintah kita juga justru mengimpor. Kan jadinya kacau. Waktu mereka produksinya mahal, waktu mereka jual pasarnya tidak terjaga. Lebih banyak untungnya tengkulak. Orang kedua dan tangan ketiga dari petani yang menghasilkan.
Nah apa yang terjadi kalau petani menjadi posisinya terpojok? Orang tidak mau jadi petani karena posisi yang miskin. Apa jadinya kalau semua orang jadi penjual? Kalau tidak ada yang menjadi petani, berarti tidak ada yang menghasilkan.
Soal maritim, Indonesia ‘kan penghasil ikan dari perairan ini. Tapi saya dengar dan baca buku “Indonesia Dijarah Jepang”, di situ dibilang bahwa 80 persen hasil ikan Indonesia ternyata lari ke luar negeri dengan alasan pertumbuhan ekonomi. China, Jepang, dan Prancis yang mengimpor ikan kita. Berarti cuma 20 persen dong ikan kita dikonsumsi orang kita sendiri. Nah coba bayangkan 100 persen berarti dari pesisir sampai pelosok hutan kita bisa makan ikan segar. Nah ini berarti juga Indonesia tidak mungkin kekurangan protein dong.
Bisa dibayangkan kalau Indonesia berdaulat secara pangan di laut ditambah kedaulatan pertanian di darat. Semuanya dihasilkan dari dalam negeri.
Kuba misalnya terpaksa menghasilkan sendiri gara-gara diembargo Amerika. Jadi tahun 1970 mereka diembargo terpaksa menghasilkan sendiri. Pemerintahnya terpaksa meng-hire beberapa pakar agrikultur Australia dan New Zealand untuk menjadi konsultan pemerintahan mereka.
Nah sekarang rata-rata penghasilan mereka tidak banyak kalau kurs internasional, mereka adalah salah satu negara yang makmur dari segi pangan. Karena 80 persen kebutuhan makanan kota dihasilkan dari kota. Jadi bisa dibayangkan, ukuran kualitas dan harga itu ditentukan dari ini piringnya kita. Jarak antara lahan sampai di piring. Dari sumber ke piring. Semakin jauh, semakin kualitasnya turun. Karena melewati penyimpanan, dan harganya semakin mahal. Rasionya kayak gitu. Sehingga di Indonesia hanya orang kaya aja yang layak makan 4 sehat 5 sempurna.
Kalau di Kuba, karena murah dan terjangkau, mereka makan. Kita kan cari uang untuk makan. Walau pun kita dapat banyak tapi harganya mahal berarti sebagian besar penghasilan kita lari ke makanan yang layak. Berarti sebenarnya kalau penghasilan kita pas-pasan kita tidak menjangkau itu. Kita kan tidak makmur. Kebutuhan yang mendasar adalah sandang, papan, dan pangan. Dari yang paling primer dari ketiga ini adalah pangan. Tapi ini salah satu contoh saja di Kuba.
Jadi bisa dibayangkan kalau kita bisa hasilkan di setiap daerah dengan jarak yang semakin dekat, itu kemakmuran semakin tinggi.

Kira-kira, Indonesia impianmu begitu?
Kalau saya pembangunan di Indonesia selalu berjalan paralel dengan kerusakan lingkungan. Tapi sebenarnya itu bisa diminimalisir kalau pembangunan itu secara … sebenarnya agrikultur vermakultur itu sebenarnya ada ideologi-ideologi. We care to the people, peduli pada manusia (keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia); we care to the future—peduli pada masa depan (kebijakan yang sustainable/berkelanjutan); dan we care to the nature—peduli pada alam (yang mengandalkan penghasilan dari alam berarti alamnya harus dijaga).
Ada beberapa hal seperti mengoptimalkan sumber daya lokal itu untuk mengurangi jarak. Pembangunan Indonesia yang mengutamakan itu akan menjadi Indonesia menjadi negara yang penting apalagi dia membangun berdasarkan dari apa yang sudah dia jago. Sehingga pembangunannya lebih maju. Kalau kita membangun dari apa yang kita tidak jago, mulai dari nol, kan jadi ketinggalan terus kita kan. Kita negara tertinggal. Kenapa tertinggal? Karena kita meniru sesuatu yang bukan jagonya kita. Coba kalau kita sebaliknya, sudah pasti kita jadi negara terdepan. Banyak yang belajar dari kita.

Itu semua sebenarnya berawal dari mana? Bacaankah yang tiba-tiba mengharuskanmu belok ke isu-isu itu?
Yang pertama, saya besar di keluarga petani. Dari situ saya lihat langsung posisi petani. Harga panen jeblok. Ini kenapa? Ada yang salah berarti! Terus orang tidak mau jadi petani. Ya karena petani identik dengan kemiskinan.
Yang kedua, kebetulan juga karena pekerjaan saya di luar musik konsultan di beberapa LSM, bergelut dengan isu-isu lingkungan, sosial, dll. Sehingga informasi ini saya dapat dari mereka yang sudah melakukan penelitian. Makanya saya membuat band juga untuk mendistribusikan data itu dengan bahasa anak muda. Data keras menjadi lunak. Makanya konsep Navicula itu begitu.
Dari analisa juga, diskusi dengan teman-teman, namanya juga jaringan LSM kita selalu menyempatkan diri untuk update-update karena ketertarikan pribadi. Ya ada memang orang-orang yang tidak peduli.

Saya pikir, kepedulian ini juga penting karena saya percaya salah satu yang ditakutkan stabilitas suatu negara adalah munculnya orang-orang ignorant. Karena banyak negara maju karena masyarakatnya peduli. Maju bersama-sama. Kalau sudah skeptik dan tidak peduli berarti itu sudah ancaman bagi negara bersangkutan.[]

2 komentar:

  1. Kak Jim, kalau tak keliru singkatan dan kepanjangan MP3I yang benar, MP3EI: Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia. Ini semacam rencana pembangunan lima tahun-nya (Repelita) di masa pak harto. Di masa Pak BY namanya jadi MP3EI meliputi enam koridor (kalau tak salah) dalam menunjang pembangunan ekonomi di daerah berdasarkan keunggulannya. Koridor Jawa, Bali-Lombok, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan dan Papua-Maluku. Saat ini, menjelang pemerintahan transisi Jokowi-JK, pemerintah yang baru menitik beratkan sektor Infrastruktur Maritim. Pembangunan MP3EI yang ada di masa SBY lebih banyak ke infrastruktur berat seperti jalan tol, energi, bandara dan pelabuhan. Namun itupun masih banyak yang terhambat. Hihi, berat ya pembahasannya. Tapi semoga berguna dan manfaat. salam makassar keren..

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih banyak, iccang :*
      sebagaimana di tulisan, saya hanya menyingkat niatnya untuk "memudahkan" pembaca :D

      Hapus

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP