Senin, Januari 26, 2015

Seorang Kawan yang Berpaling ke Kelapa

KELAPA MERUPAKAN tanaman utama di Indonesia. Hanya saja hasil dari pertaniannya masih terbatas. Untuk skala Flores Timur (Flotim), NTT, produk yang dihasilkan tak jauh dari minyak kelapa untuk konsumsi lokal dan kopra yang diorientasikan ekspor, komoditas yang sayangnya harganya sangat murah belakangan ini. Satu produk yang menjanjikan bisa dihasilkan dari kelapa adalah minyak kelapa murni (virgin coconut oil, VCO).

Saya bertemu dengan Melky Koli Baran, seorang jurnalis lepas yang setahun terakhir menggeluti pembuatan VCO dengan skala produksi terbatas. Lelaki kelahiran 54 tahun silam ini mulai membuat minyak ini karena melihat potensi kelapa di sekitar tempat tinggalnya, di Kelurahan Waibalun, lima kilometer di barat Larantuka, ibu kota Flotim.

Melky Koli Baran. (Foto: Anwar Jimpe Rachman)
“Kopra ‘kan kalau dijual murah dan dikirim ke luar bukan konsumsi di sini. Lagi pula sudah banyak yang mengurusnya. Begitu juga minyak goreng yang warga di sini juga sudah biasa buat untuk konsumsi sendiri. Saya berpikir, kalau ada panduan pengetahuan tentang VCO saya akan coba. Lalu saya dapatkan (video panduannya), saya coba, ternyata jadi!” kata Melky tertawa.

Keberuntungan pemula? Melky menolak itu. Ia katakan kalau cara pembuatannya memang mudah dan sangat sederhana. Hanya butuh keseriusan. Apalagi pembuatannya tidak menyita waktu. Kita cukup membiarkannya berproses sendiri. Ditambah alat yang dibutuhkan cukup sederhana seperti parut, alat peras, slang, dan beberapa peralatan lain untuk tahap akhir seperti toples transparan, alat saring (corong diisi kapas 0,25 kg dan tisu) untuk pengendapan.

Pembuatan VCO dimulai dengan menyeleksi buah kelapa yang benar-benar matang dan tua. Menurut pengalaman Melky, dia mengambil kelapa yang jatuh dari pohon. Ia  memilih dengan bantuan seleksi alam untuk hindari kegagalan proses pembuatan VCO. Sabut dan batoknya dibersihkan, dicuci bersih kemudian diparut. Santannya diparut lalu diperas seperti biasa (peras tangan, bisa juga dengan alat peras tradisional).

Kebersihan perlu jadi perhatian sebelum memulai pembuatan VCO. Air yang digunakan yang penting air bersih. Begitu juga seluruh peralatan yang mesti steril. Yang digunakan berulang begitu juga, harus dicuci bersih baru diisi lagi.

Air santan hasil perasan kemudian diendapkan dalam toples transparan, ditutup, di biarkan selama 2 jam. Dari pengendapan itu akan terlihat air perasan terbagi dua: airnya turun ke dasar, santan di atas (karena minyak lebih ringan). Air kemudian disedot menggunakan slang kecil. “Airnya jangan dibuang. Bisa digunakan untuk minuman ternak,” kata Melky.
Santan dari pengendapan pertama kemudian dipindahkan ke baskom untuk diaduk dan dikocok rata selama setengah jam. Usai tahap ini, kita memasuki pengendapan tahap kedua.

Pada tahap kedua, cairan berminyak tadi disimpan kembali ke dalam toples bersih untuk diendapkan selama 8-10 jam. “Biarkan dia bekerja. Kita juga bisa ke mana-mana,” kata Melky, tersenyum.

Kalau sudah waktunya, endapan sudah terbagi tiga: air paling bawah, ampas (bilado) di tengah, dan paling atas minyak. Pemisahannya dilakukan sebagaimana yang dilakukan pada tahap pertama, yakni airnya disedot pakai slang kecil, ampasnya diambil (bisa dimasak untuk dijadikan minyak kelapa), dan minyak dipisahkan. Dengan begitu kita sudah memasuki tahap terakhir pembuatan VCO.

Minyak di tahap ini disaring untuk menghilangkan ampas-ampasnya melalui corong air diisi kapas penuh dan dilapisi tisu dan ditaruh di atas toples. Tetes demi tetes masuk ke dalam toples melalui saringan tadi. “Biarkan berjam-jam sampai dia sudah habis, lalu... itu sudah minyak VCO. Tinggal dibotolkan!” seru Melky.
VCO buatan Melky. (Foto: Anwar Jimpe Rachman)
SELAMA INI harga produk dari kelapa lebih sering turun. Buah kelapa di pasar (Larantuka), kata Melky, seharga Rp 3000 untuk satu ikat kembar atau 1500/buah. Kopra jangan tanya; kisaran jatuhnya sampai Rp 1000/kg. Padahal untuk membuat kopra, warga membutuhkan buah kelapa lebih banyak. Kopra per kilogram membutuhkan 6-7 buah atau 10 buah yang kecil. Proses kerjanya pun sangat banyak dan membutuhkan lahan dan ruang yang luas; mulai dikumpul dan dibawa dari kebun, dibelah, dikupas, dijemur berhari-hari, dicungkil, dikarungkan, dan dijual.

“Itu lama sekali. Dan uang yang didapatkan cuma seperti itu!” kata Melky.

Sehingga muncul di benaknya untuk mengalihkan ke produk lain yang nilai ekonominya bagus dan manfaatnya bisa dirasakan di tingkat lokal. Jadi, kata Melky, VCO kalau dikenalkan ke masyarakat Flotim akan lebih bagus. “Itu di luar dari manfaatnya begitu banyak untuk kesehatan ya,” tambahnya.

Dari 10 kelapa bisa diperoleh 9 botol VCO bersih. Sebenarnya, kata Melky, bisa jadi 10 botol. Tapi 9 botol itu saringan murni—yang bisa dijual. Sedang sebotol itu hasil diperas dari wadah, kapas, tisu sampai jadi 10 botol. Setiap botol dipasarkan Rp 25.000-30.000/botol.

Tanaman kelapa di Flotim tersebar di banyak tempat. Di jazirah Flores saja ada beberapa kecamatan yang dipenuhi kelapa seperti Kecamatan Wulanggintang, Titihena, dan sekitaran kawasan Tanjung Bunga. Kelapa terbanyak di pulau seberang Flores, Adonara, yang sering disebut sebagai daerah “hutan kelapa”. Namun malangnya, kalau harga kopra anjlok, maka para petani membiarkan kelapa mereka dan tidak memanennya.

Dia ceritakan, banyak kelapa di kebun hanya jadi lambang pramuka. Di kawasan yang tak jauh dari kebunnya, Melky pernah mendapati buah kelapa hanya ditumpuk dan dibiarkan bertunas. “Saya tanya kenapa tidak dimanfaatkan? Kata mereka, biar saya tumbuh di situ. Mau bikin kopra harganya cuma seribu dua ribu. Bikin minyak juga orang sudah punya semua. Kita mau jual ke mana. Orang pun jadi apatis tanam kelapa.”

Melky mengaku, berkebun hanya pekerjaan yang rekreatif. Ia hanya datang di waktu-waktu tertentu untuk menengok tanaman. Namun bersama YPPS (Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial), lembaga yang didirikannya bersama kawan-kawannya tahun 1998 silam, lelaki kelahiran Posiwatu, Lembata, ini kerap ke beberapa daerah sekitar untuk mempromosikan pangan lokal.

Adakah orang yang melakukan hal serupa di Flores Timur? Melky meyakini ada kendati masih sporadis. Dalam satu kesempatan pelatihan pertanian, ia sempat menawarkan ke peserta untuk belajar membuat VCO. Pernah pula Melky membawa sebotol ke desa dan menunjukkannya bahwa ini berasal dari kelapa.

“Itu soal pengetahuan dan kemauan melaksanakan. Setelah barang ada, baru mereka percaya. Waktu ke Lembata, saya tunjukkan ke warga dan mereka mau karena mereka melihat hasilnya. Mereka tanya, pakai api? Oh tidak. Mereka ‘kan tahunya minyak kelapa harus ada api dipanaskan. Butuh kayu bakar,” kata Melky.

BANYAK DOKTER yang menyarankan menggunakan VCO sebagai obat. Minyak kelapa murni memiliki manfaat banyak, antara lain mendukung fungsi kekebalan tubuh, penghambat virus-bakteri-jamur, dan mengandung antioksidan dan vitamin E untuk mencegah kanker. Melky bahkan mengusapkan ke rambutnya untuk kesehatan rambut, membuat kulit halus, dan mencegah risiko kanker kulit.

Lebih rinci dalam sebuah situs disebutkan, di dalam cairan VCO terkandung:
[1] Asam Laurat, jenis asam lemak rantai sedang yang juga terdapat dalam ASI;
[2] Antimikroba, tubuh mengubah asam laurat menjadi monolaurin yang bertanggungjawab sebagia penghancur virus—bahkan dipercaya memperlambat pertumbuhan virus pada pasien HIV/AIDS;
[3] sistem kekebalan tubuh, diet orang dewasa umumnya rendah dalam asam laurat, VCO merupakan sumber mudah dan ampuh untuk meningkatkan kekebalan tubuh;
[4] kolesterol baik, sebuah studi tahun 1980 oleh Dr Hostmark menunjukkan bahwa tikus yang makan 10 persen VCO menghasilkan lebih sedikit kolesterol buruk dan lebih banyak kolesterol baik dibanding tikus yang makanannya terdiri dari 10 persen minyak bunga matahari;
[5] Antibodi super; efek pengobatan modern adalah munculnya strain bakteri yang tahan terhadap antibiotik. Sebuah studi Georgetown University tahun 2005 menunjukkan, asam laurat dalam VCO mampu mengobati infeksi bakteri pada tikus lebih baik dari antibiotik biasa.

Anda bisa juga membuat VCO dengan menyimak video panduan di bawah ini.

Selamat mencoba! 

5 komentar:

  1. Selamat siang Bapak Melky Koli Baran,
    saya Tius.
    Ada pabrik pesan VCO 100 ton/bulan
    dengan harga Rp.30.000/liter
    franco surabaya.
    Jika Bapak bisa dan siap memenuhi VCO diatas, mohon saya dihubungi di
    No. 081 8325 380
    Salam Sukses...

    BalasHapus
  2. Terima kasih. Saya pertimbangkan. Soalnya pasaran lokal juga tersedia.

    BalasHapus
  3. Terima kasih untuk informasi ini. Akan saya pertimbangkan.

    BalasHapus
  4. Selamat siang bpk melky Saya lg cari kelapa Tua. Min 1 kontainer/minggu.hub 0896.2833.7309 indra

    BalasHapus
  5. selamat mlm pak melky, sy pak Agus di Sby.. sy lg cari kelapa tua. perminggu 15 rb biji. apabila berminat hub 081334700229.

    BalasHapus

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP