Rabu, November 16, 2011

Lelaki Berbatik di Pesta Komunitas

“Bahagia itu sederhana! Tidak butuh uang! Yang penting kita berkumpul dan bersenang-senang, itu sudah cukup!” Begitu seruan MC Iqko menyambut rampungnya penampilan penari RenWarin Management, dalam ajang “November Ceria”, di Kampung Buku. Meski Iqko melontarkan seruan ini tatkala acara masih separuh jalan, namun pernyataan Iqko seperti merangkum seluruh suasana yang merebak malam itu.

Nama memang sebuah doa. “November Ceria” bisa menjadi bukti. Soalnya, sempat merebak kekhawatiran pelaksana datangnya hujan. Soalnya November itu bulan hujan dalam negara berkalender iklim lengas (muson) seperti Indonesia. Namun, sebaliknya, bulan dan bintang tampak jelas sepanjang malam. Tak ada mendung yang menggantung. Panitia pun memutuskan membawa acara ke badan jalan yang melintas depan perpustakaan umum yang terletak di Jalan Abdullah Daeng Sirua 192E Makassar. November Ceria awalnya digelar di beranda Kampung Buku saja.

Acara ini mengandalkan kerja kolaborasi yang tercipta karena jejaring komunitas. Perihal dan pernik teknis gawean bukan masalah. Semuanya serba dibagi. Acara mengambil tempat di Kampung Buku, perpustakaan yang sekaligus markas Tanahindie. Rumah Ide Makassar (RIM) bertindak sebagai tim dokumentator; merekam dan memfilmkan acara. Jaringan sound system dan mixer ditangani oleh Hipmacz. Mereka datang lebih awal untuk itu. Sejumlah akun twitter seperti @paccarita—akun twitter resmi komunitas blogger Makassar Anging Mammiri, @mkstdkksr—akun gerakan kampanye damai “Makassar Tidak Kasar”, dan @supirpete2—akun informatif tentang Kota Daeng, menjadi barisan informan acara ini.

Namun tidak semua hal berjalan oke. Tim dokumentator RIM rupanya membawa lampu sorot untuk mendukung pengambilan gambar selama acara. Sayang daya listrik Kampung Buku lemah. Sedang lampu tepat di belokan jalan penghubung Kompleks Panakkukang Indah dan Jalan Abdullah Daeng Sirua pun sudah lama tidak menyala. Beberapa saat masalah ini tertangani. Warung Kopi 88 meminjamkan mesin genset. Lampu sorot diangkat dan diikat ke kap mobil seorang penonton. Jalan itu berubah panggung, minus goyang “kucek-keringkan” ala acara musik stasiun televisi.

***

Belokan depan Kantor Lurah Pandang ditutup layar lebar. Di sanalah dipancar dokumen bergambar statis dan bergerak semua kegiatan komunitas yang hadir. Layar itu juga yang menjadi latar seluruh penampilan kelompok dan komunitas untuk unjuk kebolehan. Hipmacz, komunitas hip-hop Makassar muncul memberi pemanasan hadirin. Mario dan Bizkit mengibarkan bendera Florap membuka acara dengan satu nomor hardcore, “Jeritan Rakyat”. Hentak musik dan lirik-lirik kemarahan melampias. Mario dan Bizkit menggoyang lingkaran penonton.

Penampilan Hipmacz menjadi penampilan khusus bagi kebanyakan komunitas yang hadir. Mungkin selama ini mereka hanya menyaksikan para penyanyi rap di televisi. Kini musik ini hadir di depan mata mereka. Cuma semeter-dua meter! Acara berlanjut menampilkan setiap komunitas memperkenalkan diri satu-satu. KPAJ (Komunitas Pencinta Anak Jalanan) datang memaparkan kalau mereka menerima sukarelawan. Direktur AcSI (Active Society Institute), Nardi membawa film dokumenter berdurasi delapan menit tentang pendampingan pedagang pasar lokal.

Usai dua komunitas tadi, dua penampil dari Hipmacz, The Paparipi dan Eros ft. Mizwa tampil. The Paparipi yang diusung Nyong, Arjen, Starken, dan Iwan ini kembali memanaskan suasana. Mereka menyanyikan “Jalan yang Ada”. Sedang Eroz dan Mizwar melantunkan “I Love You, Mama”.

Ipul, ketua Anging Mammiri menyampaikan banyak informasi tentang kegiatan blogger Makassar. Dari komunitas ini, kata Ipul, informasi yang beredar selama ini memerlukan sudut pandang berbeda dibanding media mainstream.

Suasana riuh kembali bergema begitu perkenalan Anging Mammiri selesai. Grup tari kontemporer dari RenWarin Management menggoyang penonton. Setelah tarian itu, giliran perwakilan RIM, Fadila Ayu Hapsari, memaparkan program kerja yang selama ini digeluti komunitas yang dirintis Arfan Sabran ini. Tak ketinggalan kuis berhadiah buku dan kupon dari Makassar Tidak Kasar. Selesai presentasi komunitas bagian kedua tadi, Andi Armadi Dirham membawa komunitas flashmob-nya. Tidak kurang dua puluh orang menari di jalan. Penonton lagi-lagi bergoyang meski malam sudah dekat larut.

Usai flashmob, tampil GaSS (Galeri Seni STIEM) Bongaya membawakan dua lagu akustik. Kali ini, Edy dan Tami mengiring suasana menjadi syahdu. Tapi suasana itu sebentar saja. Hipmacz tampil lagi.

Mario masuk ke tengah kerumunan kembali. Ini kali Mario dan Bizkit ber-beatbox, bersahutan menceritakan riwayat komunitas hip-hop ini. Menurut Mario, sebagian besar awak Hipmacz berdarah Maluku. Pernyataan damai pun mereka suarakan. “Kami selama ini mendapat respek, tapi kami tahu kalau itu respek basa-basi. Barulah di sini kami benar-benar merasa mendapat respek yang tulus!” ujar Mario.

Pernyataan Mario bersambut tepukan gemuruh penonton.

Mario memperkenalkan salah satu grup dalam Hipmacz, The Kajahatang. Grup berisi anak-anak SMA itu sekaligus menutup acara November Ceria. Namun Hipmacz tidak pulang usai acara. Bersama kru Tanahindie, mereka masih tinggal berkumpul ngopi seraya menonton @linimas(s)a yang diputar Gerobak Bioskop “Dewi Bulan”. @linimas(s)a merupakan film dokumenter perihal kekuatan media jejaring sosial.

***

Iqko, sang master of ceremony, seperti representasi dari acara ini. Iqko aktif di banyak komunitas, seperti Anging Mammiri dan Makassar Tidak Kasar. Malam itu Iqko berbaju batik membawakan acara. Iqko merasa risih sendiri. Iqko sempat berbisik kepada saya bahwa hanya dia yang salah kostum di acara ini. “Seandainya saya tahu acaranya begini, saya pulang ganti baju dulu,” katanya, tertawa. 

Iqko tidak sengaja membalut badan besarnya dengan kemeja batik dan celana kain. Iqko baru pulang kantor. Iqko adalah pegawai negeri sipil yang berkantor setahun terakhir di sebuah balai pelatihan administrasi. Namun berdasarkan pengamatan, Iqko begitu menikmati acara malam itu. Sesekali ia mengelap keringat yang mengucur di dahinya. Iqko tidak mampu menyembunyikan perasaannya. Ia senang meski harus memandu “November Ceria” selama 150 menit, tanpa istirahat sepulang kantor.

Iqko punya alasan untuk itu. Komunitas-komunitas di Makassar selama setahun terakhir berkembang cepat. Menurut Iqko, perkembangan teknologi dan jejaring sosial seperti Twitter dan BBM (blackberry messenger) mendukung semua itu. Tidak heran, kata Iqko, kalau semua orang dalam “November Ceria” setara.

“Mereka (penonton) tampak tidak keberatan dengan beberapa hal teknis seperti sound yang menggaung feedback dan hal lain. Itu juga tampak pada raut (wajah) dan cara mereka merespons. Mereka tetap saja riuh. Apalagi ruang untuk komunitas memang sangat kurang,” terang Iqko.

Oleh kawan dan sahabatnya, Iqko terkenal orang yang lekas tidur. Tapi malam itu, sesampai di rumahnya, Iqko tidak bisa tidur sampai pukul tiga dini hari. Iqko menumpahkan kekesalannya ke akun Twitter dengan me-mention seorang kawan, @lelakibugis: “Bertanggungjawabko! Saya tidak bisa tidur. Teringat terus pesta tadi!”[]

Catatan: liputan lengkapnya dapat Anda simak di http://tanahindie.net

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP