Rabu, Juni 17, 2015

Langkah Awal yang Kokoh dalam "Begin"

Suasana sekitar pembukaan pameran "Begin" di Societeit de Harmonie, Makassar. 
(Foto: Anwar Jimpe Rachman)
Tajuk “Begin” adalah nama pameran foto karya peserta kelas jurnalistik yang dilaksanakan oleh Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) Makassar, di Societeit de Harmonie, 14-23 Mei 2015. Karena nama GFJA kemudian eksebisi ini memiliki beban bahwa foto-foto yang dipamerkan adalah gambar tangkapan yang sarat dengan perspektif jurnalistik.

Untungnya bahwa pameran ini memiliki dua bagian, yaitu foto tunggal dan esai foto. Untuk selera saya, bagian foto tunggal tak bisa menarik mata saya berlama-lama. Secara umum, foto-foto tunggal hanya bermain dalam komposisi dan kemampuan teknis. Tapi beberapa karya Ahmad Azhari seperti Water for Us, Garbage Land, dan Buruh Kapal mengecualikan diri dari itu.

Dalam karya Water for Us terjadi kontradiksi antara objek dan latarnya; antara air bersih yang dibawa menggunakan kereta dengan latar air kanal yang menghitam. Garbage Land memberi peringatan pada kita (di Makassar) betapa sampah yang kita produksi setiap hari sudah menggunung dan tumbuh bagai pulau. Sedang Buruh Kapal membawa mata kita lebih dekat ke sebuah lambung kapal, tempat para buruh membongkar muatan tumpukan karung terigu. Ia menuntun kita ke pengalaman sang fotografer menyaksikannya dari kegelapan gua lambung kapal—mungkin dua tiga meter saja dari kesibukan itu.

Pameran ini banyak diselamatkan oleh foto-foto esai. Saya bisa menyaksikan dengan jelas pada bagian inilah kadar jurnalistik, bagi mata awam saya, muncul dengan sangat baik. Mereka, para fotografer itu, datang membawa cerita tentang kehidupan-kehidupan yang “jauh” dan luput dari pengetahuan atau kabar yang sampai ke telinga.

Kerja reportase sejatinya kerja penelitian dan ketelatenan. Pencapaian tertinggi jurnalistik adalah mencapai titik terdekat narasumber. Karena itulah, saya pulang ke rumah dan membalik ulang halaman-halaman akhir katalog “Begin”. Di halaman itu terdapat gambar-gambar intim karya La Ode MZ Sakti Qudratullah, di esai foto berjudul Lahirnya Pelaut Tangguh.

La Ode MZ Sakti membawakan kita cerita langsung dari sebuah kamar persalinan, yang menurut seorang panitia dikerjakan selama setahunan. La Ode menyuguhkan pertarungan hidup mati Si Puti, seorang perempuan Bajo yang berjuang melahirkan anak keduanya, didampingi Yamdia, dukun persalinan. Si Puti adalah istri Alex, kepala salah satu keluarga suku Bajo yang mendiami Desa Topa, Kecamatan Lasalimu, Buton, Sulawesi Tenggara. Bajo merupakan kelompok manusia laut (sea nomand) yang bersebaran di pulau-pulau Nusantara.

Kekuatan deretan foto hitam putih itu adalah kedekatan—sebagaimana tugas seorang jurnalis. Mulai dari wajah Si Puti yang bercahaya redup beberapa saat usai persalinan di-close-up, si bayi yang masih bertali pusar dalam dukungan tangan Yamdia, ritual pengembalikan sukma Yamdia untuk Si Puti, sampai foto terbaru Alex sekeluarga, lengkap dengan bayi yang masih dibekap sarung. 

Begitu pula dengan esai foto karya Nurul Aidin, Kisah Keabadian. Aidin memotret ritual Ma’nene di dataran tinggi Toraja, tradisi penghormatan pada leluhur dengan mengganti pakaian dan membersihkan peti mayat-mayat berusia tua yang berlangsung setiap pertengahan atau akhir Agustus. Seri foto ini bagi saya menarik karena Aidin menggiring foto-fotonya menjadi dokumentatif.

Aidin membiarkan warna-warna muncul dalam karyanya. Itu menjadikan buah jepretannya berkebalikan dengan kecenderungan nuansa hitam putih karya foto tentang kematian. Sehingga corak baju keluarga mendiang (dan pengunjung?), payung, pakaian baru dan kain bekas mayat, sampai warna atap tongkonan (rumah tradisional suku Toraja) yang beraneka, dan kabut menyelimuti sekitarnya. Kematian seketika menjadi seperti sesuatu yang menggembirakan, melengkapi kehidupan. Foto-fotonya senafas dengan ritual Ma’nene yang dilaksanakan masih dalam lingkup suasana usai panen, waktu pelaksanaan upacara ini.

Hanya satu foto yang sekilas seperti hitam putih; memperlihatkan empat pria, masing-masing dua di kiri kanan sebatang nisan salib di sebuah ketinggian dengan latar kabut tebal di pagi hari. Komposisi sangat simetris sekaligus puitis. Dua pria duduk dan lainnya berdiri menjaga sebuah makam berbatu nisan salib. Gambar yang menjadi master foto esai Aidin itu juga menawarkan ambiguitas, apakah para pria itu bersedih? Kematian itu dirayakan atau dimurungkan?

Esai foto menarik lainnya adalah seri foto kloset Oase Panggilan Alam karya Ismail Amin. Gagasannya sebenarnya sangat menarik. Hanya saja, deret jepretan Ismail melulu menampilkan kakus orang kelas menengah ke bawah. Tidak akan kita temui kloset milik rumah-rumah gedungan. Mungkin itu disengaja. Tapi kemudian yang tampak bagi saya bahwa seri foto itu hanya “meminta-orang-orang-jatuh-iba-pada-mereka-yang-memiliki-kakus-seperti-itu”. Ide dan "niat baik" seri potret ini patah lantaran tidak mampu menyuguhkan reportase menyeluruh, dari kloset kaya sampai kloset bawah.

Tapi judul pameran ini memberi rambu bahwa mata yang menikmatinya tak perlu cerewet dan menuntut banyak hal. Ini adalah pameran langkah awal (begin) para peserta pameran. Kekurangan karya harus dimaklumi. Jadi, sebaiknya, kita datang dan bisa mulai berharap: pameran fotografi di kota ini semoga semarak.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP